Kamis, 16 Februari 2017

Tidak Butuh Judul [16]


Terakhir kali Rio datang ke tempat ini adalah ketika dirinya ditinggalkan Sivia. Sekarang, ia kembali lagi-lagi untuk gadis itu. Rio mengangkat bahu. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi. Pemuda itu berjalan masuk.  

“Rio, ke mana aja lo?” seseorang tiba-tiba menepuk pundak Rio.  

Rio terkesiap. Mendapati Raynald di sana. Salah satu temannya yang dulu tidak pernah menolak untuk diajak ke club. Sekarang, Raynald telah percaya diri datang ke tempat itu tanpa Rio.  

“Hai, Ray! Sibuk gue. He,” Rio terkekeh pelan. “Eh, lihat Sivia ga?”

 “Sivia? Tuh di sana,” Raynald menunjuk ke salah satu tempat di ujung club.

 “Oke. Thanks, ya! Gue samperin Sivia dulu!” ujar Rio kemudian melipir pergi.  

Rio mendapati Sivia. Semenjak putus, ia belum pernah menemui Sivia secara khusus. Bahkan di acara ulang tahun Sivia kala itu, ia hanya menyapa Sivia sekilas untuk mengucapkan selamat.  

“Ada apa?” tanya Rio langsung, tanpa prolog apa pun.

 Sivia menoleh pada Rio. Matanya sembab bekas tangisan. Gadis dalam balutan dress ketat berwarna hitam itu langsung melompat meraih Rio. Melanjutkan tangisnya yang tadi sempat mereda.  

Rio berdecak samar. Ia memutar bola matanya kesal. Drama apa lagi yang hendak dipertunjukkan Sivia kali ini? Ia tidak tahu. Pemuda itu menjauhkan tubuh Sivia darinya.  

“Kenapa? Berantem sama Deva?” tanya Rio sarkatis.  

Sivia menggeleng. “Gue kangen sama lo.”  

Rio mencibir. “Serius kangen?”  

“Please, Yo! Gue lagi banyak masalah banget. Gue cuma pengen senang-senang.”

 Rio menatap Sivia seraya berpikir. Ia juga sedang menghadapi masalah, dan mungkin Sivia memang sengaja dikirimkan Tuhan untuk membuatnya sejenak melupakan masalah itu. Yeah! Rio, malam ini anggap saja tidak terjadi apa-apa. Anggap saja luka di pipimu adalah bekas menabrak pintu. Anggap saja sesak di dadamu karena asap rokok yang berterbangan memenuhi club ini. Mari bersenang-senang!  

“Let’s have fun tonight, Sivia!” Rio meraih tangan Sivia. Menariknya menuju keramaian. Ikut bergabung bersama manusia-manusia lain yang mungkin juga sama sepertinya. Bersenang-senang dan tak lagi peduli dengan masalah yang ditanggungnya.

Rio dan Sivia menggerakkan tubuhnya. Sesekali mereka berpelukan. Saling membagi peliknya masalah yang tengah mereka hadapi.

***  

Semakin malam, club semakin ramai. Orang-orang datang dengan bermacam masalah, tapi tak jarang pula yang datang tanpa membawa apa pun. Ia hanya ingin bersenang-senang.

 Rio dan Sivia menepi, memesan minuman.

“Deva ga suka gue undang lo ke pesta ulang tahun gue kemarin. Selesai pesta kami berantem hebat,” celetuk Sivia setelah menenggak habis segelas minuman beralkohol yang baru saja disuguhkan padanya.

“Kalau Deva ga suka lo masih berhubungan sama gue, ngapain sekarang lo minta ketemu?” tanya Rio sarkatis.

“Bodo! Biar aja dia makin marah. Ga peduli gue!” Sivia meminta gelasnya diisi kembali. Seorang bartender sigap memenuhi permintaannya. Gadis itu benar-benar kalap.

Rio cuma bisa melongo ketika Sivia telah menghabiskan minuman pada gelas keduanya dan sekarang ia meminta yang ketiga sementara dirinya masih menyisakan tiga perempat minuman di tangannya. Sedari dulu, Rio memang tidak terlalu suka meminum alkohol. Dia datang ke club hanya karena tuntutan pergaulan. Dan ia agak trauma dengan kejadian berbulan lalu saat ia minum terlalu banyak dan ia hampir mati karena mobilnya menabrak trotoar. Meskipun ia tidak bisa memungkiri bahwa ia mensyukuri hal itu terjadi. Coba saja malam itu dia tidak minum hingga mabuk berat, coba saja tidak ada truk yang melaju kencang dari arah berlawanan dan membuatnya membanting setir hingga menabrak trotoar, coba saja ia kuat untuk mencapai kamarnya tanpa harus jatuh tersungkur di depan kamar Ify, ia mungkin tidak akan sampai di titik ini, di mana ia menjatuhkan cintanya begitu dalam untuk Ify.

Rio terkesiap. Coba saja Rio untuk malam ini lupakan Ify! Rutuknya dalam hati. Oh, ia tidak yakin bisa.

 “Oh iya, gue pikir lo pacaran sama Ify,” ujar Sivia. Gelasnya kembali terisi untuk kesekian kali. Rio sudah tidak lagi menghitungnya.  

“Maunya sih gitu,” ujar Rio.  

“Pipi lo kenapa?” tanya Sivia. Pandangannya kini mengabur, tapi lebam di pipi Rio telah dilihatnya sejak tadi. Hanya saja baru kini ia mendapatkan kesempatan untuk bertanya.   

“Ditonjok Gabriel.”  

“Kok bisa?”

 “Bisa lah! Orang cemburu bisa lakuin apa aja.”

 “Waktu gue sama Deva, lo cemburu ga? Kok lo ga lakuin apa-apa?”

Sivia tidak tahu saja Rio hampir mati cemburu saat itu.  

Rio memicingkan mata. Sepertinya Sivia harus berhenti minum. Gadis itu sudah mabuk.

 “Sivia kayaknya kita harus pulang,” ujar Rio seraya menjauhkan gelas alkohol dari Sivia.

 “Gue ga mau pulang! Pokoknya gue mau di sini sama lo,” tukas Sivia dan sedetik kemudian ia jatuh terkulai yang untungnya segera ditangkap oleh Rio.  

Akhirnya, Rio menggendong Sivia yang tak sadarkan diri ke dalam mobilnya. Kemudian ia bawa pulang ke apartemennya.

***

 Rio merasakan punggungnya ngilu. Menggendong Sivia dari lobi hingga kamarnya ternyata cukup membuat tulang punggungnya kesakitan bahkan hingga berlalu beberapa jam. Belum sembuh pipinya yang kini berwarna biru, sekarang harus ditambah pula dengan sakit di punggung, dan jangan lupa dengan sakit hatinya yang kian terasa ketika dirinya sendiri.  

“Yo...”  Rio terperanjat ketika mendengar sapaan itu. Ia menoleh dan melihat Sivia berjalan mendekatinya. Gadis itu baru saja bangun.

 “Makasih ya!” ujar Sivia kemudian duduk di samping Rio.  

Rio hanya mengangguk samar.

 “Gue mau pulang.”

 “Mau gue antar?”

 “Ga usah, gue udah telepon  supir gue suruh jemput.”  

Kemudian mereka hanya bertatapan tanpa suara untuk beberapa saat. Rio melihat Sivia tanpa perasaan apa pun. Cinta yang dulu begitu besar sampai membuatnya hampir gila kini sudah tak lagi ada. Sosok yang bahkan ketika bangun tidur pun masih sebegini cantiknya, yang kini duduk berdempetan dengannya, tak mampu membuat hatinya berbunga. Seseorang yang lain telah membuat hatinya sesak.  

Sedangkan Sivia memandang Rio dengan tatapan yang sulit sekali diartikan. Kelebihan Sivia yang lain selain wajah cantik adalah ia mampu menyembunyikan rahasia di balik kedua pelihatnya. Tidak pernah ada yang bisa menebaknya. Mungkin saja saat ini Sivia tengah menatap rindu pada mantan kekasihnya. Atau bisa jadi ia justru tengah menatap menggoda, ingin mempermainkan pemuda itu seperti yang pernah dilakukannya dulu. Tidak ada yang tahu.

 “Gue ke bawah sekarang ya! Kayaknya supir gue udah datang deh! See you!” ujar Sivia kemudian bergerak semakin dekat dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi Rio yang bengkak. Sebuah ciuman yang dulu sangat biasa diberikan Sivia ketika berpamitan pergi. Gadis itu menghilang di balik pintu.

 Ciuman itu biasa kalau terjadi berbulan yang lalu. Ciuman itu biasa kalau status mereka bukan sebagai mantan. Sekarang, ciuman itu jadi tak biasa karena mendarat saat Rio dan Sivia bernasib sama, membutuhkan seseorang yang bisa membuat mereka lupa pada masalah yang menggantungi benaknya.  

Rio masih tertegun di tempatnya. Ia menyentuh pipinya. Sakit di sana kemudian hilang, berganti hangat dan gemuruh di dadanya.

***

 Ify berjalan gontai seraya menjinjing kantung kresek berisi bubur ayam yang baru saja dibelinya untuk sarapan. Pagi ini ia sama sekali kehilangan mood untuk memasak.

 Masih teringat jelas di benaknya kejadian semalam, bagaimana ia melihat Gabriel meledak karena bom waktu yang dirakitnya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi pemuda itu, tapi tak sekali pun membuahkan hasil.

 Ify sadar dirinya telah menyakiti Gabriel. Tapi ia juga tak bisa memungkiri bahwa di hatinya kini juga telah ada Rio, yang entah sejak kapan tepatnya ia menyelinap masuk ke sana. Ify hanya tidak ingin membohongi dirinya sendiri. Dan ia pun sudah berjanji bahwa pelukan semalam adalah pelukan perpisahan. Ia tidak menyangka bahwa  kemungkinan besar yang akan ia berikan salam perpisahan adalah Gabriel.

 Seseorang di ujung lorong tiba-tiba membuat Ify membelalakkan kedua matanya. Ia jelas melihat orang itu adalah Sivia, baru saja keluar dari kamar Rio. Ada urusan apa? Sepagi ini?

 Ify berjalan dengan kaku, sementara Sivia berjalan seperti tanpa beban. Ia tersenyum miring kala dirinya berpapasan dengan Ify. Kemudian menghilang masuk ke dalam lift.  

Kalau sepagi ini dia pergi, jadi sejak kapan Sivia di apartemen Rio? Batin Ify berbisik.

Tiba-tiba kegelisahan menyelimuti hatinya. Gadis itu berlari masuk ke kamarnya.

 Di sana ia menekuri semuanya. Ketidakmengertiannya atas semua yang terjadi. Mengapa bisa ia mencintai dua orang sekaligus dan egoisnya ia tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka. Kejadian semalam adalah peringatan bahwa bisa saja Gabriel meninggalkannya.

Dan menemukan Sivia keluar dari kamar Rio barusan adalah peringatan berikutnya bahwa Rio juga takkan segan pergi darinya.

Pada akhirnya ia akan sendiri. Temannya yang tak pernah pergi bernama sakit hati.

***  

Entah karena Tuhan menyayanginya, atau justru sedang mempermainkannya, karena setiap kali Rio patah hati, selalu hadir sosok lain dalam hidupnya.

Dulu ketika Sivia meninggalkannya, Ify datang untuknya. Sekarang saat Ify mengabaikan perasaannya, berbalik Sivia yang datang padanya.  

Rio tidak tahu nasib Ify bagaimana setelah kejadian malam itu. Tidak pernah lagi ia melihat wajah cantik itu. Ia juga tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan Ify dan Gabriel. Mungkin mereka tak seberapa peduli padanya dan kembali melanjutkan hidupnya seperti biasa. Rio seperti debu yang cukup disapu saja hilang. Ya, memang sebegitu tidak pentingnya dirinya di mata Ify.

 Rio pernah patah hati sebelumnya, dan ia berhasil menyembuhkan segalanya. Untuk kali ini ia pun yakin bisa. Perempuan yang bergelayut manja di sampingnya yang dulu melukai hatinya kini menjelma menjadi obatnya.  

Ify berhasil dikesampingkan Rio saat detiknya terisi dengan kehadiran Sivia. Meskipun saat ia pulang ke apartemennya, sendirian di kamarnya, bayangan Ify kembali menamparnya telak bahwa ia menjadikan Sivia sebuah pelarian. Yang menyesaki hati dan jiwanya kini adalah Ify dan Ify lagi.

 “Mungkin kita bisa bareng-bareng lagi kaya dulu, Yo!” ujar Sivia suatu hari ketika ia menghabiskan makan siang bersama Rio.  

Rio tidak menjawab. Tapi seminggu yang telah ia lalui bersama Sivia bisa menjadi jawaban bahwa ia tengah mencoba untuk memulai semuanya dari awal. Kembali pada Sivia dan mengubur dalam-dalam perasaannya pada Ify.

