HUJAN

Tampilkan postingan dengan label HUJAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HUJAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Februari 2013

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 25A




Aku menghempaskan tubuhku ke atas kursi. Mendesah dan melirik kursi di sebelahku. Kosong. Kemana pula gadis itu? Bukankah dia tak pernah terlambat? Ck. Aku  berdecak. Baru sadar, penghuni tetap kursi itu telah pergi. Kemarin. Aku mengulum bibir.
"Hey! Kenapa?" tanya Gabriel. Ia baru

Minggu, 26 Agustus 2012

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 24



Satu hari menuju kepindahan Keke. Semua semakin aneh saja. Keke yang belum mau menceritakan penyebab mengapa ia berubah menarik dirinya dari dunia luar. Hanya sekolah, setelah itu tak ada lagi. Keke menolak Gabriel yang memintanya untuk kembali aktif dalam kegiatan ekskul musik. Sebaliknya, ia juga tak membiarkan dunia luar menjamah harinya. Aku, Gabriel dan Agni yang hampir setiap hari mengunjungi rumahnya tak pernah ia temui. Meminta sang mama atau pembantunya untuk mengusir lembut kami. Ia tak ingin diganggu. Ia hanya ingin sendiri saat ini.

Begitu pun saat tadi siang ketika ia pulang sekolah.

Jumat, 17 Agustus 2012

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 23



Keke baru saja menjejakkan kaki di rumah. Gadis manis itu langsung dikejutkan oleh suara isakan yang terhantar udara dari salah satu ruangan dengan pintu yang setengah terbuka. Ia mendesah. Ini bukan kali pertama. Telah banyak isakan yang tercipta di rumah mewah itu. dan salah seorang yang rutin menciptakan isakan menyedihkan itu adalah orang yang sama dengan orang yang kini tengah menangis sendirian di dalam ruangan bercahaya remang. Keke masuk dan menghampiri pemilik tangis teriris itu. Wanita hebat yang telah membantunya untuk hadir dan menikmati bagaimana mengagumkannya hidup. Keke duduk di samping wanita sendu itu. Mengatakan “Mama” pelan.

            Wanita yang dipanggil oleh Keke dengan

Kamis, 22 Maret 2012

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 22



“Makasih ya buat malam ini, Putri Pelangi.” kata Gabriel. Berbinar-binar menatapku.

Aku tersenyum. Menganggukkan kepala. Lantas tanpa terduga mendekap tubuh tegap Gabriel. Membisikkan sesuatu tepat pada telinga pemuda berhati malaikat itu. “Pelangi membutuhkan hujan karena pelangi mencintai hujan.” Melepas dekapanku. Tersenyum, lantas membalikkan tubuh.

Takjub Gabriel mendengarnya. Terpana pada kalimat ajaib yang dibisikkan olehku. Aku belajar banyak darinya. Belajar bagaimana menggetarkan hati seseorang hanya dengan untaian kalimat sederhana. Aku berhasil. Lihatlah Gabriel yang berubah gemetar. Giginya bergemeletuk tertahan. Tidak lain dan tidak bukan, itu karena ia mendengar betapa magisnya kalimat yang diucapkan olehku.

Terkesiap. Gabriel segera berseru. Menahan sejenak agar aku yang akan segera memasuki mobil tak lekas bergegas. Ia membalas kalimat ajaibku dengan kalimat yang tak kalah ajaibnya. Setelah mengusap wajahnya, Aldi bersuara.

“Hujan selalu mencintai Pelangi, walau ia terpaksa undur diri saat Mentari menghampiri.”

Aku tertegun. Tersenyum menyeringai. Entah mengerti atau tidak, sesungguhnya kalimat itu tercipta dengan makna tersirat didalamnya. Yang hanya Tuhan dan sang pencipta barisan kata sederhana itulah yang mengetahuinya. Tahu, bahwa sesungguhnya matahari tak pernah benar-benar meninggalkan bumi. Ia hanya bersembunyi. Sampai pelangi yang akan memanggilnya kembali.

                                                                        ***

Mobil mewah itu berhenti di depan sebuah rumah bernuansa klasik. Keke baru saja menyembul dari dalamnya. Disusul Rio yang keluar dari pintu yang lain. Menghampiri Keke.

“Tiupan seksopon kamu malam ini keren. Aku makin suka sama pipi kembang kempis kamu.” Rio menjawil pipi Keke.

Keke tersenyum. Sudah sangat terbiasa dengan jawilan khas dari Rio. “Makasih!” Keke mendesah. “aku masuk dulu ya!”

Setelah melihat anggukan dari Rio dan mendapatkan tepukan pelan pada ubun-ubun kepalanya, Keke memutar tubuhnya. Meraih gerbang dan hendak membukanya.
           
Rio baru saja akan masuk kembali ke dalam mobil, saat tiba-tiba gadis dengan balutan gaun malam berwarna hitam itu memutar tubuh dan langsung menghambur memeluk dirinya. Rio terkesiap. Mengerutkan kening.

“Rio…” Keke tersengal berbicara. Dari pelupuk matanya mengalir parit yang membelah pipi tembemnya. Tersedu sambil mengeratkan pelukannya.

Rio balas memeluk Keke. Kenapa? Kenapa gadisnya menangis? Apakah dia telah menyakitinya? Rio belum mengurai kerutan pada keningnya. Ia mengusap-usap punggung Keke. Lalu lirih berkata, “Aurora…”

Diam. Keke tak menjawab. Malah aliran di parit itu kian menderas.

Rio menarik Keke agar tak lagi menenggelamkan wajahnya. Membiarkan ia untuk melihat sendiri bagaimana raut wajah gadisnya yang sepertinya sangatlah kacau. Rio menyimpan telapak tangannya pada pipi Keke. Menatapnya lembut. Mencoba menelaah apa yang membuat Keke didera kegalauan. Mengurai tentang apa penyebab terbentuknya parit kenelangsaan itu. “Kenapa?” Rio bertanya lirih.

Keke berusaha menenangkan dirinya sendiri. Harus. Karena danau yang menohoknya pun nampak begitu tenang. Memegangi tangan Rio yang masih menapaki pipinya. Berkata dengan selingan isakan menyedihkan pada tiap kata.

“jangan… Jangan! Jangan pernah… pergi! Jangan pernah pergi dari hati aku!”

Sungguh, Rio langsung menarik kembali gadisnya. Mendekapnya kembali, lebih erat dan hangat dari yang sebelumnya. Meminta gadisnya untuk menenggelamkan wajah kembali di dadanya. Agar ia tahu, betapa hati mereka teramat dekat untuk dapat dipisahkan. Masing-masing di hati itu membuncah sebuah rasa yang sama. Rasa cinta.

Sementara gadis itu belum berhenti menumpahkan tangis, dengan gemetar ia berujar, “Aku ga akan ke mana-mana Aurora. Aku tetap disana. Di hati kamu.” Ia mengecup puncak kepala Keke. Agak lama. Setelahnya berujar kembali, “Jangan nangis! Tolong!” Rio memelas. Miris mendapati Keke menangis. Ah ya, siapa yang tega melihat gadis ceria itu berurai air mata? Tak ada.

Gadis yang masih berada dalam pelukan hangat yang diberikan Rio itu menyeka air matanya. Terkesiap. Menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Menangis. Mengungkapkan ketakutan akan kehilangan pemuda itu. Apa yang sebenarnya membuat Keke melakukan itu semua? Karena rasa takut itu berpendar terlalu liar? Atau karena apa? Keke bertanya-tanya dalam hati.

Ada satu hal yang tidak pernah disadari oleh Keke. Rasa takut itu menyeruak bukan tanpa sebab. Ia tahu, bahwa sesungguhnya tak pernah ada kata abadi di dunia ini. Tak ada yang bisa memiliki seseorang, baik secara fisik maupun emosional dengan kekal. Waktu. Waktu selalu menggerogoti semua apa pun yang ada di atas muka bumi ini. Waktu pulalah yang mengikis habis cinta. Dan Keke tahu, waktunya akan segera habis. Waktu untuk dapat menikmati  tiap debar menyenangkan dari perasaan asing bernamakan cinta.

Itu alasan mengapa Keke menangis. Meronta-ronta agar Rio tak pernah pergi dari hatinya. Lantas, apakah tangis itu bisa membujuk sang waktu agar memberikan keleluasaan pada sang cinta agar tak tergesa menguap di udara? Kita lihat saja.

