Cerpen

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Juni 2013

Dongeng



Aku menyampaikannya. Karena aku pikir, waktuku telah habis untuk menyimpan semuanya sendirian. Dengan segala kerendahan hati aku persembahkan rasa ini. Yang telah ku sembunyikan bahkan sebelum kamu tahu ada aku di sekitarmu.

***

Ify tidak suka pada keramaian. Karena

Jumat, 20 Juli 2012

Segenggam Harapan



Lelah. Rasanya dia ingin berhenti saja dari perjalanan meraih mimpi. Semangat yang dulu membara kini sirna tak bersisa. Terkikis kecewa yang sering melanda.

Putus asa. Tak ada lagi setitik cahaya yang selama ini menuntun langkah payahnya menuju tujuan besarnya. Semuanya pupus. Kegelapan. Dan hilang semua harapan. Tak tahu arah. Merasa mimpi-mimpi itu takkan bisa terjamah.

Mati saja. Dia rasa itu akan lebih baik. Setelah mati, ia akan hidup bersama mimpi-mimpinya yang telah terlebih dahulu terbunuh. Bersama di keabadian. Walau resikonya dia akan tetap terabaikan.

Namun di senja itu, di taman belakang sebuah gedung sekolah yang begitu megah, ia hanya ingin menangis. Rasa sesak yang melesaknya

Jumat, 15 Juni 2012

Cukup Bahagia


Dia adalah Gabriel. Pemuda penyendiri yang aneh. Yang justru membuatku selalu saja ingin memandangi siluetnya. Ya, untuk saat ini cukup itu saja. Tidak kurang. Tidak lebih.

Hampir setiap jam istirahat aku mendapati Gabriel berada di sana. Duduk menekuk lutut di depan ruang kelasnya. Sendirian. Kadang, ia membaca. Kadang, ia juga mendengarkan musik. Musik rock favoritnya. Namun, yang sering ia lakukan adalah tidak ada. Hanya melamun. Menatap kosong ke depan.

Ketika yang dilakukan Gabriel hanya itu-itu saja, maka aku pun sama. Memandanginya dari depan ruang kelasku yang kebetulan berdampingan dengan ruang kelasnya. Menatap lekat-lekat bagaimana air muka wajahnya. Namun, tak pernah ku dapati ekspresi lain di sana. Datar saja. Hanya ketampanan yang kentara. Diam-diam, aku mengaguminya.

Hampir beberapa pekan aku selalu mencuri pandang ke arahnya. Sembari memupuk tetesan rasa kagum yang menghujami setiap dinding hatiku. Dan selama itu pula,

Jumat, 13 April 2012

Bola Oranye





Pemuda itu terduduk di pinggir lapangan basket. Kepalanya menunduk dalam. Punggungnya yang bergerak menandakan nafasnya yang terengah-engah. Keringat sebesar biji jagung menggelayuti profil wajahnya yang tampan. Dia kelelahan.

Sejurus kemudian, pemuda yang mengenakan pakaian basket itu mendengus kesal. Meninju bola berwarna oranye yang ada di hadapannya. Bola itu terpental. Bergulir hingga akhirnya menyentuh iking kaki gadis yang berdiri di tengah lapangan basket.

Gadis berseragam putih abu itu menatap nanar sejenak pada bola tersebut. Berjongkok dan meraih bola itu. ia mendesah kentara. Berjalan menghampiri pemuda pelempar bola. Pemuda yang masih tenggelam dalam lelahnya.

“Gabriel.” Seru gadis itu tertahan. Menyentuh bahu pemuda bernama Gabriel itu.

Gabriel terkesiap. Merasakan gesture hangat sebuah tangan menyapa pundaknya. Terburu ia menepis tangan itu. agak kasar, sehingga membuat si empunya tangan terhenyak.

“Pergi!” Gabriel mendesis. “Orang sepertiku tidak pantas mempuntai teman sepertimu Ify!”

Gadis berambut ikal sebahu bernama Ify itu menautkan kedua alisnya. Menatap tak percaya. Ia berdecak. Berjongkok menekuk lututnya. Ikut duduk bersila di samping Gabriel. Tangannya masih memegangi bola oranye itu.

“Kenapa kau tidak pergi meninggalkanku? Seperti yang lain? Marah? Atau…” Gabriel menggantungkan kata-katanya. Setelah mendesah putus asa, ia kembali berujar, “Kecewa?” Gabriel bertanya sarkatis.

Ify menarik ujung-ujung bibirnya ke atas. Menyimpul senyum yang sangat manis. menampilkan deretan gigi yang terhias kawat berwarna-warni. Lantas menempelkan telapaknya pada lapangan basket. Hingga beberapa detik kemudian, ia mengangkat kembali telapak tangannya. Membalikannya hingga sempurna menengadah ke langit. Menunjukan telapak tangan yang kini ditempeli debu juga bakteri-bakteri lainnya. Gabriel mengerenyit tak mengerti.

“Marah untuk apa? Kecewa karena apa?” tanya retoris dilontarkan oleh sang gadis.

Maka seketika, kelebatan peristiwa satu jam yang lalu itu muncul kembali di benak Gabriel. Pertanyaan itu seperti melemparkannya pada kejadian menyesakkan itu. Yang pada akhirnya, hanya menjejalinya dengan kecewa.

Kala itu, Gabriel bersama rekan-rekan satu tim basketnya tengah berjuang melawan tim dari sekolah lain. Matahari yang superior menyengat seluruh isi bumi berhasil membakar semangat pada masing-masing pribadi di tengah lapangan basket itu. Namun apa yang berpendar dalam hati pemuda tampan itu berbeda. Lebih dari semangat. Ah, bukankah yang berlebihan itu tidak baik? Ya, karena yang bergelung di sana adalah tetes-tetes keegoisan. Dan seiring detik yang berdetak, tetesan itu semakin menggenang. Membanjiri permukaan hati. Lalu pada akhirnya melumat habis ketulusan budi.

Dua menit terakhir menuju peluit panjang, Gabriel mendapatkan bola. Ia mendrible bola itu di tempatnya berpijak. Agak susah memang ia melewati hadangan lawan. Posisinya terjepit oleh tiga orang rivalnya. Ia bingung harus melakukan apa. Waktu yang tersedia semakin menyudutkannya. Apalagi timnya kini tertinggal satu angka. Apabila ia salah mengambil langkah, maka sudah dipastikan timnya kalah.

Teriakan rekan setimnya yang berada dalam posisi lebih menguntungkan darinya, tak diindahkan pemuda itu. Ia mengabaikan permintaan mereka untuk menyerahkan bola. Tidak. Ia adalah kapten tim. Maka ia yakin, dengan kemampuan yang dimilikinya, ia pasti bisa membawa timnya juara. Lagipula, tak ada jaminan timnya akan menang jika ia mengoper bola pada teman-temannya. Kemampuan mereka dibawahnya.

Maka akhirnya, Gabriel memutuskan melempar bola itu langsung menuju ring. Menerabas teriakan-teriakan itu. Ia mengikuti bisikan keegoisan yang kini meluber hingga ke dasar hati. Ia tidak peduli.

Dan Dewi Fortuna sama sekali tak berpihak pada kekeraskepalaan. Bola oranye itu sempat bergulir pada mulut ring. Namun sejurus kemudian, bola itu jatuh. Tanpa sempat melalui bulatan ring. Timnya kalah.

Cakrawala itu runtuh seketika. Cakrawala yang disusun oleh tiap riak keegoisan. Hatinya mencelos. Merasa tertampar dari fantasinya. Kini sesak mencekat rongga pernafasannya.

Untung saja Ify segera bersuara. Kalau tidak, mungkin tangis itu akan meleleh dari sudut mata elang sang pemuda. Karena nyatanya, setiap kali ia mengingat peristiwa itu, ia selalu berusaha sekuat tenaga menahan tangis. Menggigit bibir kuat-kuat, hingga muncul bekas.

