Lebih Dari Plester

Tampilkan postingan dengan label Lebih Dari Plester. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lebih Dari Plester. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Februari 2017

Lebih Dari Plester part 18 & Epilog


Karena Gabriel sudah pernah merasakan ini dulu. Maka ia bisa membandingkan. Sialnya kali ini entah mengapa jauh lebih sakit. Mungkin karena ia sendiri yang terlebih dahulu menyakiti.

Karma? Ini bukan karma. Ia tidak percaya pada karma. Tapi ini memang resiko yang harus diterimanya. Berani menyakiti berati harus siap tersakiti pula. Ia masih tidak mengerti mengapa ia mengambil jalan ini. Setan mana yang telah merasukinya? Ia sama sekali tidak tahu. Yang jelas setelah peristiwa di dufan itu ia tidak pernah bisa tenang walau hanya sekedar menghela napas. Kalimat yang diucapkan Ify tempo lalu terngiang terus di benaknya.

“Hati Ify sudah patah.”

“…Patah.”

“…Patah.”

“Arghttttt!” Gabriel mengacak rambutnya sendiri. Begitu kacau. Pemuda itu tidak tahu bagaimana akan ia rekatkan kembali hati Ify. Akankah semudah ia memperbaiki kacamata Ify? Hanya dengan plester dinosaurus? Tidak mungkin. Gabriel merasa putus asa.

Di tengah kesendiriannya, Gabriel terus saja menyesali apa yang telah ia perbuat. Mengapa waktu itu ia tidak mengingat betapa Ify membangun semuanya dari titik nol? Betapa kerasnya Ify mendobrak benteng itu. Hingga akhirnya ia berhasil. Gadis itu bukan hanya menyentuh hatinya, tapi juga menciumnya. Tepat di intinya. Dan bagaimana Gabriel bisa lupa bahwa Ify melambungkan harap yang begitu tinggi padanya. Meskipun isinya teramat sederhana. Hanya ingin menjadi ‘mata’. Dan sekarang, bagaimana nasib Ify? Siapa yang akan menjadi matanya kalau bukan dirinya?

Gabriel tidak bisa tinggal diam sekarang. Sudah waktunya ia berlari. Mengejar dan meraih apa yang diinginkannya. Bukan hanya diam dan membusuk bersama segala penyesalan. Pemuda itu menyambar kunci mobilnya. Bergegas.

***

Cakka sesungguhnya kasihan melihat Sivia bersedih. Gadis itu selalu didapati tengah menangis dan nanar menatap langit dari balkon kamarnya. Tapi dia bisa apa? Toh ini kan yang dipilih Sivia?

Cakka tak bisa menyalahkan siapa pun atas semua ini. Tidak ada yang salah. Pun dengan keadaan. Semua resiko ini sudah diprediksi dari awal keputusan itu diambil. Jadi, yang terjadi, biarkanlah! Toh semua sudah terlewati. Sekarang, lanjutkanlah hidup masing-masing. Tidak usah ada yang disesali. Perbaiki diri saja.

Pemuda itu mendesah berat. Sebenarnya enggan melakukan ini. Tapi apa boleh buat. Sepertinya ini penting.

Cakka kemudian menghampiri Sivia. Menyentuh bahu gadis itu.

“ify ingin ketemu kamu. Dia di rumah sakit sekarang.”

Sivia terkesiap. Menatap Cakka tak percaya. Jani? Ingin bertemu dengannya? Untuk apa? Untuk memproklamirkan kemenangan telak atas dirinya? Seperti itu? Dan mengapa gadis –yang menurutnya sok- polos itu di rumah sakit? Pura-pura sakit agar dikasihani Gabriel? Supaya pemuda itu lebih memilihnya? Licik!

Berbagai macam celaan Sivia muntahkan dalam hati. Sumpah serapah diucapkannya. Gadis itu mendengus kesal. Lantas meminta Cakka untuk mengantarnya ke rumah sakit. Gadis itu akan membuat pehitungan dan memberi Ify pelajaran.

***

“Lo ga asyik banget sih, Fy! Masak pas libur sakit. Jadi kan gue sekarang liburannya di rumah sakit. Tadinya mau ngajakin lo ke Surabaya tahuuuu!” Oik mengulum bibirnya.

“Aduhh maaf deh! Tapi kan dengan Oik liburan di rumah sakit, Kara bisa ketemu sama dokter-dokter ganteng. Kali aja bisa jadi pacar. Jangan jomblo terussss.” Ify jahil menggoda Oik.

“Ify mahhhh!”

Suara ceklikan pintu mengakhiri perbincangan kecil antara Ify dan Oik. Keduanya terfokus pada pintu. Menanti siapa yang akan memasuki ruangan itu. Sosok Sivia diikuti Cakka di belakangnya menyembul dari balik pintu. Sontak membuat Oik membelalak.

Ify hanya menyunggingkan senyum tipis. Sama sekali tidak terkejut. Kedatangan Sivia justru begitu dinantinya.

“Ngapain lo ke sini?”

Pertanyaan Oik itu cepat dijawab oleh Ify. "Ify yang minta. oik sama Cakka boleh keluar dulu? Ify mau bicara berdua sama Sivia.”

Oik melirik Ify. Memastikan bahwa Ify akan baik-baik saja.

Ify mengangguk. Ia tidak akan kenapa-napa. Kan dia bukan ditinggal di kandang harimau.

Maka Oik disusul Cakka pun keluar dari ruangan itu. Menyisakan ify, Sivia, dan suara tetesan cairan infus.

“Makasih ya sudah mau datang!” ucap Ify tulus. Dijawab dengan putaran bola mata saja oleh Sivia. Muak sekali melihat wajah gadis perebut pemudanya itu.

“Ify juga mau minta maaf. Ify sama sekali tidak pernah bermaksud untuk merebut Gabriel dari Sivia. Sungguh Ify tidak tahu. Ketika Ify ke sini, Gabriel sedang sendiri. Mungkin dia kesepian. Jadi dia memilih bersama Ify…” Gadis itu menggigit bibirnya. Mengumpulkan kekuatan untuk mampu menyelesaikan apa yang ingin ia sampaikan.

“Tapi sekarang sudah ada Sivia di sini. Jadi wajar kalau Gabriel lebih memilih untuk bersama Sivia.”

Apa? Gabriel lebih memilih dirinya? Apa ify bercanda? Jelas-jelas Gabriel mencampakannya demi tetap bersama Ify. Dasar sok suci! Umpat Sivia dalam hati.

“Sekarang, Ify kembalikan Gabriel pada Sivia. Maaf Ify meminjam Gabriel tanpa izin. Maaf membuat Sivia sakit. Maaf! Maafkan Ify!”

Sivia dibuat Ify terhenyak. Apalagi ketika mendengar Ify mulai terisak. Dia tidak menyangka bahwa Ify akan melakukan ini. Ia pikir, Ify sama egoisnya dengan dirinya. Ingin tetap memiliki Gabriel. Tapi ternyata tidak. Gadis itu justru ikhlas merelakan Gabriel untuknya, meskipun pemuda itu telah terang-terangan menolaknya.

Ify lalu mengambil kotak yang telah disiapkannya. Kotak pusaka yang berisi benda-benda kesayangannya. Yang sayangnya kini justru harus berpindah tangan darinya. Gadis itu menyerahkannya pada Sivia.

“Ini. ify kembalikan juga benda-benda yang pernah Gabriel kasih untuk Ify. Ify juga tidak berhak atas semua benda ini. Hanya Sivia yang berhak.”

Sivia gemetar memegangi sang kotak pusaka.

“Benda-benda itu mungkin dititipkan Gabriel pada Ify untuk suatu saat Ify berikan pada Sivia. Dan inilah saatnya. Sekarang semuanya benar-benar milik Sivia. Seutuhnya. Tidak ada lagi yang Ify pinjam. Termasuk hati Gabriel.”

Pada akhirnya, entah karena apa, Sivia ikut menitikan air mata. Ia sungguh tidak pernah bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi Ify. Sivia tahu Ify hanya berpura-pura merelakan Gabriel untuknya. Sivia tahu ini tidak semudah kelihatannya. Tapi Ify berusaha keras menekan egonya. Ia mencoba melapangkan hatinya seluas mungkin. Karena tidak seperti dirinya yang justru selalu mengorek pembenaran atas kesalahan yang dilakukannya.

Sivia merasakan hatinya mencelos. Ternyata melihat musuh menyerah itu tidak membuatnya merasa menang. Justru menampar dirinya bahwa ia telah kalah telak. Karena di sini, pepatah mengalah bukan berarti kalah pun berlaku.

Dalam tangisnya yang menyedihkan, Ify mengucapkan banyak sekali doa. Semoga ia masih bisa bertahan walau dengan hatinya yang patah. Semoga dengan ini, tidak akan ada lagi luka. Semoga ia segera berhenti berpura-pura bahwa ia merelakan Gabriel pergi darinya. Semoga ia bisa melupakan Gabriel meski ia tahu itu tidak akan mudah. Dan banyak lagi semoga lain yang Jani bisikkan dalam hati.

***

Gabriel memukul setir mobilnya dengan keras. Sial! Mengapa tidak ada yang memberitahu dirinya bahwa Ify sedang sakit? Setidak pentingkah sekarang ia untuk Ify? Oke! Ia tahu ia sudah begitu menyakiti Ify. Tapi paling tidak, statusnya masih belum berubah. Ia tetap pacar Ify.

Pemuda itu kini menginjak gas kuat-kuat. Membelah jalanan menuju rumah sakit.

Tak butuh waktu lama, Gabriel kini sudah berdiri di depan ruangan di mana Ify dirawat. Beberapa menit setelah Sivia, Caka, dan Oik  pergi.

Ify kini sendiri di dalam ruangan itu. Menguras habis air matanya yang masih tersisa.

Ify tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika melihat Gabriel masuk dan melangkah mendekatinya. Gadis itu terburu-buru memasang topengnya. Mengkamuflase rasa cinta yang tak bisa ia tampik masih tersisa di hatinya.

“Ify aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Tapi aku… aku… aku cinta sama kamu,” ujar Gabriel seraya menggenggam tangan Ify. Nada bicaranya terdengar memilukan.

Tak dinyata, Ify kasar membebaskan tangannya. Ia memalingkan wajahnya. Tidak ingin melihat wajah Gabriel yang menggoda untuk ia sentuh. Tidak ingin luluh oleh dua bola mata coklat yang selama ini dikaguminya.