                                                                        ***

 Aku mengusap-usap lengan. Berdiri dalam naungan malam dengan gaun tanpa lengan membuat tubuh mungilku harus merasakan dingin yang menusuk hingga ke tulang. Aku terpaksa turun dan keluar dari mobil. Kata Mang Ujang, ada masalah dengan mesinnya. Mogok. Jadilah aku harus menggigil sembari memperhatikan Mang Ujang membetulkan kembali mobil, agar aku bisa segera pulang. Mama dan Papa sudah menerorku sedari tadi. Mama dan Papa telah menjadi Mama Papa yang sesungguhnya, sebagaimana yang semestinya.

“Non pulang naik taksi aja deh! Amang ga pa-pa kok!” ujar Mang ujang, tak tega melihat Nonanya gemetar menahan dingin.

Aku mendengus. Menengok ke kanan-kiri. Tak ada taksi. Aku harus bersabar lebih lama lagi.

Dan ketentuan itu tengah melakukan rencananya. Alam ikut bekerja sama. Petir menggelegar. Menorehkan kilatan  yang membelah langit kelam. Langit segera menumpahkan tangisnya. Hujan.

Aku mendongakan kepala. Hujan, kenapa setelah sekian lama kau tak hadir menyegarkan hariku, sekarang Kau datang? Kau ingin membuatku mati kedinginan? Aku menggeleng. Tak mengerti apa rencana hujan. Aku mencoba tersenyum. Tak berburuk sangka pada hujan. Aku meyakini bahwa hujan baik dan menyenangkan. Ah ya, dari pengalaman yang aku dapatkan, hujan tak pernah menyakitiku. Sekalipun aku berulang kali merutuki kedatangan hujan. Dan malam ini pun, aku percaya, hujan memliki kejutan untukku..

Kepercayaan itu benar adanya. Tak lama setelah itu, sebuah mobil berhenti di dekat mobil yang masih diutak-atik Mang Ujang. Menyembul dari dalamnya seorang pemuda tampan yang tergesa menarikku untuk masuk ke dalam mobil. Aku tak sempat menolak. Masih menikmati buliran hujan yang menghujami tubuh.

Aku mengerenyit. Baru sadar  telah berada dalam mobil bersama pemuda yang menyeretku dan sang supir tentu saja. Aku menepuk bahu pemuda itu. Mengucap namanya pelan. “Rio.” Ya, pemuda yang membawaku ke dalam mobil adalah Rio. Pemuda bergigi gingsul yang sangat tidak peka. Pangeran Matahari yang bersahaja.

Rio melirik sebentar ke arahku yang menatapinya tak percaya. Lantas membuka kaca jendela.

“Mang, Ify pulang sama saya ya!” Rio berteriak. Suaranya mengalahkan dendang rintikan hujan.

Mang Ujang mengacungkan jempol. Memberi izin.

Sejurus kemudian, melajulah mobil yang berisikan tiga orang itu. Menerobos hujan. Membelah malam. Aku masih mengerutkan kening.

“Aduuhh… kamu ga berubah ya Fy! Paling hobby sama hujan-hujanan. Ini kan udah malam. Mana kamu pakai pakaian terbuka pula. Kalau masuk angin gimana?” Rio berceloteh panjang. Diakhiri dengan pertanyaan retoris yang dijawabku dengan mengangkat bahu. Biar saja, hujan kan baik dan menyenangkan. Aku berujar dalam hati.

Rio melepaskan jas hitam yang ia kenakan. Lalu membalutkannya pada tubuhku yang setengah kuyup. Mengusap-usap tetesan hujan yang masih bergelayut lucu pada wajahku.

Aku terkekeh. Menggerakkan lengan untuk menyentuh wajah pemuda di hadapanku yang ternyata jauh lebih kuyup. Tetesan hujan sempurna membingkai wajah tampannya. Aku menyapu seluruh bagian wajah Rio.

“Kamu jauh lebih hobby Rio. Buktinya, kamu lebih basah dari aku.” aku menyibak rambut Rio ke belakang.

Sesungguhnya, sepanjang tanganku menapaki setiap lekuk pahatan sempurna wajah Rio, tanpa sadar pemuda itu justru sangat menikmatinya. Dengan jarak yang sedekat itu, nyatanya Rio tak melewatkan sedetik pun waktunya untuk mengamati betapa berbinarnya kedua pelihatku, gadis yang berada tepat di hadapannya. Ia dilemparkan pada kenyataan bahwa gadis berdagu runcing itu nampak sangat cantik malam ini. Malam ini saja? Ah, sepertinya tidak. Bukankah bagi matahari, pelangi selalu nampak cantik? Dan Rio seharusnya ingat, gadis itulah yang pertama membuat hatinya penasaran. Senang. Berjingkrak di bawah hujan yang paling dihindarinya. Lalu kecewa. Hanya akulah yang bisa membuat Rio sebegitu kecewanya, dulu, kala aku bersikap buruk pada Keke. Ah ya, Rio bukan kecewa karena Auroranya tersakiti, tapi karena Pelangi yang ia sayang tidak menjadi yang ia mau.

Apa? Rio terkesiap. Kenapa? Mengerjap. Saat Rio sibuk bertanya-tanya dalam hati, ia juga ternyata tengah berkutat dengan fantasinya. Fantasi sialan yang sedari tadi memaksa lengannya untuk bergerak  menjawil dagu runcing yang dulu selalu jahil menggodanya. Ah, sampai sekarang pun dagu runcing itu masih saja hebat menunjukkan aksinya. Rio menatapku tajam.

Aku menyimpan kembali lenganku. Sadar ditatapi setajam itu oleh Rio, jengah. Aku mengerjap. Menggaruk pipinya salah tingkah. Hah? Aku memalingkan wajah menatap keluar jendela. Hujan masih turun dengan semarak. Mendendangkan orchestra yang menggugah jiwa.

Rio pun ikut mengerjap. Ia tahu, betapa tidak bolehnya ia seperti itu. Terhanyut pada keindahan dua pelihat itu. Terbuai pada godaan dagu runcing menggemaskan itu. Rio tahu, ada gadis lain yang berharap lebih padanya, Auroranya. Lalu Rio pun sudah berjanji akan mewujudkan harap itu. Jadi, jangan sampailah gadis itu dikecewakan olehnya. Lantas, ia akan membiarkan hatinya sendiri kecewa saat gadis di hadapannya makin jauh memudar dari pandangannya?

Sudahlah. Jangan terlalu ambil pusing. Rio mengupahi dirinya sendiri. Toh, nanti setelah gadis berdagu runcing itu tak lagi di dekatnya, ia tak akan sekacau ini. Rio menguap. Mendaratkan kepalanya pada bahuku, persis seperti dulu. Terlelap dalam nafas teratur. Menikmati dentuman hujan yang diiringi buncahan perasaan di hatinya. Kini, mengepulah sebuah pertanyaan besar di benaknya, siapa sesungguhnya yang menempati tempat paling istimewa di hatinya? Pemilik seutuhnya hatinya.

***

 bersambung

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 21


Mama menyapu wajahku dengan bedak tipis. Ya, tipis saja. Aku tidak suka dandanan yang berlebihan. Aku kan belum tante-tante. Kataku saat merajuk saat Mama hendak memulas wajahku dengan blash on. Mama mengalah. Tersenyum menyeringai.

Mama menyisir rapi rambut panjangku. Rambut hitam legam itu dibiarkan terurai, lurus tanpa gelombang. Lantas Mama menyisipkan sebuah jepitan bunga di antara jumputan rambutku. Tersenyum senang melihat penampilan putrinya kali ini.

Dalam balutan gaun putih indah itu, aku terlihat sangat cantik. Panjangnya hanya selutut. Memperlihatkan kaki mungilku yang mengenakan sepatu pantopel putih beraksen pita berwarna senada juga. Tadi, aku sempat berdebat kecil dengan Mama yang memaksaku untuk memakai sepatu high heels. Namun aku menolak. Aku tidak terbiasa mengenakan sepatu seperti itu. Nanti kalau jatuh terpeleset bagaimana? Kan tidak lucu. Maka Mama mengalah. Memilihkan sepatu yang lebih cantik dan lebih aman untuk menyokong penampilanku malam ini.

