Idola cilik

Tampilkan postingan dengan label Idola cilik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idola cilik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Februari 2017

Tidak Butuh Judul [18 & epilog]


Setiap kehilangan akan digantikan. Tapi sebelum kehilangannya yang pertama mendapat ganti, ia rasakan kembali sebuah kehilangan untuk yang kedua kali. Sekarang Ify benar-benar merasa bahwa dirinya adalah orang paling menderita seluruh dunia.

Ify membanting kotak beledu pemberian Rio dengan kasar. Isi kotak beledu yang ternyata adalah sebuah buku sketsa itu melayang ke sudut ruangan. Gadis itu meringis. Miris sekali jadi Ify. Sekarang ia punya dua buku sketsa baru, tapi tak punya satu pun orang yang mencintainya. Di sela tangisnya, gadis itu tersenyum miring.

Ify memegangi kepalanya yang sakit. Mungkin batok kepalanya sebentar lagi akan meledak, dan sebelum itu terjadi, ia segera meminum aspirin. Kemudian ia lanjutkan agenda mengasihani diri sendiri di dalam kamarnya. Sebelum akhirnya jatuh tertidur, tangisannya tidak pernah mereda.

***

“Yo, kayaknya kita ga bisa deh balik kayak dulu lagi,” ujar Sivia santai seraya menikmati alunan musik berisik yang menggema menyesaki seisi club.

Rio hampir saja tersedak ketika mendengar ucapan Sivia. Eh maksudnya apa ya? Masak baru dua minggu bersama sudah putus lagi? Jangan main-main ya! “Maksud lo apa?”

“Ya gue rasa, kita udah ga cocok. Hubungan kita ga seasyik dulu. Bosan ah gue sama lo,” ujar Sivia tanpa perasaan bersalah.

Rio tidak terima. Ia menatap Sivia tajam, tapi yang ditatap justru malah menantangnya. Pemuda itu merutuk dalam hati. Harusnya sejak awal dia tidak memercayai perempuan ular di hadapannya. Harusnya ia hapal bahwa Sivia hanya ingin bermain-main dengan cinta. Harusnya tak ia kesampingkan sebuah fakta bahwa Sivia dengan mudahnya meninggalkan Deva kemudian datang padanya. Fakta itu harusnya membuat Rio tahu bahwa Sivia juga akan dengan mudah pergi lagi darinya.

“Ya udah kalau gitu! Pergi aja sana! Lo pikir gue peduli apa?” tanya Rio sarkatis kemudian pergi dari sana.

Yang sesungguhnya tidak peduli ternyata adalah Sivia. Karena sedetik setelah Rio pergi, ia sudah menemukan penggantinya yang baru. Seorang lelaki tampan berwajah oriental yang ia temui kemarin siang di kampus.

Sebaliknya, Rio justru sangat peduli, terlebih pada hatinya sendiri. Ia tak tahu mengapa dirinya bodoh sekali. Bisa-bisanya ia tertipu oleh Sivia. Pemuda itu memukul setir mobilnya dengan kasar.

Rio merasa semakin bodoh karena bayangan Ify tiba-tiba berkelebat melintasi benaknya. Pemuda itu berdecak! Ia sama sekali tidak punya ide lain selain menemui Ify. Gadis itu mungkin tidak akan mau bertemu dengannya. Sial sekali! Rio terkesiap. Tapi kan malam ini ia datang sebagai teman yang sedang patah hati. Yang hanya ingin didengarkan curahan hatinya, yang butuh teman berbagi. Ia datang dengan damai.

Karena ia sudah tahu, datang pada Ify dengan membawa segunung cinta pun takkan mampu membuat gadis itu berpaling dari Gabriel.

Karena Rio sudah malas jadi si bodoh, yang ketika memiliki masalah malah melarikan diri ke alkohol, lebih baik ia mendatangi Ify. Peduli amat perasaannya pada Ify akan membuncah lagi. Daripada ia minum sampai mabuk, kemudian menabrak trotoar lagi. Siapa yang bisa menjamin bahwa kali ini ia akan selamat? Ia tidak mau mati dalam keadaan bodoh.

***

Ketukan tak sabar pada pintu apartemennya membuat Ify terperanjat dan segera bangkit dari tempat tidurnya. Ia berjalan dengan langkah besar menuju pintu. Diraihnya kenop pintu kemudian ia tarik untuk kemudian menampilkan seorang laki-laki dengan wajah lusuh. Matanya yang berwarna merah menatapnya nanar. “Kak Rio,” cicit Ify pelan.

Rio menggeleng samar kemudian melompat memeluk Ify. Ia lilitkan kedua tangannya untuk merengkuh punggung itu. Di bahu gadis itu, ia menumpahkan tangis. Mencurahkan segala kesedihan yang menyesakkan hatinya.

Ify menahan napasnya untuk sekian detik untuk merasakan kehangatan dari setiap gestur tubuh Rio. Ia mengangkat kedua tangannya untuk kemudian ia simpan di punggung Rio. Perlahan, ia usapi punggung itu. Diam-diam ia menarik ujung-ujung bibirnya ke atas. Untuk kali pertama ia berada dalam dekapan Rio tanpa perasaan bersalah. Ia pejamkan kedua matanya.

“Fy...” ucap Rio seraya tersedu. “Sivia lagi-lagi ninggalin gue. Gue ga tahu salah gue apa, sampai dia tega ngelakuin ini semua sama gue. Rasanya sakiiitt banget!”

Sontak rintihan Rio itu membuat Ify membelalak. Eskpresinya berubah mengeras. Gadis itu mendorong tubuh Rio menjauh darinya. Dorongan terlalu keras yang membuat Rio terpelanting dan punggungnya menghantam pintu.

Rio mengurut punggungnya yang berdenyut sakit. Ia menatap Ify bingung. Apa yang salah dari seseorang yang sedang patah hati?

“Berhenti ngerasa jadi orang paling sakit! Berhenti berlaga jadi yang paling sengsara!” tukas Ify tajam.

Rio mengerenyit. Sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan gadis itu. “Maksud lo apa sih, Fy?”

Ify berdecak sebal. Ia menghentakkan kakinya ke lantai. Sampai kapan sih Rio akan mempermainkan hatinya? Gadis itu mengeluh tertahan. Ia menunduk dalam. Merasa tak mampu untuk menjelaskan ketidak jelasan perasaannya saat ini.

“Gue salah apa sih, Fy?” tanya Rio retoris. Sama sekali tidak menyadari bahwa kemarahan Ify saat ini berhubungan dengan apa yang tadi ia katakan, tentang Sivia. Mungkin ia tidak ingat bahwa Ify pernah memberikan tatapan kecewa ketika melihat ia tengah bersama Sivia.

“Kak Rio masih tanya salah Kak Rio apa? Sadar dong!” ucap Ify gemas. “Gabriel pergi ninggalin aku gara-gara Kak Rio! Karena apa yang udah Kak Rio lakuin sama aku waktu itu!”

Rio merasa hatinya mencelos ketika mengetahui bahwa Ify sudah tidak lagi bersama Gabriel. Namun ia tidak bisa memungkiri bahwa separuh hatinya yang lain bahagia menyambut kabar itu.

“Bertahun-tahun aku sama Gabriel, tapi kurang dari sebulan untuk dia pergi ninggalin aku cuma karena dia kira Kak Rio cinta sama aku. Dia salah!” Ify menahan dirinya untuk tidak menangis. Bibirnya bergetar saat melanjutkan ucapannya. “Kak Rio ga pernah cinta sama aku. Yang ada di hati Kak Rio cuma Kak Sivia!” tandasnya. Ia kemudian bergerak mundur dan menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Di sana ia tak lagi bisa menahan air matanya. Ia pun menangis. Untuk semua kenyataan pahit yang harus ditelannya.

Yang dilihat Ify selama ini mungkin Rio yang hadir sebagai temannya, seperti apa yang pernah Ify katakan. Ia mungkin tidak pernah melihat segala bentuk perhatian yang Rio berikan. Yang Ify tahu selama ini mungkin adalah Rio selalu patah hati karena Sivia. Ia mungkin tidak pernah mengetahui bahwa hatinya bukan hanya patah, tapi hancur saat melihat Ify bersama Gabriel. Ify mungkin tidak merasakan apa pun di setiap momen mereka bersama, namun Rio merasakan cinta itu terlalu nyata ada di hatinya.

Rio berjalan tersaruk mendekati Ify. Ia kemudian berlutut di hadapan gadis itu. Diambilnya kedua tangan Ify yang lembut yang kemudian ia genggam erat.

“Gabriel ga salah, Fy!” gumam Rio pelan. Terlalu pelan hingga Ify tak bisa mendengar apa pun. Ia mengangkat genggamannya untuk kemudian ia cium apa yang ia bawa.

Ify melihat dan merasakan Rio mencium punggung tangannya. Gadis itu meringis kemudian terkesiap. Segera ia tarik tangannya.

“Aku ngerasa bodoh banget! Aku udah punya Gabriel yang luar biasa baik dan dia cinta sama aku. Tapi aku bikin dia pergi. Pernah aku coba percaya kalau Kak Rio emang beneran cinta sama aku. Tapi kemudian aku lihat Kak Rio sama Kak Sivia. Dan sekarang Kak Rio datang ke aku karena Kak Sivia. Lagi-lagi aku dibodohi sama cinta.”

Rio mengubah posisinya hingga membungkuk. Ia rengkuh tubuh Ify masuk tenggelam dalam dadanya. Disana, ia bisikan kalimat yang dari dulu sudah membayangi otaknya. Alasan mengapa ia ada disana.

“Gue cinta sama lo, Fy!”

Ify telah belajar untuk tidak mudah percaya pada apa yang dikatakan orang lain padanya. Bahkan Gabriel saja yang baginya adalah malaikat tega menghianatinya. Gadis itu menggeleng. Meronta meminta Rio membebaskan dirinya.

“Jangan bilang gitu! Gabriel juga bilang kalau dia cinta sama aku, tapi dia tetap ninggalin aku!” gadis itu sesenggukan, memukuli dada Rio kuat-kuat.

Tenaga Ify tak cukup kuat untuk membuat Rio melepaskan pelukannya. Pemuda itu masih bertahan. Berusaha untuk membuat Ify percaya bahwa sekarang dan jauh sebelum detik ini, telah ia tambatkan hatinya hanya untuk Ify.

“Gue ga percaya sama yang namanya cinta. Gue merasa gue bisa dapatin semua cewek. Sampai akhirnya gue ketemu Sivia. Gue pikir gue cinta sama dia karena saat dia pergi, rasanya sakit banget. Tapi semua itu ga ada apa-apanya ketika gue ketemu sama lo. Karena lo, gue belajar bagaimana mencintai. Untuk lo, gue berusaha memercayai cinta. Tapi tiba-tiba Gabriel datang. Gue ngerasa bego banget tahu ga! Gue ga tahu lagi harus ngapain. Terus Sivia datang saat gue yakin gue ga akan pernah bisa milikin lo. Gue percaya sama satu-satunya orang yang harusnya ga gue percayai. Bego banget, kan?” tenggorokkan Rio tercekat. Ia menarik napas panjang kemudian mengurai pelukannya. Pemuda itu kembali berlutut, lalu menatap mata Ify dalam-dalam, lembut.

“Tapi kalau semuanya ga terjadi, gue ga mungkin ada disini. Kita sama, Fy! Sama-sama udah dibegoin sama cinta. Tapi untuk lo, gue ga pa-pa jadi orang bego. Sama lo, gue mau bego terus,” tandasnya dengan suara bergetar. Kedua matanya basah.

Ify terkesima dengan apa yang baru saja diucapkan Rio. Rio yang ia kenal selama ini adalah Rio yang pongah, yang tidak akan mungkin mau merendahkan dirinya untuk orang lain. Tapi di hadapan Ify kali ini adalah Rio yang berbeda, yang mau berlutut untuknya, yang hampir menangis karenanya.