Tapi Gabriel belum mau menyerah. “Aku mau memperbaiki semuanya. Tolong!”

“Tapi yang patah hati Ify. Kalau sudah patah, mau diapakan lagi? Diperbaiki bagaimana pun tidak akan utuh. Dibalut oleh plester apa pun tidak akan sembuh. Patah, ya patah!” cicit Ify lebih memilukan.

Gabriel merasa dihantam sebuah martil raksasa. Sakit. Menghancurkan. Sebegitu jahatkahnya dirinya pada Ify? Sampai-sampai Ify tidak mau memberinya satu lagi kesempatan.

“Gabriel pergi saja. Ify tak apa tidak mempunyai mata. Karena sekarang Ify tahu, dengan apa Ify melihat. Dengan hati. Ya. Hati yang sudah Gabriel patahkan…” Gadis itu kembali menangis. Kali ini berkali lipat lebih memilukan.

“Jangan kembali lagi pada Ify! Ify bukan dunia Gabriel lagi.”

Dari sekian kalimat yang bagai belati untuk Gabriel, kalimat itulah yang paling mematikan. Kalimat eksekusi yang menjagal hatinya hingga bersimbah darah. Ia tak bisa apa-apa lagi. Kali ini ia terpaksa menyerah. Dan tentunya kalah.

Mereka sudah resmi berpisah. Tak bisa lagi dibantah. Gabriel pergi. Membawa hatinya yang kini juga sudah patah. Sama seperti Ify, ia tidak tahu bagaimana menyembuhkannya. Semua karena kebodohannya.

Berteman kesendirian, Ify merapalkan kata-kata motivasi yang tidak akan membuatnya menarik kembali semua keputusan yang telah diambilnya lima menit yang lalu. Dan agar tahu saja, Ify bukan tidak mau memberikan Gabriel satu kesempatan lagi. Ia hanya merasa tidak adil saja. Berkali-kali Gabriel mendapatkan kesempatan darinya, tapi selalu disia-siakan. Sementara ada seseorang yang tak pernah sekalipun mendapat sebuah kesempatan, tapi selalu menjadikan Ify satu-satunya pilihan.

Gadis itu melirik tangan kirinya. Sebuah karet gelang kumal melingkar di sana. Tanpa sadar gadis itu tersenyum. Walau ia tahu semua tidak akan mudah, tapi paling tidak ia mau berusaha. Ia tahu, pemuda itu pasti akan memberikannya kepingan hati yang baru yang akan menggantikan hatinya yang telah patah. Ia yakin, pemuda itu mempunyai sesuatu yang lebih dari plester.

Gadis itu melanjutkan hidupnya dengan terus berusaha. Bertemankan penyakit matanya, ia terus berjalan. Memenangkan kepingan hati baru yang sempurna.

***

Epilog

Harusnya, gadis yang tengah tertidur dalam dekapannya itu menari di bawah hujan. Bukan malah menangis dan berlomba dengan hujan untuk menjadi yang paling deras. Tapi toh, baik ketika menari ataupun menangis, ia tetap rela menemani gadis itu. Apa pun itu, momen bersama gadis itu terlalu berharga untuk tidak dinikmatinya.

Ia tahu dirinya bukan siapa-siapa untuk gadis itu. Namun ia tak mau mundur begitu saja. Gadis itu telah mengubah banyak hal dalam dirinya yang membuatnya lebih baik. Maka ia akan terus berjuang hingga akhirnya gadis itu berhasil ia dapatkan. Meski ia tak tahu kapan.

Ia menyentuh wajah gadis itu yang dirasanya begitu dingin. Andai tangannya adalah sebuah cairan, mungkin saat itu juga akan berhasil dibekukan. Ia tersenyum miring. Dalam keadaan sekacau ini pun, baginya gadis itu selalu terlihat cantik.

Ia merasa bahwa anak-anak rambut yang menempel di wajah sang gadis mengganggu kecantikannya. Ia memutuskan untuk mengambil sebuah karet gelang yang ada didalam saku celananya, lalu menggunakan karet itu untuk mengumpulkan rambut sang gadis dalam satu ikatan. Voila. Gadis itu semakin terlihat cantik.

*tamat*

***

Setelah bertahun-tahun, akhirnya aku punya keberanian untuk memposting ending dari tulisan ini, tulisan yang aku mulai sejak SMA. Gila! Laptopku aja udah ganti 3 kali. Hahahahhahaha.
Alasan aku baru ngepost sekarang adalah karena aku selalu merasa bahwa ini adalah ending yang (kayaknya) mengecewakan. Meskipun aku sangat puas, jujur. Hahaha.
Aku ga akan memaksa kalian untuk tidak kecewa. Silakan kecewa sepuasnya. Tapi yang jelas, aku mau mengucapkan terimakasih yang sudah menemani perjalanan Ify, Gabriel, Rio Kece, Sivia, Cakka, Oik, dan Dino. Terimakasih. Dan maaf sudah menunggu terlalu lama (itu pun kalau masih ada yang nunggu).

wehehehe. Love you all!

Lebih Dari Plester part 17


Mereka telah memasuki masa-masa yang mereka tunggu selama beberapa bulan lalu. Libur panjang setelah menyelesaikan semester ganjil. Ify tidak membuat rencana liburan. Ia memutuskan tinggal di rumah, atau hanya berkeliling kota saja. Toh selama ini, belum semua tempat di kota itu ia kunjungi.

Untuk hari pertama liburannya, ia mengajak Gabriel pergi ke Dunia Fantasi. Kemarin Ify mendapatkan dua tiket Dufan dari Papa. Katanya hadiah karena sudah berhasil mendapatkan peringkat pertama di sekolah barunya.

Ify baru saja turun dari taksi, ketika dilihatnya Gabriel keluar dari halaman rumah dengan motornya. Tapi yang membuat Ify sangat terkejut, Gabriel tidak sendiri. Di belakangnya seorang gadis melingkarkan tangan. Ify tahu pasti siapa gadis itu. Ya siapa lagi.

Ify menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan tangis. Merasakan pedih yang kembali hadir karena ulah Gabriel. Ini bukan kali pertama Gabriel membuatnya sakit. Sudah berulang kali. Bahkan dalam kurun waktu sebulan ini, begitu seringnya pemudanya itu membuat hatinya terluka.

Yang menambah kesakitan Ify adalah bahwa tadi malam Gabriel sudah berjanji akan pergi ke Dufan bersamanya. Tapi sekarang pemuda itu pergi. Bersama gadis lain pula. Apakah pemuda itu lupa kalau dia masih berstatus pemudanya?

Ify tidak mau menangis. Tapi matanya sendiri yang membuatnya perih. Pada akhirnya ia tetap menangis. Masih di tempatnya berdiri. Ia jatuh tersungkur. Lututnya mencium tanah.

Kala Ify masih meratapi kesedihannya, kala itu pula Rio datang. Entah mengapa pemuda itu selalu datang saat Ify sendirian. Seperti janjinya waktu itu. Tidak seperti Gabriel. Banyak janjinya yang justru ia langgar.

“Ify lo kenapa?”

Ify mendongakkan kepala. Mendapati Rio telah berdiri di hadapannya. Tergesa Ify menghapus air matanya. Kemudian tersenyum walau tidak selebar biasanya. “Halo!” Gadis itu malah menyapa Rio.

“Lo ga apa-apa?” tanya Rio. Ngeri juga. Bukankah beberapa detik yang lalu ia jelas-jelas melihat Ify menangis. Mengapa sekarang tiba-tiba gadis itu tersenyum dan mengatakan halo? Gadis itu selalu saja ajaib.

Ify menggeleng cepat. Lalu teringat sesuatu. “Kita ke Dufan yuk!” matanya yang masih menyisakan air melebar.

“Ha?” Rio kaget bukan main. Kenapa sih dengan gadis itu?

“Ayooo! ify tidak ada teman. Ify punya dua tiket. Sayang kalau ga dipakai. Berlaku hari ini saja.”

Rio mengucapkan O tanpa suara. Ia tahu sekarang mengapa gadis itu menangis. Pasti karena…

Ah, mengapa ia tidak bisa menduganya dari awal? Gadis itu jelas-jelas menangis di depan rumah Gabriel. Apa lagi yang telah dilakukan sahabat sialannya itu pada Ify?

“Mau yaaa! Please!” Ify memasang wajah memelas yang malah terlihat lucu.

Rio mengangguk. Apa pun, Fy. Ucapnya dalam hati.

***

Gabriel tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Mengapa ia ada di sini saat ini. Bersama gadis cantik yang lekat bergelayut manja di lengannya sedari tadi. Ia tahu ia tidak seharusnya melakukan ini. Ada hal penting yang telah ia lupakan. Sialnya ia tidak tahu apa yang ia lupakan itu.

“Aku sayang sama kamu.”

Gabriel hanya diam. Tidak membalas sepatah kata pun ketika gadis bidadarinya melontarkan sebuah kalimat manis itu. Bahkan ia menulikan telinganya sendiri. Demi agar tidak mendengar apa pun. Ia sedang berusaha mengingat apa yang sesungguhnya telah ia lupakan. Ia yakin sesuatu itu lebih penting dari apa pun. Bahkan kehadiran Sivia-gadis di sebelahnya.

“Ini bagus ga?” tanya Sivia ketika mencoba sebuah bando yang ada di toko souvenir yang disambanginya.

Lagi-lagi Gabriel hanya diam. Masih mencoba mengingat. Rasanya ia ingin membenturkan kepalanya sendiri pada tembok. Mengapa ia susah sekali mengingatnya?

Akhirnya saat matanya fokus pada sebuah titik, ia mendapatkan kembali ingatannya. Apa yang ia lupakan adalah apa yang jatuh di retinanya. Gadisnya.

Gabriel tidak bisa berkata-kata ketika dilihatnya Ify tengah berkejaran bersama Rio. Apa ini? Mereka berselingkuh di belakangnya?

Pemuda itu diliputi cemburu yang sama sekali tidak masuk akal. Ia berlari dan meraih tangan Ify, sehingga gadis itu berhenti mengejar Rio.

Ify pun tidak kalah terkejut mendapati siapa yang memegang pergelangan tangannya. Gadis itu kemudian membatu. Merasakan bahwa kebahagiaan bermain bersama Rio akan segera lenyap.

“Ify ngapain kamu di sini? Sama Rio? Kalian… Kalian… Kamu selingkuh?” ujar Gabriel dengan nada yang kelewat tinggi.