“Kamu tidak seperti debu.” Ify meniup telapak tangannya. Debu yang sebelumnya menempel di sana, langsung berterbagna dihantar udara. Lantas menghilang entah kemana.

Gabriel mengerutkan kening. Tahu bahwa Ify tengah mengajaknya memasuki ranah analogi.

“Debu selalu kalah oleh angin. Sekecil apa pun anginnya. Ia tak pernah menjejakan dirinya lama di suatu tempat. Hembusan angin selalu berhasil membuatnya menyerah. Hingga debu hanya bisa terumbang-ambing mengikuti arah angin. Kalau pun nanti ia berhasil menyentuh tanah, ia hanya akan terinjak-injak. Atau kembali tertiup angin. Hingga nasibnya, selalu sama. Menjadi pecundang saja. Tidak lebih.” Ify mendesah. Menoleh sejenak pada Gabriel yang sedang seksama mendengarkan perkataannya. Lantas memalingkan wajahnya ke depan.

“Aku percaya, kamu seperti bola ini.” Ify menunjuk bola oranye yang ada di hadapannya. Gabriel mengikuti arah telunjuk Ify.

“Kamu tahu, seberapa keras bola itu dilempatkan, dia selalu bisa bangkit kembali. Ia tak pernah menyerah. Hebat, bukan? Ya, seperti kamu. Kamu juga hebat. Tapi, kamu juga harus tahu, sehebat apa pun bola itu, ia tetap rendah hati. Setiap kali ia dilambungkan tinggi ke udara, ia selalu kembali ke asalnya. Ia tak pernah mau berlama-lama berada di sana. Karena apa? karena kerendahan hatinya.” Ify mengambil jeda. Mendesah. “Aku yakin, kamu seperti bola itu. berendah hati dengan segala kehebatannya.”

Gabriel menatap bola oranye itu. Merasa malu. Harusnya, ia bisa mencontoh bola itu. Bukankah ia telah menghabiskan separuh dari usianya dengan berteman dan bermain bersama bola itu? Mestinya, itu bukanlah hal yang sulit. Mengingat rasa egois yang menelurkan kesombongan itu sesungguhnya bukan murni sifatnya. Ia hanya terbawa suasana. Mengikuti kobaran ambisinya.

“Kamu mau belajar sepeti bola itu?” tanya Ify.

Gabriel mengangguk. Tentu saja. Mana mungkin ia menolak. Bukankah hidup akan lebih indah apabila disertai dengan kerendahan hati. ya, sesederhana itu.

Ify tersenyum. Lantas berdiri dan berlari ke tengah lapangan. “Ayo kita main basket! Lempar bolanya!” Ify mengerjapkan kedua matanya.

Gabriel terkekeh. Meraih bola dan ikut bergabung bersama gadisnya di lapangan. Bermain basket. Menerobos hujan yang tiba-tiba turun. Maka buncahlah mereka dalam semarak dendang orchestra rintikan hujan. Berendah hati di bawah naungan tiap berkah yang dihadiahkan Tuhan.

~Selesai~

Well, ini cerpen tercepat yang pernah saya buat. Makanya maafin deh kalau ancur atau semacamnya! Thanks yang udah setia baca coretan saya. Komentarnya ditunggu di twitter @sintaSnap dan fb Sinta Banget

***
 
Bandung Barat, 10 april 2012
Sinta Nurwahidah
Salam Pisang Goreng!

Rabu, 25 Januari 2012

Kesederhanaan Hujan Dan Pengagumnya


Aku hanya ingin mencintaimu dengan sederhana. Karena mencintaimu adalah hal teristimewa bagiku.

***

Hujan masih tetap berhasil membuat segala ingatan tentangnya kembali berkelebat dalam fikiranku. Bayangannya yang ku rasa takkan pernah lekang ditelan zaman. Indahnya yang sampai era kapan pun tak akan tertandingi. Segalanya. Segalanya tentang Pangeran Pengagum Hujan-ku.

Maka hujan sore ini pun sama halnya dengan hujan yang sudah-sudah. Tiap rinainya memutar kembali memori tentang kisah sederhana yang sampai saat ini menjadi kisah favoritku. Kisah yang disusun dari segala yang amat sederhana. Kisah klasik tentang aku, hujan dan dia. Dimana dialah yang menjadi bagian yang terkrusial dari kisah penuh kesederhanaan ini.

***

Apa yang terjadi, sudah diatur oleh Tuhan, jauh sebelum kita terlahir ke bumi ini.

*

Pemuda itu tengah kerepotan dengan barang-barang bawaannya. Setumpuk buku tebal yang jumlahnya cukup banyak, penggaris kayu berbentuk busur, dan sebuah toples kaca yang diletakan di atas buku-buku tebal itu tentu saja membuatnya kewalahan. Tapi dia tetap berjalan.

Aku menatapinya dengan jengah. Tersenyum saat pemuda itu menghentikan langkahnya tepat di depanku. Dia mendesah lalu memiringkan kepalanya. Memicingkan mata bulatnya, seperti mencari sesuatu. Maka aku terkesiap saat menyadari kedua manik mataku baru saja menangkap kilat tajam yang terpancar dari dua bola matanya.

"Aku mau ke laboratorium biologi. Tapi hujan. Jadi, tolong payungin aku, boleh?" pintanya lantas mengedikkan kepala untuk menunjuk payung yang digamit oleh lengan kirinya.

Aku mengangguk. Mengiyakan untuk menolongnya. Kasihan juga. Aku meraih payung berwarna biru tua tersebut. Membukanya. Sejurus kemudian mengangkat dan meletakannya tepat di atas kepalanya.

Pemuda -yang ku fikir cukup- tampan itu pun menoleh ke arahku. Tersenyum dan memperlihatkan gigi gingsulnya yang menggemaskan. Lantas kami mulai berjalan beriringan. Melaju menerobos guyuran hujan yang lumayan deras. Membelah jalan menuju laboraturium yang terletak di seberang lapangan basket.

Kami membuat langkah yang cukup besar. Sementara tanpa sadar, dalam tiap langkah yang ku cipta, aku terus memaku tatapanku pada wajah pemuda yang bahkan dari samping pun masih terlihat tampan. Rahangnya yang bergerak sejurus dengan hentakan kakinya yang membuat pemuda itu menjadi terlihat lucu. Percikan air yang menggenang sedikit menciprat bagian belakang tubuhku dan tetesan air yang berada di ujung-ujung payung mendarat tepat di puncak kepalaku, sama sekali tak membuatku terganggu untuk terus menatapi wajahnya.

Maka tanpa sadar, kami kini telah menginjakkan kaki tepat di lantai depan ruang laboratorium. Aku menyimpan payung tersebut. Sementara pemuda itu membuka pintu lab dengan cepat. Lantas tergesa masuk dan menyimpan barang bawaannya di atas meja panjang ruangan.

Setelah beberapa menit, dia keluar dan menghampiriku. Tersenyum lebar dengan mata bulat berbinar. Sejenak membuatku terpana pada wajah ramahnya. Lantas aku terkesiap saat tangannya menepuk pundakku. "Makasih ya!" ujarnya.

Aku mengangguk pelan seraya menyunggingkan senyum.

"Coba aja aku tadi ga bawa buku-buku itu, aku ga perlu minta tolong kamu buat pegangin payung aku. Aku bisa hujan-hujanan. Aku suka hujan. Hujan kan baik." celotehnya.

Baik? Jelas-jelas hujan mencegahnya untuk menuju lab ini. Dia masih tetap mengatakan bahwa hujan baik? Dasar aneh. Aku berdecak.

Maka aku hanya bisa mengerutkan kening. Memicingkan mata dan menatapnya heran. Yang ditatap malah tersenyum menyeringai. Sambil mendesah pelan, ia kembali berujar. "Hujan itu baik. Buktinya dia mempertemukan kita."

Aku terperanjat mendengarnya. Kembali terpana pada keindahan bola matanya yang berwarna coklat. Tertegun menatapi tiap lekuk jengkal pahatan sempurna wajahnya. Pemuda ini sangat berbeda.