***

Tidak Butuh Judul [15]


Minimal satu kali dalam sehari Gabriel menyapanya lewat ponsel, entah itu telepon atau hanya sekadar pesan singkat. Satu sapaan yang selalu mengingatkannya ia punya seseorang yang selalu setia padanya.  

Sudah dua hari sapaan itu tak hadir. Rasanya aneh sekali. Seperti sebagian dari dirinya juga hilang. Bertahun-tahun bersama, dan inilah perasaan kehilangannya yang pertama.

 Ify menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Yang dibutuhkannya bukanlah waktu untuk berpikir. Seribu waktu yang diberikannya tidak akan mampu memberikan jawaban akan pertanyaan besar di hatinya. Sebenarnya, sekarang ia mencintai siapa?  

Yang ia butuhkan sekarang adalah duduk berdua dengan Gabriel. Supaya ia yakin bahwa Rio sama sekali tidak pantas untuk dipilih. Gabriel tidak boleh pergi begitu saja. Mana janjinya yang akan selalu ada di segala situasi? Ify menghembuskan napas berat. Sialnya, situasi kacau ini telah ia buat sendiri. Jadi ia yang harus bertanggung jawab.  

Di balik tembok itu, Rio berdiri. Malam itu ia tahu bahwa hubungan Ify dan Gabriel terguncang. Dua hari ia mengamati, tidak didapatinya eksistensi Gabriel di samping Ify. Baguslah! Ini kesempatannya.  

Rio belum pernah berjuang sebegini susahnya. Bahkan pada Sivia, setelah hari di mana gadis itu meminta berpisah, tak sekalipun ia mendatangi gadis itu untuk meminta kembali. Sekarang untuk Ify ia mau berjuang lebih keras. Ia datang lagi. Meyakinkan Ify untuk dapat menerimanya.

 Rio mengetuk pintu apartemen Ify dengan tidak sabar, bahkan terkesan menggedor.  Usaha itu berhasil membuat si empunya kamar membuka pintu dengan cepat.  

Kalau senjata berupa kata-kata tidak mempan, mungkin Rio harus mencoba senjata yang lain. Kali ini tanpa memberikan kesempatan untuk Ify bertanya tujuannya ke sana, Rio sudah terlebih dahulu meraih bahunya. Mendorongnya menjauhi pintu, kemudian memeluknya erat.  

Ify meronta-ronta minta dilepaskan. Ia pukul punggung Rio keras-keras. Tapi bagi Rio itu tidak ada apa-apanya. Ia hanya ingin mendekap gadis itu. Membaui aroma tubuhnya yang menenangkan. Merasakan kehangatan yang begitu ia rindukan.  

“Tolong lepasin aku, Kak!” Ify bercicit. Memohon dengan sangat agar ia dibebaskan.  

Rio akhirnya melepaskan Ify. Tidak tega karena ia mulai mendengar Ify menangis sesenggukan.  

“Shit!” Rio berdecak kesal. Sungguh ia tidak bermaksud menyakiti Ify. Pelukannya tadi adalah pelukan sayang yang harusnya membuat Ify nyaman, bukan malah menangis ketakutan.  

“Gue tuh cuma sayang sama lo, cinta sama lo. Gue salah?” tanya Rio retoris.  

“Gue tuh ga rela lo sama cowok lain. Gue sakit hati. Gue salah?” Rio semakin frustasi.

 “Gue peluk lo supaya lo tahu cinta gue banyak buat lo. Terus sekarang lo malah nangis. Gila ya! Segitu serba salahnya jadi gue!” pemuda itu mengacak rambutnya sendiri.  

Ify masih di sana. Menangis tersedu. Coba kalau bukan sekarang ia bertemu Rio. Coba kalau bertahun-tahun yang lalu, sebelum ia bertemu dengan Gabriel. Coba saja! Mungkin akan lain hasilnya. Ify tidak bisa apa-apa. Cintanya masih lebih banyak untuk Gabriel.  

“Gue harus apa supaya lo terima gue? Gue bisa usahain semuanya buat lo. Jangan nangis! Gue ga bisa lihat orang yang gue sayang nangis!” Rio mengeluh tertahan.  

Tapi tiba-tiba Ify bergerak menghampirinya. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya pada bahu Rio. Ia dekap pemuda itu erat. Tangisnya semakin meleleh di sana.  

Rio tidak tahu apa yang terjadi. Ia bahkan masih tidak percaya Ify memeluknya. Demi menyakinkan diri bahwa ia sedang tidak bermimpi, ia usap kepala Ify. Saat itulah ia yakin bahwa Ify yang ada di sana. Mendekapnya. Pemuda itu tersenyum. Kebahagiaan baru saja membuncah di sana.  

Ify tahu apa yang dilakukannya salah. Tapi biarkan ini menjadi kesalahannya yang terakhir, sebelum ia pergi. Karena ia harus melarikan diri sejauh mungkin dari Rio supaya perasaannya bisa lenyap. Maka izinkanlah detik ini ia dekap pemuda itu. Supaya ia bisa mengenangnya suatu hari nanti bahwa pernah suatu kali ia begitu dekat dengan Rio. Wangi parfumnya bisa ia baui dengan leluasa. Deru napasnya bisa ia dengar dengan seksama. Detak jantungnya bisa ia rasakan berima.  

Setelah ini, tidak akan ada lagi Rio dan kebimbangan. Ify sudah tahu akan dibawa ke mana kisahnya.  

“Gue cinta sama lo, Fy!” ungkap Rio.  

Ify mengangguk di bahu Rio. Ia sudah tahu. Jangan lagi diucapkan! Karena akan semakin berat untuk dirinya pergi. Gadis itu mendekap Rio lebih erat.  

Ify dan Rio menikmati pelukan itu. Mereka sama-sama tidak tahu bahwa seseorang berjalan menuju tempat mereka berdua. Pintu apartemen Ify terbuka dan membuat orang itu masuk tanpa permisi. Kemudian ia hanya bisa berdiri kaku di sana. Melihat pemandangan paling menyakitkan hatinya. Setetes air mata jatuh dari pelupuknya. Tetes yang lain turut mengikutinya.  

Kedua matanya masih tergenang, tapi kemampuan Ify untuk melihat tidak lantas menghilang. Kabur ia melihat seorang pemuda berdiri tak jauh dari sana. Ify membuka mulutnya tanpa suara. Gadis itu segera menjauhkan tubuhnya dari Rio.  

Rio bingung mengapa Ify tiba-tiba melepaskan pelukannya. Tapi kemudian ia menyadari sesuatu saat ia menangkap fokus Ify kini tak lagi padanya, tapi pada pemandangan di belakangnya. Sontak Rio berbalik dan hampir terjengkang karena kaget setelah mendapati ada Gabriel di sana. Menatap Ify dengan mata yang basah.  

Gabriel tiba-tiba bergerak ke arah Rio. Tanpa aba-aba, ia daratkan sebuah tinju di wajah Rio. Membuat pemuda itu terpelanting jatuh ke lantai. Ini adalah akumulasi dari emosinya sejak malam itu. Orang dewasa juga berhak marah kalau apa yang menjadi miliknya direbut oleh orang lain.  

Ify menjerit. Seumur-umur ia mengenal Gabriel, tak pernah sekalipun ia memergoki pemuda itu marah bahkan hingga memukul seseorang. Gabriel yang ia tahu adalah pemuda paling sabar seluruh dunia. Tapi ternyata sabar juga ada batasnya. Dan Ify tahu batas itu adalah dirinya.  

“Lo pergi! Gue ga mau lihat lo di sini,” ujar Gabriel dingin.

 Rio meringkuk di lantai, tapi ia masih bisa membuat pembelaan. “Gue cinta sama Ify, dan Ify juga.”  

Gabriel tidak mau mendengar kalimat yang menyerupai kutukan itu. Ia membuang pandangannya jauh-jauh. “Gue bilang lo pergi.”

 Rio cukup tahu diri dengan tidak memberikan perlawanan. Tinjuan yang mencium wajahnya telah cukup untuk membuatnya tahu bahwa Gabriel bukan tandingannya dalam hal berkelahi. Meskipun untuk urusan Ify, ia yakin dirinya yang akan menang. Sembari memegangi pipinya yang berdenyut sakit, ia kemudian melipir pergi.  

Di ruangan itu hanya tertinggal Gabriel dan Ify. Keduanya kini saling berhadapan.  

“Dua hari kita ga ketemu. Aku cuma mau ngasih kita waktu untuk sama-sama berpikir. Tapi nyatanya, kita berdua ga mikir sama sekali. Aku yakin, waktu kamu ngelakuin hal itu tadi, kamu ga mikirin aku. Dan aku ke sini juga ga pakai mikir kalau aku bakalan lihat adegan kayak tadi,” ujar Gabriel dengan suara yang berat.  

“Kamu bisa jelasin sama aku soal yang tadi? Bisa ga? Atau semuanya emang udah jelas?” Gabriel melanjutkan.

   Ify menggeleng samar.  

“Aku sombong, Fy!  Yakin banget kalau kamu segitu cintanya sama aku. Yakin banget kalau kamu ga bakalan khianatin aku. Kenyataannya, sekarang hati kamu udah ga buat aku lagi,” pemuda itu mengeluh.

 Ify masih membisu.

 “Aku bisa maafin apa pun kesalahan kamu. Tapi untuk yang satu ini, aku ga bisa kompromi. Aku ga tahu lagi mau ngapain. Bisa jadi ini terakhir kalinya kita ketemu.”  

Gabriel mungkin tidak sepenuhnya menyadari apa yang baru saja meluncur dari mulutnya. Mungkin saja saat itu ia tengah ditunggangi emosi dan cemburu yang luar biasa. Tapi mungkin bisa jadi benar. Karena baginya perselingkuhan adalah kesalahan besar yang takkan bisa dimaafkannya. Berjuta kebaikan yang diberikan Ify untuknya, takkan cukup untuk menebus satu perselingkuhan yang dilakukannya.  

Gabriel memutar tubuhnya, saat Ify akhirnya berani berbicara. Satu kalimat bernada penyesalan. Kalimat yang tak seberapa panjang pula.  

“Tapi aku cinta sama kamu, Gab!” ujarnya patah-patah. Air matanya masih mengalir deras membelah pipi.  

“Mungkin kamu lupa kalau aku jauh lebih cinta sama kamu,” ujar Gabriel sebelum akhirnya pergi. Menghilang di balik pintu apartemen Ify.  

Saat itu Ify menyadari bahwa ia akan kehilangan seseorang terbaik dalam hidupnya, yang justru ia sia-siakan begitu saja. Ia akan menyesal seumur hidup.

***  

Rio pulang dengan babak belur. Wajahnya, dan hatinya. Malang sekali nasibnya. Tidak cukup ditolak Ify, harus pula ia dapatkan tinjuan di pipi.  

Pemuda itu kemudian mengerjap. Tunggu dulu. Tadi Ify tidak menolaknya. Justru gadis itu yang datang padanya dan memeluknya. Andai saja Gabriel tidak datang, apa coba yang bakalan dilakukan Ify selanjutnya? Sial sekali itu yang namanya Gabriel! Merusak momennya saja.  

Tapi bagaimana kalau pelukan itu ternyata pelukan perpisahan? Yang takkan Ify berikan untuk kedua kalinya karena mungkin setelah ini ia tidak akan pernah mau bertemu dengannya lagi. Kalau bisa, mungkin ia ingin melarikan diri ke luar angkasa.

 “Aww!” pemuda itu mengurut pipinya yang masih terus berdenyut. Kemudian teringat suatu kali pernah Ify mengobati lukanya. Suatu malam ketika ia pulang sehabis kecelakaan karena menyetir dalam keadaan mabuk. Andai Ify sekarang juga ada di sini. Mengompres pipinya yang bengkak.  Lagi-lagi berharap. Rio mengumpat dalam hati.  

Dering ponsel yang menyalak dari atas meja membuat Rio terperanjat. Dengan gerakan yang tak secepat biasanya, ia meraih ponsel itu. Kemudian membelalak ketika sebuah nama muncul di layar ponselnya. Sivia? Ragu ia menerima panggilan itu.

 “Halo,” ucap Rio pelan.  

Dari sebrang sana, terdengar sebuah isakan. Sivia menangis? Sivia menangis dan meneleponnya?  

“Yo, kita bisa ketemu ga?” tanya Sivia.  

Rio tertegun sejenak. Ada apa tiba-tiba Sivia ingin bertemu dengannya? Aneh sekali. Setelah beberapa hari yang lalu Sivia mengundangnya ke pesta ulang tahunnya, sekarang dia menangis dan minta bertemu. Maksudnya apa? Kode-kode ia ingin balikan dengannya? Maaf-maaf saja ya! Rio tidak mudah digoda.  

“Yo, please! Gue mau ketemu sama lo. Di club biasa ya! Gue pingin senang-senang. Cuma lo yang gue tahu bisa menyenangkan gue,” pinta Sivia.