“Gue emang ga sesempurna Gabriel, gue ga sebaik dia, gue ga bisa kayak dia. Tapi buat lo, gue usaha keras untuk mengeluarkan yang terbaik yang gue punya.” Rio menghela napas panjang. “Gue cinta sama lo, Lifyana Rossa. Mau lo bantah mati-matian pun, ga akan mengubah apa-apa. Hati gue udah ga bisa ke mana-mana lagi.”

Ucapan itu mungkin tanpa sadar sudah Ify tunggu sejak lama. Sejak malam bertabur gemintang di Puncak kala itu. Tanpa seorang pun tahu termasuk dirinya sendiri, ia terus menunggu. Dalam ruang paling gelap di hatinya tersimpan seutas harap yang tak pernah berani ia ungkap. Kini, ia pun telah menyadari bahwa telah lama hatinya berpaling.

“Aku cinta sama Gabriel, setengah mati,” tukas Ify.

Rio merasa hatinya mencelos saat itu juga. Pelatuk itu telah ditariknya. Dan seberapa pun menyedihkannya ia meminta, panah itu tidak pernah tertuju padanya. Ia menunduk dalam. Menyembunyikan tangis disana.

Ify menyeka air mata di pipinya. “Setengahnya lagi aku hidup. Setengah hidup ini aku mau kasih ke Kak Rio, supaya Kak Rio tahu kalau sampai Kak Rio pergi juga, aku udah ga punya lagi hidup.”

Seketika Rio terkesiap. Ia mendongakkan kepala. Meminta penjelasan Ify.

“Aku cinta sama Kak Rio. Bahkan untuk mencintai Kak Rio, aku pertaruhkan setengah hidup yang masih aku punya,” Ify berdecak samar kemudian menjatuhkan tubuhnya ke dalam pelukan Rio. Ia dekap erat hidupnya kini, yang takkan sanggup untuk ia kehilangan nanti.

Rio tersenyum di sela tangis haru. Karena sudah begitu lama ia tidak pernah sebahagia ini. Kebahagiaan ketika seseorang yang ia cintai memercayakan hidup padanya. “Lo akan hidup selamanya, Fy! Sumpah!”

Ify menarik tubuhnya. Ia kemudian duduk bersila. Menatap langit-langit apartemennya. Ia tersenyum. Mengingat segala yang pernah terjadi. Mengingat perjalanannya untuk sampai pada titik ini, berpindah dari satu hati ke hati yang lain. Sebuah perjalanan yang tidak pernah ia rencanakan namun tidak akan pula ia sesalkan. Semuanya terlalu indah.

“Perempuan bodoh, dan laki-laki bego. Kalau kisah kita dijadiin novel, kira-kira judul yang tepat apa ya, Kak?” tanya Ify retoris.

Rio terkekeh pelan. “Kisah kita ga butuh judul, Fy. Cinta ga pernah butuh apa-apa, selain lo dan gue.”

Ify menoleh ke arah Rio. Sekali lagi ia menghambur ke dalam pelukan pemuda itu, yang sudah jadi miliknya, yang sudah jadi hidupnya.

Malam itu, di apartemennya yang luas, Ify tahu bahwa tidak pernah ada kata yang mampu menjuduli kisahnya bersama Rio. Tidak akan pernah ada waktu yang tepat untuk menamatkan kisahnya.

Malam itu, dengan Ify dalam pelukannya, Rio belajar banyak. Bahwa cinta tidak butuh judul karena cinta adalah judul itu sendiri. Bahwa cinta hanya butuh ada dan selamanya ia akan tetap ada.

**

Epilog

Sepotong roti berlumur selai nanas menjadi menu wajibnya setiap pagi. Lelaki itu tak habis pikir mengapa bisa selai nanas yang dulu tidak pernah berani ia coba karena baunya itu menjadi selai favoritnya kini. Semuanya karena kejadian tiga tahun silam saat dirinya tidak sengaja memakan roti yang ternyata bukan miliknya. Bekal makannya tertukar dengan orang lain. Roti berisi selai nanas itu pun kemudian menjadi awal perkenalannya dengan seorang wanita keturunan Jawa-Paris yang ia temui di taman. Perempuan yang kini membuatkan roti selai nanas untuknya setiap pagi.

Selagi lelaki itu menyantap roti selai nanasnya, di sampingnya seorang bayi laki-laki berusia satu tahun tengah heboh di kursi makannya. Kedua tangannya menggenggam wortel rebus. Bergantian ia masukkan ke dalam mulutnya yang mungil.

Lelaki dengan roti selai nanas itu menoleh ke arah sang bayi. Ia terkikik pelan melihat sang bayi semangat memakan wortelnya. “Owen makan yang banyak ya! Biar cepat gede dan nanti bisa main bola sama Papa.”

“Owen makan yang banyak, tapi jangan cepat gede ah kalau cuma buat main bola. Nanti Mama dicuekin,” ujar seorang wanita.

Lelaki itu tertawa menyeringai. “Kamu nih, masih aja cemburu sama bola.”

Wanita itu tersenyum. Kemudian menyerahkan sebuah undangan berwarna emas pada lelaki itu. Lelaki itu segera membaca undangan tersebut. Ia tersenyum. Undangan pernikahan. Dua nama yang dikenalnya tertulis di sana. Akhirnya.

*Selesai*

GUYS! FINALLY! Dua tahun (atau lebih) aku tulis cerita ini. Cerita yang endingnya aku tulis duluan! Wk. Sebulan kemaren adalah sebulan terberat karena aku sakit dan skripsiku stuck. Saat itu, entah kenapa tiba-tiba aku jadi semangat banget buat menyelesaikan cerita ini. Ya, dan skripsi sama sekali tak ku sentuh._.
Terimakasih untuk semua yang sudah, sempat, atau berniat baca cerita yang karena aku pusing judulnya apa, ya udah aku kasih judul Tidak Butuh Judul aja._. Yang ngikutin dari aku post di facebook, blog, hingga wahana bermain yang baru aku coba ini, wattpad. Meskipun jumlahnya ga banyak, aku sangat senang bisa membagi dongeng-dongeng aku sama kalian. Terimakasih untuk selalu percaya pada tulisan aku.
Dan maafkan kalau tanpa aba-aba, cerita ini selesai. Dari awal, emang cuma sampai situ ceritanya. Kalau dilanjut, aku bakalan butuh judul dan itu memusingkan (ga jago kasih judul aku :()
Di bagian terakhir ini, aku mau meminta sesuatu sama siapa pun yang baca untuk memberikan aku komentar, unek-unek, dan kritiknya. Hinaan dan cacian juga boleh.
Sekali lagi, terimakasih dan banyak cinta dari Snap, juru dongeng dari Neverland.

Kamis, 16 Februari 2017

Tidak Butuh Judul [17]


Gabriel tidak pernah tahan mendiamkan Ify lama-lama. Tapi kesalahan gadisnya itu tidak bisa ia terima. Bertahun-tahun bersama, masih kurangkah pembuktiannya bahwa ia tidak pernah main-main dengan hubungan itu?  

Ketika Gabriel menyatakan cinta pada Ify, tidak pernah ada niat dalam benaknya untuk menjalin sebuah hubungan ‘jalani saja dulu’. Karena telah jelas sekali ia melihat gambaran masa depan ia temukan dalam sosok Ify. Meskipun ia masih SMA kala itu, ia bisa melihat bahwa di masa yang akan datang, Ify yang akan berjalan bersamanya mencapai sesuatu bernama pernikahan.

 Pernikahan masih jauh sekali untuk digapainya, namun Ify telah terlebih dahulu berpaling darinya. Telah ia temukan lelaki lain yang mungkin jauh lebih baik darinya. Karena meskipun dalam banyak hal ia berada di atas lelaki itu, untuk sebuah kehadiran ia jauh tertinggal. Gabriel tidak pernah ada di samping Ify. Menemani gadis itu melewati banyak hal, susah atau senang. Jadi mungkin bukan salah Ify jika ia memilih bersama lelaki itu.  

Gabriel melirik sebuah bungkusan yang tergeletak di kursi belakang mobilnya. Bungkusan itu berisi buku sketsa baru yang rencananya akan ia berikan pada Ify. Ia beli setelah mengantar Ify pulang sehabis belanja satu hari sebelum pesta ulang tahun Sivia. Kala itu hubungannya dan Ify masih baik-baik saja. Esoknya, semua berubah. Dan kini hubungannya dengan Ify semakin parah.  

“Fy, anggap aja ini ancaman ya! Kamu awas ya kalau sampai selingkuh. Nanti aku bakalan...”

 “Kamu bakalan apa? Marah sama aku?”

 “Aku ga akan marah sama kamu. Cuma aku ga akan segan ninggalin kamu. Aku tuh ga akan pernah bisa diselingkuhin.”  

Percakapan antara dirinya dan Ify di masa lalu tiba-tiba terlintas di benaknya. Sampai sekarang isi percakapan itu belum berubah. Perselingkuhan adalah sesuatu yang tidak bisa diterimanya.

 Seminggu adalah waktu yang cukup untuknya berpikir akan kelanjutan hubungannya dengan Ify. Seminggu yang telah menghasilkan sebuah keputusan yang sedari dulu tak pernah terlintas dalam benaknya.

 Cintanya untuk Ify begitu besar seperti matahari. Dan Gabriel harus ingat bahwa matahari adalah bola api raksasa yang suatu saat bisa membunuhnya.

Cintanya untuk Ify banyak sekali seperti bintang. Tapi cahaya lampu jalan membuat sinar sang bintang tak lagi kelihatan.

 Malam itu Gabriel katakan pada Ify bahwa mungkin itulah pertemuan mereka yang terakhir. Sekarang ia meralat ucapan itu. Ia harus bertemu Ify, mungkin untuk satu kali lagi.

***  

Tadi sore Gabriel meneleponnya. Tapi tidak ada sapaan hangat seperti biasanya. Ify mengeluh dalam hati. Haruskah ia mulai membiasakan diri? Pemuda itu hanya bilang bahwa ia ingin bertemu.

 Ify belum siap dengan kemungkinan terburuk yang akan diterimanya malam ini. Tapi ia pun tak bisa lagi bersembunyi.

Seraya merapal doa, ia hampiri Gabriel yang sudah menunggunya di sana. Pemuda itu menjadi satu-satunya penghuni balkon, ketika semua orang memilih untuk berada di ruang utama cafe karena kebetulan malam itu seorang penyanyi ibukota yang tengah berada di puncak popularitasnya datang ke sana. Semua orang tidak ingin melewatkan penampilannya. Gabriel duduk sendiri tanpa antusias. Bahkan kalau malam itu yang datang adalah Lea Salonga, penyanyi favoritnya, ia akan tetap berada di tempatnya. Detik ini tidak ada yang lebih penting selain dirinya dan Ify.

 Ify hadir di hadapan Gabriel. Pemuda itu berdiri, menyambut. Ia tarik sebuah kursi, mempersilakan Ify duduk.

 Tidak ada pelukan hangat, senyuman lebar, bahkan ucapan selama datang. Sebuah firasat buruk menghantui benak Ify.  

“Apa kabar?” tanya Gabriel dengan ekspresi datar.

 Ify menghela napas panjang. “Ga sebaik dulu, Gab!”

 “Kamu mau pesan makan atau minum dulu?”  

Ify menggeleng. Ia sama sekali tidak berselera

 Gabriel berdeham pelan kemudian menggeser sebuah bungkusan yang ada di atas meja ke dekat Ify.

“Janji aku yang terakhir sama kamu. Jangan sampai masuk ke tong sampah lagi ya! Buku ini bukan sampah. Cukup aku aja yang ngerasa jadi sampah.”  

Ucapan Gabriel itu seketika membuat Ify mencelos. Ia membuat lelaki terhebat yang pernah dikenalnya merasa tak berharga layaknya sampah. Gadis itu mengeluh tertahan.  