"Aku Rio. Ayo!" Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Menariknya tiba-tiba. Membuatku tak bisa menolak untuk mengekorinya. Dia membawaku ke tengah lapangan basket. Mengajakku untuk bersuka cita menari bersama jutaan berkah yang dihadiahkan Tuhan. Memintaku untuk menikmati tiap tetes rinai hujan yang mendarat di atas tiap jengkal tubuhku. Menunjukkan padaku betapa hujan memang ciptaan-Nya yang sangat menyenangkan. Maka aku tak bisa menahan perasaan yang membuncah di hatiku. Lalu aku pun melompat. Berlari dan ikut berparade bersama sang hujan.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasakan betapa tiap rinai hujan yang mendarat di tubuhku adalah sebuah kebahagiaan yang tak terperikan. Dan pemuda tampan bermata bulat yang jemarinya masih terus bertautan dengan jemariku inilah yang menciptakan kebahagiaan itu. Pemuda aneh namun menyenangkan. Pemuda ramah pengagum hujan. Maka setelah itu, ku rafalkan terus namanya dalam benak. R-I-O.

Hujan pertamaku bersamanya, adalah hujan terindah.

***

Rasa sukaku sangat sederhana. Layaknya aku menyukai hujan.

*

Aku memejamkan kedua mataku, saat perlahan gerimis mulai membisiki sore. Lantas aku tersenyum kala aku menengadahkan telapak tanganku dan membiarkan buliran rahmat Tuhan itu mendarat di atasnya. Kegiatan tersebut menyenangkan bagiku. Ya, setelah dua hari yang lalu seorang pemuda tampan bermata bulat mengenalkanku pada hujan. Pada kesederhanaan hujan. Dan selepasnya, aku mulai menyukai hujan.

"Lagi menikmati hujan ya?" seseorang -yang aku yakin sudah berada di sampingku- bertanya dengan suara baritone yang khas. Dan aku mengenal jelas suara itu.

"Aku lagi curhat sama hujan. Aku cerita kalau aku sukaaaa banget sama hujan." jelasku tanpa membuka mata.

"Terus, apa kamu suka sama aku?" tanyanya ringan.

Maka aku mengerjap seketika. Membuka mata lantas menoleh padanya yang tengah duduk di samping kiriku. Aku terperanjat, mendapati dia tengah menatapiku. Terkagum saat menangkap betapa pemuda itu terlihat keren dengan buliran air hujan yang bergelayut di ujung-ujung rambutnya. Maka aku terpesona padanya. Terbuai akan ketampanan sederhana yang terpatri pada wajahnya. Takjub pada dua bola matanya yang selalu menciptakan kilauan cahaya yang sangat indah. Maka tanpa sadar, aku berujar.

"Aku suka sama kamu. Karena kamu yang udah buat aku suka sama hujan."

Dan sampai ucapan penuh kejujuranku pun usai, kami masih terus saling bertatapan. Saling beradu pandangan. Tanpa tahu, sebuah rasa asing baru saja ditiupkan oleh Sang Amor tepat di hatiku.

Hujan berikutnya, adalah hujan penuh kebahagiaan.

***

Aku ingin kamu percaya, bahwa aku mampu menjaga hatimu.

*

Siang ini hujan lagi. Sebenarnya hanya gerimis. Namun apa pun itu, hujan tetaplah menyenangkan. Dan berdiri di depan pintu jati pun menjadi kegiatan yang menyenangkan, seperti saat ini.

"Masuk Fy!" suara pemuda itu terdengar dari dalam lab yang berada di hadapanku. Rio memintaku untuk menemuinya saat jam istirahat. Dan inilah waktunya. Aku melangkah maju mendekati pintu. Sampai akhirnya masuk ke dalam ruangan yang menjadi ruangan favoritnya.

Aku mengedarkan pandangan. Mencari dimana keberadaan pemuda yang -entah mengapa- selalu membuat hatiku buncah oleh perasaan asing yang sebelumnya tak pernah menghinggapi hatiku. Dan dia tak ada. Kemana pula dia? Harusnya dia ada disini. Bukannya menghilang seperti ini. Dasar aneh! Aku berdecak.

Pandanganku pun tertuju pada sebuah benda yang berada di atas meja yang terletak di dekat jendela. Sebuah toples kaca dengan tutup berwarna merah. Toples yang menjadi salah satu dari bawaannya yang membuatnya kerepotan tempo lalu. Entah apa isi toples tersebut. Aku tak tahu. Yang jelas, toples itu seakan melambai-lambai memintaku untuk menghampirinya. Dan setelah mendesah pelan, aku pun melangkah.

Badanku sedikit membungkuk. Mengambil posisi untuk memperhatikan dengan seksama apa yang berada dalam toples tersebut. Seekor ulat kecil berwarna hijau tengah menggigiti selembar daun.

Aku masih terus memperhatikan sang ulat, sampai aku tak menyadari, pemuda yang ku cari telah berdiri di sampingku.

"Kamu ambil ya ulat itu!" ujarnya.

Dan aku terkesiap seketika. Mendengar suara baritone yang khas itu kembali menggelitik lembut gendang telingaku. Aku mendesah. Kembali berdiri tegak. Lantas menoleh ke arahnya. Ya Tuhan. Dia sangat tampan dengan lengkungan menawan yang menghiasi wajahnya. Dia mempesona dengan mata bulatnya yang bercahaya. Aku menyukainya. Hatiku sangat menyukainya. Dan aku hanya bisa menahan nafas saat tanganya meraih tanganku, dan tangannya yang lain meraih toples kaca tadi lantas menyimpannya di tanganku.

Aku mengerenyit tak mengerti. Apa maksudnya ini? Dia memberikan toples ini beserta isinya? Kah?

"Ulat ini untuk kamu." Rio mengambil jeda sejenak. "Aku mau kamu jagain ulat ini sampai nanti dia jadi kupu-kupu. Aku percaya kamu bisa menjaganya dengan baik."

Maka perasaan asing itu pulalah yang kini berkuasa. Mengambil alih kendali sang logika. Maka tanpa sadar, ku letakkan jemariku untuk menyentuh pipi pahatan sempurna miliknya. Lalu masuk menjelajahi cahaya indah di mata bulatnya.

"Dan apakah kamu juga mempercayaiku untuk menjaga hatimu?" tanyaku dengan nada penuh harap yang terdengar menjadi sebuah tuntutan.

Dan Rio tak bersuara. Dia hanya tersenyum. Lantas meraih kepalaku untuk didorongnya agar tenggelam pada dadanya yang lapang. Dan setelah ia mengacak rambutku pelan, ia mendekapku hangat. Membiarkan aku terhanyut dalam jengkal kelembutan yang tercipta dari dekapannya.

Maka perasaan asing itu pun kembali membuncah saat tiap detak jantungnya seakan mengetuk lembut sukmaku. Dan aku tersipu saat menyadari bahwa sang Ulat tengah menyaksikan adegan romantis antara aku dan dia.

Hujan selanjutnya, adalah hujan terhangat.

***

Aku tak takut pada hantu. Aku tak takut pada kematian. Yang aku takut adalah kepergianmu.

*

"Kamu sakit?" tanyaku dengan nada khawatir saat mendapati Rio baru saja meminum beberapa pil obat.

"Aku baik-baik aja!" ujarnya santai seraya memamerkan senyum khasnya seperti biasa.

"Obat-obat itu?" tanyaku sarkatis.

"Hanya kanker." ujarnya ringan. Tanpa ada beban sedikit pun.

Apa? Kanker? Dia bilang hanya? Apa dia sudah gila? Itu penyakit yang sungguh berbahaya. Lalu Rio mengatakan hanya. Aku menggelengkan kepala.

Maka seketika hatiku mencelos. Seakan sebuah samurai panjang nan tajam baru saja menusuk tepat di ulu hatiku. Lantas mencincangnya sampai halus. Menyesakkan.

