Film

Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Oktober 2017

Pengabdi Setan


Joko Anwar bukan termasuk dalam jajaran sutradara favorit gue meskipun gue cukup suka akan dua filmnya, Janji Joni dan A Copy of My Mind. Lalu kemarin gue menonton Pengabdi Setan, dan dengan senang hati gue sebut dia sebagai sutradara keren yang negeri ini punya, dan dia favorit gue.

Pengabdi Setan merupakan remake film berjudul sama yang tayang berpuluh tahun lalu. Ceritanya beda meskipun masih bercerita mengenai sosok Ibu.

Ibu yang sudah lama sakit keras tiba-tiba meninggal dengan cukup menyeramkan. Ia meninggalkan empat anak, Rini (Tara Basro), Toni (Endy), Bondi dan Ian, serta seorang suami yang gantengnya luar biasa hey halooowww._. Tapi sepertinya Ibu tidak benar-benar pergi, karena dia kembali lagi dan menghantui keempat anaknya. Sementara Bapak ganteng malah pergi keluar kota nyari duit supaya bisa pindah rumah :(

Kengerian sebenarnya sudah disuguhkan sejak awal saat Ibu yang terbaring di ranjangnya komat-kamit entah mantra apa. Semakin ngeri saat Ibu sudah jadi hantu. Atmosfernya benar-benar mencekam. Dan gue sebagai penonton merasa terancam saat mengikuti alur cerita film ini. Apalagi ketika satu persatu misteri terpecahkan.

Kengerian bukan hanya didapatkan dari Ibu, tapi juga dari temen-temennya yang sangat banyak bergerombol mengepung rumah menyeramkan itu. Udah kayak densus 88 ngepung rumah teroris 😌😌😌

Gue suka semua yang ada di film ini (kecuali hantu dan rambut palsunya Hendra yang gue takutkan terbang waktu dia naik motor._.). Gue suka akting Tara. Gue suka Endy Arfian dan keteknya._. Gue suka Bondi dan Ian yang lucu. Ian si idola yang menggemaskan akhirnya membuat gue mengumpat. Sial!

Menonton film ini membuat gue merasakan banyak hal. Takut udah pasti. Merasa tertekan dan diteror. Apalagi dengan lagu Ibu dan suara lonceng Ibu. HHHH. Tapi seru. Mengikuti perjalanan mereka untuk akhirnya bisa hidup tenang setelah kematian ibu. Memecahkan teka-teki dari setiap adegan yang disuguhkan
Meskipun sialnya ada teka-teki yang belum terungkap, yang katanya adalah clue untuk film selanjutnya. WEHHHHh kita lihat saja nanti.

9/10 untuk Pengabdi Setan.

Rabu, 06 September 2017

IT


Badut itu lucu, jenaka, menggemaskan, suka bikin ketawa. Tapi tidak dengan badut yang satu ini. Kebalikannya banget. Seram, menakutkan, sekaligus menyebalkan. Badut yang mengaku sebagai badut penari ini pun bahkan ga bisa menari dengan indah. Tariannya kasar dan menyeramkan. HHHHH.

It (dibaca it, bukan aiti seperti mbak-mbak bioskop yang dengan pedenya ngoreksi gue waktu mau pesen tiket film ini) adalah film yang berkisah mengenai teror badut di sebuah kota bernama Derry yang datang setiap 27 tahun sekali. Hebat banget ini hantu badut terjadwal gini nerornya. Dimulai dengan hilangnya seorang anak bernama Georgie yang sedang main perahu kertas yang entah kenapa hanyutnya kenceng banget. Perahu itu pun masuk ke dalam sebuah selokan yang ternyata tempat persembunyian si badut. Dan hilanglah Georgie di dalam selokan itu.

Kehilangan Georgie membuat kakaknya, Billy terpukul. Dia percaya bahwa Georgie masih hidup. Ditambah dengan hilangnya beberapa anak di kota tersebut, Billy dan teman-teman geng The Loser pun menyelidiki tentang misteri si badut.

Oke. Karena ini film horor, keberhasilannya pasti dinilai atas takut atau tidaknya penonton. Dan film ini berhasil banget karena gue takut banget bahkan dari sejak awal film. Teror yang mencekam. Takut dan menegangkan. Gue sempat berpikir bahwa gue salah nonton film yanv kelewat seram begini. Ketakutan bukan hanya dihasilkan dari penampilan hantu yang menyeramkan. Namun juga karena situasinya dan auranya (?). Apalah itu pokoknya seram. Saking seramnya, sampai apa pun yang muncul tiba-tiba membuat gue menjerit.

Film bukan melulu seram, namun juga hangat dan lucu. Persahabatan The Loser yang terdiri atas Billy si gagap, Stanley si anak soleh, Eddie si higienis, Richie si pikiran ngeres namun lucu (favorit pertama), ditambah Ben si bulat gemay namun diam-diam seorang pujangga (favorit kedua), Beverly si sexy, dan Mike yang merupakan Michael Jackson kecil dalam benak Snap seorang. Mereka berenam memiliki ikatan yang kuat. Bersatu padu membangun cerita yang padat dan kompak. Selain itu, film ini juga dibumbui kisah manis cinta segitiga antara Billy-Beverly-Ben. Wowww mereka sangat lucu menggemaskan unchh gitu lah pokoknya.