“Pertama kali aku bilang kalau aku cinta sama kamu, waktu itu aku yakin banget bahwa kita akan selamanya bareng-bareng. Waktu aku pergi ke Paris, yang aku khawatirin cuma kamu. Kekhawatiran aku dulu sekarang kejadian, Fy!” Gabriel menelan ludahnya yang terasa sangat pahit.  

“Maaf ya, Fy! Aku pergi dan ga ada di samping kamu. Aku bikin kamu kesepian. Aku bikin kamu cari orang lain. Jujur aku sakit banget tahu semuanya. Tahu kalau yang kamu cinta bukan lagi cuma aku. Sekarang aku punya saingan.”

 Ify menggeleng samar.  

“Aku ga bisa saingan sama Rio, Fy! Dia udah menang. Dia bikin kamu jatuh cinta waktu kamu masih sama aku. Aku mau nyerah dan mundur. Bukannya aku ga mau berjuang buat kamu. Tapi kamu sendiri yang pilih untuk ga lagi berjuang sama aku. Kita kayaknya emang harus berhenti sampai sini,” ucap Gabriel. Lonceng itu telah dipukulnya. Menimbulkan bebunyian yang mampu menghancurkan hatinya. Gabriel tahu itu.  

“Aku mau ngomong boleh?” Ify mengusap matanya yang mulai basah. “Dulu waktu aku terima kamu jadi pacar aku, ga ada sedikit pun aku ragu. Aku cinta kamu dengan segala keyakinan aku. Waktu kamu pergi, aku ga pernah khawatir tentang apa pun karena aku percaya kita bisa lewatin semuanya. Terus aku ketemu sama Kak Rio. Semuanya terjadi tiba-tiba dan aku ga pernah tahu.” Ify tercekat. Sekarang ia berani jujur pada Gabriel karena menyembunyikan apa yang sudah bukan lagi rahasia adalah percuma.  

“Tapi kemudian aku sadar ga ada yang lebih baik selain kamu buat aku. Aku mau memperbaiki kesalahan aku. Aku minta satu kesempatan lagi dari kamu, Gab!” ujar Ify memohon.  

“Bertahun-tahun aku kasih kamu kesempatan untuk cuma mencintai aku. Apa yang udah kamu lakuin sama aku bikin aku kecewa. Kesempatan itu udah ga ada, Fy,” tukas Gabriel berat.  

“Kamu udah ga cinta lagi sama aku?” tanya Ify. Ia semakin sesenggukan.

 “Cinta aku banyak buat kamu. Yang habis dari aku adalah kesempatan, Fy. Maafin aku.”  

Ucapan terakhir Gabriel akhirnya menamparnya begitu telak bahwa sekeras apa pun ia berusaha, hubungannya dengan Gabriel tidak akan bisa diselamatkan. Semuanya sudah selesai dan berakhir. Sebuah kisah yang belum sempat ia beri judul itu pun terpaksa ditamatkannya.  

“Kamu jangan takut, Fy! Kamu ga akan sendiri. Kan ada Rio,” ucap Gabriel tulus. Ia mulai mengikhlaskan Ify untuk yang lain. “Rio cinta sama kamu.”  

Ify mencibir. Masa bodoh dengan Rio! Ia sama sekali tidak peduli. Si pengacau itu pasti senang telah memisahkan dirinya dari Gabriel.  

“Besok aku balik ke Paris. Lebih cepat beberapa hari dari rencana.”  

Ify menatap Gabriel nanar. “Kita bisa ketemu lagi ga ya?” tanyanya retoris.  

Gabriel bangkit dari kursinya kemudian memeluk Ify. Menyediakan tempat untuknya menangis. Ia dekap gadis itu erat. Dekapannya yang terakhir. Pemuda itu mengeluh. Ia menyadari bahwa melepas Ify adalah hal terberat yang pernah dilakukannya.  

“Kalau kita emang harus ketemu, kita bakalan ketemu, Fy. Ga tahu kapan dan di mana,” bisik Gabriel.  

Pelukan itu adalah pertanda bahwa Gabriel masih menyisakan banyak sekali cinta untuk Ify, yang berharap dapat ia jejalkan habis padanya detik itu juga. Pelukan itu adalah gerbang untuk sebuah kisah baru dalam hidupnya tanpa Ify.

 Sementara bagi Ify, pelukan itu serasa godam yang menghancurkan seluruh cakrawala yang ia bentangkan atas nama cinta. Cakrawala itu runtuh bersama dengan hatinya yang patah. Ia kemudian tahu, bahwa setelah pelukan ini berakhir, ia harus melangkah seorang diri tanpa Gabriel.

***

 Ify merasa sudah tak memiliki siapa-siapa lagi. Gabriel sudah bukan lagi kekasihnya, Rio takkan mungkin diharapkannya, dan Papa jauh di Jayapura sana. Ia tak tahu harus ke mana lagi sekarang.

 Kemudian ia teringat seseorang. Sahabatnya satu-satunya, Alvin. Gadis itu bergegas pergi ke tempat kost Alvin. Hendak mengadu.  

Alvin langsung disergap Ify pada detik pertama ia membuka pintu. Gadis itu datang dalam keadaan menangis. Tangisannya kian kencang di bahu Alvin.  

Alvin tahu apa yang sudah terjadi. Sejak lama ia sudah bisa memprediksi. Kedekatan Ify dengan Rio memang tidak wajar. Jadi, ia tidak bisa menyalahkan Gabriel atas keputusannya. Hal itu mungkin pantas untuk Ify.

Tapi sebagai sahabat yang baik, ia tidak akan mungkin mengatakan hal sekejam itu pada sahabatnya yang tengah patah hati. Bisa-bisa Ify mengamuk atau lebih parah lagi memutuskan untuk bunuh diri.  

Masih dengan derai tangis, Ify masuk ke dalam kamar kost Alvin. Gadis itu kemudian menjatuhkan dirinya di lantai, duduk memeluk lutut.

 “Kamu pernah bilang kalau Gabriel serupa organ buat kamu, di mana tanpa dia kamu ga bisa hidup. Ify, kamu masih bisa hidup tahu. Kamu kan bisa cari donor,” ujar Alvin. Pemuda itu duduk bersila di hadapan Ify.

 Ify menatap Alvin penuh tanya. “Maksud kamu apa?”

 “Putus sama Gabriel bukan akhir dari segalanya, kan?”

 “Dia tahu aku cinta sama dia dan aku ga mau kehilangan dia, Vin! Tapi dia tetap pergi ninggalin aku!” ujar Ify terisak.  

“Ya udahlah!” ujar Alvin santai.  

“Kok ya udahlah?”

 “Ya, ya udah. Semuanya udah kejadian. Nikmatin aja!”

 “Ini sama sekali ga nikmat, Alvin!” ujar Ify gemas.

 “Ya udahlah!”

 “Kok ya udahlah lagi?” Ify mendesah frustasi. Sepertinya ia datang pada orang yang salah.

 “Kamu tuh butuh waktu sendiri, Fy! Supaya pikiran kamu lebih jernih, supaya kamu lebih tenang. Orang lagi patah hati emang susah dinasihatin. Mending sekarang kamu pulang karena ini udah malam dan aku ga mau diusir sama ibu kost karena ketahuan ada cewek di sini malam-malam.”

 Ify merengut. Sekarang Alvin malah mengusirnya? Sahabat macam apa coba?!!! Gadis itu berjingkat pergi dari sana.

 “Fy…”  

Ify menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu ketika tiba-tiba Alvin memanggilnya. Gadis itu menoleh. Apa? Mau bilang ya udahlah lagi? Awas saja!

 “Setiap kehilangan pasti akan digantikan kok!” ucap Alvin.  

Ify mengangkat bahu. Ia tidak yakin Gabriel akan tergantikan. Gadis itu kemudian pergi.

***  

Meskipun tidak percaya dengan apa yang diucapkan Alvin, tapi sepanjang perjalanan pulang ucapan sahabatnya itu justru terus terngiang dalam otaknya. Setiap kehilangan pasti akan digantikan. Mungkinkah Rio yang akan menjadi pengganti Gabriel? Nama itu tiba-tiba muncul di langit-langit pikirannya.  

Ify menatap ke luar jendela dengan nanar. Melihat hujan rintik-rintik itu menari di sana. Gadis itu memejamkan mata beberapa detik kemudian kembali membukanya. Ternyata begini rasanya patah hati. Inilah patah hatinya yang pertama dan rasanya sakit sekali.  

Jika setiap kehilangan akan digantikan, apakah hati yang patah bisa disembuhkan? Dan kalau bisa, siapakah yang akan menjadi penawar lukanya? Mungkinkah Rio? Sosok pemuda itu kembali terlintas dalam pikirannya.  

Gabriel bilang Ify takkan sendiri karena akan ada Rio. Tapi sekarang ia tidak tahu keberadaan pemuda itu. Bahkan ia tidak yakin bahwa Rio serius dengan ucapannya kala itu. Pernyataan cinta darinya mungkin hanya sebuah senjata untuk menghancurkan Ify. Sekarang, bisa jadi Rio tengah bersenang-senang, merayakan kemenangannya.

 Tapi bisa jadi Rio memang benar-benar mencintainya. Karena ketika pertama kali ia mengenalkan Gabriel pada Rio, ia kembali melihat Rio yang dulu. Rio yang patah hati dan menyedihkan. Rio yang seringkih anak kucing. Karena saat Rio menyatakan cinta, kedua matanya juga ikut berbicara.

 Ify mengurut pelipisnya yang berdenyut. Mungkin sesampainya di apartemen, ia harus meminum aspirin untuk menghilangkan sakit kepalanya. Semoga saja, sakit di hatinya juga turut hilang.

***  

Ternyata hari itu masih menyisakan satu lagi kemalangan untuk Ify. Sebuah kenyataan pahit yang ia temukan di lobby apartemennya. Saat ia berjalan masuk dengan langkah tersaruk, gadis itu bertemu dengan Rio dan ia tidak sendiri. Sivia bergelayut manja menggamit lengannya. Mereka bercengkrama dengan ceria.  

“Kak Rio…” cicit Ify pelan. Namun tak cukup pelan untuk akhirnya membuat Rio beserta Sivia menghentikan gerakan kakinya. Mereka menoleh pada Ify.  

Rio menatap Ify  canggung. Ia tak membalas sapaan Ify karena tiba-tiba tenggorokkannya tercekat.  

Sedangkan Ify dibuat linglung. Entah apa yang harus dilakukannya sekarang. Untuk marah pun ia tidak berhak. Gadis itu mengeluh tertahan.

 “Halo, Ify! Baru pulang ya? Eh kita baru mau pergi,” ujar Sivia dengan nada mengejek. Gadis itu tidak melepaskan tangan Rio sedetik pun.  

Ify menggeleng. Tanpa sepatah kata pun, ia melengos pergi.  

Dan Rio masih jadi patung bodoh di sana, yang hanya bisa berkutat dalam alam pikirannya sendiri. Apa itu tadi? Mengapa Ify menatapnya seperti itu? Apa seperti itu ekspresi orang yang cemburu? Ia sama sekali tidak tahu. Kemarin-kemarin ia tidak sempat berkaca.

 Sial! Rio mengumpat dalam hati. Mustahil sekali Ify cemburu melihat dirinya bersama Sivia. Jelas-jelas gadis itu tidak mencintainya. Ia telah menolaknya mentah-mentah. Lebih memilih untuk tetap bersama Gabriel dan potongan rambutnya yang aneh itu. Rio mengerjap kemudian mengikuti langkah Sivia. Ia berjanji dalam hati untuk tidak lagi memikirkan Ify. Sekarang ia hanya ingin fokus pada Sivia seorang saja yang jelas-jelas ada di sampingnya.

***

Tidak Butuh Judul [16]


Terakhir kali Rio datang ke tempat ini adalah ketika dirinya ditinggalkan Sivia. Sekarang, ia kembali lagi-lagi untuk gadis itu. Rio mengangkat bahu. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi. Pemuda itu berjalan masuk.  