Seluruh tubuhku seakan melemas tiba-tiba. Ketika perasaan takut menyelimuti hatiku. Aku takut kehilangannya. Kehilangan cahaya indah yang selalu tertera di bola matanya. Kehilangan lengkung senyum mempesonanya. Kehilangan tawa riangnya saat berjingkrak-jingkrak di bawah rintikan hujan. Kehilangan keramahan sikapnya yang menyenangkan. Dan kehilangan seluruh kesederhanaan yang ia miliki seperti Sang Hujan. Ya, aku tak mau. Sungguh tak mau kehilangan Pangeran Pengagum Hujanku.

Maka dia merengkuh tubuhku. Membiarkan aku terjatuh dalam pelukan hangatnya. Dan dalam posisi inilah aku dapat dengan leluasa menikmati tiap dentuman beraturan dari perasaan asing itu. Mendengarkan jantungnya yang berdetak seirama dengan ketukan tetesan hujan di jendela. Lantas tanpa sadar, aku melingkarkan tanganku untuk mendekap tubuhnya. Berharap selamanya tak akan terlepas. Meski mungkin, harapan tersebut takkan kuat bertahan. Secepatnya terabaikan lantas teronggok mati. Mengenaskan.

Kemudian pemuda yang masih memeluk hangat tubuhku ini pun mendesah tak kentara. Lalu sejurus kemudian membisikkan sesuatu padaku. Sesuatu yang ku fikir akan memberikan aku kekuatan untuk tetap berharap. Walau berharap, hanya dalam lelap.

"Aku akan baik-baik saja. Itu janji Tuhan."

Hujan lainnya, adalah hujan penuh harapan.

***

Jangan memintaku untuk berhenti mencintai. Karena Tuhan pun tak pernah melakukan itu.

*

Hujan sore ini menelisik relung jiwaku. Membisiki sang hati agar segera melakukan eksekusi sebelum waktu menyerbu. Waktu yang tak pernah dapat dihentikan walau barang sedetik. Maka secepatnya, aku harus segera melakukannya. Melakukan eksekusi terpenting dalam sejarah kehidupanku. Tentu saja. Ini yang pertama. Dan Tuhan menciptakan ini untuknya. Untuk Pangeran pengagum Hujan-ku.

Dan dengan disaksikan oleh rinai hujan yang gemericiknya seakan tengah bersorak mendukungku, aku melakukannya. Ini dia saatnya. Saat dimana sebuah pengakuan yang berisi ketulusan akan terlahir. Saat aku yakin, bahwa buncahan perasaan asing itu akan merajai akal sehatku. Saat jantungku seakan berdentum hebat lantas memukul-mukul perutku, meminta untuk keluar. Saat dua bola matanya menghipnotisku untuk terus menjelajahi kilauan cahaya indah. Saat aku duduk bersamanya di ruang yang menyeruakkan aroma obat-obatan. Saat ini.

Aku menggigiti bibirku. Memainkan ujung-ujung rambut ikalku. Lantas mendesah tak kentara. Hei, kenapa aku segugup ini? Bukankah tadi aku begitu antusias untuk melakukannya? Lalu sekarang aku takut? Nyaliku ciut saat melihat betapa pemuda di hadapanku terlihat lebih tampan dari sebelumnya. Apalagi dengan kemeja putih bergaris yang ia kenakan.

Lantas, aku akan kalah dan mengurungkan niatku untuk mengungkapkannya? Tidak. Aku sudah menyusun rencana ini jauh-jauh hari. Dan aku akan melempem hanya dengan ketampanannya? Memalukan.

Aku menutup mata. Menghirup udara untuk memenuhi tiap rongga pernafasanku. Mengumpulkan jutaan amunisi untuk membangun tembok keberanian. Dan saat mataku tak lagi terpejam, aku melihat lengkungan senyumnya yang masih jauh lebih indah dari lengkung bulan sabit. Senyuman itu pun justru adalah pelecut semangatku. Dan dengan semangat, keberanianku mengembang kembali.

Maka setelah helaan nafas yang teramat pelan, aku memulai segalanya.

"Aku mencintaimu Rio." kataku seraya menatapi bulatan matanya.

Rio terlihat sangat terkejut. Mata bulatnya membelalak. Ia langsung bangkit dari duduknya. Menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan berdecak.

"Kenapa?" tanyanya retoris.

Hatiku terperanjat saat pertanyaan yang terdengar seperti sebuah penolakan itu terlontar. Aku ikut berdiri. Menatapnya nanar. Lantas pelan berkata "aku ga tau" seraya menggelengkan kepala tak kalah pelan. Kemudian menghela nafas dan berkata dengan suara yang lebih nyaring. "Aku mencintaimu, seperti hujan mencintai alam. Sesederhana itu."

"Waktuku untuk berada di dunia ini tak lama lagi. Sebentar lagi aku akan pergi meninggalkan semuanya. Meninggalkan hujan dan juga kamu, Ify! Dan kamu tahu apa artinya? Artinya, aku tidak akan bisa membalas cinta kamu." ujarnya lalu mengacak rambutnya.

Ah, aku benci sikapnya yang menunjukkan bahwa dia tak selapang apa yang ku bayangkan. Aku benci argumennya yang ia ucapkan dengan nada pasrah yang terdengar lemah. Aku benci dia yang putus asa. Bukankah saat itu dia mengatakan baik-baik saja? Jadi, sekarang pun dia harusnya tetap baik-baik saja. Bukan berkata seperti tadi. Perkataan yang tersirat seperti pengutukkan terhadap takdir Tuhan.

"Lalu memangnya, aku akan meminta kamu membalas cintaku? Tidak. Bagiku, balasan cinta dari kamu adalah sebuah harapan. Bukanlah permintaan. Dan aku akan terus berharap sampai Tuhan tak mengizinkanku untuk berharap, meski mata tengah terlelap."

Rio menunduk. Menyesali kebodohannya. Ya, aku berharap seperti itu.

"Maaf Ify! Maaf untuk cinta kamu!" ujarnya seraya mengelus lembut pipiku.

"Dan permintaanku hanya satu, biarkanlah aku tetap mencintaimu. Menjaga hati ini untuk tetap mencintaimu. Sampai Tuhan melarangnya nanti!"

Aku menggenggam tangannya yang masih menari di pipiku. Saling menautkan jemari kami dengan penuh kasih sayang. Selanjutnya, menghamburlah aku untuk memeluk tubuhnya. Pertanda, cinta ini terlalu besar untuk ia atau siapa pun cegah -kecuali Tuhan-. Dan aku memeluknya erat. Ini karena aku benar-benar tak pernah mau kehilangannya. Juga karena kehangatan pelukannya selalu membuat perasaan asing itu semakin mengembang tak terkendali.

Dan Rio juga membalas pelukanku lantas membelai puncak kepalaku. Entah apa maknanya. Yang pasti, dalam setiap belaiannya, aku mendengar dia menggumamkan sesuatu.

"Aku juga mencintaimu. Maka jangan berhenti mencintaiku, sebelum Tuhan menjemputku."

Hujan lagi. Itulah hujan penuh cinta dan kasih sayang.

***

Tuhan menyayangiku. Dia mengizinkanku untuk mengukir namaku di lembar-lembar terakhir bab jalan hidupmu.

*

Hujan selalu menjadi saksi betapa cinta yang ku punya untuk Pangeran Pengagum hujan itu sangatlah sederhana. Ya, memang seharusnya seperti itu. Aku mencintainya tanpa meminta balasan. Catat. Tanpa meminta. Tuhan melarangku untuk memintanya membalas cintaku. Tapi Tuhan berjanji, bahwa aku masih bisa berharap. Dan sebenarnya, menyimpan harap itu jauh lebih terhormat daripada meminta. Maka dalam tiap helaan nafas adalah beribu pengharapanku.

Apakah aku tersiksa dengan cara mencintai yang mungkin akan membuat banyak orang frustasi? Sungguh tidak. Tahukah kalian, mencintai dengan cara ini tidak membebaniku. Tentu saja. Karena aku tak perlu memikirkan bagaimana agar cintaku terbalas. Aku tak harus bersusah payah memaksanya membalas cintaku. Aku percaya, Tuhan yang akan membalasnya dengan cinta agung-Nya.