Sekonyong-konyong tersambar petir di siang bolong, Ify mencelat dan hampir saja terjengkang. Gadis itu menggeleng samar. Entah mengapa pita suaranya tidak berfungsi. Padahal banyak kata yang ingin diluncurkannya.

Menyadari bahwa Ify sudah tidak mengejarnya lagi,Rio pun berbalik. Lalu matanya mendapati Gabriel di sana. Pantas saja. Pemuda itu mendesah berat. Lalu tiba-tiba merasakan aura ketegangan yang terkuar dari sepasang kekasih itu. Dia memutuskan untuk menghampiri mereka.

“Pantas aja kamu selalu bangga-banggain Rio. Kamu suka kan sama Rio?” entah iblis mana yang sedang merasuki tubuh dan meracuni otak Gabriel, hingga berani berprasangka seperti itu pada gadis polosnya.

Rio mendengar kalimat terakhir Gabriel. Pemuda itu tidak terima –meskipun ia mengharapkan hal itu-. Kalau Ify menyukainya, gadis itu tidak mungkin menerima Gabriel menjadi pacarnya. Sudah jelas Jani hanya menyukai Gabriel. Setiap air mata berharganya selalu tercipta untuk dan karena Gabriel.

Gabriel kini mengalihkan pandangannya pada Rio. Sahabatnya itu selalu saja jadi rivalnya. Entah itu masalah bola, juga masalah hati seperti saat ini.

“Gue ga ngerti sama lo, Yo! Lo sahabat gue, tapi kenapa lo nusuk gue dari belakang. Gue tahu lo suka sama Ify. Tapi lo harusnya tahu diri. Ify sekarang pacar gue.”

Rio mengerutkan kening. Mengapa jadi dirinya yang disalahkan?

Sementara Ify menunduk dalam. Menatapi buliran air matanya berjatuhan ke bumi. Tepat di ujung sepatunya. Membuat genangan di sana. Ia sudah tidak dapat menahan semuanya. Gabriel terlalu jahat padanya. Atau mungkin memang Ify yang salah? Atau siapa? Ify merasa tidak salah. Ia hanya ingin bahagia. Itu sebuah kesalahankah?

“Lo ga usah ngerasa yang paling sakit deh di sini. Tusukan gue ga sebanding sama apa yang lo udah lakuin sama Ify. Lo ga tahu apa, lo udah terlalu sering nyakitin Ify…

“Lo tahu kenapa gue ada di sini sama dia sekarang? Tadi gue nemuin dia di depan rumah lo. Nangis. Itu karena lo. Dan sekarang, lo malah ada di sini. Bersenang-senang sama cewek plester lo itu.” Rio menunjuk Sivia yang tengah berjalan ke arah ketiganya. “Lo lupa apa yang udah dia lakuin sama lo? Dia pergi tanpa kabar. Buat lo jadi monster yang mati rasa. Lalu Ify datang. Dia bikin rasa lo hidup lagi. Sekarang, lo ninggalin Ify cuma buat cewek ini?”Rio mendelik tajam pada Sivia yang kini sudah ada di samping Gabriel.

Sivia tahu apa yang tengah terjadi. Ini sudah diduganya sejak awal. Tapi toh ia tak mau menyerah. Ia masih mau memperjuangkan perasaannya. Tidak peduli akan ada perasaan lain yang tersakiti, hingga mungkin teronggok mati.

Ify kemudian memberanikan diri mengangkat kepalanya. Lalu tidak sengaja matanya bertumbuk dengan mata Sivia yang menatapnya tajam. Kalau saja itu belati, mungkin saja Ify sudah terbunuh dan mati. Hatinya mencelos melihat Sivia. Pantas saja Gabriel  lebih memilih Sivia ketimbang dirinya. Gadis itu cantik, putih, tinggi, wajahnya mulus  dan yang pasti dia memiliki sepasang ‘mata’, hingga Gabriel tidak perlu repot-repot menjadi mata. Ah iya. Mungkin selama ini Ify merepotkan Gabriel.

Gadis itu kini menatapi ekspresi wajah Gabriel yang begitu kaku. Pemuda itu tengah mencongkeli kebenaran yang selama ini ia timbun dalam-dalam. Bahwa benar kata Rio. Tidak ada yang lebih tersakiti di sini selain Ify. Bahwa kesalahan terbesar dalam prahara ini adalah dirinya sendiri. Pemuda itu merasa dadanya sesak. Terkena hantaman peluru yang begitu telak.

Di sisi lain, Sivia melirik Gabriel dari ekor matanya. Mengapa pemuda itu diam saja? Harusnya pemuda itu memberikan pernyataan bahwa hanya dirinyalah yang pantas mendampingi pemuda itu. Bukan gadis mungil yang hanya bisa menangis itu. Maka demi dirinya dan perasaanya, gadis itu angkat bicara.

“Aku ga kenal sama kamu ya, Fy! Tapi aku kaget banget saat aku pulang, kamu udah ada di sini, sama Gabriel. Kamu rebut Gabriel dari aku. Kamu buat dia bingung hatinya untuk siapa. Kamu buat dia bimbang harus memilih siapa. Padahal hanya aku satu-satunya pilihan dia. Aku yang udah ada di hatinya jauh sebelum kamu hadir di kehidupan dia. Kamu penjahat Ify!” ujar Sivia dengan aksen membentak yang tertahan. “Bahkan kamu bukan hanya mencuri Gabriel dari aku. Kamu mencuri kalung aku.”

Begitu menyakitkan apa yang dikatakan Siviaa. Karena dari situlah Ify tahu posisinya apa. Ia penjahat. Untuk hatinya terutama.

Rio tahu rasanya jadi Ify seperti apa. Tidak tahu apa-apa, tapi harus menanggung akibat dari kesalahan yang tidak dilakukannya. Rio berubah mejadi pengacara. Rela membela Ify tanpa imbalan apa-apa.

“Lo ga tahu diri banget sih. Yang jahat itu Ify atau lo? Lo lupa lo udah bikin Gabriel sakit? Lo ga tahu tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar. Dan sekarang lo balik, seenak udel lo minta Gabriel buat nerima lo dan ninggalin Ify. See? Siapa yang paling jahat?

“Dan lo, Gab!” Rio kini menyerang Gabriel yang hanya bisa membisu. Tidak berguna, seperti patung. “Lo pengecut! Lo buat Ify sama Sivia jatuh cinta, tapi lo ga bisa tanggung jawab. Lo penakut. Lo ga pernah bisa tegas. Oh iya, gue mau menekankan satu hal. Lo hanya boleh matahin kacamata Ify, bukan hatinya.”

Gabriel terkesiap. Ucapan Rio mengingatkannya pada peristiwa beberapa bulan silam, ketika dirinya mematahkan kacamata Ify. Tapi pada akhirnya, Gabriel bisa memperbaikinya. Membalut kacamata itu dengan plester dinosaurus. Lalu kalau hati Ify yang ia patahkan, harus dengan plester apa ia merekatkannya?

“Tapi hati Ify sudah patah. Ify tidak tahu bagaimana menjadikannya utuh kembali. Ify tidak punya plester yang bisa mengobati hati. Ify tidak tahu!” ujar Ify dengan sesenggukan. Lalu memutuskan untuk pergi. Entah ke mana. Yang pasti berlari. Menghindar dari sana. Tempat pejagalan hatinya.

“IFYYY!” Rio berlari mengejar Ify. Meninggalkan Gabriel dan Sivia yang berkutat dengan pikiran masing-masing. Gabriel tenggelam dari perasaan bersalah yang teramat memilukan. Sementara Sivia terus melapalkan pembenaran pada dirinya sendiri. Dia bukan penjahat di sini. Dia justru dijahati. Mereka saja yang tidak pernah mengerti.

***

Rio akhirnya bisa menggapai tangan Ify dan membuat gadis itu berhenti berlari. “Please jangan lari lagi!”

Ify menatap Rio dengan matanya yang masih saja berair. Melihat wajah Rio yang menyerupa malaikat saat itu. Teringat betapa tadi pemuda itu mati-matian melindungi hatinya, meskipun nyatanya terlambat dan sia-sia.

Rio menggigit bibir. Mengapa ia tidak mencintai Julio kecenya saja? Andai ia bisa mengemudikan hatinya untuk jatuh cinta pada siapa. Bukan pada Gabriel yang selalu membuat mata kesayangannya menangis. Membuat hatinya baret hingga kini patah menjadi dua.

Ify semakin terisak. Kini menangkupkan kedua telapak tangan pada wajah manisnya. Lalu sejurus kemudian menjatuhkan tubuhnya pada dada kokoh pemuda di hadapannya. Melanjutkan tangis yang tak kunjung reda.

Rio mengusap punggung Ify yang naik turun. Menenangkan. “Lo boleh nangis, Fy! Tapi jangan lupa buat senyum lagi.”

“Bagaimana kalau Ify lupa caranya tersenyum?” tanya Ify retoris.

“Ga akan. Lo selalu buat orang di sekitar lo senyum. Karena itu lo ga akan lupa,” ujar Rio mantap. Erat mendekap gadis yang masih belum mau berhenti menangis.

Tak berapa lama, alam juga menumpahkan tangisnya. Seakan ingin berlomba dengan Ify untuk menjadi yang paling deras.

Mereka masih di sana. Tidak beranjak sejengkal pun. Menikmati setiap tetesan hujan yang menghujam tubuh.

“Lihat! Langit aja ampe nangis lihat lo nangis. Banyak banget kan yang sayang sama lo. So, jangan sedih lagi!” bisik Rio tepat di telinga Ify.

Gadis itu keluar dari tubuh Julio. Mendongakkan kepalanya menatap langit. Meresapi setiap rintik yang menimpanya. Membiarkan air matanya tersapu dan terkamuflase sang hujan. Ia merasa agak lebih baik. Setidaknya detik ini dia bisa berhenti menangis. Ia menarik ujung-ujung bibirnya ke atas. Aroma hujan yang khas membantunya begitu banyak.

Rio benar. Dirinya tidak akan lupa bagaimana caranya tersenyum. Senelangsa apa pun nasibnya. Gadis itu menatap Rio yang juga kuyup sepertinya. Gurat wajahnya nampak tegas dengan hiasan bulir hujan yang bergelayut di sana. Kemudian menghambur kembali ke pelukan Rio. Ini pelukan terimakasih. Terimakasih untuk tidak pernah meminta pamrih apa pun dari Ify, meski telah begitu banyak kebaikan yang telah ia beri.