 Rio mencibir. Apa coba pakai gombal segala. Kemarin ke mana saja? Kalau cuma Rio yang bisa menyenangkan, mengapa dulu dia meninggalkannya dan memilih bersama si Deva itu? Rio yakin saat ini Sivia sedang bermasalah dengan Deva, makanya gadis itu mencarinya.  

“Halo, Yo! Lo dengar gue, kan?”  

Kegalauan akhirnya membuat Rio tergoda juga untuk menuruti permintaan Sivia. Dipikir-pikir, buat apa juga dia menggalau sendiri di apartemennya. Memikirkan Ify yang jelas-jelas tidak peduli padanya. Sivia mungkin telah sadar bahwa Rio adalah yang terbaik untuknya. Mungkin dia menyesal telah meninggalkannya. Jadi, mari kita coba.

 “On the way ya,” ujar Rio sebelum memutus panggilannya.

 Rio tidak tahu bahwa ia baru saja masuk ke kandang ular paling berbisa.

***

Tidak Butuh Judul [14]


“Kamu oke?”  Gabriel menyadari bahwa ada yang berubah dengan gadisnya. Entah sejak kapan, namun Ify kini lebih sering didapatinya tengah termenung. Entah sedang memikirkan apa. Seakan seluruh masalah yang ada di muka bumi ini dibebankan padanya.

 Sore ini, di perjalanan pulang selepas berbelanja dari sebuah mall, Gabriel mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Ia mengusap punggung tangan Ify.

 Ify nampak terkesiap. Sontak ia melirik Gabriel, tersenyum tipis. “Aku baik-baik aja.”  

Berbekal rasa percaya dan pengalaman bahwa Ify tidak pernah menyembunyikan apa pun darinya, Gabriel menganggukkan kepala. Mungkin memang semuanya baik-baik saja. Ia mungkin hanya terlalu khawatir.

 Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan ternyata. Gabriel mengendus sesuatu yang tidak beres dengan Ify. Dan ia meyakini perubahan sikap Ify ada hubungannya dengan lelaki yang ia temui di parkiran apartemen Ify tadi, Rio.  

Bukan hanya satu atau dua kali. Berkali-kali Gabriel menangkap perubahan ekspresi Ify ketika tidak sengaja mereka bertemu dengan Rio. Ify selalu ingin cepat-cepat pergi. Sebisa mungkin ia menghindar agar tidak terlalu lama bersama Rio.  

Dan Rio, yang ia pikir akan menjadi teman baiknya ternyata tidak. Rio selalu menatap Gabriel dengan tajam, seakan mereka adalah musuh lama dan ia menyimpan dendam padanya. Pemuda itu juga tidak pernah membalas sapaannya. Bahkan tersenyum pun tidak. Ia hanya akan mendelik dan kemudian melengos pergi.  

Entah seperti apa hubungan Ify dan Rio sesungguhnya. Gabriel belum mau bertindak lebih jauh. Ia masih menunggu. Mungkin memang belum saatnya ia harus tahu.

 “Kita langsung pulang ya! Aku capek  mau istirahat,” ujar Ify.

 Capek yang dirasakan Ify mungkin lebih kepada batinnya. Bagaimana ia begitu tersiksa karena setiap saat bayang-bayang Rio selalu berkelebat jatuh di otaknya. Seperti hantu, pemuda itu membuat hidup Ify sama sekali tidak tenang. Sialnya, setelah kejadian malam itu, ia jadi lebih sering bertemu Rio secara tidak sengaja. Ia bertemu Rio saat tengah bersama Gabriel. Sebisa mungkin ia menyembunyikan semuanya. Berlari dan menghindar dari pemuda itu.  Sekarang ia butuh istirahat. Mungkin sampai besok. Ia butuh banyak energi untuk berpura-pura tidak terjadi apa pun esok di pesta ulang tahun Sivia. Berkat berpacaran dengan Gabriel, Ify diundang ke pesta ulang tahun perempuan sombong itu. Entah ia harus beryukur atau tidak untuk itu.

***  

Kalau bukan karena Gabriel, demi langit dan bumi Ify tidak akan pernah sudi menghadiri pesta ulang tahun Sivia. Untuk beberapa jam kemudian, Ify harus berpura-pura bahagia di sana. Sebuah pesta meriah yang diadakan di ballroom hotel bintang lima, dipandu mc kondang papan atas ibukota, serta mengundang penyanyi hits yang lagunya hampir setiap saat diputar di banyak radio.  

Selain karena ini pesta Sivia, ada beberapa hal yang membuat Ify sangat tidak nyaman berada di sana. Seseorang dengan kemeja putih di ujung sana membuatnya merasa tidak aman. Sedari tadi ia menatap Ify dengan banyak arti.  

Orang itu adalah Rio. Entah apa tujuan Sivia mengundang mantan kekasihnya itu. Mungkin ingin menjalin silaturahmi yang sebelumnya terputus, atau jutsru ingin menunjukkan pada mantannya bahwa ia lebih bahagia dan bersinar dengan kekasih barunya. Bukannya berburuk sangka, tapi mungkin alasan kedualah yang mendasari Sivia untuk turut mengundang Rio datang ke pesta ulang tahunnya yang kedua puluh.

 “Aku ke toilet dulu ya, Gab!” pamit Ify. Sebelum pergi, ia sempatkan menepuk bahu Gabriel.

 Toilet adalah tempat yang dipilih Ify untuk melarikan diri. Untuk mengumpulkan segenap kekuatan yang bisa membuatnya lebih lama bertahan, sebelum nanti mungkin ia merengek minta pulang duluan.

 Ify melihat pantulan dirinya dalam cermin. Dalam balutan gaun berwarna biru serta pulasan make up, ia nampak berbeda. Gadis itu menelan ludah. Apa yang sebenarnya dilihat Rio darinya? Untuk urusan cantik, lebih banyak perempuan cantik di luar sana, yang bahkan tak usah ia kejar datang menggilainya. Bahkan dengan penampilannya malam ini, ia merasa tidak lebih cantik dari semua orang yang hadir detik ini, teman-teman Sivia yang populer. Apalagi dibandingkan dengan Sivia. Mungkin seperti pohon beringin dan bonsai. Sivia menjulang menantang langit, dan dirinya meringkuk dalam pot.  

Ify merasa terlalu lama ia berada di toilet. Ia harus segera kembali. Gadis itu bergegas keluar.

 Ify hampir tersandung ketika ia menemukan Rio tengah menghadangnya. Pemuda itu menatap Ify seperti anak kecil yang tengah memelas pada ibunya meminta dibelikan mainan.  “Lo cantik banget malam ini,” cicit Rio.  

Ify ingin membalas pujian itu dan mengatakan bahwa malam ini Rio juga tampan. Meskipun tidak memakai jas seperti kebanyakan lelaki yang hadir, meskipun hanya kemeja polos yang menempel di tubuhnya, tetap tak mampu menyamarkan ketampanan pemuda itu. Tapi kemudian Ify mengerjap. Dia yang ada di hadapannya mungkin setampan putra raja, tapi Ify harus ingat bahwa sudah ada yang merajai hatinya.  

“Permisi, Kak! Aku mau lewat,” ucap Ify.

 Rio tidak mau menyingkir. Pemuda itu malah maju dan meraih tangan Ify, digenggamnya kuat-kuat tangan itu. Tak berniat sedikit pun melepaskan.  

Ify mengaduh kesakitan. Ia berusaha untuk membebaskan tangannya. Tapi cengkraman Rio terlalu kuat. Sempat ia berniat berteriak meminta tolong, tapi niat itu diurungkannya karena tidak ingin membuat kegaduhan di pesta orang. Pesta Sivia pula. Cari mati itu namanya.  

“Lepasin aku, Kak!” lirih Ify meminta.

 “Gue ga bakalan lepasin lo. Ikut gue, Fy!” desis Rio.

 Ify hampir menyerah saat tiba-tiba Gabriel datang dan merangsek mendorong Rio hingga membentur tembok.

 Tanpa berkata apa pun, Gabriel langsung membawa Ify pergi dari hotel itu. Meninggalkan pesta yang baru berlangsung setengahnya.

***

 Gabriel masih belum mau bersuara. Di balik setirnya, ia mengunci rapat mulutnya. Masih bergelut dengan hatinya yang tidak terima. Apa yang dilihatnya tadi sukses membuat dadanya sesak.

 Seseorang telah menggenggam tangan itu. Tangan yang sangat mahir menggambar wajahnya. Tangan yang membuatkannya brownies paling enak seluruh dunia. Tangan yang memeluknya erat.  Dan Gabriel sempat melihatnya. Bagaimana Ify menatap lelaki itu dalam dan tenang. Potongan-potongan puzzle mengenai hubungan Ify dan Rio yang sesungguhnya pun kini mulai tersusun.  

Gabriel belum mau meledak. Ia sudah dewasa dan bukan lagi remaja tanggung yang akan bertingkah drama ketika memergoki gadisnya besama lelaki lain. Ia mau mendengarkan penjelasan Ify.

 “Jadi gimana, Fy?” kalimat itulah yang muncul memecah keheningan yang pekat menyelimuti seisi mobil.  

Ify meringkuk. Mencari jawaban tepat yang takkan membuat Gabriel marah. Ia mengira-ngira sejak kapan Gabriel ada di sana. Mengamati apa yang sebenarnya terjadi. Gadis itu pun mengingat-ingat bahwa tadi ia tidak meladeni Rio.

 “Ga ada,” ucap Ify singkat. Karena memang tidak ada apa-apa antara dirinya dan Rio. Rionya saja yang selalu mengada-ngada.

 Gabriel tidak puas dengan jawaban itu. Jawaban yang sama sekali tidak menjelaskan semua yang harusnya sudah jelas.

 “Aku dan kamu udah sama-sama dewasa. Orang dewasa kadang ga sejujur anak kecil. Tapi kali ini aku minta sama kamu untuk jujur. Please!”

 Ify menggeleng samar. Jujur? Ia harus jujur bahwa selama Gabriel tidak ada, Rio selalu membuntutinya ke mana-mana? Ia harus jujur bahwa hampir setiap malam ia insomnia karena kehadiran Gabriel memaksanya untuk menghindari Rio? Ia harus jujur bahwa ternyata ia juga memiliki perasaan yang sama dengan Rio? Oh jangan gila!  

“Ga ada,” lagi-lagi jawaban itu yang keluar dari mulutnya. Ify tidak akan bisa jujur karena hal itu akan melukai Gabriel. Ify tidak akan mampu menjadi jahat untuk Gabriel meskipun kenyataannya sudah. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Terisak di sana.

***  

Ify berjalan menuju kamarnya seperti zombie. Untuk kali pertama, Gabriel tidak mengantarnya hingga kamar. Ia menurunkan Ify di depan. Bahkan ia tidak turun dari mobilnya.  

Sebelum keluar dari mobil, Gabriel sempat berkata. Sesuatu yang membuat Ify sakit.  

“Kita ga usah ketemu dulu ya! Kamu butuh waktu untuk berpikir. Aku juga.” Gabriel menghela napas panjang. “Kamu jangan lupa kalau aku cinta sama kamu.”  

Tidak ada pertengkaran dashyat yang terjadi. Tidak tercipta percekcokan hebat tadi. Tapi Ify tahu Gabriel telah mengibarkan bendera perang padanya. Perang tanpa senjata yang justru mampu melumpuhkannya.

 Ify bisa menjalani hari-harinya jauh dari Gabriel, dibentang jarak dan waktu. Namun selama itu, Gabriel tidak pernah hilang. Dia selalu hadir. Kini, jarak dan waktu bukan masalah baginya. Sekarang, dirinyalah yang menjadi masalah.

***

Jumat, 10 Februari 2017

John Wick Chapter 2


Kemarin gue baru saja melakukan kenakalan berupa menonton film yang tidak sesuai dengan umur gue. Gue kemarin nonton film John Wick Chapter 2 yang merupakan film buat usia 21 tahun ke atas. Nakal, kan? (??). Balasannya gue pusing ampe sekarang._.

John Wick adalah seorang pembunuh bayaran. Nama aslinya Jonathan, biasa dipanggil Ijong *wadaw*. Dia hendak pensiun jadi orang jahat, terus hidup di rumahnya sama anjingnya yang ga punya nama (?). Di rumahnya, dia terus mengenang istrinya yang udah meninggal. Pembunuh juga jadi cemen kalau ditinggal sama orang yang dicinta. Makanya jangan ngebunuh orang! Karena orang yang dibunuh itu mungkin ada yang cinta dan pasti sedih juga. *maaf malah ceramah*

John diminta untuk ga pensiun dulu sama Santino D'antonio si lelaki ular. Dia ngebakar rumah John dan maksa John buat ngebunuh adiknya dia karena dia iri sama adiknya yang pejabat, sedangkan dia cuma orang kaya biasa (?). Jahat banget kan pakai bakar rumah segala. Rumah loh itu, bukan jagung (??)

