Jumat, 28 September 2012

Lebih Dari Plester part 13B



Rio menginjak pedal rem kuat-kuat. Menghentikan laju mobil mahalnya di depan sebuah bangunan rumah bernuansa klasik. Itu rumah Ify. Sebelumnya, ia baru saja mengantarkan Oik pulang. Gadis itu pingsan lagi. Sekarang, ia menyambangi rumah Ify. Menjenguk gadis itu. Semoga sakitnya tidak terlalu parah. Hanya berkisar demam atau flu saja.

Yang belum Rio tahu, semuanya hanya berujung pada makna semoga. Tidak lebih satu inci pun.

“Oh, jadi ini Rio kece ya? Ify sering cerita tentang kamu. Katanya, kamu raja telat ya?”

Senin, 27 Agustus 2012

Lebih Dari Plester part 13A


Kalau begini jadinya, aku tidak ingin diberitahu akan seperti apa aku nanti. Tuhan, lindungi aku dari keadaan tahu ini!

***

Ify melihat refleksi seorang gadis dalam cermin. Nampak sempurna dengan balutan seragam sekolahnya. Lengkap dengan bletzer biru kotak-kotak berenda. Rambutnya dibiarkan terurai. Kalung perak menjuntai menghiasi lehernya. Apa yang kurang?

Coba perhatikan dari ujung sepatu

Minggu, 26 Agustus 2012

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 24



Satu hari menuju kepindahan Keke. Semua semakin aneh saja. Keke yang belum mau menceritakan penyebab mengapa ia berubah menarik dirinya dari dunia luar. Hanya sekolah, setelah itu tak ada lagi. Keke menolak Gabriel yang memintanya untuk kembali aktif dalam kegiatan ekskul musik. Sebaliknya, ia juga tak membiarkan dunia luar menjamah harinya. Aku, Gabriel dan Agni yang hampir setiap hari mengunjungi rumahnya tak pernah ia temui. Meminta sang mama atau pembantunya untuk mengusir lembut kami. Ia tak ingin diganggu. Ia hanya ingin sendiri saat ini.

Begitu pun saat tadi siang ketika ia pulang sekolah.

Jumat, 17 Agustus 2012

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 23



Keke baru saja menjejakkan kaki di rumah. Gadis manis itu langsung dikejutkan oleh suara isakan yang terhantar udara dari salah satu ruangan dengan pintu yang setengah terbuka. Ia mendesah. Ini bukan kali pertama. Telah banyak isakan yang tercipta di rumah mewah itu. dan salah seorang yang rutin menciptakan isakan menyedihkan itu adalah orang yang sama dengan orang yang kini tengah menangis sendirian di dalam ruangan bercahaya remang. Keke masuk dan menghampiri pemilik tangis teriris itu. Wanita hebat yang telah membantunya untuk hadir dan menikmati bagaimana mengagumkannya hidup. Keke duduk di samping wanita sendu itu. Mengatakan “Mama” pelan.

            Wanita yang dipanggil oleh Keke dengan

Lebih Dari Plester part 12


Mulai berhitung. Satu. Dua. Tiga. Hingga tak berhingga.

Satu, untuk sepenggal masa lalu. Dua, untuk penggalan yang lainnya. Tiga, masih tetap sama. Tak berhingga, masa lalu itu sempurna terbaca. Akibatnya sudah dapat terkira. Tak berhingga, untuk pemahaman dari apa itu masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang.

***

Ify melipat kedua tangannya di depan dada. Celingak-celinguk mencari Rio yang tiba-tiba saja menghilang. Tadi, Ify kalah cepat oleh Rio ketika

Jumat, 03 Agustus 2012

Lebih Dari Plester part 11



Keduanya mulai beraksi. Terjun ke jalanan dengan menggunakan baju yang sama. Medan utama mereka adalah area lampu merah dengan target para pengguna jalan raya yang tentu saja tengah berhenti. Mereka memberikan masing-masing satu plester dinosaurus dan selembar brosur kepada setiap pengguna jalan. Brosur ajakan untuk saling mengasihi antar sesama. Saling berbagi. Alangkah indahnya kalau semua penghuni bumi dapat melakoninya. Dengan ketulusan hati dan kebijakan diri.