Gaun itu tak berlengan. Sehingga apa yang bergelayut di leherku dapat terlihat lebih kentara. Kalung berbandul pelangi. Menyempurnakan penampilanku malam ini. Aku tersenyum memandangi siluet yang terpantul pada cermin itu. Diriku.

“Lihat, kamu cantik sekali sayang!” bisik Mama.

Aku tersenyum. Cantik? Semoga pemuda yang tengah menantiku pun nanti akan mengatakan hal yang sama. Tentu saja. Aku merias diriku hanya untuk pemuda berhati malaikat itu. Aku membalikkan tubuh. Menatap nanar pada Mama.

“Mama beneran ga akan ikut? Papa? Mama sama Papa juga diundang loh sama Gabriel.”

Mama menggeleng. Menjawil dagu runcingku. “Mama sama Papa di rumah aja, nunggu kabar gembira yang akan kamu bawa.” Mengerlingkan mata.

Aku mengulum bibir. Mendelik pada Mama. “Apa banget deh Mama. Centiiilll!!”

Mama tertawa menyeringai. Melihat putri kecilnya kini telah menjelma menjadi gadis yang cantik. Gadis yang malam ini akan menjemput mimpi sederhana. Tentu saja.

“Udah… berangkat gih!” Mama mencium keningku. Mendorong tubuhku pelan. “Mang Ujang udah nunggu di bawah. Harusnya sih, Gabrielnya sendiri yang jemput permaisurinya.” Mama menaik turunkan alisnya. Jahil menggodaku.

Aku menjulurkan lidah. Dongkol juga pada Mama yang sejak aku bercerita bahwa aku akan menghadiri pesta ulang tahun Gabriel tak henti menggodanya. Aku keluar dari kamar. Beranjak menuruni tangga. Bergegas menghampiri Mang Ujang yang sudah bersiap di dalam kereta kudanya. Siaga mengantarku menuju perayaan hari jadi Pangeran hujanku.

                                                                        ***


Aku tersenyum jengah. Mendapati bahwa kini, aku menjadi pusat perhatian sejak turun dari mobil beberapa saat yang lalu. Semua pasang mata menatap terpana padaku. Pada kecantikanku. Dari setiap jengkal langkah kakiku, teriring berjuta decakan kagum pada siluetku. Angin malam menghembus pelan rambutku hingga melambai-lambai mempesona. Dan dengan agak malu-malu, aku tersenyum pada siapa saja yang ku temui, lengkap dengan lesung pipi. Maka setiap yang mendapatkan senyum menawan itu langsung membalas. Menyapa ramah padaku. Bahkan ada seorang pemuda yang mengulurkan tangan, hendak menuntun langkahku. Sayang, pemuda itu harus mengelus dada saat aku menolaknya dengan lembut. Namun pemuda itu tak perlu terlalu kecewa, karena ia mendapatkan ucapan terimakasih dan juga senyum yang lekat menghias wajahku. Aku melengos. Bergegas menemui pemuda yang aku yakini telah menunggu. Bahkan tanpa aku tahu, pemuda itu telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk menunggu. Jauh sebelum euporia ini bermula.

Pemuda bertubuh jangkung itu terlihat sangat tampan. Ia gagah mengenakan jas putih berekor. Dengan senyum lebar khas miliknya, ia melangkahkan kaki. Menjemput kedatangan gadis yang telah lama dinantinya. Aku.

Gabriel mengulurkan tangan. Berharap aku bersedia memberikan tanganku untuk dapat leluasa digenggamannya.

Dan Gabriel lebih beruntung dari pemuda yang sebelumnya ditemui olehku, karena tanpa ragu, aku mengambil uluran tangan itu. Tak menolak saat Gabriel menarikku menuju tempat utama digelarnya pesta.

“Kamu cantik Ify. Kamu gadis paling cantik malam ini.” bisik Gabriel. ‘dan selamanya kamu akan menjadi gadis paling cantik buat aku.’ tambahnya dalam hati.

Aku tersenyum. Harapanku kembali terkabul. Pemuda berhati malaikat itu mengatakan hal yang sama dengan apa yang Mama katakan padaku tadi. Aku mengucap syukur dalam hati. Ketentuan itu memang selalu berpihak padaku.

Gabriel membawaku menemui Bunda yang tengah menanti kami di depan meja kecil yang di atasnya terdapat sebuah kue berlilinkan angka 18. Bunda menyambutku dengan ramah. Tersenyum sama lebarnya dengan senyum khas Gabriel. Aku tersenyum. Mengangguk. Satu fakta yang didapat, bahwa Gabriel terbiasa memamerkan senyum lebar karena arahan sang bunda.

“Ify?” tanya Bunda.

Aku mengangguk. Mengambil lengan Bunda. Mencium punggung lengannya.

“Putri Pelanginya Gabriel ya?” Bunda bertanya lagi.

Aku mencelat. Membelalakan kedua mata. Mendelik pada Gabriel yang tengah menggaruk belakang telingan. Tersipu.

“Kamu cantik. Kamu sahabatnya Agni waktu kecil ya? Sahabat Gabriel juga?”

Sekali lagi aku mengangguk. Ah, Bunda Gabriel saja sampai memujiku cantik. Benarkah aku secantik itu sampai setiap orang yang ku temui mengatakan hal yang sama? Aku mengangkat bahu.

Lalu tak lama setelah itu, acara dimulai. Pembawa acara yang berpenampilan sangat heboh itu memanggil-manggil semua tamu undangan untung merapat ke pusat acara. Tempat si empunya hajat berada. Tak butuh waktu lama, semua orang yang hadir berkumpul di tempat yang dimaksud. Lantas pembawa acara heboh itu pun memulai aksinya. Berondongan kata keluar dari mulutnya. Lancar bebas hambatan. Tanpa kesalahan pengucapan satu kata pun.

Dengan gaya khasnya yang ceria, pembawa acara tersebut memandu para tamu untuk bersama-sama menyanyikan sebuah lagu. Lagu tema dari sebuah perayaan ulang tahun. Setelah itu, ia memberikan aba-aba pada Gabriel untuk meniup lilinnya. Namun sebelum itu, Gabriel diminta untuk membuat sebuah permohonan dalam hatinya. Maka Gabriel pun memejamkan mata. Memanjatkan harap pada Tuhan yang maha mendengar. Lalu, apakah isi dari segenggam harap itu? Hanya satu, ia berharap kalau ia dapat sesederhana hujan, sebijak hujan, dan searif hujan. Hujan yang tak pernah memaksakan kehendak hatinya. Hujan yang akan dengan senang hati membiarkan pelangi berlari menyongsong mentari. Hujan yang berlapang dada kala pelangi lebih memilih memendarkan warna-warninya bersama sinar sang surya. Hanya itu. Tidak kurang. Tidak lebih. Setelah pembawa acara ceria itu mengatakan tiga, Gabriel membuka mata. Meniup lilin angka delapan belas itu. Lilin padam. Pembawa acara ceria bersorak kegirangan. Seluruh tamu undangan bertepuk tangan

Beralih ke acara selanjutnya, pemotongan kue. Gabriel dengan bimbingan pembawa acara ceria mengambil sebuah pisau. Perlahan memotong kue ulang tahunnya. Meletakkan potongan pertama di atas sebuah piring kecil yang tersedia. Si pembawa acara ceria bertanya tentang siapakah orang yang beruntung yang akan mendapatkan potongan kue pertama. Dan tentulah Bunda yang menjadi orang beruntung itu. Gabriel menyerahkan potongan kue itu pada Bunda. Memeluk Bunda. Keduanya tersenyum lebar.

Potongan kedua. Pembawa acara ceria itu jahil menggoda. Mengatakan bahwa yang akan mendapatkan potongan itu adalah orang yang istimewa di hati si pemilik acara. Dan tentulah apa yang dikatakan pembawa acara ceria itu benar adanya. Karena Gabriel memilihku untuk ia berikan potongan kue yang kedua. Ah ya, aku istimewa di hati pemuda itu? Bahkan sudah sejak lama. Aku saja yang tak pernah menyadarinya. Ternyata, aku sama tidak pekanya dengan pemuda lain di sana. Aku terperanjat mendapatkan kue itu. Senyumku semakin mengembang. Mataku berbinar tak percaya. Aku membekap mulut supaya tak memuntahkan jutaan kata kebahagiaan yang tengah ku rasakan. Aku telan sendirian. Membiarkannya mengendap dalam hati dan berharap semuanya abadi. Wajahku memerah kala pembawa acara ceria semakin antusias menggoda. Gabriel tersenyum menyeringai. Bunda menepuk bahu putranya. Dan seluruh tamu undangan bertepuk tangan. Ada pula yang bersiul. Riuh sekali.