“Rio, ke mana aja lo?” seseorang tiba-tiba menepuk pundak Rio.  

Rio terkesiap. Mendapati Raynald di sana. Salah satu temannya yang dulu tidak pernah menolak untuk diajak ke club. Sekarang, Raynald telah percaya diri datang ke tempat itu tanpa Rio.  

“Hai, Ray! Sibuk gue. He,” Rio terkekeh pelan. “Eh, lihat Sivia ga?”

 “Sivia? Tuh di sana,” Raynald menunjuk ke salah satu tempat di ujung club.

 “Oke. Thanks, ya! Gue samperin Sivia dulu!” ujar Rio kemudian melipir pergi.  

Rio mendapati Sivia. Semenjak putus, ia belum pernah menemui Sivia secara khusus. Bahkan di acara ulang tahun Sivia kala itu, ia hanya menyapa Sivia sekilas untuk mengucapkan selamat.  

“Ada apa?” tanya Rio langsung, tanpa prolog apa pun.

 Sivia menoleh pada Rio. Matanya sembab bekas tangisan. Gadis dalam balutan dress ketat berwarna hitam itu langsung melompat meraih Rio. Melanjutkan tangisnya yang tadi sempat mereda.  

Rio berdecak samar. Ia memutar bola matanya kesal. Drama apa lagi yang hendak dipertunjukkan Sivia kali ini? Ia tidak tahu. Pemuda itu menjauhkan tubuh Sivia darinya.  

“Kenapa? Berantem sama Deva?” tanya Rio sarkatis.  

Sivia menggeleng. “Gue kangen sama lo.”  

Rio mencibir. “Serius kangen?”  

“Please, Yo! Gue lagi banyak masalah banget. Gue cuma pengen senang-senang.”

 Rio menatap Sivia seraya berpikir. Ia juga sedang menghadapi masalah, dan mungkin Sivia memang sengaja dikirimkan Tuhan untuk membuatnya sejenak melupakan masalah itu. Yeah! Rio, malam ini anggap saja tidak terjadi apa-apa. Anggap saja luka di pipimu adalah bekas menabrak pintu. Anggap saja sesak di dadamu karena asap rokok yang berterbangan memenuhi club ini. Mari bersenang-senang!  

“Let’s have fun tonight, Sivia!” Rio meraih tangan Sivia. Menariknya menuju keramaian. Ikut bergabung bersama manusia-manusia lain yang mungkin juga sama sepertinya. Bersenang-senang dan tak lagi peduli dengan masalah yang ditanggungnya.

Rio dan Sivia menggerakkan tubuhnya. Sesekali mereka berpelukan. Saling membagi peliknya masalah yang tengah mereka hadapi.

***  

Semakin malam, club semakin ramai. Orang-orang datang dengan bermacam masalah, tapi tak jarang pula yang datang tanpa membawa apa pun. Ia hanya ingin bersenang-senang.

 Rio dan Sivia menepi, memesan minuman.

“Deva ga suka gue undang lo ke pesta ulang tahun gue kemarin. Selesai pesta kami berantem hebat,” celetuk Sivia setelah menenggak habis segelas minuman beralkohol yang baru saja disuguhkan padanya.

“Kalau Deva ga suka lo masih berhubungan sama gue, ngapain sekarang lo minta ketemu?” tanya Rio sarkatis.

“Bodo! Biar aja dia makin marah. Ga peduli gue!” Sivia meminta gelasnya diisi kembali. Seorang bartender sigap memenuhi permintaannya. Gadis itu benar-benar kalap.

Rio cuma bisa melongo ketika Sivia telah menghabiskan minuman pada gelas keduanya dan sekarang ia meminta yang ketiga sementara dirinya masih menyisakan tiga perempat minuman di tangannya. Sedari dulu, Rio memang tidak terlalu suka meminum alkohol. Dia datang ke club hanya karena tuntutan pergaulan. Dan ia agak trauma dengan kejadian berbulan lalu saat ia minum terlalu banyak dan ia hampir mati karena mobilnya menabrak trotoar. Meskipun ia tidak bisa memungkiri bahwa ia mensyukuri hal itu terjadi. Coba saja malam itu dia tidak minum hingga mabuk berat, coba saja tidak ada truk yang melaju kencang dari arah berlawanan dan membuatnya membanting setir hingga menabrak trotoar, coba saja ia kuat untuk mencapai kamarnya tanpa harus jatuh tersungkur di depan kamar Ify, ia mungkin tidak akan sampai di titik ini, di mana ia menjatuhkan cintanya begitu dalam untuk Ify.

Rio terkesiap. Coba saja Rio untuk malam ini lupakan Ify! Rutuknya dalam hati. Oh, ia tidak yakin bisa.

 “Oh iya, gue pikir lo pacaran sama Ify,” ujar Sivia. Gelasnya kembali terisi untuk kesekian kali. Rio sudah tidak lagi menghitungnya.  

“Maunya sih gitu,” ujar Rio.  

“Pipi lo kenapa?” tanya Sivia. Pandangannya kini mengabur, tapi lebam di pipi Rio telah dilihatnya sejak tadi. Hanya saja baru kini ia mendapatkan kesempatan untuk bertanya.   

“Ditonjok Gabriel.”  

“Kok bisa?”

 “Bisa lah! Orang cemburu bisa lakuin apa aja.”

 “Waktu gue sama Deva, lo cemburu ga? Kok lo ga lakuin apa-apa?”

Sivia tidak tahu saja Rio hampir mati cemburu saat itu.  

Rio memicingkan mata. Sepertinya Sivia harus berhenti minum. Gadis itu sudah mabuk.

 “Sivia kayaknya kita harus pulang,” ujar Rio seraya menjauhkan gelas alkohol dari Sivia.

 “Gue ga mau pulang! Pokoknya gue mau di sini sama lo,” tukas Sivia dan sedetik kemudian ia jatuh terkulai yang untungnya segera ditangkap oleh Rio.  

Akhirnya, Rio menggendong Sivia yang tak sadarkan diri ke dalam mobilnya. Kemudian ia bawa pulang ke apartemennya.

***

 Rio merasakan punggungnya ngilu. Menggendong Sivia dari lobi hingga kamarnya ternyata cukup membuat tulang punggungnya kesakitan bahkan hingga berlalu beberapa jam. Belum sembuh pipinya yang kini berwarna biru, sekarang harus ditambah pula dengan sakit di punggung, dan jangan lupa dengan sakit hatinya yang kian terasa ketika dirinya sendiri.  

“Yo...”  Rio terperanjat ketika mendengar sapaan itu. Ia menoleh dan melihat Sivia berjalan mendekatinya. Gadis itu baru saja bangun.

 “Makasih ya!” ujar Sivia kemudian duduk di samping Rio.  

Rio hanya mengangguk samar.

 “Gue mau pulang.”

 “Mau gue antar?”

 “Ga usah, gue udah telepon  supir gue suruh jemput.”  

Kemudian mereka hanya bertatapan tanpa suara untuk beberapa saat. Rio melihat Sivia tanpa perasaan apa pun. Cinta yang dulu begitu besar sampai membuatnya hampir gila kini sudah tak lagi ada. Sosok yang bahkan ketika bangun tidur pun masih sebegini cantiknya, yang kini duduk berdempetan dengannya, tak mampu membuat hatinya berbunga. Seseorang yang lain telah membuat hatinya sesak.  

Sedangkan Sivia memandang Rio dengan tatapan yang sulit sekali diartikan. Kelebihan Sivia yang lain selain wajah cantik adalah ia mampu menyembunyikan rahasia di balik kedua pelihatnya. Tidak pernah ada yang bisa menebaknya. Mungkin saja saat ini Sivia tengah menatap rindu pada mantan kekasihnya. Atau bisa jadi ia justru tengah menatap menggoda, ingin mempermainkan pemuda itu seperti yang pernah dilakukannya dulu. Tidak ada yang tahu.

 “Gue ke bawah sekarang ya! Kayaknya supir gue udah datang deh! See you!” ujar Sivia kemudian bergerak semakin dekat dan mendaratkan sebuah ciuman di pipi Rio yang bengkak. Sebuah ciuman yang dulu sangat biasa diberikan Sivia ketika berpamitan pergi. Gadis itu menghilang di balik pintu.

 Ciuman itu biasa kalau terjadi berbulan yang lalu. Ciuman itu biasa kalau status mereka bukan sebagai mantan. Sekarang, ciuman itu jadi tak biasa karena mendarat saat Rio dan Sivia bernasib sama, membutuhkan seseorang yang bisa membuat mereka lupa pada masalah yang menggantungi benaknya.  

Rio masih tertegun di tempatnya. Ia menyentuh pipinya. Sakit di sana kemudian hilang, berganti hangat dan gemuruh di dadanya.

***

 Ify berjalan gontai seraya menjinjing kantung kresek berisi bubur ayam yang baru saja dibelinya untuk sarapan. Pagi ini ia sama sekali kehilangan mood untuk memasak.

 Masih teringat jelas di benaknya kejadian semalam, bagaimana ia melihat Gabriel meledak karena bom waktu yang dirakitnya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi pemuda itu, tapi tak sekali pun membuahkan hasil.

 Ify sadar dirinya telah menyakiti Gabriel. Tapi ia juga tak bisa memungkiri bahwa di hatinya kini juga telah ada Rio, yang entah sejak kapan tepatnya ia menyelinap masuk ke sana. Ify hanya tidak ingin membohongi dirinya sendiri. Dan ia pun sudah berjanji bahwa pelukan semalam adalah pelukan perpisahan. Ia tidak menyangka bahwa  kemungkinan besar yang akan ia berikan salam perpisahan adalah Gabriel.

 Seseorang di ujung lorong tiba-tiba membuat Ify membelalakkan kedua matanya. Ia jelas melihat orang itu adalah Sivia, baru saja keluar dari kamar Rio. Ada urusan apa? Sepagi ini?

 Ify berjalan dengan kaku, sementara Sivia berjalan seperti tanpa beban. Ia tersenyum miring kala dirinya berpapasan dengan Ify. Kemudian menghilang masuk ke dalam lift.  

Kalau sepagi ini dia pergi, jadi sejak kapan Sivia di apartemen Rio? Batin Ify berbisik.

Tiba-tiba kegelisahan menyelimuti hatinya. Gadis itu berlari masuk ke kamarnya.

 Di sana ia menekuri semuanya. Ketidakmengertiannya atas semua yang terjadi. Mengapa bisa ia mencintai dua orang sekaligus dan egoisnya ia tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka. Kejadian semalam adalah peringatan bahwa bisa saja Gabriel meninggalkannya.

Dan menemukan Sivia keluar dari kamar Rio barusan adalah peringatan berikutnya bahwa Rio juga takkan segan pergi darinya.

Pada akhirnya ia akan sendiri. Temannya yang tak pernah pergi bernama sakit hati.

***  

Entah karena Tuhan menyayanginya, atau justru sedang mempermainkannya, karena setiap kali Rio patah hati, selalu hadir sosok lain dalam hidupnya.

Dulu ketika Sivia meninggalkannya, Ify datang untuknya. Sekarang saat Ify mengabaikan perasaannya, berbalik Sivia yang datang padanya.  

Rio tidak tahu nasib Ify bagaimana setelah kejadian malam itu. Tidak pernah lagi ia melihat wajah cantik itu. Ia juga tidak tahu bagaimana kelanjutan hubungan Ify dan Gabriel. Mungkin mereka tak seberapa peduli padanya dan kembali melanjutkan hidupnya seperti biasa. Rio seperti debu yang cukup disapu saja hilang. Ya, memang sebegitu tidak pentingnya dirinya di mata Ify.