Ada pun film ini menurut gue film yang segar dalam artian saat nonton ga akan deh itu lengah. Karena saat lengah, hantu badut nyebelin itu mungkin tiba-tiba datang.

Oh iya, balon merah melayang-layang itu sungguh sangat menyeramkan.

9/10 untuk perjalanan The Loser memecahkan misteri hilangnya anak-anak di kota Derry.

Rabu, 02 Agustus 2017

Mars Met Venus Part Cowok


Cowok dan cewek. Dua mahluk yang saling bertolak belakang. Namun untuk itulah mereka ada. Untuk kemudian bersama dan saling memahami sifat masing-masing.

Kelvin dan Mila adalah sepasang kekasih yang sudah 5 tahun berpacaran dan berencana menikah. Sebelum menikah, mereka membuat vlog yang menceritakan hubungan mereka. Di situlah muncul masalah yang selama ini mereka simpan masing-masing.

Sudah beberapa kali menonton film karya Hadrah Daeng Ratu dan kayaknya gue jatuh cinta sama cara dia bercerira. Ringan dan asyik. Film ini meskipun terkesan ribut namun asyik buat dinikmati.

Di part cowok ini, difokuskan pada sudut pandang cowok. Tentang bagaimana mereka memandang perempuan dan sebuah hubungan.

Kehangatan persahabatan antara Kelvin dan keempat sahabatnya (Cameo Project) adalah kekuatan film ini. Mereka sukses membuat gue tertawa. Tektoknya kena. Jarang yang miss. Ga melulu lucu, namun juga mereka berhasil membuat gue tersentuh di satu scene yang meskipun ujungnya ketawa juga. Haduhhhh.

Permasalahan cinta yang menjadi fokus film ini pun patut untuk disimak. Bagaimana gue jatuh cinta sama aktingnya Ge Pamungkas dan Pamela Bowie, yang sejujurnya gue agak kurang suka kalau Ge dan Pam akting. Namun di film ini, keduanya mampu mematahkan anggapan gue selama ini. Mereka aktor yang keren. Ada satu scene di mana gue merinding dan harus memberi hormat pada Ge. Oh gue hampir menangis. Dan mereka pasangan yang sangat klik. Romantisnya, unyunya, dan berantemnya pas. Gue suka!

Kelemahan film ini adalah gue merasa masalah yang harusnya susah untuk diselesaikan bisa selesai dengan sangat mudah. "Yah, gini doang." Gue sampai bilang gitu dalam hati. Tapi itu ga ada apa-apanya dibandingkan perjalanan film ini sejak awal yang membuat gue tertawa terbahak-bahak, tersenyum manis, hingga termenung hampir menangis

Oke. Scene favorit gue adalah adegan angkot. Reza Nangin selalu berhasil mencuri perhatian gue sejak film Cinta Tapi Beda. Dan begitu pula di film ini.

"Gue hapal lekuk muka dia. Gue bisa gambar wajah dia sambil merem. Tapi gue ga bisa gambar dia lagi nangis, karena gue ga bisa membayangkan dia nangis."

8/10

Selasa, 18 Juli 2017

Filosofi Kopi 2: Ben & Jody


Sebagai seorang penggemar tulisan Dee Lestari, termasuk cerpennya yang berjudul Filosofi Kopi, senang rasanya Ben dan Jody hidup dalam bentuk dan wujud yang nyata. Sejak film Filosofi Kopi yang pertama, tidak ada keraguan dan kekecewaan sama sekali atas terpilihnya Chicco Jerikho dan Rio Dewanto sebagai Ben dan Jody. Sampai sekarang muncul film Filosofi Kopi 2. Di mana ceritanya lebih fokus pada karakter Ben dan Jody, bukan hanya sebatas kopi dan filosofinya. Lebih dari itu. Tentang persahabatan, cinta, keluarga dan mimpi.

Setelah memutuskan untuk berkeliling Indonesia membagikan kopi dan menjual kedai, di tengah perjalanan, pegawai-pegawaj Filkop; Nana, Aga dan Aldi memutuskan untuk keluar karena alasan masing-masing. Di situ Ben akhirnya sadar bahwa selama ini mereka tidak ke mana-mana. Lalu dengan randomnya, Ben  berpikir untuk kembali ke Jakarta dan kembali membuka kedai. Untungnya, si Jody ini baik dan nurut-nurut aja (meskipun super pelit), jadi ikutlah dia sama idenya Ben.

Untuk membuka kedai Filkop kembali, mereka bertemu Tarra, seorang investor dan Brie, barista ngehe yang susah banget dibilangin. Dan mereka pun membuka kembali kedai Filosofi Kopi di Melawai, lalu membuka cabang di Jogja.