Karena sebuah kesepakatan, akhirnya si John pun balik lagi jadi pembunuh. Nah di situlah dia terus terusan diulari. Yeaa, buat apa kuat tapi bodoh. Wkwkwkwkkw

Film dibuka dengan adegan kejar-kejaran motor dan mobil. Kayak sinetron Anak Jalanan yang udah tamat karena si Boynya mati (?) -,,-

Di awal, gue mengantuk nonton film ini karena ga ngerti. Maaf gue memang sebodoh itu :( Tapi emang gitu, nonton film action gue bawaannya pengen tidur. setelah 10 menit udah lumayan bisa mengikuti. John Wick berjalan sangat padat, cepat dan lugas, selugas suara jedar-jedor pistolnya si John.

John Wick cuma memberikan kesempatan santai di awal. Dari tengah hingga akhir khawatir terus :((( nonton film kok sebegini tegang. Dua jam dalam bioskop rasanya lemes banget.

Bagi gue, film yang bagus tuh gitu. Bisa bikin gue kayak ikut ada di sana. Dan kemaren gue ditarik si John masuk. Takut ketembak atau ketusuk pensil :((

John Wick adalah sajian padat yang sukses bikin gue pegel-pegel, capek, dan khawatir pas keluar dari bioskop. Haduhhhh :((

Pada akhirnya, gue sangat puas dengan film ini. 8,5/10

Rabu, 01 Februari 2017

Tidak Butuh Judul [13]


Kehadiran Gabriel benar-benar menambah semangat untuk Ify. Pagi-pagi Gabriel akan datang ke apartemennya, sarapan nasi goreng buatan Ify atau roti selai coklat. Untuk roti dan selai, Ify dan Gabriel harus berdebat terlebih dahulu karena perbedaan selera antara mereka. Gabriel tidak suka selai nanas karena aromanya yang tidak enak. Sementara itu Ify sangat menyukai selai nanas.  Dan untuk menghormati pendapat masing-masing, akhirnya mereka memilih selai coklat sebagai jalan keluar.  

Gabriel kemudian akan mengantarnya ke kampus, membuat semua teman-teman yang membullynya diam karena ternyata Ify punya pacar sekeren itu. Gabriel juga dikenalkan pada Alvin, supaya dia tahu bahwa dia tidak perlu khawatir meninggalkan Ify, karena akan selalu ada Alvin yang setia menemaninya.

Jam makan siang Gabriel akan datang ke kampus untuk makan siang bersama Ify di kantin kampus. Kalau sudah tidak ada lagi kuliah, mereka akan makan siang di luar. Kadang Alvin ikut bersama mereka, tapi lebih sering tidak karena ia tahu diri dan tidak mau mengganggu Ify dan kekasihnya.  

Sore setelah urusan perkuliahannya selesai, Ify akan mengajak Gabriel menonton di bioskop. Atau kalau sedang tidak ada film yang bagus, mereka akan menonton film-film Disney di apartemen Ify atau kadang juga di rumah Deva.

 Hari itu kebetulan Ify dan Gabriel tengah menonton Pocahontas di rumah Deva saat si pemilik rumah tiba-tiba datang. Ia tak sendirian. Seorang perempuan cantik menggelayut manja di sampingnya.

 Ify tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat dia mengetahui bahwa Sivia adalah perempuan itu. Ia mengangguk samar. Pantas saja ia merasa pernah bertemu dengan Deva sebelumnya. Ternyata Deva pacarnya Sivia. Seseorang yang telah merebut Sivia dari Rio dan membuat pemuda itu hancur sampai hampir mati malam itu. Ify terkesiap. Kok ia jadi memikirkan Rio ya?  

“Gab, Fy, kenalin. Sivia, pacar gue!” ujar Deva memperkenalkan perempuan di sampingnya. “Dan Sivia, ini sepupu aku, Gabriel. Dan pacarnya, Ify.”  

Sivia menyalami Gabriel dan Ify satu persatu. Agak kaget bertemu dengan Ify di sana. Lebih kaget lagi dan cenderung tidak percaya ketika mengetahui bahwa Ify adalah kekasih sepupunya Deva yang kata Deva kuliah di Paris.

 “Aku udah kenal kok sama Ify. Dia adik tingkat aku. Iya kan, Fy?” Sivia melirik Ify, meminta dukungan. Gadis itu tersenyum penuh arti. Bibirnya yang berwarna merah darah merekah dengan sempurna.  

“I-iya Kak Sivia,” ujar Ify dengan agak terbata. Gadis itu merasa canggung harus beramah tamah dengan Sivia, mengingat bagaimana dulu kakak tingkatnya itu bersikap sangat tidak baik padanya, bahkan sampai mengatainya pembantu. Gadis itu mengeluh dalam hati.

 “Kalian lagi nonton apa sih?” tanya Deva kemudian duduk di sofa, di samping Gabriel.

 “Pocahontas. Hehe.” Gabriel terkekeh.

 “Kayak bocah deh kalian! Tapi bolehlah kita ikutan,” Deva melirik Sivia. Perempuan itu tersenyum.  

“Biar nontonnya makin seru, aku bikinin es jeruk gimana?” tanya Ify.

 “Boleh,” kata Gabriel yang diamini oleh Deva.

 Ify mengangguk kemudian melipir pergi ke dapur. Yang ternyata juga diikuti oleh Sivia.

 Ify mengeluarkan beberapa buah jeruk peras dan sebotol air dingin dari dalam kulkas. Lalu ia mengambil empat gelas dari rak. Dengan cekatan ia mulai memeras jeruk tadi. Ia belum menyadari bahwa Sivia ada di belakangnya. Berdiri di dekat kulkas.

 “Gue pikir lo pacaran sama Rio,” celetuk Sivia yang hampir membuat Ify menjatuhkan botol berisi air dingin yang ada di tangannya. Gadis itu hendak menuangkan air ke dalam gelas berisi perasan jeruk.

 Ify melirik Sivia sekilas kemudian melanjutkan pekerjaannya. Ia mengeluh dalam hati. Kok Sivia berpikiran seperti itu sih? Memangnya sedekat apa hubungannya dengan Rio di matanya?  “Enggak kok, Kak! Aku udah sama Gabriel dari dulu,” ujar Ify. Sekarang ia tengah mengaduk es jeruk buatannya.  

“Bagus deh! Lo ga pantes sama Rio. Gue juga heran kok lo bisa dapat pacar sekeren Gabriel.” Sivia mengetukkan jarinya di dagu, berpura-pura berpikir. “Oh mungkin dulu Gabriel masih cupu. Makanya mau sama lo.”

 Ify meneguk ludah. Ia menahan diri untuk tidak menyiramkan jus jeruk buatannya pada wajah Sivia yang berpulaskan make up tebal itu. Meskipun ucapan perempuan itu menyakiti hatinya. Maksudnya apa coba ia tidak pantas bersama Rio? Cinta kan bukan soal masalah pantas atau tidak. Kalau sudah saling mencintai, batas kepantasan itu sudah tidak ada lagi. Dan asal tahu saja ya, Gabriel itu tidak pernah tidak keren! Sejak kali pertama ia mengenal pemuda itu, dia sudah keren. Sampai sekarang dia selalu keren. Dia keren permanen! Ify menggertakan rahangnya. Kesal juga pada Sivia. Lebih kesal pada dirinya. Jadi dia pilih Rio atau Gabriel sih?

 Tanpa perasaan bersalah, Sivia mengambil dua gelas es jeruk buatan Ify. Kemudian membawanya pergi. Tanpa permisi atau seutas kata terimakasih.

Ify mengulum bibirnya sebal. Sabar, Ify! Kamu sekarang sedang menumpang di rumah pacarnya nenek sihir itu. Jangan bertingkah bodoh! Nanti Gabriel malu lagi punya pacar sepertimu.  

Setelah menenangkan diri, Ify membawa dua gelas es jeruk yang tertinggal dan pergi dari dapur. Ia berharap mood menontonnya tidak rusak oleh kehadiran si nenek sihir itu. Hup!

***  

Semenjak pertemuannya dengan Sivia di rumah Deva waktu  itu, Ify selalu mencari alasan untuk tidak kembali ke sana. Ia tidak mau lagi berhubungan dengan perempuan bermulut pedas itu. Ify selalu meminta apa pun dilaksanakan di apartemennya saja. Untungnya, Gabriel tidak curiga dan menuruti kemauan Ify.  

Sepuluh menit yang lalu Ify dan Gabriel menyelesaikan film Frozen. Entah mengapa, berkali-kali menonton film yang sama, tak membuat Ify dan Gabriel bosan. Selalu menyenangkan menonton tingkah bodoh dan konyol Anna serta Olaf si manusia salju.  

Omong-omong soal Frozen, Gabriel jadi teringat sesuatu. “Eh kamu masih ngegambar ga sih? Kangen aku digambarin sama kamu,” celetuk Gabriel.  

Ify mendesah samar. Ia mengambil sesuatu dari dalam lemari kaca di  dekat pintu kamarnya. Dengan merengut, gadis itu menyerahkan apa yang baru diambilnya pada Gabriel.

 Gabriel bergidik ngeri ketika menerima sebuah buku sketsa yang kotor dan rusak. Ia melirik tajam pada Ify. Ini bukannya buku sketsa yang pernah dihadiahkannya untuk Ify?  

“Maaf ya, Gab! Bukunya rusak. Waktu itu ga sengaja masuk tong sampah,” ucap Ify dengan nada menyesal.

 Gabriel mengeluh tertahan. Ia kemudian membuka buku tersebut. Meskipun bercak kecoklatan nampak mengotori hampir setengah dari jumlah halaman buku itu, tapi Gabriel tahu persis bahwa kebanyakan gambar yang ada di sana adalah gambar dirinya. Ia tersenyum.  “Bukunya buat aku ya! Aku suka! Banyak akunya soalnya.” Gabriel terkekeh pelan.  

“Tapi itu udah rusak gitu, Gab! Nanti deh aku bikinin lagi yang lebih bagus.”  

“Ini juga udah bagus. Ga apa. Nanti bukunya aku beli yang baru buat kamu, terus kamu gambar aku lagi deh. Tapi nanti ga pake ada coklat-coklatnya gini.”  

Ify mencubit lengan Gabriel. “Kamu nih emang paling bisa.”

 Gabriel membalas Ify dengan mencubit pipi gadis itu yang terlalu menggemaskan di matanya.  

Ify mengaduh kesakitan, namun kemudian ia tertawa. Bahagia sekali memiliki Gabriel yang tidak pernah marah atas kesalahannya. Lelaki lain mungkin akan marah atau lebih parah lagi, kecewa kalau hadiah pemberiannya tidak dijaga dengan baik. Tapi Gabriel tidak. Baginya, semua yang telah ia berikan sudah menjadi hak Ify. Mau diapakan juga terserah saja. Dan buku sketsa yang hampir hancur itu justru membuat hati Gabriel berbunga. Bercak coklat tak mampu menghapus goresan indah tangan Ify melukis wajahnya.  

Sayangnya, Gabriel tidak tahu bahwa bukan hanya buku sketsa itu yang tidak bisa dijaga Ify. Gadis itu juga telah gagal menjaga hatinya. Ia biarkan hatinya disentuh lelaki lain. Ia buat dirinya bingung hatinya untuk siapa. Bahkan ketika dirinya sedang bersama Gabriel, seringkali terlintas di benaknya lelaki itu. Lelaki yang telah membuat  buku sketsanya rusak. Ia berharap bahwa hubungannya dengan Gabriel tidak turut rusak oleh lelaki itu.

***

 Rio tidak punya teman untuk dijadikannya konsultan. Makanya ia merancang rencananya sendirian. Ia tidak bisa terus-terusan bersembunyi dan menikmati kesakitannya sendiri. Ify harus tahu karena dialah penyebab semuanya.

 Rio sudah tahu situasi di luar sana telah aman. Musuhnya telah pergi sejak satu jam yang lalu. Dengan senjata di tangannya -sebuah kotak beledu yang harusnya sejak dulu sudah ia berikan pada Ify, ia melangkah percaya diri. Menekan bel kamar Ify.

 Tak butuh waktu lama, Ify membuka pintu. Terlihat sekali raut wajah terkejut gadis itu. Ia meneguk ludah. Terbata-bata bertanya, “Ada apa, Kak?”  

Rio menyerahkan kotak beledu yang dibawanya pada Ify, senjatanya yang pertama. Tanpa permisi ia melintasi Ify dan masuk ke dalam, tempat eksekusinya malam ini.

 Ify terkesiap ketika Rio berjalan masuk ke apartemennya. Ia terburu menutup pintu dan berjalan mengikuti Rio. Dalam hati takut juga Rio akan berbuat macam-macam.  

Dengan gerakan yang sama sekali tak terbaca, Rio memutar tubuhnya. Kini ia menghadap Ify. Ia menatap Ify dalam-dalam. Bersiaplah untuk senjata berikutnya, Ify! Rio menarik pelatuknya. Anak panah itu siap meninggalkan busurnya.  