 Rio pernah patah hati sebelumnya, dan ia berhasil menyembuhkan segalanya. Untuk kali ini ia pun yakin bisa. Perempuan yang bergelayut manja di sampingnya yang dulu melukai hatinya kini menjelma menjadi obatnya.  

Ify berhasil dikesampingkan Rio saat detiknya terisi dengan kehadiran Sivia. Meskipun saat ia pulang ke apartemennya, sendirian di kamarnya, bayangan Ify kembali menamparnya telak bahwa ia menjadikan Sivia sebuah pelarian. Yang menyesaki hati dan jiwanya kini adalah Ify dan Ify lagi.

 “Mungkin kita bisa bareng-bareng lagi kaya dulu, Yo!” ujar Sivia suatu hari ketika ia menghabiskan makan siang bersama Rio.  

Rio tidak menjawab. Tapi seminggu yang telah ia lalui bersama Sivia bisa menjadi jawaban bahwa ia tengah mencoba untuk memulai semuanya dari awal. Kembali pada Sivia dan mengubur dalam-dalam perasaannya pada Ify.

***

Tidak Butuh Judul [15]


Minimal satu kali dalam sehari Gabriel menyapanya lewat ponsel, entah itu telepon atau hanya sekadar pesan singkat. Satu sapaan yang selalu mengingatkannya ia punya seseorang yang selalu setia padanya.  

Sudah dua hari sapaan itu tak hadir. Rasanya aneh sekali. Seperti sebagian dari dirinya juga hilang. Bertahun-tahun bersama, dan inilah perasaan kehilangannya yang pertama.

 Ify menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Yang dibutuhkannya bukanlah waktu untuk berpikir. Seribu waktu yang diberikannya tidak akan mampu memberikan jawaban akan pertanyaan besar di hatinya. Sebenarnya, sekarang ia mencintai siapa?  

Yang ia butuhkan sekarang adalah duduk berdua dengan Gabriel. Supaya ia yakin bahwa Rio sama sekali tidak pantas untuk dipilih. Gabriel tidak boleh pergi begitu saja. Mana janjinya yang akan selalu ada di segala situasi? Ify menghembuskan napas berat. Sialnya, situasi kacau ini telah ia buat sendiri. Jadi ia yang harus bertanggung jawab.  

Di balik tembok itu, Rio berdiri. Malam itu ia tahu bahwa hubungan Ify dan Gabriel terguncang. Dua hari ia mengamati, tidak didapatinya eksistensi Gabriel di samping Ify. Baguslah! Ini kesempatannya.  

Rio belum pernah berjuang sebegini susahnya. Bahkan pada Sivia, setelah hari di mana gadis itu meminta berpisah, tak sekalipun ia mendatangi gadis itu untuk meminta kembali. Sekarang untuk Ify ia mau berjuang lebih keras. Ia datang lagi. Meyakinkan Ify untuk dapat menerimanya.

 Rio mengetuk pintu apartemen Ify dengan tidak sabar, bahkan terkesan menggedor.  Usaha itu berhasil membuat si empunya kamar membuka pintu dengan cepat.  

Kalau senjata berupa kata-kata tidak mempan, mungkin Rio harus mencoba senjata yang lain. Kali ini tanpa memberikan kesempatan untuk Ify bertanya tujuannya ke sana, Rio sudah terlebih dahulu meraih bahunya. Mendorongnya menjauhi pintu, kemudian memeluknya erat.  

Ify meronta-ronta minta dilepaskan. Ia pukul punggung Rio keras-keras. Tapi bagi Rio itu tidak ada apa-apanya. Ia hanya ingin mendekap gadis itu. Membaui aroma tubuhnya yang menenangkan. Merasakan kehangatan yang begitu ia rindukan.  

“Tolong lepasin aku, Kak!” Ify bercicit. Memohon dengan sangat agar ia dibebaskan.  

Rio akhirnya melepaskan Ify. Tidak tega karena ia mulai mendengar Ify menangis sesenggukan.  

“Shit!” Rio berdecak kesal. Sungguh ia tidak bermaksud menyakiti Ify. Pelukannya tadi adalah pelukan sayang yang harusnya membuat Ify nyaman, bukan malah menangis ketakutan.  

“Gue tuh cuma sayang sama lo, cinta sama lo. Gue salah?” tanya Rio retoris.  

“Gue tuh ga rela lo sama cowok lain. Gue sakit hati. Gue salah?” Rio semakin frustasi.

 “Gue peluk lo supaya lo tahu cinta gue banyak buat lo. Terus sekarang lo malah nangis. Gila ya! Segitu serba salahnya jadi gue!” pemuda itu mengacak rambutnya sendiri.  

Ify masih di sana. Menangis tersedu. Coba kalau bukan sekarang ia bertemu Rio. Coba kalau bertahun-tahun yang lalu, sebelum ia bertemu dengan Gabriel. Coba saja! Mungkin akan lain hasilnya. Ify tidak bisa apa-apa. Cintanya masih lebih banyak untuk Gabriel.  

“Gue harus apa supaya lo terima gue? Gue bisa usahain semuanya buat lo. Jangan nangis! Gue ga bisa lihat orang yang gue sayang nangis!” Rio mengeluh tertahan.  

Tapi tiba-tiba Ify bergerak menghampirinya. Gadis itu menjatuhkan tubuhnya pada bahu Rio. Ia dekap pemuda itu erat. Tangisnya semakin meleleh di sana.  

Rio tidak tahu apa yang terjadi. Ia bahkan masih tidak percaya Ify memeluknya. Demi menyakinkan diri bahwa ia sedang tidak bermimpi, ia usap kepala Ify. Saat itulah ia yakin bahwa Ify yang ada di sana. Mendekapnya. Pemuda itu tersenyum. Kebahagiaan baru saja membuncah di sana.  

Ify tahu apa yang dilakukannya salah. Tapi biarkan ini menjadi kesalahannya yang terakhir, sebelum ia pergi. Karena ia harus melarikan diri sejauh mungkin dari Rio supaya perasaannya bisa lenyap. Maka izinkanlah detik ini ia dekap pemuda itu. Supaya ia bisa mengenangnya suatu hari nanti bahwa pernah suatu kali ia begitu dekat dengan Rio. Wangi parfumnya bisa ia baui dengan leluasa. Deru napasnya bisa ia dengar dengan seksama. Detak jantungnya bisa ia rasakan berima.  

Setelah ini, tidak akan ada lagi Rio dan kebimbangan. Ify sudah tahu akan dibawa ke mana kisahnya.  

“Gue cinta sama lo, Fy!” ungkap Rio.  

Ify mengangguk di bahu Rio. Ia sudah tahu. Jangan lagi diucapkan! Karena akan semakin berat untuk dirinya pergi. Gadis itu mendekap Rio lebih erat.  

Ify dan Rio menikmati pelukan itu. Mereka sama-sama tidak tahu bahwa seseorang berjalan menuju tempat mereka berdua. Pintu apartemen Ify terbuka dan membuat orang itu masuk tanpa permisi. Kemudian ia hanya bisa berdiri kaku di sana. Melihat pemandangan paling menyakitkan hatinya. Setetes air mata jatuh dari pelupuknya. Tetes yang lain turut mengikutinya.  

Kedua matanya masih tergenang, tapi kemampuan Ify untuk melihat tidak lantas menghilang. Kabur ia melihat seorang pemuda berdiri tak jauh dari sana. Ify membuka mulutnya tanpa suara. Gadis itu segera menjauhkan tubuhnya dari Rio.  

Rio bingung mengapa Ify tiba-tiba melepaskan pelukannya. Tapi kemudian ia menyadari sesuatu saat ia menangkap fokus Ify kini tak lagi padanya, tapi pada pemandangan di belakangnya. Sontak Rio berbalik dan hampir terjengkang karena kaget setelah mendapati ada Gabriel di sana. Menatap Ify dengan mata yang basah.  

Gabriel tiba-tiba bergerak ke arah Rio. Tanpa aba-aba, ia daratkan sebuah tinju di wajah Rio. Membuat pemuda itu terpelanting jatuh ke lantai. Ini adalah akumulasi dari emosinya sejak malam itu. Orang dewasa juga berhak marah kalau apa yang menjadi miliknya direbut oleh orang lain.  

Ify menjerit. Seumur-umur ia mengenal Gabriel, tak pernah sekalipun ia memergoki pemuda itu marah bahkan hingga memukul seseorang. Gabriel yang ia tahu adalah pemuda paling sabar seluruh dunia. Tapi ternyata sabar juga ada batasnya. Dan Ify tahu batas itu adalah dirinya.  

“Lo pergi! Gue ga mau lihat lo di sini,” ujar Gabriel dingin.

 Rio meringkuk di lantai, tapi ia masih bisa membuat pembelaan. “Gue cinta sama Ify, dan Ify juga.”  

Gabriel tidak mau mendengar kalimat yang menyerupai kutukan itu. Ia membuang pandangannya jauh-jauh. “Gue bilang lo pergi.”

 Rio cukup tahu diri dengan tidak memberikan perlawanan. Tinjuan yang mencium wajahnya telah cukup untuk membuatnya tahu bahwa Gabriel bukan tandingannya dalam hal berkelahi. Meskipun untuk urusan Ify, ia yakin dirinya yang akan menang. Sembari memegangi pipinya yang berdenyut sakit, ia kemudian melipir pergi.  

Di ruangan itu hanya tertinggal Gabriel dan Ify. Keduanya kini saling berhadapan.  

“Dua hari kita ga ketemu. Aku cuma mau ngasih kita waktu untuk sama-sama berpikir. Tapi nyatanya, kita berdua ga mikir sama sekali. Aku yakin, waktu kamu ngelakuin hal itu tadi, kamu ga mikirin aku. Dan aku ke sini juga ga pakai mikir kalau aku bakalan lihat adegan kayak tadi,” ujar Gabriel dengan suara yang berat.  

“Kamu bisa jelasin sama aku soal yang tadi? Bisa ga? Atau semuanya emang udah jelas?” Gabriel melanjutkan.

   Ify menggeleng samar.  

“Aku sombong, Fy!  Yakin banget kalau kamu segitu cintanya sama aku. Yakin banget kalau kamu ga bakalan khianatin aku. Kenyataannya, sekarang hati kamu udah ga buat aku lagi,” pemuda itu mengeluh.

 Ify masih membisu.

 “Aku bisa maafin apa pun kesalahan kamu. Tapi untuk yang satu ini, aku ga bisa kompromi. Aku ga tahu lagi mau ngapain. Bisa jadi ini terakhir kalinya kita ketemu.”  

Gabriel mungkin tidak sepenuhnya menyadari apa yang baru saja meluncur dari mulutnya. Mungkin saja saat itu ia tengah ditunggangi emosi dan cemburu yang luar biasa. Tapi mungkin bisa jadi benar. Karena baginya perselingkuhan adalah kesalahan besar yang takkan bisa dimaafkannya. Berjuta kebaikan yang diberikan Ify untuknya, takkan cukup untuk menebus satu perselingkuhan yang dilakukannya.  

Gabriel memutar tubuhnya, saat Ify akhirnya berani berbicara. Satu kalimat bernada penyesalan. Kalimat yang tak seberapa panjang pula.  

“Tapi aku cinta sama kamu, Gab!” ujarnya patah-patah. Air matanya masih mengalir deras membelah pipi.  

“Mungkin kamu lupa kalau aku jauh lebih cinta sama kamu,” ujar Gabriel sebelum akhirnya pergi. Menghilang di balik pintu apartemen Ify.  

Saat itu Ify menyadari bahwa ia akan kehilangan seseorang terbaik dalam hidupnya, yang justru ia sia-siakan begitu saja. Ia akan menyesal seumur hidup.

***  

Rio pulang dengan babak belur. Wajahnya, dan hatinya. Malang sekali nasibnya. Tidak cukup ditolak Ify, harus pula ia dapatkan tinjuan di pipi.  