Seperti filmnya yang pertama, konflik di Filkop 2 ini lumayan berliku. Jelimet pokoknya. Meskipun gue lebih pusing mikirin yang di film pertama sih. Film ini lebih ke belajar ikhlas dan memaafkan. Ya, jadi semua masalah di film ini bisa selesai oleh keikhlasan memaafkan, yang mana sebenarnya itu susah sih. Apalagi buat Ben yang keras kepala, egois dan seenak jidatnya sendiri.

Dari sisi sinematografi (?), selalu suka sama setiap scenenya. Ceria, hangat, kelam, lembut, menyentuh hati. Gitulah pokoknya. Ditambah sama lagu-lagu khas anak Indie gitu. Favoritku Zona nyaman!

Chicco dan Rio berakting dengan total. Bagaimana Chicco menumbuhkan Ben dengan apa yang memang gue bayangkan. Ben si egois, emosian, random, dan tatapannya buat para gondrong itu lohhhh. Hahahaha. Tapi gue sih masuk #TeamJody . Meskipun dia pelit, tapi paling enggak dia tuh ga egois gitu. Tidak seperti si Cibai Ben. Hahhaha. Banyak sekali Cibai di film ini 😥

Luna Maya berakting baik meskipun tidak terlalu bersinar. Tapi sungguh, dia sangat cantik dan terlalu mudah membuat orang jatuh cinta. Sosok yang cantik, kuat sekaligus mandiri.

Si Brie nih yang menurut gue mengganggu. Curiga ini Brie kalau di sekolah ngeyel muluk kalau dibilangin guru. Whahahha.

Pada akhirnya Filosofi Kopi adalah sajian yang hangat dan bergizi untuk ditonton. 8/10.

Kamis, 18 Mei 2017

Ziarah


Berbekal pengetahuan yang minim mengenai film Ziarah, yaitu hanya tahu premisnya saja, tanpa tahu siapa pemain dan sutradaranya, gue memutuskan untuk menonton film ini.

Ziarah mengisahkan tentang pencarian seorang nenek berusia 90an tahun bernama Mbah Sri terhadap makam suaminya. Kelak nanti saat ia meninggal, ia ingin dikuburkan di samping makam Pawiro Sahid, suaminya.

Film ini kental sekali dengan kearifan lokal, khususnya Jawa. 99,99 % dialog menggunakan bahasa Jawa. Hal itu tidak mengurangi esensi film. Namun justru membuat film ini semakin manis sekaligus pilu.

Film ini mengingatkan gue pada film Mencari Hilal. Sama-sama tentang pencarian. Tapi tentunya apa yang mereka cari jelas berbeda.

Kesederhanaan akan mudah sekali ditemukan dan dirasakan dalam film ini. Kesederhanaan dalam hidup dan mencintai.

Film ini bertutur dengan sangat syahdu. Tidak terburu-buru, namun tidak juga terlalu lambat.

Di film ini, wajah familiar yang bisa gue temukan hanya Hanung Bramantyo. Itu pun dia hanya muncul sedetik. Tapi gue tidak perlu tahu siapa mereka, karena dengan melihat mereka di layar, terutama Mbah Sri, sudah membuat gue jatuh cinta. Gila ya! Yang jadi Mbah Sri ini aslinya juga udah sepuh banget, tapi dia aktingnya keren. Bingung, rindu, lelah, tapi tidak lantas putus asa. Cuma gue kasihan dan ga tega aja lihat nenek-nenek jalan di tengah terik siang. Rasanya pingin ngasih es jeruk untuk kesegaran :((

Well, pada akhirnya gue kembali belajar dari Mbah Sri bahwa cinta itu adalah tentang keikhlasan.

Oh iya, endingnya mengejutkan. Aku hampir menangis. Hehe.

9/10 untuk Ziarah.

Karena Ziarah cuma dapat layar dikit, di xxi Bandung pun cuma di empire BIP, jadi nontonlah segera guys. Sayang, filmnya bagus bangey soalnya.

Kamis, 11 Mei 2017

Critical Eleven


Terlalu banyak alasan untuk menonton film ini. Novelnya yang membuat gue jungkir balik jatuh cinta, kesal, marah, sedih dan jatuh cinta lagi. Deretan pemain keren: Reza Rahadian, Adinia Wirasti, Revalina S Temat, Hannah Al-Rasyid, Astrid Tiar, Hamish Daud, Refal Hady, Anggika, Widyawati, Slamet Rahardjo sampe Aci Resti. Sutradaranya, Monti Tiwa. Dan maka menontonlah gue.

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah Critical Eleven, yaitu sebelas menit paling kritis. Tiga menit awal penerbangan, delapan menit menuju pendaratan. Critical Eleven dalam konteks perkenalan adalah 3 menit awal saat kesan pertama terbentuk, dan 8 menit sebelum berpisah. Begitulah Ale dan Anya. Bertemu secara tak sengaja di penerbangan Jakarta-Sydney, melewati Critical Eleven dan kemudian mereka jatuh cinta lalu menjadi sepasang suami istri.