Setelah prosedur potong kue selesai, acara dilanjutkan kembali. Pembawa acara ceria dengan bersemangat meminta Gabriel untuk naik ke panggung kecil yang berada di ujung. Lantas Gabriel menurutinya. Dan Gabriel memang pemuda dengan yang tak terduga. Ia menarik sebuah kursi. Duduk dihadapan sebuah grand piano. Mendekatkan mulutnya pada micropon.

“Karena malam ini adalah malam yang istimewa buat saya, maka izinkanlah saya untuk memberikan lagu istimewa ini untuk gadis yang istimewa juga buat saya.” Gabriel berdeham. Melirik padaku yang tengah menatapnya terpana. “Keke, boleh bantu saya?” Gabriel tersenyum pada Keke. Mengedikan kepala untuk segera bergabung bersamanya.

Keke mengangguk. Menoleh pada Rio yang setia mendampinginya, meminta izin. Melangkah anggun dengan seksopon di tangannya. Sementara Rio, dengan senyuman melepas Keke menaiki panggung. Kini dua orang hebat berada di atas satu pentas. Pangeran Hujan dan Aurora. Dua lakon utama yang lain memperhatikan dari bawah. Aku menatap tak percaya, mataku berkaca-kaca. Lalu si pemuda tak sabar untuk menyaksikan penampilan gadisnya yang pasti akan selalu membuatnya terpesona. Terjerat lingkaran cinta.

Mulailah Gabriel menekan tust-tust piano. Jarinya menari di atas batang hitam putih itu. Menciptakan alunan indah yang menggelitik hati. Sejurus kemudian, barulah Keke memulai aksinya. Meniup alat musik kesayangannya. Pipi tembemnya kembang kempis menggemaskan. Membuat pemuda bergigi gingsul itu tak hentinya menyimpul senyum. Pipi kembang kempis. Ah, gadis itu terlihat manis. Apalagi dengan gaun malam berwarna hitamnya. Rambut ikalnya dibiarkan tergerai. Tersaput angin malam yang berhembus membelai sukma.

Gabriel dan Keke sempurna berkolaborasi. Melantunkan instrument yang juga pernah dimainkan oleh pemusik ternama, Kenny G. Forever in love. Semua yang menyaksikan mereka bermain dengan sepenuh jiwa ikut terhanyut. Tanpa diberi aba-aba, mereka mulai berdansa. Para pria mengulurkan tangannya, menanti sambutan dari para gadisnya. Menggerakan kaki-kaki dengan syahdu. Menyentuh pinggang dan bahu pasangannya. Ada pula yang sampai melingkarkan tangan pada tubuh partner dansanya. Dan di antara mereka yang tengah menikmati keindahan cinta, ada sepasang gadis dan pemuda yang meski pun tengah berdansa, masih sempat berdebat. Sivia dan Ray. Gabriel juga mengundang pasangan yang selalu rebut itu. kini, mereka tengah meributkan kaki-kaki mereka yang bergerak liar menyakiti kaki yang lainnya. Tak sengaja menginjak atau sekedar menyenggol. Ah, ini kan kali pertama mereka berdansa. Tapi toh, mereka sangat menyukainya. Ya, walaupun Sivia berkali-kali mengulum bibir dan  berulang-ulang meminta maaf. Semua menyenangkan. Semua terbawa suasana. Suasana penuh cinta nan sederhana.

Ada yang tersisa dari semuanya. Dua pelakon utama dari kisah ini tak ikut berdansa. Tentu saja. Masing-masing pasangan tengah berada di atas pentas. Menjadi pemacu utama dari terlahirnya acara berdansa. Lantas kami –aku dan Rio- saling berpandangan sejenak, bingung mau melakukan apa. Akhirnya, dengan satu anggukan dari Rio, kami bersepakat untuk menerobos keramaian lantai dansa. Naik ke atas pentas. Menemani pasangan kami menciptakan lantunan irama.

Aku berdiri di samping Gabriel. Memperhatikan dengan seksama pemuda berhati malaikat itu. Bermain piano dengan sangat hebat. Ia melakukannya dengan hati, hatinya yang tulus. Tuhan, lihatlah! Kau menciptakan malaikat itu. Malaikat yang tanpa sepasang sayap pun mampu mengepakkan harapan di hatiku. Mampu membumbungkan mimpi sampai batas langit tertinggi. Dan pastilah ia juga mampu mewujudkan semuanya. Mengubah harapan dan mimpi menjadi sebuah kenyataan yang membuncahkan bahagia di hatiku. Ah ya, Gabriel adalah pemuda yang ajaib.

Gabriel. Dalam setiap tarian jemarinya yang lincah mempesona, nyatanya ia tak henti mengagumi siluet cantik yang berdiri anggun di sampingnya. Apalah yang dapat membuat Gabriel berhenti mengaguminya? Sedetik saja? Tak ada. Dari awal rasa itu ada, tak pernah ia mendapati hatinya tengah mengacuhkan gadis itu. Bahkan, ia yakin itu takkan terjadi. Walau ia tahu akan salah satu isi dari ketentuan tak terbantahkan itu. Ketentuan itu memaksa hujan bersembunyi kala pelangi menyambut datangnyaa mentari. Akan tetapi, sudahlah. Biarkan pemuda itu mendapatkan balasan atas kebaikan hatinya. Biarlah ia melukis warna-warni pelangi untuk suatu saat nanti akan ia berikan sendiri untuk sang rival abadi.

Rio. Pemuda itu berdiri di samping Auroranya. Merangkul tubuh gadis yang masih meniup seksopon itu. Rio tersenyum. Mengamati perubahan yang terjadi pada pipi tembem itu. Pertama mengembang, lalu mengempis, mengembang kembali, mengempis lagi. Kembang kempis pada tiap kali ia menghela nafas.

Keke. Lakon utama yang terakhir. Berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan simfoni indah dengan seksoponnya. Mengembang kempiskan pipinya dengan begitu menggemaskan. Matanya mengerjap menyenangkan. Menikmati gemuruh perasaannya saat berada dalam rangkulan pemudanya. Berharap ia tak pernah kehilangan saat-saat seperti itu. Kehilangan? Ah, mengapa ia selalu diresahkan dengan harapan itu? Harapan yang wajar bagi seseorang yang mencintai, bukan? Lalu mengapa gadis itu berfirasat bahwa ia akan kehilangan pemuda keren itu? Kehilangan momen menyenangkan di mana ia bisa mengusap lelehan minyak di sudut bibir mungil pemuda itu. Dalam waktu dekat. Delit menatapi dua danau itu. Memohon untuk tetap tinggal di hatinya, dan mengizinkan ia untuk selalu mengisi seluruh hati pemudanya.

Begitu sampai selanjutnya. Semuanya berbaur dalam cinta. Malam yang penuh cinta ini membuat seluruh penghuni langit berseru. Sedangkan ketentuan itu sedang mengawasi. Bersiap membidik target. Ada yang tidak semestinya terjadi.

***

Bersambung

***

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 20B


Hujan tahu apa yang tengah ku rasakan. Detik ini, hatiku buncah oleh ribuan macam perasaain yang sulit untuk teruraikan. Bahagia. Bingung. Bertanya-tanya. Ragu. Takut. Dan dari kesemuanya itu, rasa takutlah yang paling mengembang tak terkendali. Takut bila akan sama jadinya dengan potongan kisah yang telah terlampaui. Kembali menyedihkan.

Tapi Hujan tahu segalanya. Maka dia bergegas dan tak lantas datang dengan rinainya yang kebas. Dan kalau nanti pun berujung perih, ia akan segera hadir. Menyamarkan parit kesedihan yang mungkin terbentuk di sela-sela kenelangsaan. Dia hadir. Dan itu takdir.

Mereka tengah duduk di gazebo yang terdapat di taman belakang rumah. Berbincang ringan. Mereka menghadapi sebuah piring dan tiga cangkir beserta sebuah poci. Dari sanalah menyembul gumpalan asap-asap. Aku menghela nafas. Berjalan pelan mendekati mereka.