Pemuda itu kemudian mengerjap. Tunggu dulu. Tadi Ify tidak menolaknya. Justru gadis itu yang datang padanya dan memeluknya. Andai saja Gabriel tidak datang, apa coba yang bakalan dilakukan Ify selanjutnya? Sial sekali itu yang namanya Gabriel! Merusak momennya saja.  

Tapi bagaimana kalau pelukan itu ternyata pelukan perpisahan? Yang takkan Ify berikan untuk kedua kalinya karena mungkin setelah ini ia tidak akan pernah mau bertemu dengannya lagi. Kalau bisa, mungkin ia ingin melarikan diri ke luar angkasa.

 “Aww!” pemuda itu mengurut pipinya yang masih terus berdenyut. Kemudian teringat suatu kali pernah Ify mengobati lukanya. Suatu malam ketika ia pulang sehabis kecelakaan karena menyetir dalam keadaan mabuk. Andai Ify sekarang juga ada di sini. Mengompres pipinya yang bengkak.  Lagi-lagi berharap. Rio mengumpat dalam hati.  

Dering ponsel yang menyalak dari atas meja membuat Rio terperanjat. Dengan gerakan yang tak secepat biasanya, ia meraih ponsel itu. Kemudian membelalak ketika sebuah nama muncul di layar ponselnya. Sivia? Ragu ia menerima panggilan itu.

 “Halo,” ucap Rio pelan.  

Dari sebrang sana, terdengar sebuah isakan. Sivia menangis? Sivia menangis dan meneleponnya?  

“Yo, kita bisa ketemu ga?” tanya Sivia.  

Rio tertegun sejenak. Ada apa tiba-tiba Sivia ingin bertemu dengannya? Aneh sekali. Setelah beberapa hari yang lalu Sivia mengundangnya ke pesta ulang tahunnya, sekarang dia menangis dan minta bertemu. Maksudnya apa? Kode-kode ia ingin balikan dengannya? Maaf-maaf saja ya! Rio tidak mudah digoda.  

“Yo, please! Gue mau ketemu sama lo. Di club biasa ya! Gue pingin senang-senang. Cuma lo yang gue tahu bisa menyenangkan gue,” pinta Sivia.

 Rio mencibir. Apa coba pakai gombal segala. Kemarin ke mana saja? Kalau cuma Rio yang bisa menyenangkan, mengapa dulu dia meninggalkannya dan memilih bersama si Deva itu? Rio yakin saat ini Sivia sedang bermasalah dengan Deva, makanya gadis itu mencarinya.  

“Halo, Yo! Lo dengar gue, kan?”  

Kegalauan akhirnya membuat Rio tergoda juga untuk menuruti permintaan Sivia. Dipikir-pikir, buat apa juga dia menggalau sendiri di apartemennya. Memikirkan Ify yang jelas-jelas tidak peduli padanya. Sivia mungkin telah sadar bahwa Rio adalah yang terbaik untuknya. Mungkin dia menyesal telah meninggalkannya. Jadi, mari kita coba.

 “On the way ya,” ujar Rio sebelum memutus panggilannya.

 Rio tidak tahu bahwa ia baru saja masuk ke kandang ular paling berbisa.

***

Tidak Butuh Judul [14]


“Kamu oke?”  Gabriel menyadari bahwa ada yang berubah dengan gadisnya. Entah sejak kapan, namun Ify kini lebih sering didapatinya tengah termenung. Entah sedang memikirkan apa. Seakan seluruh masalah yang ada di muka bumi ini dibebankan padanya.

 Sore ini, di perjalanan pulang selepas berbelanja dari sebuah mall, Gabriel mencoba memberanikan diri untuk bertanya. Ia mengusap punggung tangan Ify.

 Ify nampak terkesiap. Sontak ia melirik Gabriel, tersenyum tipis. “Aku baik-baik aja.”  

Berbekal rasa percaya dan pengalaman bahwa Ify tidak pernah menyembunyikan apa pun darinya, Gabriel menganggukkan kepala. Mungkin memang semuanya baik-baik saja. Ia mungkin hanya terlalu khawatir.

 Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan ternyata. Gabriel mengendus sesuatu yang tidak beres dengan Ify. Dan ia meyakini perubahan sikap Ify ada hubungannya dengan lelaki yang ia temui di parkiran apartemen Ify tadi, Rio.  

Bukan hanya satu atau dua kali. Berkali-kali Gabriel menangkap perubahan ekspresi Ify ketika tidak sengaja mereka bertemu dengan Rio. Ify selalu ingin cepat-cepat pergi. Sebisa mungkin ia menghindar agar tidak terlalu lama bersama Rio.  

Dan Rio, yang ia pikir akan menjadi teman baiknya ternyata tidak. Rio selalu menatap Gabriel dengan tajam, seakan mereka adalah musuh lama dan ia menyimpan dendam padanya. Pemuda itu juga tidak pernah membalas sapaannya. Bahkan tersenyum pun tidak. Ia hanya akan mendelik dan kemudian melengos pergi.  

Entah seperti apa hubungan Ify dan Rio sesungguhnya. Gabriel belum mau bertindak lebih jauh. Ia masih menunggu. Mungkin memang belum saatnya ia harus tahu.

 “Kita langsung pulang ya! Aku capek  mau istirahat,” ujar Ify.

 Capek yang dirasakan Ify mungkin lebih kepada batinnya. Bagaimana ia begitu tersiksa karena setiap saat bayang-bayang Rio selalu berkelebat jatuh di otaknya. Seperti hantu, pemuda itu membuat hidup Ify sama sekali tidak tenang. Sialnya, setelah kejadian malam itu, ia jadi lebih sering bertemu Rio secara tidak sengaja. Ia bertemu Rio saat tengah bersama Gabriel. Sebisa mungkin ia menyembunyikan semuanya. Berlari dan menghindar dari pemuda itu.  Sekarang ia butuh istirahat. Mungkin sampai besok. Ia butuh banyak energi untuk berpura-pura tidak terjadi apa pun esok di pesta ulang tahun Sivia. Berkat berpacaran dengan Gabriel, Ify diundang ke pesta ulang tahun perempuan sombong itu. Entah ia harus beryukur atau tidak untuk itu.

***  

Kalau bukan karena Gabriel, demi langit dan bumi Ify tidak akan pernah sudi menghadiri pesta ulang tahun Sivia. Untuk beberapa jam kemudian, Ify harus berpura-pura bahagia di sana. Sebuah pesta meriah yang diadakan di ballroom hotel bintang lima, dipandu mc kondang papan atas ibukota, serta mengundang penyanyi hits yang lagunya hampir setiap saat diputar di banyak radio.  

Selain karena ini pesta Sivia, ada beberapa hal yang membuat Ify sangat tidak nyaman berada di sana. Seseorang dengan kemeja putih di ujung sana membuatnya merasa tidak aman. Sedari tadi ia menatap Ify dengan banyak arti.  

Orang itu adalah Rio. Entah apa tujuan Sivia mengundang mantan kekasihnya itu. Mungkin ingin menjalin silaturahmi yang sebelumnya terputus, atau jutsru ingin menunjukkan pada mantannya bahwa ia lebih bahagia dan bersinar dengan kekasih barunya. Bukannya berburuk sangka, tapi mungkin alasan kedualah yang mendasari Sivia untuk turut mengundang Rio datang ke pesta ulang tahunnya yang kedua puluh.

 “Aku ke toilet dulu ya, Gab!” pamit Ify. Sebelum pergi, ia sempatkan menepuk bahu Gabriel.

 Toilet adalah tempat yang dipilih Ify untuk melarikan diri. Untuk mengumpulkan segenap kekuatan yang bisa membuatnya lebih lama bertahan, sebelum nanti mungkin ia merengek minta pulang duluan.

 Ify melihat pantulan dirinya dalam cermin. Dalam balutan gaun berwarna biru serta pulasan make up, ia nampak berbeda. Gadis itu menelan ludah. Apa yang sebenarnya dilihat Rio darinya? Untuk urusan cantik, lebih banyak perempuan cantik di luar sana, yang bahkan tak usah ia kejar datang menggilainya. Bahkan dengan penampilannya malam ini, ia merasa tidak lebih cantik dari semua orang yang hadir detik ini, teman-teman Sivia yang populer. Apalagi dibandingkan dengan Sivia. Mungkin seperti pohon beringin dan bonsai. Sivia menjulang menantang langit, dan dirinya meringkuk dalam pot.  

Ify merasa terlalu lama ia berada di toilet. Ia harus segera kembali. Gadis itu bergegas keluar.

 Ify hampir tersandung ketika ia menemukan Rio tengah menghadangnya. Pemuda itu menatap Ify seperti anak kecil yang tengah memelas pada ibunya meminta dibelikan mainan.  “Lo cantik banget malam ini,” cicit Rio.  

Ify ingin membalas pujian itu dan mengatakan bahwa malam ini Rio juga tampan. Meskipun tidak memakai jas seperti kebanyakan lelaki yang hadir, meskipun hanya kemeja polos yang menempel di tubuhnya, tetap tak mampu menyamarkan ketampanan pemuda itu. Tapi kemudian Ify mengerjap. Dia yang ada di hadapannya mungkin setampan putra raja, tapi Ify harus ingat bahwa sudah ada yang merajai hatinya.  

“Permisi, Kak! Aku mau lewat,” ucap Ify.

 Rio tidak mau menyingkir. Pemuda itu malah maju dan meraih tangan Ify, digenggamnya kuat-kuat tangan itu. Tak berniat sedikit pun melepaskan.  

Ify mengaduh kesakitan. Ia berusaha untuk membebaskan tangannya. Tapi cengkraman Rio terlalu kuat. Sempat ia berniat berteriak meminta tolong, tapi niat itu diurungkannya karena tidak ingin membuat kegaduhan di pesta orang. Pesta Sivia pula. Cari mati itu namanya.  

“Lepasin aku, Kak!” lirih Ify meminta.

 “Gue ga bakalan lepasin lo. Ikut gue, Fy!” desis Rio.

 Ify hampir menyerah saat tiba-tiba Gabriel datang dan merangsek mendorong Rio hingga membentur tembok.

 Tanpa berkata apa pun, Gabriel langsung membawa Ify pergi dari hotel itu. Meninggalkan pesta yang baru berlangsung setengahnya.

***

 Gabriel masih belum mau bersuara. Di balik setirnya, ia mengunci rapat mulutnya. Masih bergelut dengan hatinya yang tidak terima. Apa yang dilihatnya tadi sukses membuat dadanya sesak.

 Seseorang telah menggenggam tangan itu. Tangan yang sangat mahir menggambar wajahnya. Tangan yang membuatkannya brownies paling enak seluruh dunia. Tangan yang memeluknya erat.  Dan Gabriel sempat melihatnya. Bagaimana Ify menatap lelaki itu dalam dan tenang. Potongan-potongan puzzle mengenai hubungan Ify dan Rio yang sesungguhnya pun kini mulai tersusun.  

Gabriel belum mau meledak. Ia sudah dewasa dan bukan lagi remaja tanggung yang akan bertingkah drama ketika memergoki gadisnya besama lelaki lain. Ia mau mendengarkan penjelasan Ify.

 “Jadi gimana, Fy?” kalimat itulah yang muncul memecah keheningan yang pekat menyelimuti seisi mobil.  

Ify meringkuk. Mencari jawaban tepat yang takkan membuat Gabriel marah. Ia mengira-ngira sejak kapan Gabriel ada di sana. Mengamati apa yang sebenarnya terjadi. Gadis itu pun mengingat-ingat bahwa tadi ia tidak meladeni Rio.

 “Ga ada,” ucap Ify singkat. Karena memang tidak ada apa-apa antara dirinya dan Rio. Rionya saja yang selalu mengada-ngada.

 Gabriel tidak puas dengan jawaban itu. Jawaban yang sama sekali tidak menjelaskan semua yang harusnya sudah jelas.

 “Aku dan kamu udah sama-sama dewasa. Orang dewasa kadang ga sejujur anak kecil. Tapi kali ini aku minta sama kamu untuk jujur. Please!”