Ify bersemangat melakukannya. Menghampiri pesepeda motor. Memberikan plester dan brosur. Memberikan senyuman termanisnya. Beralih pada yang lain. Mengetuk jendela mobil. Sang empunya mobil membukanya secara perlahan. Langsung disuguhi plester dinosaurus. Berterimakasih. Lantas berpindah pada mangsa-mangsa lainnya. Begitu terus sampai satu jam ke depan. Tanpa lelah ia membagikan plester-plester menggemaskan itu. Melupakan sejenak keterbatasan yang bersemayam dalam tubuh mungil nan ringkihnya. Ify hanya ingin berbagi kebahagiaan siang ini.

Awalnya Gabriel setengah hati melakukannya. Buang-buang waktu dan tenaganya saja. Begitu pikir Gabriel. Ia malas-malas membagikan plester. Senyum miring pula yang ia suguhkan. Tanpa keikhlasan. Tapi melihat Ify yang begitu bersemangat melakukan gerakan seribu plester dinosaurus yang menurutnya aneh itu, hati Gabriel

Jumat, 20 Juli 2012

Segenggam Harapan



Lelah. Rasanya dia ingin berhenti saja dari perjalanan meraih mimpi. Semangat yang dulu membara kini sirna tak bersisa. Terkikis kecewa yang sering melanda.

Putus asa. Tak ada lagi setitik cahaya yang selama ini menuntun langkah payahnya menuju tujuan besarnya. Semuanya pupus. Kegelapan. Dan hilang semua harapan. Tak tahu arah. Merasa mimpi-mimpi itu takkan bisa terjamah.

Mati saja. Dia rasa itu akan lebih baik. Setelah mati, ia akan hidup bersama mimpi-mimpinya yang telah terlebih dahulu terbunuh. Bersama di keabadian. Walau resikonya dia akan tetap terabaikan.

Namun di senja itu, di taman belakang sebuah gedung sekolah yang begitu megah, ia hanya ingin menangis. Rasa sesak yang melesaknya

Rabu, 11 Juli 2012

Selapang Sang Rembulan part9


Gabriel melemparkan sebuah helm untuk segera dipakai oleh Sivia. Gadis itu mengulum bibir. Meskipun ia sudah resmi menjadi gadisnya Gabriel, tetap saja pemuda itu bersikap menyebalkan. Apa tidak ada sikap yang lebih manis yang bisa ia tunjukan pada saat menyerahkan helm berwarna kuning itu? Atau paling tidak, biasa saja. Jangan sampai dilempar seperti itu. Kalau terkena kepala Sivia bagaimana? Bisa benjol nantinya. Lantas membuatnya tidak cantik lagi. Sivia ingin selalu terlihat cantik di hadapan pemudanya. Cantik dengan dua kuncirnya.

Namun bagi Gabriel, apapun keadaan Sivia, gadis berlesung pipi itu selalu terlihat cantik. Bahkan ketika ia masih memakai piama. Belum sempat mandi, membersihkan diri. Ingatkah insiden rujak dulu? Bukankah penampilan Sivia tidak ada cantik-cantiknya? Ah, tapi

Selasa, 19 Juni 2012

Lebih Dari Plester part 10B


Karena walaupun masa lalu adalah hal yang tabu, tak akan ada yang pernah bisa menghapusnya dari sejarah.

***

Bunyi bel yang menjerit bersamaan dengan Bu Winda yang mengakhiri pelajaran untuk hari ini, sontak membuat Ify mencelat. Sedari tadi, bunyi itulah yang dinanti. Ya, karena ketika bel berbunyi, ia akan mulai beraksi.

Ify terburu-buru membereskan buku serta alat tulis lainnya. Memasukannya ke dalam tas. Gadis itu sangat bersemangat.

Jauh berbeda dengan pemuda di sampingnya. Ia sama sekali tak berselera untuk pulang. Ah, tidak. Ia tak akan pulang. Bukankah ia harus memenuhi permintaan gadis cerewet itu? Maka dengan enggan, ia bersiap.

Ekspresi yang tidak menyenangkan dari pemuda itu, membuat Ify sebal. Gadis itu berkacak pinggang. Mempelototi sang pemuda.

"Gabriel!" desis Ify. Pemuda empunya nama mendongak. Menatap malas Ify. Sejurus berikutnya, memutar kedua bola mata.