Kanker yang diderita Rio sudah mencapai stadium akhir. Hal itu mengharuskan dia untuk tinggal di rumah sakit dan menjalani perawatan. Pemuda jenius itu terpaksa meninggalkan dunia luarnya. Sekolahnya. Laboratorium biologi favoritnya. Tapi Rio hebat. Bahkan dalam keadaannya yang sudah sangat menyedihkan ini, dia tak sedikit pun berubah. Ya, dia tetap Rio. Pemuda bermata indah dengan jiwa yang kuat. Pemuda empunya senyuman indah yang tak sedikitpun menyerah. Pemuda pengagum hujan yang menyenangkan. Maka meski ia berada di ruangan serba putih dengan aroma obat-obatan yang -menurutku- tidak mengenakkan, ia masih tetap bisa menikmati hujan yang setiap hari tak pernah absen menyerbu bumi. Ya, hujan yang sangat ia sukai.

Setiap hari, selepas pulang sekolah aku selalu mengunjungi rumah barunya -rumah sakit-. Berada dalam tiap detik kehidupannya adalah harapanku. Kalau saja, aku tak diwajibkan untuk berangkat sekolah, pasti dari pagi hingga larut malam aku akan melewati detik-detik berharga itu bersamanya. Ya, detik yang terus berjalan itu layaknya butiran mutiara yang sayang untuk dilewatkan. Maka sebisa mungkin, mutiara itu harus aku dapatkan.

Dan di minggu pagi berhujan ini, aku berhasil mendapatkan mutiara yang paling utama. Mutiara yang bahkan lebih indah dari kerlap-kerlip bintang malam hari. Mutiara itu aku dapatkan, saat ia menghembus nafas terakhirnya di dunia fana.

"Aku mau keluar. Aku mau main sama hujan Ify. Tolong temani aku!" pintanya.

Aku terperanjat. Yang benar saja. Apa dia sudah kehilangan warasnya? Dengan tubuh yang ringkih, wajah yang pucat, dan keadaan yang amat menyedihkan ini, dia mau hujan-hujanan? Dimana otak jeniusnya? Hujan bisa memperburuk kesehatannya. Dia seharusnya beristirahat saja di ranjangnya. Toh, dia masih tetap bisa menikmati hujan dari kamarnya ini. Secepatnya aku menggeleng. Tegas menolak permintaannya.

"Ga. Kamu harus tetap ada di sini. Kamu ga boleh keluar."

"Ayolah Ify! Setiap hari hujan selalu setia mengunjungiku. Apakah aku akan tega, kalau aku terus menerus mengacuhkannya? Aku akan menjadi orang terjahat di dunia ini." Dia menatap penuh harap. Memelas.

"Hujan tidak baik buat kamu saat ini."

"Hujan baik." sanggahnya cepat. "Hujan selalu baik." Rio segera turun dari tempat tidurnya. Dengan langkah payah, ia berjalan menuju pintu. Meraih kenop pintu lantas memutarnya.

Rio. Pemuda yang sangat keras kepala. Hanya untuk mencapai ambang pintu saja, sudah sepayah itu. Lalu sekarang, ia berniat untuk tetap keluar dan bermain dengan hujan. Benar-benar gila.

Pintu sudah terbuka. Rio benar-benar tak dapat dicegah lagi. Rasa sukanya terhadap memang sangatlah hebat. Maka dalam kesehatannya yang buruk itu pun, dia masih mempunyai semangat untuk bermain bersama idolanya.

Sebelum ia benar-benar keluar dari kamar yang telah lebih dari sepuluh hari ia huni ini, dia mendelik ke arahku tajam.

"Kalau kamu ga mau nemenin aku main sama hujan, aku sendiri aja." desisnya tajam lantas melangkah dengan perlahan.

Tidak. Aku bukan tak mau menemaninya. Penolakkanku adalah bukti bahwa aku benar-benar mencintainya. Aku tak mau hal buruk terjadi padanya. Dan keinginannya untuk menari di bawah hujan, kemungkinan besar akan membahayakan kesehatannya. Aku yakin dia pemuda yang kuat. Tapi, dia tetap manusia biasa, kan? Aku berdecak. Secepatnya keluar dan mengejar Rio. Aku yakin dia belum jauh.

Dan aku benar. Rio masih berada di koridor. Belum jauh dari kamarnya. Ia berjalan dengan susah payah. Kedua kakinya ia seret seperti koper. Tangannya meraba-raba tembok. Seakan tembok itulah yang menuntunnya. Itu sangat menyedihkan. Hatiku tertohok melihatnya. Maka aku bergegas menghampirinya.

Aku mensejajarkan langkahku dengan langkahnya. Lantas berkata pelan. "Aku mau main sama kamu dan hujan."

Rio menoleh dan tersenyum.
*

Rio sangat menikmati hujan yang membisiki pagi ini. Dia tertawa sangat lepas. Melompat menyerbu ribuan rinai berkah Tuhan. Ya, aku rasa hujan memang tak akan membahayakan kondisinya. Justru sebaliknya. Hujan membuatnya bahagia. Hujan yang luar biasa. Maka aku pun ikut menari bersamanya. Melepaskan beban hidupku. Membaur menikmati aroma hujan yang semerbak. Berjingkrak gembira. Bersama-sama.
Tiba-tiba, ketika kami asyik menari, Rio jatuh tersungkur. Aku terperanjat. Hal yang tidak ku inginkan pun terjadi.

Aku segera duduk. Mengangkat kepala Rio dan membiarkannya bersandar pada lenganku. Hatiku mencelos seketika. Darah mengalir dari kedua lubang hidungnya. Tawanya seketika lenyap bagai tersapu deburan ombak. Wajahnya pucat sekali. Bibirnya bergetar. Oh Tuhan, jangan biarkan dia kesakitan. Aku mulai menangis.

Rio mengangkat tangan dan menempelkannya di pipiku. Tersennyum tipis lalu mendesah berat. "A-aku pergi ya! Ingat, hujan itu baik dan... me... nyenangkan." ujarnya terbata.

Aku menggeleng cepat. Jangan. Baru sebentar aku berada dalam hidupnya. Rio tak boleh meninggalkanku. Aku menggigit bibir. Membiarkan tangisku menjadi yang lebih deras dari tangisan alam. Lantas memeluknya erat.

Dan dalam pelukanku, Rio pergi. Menyerahkan seluruh kehidupannya pada Sang Esa. Nafas yang terakhir ia hembus dalam dekapku. Dan aku tak akan mengutuk siapa pun atas perihal ini. Aku tak akan merutuki hujan lalu setelah itu membencinya. Tidak akan. Karena aku percaya, Rio pergi karena Tuhan yang ingini.


Hujan pagi itu, hujan penghujung kisah ini.
***

Tuhan selalu menyuruhku untuk berharap. Membuat harapan sebesar mungkin. Mempertahankan harapan sekecil apa pun. Itu perintah-Nya. Tuhan berjanji, harapan-harapan itu akan terjawab. Sekarang. Besok. Nanti. Kapan saja. Ya, itu janji-Nya.

Dan hujan pagi inilah yang menyadarkanku, bahwa harapan yang dulu ku rajut telah terjawab. Dengan Rio mengizinkanku untuk hadir dan mengisi catatan indah hidupnya, secara tak langsung ia telah membalas cintaku. Ya, aku merasakan hal itu.

Maka meski kini Rio tak lagi di sisiku, cintanya selalu ada dalam tiap desau nafasku. Semangatnya selalu hadir dalam tiap lantun doaku. Dan hujannya selalu setia melapangkan hatiku saat rindu melanda relung jiwaku.
Pada akhirnya, harap yang ku cipta kini adalah harap terbesarku. Harapan agar kisah cinta sederhanaku ini akan tetap terkenang. Sampai waktu yang tak terbatas. Dan semoga hujan tetap mencintai alam dengan sederhana.
Dan kini aku tahu, apa yang membuatku mencintai Rio. Karena dengan mencintainya, aku merasa menjadi seseorang yang istimewa.