 Ify menggeleng samar. Jujur? Ia harus jujur bahwa selama Gabriel tidak ada, Rio selalu membuntutinya ke mana-mana? Ia harus jujur bahwa hampir setiap malam ia insomnia karena kehadiran Gabriel memaksanya untuk menghindari Rio? Ia harus jujur bahwa ternyata ia juga memiliki perasaan yang sama dengan Rio? Oh jangan gila!  

“Ga ada,” lagi-lagi jawaban itu yang keluar dari mulutnya. Ify tidak akan bisa jujur karena hal itu akan melukai Gabriel. Ify tidak akan mampu menjadi jahat untuk Gabriel meskipun kenyataannya sudah. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Terisak di sana.

***  

Ify berjalan menuju kamarnya seperti zombie. Untuk kali pertama, Gabriel tidak mengantarnya hingga kamar. Ia menurunkan Ify di depan. Bahkan ia tidak turun dari mobilnya.  

Sebelum keluar dari mobil, Gabriel sempat berkata. Sesuatu yang membuat Ify sakit.  

“Kita ga usah ketemu dulu ya! Kamu butuh waktu untuk berpikir. Aku juga.” Gabriel menghela napas panjang. “Kamu jangan lupa kalau aku cinta sama kamu.”  

Tidak ada pertengkaran dashyat yang terjadi. Tidak tercipta percekcokan hebat tadi. Tapi Ify tahu Gabriel telah mengibarkan bendera perang padanya. Perang tanpa senjata yang justru mampu melumpuhkannya.

 Ify bisa menjalani hari-harinya jauh dari Gabriel, dibentang jarak dan waktu. Namun selama itu, Gabriel tidak pernah hilang. Dia selalu hadir. Kini, jarak dan waktu bukan masalah baginya. Sekarang, dirinyalah yang menjadi masalah.

***

Rabu, 01 Februari 2017

Tidak Butuh Judul [13]


Kehadiran Gabriel benar-benar menambah semangat untuk Ify. Pagi-pagi Gabriel akan datang ke apartemennya, sarapan nasi goreng buatan Ify atau roti selai coklat. Untuk roti dan selai, Ify dan Gabriel harus berdebat terlebih dahulu karena perbedaan selera antara mereka. Gabriel tidak suka selai nanas karena aromanya yang tidak enak. Sementara itu Ify sangat menyukai selai nanas.  Dan untuk menghormati pendapat masing-masing, akhirnya mereka memilih selai coklat sebagai jalan keluar.  

Gabriel kemudian akan mengantarnya ke kampus, membuat semua teman-teman yang membullynya diam karena ternyata Ify punya pacar sekeren itu. Gabriel juga dikenalkan pada Alvin, supaya dia tahu bahwa dia tidak perlu khawatir meninggalkan Ify, karena akan selalu ada Alvin yang setia menemaninya.

Jam makan siang Gabriel akan datang ke kampus untuk makan siang bersama Ify di kantin kampus. Kalau sudah tidak ada lagi kuliah, mereka akan makan siang di luar. Kadang Alvin ikut bersama mereka, tapi lebih sering tidak karena ia tahu diri dan tidak mau mengganggu Ify dan kekasihnya.  

Sore setelah urusan perkuliahannya selesai, Ify akan mengajak Gabriel menonton di bioskop. Atau kalau sedang tidak ada film yang bagus, mereka akan menonton film-film Disney di apartemen Ify atau kadang juga di rumah Deva.

 Hari itu kebetulan Ify dan Gabriel tengah menonton Pocahontas di rumah Deva saat si pemilik rumah tiba-tiba datang. Ia tak sendirian. Seorang perempuan cantik menggelayut manja di sampingnya.

 Ify tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat dia mengetahui bahwa Sivia adalah perempuan itu. Ia mengangguk samar. Pantas saja ia merasa pernah bertemu dengan Deva sebelumnya. Ternyata Deva pacarnya Sivia. Seseorang yang telah merebut Sivia dari Rio dan membuat pemuda itu hancur sampai hampir mati malam itu. Ify terkesiap. Kok ia jadi memikirkan Rio ya?  

“Gab, Fy, kenalin. Sivia, pacar gue!” ujar Deva memperkenalkan perempuan di sampingnya. “Dan Sivia, ini sepupu aku, Gabriel. Dan pacarnya, Ify.”  

Sivia menyalami Gabriel dan Ify satu persatu. Agak kaget bertemu dengan Ify di sana. Lebih kaget lagi dan cenderung tidak percaya ketika mengetahui bahwa Ify adalah kekasih sepupunya Deva yang kata Deva kuliah di Paris.

 “Aku udah kenal kok sama Ify. Dia adik tingkat aku. Iya kan, Fy?” Sivia melirik Ify, meminta dukungan. Gadis itu tersenyum penuh arti. Bibirnya yang berwarna merah darah merekah dengan sempurna.  

“I-iya Kak Sivia,” ujar Ify dengan agak terbata. Gadis itu merasa canggung harus beramah tamah dengan Sivia, mengingat bagaimana dulu kakak tingkatnya itu bersikap sangat tidak baik padanya, bahkan sampai mengatainya pembantu. Gadis itu mengeluh dalam hati.

 “Kalian lagi nonton apa sih?” tanya Deva kemudian duduk di sofa, di samping Gabriel.

 “Pocahontas. Hehe.” Gabriel terkekeh.

 “Kayak bocah deh kalian! Tapi bolehlah kita ikutan,” Deva melirik Sivia. Perempuan itu tersenyum.  

“Biar nontonnya makin seru, aku bikinin es jeruk gimana?” tanya Ify.

 “Boleh,” kata Gabriel yang diamini oleh Deva.

 Ify mengangguk kemudian melipir pergi ke dapur. Yang ternyata juga diikuti oleh Sivia.

 Ify mengeluarkan beberapa buah jeruk peras dan sebotol air dingin dari dalam kulkas. Lalu ia mengambil empat gelas dari rak. Dengan cekatan ia mulai memeras jeruk tadi. Ia belum menyadari bahwa Sivia ada di belakangnya. Berdiri di dekat kulkas.

 “Gue pikir lo pacaran sama Rio,” celetuk Sivia yang hampir membuat Ify menjatuhkan botol berisi air dingin yang ada di tangannya. Gadis itu hendak menuangkan air ke dalam gelas berisi perasan jeruk.

 Ify melirik Sivia sekilas kemudian melanjutkan pekerjaannya. Ia mengeluh dalam hati. Kok Sivia berpikiran seperti itu sih? Memangnya sedekat apa hubungannya dengan Rio di matanya?  “Enggak kok, Kak! Aku udah sama Gabriel dari dulu,” ujar Ify. Sekarang ia tengah mengaduk es jeruk buatannya.  

“Bagus deh! Lo ga pantes sama Rio. Gue juga heran kok lo bisa dapat pacar sekeren Gabriel.” Sivia mengetukkan jarinya di dagu, berpura-pura berpikir. “Oh mungkin dulu Gabriel masih cupu. Makanya mau sama lo.”

 Ify meneguk ludah. Ia menahan diri untuk tidak menyiramkan jus jeruk buatannya pada wajah Sivia yang berpulaskan make up tebal itu. Meskipun ucapan perempuan itu menyakiti hatinya. Maksudnya apa coba ia tidak pantas bersama Rio? Cinta kan bukan soal masalah pantas atau tidak. Kalau sudah saling mencintai, batas kepantasan itu sudah tidak ada lagi. Dan asal tahu saja ya, Gabriel itu tidak pernah tidak keren! Sejak kali pertama ia mengenal pemuda itu, dia sudah keren. Sampai sekarang dia selalu keren. Dia keren permanen! Ify menggertakan rahangnya. Kesal juga pada Sivia. Lebih kesal pada dirinya. Jadi dia pilih Rio atau Gabriel sih?

 Tanpa perasaan bersalah, Sivia mengambil dua gelas es jeruk buatan Ify. Kemudian membawanya pergi. Tanpa permisi atau seutas kata terimakasih.

Ify mengulum bibirnya sebal. Sabar, Ify! Kamu sekarang sedang menumpang di rumah pacarnya nenek sihir itu. Jangan bertingkah bodoh! Nanti Gabriel malu lagi punya pacar sepertimu.  

Setelah menenangkan diri, Ify membawa dua gelas es jeruk yang tertinggal dan pergi dari dapur. Ia berharap mood menontonnya tidak rusak oleh kehadiran si nenek sihir itu. Hup!

***  

Semenjak pertemuannya dengan Sivia di rumah Deva waktu  itu, Ify selalu mencari alasan untuk tidak kembali ke sana. Ia tidak mau lagi berhubungan dengan perempuan bermulut pedas itu. Ify selalu meminta apa pun dilaksanakan di apartemennya saja. Untungnya, Gabriel tidak curiga dan menuruti kemauan Ify.  

Sepuluh menit yang lalu Ify dan Gabriel menyelesaikan film Frozen. Entah mengapa, berkali-kali menonton film yang sama, tak membuat Ify dan Gabriel bosan. Selalu menyenangkan menonton tingkah bodoh dan konyol Anna serta Olaf si manusia salju.  

Omong-omong soal Frozen, Gabriel jadi teringat sesuatu. “Eh kamu masih ngegambar ga sih? Kangen aku digambarin sama kamu,” celetuk Gabriel.  

Ify mendesah samar. Ia mengambil sesuatu dari dalam lemari kaca di  dekat pintu kamarnya. Dengan merengut, gadis itu menyerahkan apa yang baru diambilnya pada Gabriel.

 Gabriel bergidik ngeri ketika menerima sebuah buku sketsa yang kotor dan rusak. Ia melirik tajam pada Ify. Ini bukannya buku sketsa yang pernah dihadiahkannya untuk Ify?  

“Maaf ya, Gab! Bukunya rusak. Waktu itu ga sengaja masuk tong sampah,” ucap Ify dengan nada menyesal.

 Gabriel mengeluh tertahan. Ia kemudian membuka buku tersebut. Meskipun bercak kecoklatan nampak mengotori hampir setengah dari jumlah halaman buku itu, tapi Gabriel tahu persis bahwa kebanyakan gambar yang ada di sana adalah gambar dirinya. Ia tersenyum.  “Bukunya buat aku ya! Aku suka! Banyak akunya soalnya.” Gabriel terkekeh pelan.  

“Tapi itu udah rusak gitu, Gab! Nanti deh aku bikinin lagi yang lebih bagus.”  

“Ini juga udah bagus. Ga apa. Nanti bukunya aku beli yang baru buat kamu, terus kamu gambar aku lagi deh. Tapi nanti ga pake ada coklat-coklatnya gini.”  

Ify mencubit lengan Gabriel. “Kamu nih emang paling bisa.”

 Gabriel membalas Ify dengan mencubit pipi gadis itu yang terlalu menggemaskan di matanya.  

Ify mengaduh kesakitan, namun kemudian ia tertawa. Bahagia sekali memiliki Gabriel yang tidak pernah marah atas kesalahannya. Lelaki lain mungkin akan marah atau lebih parah lagi, kecewa kalau hadiah pemberiannya tidak dijaga dengan baik. Tapi Gabriel tidak. Baginya, semua yang telah ia berikan sudah menjadi hak Ify. Mau diapakan juga terserah saja. Dan buku sketsa yang hampir hancur itu justru membuat hati Gabriel berbunga. Bercak coklat tak mampu menghapus goresan indah tangan Ify melukis wajahnya.  

Sayangnya, Gabriel tidak tahu bahwa bukan hanya buku sketsa itu yang tidak bisa dijaga Ify. Gadis itu juga telah gagal menjaga hatinya. Ia biarkan hatinya disentuh lelaki lain. Ia buat dirinya bingung hatinya untuk siapa. Bahkan ketika dirinya sedang bersama Gabriel, seringkali terlintas di benaknya lelaki itu. Lelaki yang telah membuat  buku sketsanya rusak. Ia berharap bahwa hubungannya dengan Gabriel tidak turut rusak oleh lelaki itu.