Critical Eleven mengisahkan perjalanan sepasang suami istri Ale (Reza) dan Anya (Adinia Wirasti) yang hangat dan penuh cinta. Suatu peristiwa akhirnya membuat hubungan mereka dingin dan saling mempertanyakan cinta itu sendiri.

Untuk film cinta-cintaan dengan durasi lebih dari dua jam, Critical Eleven jauh dari kata membosankan. Setiap momen, selalu menarik untuk disaksikan. Terlalu manis untuk dilewatkan.

Anya dan Ale begitu hidup dalam raga Asti dan Reza. Untuk akting, kayaknya gegabah aja gitu kalau sampai meragukan mereka. Gue nih ya, bisa rasain kesakitan Ale dan Anya sekaligus sampai-sampai gue ga bisa membela salah satu. Mereka punya kesakitannya tersendiri.

Selain hangat oleh cinta Ale dan Anya, keluarga Risjad pun tak kalah hangat. Favoritku Nino yang ga gede-gede. Wkwkwkkwkwkkw.

Kehangatan juga tercipta antara persahabatan Anya, Tara, Agnes dan Donny. Hamish sebagai Donny sangat lucu menggemaskan menyegarkan.

Tapi dari semua cast yang bermain sangat apik, favorit gue adalah Aci Resti sebagai Tini yang kerjaannya nyuguhin minuman doang :(( Semua cast dibebani kesedihan yang mendalam, tapi yg paling kuat dari semuanya adalah Tini. Dia angkat koper gede banget naik tangga tanpa kesulitan sedikit pun. Jadi, gue menyatakan diri sebagai #TeamTini

Jangan tanya apakah film ini bikin baper atau enggak. Gue sebenarnya malas sih menggunakan kata baper. Jadi gue akan menggantinya dengan kata terhanyut dan berempati. Anya nangis sesenggukan waktu ngobrol sama Tara Agnes, gue nangis. Anya di kolam renang, gue kedinginan ya ampun AC bioskop keterlaluan :(( Ale nangis, gue nangis. Ale lompat-lompat pake kolor, gue salah fokus ke bulu-bulu kalinya :((( Dwi Sasono muncul dengan serius, gue dan semua penonton malah ketawa. Salahnya di manaaa? :(((

Hahahhahaha. Ya intinya film ini keren lah gue suka. Sukaaa banget. Musik-musiknya bagus. Lagu Isyana masih terngiang-ngiang hingga sekarang.

8,5/10

Selasa, 11 April 2017

Get Out



Pertemuan dengan calon mertua selalu jadi momen menakutkan terutama untuk calon menantu yang merasa memiliki perbedaan dengan keluarga calon pasangan.
Dikisahkan Chris, seorang laki-laki berkulit hitam akan berkunjung ke rumah orangtua  Rose, pacarnya yang berkulit putih. Kekhawatiran muncul dalam hati Chris karena ia takut keluarga Rose tidak bisa menerima dirinya yang berbeda. Tapi Rose berusaha meyakinkan Chris bahwa keluarganya tidak rasis.
Kejanggalan terjadi saat Chris datang ke rumah Rose. Keanehan yang muncul dari dua orang kulit hitam yang bekerja di sana. Asisten rumah tangga bernama Georgina itu menyeramkan. Padahal senyum terus. Tapi senyum yang kayak penuh arti gitu :(( tukang kebunnya juga serem. Apalagi dia bisa lari kenceng tapi ga tahu arah :((((
Keanehan semakin menjadi-jadi saat diadakan sebuah pesta kebun. Serius deh, selain Chris, semua orang dalam film Get Out patut dicurigai.
Setengah jalan film, gue belum mengerti tentang film ini. Yang jelas gue takut aja. Takut tapi ga ngerti. Bingung pokoknya. Get Out sukses memberikan teror dari setiap tatapan dan sikap orang-orang di sekeliling Chris.
Satu karakter bernama Rod yang awalnya gue anggap dia sangat tidak penting dan hanya sebagai badut yang tidak lucu serta lawakannya yang receh, namum ternyata dia adalah pahlawan di sini. Dengan segala imajimasinya yang berkembang liar, ia pun berhasil memecahkan misteri yang ada di film ini.
Well, film ini keren. Tapi aneh, kayak kurang populer gitu. Mungkin karena emang temanya kurang populer. Atau karena mengangkat hal yang agak sensitif seperti ras. Tapi, gue sih terhibur sekali dengan film ini. Berteriak ketakutan sekaligus kesal.
8,5/10 untuk Get Out

Kamis, 16 Maret 2017

Trinity, The Nekad Traveler


Gue sebal sama film yang mengambil latar di suatu tempat (terlebih di luar negeri), tapi cuma mengeksplor keindahan tempat itu aja. Cerita jadi nomor sekian. Tapi untuk film ini, keindahan setiap tempat yang dikunjungi justru memegang peranan penting. Ya iyalah. Ini kan film traveling. Emang harus begitu. Supaya yang nonton tergiur pingin traveling juga.

