Puisi

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Mei 2016

Jumat, 24 April 2015

---


Kau adalah hitam dalam putih yang selalu ingin kulukiskan.
Kau tinta pewarna untuk hidupku yang terlalu polos.
Aku, ingin jadi kanvasmu.

Kau adalah lelucon paling menyenangkan yang pernah kutemukan.
Kau bergurau dengan siapa saja. Wanita itu, lelaki itu, bahkan Tuhan kau ajak bercanda sedemikian rupa.
Andai, akulah yang pertama menemukanmu. Takkan kubiarkan seisi dunia tahu akanmu.

Kau adalah hidup yang kujalani.
Kau berlari, berhenti, berputar, menikmati.
Aku, menikmati kehidupanmu.

Esok, mungkin kamu bukan lagi kamu
Tapi aku, akan tetap mengagumi kamu sebagaimana adanya dirimu.

Jumat, 05 Oktober 2012

Sihir Hujan


Sihir Hujan
Oleh : Sapardi Djoko Damono
Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan.

Aku Ingin


Aku Ingin
oleh : Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Jumat, 15 Juni 2012

Terimakasih Juni


Terimakasih Juni...
Untuk kesediaanmu menjadi bagian penting di hidupku. Nanti, akan ku ceritakan tentangmu pada seluruh rakyat bumi.

Terimakasih Juni...
Untuk ketulusan hatimu meminjamkan waktu berhargamu padaku. Untuk memenuhi inginku.

Terimakasih Juni...
Untuk tidak menjadikanku gadis yang lemah. Kau selalu berkata, bahwa aku gadis paling kuat sejagad raya.

Terimakasih Juni...
Untuk keikhlasanmu mengais satu persatu rasaku padamu. Hingga kau kemas menjadi satu.

Terimakasih Juni...
Untuk pilihanmu yang telah membiarkanku mencicipi lembutnya telapak tanganmu. Tangan yang juga selalu bertadah menampung setiap tetes air mataku.

Terimakasih Juni...
Untuk hari-hari menyenan

Jumat, 25 Mei 2012

Hitam Yang Memerah


Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku selalu cerewet ketika kau lupa membawa obat.
Atau mengapa aku selalu merajuk saat kau melupakan jam makan siangmu.

Kau pasti bingung setiap kali aku mengingatkanmu untuk mengerjakan PR fisika.
Mendengus kesal setiap kau mengumpat pengawas ujian yang galak.

Sama seperti aku yang selalu bertanya, mengapa kau selalu berusaha menjadi merah muda di hadapanku.
Kembali menghitam saat berada di duniamu.

Aku juga bingung, mengapa kau bersusah payah mengubah rumput menjadi sebiru laut.

Sudahlah!

Jumat, 18 Mei 2012

Tanya


Sampai sekarang, aku tak pernah mengerti mengapa aku diciptakan menjadi gadis yang aneh. Dengan bintik-bintik jerawat pada pipi, membuatku terlihat seperti monster.

Tahukah kalian, aku sering bertanya pada bulan, mengapa ia bersinar di tengah kegelapan? Padahal, apa yang ia punya? Ia tak punya apa-apa.

Lalu, ketika pagi menjelang, aku bertanya pada rumput ilalang, mengapa ia tetap bersenang-senang walau ia selalu terabaikan?

Kala senja menjemput, aku kembali bertanya, kini pada katak-katak di tengah rawa. Mengapa ia tetap bernyanyi walau suaranya selalu hilang tersaput angin?

Dan ketika malam menyambut, aku masih di sini. Aku tak lagi bertanya. Untuk apa? Sekarang, aku yang akan membuat mereka bertanya, mengapa aku tumbuh menjadi gadis yang sederhana.

Pemuda Hitam


Pemuda Hitam


Aku benci hitam
Hitam yang kelam, gelap, dan keras.
Aku lebih suka jingga
Jingga yang selalu jadi pelengkap senja.
Aku lebih suka merah
Merah yang ceria, merah yang menyenangkan.
Aku lebih suka hijau
Dia teduh.
Lalu memangnya, aku bisa apa?
Saat kau datang dan memberiku satu-satunya warna yang kau punya,
Hitam…
Tak bisakah kau menghadiahkanku warna yang lain?
Abu-abu mungkin.
Seperti mendung sebelum hujan.
Atau biru?
Seperti langit selepas hujan.
Aku hanya ingin kau berhenti menghitamkan dirimu sendiri.
Wahai pemuda hitam!

Sabtu, 07 April 2012

Cintakah?


Cintakah yang membuatku menyeringai tertawa? Seperti orang gila?
Mengacuhkan segalanya.

Cintakah yang memacu letupan tak terbantahkan itu?
Daya ledak yang mengejutkan.
Daya kejut yang meledakan.
Sama-sama memualkan.

Cintakah yang mencekat rongga pernafasan?
Seluruh sudut kuota sesak oleh magisnya.
Mengkontaminasi tiap partikel udara yang terhela.

Lantas, cintakah yang membuatku takjub terpana?
Kalau hanya melihatnya mengedipkan mata saja, bisa-bisanya membuatku terpesona.

***

Bandung Barat. Jumat, 23 maret 2012

Sinta Nurwahidah
*

Kamis, 15 Maret 2012

Renungan Pohon


Akankah pohon itu tumbuh tanpa hadirnya hujan?
Berdiri kokoh hingga menembus batas ketinggian langit.
Berteman sapuan angin yang mengoyak ketangguhan.
Rerumputan merambat merendahkan dirinya.
Menjalar melilit akar yang mencengkram bumi.
Burung pelatuk mengetukkan paruhnya dengan riang.
Pohon itu tetap angkuh mendongak.

Kini, maukah kau seperti pohon itu?

Coba renungkan!

***


Bandung Barat, 11 maret 2012


Sinta Nurwahidah

Biarkanlah


Biarkanlah burung itu melenguh
Menyuarakan kicauan yang mengepak langit.

Biarkanlah air itu mengalir

Meneteskan angkuh yang membeku di ujung-ujung kebersahajaan.

Biarkanlah hanya sabit yang ditunjukan rembulan malam ini

Karena purnama tengah memupus satu persatu kenelangsaan.

Dan biarkanlah cinta ini membuat kita tak pernah mengerti,

mengapa yang harus kita lakukan hanya membiarkan.

Biarkanlah...


***


Bandung Barat, 9 maret 2012


Sinta Nurwahidah

Sabtu, 03 Maret 2012

Segores Kesederhanaan



Aku selalu suka melihat pantai
Riaknya yang berlari memburu tepi

Aku selalu suka menyaksikan datangnya fajar dini hari
Tak pernah ingkar barang sebentar

Aku selalu suka menikmati hujan
Dendang rinainya menciptakan kedamaian

Aku selalu suka menyesap teh
Menyediakan kafein yang mampu mempercepat denyut jantung

Dan aku lebih suka mengagumi kamu
Karena setiap jengkal dari kamu adalah segores kesederhanaan

***

Bandung Barat, 1 maret 2012