***

Efek hujan tadi ternyata tidak cukup baik untuk tubuh Ify yang mudah sekali terserang penyakit. Malam ini gadis itu demam tinggi. Menggigil kedinginan. Dua selimut tebal tidak cukup menghangatkannya.

Karena suhu tubuh Ify yang tidak kunjung normal, Mama dan Papa memutuskan untuk membawanya ke rumah sakit. Di luar masih hujan. Mereka menerobos derasnya hujan, membelah jalanan yang tergenang.

***

“Kita harus menyelesaikan semuanya malam ini juga,” ucap Gabriel. Dia baru saja dilemparkan pada akal sehatnya. Harusnya ia melakukan ini sejak lama. Tidak menunggu gadisnya sakit terlebih dahulu.

“Apa?” tanya Siva. Berpura-pura tidak tahu.

“Kita…” Gabriel menghela napas berat. “Aku cinta sama Ify. Hanya Ify,” ujar Gabriel dengan mantap.

Sivia menggeleng tidak percaya. Dia merasakan kedua matanya memanas. Kalimat itu adalah kalimat yang tidak mau ia dengar seumur hidupnya.

“Maaf! Kadang, plester aja ga cukup buat nyembuhin luka. Kamu tahu, Ify punya sesuatu yang lebih dari plester. Dia sempurna nyembuhin luka yang udah kamu buat di hati aku. Bahkan dia nawarin potongan hati yang baru. Yang utuh. Yang sempurna, tanpa lebam sedikit pun.”

Setetes air mata jatuh dan lancar meluncur membelah pipi pualam Sivia. Mengapa eksekusi ini berjalan lebih cepat dari yang ia kira? Gadis itu menggigit bibir. Entah harus melakukan apa.

Jujur saja. Gabriel kasihan melihat Sivia. Tidak pernah terbayangkan olehnya, bahwa ia akan membuat gadis plesternya menangis di hadapannya. Rasanya ia ingin memotong rantai air mata itu. Tapi ia cegah kuat-kuat tangannya untuk tidak bergerak. Sekarang bukan tugasnya lagi Pemuda itu akhirnya berjingkat dari kursinya. Pergi meninggalkan Sivia dalam runtuhan pesakitan. Ia tidak memedulikan apa pun. Termasuk derasnya hujan yang sejak sore membungkus kota. Ia menerjang sang hujan.

Satu masalah akhirnya terselesaikan, meski terhitung begitu terlambat. Gadisnya terlanjur jatuh. Terjatuh dalam palung kesedihan.

Sekitar sepuluh meter dari eksekusi itu terjadi, dari balik tembok, Cakka menyaksikan segalanya. Bahwa meski pahit, pada akhirnya itu harus tetap terjadi. Layaknya obat. Mungkin efeknya bisa menyembuhkan. Meski ia tak tahu akan bereaksi dalam jangka waktu berapa lama. Semoga saja Sivia bisa cukup lapang menerima .

***

Karena penyesalan selalu saja hadir tidak tepat waktu. Terlambat sudah Gabriel menjaga hati Ify untuk tidak tersakiti. Ia dengan segala kesadarannya menyayat hati gadis itu dengan begitu keji. Lebam di sana-sini. Lalu patah dan menjadi tak berarti.

Selama ini Gabriel selalu merapalkan pembenaran atas segala apa yang ia lakukan. Menjadikan otaknya tumpul dan tidak dapat lagi membedakan, mana cinta mana euphoria. Dia hanya mencintai Ify. Tidak ada gadis lain. Sedangkan Sivia hanya euphoria yang datang sejeenak lantas berlalu dalam sekejap. Dia hanya wujud atas segala rindu yang toh kini sudah menguap di langit-langit masa lalu. Tidak dapat kembali menjadi tetesan rasa yang dulu selalu menggenangi hatinya.

Malam ini, diiringi orkestra rintikan hujan, Gabriel menyesali segalanya. Pemuda itu menangis. Karena dalam penyesalannya, ia tak tahu harus berbuat apa selain menangis. Bahkan untuk meminta sepucuk maaf pun, ia merasa tidak pantas.

Hingga malam itu berakhir, pemuda itu masih saja menangis. Kini tanpa air mata. Namun dengar! Hatinya menangis jauh lebih kencang. Sungguh menyedihkan.

***

Ify benci rumah sakit. Harusnya tidak ada yang namanya rumah sakit di muka bumi ini. Itu adalah bentuk diksriminasi bagi orang sakit. Harusnya rumah sakit diganti dengan rumah sehat. Supaya orang-orang yang sakit menjadi sehat.

Sialnya, sejak kecil Ify harus selalu berhubungan dengan rumah sakit. Tubuhnya yang mungil sangat rentan terkena penyakit. Bahkan hanya karena guyuran air hujan. Ify tahu penyebab ia tumbang kali ini. Bukan hanya karena hujan. Tapi juga karena kondisi hatinya yang patah. Ingin rasanya ia meminta pada dokter untuk memeriksa hatinya. Bagaimana keadaannya sekarang? Hanya lebam atau seperti yang ia katakan? Patah? Seperti itu? Gadis itu mendesah berat. Tidak menyangka bahwa ia bisa sebegitu cintanya pada Gabriel. Bahkan ia mencintai pemuda itu bukan hanya dengan hatinya, tapi juga sepenuh jiwanya.

Lamunan Ify akhirnya buyar ketika seseorang tiba-tiba memasuki kamar di mana ia dirawat. Mama. Wanita itu tadi pagi izin untuk pulang sebentar. Mengambil beberapa barang. Tadi Ify sempat meminta Mama untuk membawakannya sebuah kotak di kamarnya. Kini, lihatlah! Mama begitu kerepotan membawa barang-barang itu. Dengan napas tersengal, wanita itu menaruh semuanya di meja kecil di sana.

“Ify sudah lebih baik?” tanya Mama.

Ify mengangguk. “Ma, pesanan Ify mana?”

“Ini!” Mama mengangkat sebuah kotak, lantas memberikannya pada Ify.

“Mama ketemu dokter dulu ya! Muahh!” mengecup kening Ify, lalu kembali meninggalkan ruangan itu. Membuat Ify kembali sendiri. Tidak. Kali ini ia ditemani kotak pusakanya.

Ify menghela napas berat. Menyusuri setiap sudut kotak. Lalu patah-patah mulai membukanya. Beberapa detik kemudian, bayangan benda-benda kesayangannya pun jatuh di retinanya. Gadis itu mengeluarkannya satu persatu. Sebuah boneka dinosaurus berbalut kaus merah muda. Mahluk tak bersuara yang selalu menemani malamnya. Mengantarkannya menggapai mimpi tiap kali terlelap. Tempat ia menumpahkan segala curahan hatinya. Ify menyentuh pipi Dino dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dengan tatapan nanar, gadis itu berucap setengah berbisik. “Dino, sebentar lagi kita berpisah. Aku ga mau itu terjadi. Tapi aku ga berhak lagi atas kamu. Dari awal, kamu emang seharusnya bukan dengan aku.”

Gadis itu menggigit bibir. Sekelebat bayangan Gabriel meracaukan otaknya. Membuat hatinya semakin sakit, dadanya semakin sesak.

“Aku sayang kamu, Dino!” ucap Ify dengan terbata-bata, lalu membawa Dino ke dalam pelukannya. Menciumi wajah Dino yang baginya selalu terlihat manis dan menggemaskan.

Setelah Dino, Ify kini beralih pada sebuah buku jumbo yang pernah ia khatamkan dulu. Buku yang membuatnya jatuh cinta pada hewan menyeramkan yang kini telah punah. Dinosaurus. Yang juga memberinya pemahaman bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dalam hidup ini. Tapi sekarang Ify mencoba menyangkalnya. Ia takut. Takut menerima kenyataan bahwa ia akan berpisah dengan semua yang berbau dinosaurus yang dulu begitu akrab dengannya. Tanpa sadar, gadis itu menitikan air mata. Setelah sekian lama ia berusaha menahannya.

Benda ketiga yang Ify keluarkan dari kotak adalah sebuah kalung cantik yang berkilau terkena sinar matahari yang menembus kaca jendela. Kalung ini. Meski telah tinggal bersamanya dalam waktu yang cukup lama, meski pernah dikenakannya beberapa waktu, tapi sesungguhnya tidak pernah menjadi miliknya. Gadis itu kemudian mencelos. Mengingat bahwa Gabriel pun seperti itu statusnya. Meski telah melewati berbagai hal bersamanya, meski telah mengucap kata cinta padanya, tapi sebenarnya pemuda itu pun tak pernah dimilikinya. Setidaknya hatinya.

Gadis itu mendesah kentara, lantas meletakkan kembali kalung itu ke dalam kotak.

Benda terakhir yang belum dijamahnya adalah sebuah kacamata yang sudah dibebat oleh plester dinosaurus. Kacamata itu memang miliknya. Mutlak miliknya. Tapi perekatnya bukan. Perlahan Ify melepas plester itu dari batang kacamatanya. Kacamatanya kembali terbagi menjadi dua.

Gadis itu memegangi dadanya yang semakin sesak. Kacamata itu mungkin replika dari hatinya yang kini juga patah. Meski ia tak tahu entah menjadi berapa bagian.

Plester itu pun Ify kembalikan ke dalam kotak.

Lalu tak sengaja, mata Ify tertumbuk pada apa yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Gadis itu tertegun sejenak. Haruskah gelang itu juga ia lepas dan ia masukkan ke dalam kotak? Gelang yang sejak pertama dipasangkan tidak pernah lagi ia lepas untuk alasan apa pun. Dan apakah kali ini alasannya cukup kuat? ify mengingat percakapannya dengan Mama tadi pagi.

***

“Mama pernah patah hati?” celetukan Ify tiba-tiba mengejutkan Mama yang tengah membuatkan segelas susu untuk anak sematawayangnya itu.

Mama masih melanjutkan prosedur pembuatan susu. Belum mau menjawab.

“Apa Mama pernah patah hati oleh Papa? Apa Mama akan menerima kembali Papa kalau Papa membuat Mama patah hati? Atau Mama akan menyembuhkan hati Mama sendiri tanpa Papa?” pertanyaan-pertanyaan itu Ify ucapkan dalam satu helaan napas. Membuat Mama tidak bisa berpura-pura tuli. Ia tahu apa yang tengah terjadi dengan putrinya itu. Tapi selama ini ia membutakan penglihatannya demi alasan tidak mau ikut campur. Mungkin sudah saatnya Mama terjun langsung untuk menyelamatkan putrinya.