Trinity (Maudy Ayunda) adalah seorang karyawati kantor biasa yang punya hobi jalan-jalan. Dia seringkali ambil cuti dari kantor dan membuat bosnya (Ayu Dewi) pusing. Trinity punya bucket list yang harus terpenuhi sebelum ia menikah. Jadi traveling adalah cara dia untuk mewujudkan bucket listnya.

Di bagian pembuka, penonton sudah disuguhi keindahan Maldives. Mana Maudy tiduran di semangka gitu ya ampun. So cool! Lalu berjalan ke kehidupan Trinity di Jakarta.

Untuk yang hobi traveling, film ini cocok banget. Ada banyak tips untuk traveling, kayak cari tiket murah, terus waktu yang tepat buat traveling, gitu gitulah. Gue sebagai orang yang lebih suka menghabiskan hari libur hanya dengan tidur, baca, dan mewarnai jadi tahu perjuangan seorang traveler. Ga selalu indah kayak di foto yang mereka unggah.

Bukan melulu tentang traveling, tapi juga film ini dibumbui dengan kisah persahabatan, percintaan dan keluarga.

Trinity punya dua sahabat, Yasmin dan Nina yang dia ajak untuk jalan-jalan ke Philipina. Tapi di sana, mereka berantem karena sifat Trinity yang dinilai egois oleh Yasmin.

Waktu jalan-jalan ke Lampung, Trinity bertemu dengan Paul (Hamish Daud), dannnnnn ya tonton aja lah. Hamish muncul dua detik aja bikin aku megap-megap loh saking gantengnya._.

Dan masalah keluarga di film ini adalah ketika Bapaknya Trinity mulai mendesaknya untuk nikah, sementara dia tuh pingin menuhin bucket listnya dulu.

Akting Maudy Ayunda tidak pernah mengecewakan. Kenapa dia sangat cantik pakai baju apa pun juga? Dan ah, kangenku sama Rachel Amanda terobati. Terimakasih Babe untuk kepolosan yang menyaru jadi kebodohan yang sukses membuat gue tertawa terbahak-bahak. Kemudian Tompi yang ga asal lewat doang. Dan sejuta terimakasih untuk Hamish Daud karena.........ganteng. Eh ga deng. Manis juga. Wadaw. No no no. Aktingnya juga cukup baik.

Di penghujung film kita juga bakal dikasih pemahaman. Buat apa sih sebenarnya traveling jauh-jauh? Gitu!

8/10

Kamis, 09 Maret 2017

Galih & Ratna


Remaja milenial akhirnya bisa menyaksikan kisah cinta legendaris antara Galih dan Ratna yang dulu diperankan oleh Rano Karno dan Yessy Gusman. Sekarang Galih dan Ratna muncul dalam wujud Refal Hady dan Sheryl Sheinafia.

Film dibuka dengan epic oleh Galih dan Ratna versi dulu di stasiun kereta. Meskipun mereka sudah bapak bapak dan ibu ibu, tapi gue bisa melihat di antara mereka penuh sama cinta. Padahal ngomongnya cuma sepatah dua patah kata (?)

Lalu, kisah Galih dan Ratna versi milenial pun dimulai. Dikisahkan Ratna adalah anak pindahan dari Jakarta ke Bogor. Di sekolah barunya, ia bertemu dengan Galih, cowok pinter yang ga bisa lari kenceng :(  Galih ini tua banget seleranya (?). Dia masih dengerin musik dari kaset. Ratna tertarik sama Galih karena dia beda gitu dari yang lain.

Kisah antara Galih dan Ratna ini standar kayak cerita anak SMA pada umumnya. Kisah cinta, masalah di sekolah, pertentangan idealisme dan keinginan orang tua, mimpi. Ya gitu. Tapi gue merasa film ini manis banget. Kalau kata Anto, manis manis jambu gitu ._. Apalagi didukung dengan musik dan lagu-lagu yang juga manis, termasuk musik koplo di angkot Indra Birowo. Wkwkwkwkkw

Kemistri antara Galih dan Ratna juga lumayan lah ya. Bikin gue senyam-senyum. Si Galih nih brewok brewok unyu. Kok di sekolah, gue ga pernah menemukan mahluk semacam itu -,,-

Film ini juga lumayan banyak dialog yang quotable gitu dehh. Hehe.

Yang mengganggu gue menonton film ini adalah karakter teman-temannya Galih dan Ratna yang kelewat aneh dan ga masuk akal -,,- Berlebihan menurut gue. Dipaksain buat lucu. Saat yang lain ketawa, gue mah diam. Heyyyy, ga lucu itu mereka :((. Yang lucu menurut gue justru Abang Angkot yang diperanin sama Indra Birowo.

Beberapa penonton ada yang nangis, gue sih enggak. Ga sedih sedih juga. Yang jelas sih, film ini bikin gue senyum, karena manis.