“Aww…” aku mengaduh. Hampir saja jatuh tersungkur. Meringis kesakitan. Menunduk. Menatapi ujung jempol kakiku. Berdarah. Tersandung kerikil tajam yang tergeletak pasrah. Aku mendesah. Kerikil tak berdaya itu saja, tega melukai seseorang sampai berdarah-darah. Aku tak jauh berbeda dengannya. Terabaikan. Luput dari sentuhan. Dan masalah luka-melukai, aku jauh lenih hebat dari sang kerikil. Tadi pagi, tadi malam, kemarin-kemarin, aku talah melakukannya. Berhasil. Tak ada bagian dari fisik mereka yang baret lantas mengeluarkan darah. Namun bukankah aku tahu pasti, ada luka yang jauh lebih mengenaskan dari sekedar baret-baret. Hati dan perasaannya tersayat-sayat. Berdarah. Bahkan lebih parah, bernanah.

Mama dan Papa menoleh. Terseok berlari menghampiriku.

“Ify…” Mama berjongkok. Memegangi area sekitar luka di kakiku.

Aku menunduk. Mama mendongak. Kami saling bertatapan sejenak. Sementara Papa bergegas ke dalam mengambil obat.

“Berdarah, sayang!” Mama menatap nanar. Berdiri. Merangkul tubuhku. Menuntunku dengan awas menuju gazebo.

Robot. Itulah aku kini. Menatap kosong. Melakukan apa yang Mama perintah. Duduk. Segeralah aku duduk. Tahan rasa sakit. Aku bertahan. Luka kecil itu tak seberapa disbanding luka yang ditorehkan olehnya dan oleh diriku sendiri. Aku tak meringis. Tak megeluh. Apalagi menangis. Aku hanya menatapinya. Tiap gerak-gerik tingkahnya. Saat ia mengusap-usap lembut kakiku. Meniupi lukanya. Sejenak, terpana.


Dan tak lama kemudian, Papa datang. Membawa kotak putih dengan tanda plus berwarna merah di satu bidang sisinya. Cekatan mengobati luka kecil di kakiku. Papa membersihkan percikan darah. Dengan seksama menteskan betadine antibiotic ke area baret luka. Menutupnya dengan selembar plester. Selesai.

“Makasih Pa, Ma!” gumamku pelan.

“Noprob cantik!” ujar Mama. Tersenyum bersahaja.

Maka setelah itu, kami terdiam. Tak ada yang bersuara. Bahkan tak ada yang berani hanya untuk sekedar mendesah. Hanya diam. Itu saja.

Seharusnya, bukan seperti ini. Bukan suasana semencekam ini yang mengepul bersama asap kecanggungan. Harusnya, tak ada sekat pembatas untuk kami saling terbuka. Harusnya, kami bisa menganggap ini semua biasa saja. Hal yang sederhana. Seperti keluarga lainnya. Harusnya, harusnya, harusnya dan tak seharusnya kami menciptakan atmosfer ketegangan ini.

Aku merutuki dirinya sendiri. Mengapa hatiku selalu menolak kasih putih yang dikucurkan mereka? Tidak. Aku bukanlah gadis yang pongah, sehingga aku terkesan tak memerlukan kasih itu. Aku justru teramat merindukan mereka. Lalu memangnya, kalau Aku membiarkan hatiku menadah kucuran kasih itu, akan ada jaminan untuk hatiku? Agar terjaga? Tak tersentuh luka? Aku hanya menjaga hatiku saja. Alasan yang sederhana.

“Ekhem…” pecahlah keheningan dengan sebuah deheman dari Papa. Mama menoleh pada lelaki berkacamata itu. Lalu beralih memandangiku yang tengah menatap lurus ke depan. Entah tengah memandangi apa.

Mama menghela nafas panjang. “Kenapa?” suaranya tertahan.

Aku terkesiap. Memandang Mama tak mengerti. Apanya yang kenapa? Membuat kerutan pada kening.

“Kenapa kita jadi seperti ini? Kenapa kita seperti tak saling mengenal satu sama lain? Kenapa kita tak bisa seperti dulu lagi? Kenapa, sayang?” rentetan pertanyaan itu meluncur menohok hati semua yang mendengarnya.

Aku menatap Mama. Kenapa? Aku juga tak tahu kenapa. Jangan tanyakan semua itu padaku. Aku tak menyimpan kunci jawabannya. Aku hanyalah gadis sederhana. Aku tak tahu. Dan aku juga tak pernah memimpikan semua ini. Semuanya sudah diatur oleh si pembuat jalan cerita. Jauh sebelum kisah sederhana ini bermula. Dan aku hanya menjalani peran. Mengalir tak dapat terbendung bagai lajunya rinai hujan yang hendak menghujam bumi.

“Aku…”  memegangi dada. Rasa sesak kini mencuat hebat dari sana. Aku tak kuasa melanjutkan ucapanku.

“Mama sama Papa kangen sama kamu. Kami ingin seperti dulu lagi. Bisakah?” Mama bertanya retoris. Nadanya lirih. Tatapannya sayu menyayat hati. Nanar berekspresi.

Aku menyentuh sudut mata. Buliran bening baru saja mengalir dari pelupuk mata. Ada perasaan ngilu berpendar menyelimuti hati saat kini relung dijejali sebuah kenyataan pahit. Melihat mereka memelas. Memohon-mohon agar aku tak lagi menolak kasih sayang mereka. Ah, aku bukan gadis yang angkuh. Walaupun aku terkesan menampik suguhan kasih itu. Menghamburnya hingga terlempar jatuh berserak di lantai. Tapi ada satu hal yang mereka tak tahu. Aku, setelah mereka pergi entah ke mana, aku memunguti kembali kepingan berserak itu. Menabungnya dalam hati sebagai pemenuhan kuota atas ketidakleluasaanku untuk merasakan bagaimana setiap detik terlewat bersama-sama. Mereka tak tahu. Jadilah mereka menganggapku berubah. Tidak. Aku hanya ingin belajar dewasa. Tak terus menerus menuntut mereka. Lihat saja, selama ini pun aku tak pernah bersujud-sujud meminta mereka untuk menikmati sarapan pagi bersama. Datang ke acara sekolah. Mengantarku membeli buku baru. Tak pernah. Bukankah aku sudah dewasa?

Maka sungguh, ini hanya kesalahpahaman belaka. Mama dan Papa selalu menganggap bahwa putrinya tengah merajuk dengan cara menghindarinya. Dan aku bukan bermaksud menjauhi kedua orang tuaku. Aku hanya menjaga hatiku dari kecewa. Aku membiarkan mereka menikmati dunia kebanggaannya. Toh, aku tetap yakin bahwa mereka akan selalu menyanyangiku.

Lantas kini, semuanya harus segera disudahi. Kesalahpahaman ini hanya akan menyakiti setiap hati. Maka dengan nafas tersengal, aku menghambur memeluk Mama.

Mama terkesiap sejenak. Lalu akhirnya balas memelukku. Papa tersenyum. Mengelus lembut punggungku, peri kecilnya.

“Maafin Ify Ma, Pa! Ify jahat sama kalian!” tersedu berbicara. “Ify ga bermaksud menjauhi kalian. Ify hanya ga mau ganggu Mama dan Papa… Kalian kan punya hal lain yang lebih penting dari sekedar meladeni permintaan Ify.”

Mama tersentak. Ia mengurai pelukannya. Meletakkan kedua telapak tangan pada pipi berair putri tunggalnya. Menatap tajam. “Tidak.” Mama menggelengkan kepala. “Ga ada yang lebih penting bagi kami selain kamu…” tak terasa, mulai menitikan air mata.

Papa membelai lembut puncak kepalaku. Juga mengusap lembut tangan Mama yang masih menapaki pipi tirusku.

“Sayang, kamu jangan segan meminta apa pun dari kami. Kami akan sangat senang jika kamu masih mau meminta sesuatu pada kami. Itu akan sangat menyenangkan hati kami.” ujar Papa.

Aku melirik Papa. Mendapati lelaki itu tengah menghapus genangan air dibalik kacamatanya. Sejurus kemudian, kembali lagi menatapi Mama.

Mama mengangguk. Dan seiring anggukannya, sebulir air mata sempurna meninggalkan muasalnya.

Terisak. Aku menumpukan tangan di atas tangan Papa dan Mama yang masih enggan beranjak dari pipiku. Membawa tangan halus mereka ke dekat bibir. Menciumnya. Menghirup aromanya. Semakin terisak.