“Gue sayang sama lo,” ujar Rio. Langsung dan tepat sasaran.  

Ify tidak pernah mempersiapkan diri untuk ini. Gadis itu membuka mulutnya. Gelagapan mencari kata-kata namun tak ia temukan jua.  

“Gue sayang sama lo dan gue ga peduli sama Gabriel,” lanjut Rio.  

Ify menggelengkan kepala. Tanpa sadar ia melangkah mundur, menjauhi Rio. Harusnya tidak begini.  

Langkah Rio lebih besar dan lebih cepat. Ia berhasil meraih bahu Ify. Digenggamnya kuat-kuat bahu yang mulai mengejang itu. Ditumpahkannya segala isi hatinya tepat di depan wajah gadis itu. Dia harus tahu.  “Ga ada yang gue peduliin lagi sekarang selain lo, Fy! Gue sayang sama lo!”  

Sekuat tenaga Ify menghempaskan tangan Rio yang ada di bahunya. Ia menggeleng samar. Menampik segalanya. “Harusnya ga gitu, Kak! Dalam hati aku udah ga ada siapa-siapa lagi selain Gabriel.” Ify menggigit bibirnya, hal yang biasa ia lakukan ketika ia berbohong. Sepenuhnya ia menyadari apa yang baru saja meluncur dari mulutnya adalah sebuah kebohongan. Karena telah ia ketahui bahwa juga ada Rio di sana. Bersembunyi di ruang gelap dalam hatinya. Tak seorang pun yang tahu kecuali dirinya.

 Rio tidak bisa terima. Seumur hidupnya, hanya sekali ia mendapat penolakan yaitu dari Sivia. Harusnya tidak pernah ada hitungan setelahnya. “Jangan bohong, Fy! Lo juga sayang sama gue, kan?” tanya Rio dengan penuh percaya diri. Mungkin ia merasa dirinya seorang Cassanova sampai-sampai semua orang mustahil untuk tidak menggilainya.  

Rio memang bukan Cassanova. Bagi Ify, Rio adalah lelaki biasa yang diberi kelebihan fisik dan harta. Kelebihan yang tidak pernah dilihat Ify. Yang Ify lihat dari Rio selama ini justru adalah segala kelemahan dan kekurangan pemuda itu. Sifat sombongnya, sikap seenak perutnya, tingkah konyolnya, celetukkan menyebalkannya. Yang sialnya semua itu justru membuat Ify ingin berada di samping Rio, untuk berjalan bersama menuju sesuatu yang lebih baik. Ify mendesah samar. Menghela napas berat.  

“Enggak, Kak,” ujar Ify singkat.  

Rio frustasi dibuatnya. Pemuda itu menghentakkan kakinya ke lantai. “Terus maksud kebaikan lo selama ini apa? Lo mainin gue?” tanya Rio dengan nada yang mulai meninggi.  

“Kalau Alvin atau siapa pun yang ada di posisi Kakak, aku juga bakalan bantu.”  

Rio mengumpat dirinya sendiri dalam hati. Ia lupa bahwa Ify tidak sepertinya. Ify adalah perempuan baik yang senantiasa menolong orang lain. Dirinya saja yang kegeeran menanggapi segala bentuk kebaikan gadis itu. Oh sial!  

Sekali lagi Ify menggigit bibirnya. Ia lagi-lagi berbohong. Mungkin ia akan mengusir Alvin kalau sahabatnya itu selalu merecokinya di dapur. Mungkin juga ia tidak akan mau diajak ke luar kota dalam keadaan belum mandi. Dan mungkin kalau Rio yang ada di rumah sakit kala itu, kemudian Alvin meneleponnya, ia akan meminta Alvin untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Mengapa? Karena ya itu adalah Rio.  

“Gue sayang sama lo, Fy!” ujar Rio sekali lagi, ia masih belum mau menyerah.  

“Tapi aku enggak,” ujar Ify dengan wajah datar.   

Setelah itu, Rio tidak mau mencoba lagi. Mungkin ia harus berlapang dada dan menerima kenyataan bahwa hidup juga berisi penolakan. Pemuda itu mengangkat tangannya ke udara, tanda menyerah. Ia memutuskan untuk melakukan gencatan senjata. Tanpa sepatah kata pun, ia meninggalkan tempat itu. Medan perang yang telah membuatnya menyerah dan kalah.  

Ify menatapi punggung Rio yang perlahan menjauh. Tanpa sadar sedari tadi mendekap kotak beledu yang diberikan pemuda itu. Satu-satunya hal tentangnya yang masih bisa Ify raih. Karena malam itu Ify tahu, ia telah melepaskan sesuatu yang belum sempat ia genggam. Cintanya yang salah.

***

Tidak Butuh Judul [12]


Sudah dua mini bus melewati gerbang semenjak Ify duduk di lobby sebuah travel yang tak jauh dari apartemennya. Gadis itu memainkan ujung dressnya. Gusar menunggu kedatangan Gabriel.

Beberapa kali Ify mengecek ponselnya dengan gelisah, menanti kabar dari Gabriel. Kegelisahan yang membuatnya bekerja keras untuk menahan dirinya menelepon atau sekedar mengirim pesan. Untuk mengalihkan perhatiannya, ia kemudian membuka galeri ponselnya. Membuka kembali foto-foto lamanya bersama Gabriel.

“Apa kabar, Fy?” Ify terkesiap ketika mendengar suara baritone khas itu menyapanya. Ia mendongak, melihat penampakan seorang lelaki jangkung yang tengah tersenyum padanya.

Ify melonjak. Kedua ujung bibirnya ia tarik, sebuah bentuk luapan kebahagiaan yang sudah tak mampu lagi ditampung oleh hatinya sendiri. “Gab!” seru Ify. Gadis itu lantas menghambur memeluk Gabriel. Menumpahkan segala rindu yang telah ia kumpulkan begitu lama. “Aku kangen banget sama kamu!” cicitnya.

Gabriel balas memeluk Ify. Ia daratkan kecupannya pada puncak kepala kekasihnya itu. Wangi rambutnya masih sama, masih selalu membuatnya terlena. “Aku juga.” Gabriel mengurai pelukannya. Ia meletakkan dua tangannya pada pipi Ify. “Tapi, kamu belum jawab pertanyaan aku. Apa kabar, Fy?”

Ify tertegun sejenak. Menikmati dua pelihat teduh milik Gabriel. Tatapan itu masih sama, masih selalu membuat hatinya tenang sekaligus berdebar dalam waktu yang sama.

“Kalau kangen itu siksaan, aku berarti udah babak belur, dan obatnya cuma kamu. Aku ga pernah merasa sebaik ini,” ujar Ify, ia hampir saja menangis ketika mengucapkan kalimat manis itu.

Air muka Gabriel tiba-tiba berubah. Ia menghela napas panjang. “Maafin aku ya!”

Ify menepuk bahu Gabriel, “Hei! Kok minta maaf? Kangen aku ke kamu emang bikin aku babak belur. Tapi kan aku jadi kuat. Makasih ya!” gadis itu meraih tangan Gabriel yang masih ada di pipinya dan kemudian diciumnya.

Gabriel tersenyum. Betapa beruntungnya ia memiliki kekasih seperti Ify yang tidak pernah menuntutnya apa-apa, yang selalu setia dan memenuhinya dengan cinta.

“I love you!” bisik Ify.

“Mungkin aku lebih dari itu,” tukas Gabriel.

***

Ify mengajak Gabriel ke sebuah restoran di daerah Dago. Sengaja ia pilih tempat itu karena jaraknya tidak terlalu jauh dari shuttle travel dan tempatnya cukup nyaman.

“Aku buat ini untuk kamu,” Ify memberikan kotak berpita merah muda pada Gabriel.

“Manis banget kotaknya,” ucap Gabriel.

“Isinya lebih manis,”

Gabriel terkekeh pelan lantas segera membuka kotak itu. Beberapa potong brownies dengan hiasan strawberry ada di sana. Ia tersenyum lebar. Melirik Ify. “Kamu kenapa sih tahu aja apa yang bikin aku senang!”

“Bikin kamu senang juga kan salah satu kesenangan aku,” tukas Ify seraya terus menyunggingkan senyum.

Gabriel mengambil satu potong brownies kemudian melahapnya habis. Ia tersenyum. “Enak banget tahu!” ujarnya kemudian mengambil satu potong lagi.

Seorang pelayan datang dengan nampan besar di tangannya, membawa dua piring spaghetti dan dua gelas minuman dingin. Dengan sigap, pelayan itu memindahkan piring serta gelas itu ke atas meja, kemudian pamit undur diri.

“Kamu kok mendadak banget ngasih tahu mau pulangnya?” tanya Ify kemudian menyeruput jus alpukatnya.

“Kejutan dong!” ujar Gabriel. Ia masih belum berpaling dari brownies buatan Ify meskipun ada sepiring spaghetti yang nampak begitu lezat di hadapannya.

“Terkejut banget loh aku!” Ify terkekeh. “Oh iya, berapa lama kamu di sini? Terus di Bandung kamu tinggal di mana?”

“Sebulan. Aku ada sodara disini, Fy. Daerah Setiabudi. Aku bakalan tinggal di rumah dia. Jauh ga dari sini?” Gabriel kini membersihkan tangannya dengan tisu. Brownies buatan Ify telah habis disantapnya.

“Sebulan? Asyik!” Ify berseru senang. “Ga terlalu jauh kok. Paling macetnya aja yang nyebelin.”

“Macet ga ada apa-apanya lah Fy kalau Cuma buat ketemu kamu,” ujar Gabriel seraya tersenyum jahil.

“Kamu nih gombal terus! Sebelnya, aku malah seneng.”

Dan kehangatan itu terus berlanjut bahkan ketika mereka sedang berada di dalam taksi, membuat supir taksi yang mereka tumpangi beberapa kali berdeham iri.

***

Ify dan Gabriel telah sampai di pelataran sebuah rumah. Gabriel menekan bel, dan tak berapa lama seorang pemuda berkulit gelap menyembul dari balik pintu. Ia langsung memekik dan memeluk Gabriel.

Ify yang berada di samping Gabriel mengerutkan kening, merasa pernah bertemu dengan pemuda itu sebelumnya.

“Lo kok ga bilang sih udah nyampe? Kan bisa gue jemput,” ujar pemuda itu seraya menepuk bahu Gabriel.

“Malas banget dijemput sama lo! Mendingan dijemput sama dia!” Gabriel melirik Ify dan menyikut gadis itu pelan.

Ify tersenyum kemudian mengulurkan tangannya. “Ify.”

Pemuda itu mengambil tangan Ify, “Deva.” Ia kemudian mendekatkan wajahnya pada Ify, hendak memeluk gadis itu.

Seketika Gabriel mendorong tubuh Deva, dan menarik Ify ke dalam rangkulannya. “Eh jangan sama cewek gue!”

“Hahaha, bercanda kali gue! Masak gue nikung sepupu sendiri.” Deva menggaruk tengkuknya. “Eh ayo masuk!”

Gabriel menggamit lengan Ify dan menuntun gadis itu masuk.

Deva ternyata membawa Gabriel dan Ify ke dalam sebuah kamar. Pemuda itu tersenyum. “Kamar lo selama di sini. Lo istirahat aja dulu. Gue tahu lo pasti capek. Gue tinggal dulu ya!”

Gabriel menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Ia mendesah kentara. Akhirnya bisa ia rebahkan tubuhnya yang sangat lelah itu. Pemuda itu melirik Ify yang tengah termenung di dekat pintu.

“Kamu kenapa?” Gabriel berdiri kemudian menarik lengan Ify dan mengisyaratkan Ify untuk duduk di kursi.

“Ga pa-pa. Kayak pernah ketemu sama Deva, tapi ga tahu di mana,” ujar Ify.

Gabriel membulatkan mulutnya. “Aku pikir kamu takut sama dia gara-gara kejadian tadi.”

“Takut juga sih aku. Hehe.”

“Deva baik, kok! Cuma ya gitu, ga bisa lihat cewek cantik.”

“Emangnya aku cantik?” tanya Ify retoris.

“Cantik! Princess Aurora doang mah lewat!” ujar Gabriel.

“Ih masak Princess Aurora sih? Kerjaannya tidur doang dong!” ujar Ify seraya menggembungkan pipinya sebal.

Gabriel mencubit pipi Ify gemas.

“Tapi aku senang kamu takut dipeluk sama Deva. Kamu jangan mau ya dipeluk sama cowok selain aku!” pinta Gabriel.

Ify merasa hatinya tertohok ketika mendengar pinta Gabriel. Ia menatap mata Gabriel yang berbinar, seperti permintaan itu memang benar-benar keluar dari lubuk hatinya terdalam.

Dan ia ingat pernah suatu malam ia biarkan dirinya jatuh ke pelukan lelaki lain. Bahkan permintaan yang tak seberapa itu telah gagal untuk Ify kabulkan.