Mama tersenyum menyeringai, menyerahkan segelas susu yang sudah dibuatnya pada Ify. Gadis itu menggeleng. Tidak mau minum susu sebelum Mama menjawab semua pertanyaan Ify.

Lagi-lagi Mama tersenyum. “Papa tidak pernah membuat hati Mama patah. Sesekali, Papa mungkin menyakiti hati Mama. Tapi tidak pernah sampai patah. Hanya lebam sedikit, kemudian Papa sembuhkan lagi.”

Ify hendak menyela ucapan Mama. Namun terlambat sepersekian detik oleh Leni yang melanjutkan perkataannya. “Tapi dulu, seorang lelaki pernah mematahkan hati Mama. Ketika itu kami berpacaran. Namun tiba-tiba, dia meninggalkan Mama dan menikah dengan perempuan lain. Bisa dibayangkan seperti apa hati Mama saat itu?” Mama bertanya retoris.

“Tapi pernikahan itu tidak berlangsung lama. Mereka kemudian berpisah. Lelaki itu kembali dan meminta hati Mama lagi. Hati yang sudah dan masih patah itu. Dengan tegas Mama menolaknya. Meskipun waktu itu jujur Mama masih sangat mencintainya.”

“Kenapa?” tanya Ify.

“Karena cinta adalah kehormatan. Bukan melulu tentang perasaan. Dan bagi Mama, hati yang patah tidah bisa direkatkan kembali. Jalan satu-satunya ya diganti. Dan meskipun butuh waktu yang lama, Mama akhirnya menemukan kepingan hati yang baru. Yang dikasih Papa kamu.”

Ify menatap takjub pada Mama. Begitu arif dan bijaksana dalam ketegasannya. Harusnya Ify pun seperti itu. Tidak lagi dilema. Tidak lagi mengabaikan kehormatannya. Lihatlah Mama kini! Telah berbahagia dengan kepingan hatinya yang baru. Hati yang patah dulu telah disemayamkan. Ditinggalkan hanya untuk menjadi kenangan yang tak pernah lagi dikenang.

“Ayo sekarang minum susu dulu!” ujar Mama. Membuyarkan lamunan Ify. Gadis itu terkekeh. Lalu menuruti titah sang mama.

***

Ify terkesiap. Menyangkal hatinya yang kembali meragu. Tidak boleh. Tidak ada lagi kebimbangan yang dipersilakan Ify untuk menguasainya. Ia sudah memantapkan diri. Biarkan hatinya patah. Tak akan ia apa-apakan lagi.

Ify kini melepaskan gelangnya. Memasukannya ke dalam kotak untuk tinggal bersama benda-benda yang sebentar lagi akan ia serahkan kepada seseorang yang berhak. Lalu menutup rapat kotak itu. Ify kemudian meraih ponselnya. Mengetik sebuah pesan yang hanya terdiri dari satu kalimat. Pendek pula. Lalu ia kirim ke salah satu kontak di ponselnya.

***

Sabtu, 02 Februari 2013

Lebih Dari Plester part 16B



Sivia tidak pernah bercita-cita menjadi seorang penjahat. Mengambil sesuatu yang sebenarnya telah menjadi hak orang lain. Tapi ia bisa apa. Perasaan cinta yang ia punya terlalu besar. Membutakan logikanya. Menumpulkan hati kecilnya.

Mungkin, selingkuh tidak ada salahnya. Selama ia bisa menutupnya dengan rapat, sah-sah saja sepertinya. Selama itu, ia tidak menyakiti hati siapa pun, bukan?

Lebih Dari Plester part 16A


Gabriel merasa dirinya kembali menjadi anak-anak. Ia merasa dilemparkan kepada masa kecilnya di mana ia gemar sekali bermain kucing-kucingan. Dulu, ia biasa bermain dengan Rizky dan Daud. Mengelabuhi dua sahabat ciliknya itu dengan sangat sempurna. Bersembunyi di tempat yang sangat tertutup. Rizky dan Daud yang kebagian jaga tidak pernah berhasil menemukan Gabriel. Gabriel kucing yang handal.

Sekarang, ia kembali bermain kucing-kucingan. Bukan dengan Rizky atau Daud yang sudah jelas-jelas pindah ke luar kota sejak mereka masuk ke sekolah menengah pertama. Kini, ia bermain dengan Ify, Rio, Oik dan semua orang yang berpotensi membahayakan posisinya. Kali

Lebih Dari Plester part 15



Gadis itu menggeliat. Memalingkan wajah untuk menghindari seberkas sinar yang tajam menusuk matanya. Setelah beberapa detik beradaptasi, gadis itu perlahan membuka matanya. Lalu merasa perlu menyisir setiap sudut kamarnya. Dan ketika matanya tertumbuk pada pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon yang menjeblak terbuka, gadis itu tersenyum. Melihat seorang pemuda yang berdiri dekat pagar pembatas. Entah sedang melakukan apa.

Sivia-gadis itu menendang selimut yang semalaman menghangatkan tubuhnya. Berjingkat dari ranjangnya. Dengan sisa-sisa tenaga, berjalan tersaruk menghampiri sang pemuda. Cakka tentu saja.

"Good morning!" tukas Sivia ketika

Lebih Dari Plester part 14B


Hari ini untuk kesekian kalinya, lagi-lagi Cakka gagal mengalahkan ketakutannya. Nyali yang telah ia kembangkan seketika menyusut kala ia menjejak pintu masuk sebuah TPU terbesar di kotanya. Rasa bersalah itu merongrong tembok keberaniannya.

Namun ia masih tetap berusaha. Menyeret kakinya yang entah mengapa terasa begitu berat. Menelusuri satu persatu gundukan tanah yang telah ditutupi rumput. Memindai nama-nama yang terukir di permukaan batu nisan yang menempel pada masing-masing gundukan. Ia hanya mencari satu nama. Nama seorang gadis yang pernah berkuasa di altar suci hatinya satu tahun silam. Yang kini

Kamis, 15 November 2012

Lebih Dari Plester part 14A



Oik menyesal telah menanyakan sebab dari ketidakhebohan Ify tadi. Lihat sekarang! Gadis itu bahkan jauh lebih heboh dari biasanya. Gabriel begini, heboh. Gabriel begitu, heboh. Oik sih tidak masalah selama tidak mengganggunya. Ini sih namanya bukan mengganggu lagi. Tapi sudah membahayakan.

Kalau saja tidak ada pemuda yang refleks menahan tubuhnya, pastilah Oik sudah jatuh terjengkang. Bergabung bersama kuman dan bakteri yang menempel pada alas kaki setiap orang yang berjejalan di sana. Untung saja. Dua kali tersenggol, dua kali pula diselamatkan oleh pemuda yang sama. Oik sempat tertegun sejenak ketika melihat wajah pemuda itu. Baru pertama dilihatnya

Jumat, 28 September 2012

Lebih Dari Plester part 13B



Rio menginjak pedal rem kuat-kuat. Menghentikan laju mobil mahalnya di depan sebuah bangunan rumah bernuansa klasik. Itu rumah Ify. Sebelumnya, ia baru saja mengantarkan Oik pulang. Gadis itu pingsan lagi. Sekarang, ia menyambangi rumah Ify. Menjenguk gadis itu. Semoga sakitnya tidak terlalu parah. Hanya berkisar demam atau flu saja.

Yang belum Rio tahu, semuanya hanya berujung pada makna semoga. Tidak lebih satu inci pun.

“Oh, jadi ini Rio kece ya? Ify sering cerita tentang kamu. Katanya, kamu raja telat ya?”

Senin, 27 Agustus 2012

Lebih Dari Plester part 13A


Kalau begini jadinya, aku tidak ingin diberitahu akan seperti apa aku nanti. Tuhan, lindungi aku dari keadaan tahu ini!

***

Ify melihat refleksi seorang gadis dalam cermin. Nampak sempurna dengan balutan seragam sekolahnya. Lengkap dengan bletzer biru kotak-kotak berenda. Rambutnya dibiarkan terurai. Kalung perak menjuntai menghiasi lehernya. Apa yang kurang?

Coba perhatikan dari ujung sepatu

Jumat, 17 Agustus 2012

Lebih Dari Plester part 12


Mulai berhitung. Satu. Dua. Tiga. Hingga tak berhingga.

Satu, untuk sepenggal masa lalu. Dua, untuk penggalan yang lainnya. Tiga, masih tetap sama. Tak berhingga, masa lalu itu sempurna terbaca. Akibatnya sudah dapat terkira. Tak berhingga, untuk pemahaman dari apa itu masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang.

***

Ify melipat kedua tangannya di depan dada. Celingak-celinguk mencari Rio yang tiba-tiba saja menghilang. Tadi, Ify kalah cepat oleh Rio ketika

Jumat, 03 Agustus 2012

Lebih Dari Plester part 11



Keduanya mulai beraksi. Terjun ke jalanan dengan menggunakan baju yang sama. Medan utama mereka adalah area lampu merah dengan target para pengguna jalan raya yang tentu saja tengah berhenti. Mereka memberikan masing-masing satu plester dinosaurus dan selembar brosur kepada setiap pengguna jalan. Brosur ajakan untuk saling mengasihi antar sesama. Saling berbagi. Alangkah indahnya kalau semua penghuni bumi dapat melakoninya. Dengan ketulusan hati dan kebijakan diri.

Ify bersemangat melakukannya. Menghampiri pesepeda motor. Memberikan plester dan brosur. Memberikan senyuman termanisnya. Beralih pada yang lain. Mengetuk jendela mobil. Sang empunya mobil membukanya secara perlahan. Langsung disuguhi plester dinosaurus. Berterimakasih. Lantas berpindah pada mangsa-mangsa lainnya. Begitu terus sampai satu jam ke depan. Tanpa lelah ia membagikan plester-plester menggemaskan itu. Melupakan sejenak keterbatasan yang bersemayam dalam tubuh mungil nan ringkihnya. Ify hanya ingin berbagi kebahagiaan siang ini.