“Kita mulai lagi dari awal. Dimana segala sesuatunya baik-baik saja. Dan semoga, selamanya akan tetap baik-baik saja.” kata Mama. Mengambil tubuhku untuk direngkuhnya kembali. Sementara Papa, menjadi satu-satunya siluet yang harus selalu terlihat tegar. Dengan keras ia menahan tubuhnya untuk tidak ikut berpelukan. Lelaki berkacamata itu hanya tersenyum. Menepuk-nepuk punggung peri kecilnya. Menguatkan.

“Ify sayang Mama Papa!” ujarku dengan suara bergetar. Nafasku masih tersengal. Beradu dengan isakkannya yang masih tersedan. Aku tersenyum. Ada rasa yang tak biasa setelah mengucapkan kalimat tersebut. Hatiku lega. Sudah berapa lama aku mengelukan bibirku sendiri untuk tidak mengucap kalimat penuh kejujuran itu?

Maka masih dalam suasana mengharu biru, aku berhasil meraih satu dari jutaan mimpi sederhanaku. Aku bahagia. Bahagia yang sederhana. Lama aku mencari sesuatu yang salah dari diriku. Sesuatu yang merubah apa yang biasa mengisi detik-detik berhargaku. Renungan rutin itu. Aku fikir, setelah ini tak akan ada lagi renungan itu. Kalau pun ada, itu hanya akan tercipta tatkala aku menikmati dentuman berirama dari sang hujan. Dan aku akan tersenyum. Menunjukkan lesung pipiku. Tak ada lagi tatapan nanar, menerawang atau bahkan kosong sekalipun. Aku yakin itu. Lihat saja nanti!

Mama melepas pelukannya. Membiarkanku mengangkat wajah dan berhenti menenggelamkan wajah dalam rengkuhannya. Aku tersenyum. Menatap bergantian wajah kedua orangtuangku. Wajah-wajah itu. Wajah bersahaja dan wajah teduh nan tegas.

“Sekarang, hapus air mata kamu. Kita makan pisang goreng buatan Mama. Kamu mau, kan?” tanya Papa.

Aku mengusap pipiku. Menyapu bersih sisa-sisa rembesan air mata. Mengangguk antusias menerima tawaran Papa.

Mama mengambil piring berisikan pisang goreng. Mendekatkannya padaku. Aku cepat mengambil sepotong pisang goreng. Memasukannya ke dalam mulut. Melahapnya.

Papa dan Mama tersenyum menyeringai. Ikut menikmati tiap potong pisang goreng tersebut. 

Dan sambil terus mengunyah kudapan favoritku, aku ternyata memaku tatapanku pada lelehan minyak yang ada di sudut bibir Papa. Lelehan minyak itu. Aku teringat seseorang.

***


Bersambung


***

Senin, 30 Januari 2012

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 20A


Lalu pada saat kita menambatkan hati kita pada satu adiksi yang memabukkan, masihkah hati kita dapat tercemari oleh setitik zat yang meracuni?

***

Euporia perayaan pesta ulang tahun Gabriel yang ke-18 semakin membuncah saja. Gabriel dengan dibantu tim suksesnya menyiapkan segalanya dengan semaksimal mungkin. Dari tempat diadakannya acara yang ku dengar akan dilaksanakannya di rumahnya sendiri. Undangan yang telah disebar dari tiga hari yang lalu. Souvenir dan segala macam tetek-bengek pesta telah ia siapkan. Ya, Gabriel terlihat sangat bersemangat sekali dengan pestanya esok hari. Terbukti dari ia yang terjun langsung dari segala persiapan perayaan hari jadinya. Aku juga turut membantu. Ya, walaupun tidak banyak. Hanya menemaninya saja. Tapi Gabriel mengatakan, adanya aku di sampingnya, dia sudah sangat lega. Cukup baginya. Gabriel memang tidak pernah menuntut apa-apa. Dia menerima apa pun yang hendak ku lakukan untuknya, asal aku tidak merasa keberatan. Dan toh, bahkan aku merasa bahagia dapat selalu mendampinginya. Tertawa kala ia melemparkan guyonan cerdasnya. Tersipu saat ia menggodaku. Lantas meronalah pipiku.

Dan malam ini, entah mengapa aku merasa resah. Sedari tadi, aku tak bisa merapatkan mataku dan terlelap dalam nafas satu-satu. Hanya berguling-guling di atas tempat tidur seraya mendekap bantal. Padahal ini sudah lewat larut malam. Insomnia menyebalkan. Aku merutuki diriku sendiri.

Aku mengubah posisiku menjadi duduk berselonjor. Mendesah kentara. Lalu melirik sebuah gaun cantik berwarna putih yang tergantung anggun di dalam lemari berkaca. Aku tersenyum. Gaun dari Gabriel. Dan besok akan ku kenakan di hari istimewanya. Aku terkekeh. Membayangkan ekspresinya beberapa hari silam kala ia menyerahkan gaun itu. Menggemaskan. Resahku agak berkurang.

Deru mesin kini terdengar dari luar. Terdengar pula suara gesekan gerbang yang tengah dibuka. Seseorang baru saja tiba.

Aku turun dari tempat tidur. Berjalan menuju pintu yang menghubungkan kamarku dengan balkon. Dan dari sini, dari balkon ini, aku melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam baru saja memasuki garasi. Mama dan Papa baru saja pulang. Selarut ini. Selalu setiap malam. Aku memegangi dadaku. Sesak mencekat paru-paruku.

Aku menatapi setiap gerak-gerik mereka. Mama terlebih dulu keluar dari mobil. Sejurus kemudian disusul Papa. Nampak sekali guratan kelelahan tergambar pada wajah keduanya. Aku merasa iba. Lalu ibakah mereka padaku? Pada anak sematawayang mereka yang secara tak langsung telah mereka buang? Aku mengerutkan hidung.

Lantas aku terkesiap kala ku dapati kedua pelihat Mama menangkap siluetku yang tengah menatapinya dari atas balkon. Aku memalingkan muka dengan berbalik. Mendesah sejenak. Tergesa masuk kembali ke kamar. Layaknya dua pahlawan hidupku yang kini juga tengah bergegas memburu suatu tempat. Kamarku.

Derap langkah itu kian berpacu. Beriringan bersama lajunya waktu. Berhenti di balik pintu jati itu.
Ketukan pertama terdengar bersahaja. Diikuti kelembutan suara yang setelahnya menyapa. Suara itu tetap mempesona. Dan aku tak bisa memungkiri segalanya. Suara itu yang beberapa waktu silam memberikanku ketenangan. Suara itu ikut ambil bagian dalam proses bagaimana hatiku bertahan. Suara bersahaja yang tercipta dari bibir seorang wanita yang sangat luar biasa.

Aku tak menjawab. Hanya menggeleng. Duduk memeluk lutut di atas tempat tidur. Menggigit bibir.
Ketukan selanjutnya, terselip kesan kehkawatiran. Temponya agak dipercepat. Namun suaranya tak sedikit pun berubah, tetap bersahaja. Dia memanggil namaku.

Aku malah menunduk. Untuk apa? Biarkan aku sendirian. Seperti biasanya. Untuk apa mereka kemari? Beristirahatlah saja! Biar! Biar aku mengendap bersama perasaan kecewaku ini. Biarkan!
Ketukan lagi. kian memburu. Kini suara yang lebih arif yang menembus tebalnya pintu jati.

“Ify, buka pintunya peri kecil!”

Tak usah. Tak apa. Pergilah! Tak perlu. Biar! Aku sudah nyaman seperti ini. Aku menggeleng. Menangis.
Tidak. Bahkan aku berani berbohong pada diriku sendiri pada hatiku. Aku hanya,,, hanya. Ah sudahlah. Aku hanya ingin terlepas dari harapan akan kehadiran mereka. Biarkan aku sendirian. Bukankah itu yang terjadi selama beberapa tahun belakangan? Mereka hanya mengawasiku dari jauh. Mencintaiku? Pasti. Karena aku pun mencintai mereka. Walau sering kami saling mengecewakan satu sama lain.

“Ify…hhh!!!” desahan keputusasaan terhantar begitu kentara. “Bukalah pintunya sayang!”

Aku menyeka air mataku. Jangan menangis Salsa. Aku menguatkan hatiku. Tak ada hujan kini. Pangeran hujan pun tak sedang berada di sampingku. Jadi siapa yang akan menghapus tangisku? Aku menegadahkan kepalaku. Menggerakkan telapak tanganku. Berhentilah.