Ify mengerjap, kemudian bergerak mendekat pada Gabriel. Ia tersenyum kemudian memeluk Gabriel. Erat sekali seperti takut kehilangan. Hangat sekali dipenuhi sayang.

***

Gabriel meminjam mobil Deva untuk mengantarkan Ify pulang. Mereka kini sudah sampai di apartemen Ify. Gadis itu merogoh tasnya, mencari-cari kunci kamarnya. Saat seorang pemuda tiba-tiba menyapanya. Ify sontak berbalik dan melihat Rio di sana, berdiri sedikit di belakang Gabriel. “Kak Rio,” cicit Ify pelan.

Gabriel mengikuti kemana arah mata Ify pergi. Ia memutar tubuhnya, dan mendapati seorang pemuda di sana.

“Gab, ini kenalin tetangga sekaligus teman aku, Kak Rio,” ujar Ify cepat, takut sekali hubungan tak wajarnya dengan Rio akan terendus oleh Gabriel. “Kak Rio ini Gabriel, pacar aku.”

Gabriel dan Rio saling bersalaman. Gabriel menatap Rio seakan ia baru memiliki teman baru, sementara Rio membalas tatapan Gabriel dengan penuh kebencian.

Ify menemukan kunci kamarnya di waktu yang tepat. Segera ia membuka pintu kamarnya dan menarik Gabriel masuk. Diam-diam gadis itu menghembuskan napas lega.

Namun Rio tidak. Napasnya memburu penuh emosi. Rasanya ingin sekali ia mendobrak pintu di depannya kemudian menghadiahi Gabriel dengan tinjunya. Ingin sekali ia tarik Ify ke dalam pelukannya dan berteriak tepat di depan wajah Gabriel bahwa yang berhak memiliki Ify adalah dirinya.

Tapi keinginan itu ia urungkan dan ia memilih meluapkan emosinya di kamarnya sendiri. Melempar beberapa barang dan meninjui lantai. Jadi itu yang namanya Gabriel? Yang potongan rambutnya norak? Yang wangi parfumnya aneh? Yang senyumnya menyebalkan? Jadi seperti itu sosok lelaki yang tiba-tiba datang mengacaukan segalanya? Membuat ia dan Ify yang sudah sedekat nadi jadi sejauh matahari? Rio membanting sebuah gelas dari atas meja. Bersama pecahan gelas yang berserakan di sudut ruang tamunya, ia pun menyadari bahwa dirinyalah yang tiba-tiba datang di hidup Ify dan ia sama sekali tidak tahu apa-apa, termasuk fakta bahwa gadis itu telah menjadi milik orang lain.

Rio meringis kesakitan. Ia memegangi dadanya. Menyadari bahwa lelaki dengan gaya rambut norak, bau parfum aneh dan senyum menyebalkan itu jauh lebih beruntung darinya. Dan dirinya, dengan gaya rambut paling kekinian, aroma tubuh yang wangi, dan senyum yang menyenangkan hanyalah sebutir debu. Pengecut dan sama sekali tidak penting.

Lagi-lagi Rio ditinggalkan. Karma ternyata bisa datang berkali-kali.

***

Gabriel telah meninggalkan apartemennya sekitar satu jam yang lalu. Kini, Ify telah mengenakan piama dan bersiap untuk tidur. Setelah mengoleskan lotion anti nyamuk ke seluruh tubuhnya, gadis itu berbaring. Menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba Ify teringat dengan ucapan Gabriel tadi. ‘Kamu jangan mau ya dipeluk sama cowok selain aku.’ Ia menggigit bibirnya. Merasa bersalah karena ia telah mengecewakan Gabriel meskipun pemuda itu tidak tahu (belum tahu lebih tepatnya). Ify pernah dipeluk lelaki lain. Pelukan yang bukan hanya sekadar pelukan seorang teman, tapi jauh lebih dari itu. Pelukan yang diberikan oleh lelaki yang ia temui di depan tadi, yang menatapnya nanar, yang tidak bisa mengucapkan apa pun selain namanya, yang memendam kecewa karenanya. Dan betapa ia semakin merasa bersalah karena ternyata diam-diam Ify merindukan lelaki itu. Celetukannya yang menyebalkan, lawakannya yang sering meleset, tawanya yang mengganggu, dan semuanya. Gadis itu meremas selimut yang membalut tubuhnya.

Ify tidak bisa tidur. Hatinya yang kacau membuat otaknya sulit beristirahat. Gadis itu mencoba memejamkan mata sekali lagi. Kemudian ia ingat pada ucapan Gabriel pada suatu malam yang telah lama berlalu kala ia insomnia juga.

“Kalau kamu ga bisa tidur, jangan hitung domba! Hitung aja seberapa banyak cinta aku ke kamu. Aku jamin kamu bakalan tidur karena capek berhitung. Saking banyaknya.”

Malam ini, Ify melakukannya. Menghitung cinta Gabriel untuknya. Cinta memang tak dapat dihitung dan diukur, tapi segala kebaikan Gabriel bisa ia ingat semuanya. Terlalu banyak, sampai ia kepusingan dan lupa sudah sampai hitungan berapa. Hal itu sepatutnya membuat ia sadar bahwa tidak ada lelaki yang patut menempati hatinya selain Gabriel.

Mungkin memang tidak akan pernah ada tempat dan waktu yang tepat baginya untuk bersama Rio. Tapi mungkin Ify tidak harus kecewa karena selalu ada Gabriel untuknya.

Kamis, 12 Januari 2017

Cek Toko Sebelah




Cek Toko Sebelah resmi jadi film pertama yang gue tonton di bioskop di tahun 2017. Setelah berkali-kali gagal nonton karena super sibuk (atau sok sibuk), akhirnya gue bisa nonton film karya Ernest Prakasa yang kedua ini.

Gue tidak pernah cocok dengan stand upnya Ernest, tapi atas pengalaman nonton Ngenest yang sangat menyenangkan, gue ga ragu untuk menonton film keduanya yang berjudul Cek Toko Sebelah ini.

Cek Toko Sebelah mengambil tema film yang gue suka, keluarga. Dikisahkan seorang pemilik toko bernama Koh Afuk hendak mewariskan tokonya pada anak bungsunya Erwin, namun Erwin enggan untuk menuruti permintaan Papanya karena ia punya karier yang cemerlang dan hendak pergi ke Singapura. Di lain sisi, Yohan, sang kakak merasa tidak terima karena yang harusnya melanjutkan toko itu adalah dirinya, bukan Erwin.

Minggu, 08 Januari 2017

Tidak Butuh Judul [11]


Ify berjalan mendahului Rio sesaat setelah pintu lift terbuka. Ia langkahkan kakinya besar-besar demi memperlebar jaraknya dengan Rio. Berusaha secepat mungkin untuk sampai di kamarnya.

Rio tidak terpancing untuk berjalan lebih cepat. Ia justru membiarkan Ify pergi kemudian menghilang ketika gadis itu masuk ke kamarnya. Ia menyadari betul ada yang aneh dengan gadis itu. Terhitung sejak tadi pagi, Ify mengubah sikapnya yang hangat menjadi sedingin bekuan es. Bahkan sepanjang perjalanan pulang, gadis itu sama sekali tidak bersuara, padahal beberapa kali Rio berusaha mencairkan suasana. Pada akhirnya, ia pun menyerah dan membiarkan dua penyiar radio berkoar memeriahkan atmosfer di mobilnya yang begitu mencekam.

Kamis, 22 Desember 2016

The Professional




Demi apa pun harusnya kalian tahu alasan gue menonton The Professional adalah Arifin Putra. Ya, dia alasan terbesar. Alasan lainnya karena film The Professional merupakan genre yang baru di perfilman Indonesia, jadi sayang banget untuk dilewatkan.

The Professional bercerita tentang rencana pembobolan brankas oleh sekelompok orang yang dipelopori oleh Abi (Fachri Albar). Abi mengumpulkan orang-orang yang senasib dengannya, pernah dikecewakan oleh Raja ular._. Reza (Arifin Putra) untuk balas dendam.

Selasa, 06 Desember 2016

Tidak Butuh Judul [10]


Ify diculik. Setidaknya begitulah yang dirasakan Ify ketika pagi tadi Rio tiba-tiba menggertaknya untuk ikut bersamanya. Ify tidak diberikan kesempatan untuk mandi terlebih dahulu. Rio meminta Ify untuk segera berkemas, membawa beberapa baju serta peralatan menginap lain. Alhasil, masih dengan piama bunga-bunganya, Ify tertidur pulas dalam mobil, sementara Rio menyetir seraya berbusa-busa menjelaskan rencana kejutannya untuk sang mama.

Rabu, 30 November 2016

Allied



Tiba-tiba tergerak untuk menonton film ini, entah karena apa. Mungkin karena katanya film ini yang jadi penyebab perceraian Brad Pitt dan Angelina Jolie. Tapi, emang cantikan Marion Cotillard (cewek di film ini) sih.___. 

Allied mengambil latar perang dunia kedua. Max Vatan (Brad Pitt) adalah seorang agen Canada. Dia kemudian menjalankan misi untuk membunuh petinggi Jerman. Max kerja sama dengan seorang pejuang dari Prancis bernama Marianne Beausejour (Marion Cotillard). Awalnya mereka pura-pura jadi pasangan suami istri, tapi lama kelamaan mereka cinlok dan akhirnya menikah. Mereka kemudian pindah ke London dan hidup bahagia di sana bersama anaknya Anna, yang Marianne lahirkan ketika ada penyerangan :(( Selesai. *eh ga deng. Ya pokoknya setelah mereka menikah, mereka dapat cobaan. Mariane dicurigai sebagai mata-mata. WOW.

Senin, 28 November 2016

Moana



Disney kembali menciptakan kisah Princess. Bedanya, Moana hadir dalam wujud Princess yang tangguh, pemberani dan independen.

Dikisahkan terdapat dewi laut (?) bernama Te Fiti. Dia yang memberikan kehidupan untuk laut dan banyak pulau. Suatu hari, seorang manusia setengah dewa yang bisa berubah wujud bernama Maui mencuri jantung Te Fiti yang membuat ia marah dan akhirnya memberikan kutukan pada laut dan pulau-pulau. Sementara itu, di satu pulau hiduplah Moana yang akhirnya tahu bahwa dulu masyarakat pulaunya adalah penjelajah lautan. Atas petunjutk neneknya, ia mulai melakukan petualangan melintasi lautan untuk mengembalikan jantung Te Fiti.

Kamis, 17 November 2016

Fantastic Beasts and Where to Find Them


Bukan pengikut Harry Potter, dan bahkan tidak pernah ada filmnya yang gue tonton sampai selesai, karena selalu berakhir dengan ketiduran. Tapi bukan berarti gue tidak tertarik dengan Fantastic Beasts and Where to Find Them tidak menarik perhatian gue untuk menontonnya.

Dikisahkan seorang penyihir muda bernama Newt Scramander baru saja tiba di New York dengan membawa koper berisi banyak hewan ajaib peliharaannya. Beberapa dari hewan itu tiba-tiba kabur dan membuat kekacauan di tengah kondisi New York yang sedang dalam keadaan buruk karena kecurigaan para warganya terhadap adanya penyihir.

Sabtu, 05 November 2016

Jumat, 04 November 2016

Ouija: Origin Of Evil



Sebelumnya gue mau meminta maaf sekali karena penilaian gue terhadap film ini sangat dipengaruhi suasana saat menonton. Dan kemarin ketika gue menonton film ini, suasananya sangat tidak kondusif karena banyak gerombolan anak SMA yang entah apa tujuan mereka masuk bioskop, karena kalau untuk menonton dan menikmati film, kayaknya enggak :)


Kamis, 03 November 2016

Trolls


Dikisahkan hiduplah mahluk bernama Trolls. Mereka adalah mahluk warna-warni yang selalu berbahagia. Hidup mereka diisi dengan bernyanyi, menari dan berpelukan. Di sisi lain, terdapat raksasa bernama Bergen yang tidak pernah bahagia. Oleh karena itu, mereka memakan Trolls untuk mendapatkan kebahagiaan di pesta Trolls yang diadakan setiap tahun. Suatu hari, para Trolls melarikan diri dan melanjutkan hidupnya jauh dari tempat Bergen.

Kamis, 27 Oktober 2016

Butuh Doa


Suatu hari di kelas elektif kewirausahaan, dosen gue bilang "Kalian sudah punya pasangan belum?"

Beberapa menjawab sudah, kebanyakan belum. Gue adalah salah satu yang menjawab belum.

Lalu sang dosen bilang, "Ayo kalian cari pasangan dari sekarang! Jangan dulu lulus sebelum dapat pasangan! Nanti di klinik kalian ga akan ada waktu buat hal begituan."

Gue cuma ketawa. Segitunya emang?

Sabtu, 15 Oktober 2016

Pinky Promise



Kanker payudara  adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh perempuan, bahkan bukan hanya perempuan, semua orang juga takut. Beberapa orang yang menderita kanker payudara merasa dirinya adalah perempuan gagal. Tapi Tante Anin (Ira Maya Sopha) dalam film Pinky Promise meyakinkan kita semua bahwa tidak pernah ada perempuan gagal.