Awalnya Gabriel setengah hati melakukannya. Buang-buang waktu dan tenaganya saja. Begitu pikir Gabriel. Ia malas-malas membagikan plester. Senyum miring pula yang ia suguhkan. Tanpa keikhlasan. Tapi melihat Ify yang begitu bersemangat melakukan gerakan seribu plester dinosaurus yang menurutnya aneh itu, hati Gabriel

Selasa, 19 Juni 2012

Lebih Dari Plester part 10B


Karena walaupun masa lalu adalah hal yang tabu, tak akan ada yang pernah bisa menghapusnya dari sejarah.

***

Bunyi bel yang menjerit bersamaan dengan Bu Winda yang mengakhiri pelajaran untuk hari ini, sontak membuat Ify mencelat. Sedari tadi, bunyi itulah yang dinanti. Ya, karena ketika bel berbunyi, ia akan mulai beraksi.

Ify terburu-buru membereskan buku serta alat tulis lainnya. Memasukannya ke dalam tas. Gadis itu sangat bersemangat.

Jauh berbeda dengan pemuda di sampingnya. Ia sama sekali tak berselera untuk pulang. Ah, tidak. Ia tak akan pulang. Bukankah ia harus memenuhi permintaan gadis cerewet itu? Maka dengan enggan, ia bersiap.

Ekspresi yang tidak menyenangkan dari pemuda itu, membuat Ify sebal. Gadis itu berkacak pinggang. Mempelototi sang pemuda.

"Gabriel!" desis Ify. Pemuda empunya nama mendongak. Menatap malas Ify. Sejurus berikutnya, memutar kedua bola mata.

Ify mendengus. "Gabriel! Semangat dong! Semangat!" Ify

Jumat, 01 Juni 2012

Lebih Dari Plester part 10A


"Gabrieeeel!" Ify berteriak sekeras mungkin. Suara cemprengnya memekikan setiap telinga yang mendengarnya. Gadis itu kemudian berlari. Seraya memegangi kacamata berplester dinosaurusnya. Buku jumbo ada dalam dekapannya.

Pemuda yang dipanggil Ify segera berbalik. Menanti Ify yang berlari menyongsongnya. Rambut Ify berkibar seiring hentakan kakinya.

"Hehe..." Ify nyengir. Menunjukan deretan giginya yang sebenarnya agak berantakan. Gabriel memandanginya bingung. Bergidik geli melihat ekspresi Ify ketika menghilangkan nafas terengah-engahnya.

"Apa? Mau nebeng pulang? Jangan!" ujar Gabriel ketus.

"Ish! Bukan! Aku mau minta sesuatu. Hehe..." kata Ify. Diakhiri dengan cengiran yang lebih menggemaskan.

Gabriel memutar kedua bola

Jumat, 25 Mei 2012

Lebih Dari Plester part 9


Ketika genggaman tangan mengendur, sang masa lalu mulai mengabur. Dan kenangan lamat-lamat terkubur.

***

Sivia mengemasi barang-barangnya ke dalam kardus. Persiapan sebelum kepindahannya lusa nanti. Ia akan segera kembali ke kota tersayangnya. Mengorek masa lalu yang telah raip dari ingatannya. Ia hendak menemukan siapa sebenarnya dirinya. Karena semenjak ia terbebas dari tumor ganas menyebalkan itu, ia merasa ada yang hilang dari dirinya, entah apa.

Cakka, pemuda yang diam-diam mencintai Sivia itu setia menemani Sivia. Membantu berkemas. Dan mendengarkan semua ocehan gadis itu. Kebanyakan Sivia membicarakan sekolah. Ya, ia tak sabar untuk kembali ke sekolah. Setahun lamanya ia terpaksa menjalani home schooling. Tidak ada teman. Tidak ada jajan di kantin. Tidak ada pemilihan ketua OSIS. Tidak ada pensi. Hanya ada guru yang setiap harinya bergantian menyambangi apartementnya. Sivia bosan.

Sebenarnya, Cakka sedikit terganggu dengan topik pembicaraan yang dipilih Sivia. Melulu tentang kepindahan mereka. Ah, nyatanya ia memang masih enggan kembali ke kota tersayangnya. Bukan. Bukan ia tidak merindukan sahabat-sahabatnya di sana. Tapi, karena ia terlalu berat untuk menjejakan kaki di atas pijak di mana masa lalunya pernah ia onggok sampai mati. Ia tak mau masa lalu itu berbalik memburunya. Menjebaknya seumur hidup. Sehingga pengasingan dirinya dalam waktu yang cukup lama akan berbuah sia-sia. Jadi, untuk apa selama ini ia melarikan diri? Kalau pada akhirnya, ia akan terjerat perangkap dari masa lalu?

Lebih Dari Plester part 8


Karena kenangan, hanya masalah mengingat atau melupakan.

***

Gadis berambut pendek itu menggapai kursi rodanya. Ia memang telah dinyatakan sembuh dari tumor otak mematikan itu, namun tubuhnya belum cukup kuat untuk memenuhi keinginannya menikmati udara segar kota itu. Walau ia tahu, udara di kota mana pun tak akan semenyejukkan udara di kota kesayangannya.

Kini, ia tengah berada di taman belakang rumah sakit. Memandang beraneka bentuk awan yang mengarak di setiap bentangan langit. Hal yang selalu dilakukannya hampir setiap senja. Gadis itu hampir tak mengedipkan matanya, ketika ia menemukan awan yang bentuknya mirip dengan dinosaurus. Ia menatap lekat-lekat pada gumpalan awan itu. Dinosaurus? Rasanya, ia tidak asing lagi dengan hewan yang sudah punah jutaan tahun yang lalu itu. Gadis itu mengerutkan kening.

Kepalanya yang masih dibalut perban itu terasa sakit. Pening. Ia memegangi kepalanya. Efek dari terlalu kerasnya ia mengingat-ngingat tentang masa lalunya yang berhubungan dengan dinosaurus.

Dan ketika gadis itu hampir tak sadarkan diri, seorang pemuda datang. Mendekap gadis itu dari belakang.

"Kamu baik-baik aja Sivia?" bisik pemuda itu, tepat pada gadis yang dipanggilnya Sivia.

Sivia meraih tangan sang pemuda yang melingkari lehernya. Menarik sang pemuda agar berpindah ke hadapannya. "Aku baik-baik aja kok! Makasih ya Cakka!" ujar Sivia. Meyakinkan.

Jumat, 18 Mei 2012

Lebih Dari Plester part 7


"Operasinya berhasil!" ujar seorang lelaki paruh baya yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.

"Benarkah Dok?" ujar lelaki yang lain tak percaya.

"Ya, semangatnya memang patut diacungi jempol. Itu adalah salah satu faktor ia bisa bertahan hingga sampai saat ini. Pak Alvin beruntung memilikinya." kata lelaki yang pertama yang adalah seorang dokter.

Lelaki yang dipanggil Pak Alvin itu tersenyum. Mengusap dadanya lega. "Ya, saya memang beruntung. Terimakasih dok! Oh iya, saya boleh bertemu dengan anak saya?" tanya Pak Alvin.

"Tentu saja. Tapi saya harap Pak Alvin tidak terkejut kalau sampai dia lupa sesuatu tentang dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Operasi pengangkatan tumor di otaknya membuat sedikit banyak ingatan dalam memorinya hilang." jelas sang dokter.

Pak Alvin mengangguk. Tak apa. Bukan hal buruk baginya. Yang terpenting adalah kesehatan anaknya. Bahwa gadis kecilnya telah berhasil menaklukan satu lagi penyakit dari dua penyakit yang bersemayam dalam tubuh ringkihnya. Dua penyakit itu yang memaksa gadis itu meninggalkan semuanya. Kota dan seluruh kenangan di dalamnya. Termasuk pemuda cerobohnya.

Kini, dari bibir Pak Alvin tak berhenti terlontar ucapan terimakasih untuk sang dokter yang telah tiga tahun menemani perjuangan gadis kecilnya. Dalam hatinya lantunan syukur tak henti ia panjat untung sang pemilik hidup.

Pak Alvin bergegas memasuki ruangan. Hendak menemui putrinya. Berharap bahwa kenangan pahitlah yang hilang. Hanya menyisakan kenangan indah yang telah dipahatnya selama hampir 17 tahun ia menjejak bumi.

***

Gabriel melemparkan jaket yang baru saja ia lepas dari tubuhnya ke sembarang tempat. Langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Hendak melepas lelahnya selepas mengantar Ify pulang.

Ify? Gabriel tersenyum. Entah mengapa hatinya tergelitik saat mengingat nama gadis polos sok tahu itu. Pemuda itu memejamkan mata. Berharap di tidurnya nanti, sang gadis akan datang menghadiahkannya mimpi terindah.

Beberapa detik saja matanya tertutup, Gabriel langsung membelalakan mata. Ekor matanya tertumbuk pada rak yang ada di samping meja belajar. Tadi ia mendapati Ify tengah mengamati koleksi boneka dinosaurusnya. Gabriel tersenyum penuh arti. Tanpa bisa ditebak, ia mencelat dari kasur. Mengambil salah satu boneka. Berlari keluar kamar.

Gabriel sudah sampai di sana. Tempat di mana orang tuanya sedang asyik bercengkrama. Gabriel menghampiri mereka.

"Loh, Gabriel? Kirain udah tidur. Ada apa Nak?" tanya Mama.

"Tolong bungkusin ini ya Ma!" Gabriel memberikan sebuah boneka dinosaurus yang dibalut kaos berwarna merah muda.

Mama menatap boneka itu bingung. Lalu menatap Papa. Yang ditatap menggeleng samar. Lantas beralih menatap Gabriel. "Untuk apa?"

"I-Ify." ujar Gabriel agak segan.

Mama akhirnya mengerti. Mengurai kerutan di keningnya. Baiklah. Dengan senang hati. Tentu saja ini adalah hal yang baik. Ya, gadis polos itu memang hebat. Sebelumnya, mana pernah putranya itu memberikan salah satu dari boneka kesayangannya kepada orang lain. Jangankan memberi, untuk mengizinkan seseorang menyentuhnya saja ia enggan. Dan sekarang, Ify perlahan mengembalikan keramahan putranya. Mama mengangguk.

"Makasih ya Ma. Aku tidur dulu. Malam Ma, Pa!" Gabriel melengos pergi. Melanjutkan prosedur tidurnya yang belum sempat dijajaki.

***

Jalanan kota masih lumayan lengang. Tak ada sesak kendaraan yang biasa menghantarnya ke sekolah. Gabriel memang sengaja berangkat sedini mungkin. Agar ketika ia tiba di sekolah nanti, ia menjadi orang kedua yang datang ke sekolah setelah Pak Indra, satpam sekolahnya. Juga agar rencananya tak diketahui siapa-siapa.