***

 Rio tidak punya teman untuk dijadikannya konsultan. Makanya ia merancang rencananya sendirian. Ia tidak bisa terus-terusan bersembunyi dan menikmati kesakitannya sendiri. Ify harus tahu karena dialah penyebab semuanya.

 Rio sudah tahu situasi di luar sana telah aman. Musuhnya telah pergi sejak satu jam yang lalu. Dengan senjata di tangannya -sebuah kotak beledu yang harusnya sejak dulu sudah ia berikan pada Ify, ia melangkah percaya diri. Menekan bel kamar Ify.

 Tak butuh waktu lama, Ify membuka pintu. Terlihat sekali raut wajah terkejut gadis itu. Ia meneguk ludah. Terbata-bata bertanya, “Ada apa, Kak?”  

Rio menyerahkan kotak beledu yang dibawanya pada Ify, senjatanya yang pertama. Tanpa permisi ia melintasi Ify dan masuk ke dalam, tempat eksekusinya malam ini.

 Ify terkesiap ketika Rio berjalan masuk ke apartemennya. Ia terburu menutup pintu dan berjalan mengikuti Rio. Dalam hati takut juga Rio akan berbuat macam-macam.  

Dengan gerakan yang sama sekali tak terbaca, Rio memutar tubuhnya. Kini ia menghadap Ify. Ia menatap Ify dalam-dalam. Bersiaplah untuk senjata berikutnya, Ify! Rio menarik pelatuknya. Anak panah itu siap meninggalkan busurnya.  

“Gue sayang sama lo,” ujar Rio. Langsung dan tepat sasaran.  

Ify tidak pernah mempersiapkan diri untuk ini. Gadis itu membuka mulutnya. Gelagapan mencari kata-kata namun tak ia temukan jua.  

“Gue sayang sama lo dan gue ga peduli sama Gabriel,” lanjut Rio.  

Ify menggelengkan kepala. Tanpa sadar ia melangkah mundur, menjauhi Rio. Harusnya tidak begini.  

Langkah Rio lebih besar dan lebih cepat. Ia berhasil meraih bahu Ify. Digenggamnya kuat-kuat bahu yang mulai mengejang itu. Ditumpahkannya segala isi hatinya tepat di depan wajah gadis itu. Dia harus tahu.  “Ga ada yang gue peduliin lagi sekarang selain lo, Fy! Gue sayang sama lo!”  

Sekuat tenaga Ify menghempaskan tangan Rio yang ada di bahunya. Ia menggeleng samar. Menampik segalanya. “Harusnya ga gitu, Kak! Dalam hati aku udah ga ada siapa-siapa lagi selain Gabriel.” Ify menggigit bibirnya, hal yang biasa ia lakukan ketika ia berbohong. Sepenuhnya ia menyadari apa yang baru saja meluncur dari mulutnya adalah sebuah kebohongan. Karena telah ia ketahui bahwa juga ada Rio di sana. Bersembunyi di ruang gelap dalam hatinya. Tak seorang pun yang tahu kecuali dirinya.

 Rio tidak bisa terima. Seumur hidupnya, hanya sekali ia mendapat penolakan yaitu dari Sivia. Harusnya tidak pernah ada hitungan setelahnya. “Jangan bohong, Fy! Lo juga sayang sama gue, kan?” tanya Rio dengan penuh percaya diri. Mungkin ia merasa dirinya seorang Cassanova sampai-sampai semua orang mustahil untuk tidak menggilainya.  

Rio memang bukan Cassanova. Bagi Ify, Rio adalah lelaki biasa yang diberi kelebihan fisik dan harta. Kelebihan yang tidak pernah dilihat Ify. Yang Ify lihat dari Rio selama ini justru adalah segala kelemahan dan kekurangan pemuda itu. Sifat sombongnya, sikap seenak perutnya, tingkah konyolnya, celetukkan menyebalkannya. Yang sialnya semua itu justru membuat Ify ingin berada di samping Rio, untuk berjalan bersama menuju sesuatu yang lebih baik. Ify mendesah samar. Menghela napas berat.  

“Enggak, Kak,” ujar Ify singkat.  

Rio frustasi dibuatnya. Pemuda itu menghentakkan kakinya ke lantai. “Terus maksud kebaikan lo selama ini apa? Lo mainin gue?” tanya Rio dengan nada yang mulai meninggi.  

“Kalau Alvin atau siapa pun yang ada di posisi Kakak, aku juga bakalan bantu.”  

Rio mengumpat dirinya sendiri dalam hati. Ia lupa bahwa Ify tidak sepertinya. Ify adalah perempuan baik yang senantiasa menolong orang lain. Dirinya saja yang kegeeran menanggapi segala bentuk kebaikan gadis itu. Oh sial!  

Sekali lagi Ify menggigit bibirnya. Ia lagi-lagi berbohong. Mungkin ia akan mengusir Alvin kalau sahabatnya itu selalu merecokinya di dapur. Mungkin juga ia tidak akan mau diajak ke luar kota dalam keadaan belum mandi. Dan mungkin kalau Rio yang ada di rumah sakit kala itu, kemudian Alvin meneleponnya, ia akan meminta Alvin untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Mengapa? Karena ya itu adalah Rio.  

“Gue sayang sama lo, Fy!” ujar Rio sekali lagi, ia masih belum mau menyerah.  

“Tapi aku enggak,” ujar Ify dengan wajah datar.   

Setelah itu, Rio tidak mau mencoba lagi. Mungkin ia harus berlapang dada dan menerima kenyataan bahwa hidup juga berisi penolakan. Pemuda itu mengangkat tangannya ke udara, tanda menyerah. Ia memutuskan untuk melakukan gencatan senjata. Tanpa sepatah kata pun, ia meninggalkan tempat itu. Medan perang yang telah membuatnya menyerah dan kalah.  

Ify menatapi punggung Rio yang perlahan menjauh. Tanpa sadar sedari tadi mendekap kotak beledu yang diberikan pemuda itu. Satu-satunya hal tentangnya yang masih bisa Ify raih. Karena malam itu Ify tahu, ia telah melepaskan sesuatu yang belum sempat ia genggam. Cintanya yang salah.

***

Selasa, 06 Desember 2016

Tidak Butuh Judul [10]


Ify diculik. Setidaknya begitulah yang dirasakan Ify ketika pagi tadi Rio tiba-tiba menggertaknya untuk ikut bersamanya. Ify tidak diberikan kesempatan untuk mandi terlebih dahulu. Rio meminta Ify untuk segera berkemas, membawa beberapa baju serta peralatan menginap lain. Alhasil, masih dengan piama bunga-bunganya, Ify tertidur pulas dalam mobil, sementara Rio menyetir seraya berbusa-busa menjelaskan rencana kejutannya untuk sang mama.

Jumat, 18 Mei 2012

Patton Otlivio Latupeirissa



Halo teman-teman! Tahukah kalian siapa big idol saya? Bukan. Bukan Denu. Mentang-mentang badannya buntel *eh.Yang udah kenal saya pasti tahulah siapa idola sejati saya seluruh dunia (?).Ya. Patton Otlivio Latupeirissa. Saya seorang Patton Banget. Itu sebabnya akun facebook saya ‘SintaBanget’. Add ya :p

Pada kesempatan yang berbahagia sejahtera aman sentosa (?) kali ini, saya akan coret-coret tentang Patton :)

Patton Otlivio Latupeirissa. Anak bungsu dari pasangan Om Adolf Latupeirissa dan Mama Merry #gilaguesokakrab. Dia memiliki 2 kakak laki-laki dan 1 kakak perempuan.Yaitu, Kak Adrisa Senda Latuperissa, Kak Sandy Latuperissa, satu lagi lupa *plakk

Patton lahir di Makassar, tanggal 29 oktober 1998. Dia merupakan runner up idola cilik 2. Yang membuat saya tergila-gila pada ini bocah satu, bukan hanya karena suaranya yang memang luar biasa. Tapi dia juga pintar dan pantang menyerah. Tahu ga perjalanan dia untuk mencapai titik ini? Yang ga tahu kamseupay kaya kumis pak Somad *eh

Cerita dikit boleh ya! Patton awalnya ikut audisi idola cilik 1, tapi sayang ga lolos. Terus dia juga ikut audisi Afi junior, ga lolos juga -___-. Dan ternyata, Tuhan punya rencana lain. Saat dia mau pulang ke kota asalnya; Makassar, dia –entah bagaimana ceritanya- diminta menyanyi di depan petinggi yayasan Pasiad Turki. Dia nyanyi baguuuuuussss banget seluruh dunia. Dan akhirnya, dia diberi beasiswa untuk sekolah di sekolah pribadi Turki tersebut. Dia tinggal di asrama.Mama Merry balik ke Makassar.

Dan akhirnya, dia ikut idola cilik 2. Lolos hingga dia berhasil jadi juara ke dua ajang idola cilik.

Usai dari idola cilik, Patton diundang di berbagai acara. Debat calon  presiden. Panasonic gobel award.  Terus acara waktu om MJ (?) meninggal (nyanyi sama Angel dan Gita Gutawa). Happy song (menang sampe duel). Dahsyat. Bonar sang pendongeng (dua kali. Jadi Jaka, sama pacarnya Fallery). Bombastis (dia menang pas ini, sama Obiet) Banyak deh .-.

Di idola cilik, Patton juga tergabung dalam icil divo bersama Gabriel, Cakka, Rio, Alvin, Debo, Irsyad, dan Kiki.

Selain bernyanyi, Patton juga pernah mengisi suara dalam film Meraih Mimpi bareng Gita Gutawa sama Om Indra Bekti. Dia jadi Ray. Patton juga ikut ambil bagian dalam film project Langit Biru bersama Ratnakanya, Brandon IMB, dan Jeje Soekarno (Bukan adeknyaIbu Megawati, tapi adeknya Ricky Harun). Patton berperan jadi Jason, pemeran antagonis, tukang ngebully. Klop sama sifat saya di sekolah *eh

Patton juga pernah jadi presenter di acara koreografi di global tv. Tiap minggu, saya ga pernah kelewatan nonton dia! PB sejati kan namanya juga.

Oh iya, Patton juga pernah bergabung dengan Musikal Laskar Pelangi. MLP pertama dia berperan sebagai Lintang. Bocah jenius yang suka dicegat buaya -___-. MLP kedua (MLP paling nyesek seluruh dunia buat saya, saya gagal nonton), Patton berperan menjadi Mahar, seniman Belitong. Tapi sayang, MLP Dufan Patton ga ikut. Dia harus mengikuti pertukaran pelajar selama 3 bulan di Turki. Apes. Giliran saya nonton, dia kaga ada -_____-

Dan ini dia, beberapa foto Patton.

 Wihhh,,, adek saya! wkwkw
 Ini Patton waktu duet sama Om Tompi. Lagu Menghujam jantungku. Om Tompi pernah bilang di twitter, kalau sampai sekarang, hanya Patton yang dapat menyanyikan lagu itu dengan berhasil dan gayanya sendiri. Good job!
 Patton bareng Zahra, Angel dan Lintar.
 Mereka kaya tiga bersaudara ya?
 Anak idola cilik yang main di MLP 1. Patton, Bastian, Shilla, dan Gabriel.
 Adek belajar gitar.

 Artikel adek di salah satu majalah.
 Patton waktu jadi Mahar.
 Patton Banget. Nama fans clubnya.
 Beneran udah kaya adik kakak.
 Ini di vc Bersatulah indonesia.
 Patton waktu jadi Jaka di Bonar Sang pendongeng.
 Bareng temen-temen MLP
 Lintang
 Lintang lagi!

 Maguc. Haha
 -_____-
 Bareng temen-temen MLP lagi!
 Filmnya Patton.