Hujan kali ini, aku mencintainya.
Hujan berikutnya, aku mencintainya.
Aku akan tetap mencintainya, walau tak ada lagi hujan.

***


Cerpen lama sebenarnya. Tapi baru dipost di blog ajaib saya! Semoga suka! Oh iya, jangan copy cerita saya ke manapun! Tolong, hargai saya! Oke, prenSINTAlicious? *eh

Salam Pisang Goreng!

Kamis, 15 Desember 2011

Hujan Berangin Di Bulan Desember (Sekuel Aku Dan Hujan Bulan Juni)







Aku ingin seperti angin, desauannya selalu menyejukkan hati.
Aku ingin seperti angin, sapuannya selalu menggelitik sukma.
Aku ingin seperti angin, aromanya selalu melesak angan.
Dan semoga angin pulalah yang menghantarkan Sang Hujan kembali dalam dekapan.

***

Kala menunggu adalah hal yang paling terkutuk di muka bumi ini, maka menunggumu adalah sesuatu termenyenangkan untukku. Karena pada saat itu, cinta sucimu selalu hadir di setiap deru nafasku.

*

~30 Juni 2008~

“Gue pergi. Jangan nangis! Hujan ga pernah suka liat lo nangis.”

Siluet tampan itu pun bergegas setelah menyelesaikan ucapan termanisnya. Ia berlari menerobos hujan. Sampai sosoknya pun hilang tertelan kabut yang enggan luput. Ia kini benar-benar pergi. Angin yang mengiringi kehadiran sang hujan turut serta dalam setiap pergerakan langkahnya.

Sementara aku hanya bisa menunduk. Merasakan sesak yang bergelung mencekat rongga pernafasanku. Menara yang selama ini berdiri kokoh ditopang hujan, runtuh seketika saat pemuda itu dengan tega membiarkanku menanggung sendiri jutaan harapan itu. Membiarkan aku berjuang mengerahkan seluruh kekuatanku untuk bertahan dari gelombang yang suatu saat pasti menerjang. Mecampakkan perih yang tertabur menyakitkan tepat pada ulu hati yang terdalam.

Namun ternyata, dibalik keangkuhannya, dia sangatlah peduli padaku. Pada perasaanku. Pada harapan-harapanku. Maka kali ini, disertai kerendahan hatinya, dia memintaku untuk tidak terus membanjiri dunia ini dengan buliran air mataku. Dia memberikanku keyakinan bahwa kelak suatu saat nanti, disaat yang tepat dia sendirilah yang akan mewujudkan semua harap yang ku panjat. Dia mendorongku untuk tidak menyerah lantas membanting segudang harapan itu sampai batas terdalam dari jurang tercuram. Menimbunnya dengan bermiliyar penyesalan. Lalu mati dan tak dapat melesak kembali. Dia menitipkanku pada hujan. Hujan yang baik dan menyenangkan. Hujan yang selalu membumbungkan angan hingga ke awang-awang. Hujan yang selalu menyisipkan kekuatan lewat tiap rinainya yang sederhana. Hujan yang hebat dan bijaksana. Hujan yang tak pernah menyukai adanya tangisan di muka bumi ini. Hujan yang akan segera mengkamuflase aliran sungai yang merembesi pipiku. Hujan yang selalu menjadi saksi dari tiap inci kisah ini.

Dan aku tak pernah merasa sendiri. Atau sepi karena hanya ada letupan yang diciptakan oleh rintikan hujan yang menemani tiap hembusan nafasku. Karena, bukan sekedar hujan yang ia tinggalkan. Tapi ia juga memberikanku angin. Angin yang tanpa aku sadari menjadi satu diantara tiga alasan untuk aku tetap bertahan. Walau logika telah gencar melakukan pemberontakkan.

***

~1 Juni 2009~

Di tanggal yang sama, setahun silam, aku dan dia terjebak di sini. Di halte tua yang keadaannya tak banyak berubah. Hanya cat dari bangku panjang halte saja yang terlihat sedikit memudar. Lebih dari itu, semuanya sama. Dan suasananya tetap sama. Menenangkan. Apalagi diiringi hujan di awal bulan juni seperti ini. Hujan yang selalu saja bersikap bijak.

Aku duduk di bangku panjang halte. Mengedarkan pandangan ke seluruh sudut halte. Tersenyum miring. Wajahnya kembali berkelebat dalam benakku saat merasakan setetes air baru saja jatuh tepat di punggung tanganku. Ah, sepertinya aku diserang perasaan rindu yang bearak mengelilingi relungku.

Aku terkesiap saat mendengar deru mesin yang berhenti tidak jauh dari tempatku berada. Bis baru saja tiba. Aku hanya menatapi bis itu. Aku tak berniat untuk naik dan menumpang bis itu untuk mencapai suatu tempat. Aku ke halte ini pun bukan dengan tujuan apa-apa. Aku hanya mengikuti tuntutan rindu yang sudah membuncah tak bisa dibantah. Ya, berdiam diri dan menikmati ketukan berirama dari sang hujan selalu berhasil menawar rindu yang mengendap di dasar permukaan hatiku. Seperti sekarang.

Setelah beberapa saat, bis itu pun kembali melaju dengan kecepatan yang sedikit di atas batas kewajaran. Tentu saja hal itu menciptakan sehembus angin yang langsung menyapu wajahku. Rambutku yang terurai berterbangan terhempas sang angin.

Aku merapikan rambutku yang tak beraturan akibat sapaan angin. Lalu aku pun tertegun. Sejenak, memori tentang awal kisah ini tercipta kembali berputar di otakku. Menampilkan peristiwa penting yang memulai kisah sederhana ini. Ketika aku yang sedang merutuki hujan yang menyebalkan karena telah menghambat kepulanganku. Lalu tiba-tiba dia hadir dengan cibirannya yang –cukup- pedas. Lalu setelah itu aku membentaknya dan dia hanya terkekeh dan sama sekali tak peduli. Lalu semua kejadian itu silih berganti menempati kotak memori.

Angin yang telah berlalu, mengajakku menjelajahi lebih jauh akan kisah ini. Mengungkap kebenaran yang selama ini tak pernah terkatakan. Semuanya nampak begitu kentara. Begitu juga perasaan asing yang dititipkan Tuhan sejak kejadian itu yang selalu berusaha ku sangkal. Dan kali ini, seakan abadi memenuhi ruang di hati. Setidaknya sampai rasa jenuh dan lelah mengungkung perasaan itu.

“Ifyyyy!”

Aku mengerjap. Seseorang baru saja melafalkan namaku. Lengkap dengan kelembutan yang lekat mengiringi. Aku menoleh kea rah sumber suara. Gabriel. Teman dekatku.

“Ayo! Acara sudah mau dimulai!” Gabriel melambaikan tangannya dari dalam mobil mewahnya. Ia mengedikkan kepala.

“Tunggu!”

Aku mendesah. Mungkin memang saat ini aku harus lekas bergegas. Mungkin, dia memang tak akan kembali dulu. Juni ini bukan saatnya. Tapi aku yakin, juni berikutnya, atau juni-juni mendatang, atau bahkan di waktu yang aku yakin akan jauh lebih indah dari waktu mana pun, dia akan kembali. Menyambung kembali potongan hati yang telah ia curi. Ia akan mengembalikannya. Lengkap dengan kesempurnaan kasihnya. Aku percaya itu.

Aku berjalan menuju mobil Gabriel. Membuka pintu. Lantas duduk di jok penumpang depan.

Gabriel menoleh ke arahku. Tersenyum lalu mengusap lenganku. Sebuah perasaan janggal mulai mengintip dari celah kejenuhan yang mulai terbuka.