7,5/10

Senin, 27 Februari 2017

Moammar Emka's Jakarta Undercover


Pras (Oka Antara) adalah seorang wartawan, tapi ia merasa dirinya tidak memiliki signifikansi untuk orang banyak. Ia ingin menulis artikel yang bisa berpengaruh terhadap banyak orang. Secara tak sengaja, Pras bertemu dengan Awink (Ganindra Bimo) lelaki feminin yang mengajak Pras ke sebuah club malam. Secara tak sengaja pula, Pras bertemu dengan Yoga (Baim Wong) yang sedang sekarat. Pras membawa Yoga ke rumah sakit. Sejak saat itu, mereka akhirnya berteman. Pras akhirnya tahu kehidupan Jakarta yang lain. Gemerlap namun juga kelam. Meriah namun juga menyedihkan. Ia pun menulis sebuah artikel berjudul Jakarta Undercover, kehidupan Jakarta dengan tingkat seksualitas yang tinggi

Di waktu yang lain, Pras berkenalan dengan seorang wanita sexsy bernama Laura. Pras tidak tahu pekerjaan Laura yang sebenarnya apa. Yang jelas, ia jatuh cinta pada Laura.

Jakarta Undercover membuka mata gue sebagai orang di luar Jakarta bahwa memang ada sisi itu. Pesta sepanjang malam, tapi tidak semuanya berbahagia. Jakarta Undercover adalah potret gemerlap sekaligus kelam dari Jakarta.

Film yang disutradarai oleh Fajar Nugros ini membuat gue ngeri. Gue sebagai cewek cupu yang kalau keluar malam-malam pakai baju terbuka langsung masuk angin merasa takut. Kehidupan malam ternyata seliar dan sekeras itu. Di balik pernak-pernik mewah itu ternyata tersimpan kepahitan. Alasan mengapa mereka mau hidup di dunia Jakarta pada malam hari.

Gue ga jauh beda lah sama Pras. Katro gitu. Gue kalau diajak ke club juga pasti celingukan ga ngerti. Lagunya ga ada liriknya. Intro semua. Wkwkwkwkkw.

Yeah! Oka Antara sebagai pemeran utama memegang peranan penting. Gimana gue bisa senyam-senyum waktu dia ngobrol sama Laura, gue ikutan geli waktu dia digodain Awink, gue takut dan frustasi waktu Yoga marah, dan gue ikutan mewek waktu dia bilang kangen sama Laura. Ending yang anjay (?) banget pokoknya. Oka ga butuh barisan kata puitis untuk meyakinkan gue kalau dia beneran kangen. Cuma satu kata; kangen. Yang dia ucapin sambil nangis. Kangeeeennnnn. Ya ampun masih kepikiran gue sampe sekarang :(

Selain Oka, Ganindra Bimo dan Baim Wong juga berakting sangat cemerlang. Bimo yang bertato dan berotot sangat bertolak belakang dengan sifat femininnya. Ampe geli ya ampun idola gue ituuu. Wkwk. Tapi gue suka. Kalau gue sampe geli, berarti akting dia berhasil. Kemudian Baim Wong yang gue kenal dari sinetron menunjukkan bahwa akting dia berada di level yang lebih tinggi. Semoga Baim lebih sering main film lagi.

Begitu pula dengan pemain lain. Porsi yang sedikit ga bikin mereka jadi terlupakan. Apalagi itu orang gila depan supermarket. Heran. Dapat baju dari mana sih dia? Ganti ganti terus. Wk jenius sih.

Yang mengganggu gue di film ini cuma satu, Richard Kyle. Dia ngomong apa kaga ngerti gue. Bahasa indonesia, ga jelas. Inggris apalagi:(( untung ganteng. Wkwkw

Pada akhirnya gue sangat puas menonton film ini. Senang, jijik, miris, kesel, takut, lucu, sampai akhirnya nangis. Kangeeennnnn. Hahahah

9,5/10

Jumat, 24 Februari 2017

Split


Apa rasanya jika kalian bertemu dengan orang yang memiliki 23 kepribadian? Serem ga sih? Jangankan 23 kepribadian, muka dua aja serem (??). Terus ini pakai diculik segala? Aduh! Gue sih udah pasrah aja, tobat.

Kevin adalah seseorang dengan 23 kepribadian itu. Dennis, salah satu kepribadiannya yang rapi, sok bersih, tapi juga jahat (?), menculik 3 anak perempuan. Tujuan penculikan Denis adalah untuk menyambut kedatangan kepribadian kedua puluh empat yang disebut-sebut sebagai monster.

Dennis, Patricia (kepribadian ibu-ibu kejam), dan Hedwig (kepribadian anak umur 9 tahun yang ngefans sama Kanye West yang percaya kalau ciuman bisa bikin cewek hamil. Di luar juga ada joke macam gitu. Wk) percaya kalau kepribadian ke-24 itu ada, tapi dokter bilang itu cuma khayalan. Nonton aja lah ya supaya tahu ada atau enggaknya.