Ify mendengus. "Gabriel! Semangat dong! Semangat!" Ify

Jumat, 15 Juni 2012

Untuk Juni


Juni...
Ingatkah kau pertemuan pertama kita? Ketika itu aku masih setinggi dagumu. Ah, sampai sekarang pun, tinggi badanku tak berubah. Kamu curang. Menjadi tinggi sendirian.

Tak ada yang berbeda dengan dirimu. Kau sama saja seperti pemuda lainnya. Tidak menarik. Gaya berpakaianmu biasa saja. Celana panjang dan kemeja.

Terimakasih Juni


Terimakasih Juni...
Untuk kesediaanmu menjadi bagian penting di hidupku. Nanti, akan ku ceritakan tentangmu pada seluruh rakyat bumi.

Terimakasih Juni...
Untuk ketulusan hatimu meminjamkan waktu berhargamu padaku. Untuk memenuhi inginku.

Terimakasih Juni...
Untuk tidak menjadikanku gadis yang lemah. Kau selalu berkata, bahwa aku gadis paling kuat sejagad raya.

Terimakasih Juni...
Untuk keikhlasanmu mengais satu persatu rasaku padamu. Hingga kau kemas menjadi satu.

Terimakasih Juni...
Untuk pilihanmu yang telah membiarkanku mencicipi lembutnya telapak tanganmu. Tangan yang juga selalu bertadah menampung setiap tetes air mataku.

Terimakasih Juni...
Untuk hari-hari menyenan

Cukup Bahagia


Dia adalah Gabriel. Pemuda penyendiri yang aneh. Yang justru membuatku selalu saja ingin memandangi siluetnya. Ya, untuk saat ini cukup itu saja. Tidak kurang. Tidak lebih.

Hampir setiap jam istirahat aku mendapati Gabriel berada di sana. Duduk menekuk lutut di depan ruang kelasnya. Sendirian. Kadang, ia membaca. Kadang, ia juga mendengarkan musik. Musik rock favoritnya. Namun, yang sering ia lakukan adalah tidak ada. Hanya melamun. Menatap kosong ke depan.

Ketika yang dilakukan Gabriel hanya itu-itu saja, maka aku pun sama. Memandanginya dari depan ruang kelasku yang kebetulan berdampingan dengan ruang kelasnya. Menatap lekat-lekat bagaimana air muka wajahnya. Namun, tak pernah ku dapati ekspresi lain di sana. Datar saja. Hanya ketampanan yang kentara. Diam-diam, aku mengaguminya.

Hampir beberapa pekan aku selalu mencuri pandang ke arahnya. Sembari memupuk tetesan rasa kagum yang menghujami setiap dinding hatiku. Dan selama itu pula,

Jumat, 01 Juni 2012

Lebih Dari Plester part 10A


"Gabrieeeel!" Ify berteriak sekeras mungkin. Suara cemprengnya memekikan setiap telinga yang mendengarnya. Gadis itu kemudian berlari. Seraya memegangi kacamata berplester dinosaurusnya. Buku jumbo ada dalam dekapannya.

Pemuda yang dipanggil Ify segera berbalik. Menanti Ify yang berlari menyongsongnya. Rambut Ify berkibar seiring hentakan kakinya.

"Hehe..." Ify nyengir. Menunjukan deretan giginya yang sebenarnya agak berantakan. Gabriel memandanginya bingung. Bergidik geli melihat ekspresi Ify ketika menghilangkan nafas terengah-engahnya.

"Apa? Mau nebeng pulang? Jangan!" ujar Gabriel ketus.

"Ish! Bukan! Aku mau minta sesuatu. Hehe..." kata Ify. Diakhiri dengan cengiran yang lebih menggemaskan.

Gabriel memutar kedua bola

Coretan Pisang Goreng: Belek Dan Balak


Hai! Udah lama ga bikin beginian (?). Sibuk sama puisi dan dinosaurus. *eh Sibuk juga jualan kue. Alhamdulillah, Jingga Bakery makin sukses. Tadi aja jualan laku semua. Ya, ini kan pekerjaan yang halal dan terbaiklah! .-.