***

~30 Juni 2010~

Juni lagi. Dua tahun setelah dia tak lagi menjadi sandaran saat kenelangsaan melanda. Dua tahun bukan waktu yang sebentar untuk tetap menjaga perasaan itu agar tetap berkuasa sebagaimana mestinya. Membangun benteng pertahanan untuk mengusir rasa mana pun yang hendak menyisihkan keadidayaan sang rasa istimewa. Berniat untuk menempati hati lebih dari batas kewajaran. Aku masih menantinya. Menanti dia berlari dan menyongsongku dengan jutaan kabar gembira bahwa dia mempunyai hadiah untukku. Yaitu segudang rindu.

Dalam segala kelemahanku, nyatanya aku masih tetap bertahan. Aku masih mengharapkannya kembali hadir dan menawarkan dekapan hangatmya untuk mengenyahkan gundah yang meresah. Berharap dia masih tak menyukai tetesan bening yang menganak sungai di pipiku. Berharap dia akan membuktikan bahwa dia akan tetap menyayangiku sampai juni-juni yang kelak akan terlewati. Namun, akankah segenggam harapan itu menjadi sebuah kenyataan yang membuncahkan kebahagiaan. Atau kemungkinan buruknya, harapan itu akan terhempas ke tengah-tengah samudera. Terombang-ambing kepahitan yang menyesakkan. Lalu akhirnya, menghilang tertelan gulungan ombak.

Angin menerpa wajahku. Menerbangkan rambut ikalku yang ikut melambungkan setiap jengkal harapan. Sang angin berjanji, ia akan menyampaikan harapan-harapan itu padanya yang berada di antah berantah. Lalu membawanya kembali ke dalam atmosfer kasihku. Aku meyakini itu. Karena Tuhan pun berjanji.

***

~6 Desember 2010~

“Happy birthday Ifyyyy!”

Kalimat itu langsung menyambutku saat aku baru saja membuka pintu. Aku tersenyum mendengarnya. Kalimat itu terucap dari pemuda tampan yang kini sungguh tampan dengan kemeja putih yang sangat pas membalut tubuh jangkungnya.

“Thanks Yel!” ucapku.

“Aku punya hadiah untuk kamu.” Gabriel meraih jemariku. Lantas mengumpulkannya menjadi satu. Berpadu dengan kelima jarinya. Lalu ia menariknya. Membawaku ke tempat yang ia tuju.

*

Gabriel nampaknya sudah merancang semua ini dengan baik. Ia sengaja menyewa café ini hanya untukku. Untuk hari spesialku. Ulang tahunku yang ke-18. Ia menyulap café ini menjadi  sebuah kerajaan di negeri dongeng. Para pelayan yang melayani kami berpakaian layaknya pegawai kerajaan. Dengan baju berwarna cerah dan dihiasi renda putih yang menawan. Di salah satu sudut, terdapat sebuah miniature kereta kuda yang sangat menggemaskan. Senyumku mengembang melihatnya.

“Thanks banget ya Yel!” ujarku sumringah. Aku membekap mulutku. Masih belum percaya dengan apa yang ada di hadapanku.

Gabriel hanya tersenyum.

Kami berdua pun duduk. Hendak menikmati cake coklat yang sudah tersedia diatas meja.

Aku mengambil cake dengan garpu. Lantas memasukannya ke dalam mulut. Enak. Manisnya pas. Aku suka. Lalu aku pun mengulang kegiatan itu berulang kali.

Lalu pada saat aku hendak melakukan suapanku yang ke-lima, aku berhenti sejenak. Melirik Gabriel yang entah karena apa terus menerus mematri senyum lebar pada wajah tampannya. Aku memicingkan mata. Melanjutkan suapanku yang sempat tertunda.

“Thanks ya Yel!” ujarku.

“Semuanya untukmu.” Ujarnya setengah bergumam. Matanya menatap lembut padaku. Nampak sekali bahwa ia melakukan segalanya dengan tulus.

Maka aku tersentak. Semuanya untukku. Dia melakukan semuanya untukku. Dengan ketulusan hati pula. Lalu mengapa pemuda yang sudah lebih dari dua tahun aku nanti itu tak pernah melakukan apa-apa untukku? Dia bahkan pergi. Memaksaku untuk tetap bertahan untuknya, tanpa adanya dia disisi. Lalu sekarang, kemanakah ia? Kenapa ia tak kembali saja? Untukku? Sebagaimana Gabriel yang melakukan segalanya untukku. Tiba-tiba aku kembali dijejali rasa jenuh yang perlahan mengikis perasaan yang telah sekian lama bersemayam dalam hati yang terdalam.

Aku pun berfikir, apakah ia masih menyimpan rasa itu di hatinya. Atau malah membuangnya pada gadis lain yang jauh lebih baik dariku? Mungkin saja. Di Inggris sana, ada jutaan gadis yang hebat yang mampu menyelinap masuk ke dalam hatinya. Lalu aku yang tak punya kuasa, harus tersisih sia-sia. Begitukah? Lalu untuk apa selama ini aku masih mengharapkan dekapannya kembali hadir untuk menghangatkan sepiku? Untuk apa aku berusaha menjaga sang rasa agar tetap menjadi yang paling berkuasa, sementara dia yang jauh disana, belum tentu melakukan hal yang sama? Untuk apa aku menutup rapat hatiku agar tak ada siapa pun yang menyusup dan menggantikan posisinya di hatiku? Kadang, aku merasa bersalah pada beberapa pemuda yang ku tolak. Alvin, Cakka, dan Ray adalah tiga diantaranya. Lalu Gabriel? Tegakah aku kembali menolak pemuda yang sangat baik itu? Yang benar saja. Aku takkan mampu membuatnya terluka.

Aku terjebak dalam kebimbangan. Tetap bertahan dengan beberapa alasan. Atau berpaling dan menganggap alasan yang ku punya hanyalah lelucon belaka. Entahlah.

Aku membalas tatapan Gabriel. Matanya menyala-nyala. Menyambar  hatiku agar memilih kehadirannya saja. Namun pada saat aku hendak mengangguk menyetujui, tiba-tiba aku terkesiap. Hembusan angin membuatku tersadar dari lamunan-lamunan yang menjerumuskan. Tidak. Bentaknya. Dia akan kembali. Sebentar lagi. Tunggulah. Dia punya semilyar hadiah yang akan ia suguhkan untukku. Percayalah. Bersabarlah.

Aku memalingkan muka. “Aku hanya ingin dia kembali. Aku ingin melewati ulang tahunku bersamanya.” Aku mendesah. “Aku belum pernah.”

Lalu Gabriel meraih tanganku. Mengusapnya. Lalu menggenggamnya begitu erat. Hendak mengalirkan kekuatan untuk aku agar terus bertahan.

Maka aku kembali tersenyum miring.

***

~30 juni 2011~

Kami sungguh sial. Sore berhujan ini, kami terjebak dalam kemacetan kota metropolitan yang sudah rutin terjadi. Kami harus membuang waktu berharga kami hanya dengan berdiam diri di dalam mobil. Tanpa suara pula. Entah karena apa, tanpa ada yang meminta, kami sama-sama tak mengeluarkan sepatah kata pun. Kami membisu. Menikmati kemacetan diiringi ketukan berirama sang hujan pada kaca jendela. Terhanyut dalam fikiran masing-masing. Terutama aku yang selalu saja terlarut dalam kenangan yang selalu saja muncul kala hujan menyapa bumi.

Gabriel berinisiatif untuk memecah keheningan. Ia menyalakan radio dan berharap sebuah senandung atau mungkin sekedar cuap-cuap sang penyiar mampu mengusir sepi yang ada diantara kami. Dan sebuah suara serak-serak basah kini terdengar melantunkan sebuah lagu.

Kekasihmu tak mencintai dirimu sepenuh hati
Dia selalu pergi meninggalkan kau sendiri

Aku tersentak mendengar lirik lagu tersebut. Aku menoleh pada Gabriel. Dia tengah menatapiku lekat-lekat. Aku menohok matanya. Menautkan kedua alis. Menyibak kebenaran dibalik selaput bening miliknya. Benarkah dia yang selama ini ku nanti tidak benar-benar mencintaiku? Dan kepergiannya adalah pertanda bahwa memang dia bukan tercipta untukku?