Benar. Sekolahnya memang masih sepi. Hanya Pak Indra yang didapatinya di pos satpam yang tengah menyesap secangkir kopi. Gabriel bergegas menuju kelasnya.

Ketika ia sudah mencapai kelas, tergesa ia menghampiri mejanya. Mengeluarkan sebuah kotak cantik berhiaskan pita merah menyala. Kotak itu ditemukannya di atas meja belajarnya pagi tadi kala pertama ia membuka mata. Kotak itu pula yang membuatnya semangat mengarungi tiap detik untuk hari ini.

Gabriel menyimpannya di atas meja. Celingak-celinguk ke sekitarnya. Memastikan bahwa tidak ada satu pasang mata pun yang menyaksikan semua yang dilakukannya. Gayanya sudah seperti secret admirer di film yang pernah ditontonnya. Ternyata memang, diam-diam Gabriel mengagumi kepolosan gadis itu.

Setelah itu, Gabriel memutuskan pergi. Matahari yang mulai meninggi, mengindikasikan bahwa teman-temannya akan segera datang. Kalau ia tetap di sana, mereka pasti akan mencurigainya.

Kini, Gabriel memilih menyendiri di taman belakang sekolah. Mengamati lalu lalang kendaraan di sepanjang jalan. Sambil merenungi apa yang telah diperbuatnya.

Tiba-tiba ia merasa telah melupakan sesuatu. Namun rasa itu ditepisnya kuat-kuat. Biarkan. Biarkan penantian semu itu hanya mengurung hatinya. Karena lamat-lamat, jiwa dan raganya telah berhasil meloloskan diri.

***

Ify membekap mulutnya ketika ia terhenyak mendapati sebuah kotak cantik di atas mejanya. Awalnya, ia mengira bahwa kotak itu bukan ditujukan padanya. Namun ia membaca sebuah kertas memo di atas kotak yang mengatakan bahwa kotak itu diperuntukan kepadanya. Ify mengetukan telunjuknya pada cuping hidungnya. Hari ini bukan ulang tahunnya.

Ify mengerjap. Entah mengapa, bisa-bisanya ia berpikir bahwa yang ada di dalam kotak itu adalah bom. Tapi, di sekolahnya tidak ada teroris. Anaknya Amrozi juga tidak bersekolah di sana. Lalu mengapa bisa ada bom di atas mejanya.

Ify terkesiap ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahunya. Ify melirik pemilik tangan itu. Oik.

"Itu apa?" Oik menunjuk kotak itu.

"Bom." ujar Ify setengah berbisik.

Oik mengerenyit. Mana mungkin ada bom. Gadis berambut sebahu itu meraih kotak itu, setelah berhasil terlepas dari cegahan Ify. Oik meyakinkan Ify bahwa tak ada bom atau benda berbahaya lainnya di dalam kotak.

Oik membuka kotak itu. Matanya yang kecil membelalak ketika melihat isi kotak itu. Ia menggeleng tak percaya.

Dan gadis polos itu langsung mengambil kotak itu dari tangan Oik. Gesit ia meraih isi kotak itu. Boneka dinosaurus yang sangat menggemaskan. Ify tersenyum. Memeluk erat sang boneka.

Oik masih belum benar-benar percaya. Ia tahu siapa yang memberikan boneka itu pada Ify. Pasti. Siapa lagi kalau bukan pemuda ceroboh itu. Ya, apa yang dilakukan pemuda itu memang adalah sebuah kecerobohan. Tak tahukah ia, bahwa hati Ify mungkin saja tersentuh karenanya?

"Ya ampun Oik! Ini boneka yang aku lihat kemarin di kamar Gabriel. Iya. Pasti ini dari dia." ujar Ify. Gadis itu masih memeluk dinosaurusnya.

Oik tersenyum miring. Setengah ia mati ia memaksakan diri. Kabar ini harus segera diberitahukan pada sahabatnya.

Wajah Ify nampak berseri-seri. Setelah memeluknya, ia menciumi sang boneka.

***

Rio menyandarkan tubuhnya yang berlumur peluh pada tiang gawang. Setelah berkali-kali ia menendang bola dengan segenap tenaga. Ditambah emosi yang sedari tadi entah mengapa membuncahi logikanya.

Rio sadar, tidak seharusnya seperti ini. Ia tidak berhak.

Apa? Apanya yang tidak berhak? Cemburu maksudnya? Rio terkekeh. Mana mungkin Rio cemburu saat Ify mendapatkan hadiah boneka dari Gabriel.

Tapi kalau bukan cemburu, apa namanya? Kalau hatinya seakan terbakar saat Ify terus menerus bercerita tentang Gabriel. Apalagi sekarang, Gabriel perlahan melunak pada Ify.

Rio kini sendiri. Menikmati nafasnya yang terengah-engah.

Lalu tak berapa lama, gadis yang membuatnya kacau itu datang. Membawakan sebotol air mineral untuk Rio. Gadis itu duduk di samping Rio.

"Kapan-kapan, aku boleh kan main bola sama kamu?" tanya Ify. Membukakan botol air mineral untuk Rio. Menyerahkannya pada pemuda itu.

Rio melirik Ify. Gadis yang dilirik itu mengerjapkan mata.

Rio meraih botol air mineral. Menenggak isinya. Lalu mengusap habis buliran keringat yang bergelayut pada wajah tampannya.

"Makasih ya!" ujar Rio.

Memang seharusnya, ia tidak seperti itu. Toh, kedekatan Ify dan Gabriel yang mulai terjalin, tak membuat gadis itu menjauh darinya. Ia masih bisa mendapatkan perhatian Ify dengan caranya sendiri. Itu sudah cukup baginya.

***

Ify mencubiti boneka dinosaurus yang sudah menjadi miliknya. Sesekali ia terkikik, mengingat wajah Gabriel yang lucu ketika ia memastikan bahwa memang Gabriel yang memberikan boneka itu. Dan ia juga teringat, saat ia membisikan kata terimakasih tepat pada telinga Gabriel. Membuat wajah pemuda itu berubah memerah.

Sekali lagi Ify memeluk bonekanya.

Ketika Ify mengurai pelukannya, ia menemukan sebuah kalung cantik berwarna perak. Ify memperhatikan kalung itu dengan seksama. Dan ia juga mendapati sebuah nama dengan huruf yang dibuat bersambung terukir pada bandulnya. Ify memicingkan mata. Mencoba membacanya.

"S-Si... Si... Sivia?" Ify menatap langit-langit kamarnya.

***

Bersambung

Sabtu, 12 Mei 2012

Lebih Dari Plester part 6B



Mama Gabriel mengetuk pintu itu. Setelah kata ‘masuk’ samar terdengar dari dalam kamar, Mama memutar kenop pintu dan membukanya. Ify langsung disuguhkan pada sebuah ruangan bercat biru yang sangat rapi dan tertata. Namun tak ada siapa pun di sana. Empunya suara pun entah di mana. Lalu siapa yang tadi bersuara? Jangan-jangan mahluk halus. Kalau Gabriel kan mahluk kasar. Ify terkekeh sendiri.

“Ify masuk aja. Gabriel pasti lagi di balkon.” Mama menunjuk sebuah pintu penghubung kamar dengan balkon yang setengah terbuka. Ify mengangguk mengerti. Mama melengos undur diri.

Ify melangkah perlahan-lahan. Kedua matanya mengerjap-ngerjap. Mengamati setiap benda yang ada di kamar itu. Ify mendapati selimut, bantal serta guling bergambar dinosaurus. Lalu ia melirik meja belajar. Ify mendesah. Untung saja di sana tidak ada benda yang berbau dinosaurus. Kalau sampai didapatinya benda-benda itu di sana, Ify bisa saja mengira bahwa kamar Gabriel adalah museum dinosaurus.

Namun Ify harus meneguk ludah. Ketika ia melihat sebuah rak yang cukup besar yang terdapat di samping meja belajar. Di dalamnya diisi berbagai macam pernak-pernik dinosaurus., kebanyakan boneka. Ify menahan kuat-kuat tangannya untuk tidak bergerak meraih salah satu dari boneka-boneka menggemaskan itu. Ia tidak mau membuat Gabriel marah lagi. Maka ia mengabaikan boneka itu. Melanjutkan langkahnya kembali menuju balkon. Mungkin nanti, kalau Ify memintanya langsung pada Gabriel, ia bisa memiliki salah satu dari boneka itu. Bukan mencurinya seperti kemarin.

Benar kata Mama. Gabriel memang di sana. Berdiri di dekat pagar pembatas. Entah tengah melamunkan apa. Ify agak ragu untuk meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuatnya. Ia takut Gabriel akan marah lagi. Namun seketika, Ify kembali memantapkan niatnya ketika ia menatap punggung Gabriel yang nampak murung. Ia yakin, Gabriel pasti punya alasan mengapa ia bersikap kasar kepadanya. Bukan hanya semata-mata ia meneladani idolanya; dinosaurus. Mungkin Gabriel punya masalah. Dan mungkin, Ify bisa membantu menyelesaikannya. Ya, ia pasti bisa. Karena pada hakikatnya, untuk itulah Ify dikirimkan Tuhan pada kehidupan pemuda nelangsa itu. Agar ia tak lagi melakukan hal yang sia-sia. Menunggu masa lalu.

“G-Gabriel…” seru Ify tertahan. Bergerak lamat-lamat menuju pagar pembatas. Berdiri di samping Gabriel.
Pemuda itu terhenyak. Suara lembut yang baru saja menggelitik telinganya membuyarkan seluruh lamunannya. Gabriel menoleh. Mendapati Ify mengerjapkan mata padanya. Wajah polosnya sangat kentara. Pemuda masih menangkap robekan luka yang masih tertera di sana. Hatinya mencelos. Tanpa diminta, bayangan gadis plester yang sedari tadi menjejali benaknya enyah seketika. Tergantikan ulasan senyum dari gadis di hadapannya. Baru kali ini ia menatap lekat-lekat wajah lugu itu. Dan ia baru sadar, bahwa gadis di hadapannya memiliki senyum yang sangat manis. Mempesona.

“Gabriel…” Ify berseru lagi.

Gabriel terkesiap. Membuang pandangannya kembali ke depan. Apa yang telah dilakukannya? Diam-diam ia merutuki dirinya sendiri karena telah terpesona pada siluet gadis itu. Sebisa mungkin, ia tak akan mengulangi hal yang sama.