Split adalah sajian penuh ketegangan. Siapa ga tegang coba berhadapan dengan orang berkepribadian banyak. Kita ga tahu dia lagi jadi siapa dan mau ngapain. Split membuat penonton fokus pada setiap perubahan kepribadian Kevin.

Split tidak berjalan cepat sampai membuat dada sesak, tapi juga tidak lambat sampai bikin ngantuk. Split membuat gue ga mau lihat apa-apa lagi selain layar, ga mau mikirin apa-apa lagi selain si monster yang keberadaannya masih diragukan.

Split adalah pertanyaan. Nih gue sampai sekarang masih belum tahu jawabannya. Gue selalu suka sama film yang bikin gue gregetan.

Penghormatan tertinggi untuk si botak yang jadi Kevin. Gila! Dia akting dengan macam-macam karakter dalam satu film, bahkan ada satu scene di mana dia ganti-ganti kepribadian. Keren ga sih? Gue mah merinding lihatnya, apalagi pas dia mau bengkokin jeruji besi (??) .

Tak lupa pula pemeran Casey yang cantik tapi kuat. Akan ada flashback dari kehidupan Casey kecil, yang akan membuat kalian mengangguk mengerti padahal sebelumnya bertanya ini ngapain sih si Casey lagi kemping ditampilin juga (??)

Split adalah film thriller psikologi yang menyenangkan sekaligus menegangkan. Betewe, gue suka waktu Hedwig joget joget denger lagu Kanye West. Swag gitu lah yogs (?)

9/10 for Split.

Jumat, 10 Februari 2017

John Wick Chapter 2


Kemarin gue baru saja melakukan kenakalan berupa menonton film yang tidak sesuai dengan umur gue. Gue kemarin nonton film John Wick Chapter 2 yang merupakan film buat usia 21 tahun ke atas. Nakal, kan? (??). Balasannya gue pusing ampe sekarang._.

John Wick adalah seorang pembunuh bayaran. Nama aslinya Jonathan, biasa dipanggil Ijong *wadaw*. Dia hendak pensiun jadi orang jahat, terus hidup di rumahnya sama anjingnya yang ga punya nama (?). Di rumahnya, dia terus mengenang istrinya yang udah meninggal. Pembunuh juga jadi cemen kalau ditinggal sama orang yang dicinta. Makanya jangan ngebunuh orang! Karena orang yang dibunuh itu mungkin ada yang cinta dan pasti sedih juga. *maaf malah ceramah*

John diminta untuk ga pensiun dulu sama Santino D'antonio si lelaki ular. Dia ngebakar rumah John dan maksa John buat ngebunuh adiknya dia karena dia iri sama adiknya yang pejabat, sedangkan dia cuma orang kaya biasa (?). Jahat banget kan pakai bakar rumah segala. Rumah loh itu, bukan jagung (??)

Karena sebuah kesepakatan, akhirnya si John pun balik lagi jadi pembunuh. Nah di situlah dia terus terusan diulari. Yeaa, buat apa kuat tapi bodoh. Wkwkwkwkkw

Film dibuka dengan adegan kejar-kejaran motor dan mobil. Kayak sinetron Anak Jalanan yang udah tamat karena si Boynya mati (?) -,,-

Di awal, gue mengantuk nonton film ini karena ga ngerti. Maaf gue memang sebodoh itu :( Tapi emang gitu, nonton film action gue bawaannya pengen tidur. setelah 10 menit udah lumayan bisa mengikuti. John Wick berjalan sangat padat, cepat dan lugas, selugas suara jedar-jedor pistolnya si John.

John Wick cuma memberikan kesempatan santai di awal. Dari tengah hingga akhir khawatir terus :((( nonton film kok sebegini tegang. Dua jam dalam bioskop rasanya lemes banget.

Bagi gue, film yang bagus tuh gitu. Bisa bikin gue kayak ikut ada di sana. Dan kemaren gue ditarik si John masuk. Takut ketembak atau ketusuk pensil :((

John Wick adalah sajian padat yang sukses bikin gue pegel-pegel, capek, dan khawatir pas keluar dari bioskop. Haduhhhh :((

Pada akhirnya, gue sangat puas dengan film ini. 8,5/10

Kamis, 12 Januari 2017

Cek Toko Sebelah




Cek Toko Sebelah resmi jadi film pertama yang gue tonton di bioskop di tahun 2017. Setelah berkali-kali gagal nonton karena super sibuk (atau sok sibuk), akhirnya gue bisa nonton film karya Ernest Prakasa yang kedua ini.

Gue tidak pernah cocok dengan stand upnya Ernest, tapi atas pengalaman nonton Ngenest yang sangat menyenangkan, gue ga ragu untuk menonton film keduanya yang berjudul Cek Toko Sebelah ini.