Selasa, 11 Oktober 2016

Ada Cinta di SMA



Cinta gue pake peringkat. Dari yang namanya masih Coboy Junior terus ganti jadi CJR karena Bastian keluar, gue memposisikan Aldi di peringkat pertama, dan Iqbaal di peringkat terakhir. Sayangnya, Iqbaal selalu mendapatkan hal yang 'lebih' dibandingkan yang lain. Iqbaal adalah personil CJR yang fansnya paling banyak (dilihat dari jumlah followers twitter dan instagramnya). Kalau diundang ke acara-acara, yang selalu jadi bahan obrolan adalah Iqbaal. Waktu Coboy Junior main sinetron, Iqbaal yang jadi pemeran utama. Pun dengan film Coboy Junior The Movie, meskipun semua punya konflik tersendiri, Iqbaal masalahnya lebih jelas dibanding dengan Bastian._.

Kamis, 29 September 2016

Athirah



Ketika membaca sinopsis film ini, awalnya gue ragu untuk nonton. Karena sudah begitu banyak film-film poligami yang lebay dan terlalu dramatis :( Tapi karena ada Christoffer Nelwan yang jadi salah satu pemainnya, dan film ini produksi Miles Film, jadilah gue pergi menonton di hari penayangan film ini.

Selasa, 13 September 2016

Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! part 1




Berbagai alasan mendorong gue untuk menonton film ini. Karena gue salah satu penggemar film warkop (meskipun kalau ditanya gue ga akan tahu film warkop yang ini judulnya apa, yang itu judulnya apa-,,-), karena yang main Vino G Bastian (aktor yang selalu sukses di setiap filmnya) dan Abimana, karena yang nulis skenarionya adalah idola gue, Bene Dion dan Awwe.


Rabu, 07 September 2016

Tujuh




Karena waktu yang berjalan cepat, terlalu cepat. Gue masih sangat ingat bagaimana dulu ketika mendapat kabar bahwa gue diterima di Fakultas Kedokteran Gigi, gue langsung memeluk nenek, orang yang berada paling dekat saat itu, yang sayangnya sekarang dia justru berada di tempat yang sangat jauh, tempat itu bernama surga.

Senin, 05 September 2016

Sukajadi, Suka Sejadi-jadinya




Satu hal yang Snap takutkan ketika bertemu orang baru di lingkungan baru adalah apakah mereka akan menerima Snap, tidak merubah Snap jadi orang lain. Ketakutan itulah yang datang ketika di akhir semester 6 kemarin Snap diwajibkan untuk mengikuti KKN (Kuliah Kerja Nyata). Entah beruntung atau tidak, Snap KKN di sebuah desa di Purwakarta. Beruntungnya karena Purwakarta tidak terlalu jauh, tidaknya adalah desa yang Snap dapat ternyata jauh dari keramaian. Sebuah desa bernama Sukajadi yang untuk sampai di sana,  harus melewati beberapa tanjakan, turunan, pepohonan, sawah, dua sungai besar mengalir deras, dua jembatan yang kalau diseacrh di google bakalan muncul berita jembatan itu pernah amblas-,,- Sebuah desa yang ternyata memberi Snap banyak hal.

Kamis, 01 September 2016

Don't Breathe



AKHIRNYA! Setelah lebih dari sebulan tidak menonton, kemarin secara tidak sengaja gue kembali lagi ke bioskop, menonton film bergenre thriller yang baru saja rilis di Indonesia: Don't Breathe.

Don't Breathe mengisahkan tiga perampok yang berencana untuk mencuri uang di sebuah rumah tua seorang pensiunan tentara yang buta. Tak disangka ternyata di rumah itu terdapat bahaya yang mengancam, karena ternyata si bapak tua buta itu adalah seorang psikopat.

Jumat, 15 Juli 2016

Sabtu Bersama Bapak


Dari lima film Indonesia yang tayang di libur lebaran, gue memilih untuk menonton Sabtu Bersama Bapak. Selain karena ada dua aktor favorit gue: Arifin Putra si ganteng tiada tara dan Acha Septriasa, ada si pemilik suara paling romantis abad ini; Abimana._., gue nonton Sabtu Bersama Bapak karena merasa film ini paling cocok sama gue. Bukan karena gue yang kebapakan, tapi karena gue orangnya keluarga banget dan film film keluarga begini yang gue suka. Jadi ya film ini harus gue tonton.

Dari trailer yang sering banget ditayangin di tv, gue mengira film ini akan bikin gue nangis kejer. Tapi apa yang terjadi di studio?????? Snap terbahak-bahak, bahkan ketika scene sedih dan menegangkan. Ya allah kenapa ya? :(

Sabtu, 18 Juni 2016

Finding Dory



Keterseringan nonton Finding Nemo membuat gue pada awalnya tidak terlalu antusias dengan kehadiran Finding Dory. Namun akhirnya, gue menonton juga film ini.

Finding Dory dibuat dua versi, asli dan dubbing Indonesia. Sebenarnya gue lebih pengen nonton yang Indonesia karena ada Syahrini dan Raffi Ahmad yang jadi pengisi suaranya. Namun tidak bagi penonton lain yang terdengar keluhan kecewa saat film dibuka dengan sapaan dari Dory: "Hai, Aku Dory!" Gue mah beda. Gue seneng banget. Wk.

Kamis, 16 Juni 2016

The Conjuring 2





Akhir-akhir ini The Conjuring 2 ramai diperbincangkan. Meme-meme tentang Valak, hantu berkerudung (?) di film The Conjuring 2 pun banyak bermunculan. Ada yang lucu banget. Ada yang bikin ngelus dada sambil bilang 'apaan sih'. Tapi tulisan ini tidak akan membahas tentang meme-meme Valak itu. Ada beberapa hal yang mengusik perhatian gue ketika menonton film ini, selain karena filmnya yang serem tapi anehnya pulang dari bioskop yang terngiang-ngiang malah lagu Can't Help Falling in Love With You -_-

Berikut 5 hal termembuat Snap pengen komentar:

Tidak Butuh Judul [9]


Ify seketika merubah air mukanya menjadi masam ketika mendapati Rio di ruangan itu bersama Alvin. Entah sejak kapan pemuda itu di sana. Padahal sepuluh menit yang lalu ketika Ify meminta izin untuk mengurusi administrasi, di ruangan itu hanya ada Alvin seorang diri. Gadis itu melengos ketika Rio menoleh padanya. Tidak peduli dengan desahan kecewa dari sang pemuda.

Selasa, 31 Mei 2016

Porsenang For Senang


Yang kurang Sinta suka dalam hidup adalah keteraturan. Kadang-kadang, chaos lebih baik, lebih menyenangkan. Tapi dalam sebuah acara, kechaosan adalah hal yang paling dihindari. Sebisa mungkin semuanya harus sesuai dengan rencana (?).

Dua bulan yang lalu, Sinta ikut dalam kepanitian acara tahunan di kampus, Porsenang. Bukan inisiatif atau sok ativis, tapi karena emang itu wajib. Ya jadi terpaksalah. Dan entah atas dasar apa, Sinta dimasukkin ke divisi acara, yang kerjanya mesti bener-bener, menguras otak dan tenaga. Sementara Sinta pemalas dan tidak bisa kelelahan :)

Senin, 16 Mei 2016

Jumat, 22 April 2016

Super Didi


Sama sekali tidak memiliki ekspektasi terlalu tinggi terhadap film ini. Datang, nonton dan terhibur rasanya cukup bagi gue. Tapi ketika gue selesai menonton film yang disutradai oleh dua perempuan ini pun membuat gue lebih dari perasaan terhibur.

Film dibuka dengan adegan Didi Arka (Vino G Bastian) yang diganggu oleh dua anaknya, Anjani dan Velia. Mereka main perang bantal. So unchhh. Dan berlanjut ke adegan adegan lain.

Rabu, 20 April 2016

Tidak Butuh Judul [8]


Ify dikejutkan oleh kabar bahwa Alvin masuk rumah sakit. Setelah menyelesaikan perkuliahannya, ia segera pergi ke rumah sakit untuk melihat keadaan sahabatnya itu.
            
Dan gadis itu semakin dibuat terhenyak ketika mendapati kondisi Alvin yang sangat menyedihkan. Pemuda itu berbaring lemas di atas tempat tidur. Wajahnya pucat pasi. Bercak-bercak merah terlihat di sekujur tubuhnya.
            

Tidak Butuh Judul [7]


Tok... tok... tok... Rio mendesah kentara setelah mengetuk pintu yang ada di hadapannya. Ia menunggu dengan gusar pintu itu terbuka. Menyiapkan diri ketika seseorang yang entah mengapa sejak tadi pagi dipikirkannya menyembul dari sana.
           
“Eh, Kak Rio. Ada apa?” tanya Ify sesaat setelah membuka pintu. Agak terkejut mendapati Rio di sana.

Tidak Butuh Judul [6]


Apakah begini yang namanya surga? Sepertinya tidak jauh berbeda dengan kamarnya. Hanya mungkin di sini lebih rapi dan wangi. Selain itu tidak ada yang istimewa.
           
“Awww!” Rio mengaduh kesakitan. Refleks ia menyentuh pelipisnya. Omong-omong di surga masih bisa merasakan sakit ya? Tanyanya seperti orang dungu.
            

Tidak Butuh Judul [5]


Sakit yang berdenyut di daerah kepalanya membuat Rio menjauh dari kemudi. Dengan napas terburu, pemuda itu perlahan membuka matanya. Bersiap menerima kenyataan bahwa apa yang dilihatnya bukan lagi sebuah kehidupan. Wahai surga, sambutlah kedatangan pecundang kita!
            
Rio menghembuskan napas lega ketika matanya yang terasa panas menangkap pemandangan malam dari dalam mobil. Dirinya belum mati ternyata. Tadi, mobilnya berhasil menghindari truk itu. Dibantingnya ke kiri hingga berakhir dengan moncong mobilnya mencium trotoar. Pemuda itu mengurut dada.

Tidak Butuh Judul [4]


Siapa yang pertama kali menemukan ungkapan setiap pertemuan pasti ada perpisahan? Akan Rio habisi dia! Enak sekali bicara seperti itu. Coba rasakan dulu jadi dirinya. Rasakan dulu betapa setiap partikel udara yang kau hela bukan malah menghidupkan, namun justru melemahkan. Rasanya, Rio ingin berhenti bernapas saat itu juga. Namun ia tak bisa. Seakan udara-udara yang tak nampak wujudnya itu merangsek masuk tanpa bisa ia bendung. Memenuhi jutaan kantung paru-parunya. Oh, dia mau meledak saja.

Tidak Butuh Judul [3]


Ify menggeledahi tasnya. Mencari-cari sebuah benda miliknya yang teramat berharga. Tapi siang itu, tidak ditemukannya di sana.
            
“Kenapa, Fy?” tanya Alvin.

Tidak Butuh Judul [2]


Mangkuk berisi soto ayam itu terbang di udara. Berputar beberapa saat, lantas meluncur jatuh mencium lantai. Hancur berkeping-keping. Dan soto ayam itu pun sempurna menggenang di sana. Bercampur dengan semut, bakteri, dan mikroorganisme lainnya.

Selasa, 19 April 2016

Tidak Butuh Judul [1]


Ify memandangi ruang tamu apartemennya yang terasa begitu lengang. Belum sehari  Papa meninggalkannya, gadis itu sudah merasa begitu kesepian. Seumur hidup tinggal bersama Papa, selalu ikut ke mana pun orangtua tunggalnya itu ditempatkan kerja, membuatnya tidak terbiasa harus menjalani harinya seorang diri.

Kamis, 07 April 2016

Get Up Stand Up


Sebenarnya, film ini adalah film yang telah lama saya tunggu. Kenapa? Selain karena jalan ceritanya yang mengangkat kehidupan finalis Stand Up Comedy Indonesia, juga karena pemainnya komika semua. Hahahaha. Jadi, ga ada alasan untuk tidak menonton film ini di hari pertama, jam pertama penayangannya.

Rabu, 06 April 2016

Abang [ part 5 ]


Palembang, 2001

Lana diajari untuk berbagi. Tapi tidak untuk yang satu ini.

Lana tidak pernah keberatan kalau harus berbagi bekal makan siang dengan Fabian. Anak itu tidak marah kalau posisinya di tim sepakbola tergantikan. Dia tidak akan merajuk kalau sepedanya dipinjam sepupunya yang berkunjung saat lebaran.

Selasa, 05 April 2016

Belajar Terbang


“Aku ingin belajar terbang pada kupu-kupu, burung dan angin seperti Kesatria. Tapi tidak hancur oleh tipu daya bintang jatuh. Sebenarnya aku ini apa.”