Wajah Gabriel tiba-tiba memerah. Ketar-ketir setengah mati ia menutupinya. “Apa? Ngapain lo di sini?” tanya Gabriel dengan nada sedater mungkin. Berusaha menutupi kegelisahan yang merayapi hatinya, entah karena apa.Top of For

“Aku…” Ify menghela nafas. “Aku mau minta maaf. Maaf udah nyuri plester kamu. Aku ga tahu kalau plester itu berharga banget buat kamu.” Ify menunduk dalam.

Gabriel berdecak. Setelah ia menenangkan diri di balkon selama lebih dari satu jam, emosinya perlahan teredam. “Makanya, jangan sok tahu!” ujar Gabriel dengan nada masih terdengar datar. Namun kali ini, terkesan dipaksakan.

“Jadi?” Ify menggoyang-goyangkan lengan Gabriel.

Empunya lengan mendelik pada Ify. Ify langsung melepaskan tangannya dari lengan Gabriel. Nyengir seraya bercicit ‘maaf’.

Gabriel kembali memandang lurus ke depan. “Udah gue maafin. Sekarang, lo bisa pergi.” ujar Gabriel. Tersirat ketidaksukaannya terhadap kehadiran Ify. Bukan. Ia bukan tidak suka pada Ify. Ia hanya teringat akan ucapan Oik. Kalau ia sampai menyukai Ify, semua penantiannya selama ini akan kacau. Dan ia juga pasti akan menyakiti gadis plesternya. Karena tidak bisa dipungkiri, bahwa dengan ia bersama gadis itu dalam waktu yang lama, akan membuatnya perlahan menyukai gadis itu. Ia tidak mau dan tidak boleh menyukai Ify. Walau ia tahu, rasa itu tak pernah bisa ditepis. Sehebat apa pun ia.

“Tunggu.” Ify mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Lantas menyerahkannya pada Gabriel.

Gabriel melirik benda tersebut. Lantas berpaling memicingkan mata pada Ify. Apa? Ia menatap bertanya.

“Plester. Aku tahu, sebanyak apa pun plester yang aku kasih ke kamu, itu ga akan cukup. Tapi tolong! Biarin aku membayar kesalahan aku. Meskipun aku ga akan bisa melunasinya.” Ify meraih tangan Gabriel. Meletakkan sekantong plester itu pada telapak tangan Gabriel yang telah dipaksanya untuk terbuka. “Kamu terima ya!” ujar Ify memelas.

Gabriel tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan terpaksa, ia menerima plester tersebut. Kembali membuang muka setelah bergumam ‘terimakasih’ pelan. “Sekarang, lo pergi!” Gabriel tetap tidak menghendaki kehadiran Ify.

“Tunggu! A…” Baru saja Ify membuka mulutnya, Gabriel menyela.

“Apa lagi sih lo?” kata Gabriel dengan agak membentak. Membuat Ify  terhenyak. Tubuhnya gemetar ketakutan.

Pemuda itu mendesah. Lupa. Seharusnya ia tidak boleh bersikap kasar lagi pada gadis polos itu. Peraturan itu dibuatnya sendiri.. “Maaf! Ada apa?” tanya Gabriel. Kali ini nadanya mulai melemah.

Wajah Ify berubah seketika. Matanya yang tak berhenti mengerjap berbinar ceria. Terburu ia merogoh tasnya. Mengeluarkan beberapa buku bersampul coklat miliknya. “Banyak PR buat besok. Mau nyalin?”

Gabriel berdecak. Mengapa dalam keadaan seperti ini saja, Ify masih memikirkan hal kecil seperti PR. Pantas saja ia pintar. “Ayo!” Gabriel menarik lengan Ify ke kamarnya.

Gabriel tidak ingin kalah oleh Ify. Maka dari itu, ia menyalin semua PR lengkap dengan catatan dari mata pelajaran yang ditinggalkannya tadi. Ia memilih mengerjakannya di atas karpet. Agar terkesan santai. Sementara itu, Ify duduk bersila di samping Gabriel.

Sesekali, Ify memberikan penjelasan tentang materi yang belum dimengerti oleh Gabriel. Gabriel mengangguk mengerti. Sepertinya mereka cocok untuk menjadi sepasang sahabat. Atau lebih mungkin. Seperti… kekasih?

Gabriel terkesiap ketika ia tertangkap basah sedang menatap lekat-lekat profil wajah Ify. Sedangkan Ify hanya tertawa menyeringai. Melanjutkan kembali penjelasannya.

Nampaknya memandangi wajah Ify menjadi sesuatu yang menyenangkan. Karena setelah Ify memergokinya melakukan hal itu pun, Gabriel tidak jera. Kini ia melakukannya kembali. Tanpa sadar, ia menciptakan seulas senyum di wajahnya. Entah karena dan untuk apa. Diam-diam, rasa yang dihindarinya berbalik memburunya.

Dan ketika itu, Gabriel kembali menemukan bekas luka cakaran pada wajah Ify. Cakaran tangannya. Hatinya mencelos seketika. Rasa bersalah merayapi dinding hatinya. Ia juga merasa malu. Ify saja yang sebenarnya kesalahannya hanya sebesar biji sawi, berusaha untuk membayarnya. Sementara dirinya? Ah. Lelaki macam apa dia? Lelaki sejati adalah lelaki yang berani mengakui kesalahan yang telah diperbuatnya dan membayar lunas semuanya.

Gabriel berjingkat dari duduknya. Melengos pergi entah kemana. Ify belum sempat mencegahnya. Ia mengangkat bahu.

Tak lama kemudian, Gabriel kembali dengan sebuah handuk kecil yang terlebih dahulu dibasahinya. Ia duduk kembali di hadapan Ify.

Ify hendak bertanya untuk apa handuk tersebut, ketika Gabriel langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Ify. Awalnya, Ify takut Gabriel akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya. Namun rasa takut itu seketika sirna, ketika Gabriel membersihkan luka di wajah Ify oleh handuk yang dibawanya. Ia menghapus habis darah yang mengerak di antaranya.

Belum selesai. Gabriel mengambil sebuah plester dari kantong plester pemberian Ify. Plester yang ternyata bergambar dinosaurus juga. Sejenak Gabriel terpana. Ia lalu membukanya. Lantas menempelkannya pada area luka. Sehingga bekas cakaran itu tak lagi kentara.

Ify mengucapkan terimakasih dengan takzim. Matanya terus mengerjap.

Kerjapan itu mengingatkan Gabriel akan sesuatu yang lain yang menyebabkan Ify selalu saja mengerjap-ngerjapkan mata. Mungkin, ia tidak terbiasa melihat tanpa kacamata. Ya, kacamata yang telah dirusaknya menjadi dua.

“Kacamata lo mana?” tanya Gabriel.

“Hah? Eh iya…” Ify mengeluarkan kacamatanya dari saku kemeja. Tanpa bertanya, menyerahkannya pada Gabriel.

Mungkin, hal yang kini akan dilakukannya dapat menebus semua kesalahannya. Gabriel mengambil satu plester lagi dengan gambar yang masih sama –hanya warnanya saja yang berbeda, kali ini ia mengambil yang berwana merah muda. Gabriel menggunakan plester itu untuk menggabungkan kembali kedua bagian kacamata yang terpisah. Sejurus kemudian, ia memasangkannya sendiri untuk Ify. Sempurna. Ya. Gadis itu sempurna cantiknya.

Melihat wajah Ify yang polos, membuat Gabriel tak bisa lagi mengalihkan pandangannya. Bahkan untuk sekedar bekedip saja ia enggan. Telunjuknya menapaki setiap inci wajah Ify. Dari kening, pelipis, pipi, pada akhirnya sampai pada ujung dagu runcing Ify. Wajah Ify membuatnya lupa segalanya. Lupa bahwa sampai saat ini, ia masih terjebak dalam penantian semu.

Dering ponsel membuat keduanya terkesiap. Gabriel menggaruk tengkuknya. Wajahnya memerah; salah tingkah. Sementara Ify langsung meraih ponselnya. Mendapati sebuah pesan dari sang Mama. Memintanya untuk segera pulang.

“Aku harus pulang.” ujar Ify.

“Oke, gue antar lo pulang. Tunggu ya!” Gabriel melengos.

Ify mendesah. Kenapa Gabriel sangat gemar membuatnya bingung? Sekarang, mau kemana lagi pemuda itu? Ify mengulum bibir. Memutuskan untuk bangkit dan mendekati rak dengan banyak sekali boneka dinosaurus di sana. Ify mengamatinya satu persatu. Semuanya lucu. Ia sempat berkhayal dapat memiliki salah satu.

Gabriel datang mengejutkan. Pemuda itu mendapati Ify tengah berada di dekat rak bonekanya. Namun kali ini, ia tidak memarahi gadis itu. Biarkan saja. Toh, ia tidak mengusik benda-benda masa lalunya. Gabriel mengedikan kepala. Mengajak Ify untuk segera bergegas.

Ify mengangguk. Mengikuti langkah Gabriel. Setelah mereka berpamitan pada mama Gabriel, mereka langsung keluar rumah. Gabriel mengambil motornya di garasi. Sementara Ify menantinya di depan gerbang.
Ify langsung melompat naik ke atas motor, ketika Gabriel datang menghampirinya. Tanpa segan berpegangan pada pinggang Gabriel. Setelah itu, barulah Gabriel menancap gasnya. Melaju kencang. Membelah jalanan kota.

Dan semua yang dilakukan oleh Ify dan Gabriel tak pernah terlepas dari intaian mata-mata. Pemuda yang mengantar Ify ke rumah Gabriel tadi ternyata masih di sana. Menanti di sebuah warung nasi goreng. Ia bukan pemuda yang tidak bertanggung jawab. Jadilah ia tidak akan pergi sebelum memastikan sendiri bahwa Ify baik-baik saja. Ia tersenyum. Rasa was-was yang berpendar di hatinya hilang ketika ia melihat Ify tidak disakiti lagi oleh sahabatnya. Bahkan kini, mereka terlihat sangat akrab. Dan pemuda itu tak menyadari, bahwa di samping rasa lega, rasa sesak mendampingi.

Mata-mata yang lain ada di sana. Di balik gerbang rumahnya. Ia mendesah kentara. Bagaimana ini? Bagaimana ia memberitahu gadis plester itu tentang kekecauan yang perlahan mengembang?Bottom of F