Cek Toko Sebelah mengambil tema film yang gue suka, keluarga. Dikisahkan seorang pemilik toko bernama Koh Afuk hendak mewariskan tokonya pada anak bungsunya Erwin, namun Erwin enggan untuk menuruti permintaan Papanya karena ia punya karier yang cemerlang dan hendak pergi ke Singapura. Di lain sisi, Yohan, sang kakak merasa tidak terima karena yang harusnya melanjutkan toko itu adalah dirinya, bukan Erwin.

Kamis, 22 Desember 2016

The Professional




Demi apa pun harusnya kalian tahu alasan gue menonton The Professional adalah Arifin Putra. Ya, dia alasan terbesar. Alasan lainnya karena film The Professional merupakan genre yang baru di perfilman Indonesia, jadi sayang banget untuk dilewatkan.

The Professional bercerita tentang rencana pembobolan brankas oleh sekelompok orang yang dipelopori oleh Abi (Fachri Albar). Abi mengumpulkan orang-orang yang senasib dengannya, pernah dikecewakan oleh Raja ular._. Reza (Arifin Putra) untuk balas dendam.

Rabu, 30 November 2016

Allied



Tiba-tiba tergerak untuk menonton film ini, entah karena apa. Mungkin karena katanya film ini yang jadi penyebab perceraian Brad Pitt dan Angelina Jolie. Tapi, emang cantikan Marion Cotillard (cewek di film ini) sih.___. 

Allied mengambil latar perang dunia kedua. Max Vatan (Brad Pitt) adalah seorang agen Canada. Dia kemudian menjalankan misi untuk membunuh petinggi Jerman. Max kerja sama dengan seorang pejuang dari Prancis bernama Marianne Beausejour (Marion Cotillard). Awalnya mereka pura-pura jadi pasangan suami istri, tapi lama kelamaan mereka cinlok dan akhirnya menikah. Mereka kemudian pindah ke London dan hidup bahagia di sana bersama anaknya Anna, yang Marianne lahirkan ketika ada penyerangan :(( Selesai. *eh ga deng. Ya pokoknya setelah mereka menikah, mereka dapat cobaan. Mariane dicurigai sebagai mata-mata. WOW.

Senin, 28 November 2016

Moana



Disney kembali menciptakan kisah Princess. Bedanya, Moana hadir dalam wujud Princess yang tangguh, pemberani dan independen.

Dikisahkan terdapat dewi laut (?) bernama Te Fiti. Dia yang memberikan kehidupan untuk laut dan banyak pulau. Suatu hari, seorang manusia setengah dewa yang bisa berubah wujud bernama Maui mencuri jantung Te Fiti yang membuat ia marah dan akhirnya memberikan kutukan pada laut dan pulau-pulau. Sementara itu, di satu pulau hiduplah Moana yang akhirnya tahu bahwa dulu masyarakat pulaunya adalah penjelajah lautan. Atas petunjutk neneknya, ia mulai melakukan petualangan melintasi lautan untuk mengembalikan jantung Te Fiti.

Kamis, 17 November 2016

Fantastic Beasts and Where to Find Them


Bukan pengikut Harry Potter, dan bahkan tidak pernah ada filmnya yang gue tonton sampai selesai, karena selalu berakhir dengan ketiduran. Tapi bukan berarti gue tidak tertarik dengan Fantastic Beasts and Where to Find Them tidak menarik perhatian gue untuk menontonnya.

Dikisahkan seorang penyihir muda bernama Newt Scramander baru saja tiba di New York dengan membawa koper berisi banyak hewan ajaib peliharaannya. Beberapa dari hewan itu tiba-tiba kabur dan membuat kekacauan di tengah kondisi New York yang sedang dalam keadaan buruk karena kecurigaan para warganya terhadap adanya penyihir.

Jumat, 04 November 2016

Ouija: Origin Of Evil



Sebelumnya gue mau meminta maaf sekali karena penilaian gue terhadap film ini sangat dipengaruhi suasana saat menonton. Dan kemarin ketika gue menonton film ini, suasananya sangat tidak kondusif karena banyak gerombolan anak SMA yang entah apa tujuan mereka masuk bioskop, karena kalau untuk menonton dan menikmati film, kayaknya enggak :)


Kamis, 03 November 2016

Trolls


Dikisahkan hiduplah mahluk bernama Trolls. Mereka adalah mahluk warna-warni yang selalu berbahagia. Hidup mereka diisi dengan bernyanyi, menari dan berpelukan. Di sisi lain, terdapat raksasa bernama Bergen yang tidak pernah bahagia. Oleh karena itu, mereka memakan Trolls untuk mendapatkan kebahagiaan di pesta Trolls yang diadakan setiap tahun. Suatu hari, para Trolls melarikan diri dan melanjutkan hidupnya jauh dari tempat Bergen.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Pinky Promise



Kanker payudara  adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti oleh perempuan, bahkan bukan hanya perempuan, semua orang juga takut. Beberapa orang yang menderita kanker payudara merasa dirinya adalah perempuan gagal. Tapi Tante Anin (Ira Maya Sopha) dalam film Pinky Promise meyakinkan kita semua bahwa tidak pernah ada perempuan gagal.