Ketika genggaman tangan mengendur, sang masa lalu mulai mengabur. Dan kenangan lamat-lamat terkubur.
***
Sivia mengemasi barang-barangnya ke dalam kardus. Persiapan sebelum kepindahannya lusa nanti. Ia akan segera kembali ke kota tersayangnya. Mengorek masa lalu yang telah raip dari ingatannya. Ia hendak menemukan siapa sebenarnya dirinya. Karena semenjak ia terbebas dari tumor ganas menyebalkan itu, ia merasa ada yang hilang dari dirinya, entah apa.
Cakka, pemuda yang diam-diam mencintai Sivia itu setia menemani Sivia. Membantu berkemas. Dan mendengarkan semua ocehan gadis itu. Kebanyakan Sivia membicarakan sekolah. Ya, ia tak sabar untuk kembali ke sekolah. Setahun lamanya ia terpaksa menjalani home schooling. Tidak ada teman. Tidak ada jajan di kantin. Tidak ada pemilihan ketua OSIS. Tidak ada pensi. Hanya ada guru yang setiap harinya bergantian menyambangi apartementnya. Sivia bosan.
Sebenarnya, Cakka sedikit terganggu dengan topik pembicaraan yang dipilih Sivia. Melulu tentang kepindahan mereka. Ah, nyatanya ia memang masih enggan kembali ke kota tersayangnya. Bukan. Bukan ia tidak merindukan sahabat-sahabatnya di sana. Tapi, karena ia terlalu berat untuk menjejakan kaki di atas pijak di mana masa lalunya pernah ia onggok sampai mati. Ia tak mau masa lalu itu berbalik memburunya. Menjebaknya seumur hidup. Sehingga pengasingan dirinya dalam waktu yang cukup lama akan berbuah sia-sia. Jadi, untuk apa selama ini ia melarikan diri? Kalau pada akhirnya, ia akan terjerat perangkap dari masa lalu?