Lima tahun lalu, setelah saya membaca serial pertama Supernova yaitu Kesatria, Putri, Bintang Jatuh, saya menulis kalimat di atas. Dengan tekad yang memang benar-benar bahwa saya ingin bisa terbang.

Selasa, 23 Februari 2016

Zootopia


Terimakasih yang sebesar-besarnya, yang sebanyak-banyaknya untuk Disney yang selalu menciptakan film-film keren. Beauty and The Beast, The Little Mermaid, Lion King, Frozen dan kali ini Zootopia! Yeayyyyy! Happy banget hari ini gue bisa nonton film ini.

Minggu, 24 Januari 2016

Pejuang Kuis


Gue sebenarnya orang yang pemalas :(. Gue malas beres-beres kamar, gue malas cuci baju cuci piring, bahkan untuk hal yang bagi orang lain menyenangkan (contohnya jalan-jalan) gue amat malas melakukannya.

Setidaknya ada dua hal yang ga malas untuk gue lakukan. Yaitu ketemu idola dan ikutan kompetisi (kuis, game, lomba atau apa pun namanya).

Selasa, 19 Januari 2016

Lima Luar Biasa


Hari ini gue seneeeeeng banget! Alhamdulillah! Setelah sekian lama menanti, digantung setiap hari, hari ini gue bisa bernapas lega. Semester 5 yang sangat amat panjang ini pun berakhir. Gue bisa melewati semuanya dengan selamat. Meskipun dalam perjalanannya seringkali ga mudah. Ga jarang gue harus merangkak, lari terseok-seok sampai bukan cuma keringat yang bercucuran, tapi juga air mata. Serius!

Selasa, 29 Desember 2015

Negeri Van Oranje


Lintang, Daus, Banjar, Wicak dan Geri adalah lima orang mahasiswa asal Indonesia yang tengah menjalani studi S2 di Belanda. Dipertemukan dalam satu waktu yang pada akhirnya membuat mereka bersahabat begitu erat.

Persahabatan mereka berjalan sebagaimana mestinya. Sampai akhirnya Lintang sadar, dia harus memilih satu dari empat sahabatnya itu untuk jadi kekasihnya. Siapakah yang Lintang pilih?

Ngenest


Kita ga pernah bisa memilih siapa keluarga kita, apa etnik kita. Begitu pula dengan Ernest Prakasa yang lahir dari keluarga Cina. Menjadi Cina adalah takdir yang mau ga mau harus dijalaninya. Ga mudah emang. Karena di masa orde baru dulu, jadi seorang Cina di negeri ini adalah sebuah malapetaka.

Rabu, 23 Desember 2015

#SampuraSUN9 [Review]


Selalu menyenangkan bisa menonton pertunjukan stand up comedy secara langsung. Euforianya beda banget sama cuma nonton di TV. Hal itulah yang membuat saya dan teman saya (di sela-sela ujian akhir semester) untuk menonton #SampuraSUN9

Kami berdua sampai di Saung Angklung Udjo (tempat acara) selepas maghrib. Dan kami langsung disuguhkan antrian penonton yang panjang banget, mengular. Kami jadi khawatir ga kebagian duduk paling depan. Anaknya ingin selalu jadi yang terdepan emang :((

Senin, 16 November 2015

Heart Beat


Dunia akting bukan hal yang baru bagi Blink. Tapi dalam Heart Beat kita bisa menemukan banyak hal baru.

Heart Beat adalah film yang disutradai oleh Hadrah Daeng Ratu yang mengangkat tema persahabatan dengan banyak konflik. Persahabatan itu sendiri, kisah cinta yang saling menyilang (?), perjuangan mengejar mimpi dan permasalahan keluarga yang cukup menyesakan hati.

Heart Beat dibuka dengan manis oleh Alexa (Sivia Azizah) yang bernyanyi di sebuah cafe diiringi oleh teman dekatnya, Lido (Brandon Salim). Mesem-mesem lihat mereka berdua. How cute!

Kamis, 12 November 2015

BADOET : Film Horor Kekinian


Banyak hal menyenangkan tiba-tiba berubah menjadi menyeramkan setelah menonton film Badoet.

Badoet adalah film yang bercerita tentang tiga orang sahabat yaitu Donald (Daniel Topan), Farel (Christoffer Nelwan), dan Kayla (Aurelia) menyelidiki misteri kematian tiga anak tetangga mereka yang diduga dilakukan oleh seorang badut, sampai akhirnya si badut balas meneror ketiganya.

Kamis, 29 Oktober 2015

Tujuh Belas


Satu adalah awal. Awal untuk cerita tak bermuara. Dongeng tanpa suara. Dan tujuh adalah cukup. Tidak kurang, juga bukan sempurna. Tapi bukankah setiap orang hanya ingin berkecukupan? Tidak perlu sempurna, asal cukup bahagia.

Jumat, 16 Oktober 2015

Pan


Ada yang masih ingat cerita Peter Pan? Itu loh, anak cowok yang tinggal di Neverland. OMG! Gue suka banget sama cerita Peter Pan. Peter Pan bikin gue pengen banget tinggal di Neverland dan berharap untuk tidak pernah dewasa. Dua belas tahun setelah gue nonton  film itu, dan sekarang gue tumbuh. Entah menjadi dewasa atau tidak, yang jelas gue masih belum bisa pergi ke Neverland.

Kamis, 15 Oktober 2015

Satu Sembilan


Satu dan sembilan adalah fuzzle. Saling mencocokkan untuk kemudian menjadi sempurna. Tapi saya sedang tidak mencari kesempurnaan. Karena segalanya yang terjadi teramat berarti.

Senin, 21 September 2015

Orang-orang Menyenangkan


Idola gue banyak, tapi malaikat juga tahu kalau Patton yang jadi juara pertama (??). Selalu bahagia melihat perkembangan Patton. Dari pertama lihat di Idola Cilik 2 sekitar tujuh tahun yang lalu. Selesai dari Idola Cilik, beruntungnya Patton ga menghilang kayak kebanyakan finalis ajang pencarian bakat. Seminggu sekali dia masih suka tampil di TV, bawain acara Koreografi sama Arie Untung kalau ga salah :( Beberapa kali diundang buat jadi pengisi acara. Senang rasanya!

Selasa, 18 Agustus 2015

Empat Terberat


Bagi gue, semester 4 adalah semester terberat. Selain karena udah mulai praktikum konservasi gigi yang setiap minggunya menegangkan. Masih bisa napas aja syukur dalam lab. Hup. Tapi juga karena sepanjang semester 4 gue sakit. Bukan flu atau pilek yang seminggu pun bisa kembali sehat. Sakit yang bikin gue hampir nyerah. He.

S-Elektra


Pernah ga sih ketika kalian baca buku atau nonton film, kalian merasa kalau si tokoh di buku atau film itu elo banget, entah itu sifat atau jalan hidup si tokoh? Gue merasakan hal ini ketika dua tahun lalu gue baca buku ketiga dari serial Supernova karya Dee Lestari, Petir.

Gue baru sadar gue memiliki banyak kesamaan sama Elektra, tokoh utama di novel itu. Mari gue jabarkan satu-persatu (?):

Selasa, 07 Juli 2015

Abang [ part 4 ]


Palembang, 2000

Kata siapa malaikat harus punya sayap? Abang tidak punya. Dia tidak bisa terbang. Ia hanya bisa memanjat pohon mangga untuk mengambilkan layang-layang Lana yang tersangkut. Abang tidak bisa ajak Lana terbang. Abang hanya bisa menuntun Lana naik ke atas genteng. Abang tidak bisa tunjukkan kerajaan awan di atas langit. Abang hanya mampu menemani Lana berdoa di bawah gemintang. Tapi bagi Lana, Abang adalah malaikat. Malaikat tak bersayap.

Sabtu, 20 Juni 2015

Abang [ part 3 ]


Palembang, 2000

Abang adalah dewa. Dan Lana adalah pemujanya.

Abang sudah diperbolehkan pulang ke rumah setelah enam hari dirawat di rumah sakit. Kondisi Abang sudah jauh lebih baik sekarang. Tapi masih perlu banyak istirahat. Belum bisa ikut Lana ke lapangan untuk bermain bola. Kakinya masih agak sakit kalau dipakai berjalan, kepalanya masih dibalut perban.

Selasa, 16 Juni 2015

Abang [ part 2 ]


Palembang, 2000

Wajah Abang tampan, seperti David Beckham. Siapa bilang Abang cuma tampan? Kalau Lana bilang Abang seperti David Beckham, itu artinya Abang juga jago bermain sepakbola.

Sore itu, Lana keluar mengendap-endap dari dalam rumah. Tidak mau ketahuan Ibu kalau dirinya hendak pergi ke lapangan untuk bermain sepakbola bersama teman-teman. Ibu tidak suka kalau Lana main sepakbola. Katanya, sepakbola hanya untuk anak laki-laki. Padahal, kalau dibandingkan dengan Fabian, jelas Lana lebih jago bermain sepakbola.

Jumat, 12 Juni 2015

Abang [ part 1 ]


Palembang, 2000

Lana sering sekali bertanya pada Ayah dan Ibu, mengapa Lana harus jadi anak yang pertama? Mengapa tidak jadi yang kedua saja? Kan Lana jadi bisa punya Kakak. Lana iri pada teman-temannya yang punya kakak. Lana ingin diantar jemput ke sekolah oleh Kakak. Lana mau pekerjaan rumahnya dibantu oleh kakak. Lana bosan sendirian di rumah. Tidak ada yang menemaninya bermain boneka. Ibu sibuk membuat kue-kue pesanan tetangga. Ayah baru pulang ketika malam datang. Itulah mengapa ia lebih sering berada di luar rumah. Bermain sepakbola di lapangan, mengejar layangan, atau hanya menonton kartun di rumah Fabian-sahabatnya sejak masih balita.

Sabtu, 02 Mei 2015

Terlalu Cepat Tiga Puluh Hari


Juni. Kamu manusia paling mengejutkan abad ini. Semua yang kamu lakukan selalu mengejutkan. Terlalu mengejutkan.

Dulu kamu pergi begitu saja. Melewatkan acara pamitan. Tanpa sepatah salam perpisahan. Membuatku kalang kabut bertanya, ke mana kamu sebenarnya? Mengapa kamu pergi? Mengapa tidak kau izinkan aku melambaikan tangan mengantat kepergianmu?

Jumat, 24 April 2015

---


Kau adalah hitam dalam putih yang selalu ingin kulukiskan.
Kau tinta pewarna untuk hidupku yang terlalu polos.
Aku, ingin jadi kanvasmu.

Kau adalah lelucon paling menyenangkan yang pernah kutemukan.
Kau bergurau dengan siapa saja. Wanita itu, lelaki itu, bahkan Tuhan kau ajak bercanda sedemikian rupa.
Andai, akulah yang pertama menemukanmu. Takkan kubiarkan seisi dunia tahu akanmu.

Kau adalah hidup yang kujalani.
Kau berlari, berhenti, berputar, menikmati.
Aku, menikmati kehidupanmu.

Esok, mungkin kamu bukan lagi kamu
Tapi aku, akan tetap mengagumi kamu sebagaimana adanya dirimu.

Kamis, 09 April 2015

Filosofi Kopi


Gue terbiasa untuk menghadiahi diri sendiri ketika berhasil melakukan sesuatu. Kemarin, gue abis ujian SOCA yang pemberitahuannya sangat amat mendadak, H-2. Dan di dua hari sebelum SOCA itu gue malah pergi ke Bandung untuk ketemu idola gue. Bayarannya, gue harus melakukan hal yang sangat amat gue benci: begadang.

Tapi akhirnya gue bisa lulus ujian SOCA. Sebagai hadiah atas waktu tidur gue yang terenggut oleh begadang, gue sama temen gue memutuskan untuk nonton Filosofi Kopi. Butuh perjuangan untuk nonton film ini, karena Salma –temen gue- termasuk orang yang ga terlalu suka nonton film Indonesia. Gue harus membujuk dia habis-habisan hingga pada akhirnya dia mau nemenin gue nonton.

Sabtu, 07 Maret 2015

Haters


Gue percaya, setiap orang di dunia ini, sebaik apa pun dia, pasti punya seseorang yang ga suka sama dia. Atau bahasa kerennya sih hater(s).

Definisi haters menurut gue adalah orang yang membenci diri kita, setiap apa yang kita lakukan, dan semua yang kita hasilkan. Entah itu karena dia emang benar-benar ga suka sebab sesuatu yang kita lakukan adalah hal buruk, atau memang dia ga suka aja. Bisa juga karena dia iri dan berharap dia bisa melakukan hal yang kita lakukan.

Jumat, 06 Maret 2015

Penonton Caper


Gue suka banget nonton. Nonton film di bioskop, atau dapat ngopi dari temen. Kadang juga beli dvd bajakan._. Gue juga suka nonton pertunjukan. Musik, teater atau stand up comedy.  Entah sudàh berapa banyak pundi-pundi rupiah yang harus gue tukarkan untuk sebuah kepuasan batin dari hobi gue nonton.