Gabriel meletakan telapak tangannya di dahiku. Menyibak jumputan poniku ke belakang. Ia tersenyum. Membuat kebimbangan semakin bergelung di dalam relung jiwaku.

Mengapa kau mempertahankan cinta pedih menyakitkan
Kau masih saja membutuhkan dia, membutuhkan dia

Jemarinya kini bergerak menyentuh pipiku. Telunjuknya sedikit menekan. Aku bisa merasakan gesture hangat yang ia berikan dalam tiap sela jemarinya.

“Aku sayang kamu.” Kata Gabriel. Suaranya tertahan. Ia menyisipkan nada pengharapan diantaranya.

Kau harusnya memilih aku
yang lebih mampu menyayangimu berada di sampingmu
Kau harusnya memilih aku
Tinggalkan dia, lupakan dia
Datanglah kepadaku

Lalu tangan Gabriel yang lain meraih tanganku. Mengangkatnya lantas menyimpannya di tempat yang memungkinkanku untuk aku mengetahui apa yang tengah bergemuruh di hatinya. Dada kokohnya.

“Beri aku kesempatan!” ujarnya. Kali ini terdengar sedikit memaksa.

Tanpa sadar, air mata mengalir dari sudut mataku. Pertanda bahwa kebimbangan yang kian membuncah tak terkendali ini sangat menyiksaku. Menekanku dalam sebuah keadaan dimana aku harus memilih. Memilih yang sudah benar-benar pasti dan berada di depan mata kepalaku. Atau memilih yang semu yang keberadaannya kini dipertanyakan.

Kau tak pantas tuk disakiti
Kau pantas dicintai
Bodohnya dia yang meninggalkanmu demi cinta yang tak pasti

Gabriel mempererat genggamannya. Seakan ia ingin menunjukkan betapa ia jauh lebih baik dari pemuda yang selalu aku harapkan. Meyakinkan agar aku memilihnya saja. Dia yang sudah jelas-jelas selalu ada untuknya. Bukan dia yang nun jauh disana, yang hanya bisa membuatku lelah menunggu. Yang hanya mencampakkanku dengan seonggok cinta yang ia paksa untuk ku jaga. Gabriel ada. Untukku.

Mulutku terbuka membentuk huruf ‘a’ tanpa suara. Berniat untuk mengatakan sesuatu. Namun terasa berat. Tertahan di pangkal tenggorokkan.

“Kamu istimewa untukku.” Gabriel mengangkat genggamannya. Mendekatkannya pada mulutnya. Lalu sejurus kemudian mengecupnya lembut. Agak lama dan begitu hangat.

“Aku… aku… aku masih mengharapkan dia kembali. Rio itu belahan jiwa aku.”

Aku mengambil tanganku. Memalingkan muka. Lebih memilih memandangi tetesan hujan yang membasahi kaca jendela, daripada terus menerus menatapi wajahnya. Karena semakin lama aku mendapati wajah tampannya, aku akan semakin terperangkap dalam buai pesonanya. Itu sama saja aku mengkhianati penantianku selama 3 tahun yang telah berlalu.

“Sampai kapan kamu mau menunggunya?” Tanya Gabriel sarkatis.

“Sampai aku lelah. Sampai secuil cinta ini habis dan menguap bersama setumpuk rindu yang mengendap disini.” Aku menunjuk dadaku.

Kembali ku dengar suara itu mengalunkan lagu yang rasanya sangat pas dengan keadaanku saat ini.

Kau harusnya memilih aku
yang lebih mampu menyayangimu berada di sampingmu
Kau harusnya memilih aku
Tinggalkan dia, lupakan dia
Datanglah kepadaku

Dan akhirnya, lagu dari Tery itu pun usai. Namun suasana yang tercipta masih enggan berubah. Tetap mencekam. Bahkan kini, semilir angin yang berhembus melewati celah kaca jendela menambah dingin suasana.

Dapat ku rasakan, tangan Gabriel menyusuri punggungku. Ia mengusapnya perlahan. Kembali menguatkan. Kali ini, bukan untuk pertahananku. Namun untuk hatiku agar berani mengambil keputusan yang paling besar dalam perjalanan kisah hidupku.

“Aku hanya ingin kamu bahagia Ify.”

***

~06 Desember 2011~

Hari ini, detik ini, aku berdiam diri disini. Sendiri. Hanya berkawan sepi. Mungkin inilah hari eksekusi hati. Penentuan apakah aku akan bertahan atau mungkin berlari menerima cinta yang ditawarkan oleh pemuda tampan beberapa waktu silam.

Aku kembali ke tempat ini dengan tujuan agar cinta yang hanya tinggal seberapa ini kembali mengembang. Memenuhi setiap sudut hatiku. Karena nyatanya, rasa jenuhlah yang kini menjadi penguasa. Menyingkirkan cinta yang kemungkinan akan segera menghilang.

Menyisir pandangan ke seluruh penjuru halte. Berharap dapat meredam rindu yang sudah tak dapat terbendung lagi. Duduk memandangi sang hujan. Berdoa agar tiap rinai hujan akan membasuh kesakitan yang telah menetes di hatiku.

Sayang. Semuanya terasa sia-sia. Yang mampu menyelesaikan prahara yang membelitku ini adalah kehadirannya. Kembalinya ia dari penjelajahannya akan membuat segalanya menjadi baik-baik saja. Seperti semula. Seperti apa yang selalu ia katakan dahulu kala. Seperti yang selalu ia tekankan saat aku mulai dilanda keraguan. Aku butuh dia. Ku mohon kembali.

Baik. Kalau itu maunya. Aku menyerah. Sekarang, biarlah ia tetap disana. Biarlah ia selamanya tak pernah kembali. Dan biarlah aku mendekap pemuda lain yang sungguh-sungguh mencintaiku. Bukan pengecut yang tak pernah menunjukkan seberapa besar cintanya untukku.

Cih. Aku mendengus. Bangkit. Dan melangkah pergi meninggalkan tempat memuakkan ini.

Dan langkahku terhenti saat suara baritone yang selama ini ku rindukan menyapa telingaku, dihantar angin yang senantiasa menenangkan hatiku.

“Happy birthday Ify! Putri Desemberku!”

Aku membalikkan tubuhku. Begitu terkejutnya aku, mendapati siluet tampan nan gagah itu tengah berdiri di bawah ribuan rinai hujan yang menggemaskan. Aku segera berlari menyongsongnya. Melompat dan menghambur ke dalam dekapan hangatnya yang teramat ku rindukan.

Dan dia masih seperti dulu. Tak pernah keberatan untuk memberikan pelukannya. Dia merengkuhku. Menenggelamkan kepalaku pada dada lapangnya yang kini bergemuruh dengan suara detakkan jantungnya yang bertalu-talu.

“Aku kangen kamu. Kamu ga kangen aku?” tanyaku. Menengadahkan kepalaku.

“Aku kangen banget sama kamu.” Rio membelai rambutku. Lalu melanjutkan kembali ucapannya. “Aku penuhi janji aku. Aku pulang. Untuk kamu. Semuanya untuk kamu. Termasuk cinta aku.”

Aku tersenyum. Diiringi air mata bahagia yang mengalir tersamarkan hujan. Aku mengeratkan dekapanku.
Benar saja, kehadirannya memang yang aku butuhkan. Maka semua perasaan jenuhlah yang menguap. Tergantikan rasa cinta yang kembali mengembang sebagaimana seharusnya. Kebimbangan itu pun menghilang. Takkan pernah kembali. Tak kan ada lagi keraguan yang merayapi hatiku. Kini yang ada hanya cinta. Cinta. Cinta. Dan semilyar cinta yang takkan ada habisnya,

Terimakasih Tuhan, Terimaksih Hujan. Terimakasih angin. Terimakasih Rio. Dan terimakasih Hujan berangin di bulan desember yang telah membawanya kembali dengan sejuta hadiah yang ia berikan untukku. Yaitu akhir kisah yang bahagia.

~selesai~