“Ify, apa kamu ga kangen sama mamamu ini? Papamu?” Tanya mama retoris.

Jangan ucapkan itu. Aku bahkan teramat merindukan kalian. Dekapan kalian. Tapi nanti, di saat yang tepat, aku pasti akan menyerahkan setumpuk rindu yang menyesakkan dada ini pada kalian. Kalian pahlawan sepanjang kehidupanku.

Aku menarik nafas. Merogoh bandul pelangi yang terselubungi piama bergambar domba yang tengah ku kenakan. Aku menggenggam erat bandul itu. Menyimpannya di dada. Kembali menguatkan diri sendiri.

Dan nyatanya, kalung itu masih saja memiliki magisnya yang luar biasa. Bandul itu masih saja dapat mencipta sedikit kekuatan yang mampu menolong keluarnya beberapa kata yang sebelumnya tersangkut di tenggorokkan dan akhirnya kembali tertelan.

“Ify mau tidur Ma, Pa. Ify…” genggamanku semakin kuat. “Ify sayang Mama Papa!”

Lalu setelah itu, aku menelungkupkan wajahku pada bantal. Kembali menangis. Tanganku masih tetap mengepal. Tak ada sedikit pun niat untuk melonggarkan genggamannya. Hanya ini yang dapat ku lakukan untuk menguatkan hatiku sendiri sementara pemuda berhati malaikat itu tengah berada di antah berantah. Walau sebenarnya sangatlah janggal aku melakukannya. Bandul pelangi itu dari Sang penoreh luka menganga, dari pangeran matahari. Tak patut aku melakukannya. Harusnya aku melakukan hal yang lain. Yang lebih terhormat mungkin. Lalu apa? Berlari menemui Gabriel dan mengadu padanya? Setiap sesak terasa? Tak mungkin. Lalu apakah ternyata, diam-diam, tanpa adanya hujan, aku bergantung pada matahari?

Arrghtt!!! Aku melepaskan genggamanku. Menampar pipi tirusku yang masih basah berbekas tangis. Bodoh. Untuk apa aku memikirkan hal yang sangat tidak terpuji itu? Semuanya hanya akan menyakiti hati orang-orang yang aku kasihi. Keke, sahabat manisku. Dan Gabriel, pemuda berhati malaikat yang telah menjelma menjadi Pangeran Hujan yang ajaib bagiku.

Maka kini, baiknya aku memejamkan kedua mata. Semoga terlelapnya aku malam ini, dapat mengenyahkan segala apa pun yang hendak mengusik cinta sederhana ini. Biarkanlah. Biarkan Pelangi bahagia bersama rinai Hujannya. Pelangi sudah cukup bahagia tanpa adanya Matahari. Walau tanpa sadar, Pelangi takkan pernah ada tanpa adanya Matahari yang menyambut undurnya Sang Hujan.

***

Cahaya itu datang terlalu tiba-tiba. Menikam tajam tak terelakkan. Menyilaukan. Aku mengkerut. Sudah pagi rupanya. Dan cahaya menyilaukan barusan menembus kaca jendela dan masuk melalui celah tirai yang agak terbuka. Agak? Tidak. Tirai itu hampir sempurna dan terbuka. Aku mengerutkan kening. Mengucek kedua mataku. Menggeliat sejenak. Terkesiap kala mendapatkan sapaan selamat pagi yang menyenangkan dari seseorang yang baru saja ku sadari tengah duduk di tepi tempat tidurku. Dia tak mengenakan jas putih kebanggaannya. Dia Nampak cantik dan sederhana dengan pakaian rumah yang biasa dipakai ibu-ibu lainnya. Aku mengubah posisiku menjadi duduk. Masih dengan rasa tak percaya. Terus mengucek mata. meyakinkan. Mencari kebenaran. Mungkin saja ini khayalan. Fantasi belaka.

“Ma-mama??” berkata tanpa suara. Menggelengkan kepala.

Mama tersenyum. Senyum yang sangat cantik. Ya, Mama memang cantik. Wanita tercantik seluruh dunia.

“Mama kenapa bisa ada di sini?” Tanya yang bukan hanya berarti kenapa wanita hebat itu biasa masuk ke kamarku, padahal seingatku, sudah ku kunci rapat-rapat pintu jati itu. Tapi juga memiliki makna lain yang lebih krusial dari makna denotasinya. Kenapa? Kenapa mama ada disini? Bukankah seharusnya, sedari tadi Mama –dan juga Papa- telah bergegas menuju dunia mereka? Meninggalkan aku yang selalu tertinggal bersama duniaku sendiri. Sepi. Lalu pagi ini, ada apa? Langit cerah. Tak ada hujan yang menggagalkan rutinitas ‘menyenangkan’ mereka. Hey, Hujan? Hujan? Kemana Kau? Sudah beberapa pekan kau tak mengunjungiku. Aku rindu padamu. Bukankah akan lebih lengkap jika Pangeran Hujan ditemani Hujan-nya?

Helaan nafasnya terdengar bersahaja. Mama mengucap kalimat berikutnya setelah sapaan hangat tadi. 
“Kenapa Mama tidak bisa berada di kamar anak Mama sendiri?” Mama tersenyum menyeringai.

Aku tersenyum. Sedikit mencibir. Sejak kapan Mama menyambut pagiku? Pagi-pagi yang telah berlalu, dia tak pernah melakukannya. Sudah semiliyar pagi ia lewatkan untuk membangunkanku. Dan pagi ini, dia memotong rekor yang telah beberapa tahun terakhir ia cipta.

“Umm…” aku berfikir sejenak. “Tumben, belum pergi ke rumah sakit?” aku memutar kedua bola mata. Memalingkan muka. Kurang nyaman mendapatkan tatapan lembut yang ditujukan Mama padaku. Tertarik menatap keluar jendela. Seekor burung tengah melenguh dengan riangnya

“Ga akan. Papa juga di rumah. Hari ini, kami milikmu.” Mama mengusap rambutku. Lembut.

Hampir saja aku mencelat. Terperanjat. Bukan karena mendapatkan gesture hangat yang terhantar lewat usapan tangan Mama. Tapi lebih kepada kalimat di penghujung ucapannya. Hari ini, kami milikmu. Masih ingat dengan kalimat ‘Besok, kami milikmu’. Semuanya sama –kecuali kata awalnya yang diganti-. Caranya mengucapkannya. Sangat menyenangkan. Seraya tersenyum. Senyum mempesona. Dengan aksen suara yang menggetarkan. Tatapan mata teduh meyakinkan. Dan apa? Semuanya memang sama. Sama pula dengan apa yang hati ini rasakan kala mendengarnya. Terpana. Kalimat itu, meluluhkan tebalnya tembok kemunafikkan yang ku bangun dengan pondasi keegoisan. Seketika. Sekejap mata.

Aku mengerjap. Kalau semuanya sama, lalu apakah bagian akhir dari kelanjutan sepenggal kisah ini pun akan sama? Kembali berujung sesak. Akhir yang memilukan. Aku menggeleng. Mendorong lengan Mama dengan –agak- kasar agar menjauh dari rambutku.

Aku menyibak selimutku. Bangkit berdiri. Menyambar handuk yang tergantung di pinggir lemari. Bergegas ke kamar mandi.

Mama tersentak mendapat perlakuanku yang terkesan menghindarinya. Ia menatapi punggungku yang akhirnya menghilang di balik pintu kamar mandi. Menunduk dalam.

Lalu beberapa saat kemudian, derap adu antara alas kaki dan lantai terdengar mendekat kea rah kamar mandi. Mama mengetuk pelan pintu yang ada di belakangku. “Mama sama Papa tunggu di taman belakang rumah, sayang!”

Terduduk. Lemah tak berdaya. Menggigiti bibir sangat kuat. Apa yang baru saja ku lakukan? Menghindar? Kadang, saat kita bersusah payah menggapai mimpi namun mimpi itu terasa semakin jauh berlari. Meninggalkan raga yang tak lagi berarti. Menyerah dan mengubur dalam-dalam sang mimpi. Lalu apa? Saat sang mimpi datang menghampiri, mengulurkan kebahagian yang selama ini diingini, raga itu menampiknya. Menganggap mimpi itu tak lagi perlu untuk dimiliki. Menghindar. Namun, saat sang raga munafik itu sadar bahwa apa yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya itu adalah mimpi, sesungguhnya ia akan merasakan sesal yang tak terperikan. Menyesakkan. Kini, biarkan. Kita lihat, apa yang akan dilakukan raga itu selanjutnya. Semoga rasa menyesakkan dari sebuah sesal tak kan pernah menyentuh hati rapuhnya.

***

Gabriel sedang memperhatikan setiap lekuk dasi kupu-kupu berwarna putih yang beberapa hari lalu baru dia ambil dari butik Tante Zevana, bersamaan dengan jas dan juga gaun cantik –calon- gadisnya. Ia tertawa. Menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Nanti malam akan menjadi malam istimewanya. Perayaan hari jadinya yang ke-15 juga mungkin peresmian hubungannya dengan Putri Pelanginya. Untuk yang kedua, mungkin hanya angan-angannya saja. Ya, karena toh dia tak ingin memaksakan keadaan. Ia tak mau gadisnya itu tertekan. Biarkan saja. Seperti air. Siklusnya takkan ada habisnya. Berawal dari menguapnya air di bumi. Membentuk gumpalan awan mempesona di langit. Lalu mengembun dan akhirnya diturunkan lagi ke bumi melalui hujan. Hujannya yang baik dan menyenangkan. Begitu seterusnya. Siklus itu terus berputar tak ada hentinya. Tepat sekali. Seperti hatinya. Hati malaikatnya yang tak pernah berhenti mencintai Putri Pelanginya dengan tulus barang sedetik. Bahkan itu sudah hatinya lakukan sejak lama. Sejak ia dan gadisnya masih gemar bermain pistol-pistolan yang terbuat dari bambu. Bermain perang-perangan dengan tawa riang. Berakting dokter-dokteran di atas rumah pohon. Bermain basket dengan gembira. Walau pada awalnya, tak ada satu pun hati yang menyadarinya. Namun percayalah, Hujan sudah tahu sejak rasa itu masih berwujud kecambah. Dan sampai sekarang, sampai rasa itu telah mengakar dengan kuat, Hujan pun tahu. Hujan tahu semuanya.

Seorang wanita yang masih mengenakan celemek di tubuhnya melangkah perlahan mendekati putra tampannya yang tengah duduk dengan wajah berseri di balkon kamarnya. Ia ikut duduk di kursi lain di balkon itu. Tersenyum menatap putranya.

Gabriel menoleh ke arah Bunda –sekaligus Ayah- nya. Ikut tersenyum.

“Yel, Bunda ga sabar buat nanti malam. Bunda ingin bertemu dengan Putri Pelangimu. Pasti cantik.” Mama mengerlingkan matanya jahil.

Sang putra mencubit lengan Bundanya pelan. Ia mengulum bibir. Memalingkan wajahnya. Sedikit curi-curi pandang kea rah Mamanya.

Bunda tersenyum menyeringai. Ia menggerakkan tangannya untuk menyentuh bahu putranya. Putranya yang tampan. Ketampanan yang diwarisi dari Ayahnya yang dua tahun silam telah tiada. Gabriel menoleh. Menatapi wajah Bundanya yang teduh. Ia megulurkan tangan untuk mengusap cemong di pipi Bundanya. Sekarang, sempurnalah cantiknya. Bunda mengedipkan mata. Berterimakasih.

“Kamu sudah besar. Kamu tumbuh jadi apa yang Ayah dan Bunda harapkan. Tampan dan baik hati. Hebat dan sederhana.”

Gabriel tersenyum. Senyum lebarnya yang khas. Ia menyentuh lembut tangan Bunda yang masih berada di bahunya. Ia membawanya ke depan bibirnya. Mengecupnya beberapa detik. “Itu semua karena doa Bunda. Juga Ayah yang sedang menuntun kita dari surga.” Gabriel bergumam pelan.

Bunda menunduk. Ayah? Lelaki itu telah beristirahat dengan tenang. Mempercayakan Ksatria kecil di hadapannya ini padanya. Untuk ia jaga. Untuk ia didik. Untuk menjadi tempat terlapang penampungan kasihnya. Menitipkannya agar Kesatria kecilnya itu tumbuh menjadi lelaki yang tampan dan baik hati. Lelaki yang hebat. Lelaki yang sederhana. Duplikat  siluetnya.

Gabriel tahu benar apa yang dirasakan oleh Bundanya. Wanita hebat itu pasti tengah menabung rindu di hatinya. Rindu yang entah kapan dapat terbayarkan. Karena ia pun sama. Ia rindu Ayahnya. Lelaki tampan yang pertama mengenalkannya pada musik dan basket. Sosok yang jauh lebih super dari manusia super lainnya. Dia lelaki tangguh. Tegas. Baik hati. Dan tidak pernah menyakiti hati siapa pun, terutama Bunda. Maka ia kembali teringat akan segores pesan yang disampaikan Ayah sebelum menjemput keabadian. Jadilah pengganti Ayah untuk Bunda. Sayangi Bunda. Lindungi Bunda. Hapuslah air mata Bunda. Jadilah lelaki yang tampan, baik hati, hebat dan juga sederhana. Sederhana, anakku!

Gabriel meletakkan telunjuknya pada ujung dagu Bunda. Mengangkatnya pelan. Ia menohok pelihat sang Bunda. Ya Tuhan, lihatlah Bundanya! Bundanya yang cantik, namun wajahnya terlihat sendu. Gabriel menggeleng.

“Bunda, jangan sedih! Gabriel janji, Gabriel akan lakuin apa yang dikatakan Ayah. Menyayangi Bunda. Melindungi Bunda. Menghapus tangis Bunda.” Gabriel mangangguk.

Bunda terkesima. Lihatlah Ayah. Anakmu telah menjelma menjadi lelaki yang tampan sepertimu. Dia hebat. Baik hati. Dan dia juga mewarisi kesederhanaan yang ada pada dirimu. Kau telah menanamkan kesederhanaan itu bahkan sebelum anakmu ini lancar mengucap sebuah kata. Bunda menyentuh ujung matanya. Basah. Ia terharu.

“Terimakasih sayang! Tapi…” Bunda menggantung kalimatnya. Gabriel mengerenyit.

“Tapi Bunda mau, kamu seperti hujan. Hujan yang bukan hanya hadir untuk seseorang saja, tapi untuk semuanya. Semuanya tanpa pengecualian. Bunda mau, memperlakukan hal yang sama kepada semua wanita. Melindunginya. Menyayanginya. Menghapus tangisnya. Kamu mau melakukan itu? Untuk Bunda? Dan Ayah?” Bunda sedikit memelas.

Gabriel mengembangkan senyumnya. Semakin lebar. Bunda tak perlu memelas padanya. Karena tanpa memelas pun, tentulah dirinya akan menyanggupi permintaan Sang Bunda. Apa pun itu. Dan ini hanya menjadi hal sederhana untuknya. Tentulah. Karena Gabriel pemuda berhati malaikat. Bukankah jauh sebelum Bundanya meminta hal yang sama, ia sudah melakukannya terhadap semua wanita. Terlebih Putri Pelanginya.

Maka Gabriel mengangguk mantap. Ia berjanji. Janjinya yang suci. Pantang ia ingkari. Layaknya janji Sang Hujan yang tak pernah terlambat ditepati. Dan Hujan memang tak pernah mengingkarinya. Ia bersembunyi kala pelangi tersentum menyambut mentari.

Bunda tersenyum makin lebar. Ia merentangkan kedua tangannya. Segeralah Gabriel menghambur ke pelukan Bunda. Lihatlah Ayah, pemuda itu telah menjadi Hujan. Bahkan, Pangeran Hujan.

***

Bersambung.
***

Maaf bermiliyar maaf! Ngaretnya ga ajaib. Terusan, sekarang giliran dipost, hasilnya mengecewakan. Saya terus belajar kok! Makasih buat selama ini yang udah dukung saya. Makasih juga buat para buntel ajaib. Berbanggalah menjadi buntel! *eh Juga buat siapa pun yang ga pernah bosen say Sinta Ajaib buat saya. Makasihmakasih! Buat Lilis juga! haha
Oh ya, saya tunggu komentarnya. Di fb saya: Sinta Banget dan Shinta Nurwahidah. Atau juga ke twitter saya, @sintaSnap. Please! Don't copy this story!

Bubaaaaayyyyy!!!!

Salam Pisang Goreng!