Saya sekarang mau cerita tentang teman-teman saya. Iya, saya punya teman. Keren, kan? #halah


Di sekolah, saya dekat sama Ana, Wulan, Mbak, dan Merlin. Dengan mereka saya merasa hidup. Bukan berarti kalau ga ada mereka saya mati. Tapi mereka klop banget sama saya. Gilanya saya ada yang nemenin. Capek saya gila sendirian. *eh Iya. Mereka berani gila.


Dengan mereka pulalah saya mencoba banyak profesi. Ya, kami multitalent *eh Kami pernah bikin sekolah. Padahal kami -kecuali Wulan- di sekolah OTB. *toeng Terus, dulu lagi musim Chery Belle. Kami bikin

Jumat, 25 Mei 2012

Hitam Yang Memerah


Kau pasti bertanya-tanya mengapa aku selalu cerewet ketika kau lupa membawa obat.
Atau mengapa aku selalu merajuk saat kau melupakan jam makan siangmu.

Kau pasti bingung setiap kali aku mengingatkanmu untuk mengerjakan PR fisika.
Mendengus kesal setiap kau mengumpat pengawas ujian yang galak.

Sama seperti aku yang selalu bertanya, mengapa kau selalu berusaha menjadi merah muda di hadapanku.
Kembali menghitam saat berada di duniamu.

Aku juga bingung, mengapa kau bersusah payah mengubah rumput menjadi sebiru laut.

Sudahlah!

Lebih Dari Plester part 9


Ketika genggaman tangan mengendur, sang masa lalu mulai mengabur. Dan kenangan lamat-lamat terkubur.

***

Sivia mengemasi barang-barangnya ke dalam kardus. Persiapan sebelum kepindahannya lusa nanti. Ia akan segera kembali ke kota tersayangnya. Mengorek masa lalu yang telah raip dari ingatannya. Ia hendak menemukan siapa sebenarnya dirinya. Karena semenjak ia terbebas dari tumor ganas menyebalkan itu, ia merasa ada yang hilang dari dirinya, entah apa.

Cakka, pemuda yang diam-diam mencintai Sivia itu setia menemani Sivia. Membantu berkemas. Dan mendengarkan semua ocehan gadis itu. Kebanyakan Sivia membicarakan sekolah. Ya, ia tak sabar untuk kembali ke sekolah. Setahun lamanya ia terpaksa menjalani home schooling. Tidak ada teman. Tidak ada jajan di kantin. Tidak ada pemilihan ketua OSIS. Tidak ada pensi. Hanya ada guru yang setiap harinya bergantian menyambangi apartementnya. Sivia bosan.

Sebenarnya, Cakka sedikit terganggu dengan topik pembicaraan yang dipilih Sivia. Melulu tentang kepindahan mereka. Ah, nyatanya ia memang masih enggan kembali ke kota tersayangnya. Bukan. Bukan ia tidak merindukan sahabat-sahabatnya di sana. Tapi, karena ia terlalu berat untuk menjejakan kaki di atas pijak di mana masa lalunya pernah ia onggok sampai mati. Ia tak mau masa lalu itu berbalik memburunya. Menjebaknya seumur hidup. Sehingga pengasingan dirinya dalam waktu yang cukup lama akan berbuah sia-sia. Jadi, untuk apa selama ini ia melarikan diri? Kalau pada akhirnya, ia akan terjerat perangkap dari masa lalu?

Lebih Dari Plester part 8


Karena kenangan, hanya masalah mengingat atau melupakan.

***

Gadis berambut pendek itu menggapai kursi rodanya. Ia memang telah dinyatakan sembuh dari tumor otak mematikan itu, namun tubuhnya belum cukup kuat untuk memenuhi keinginannya menikmati udara segar kota itu. Walau ia tahu, udara di kota mana pun tak akan semenyejukkan udara di kota kesayangannya.

Kini, ia tengah berada di taman belakang rumah sakit. Memandang beraneka bentuk awan yang mengarak di setiap bentangan langit. Hal yang selalu dilakukannya hampir setiap senja. Gadis itu hampir tak mengedipkan matanya, ketika ia menemukan awan yang bentuknya mirip dengan dinosaurus. Ia menatap lekat-lekat pada gumpalan awan itu. Dinosaurus? Rasanya, ia tidak asing lagi dengan hewan yang sudah punah jutaan tahun yang lalu itu. Gadis itu mengerutkan kening.

Kepalanya yang masih dibalut perban itu terasa sakit. Pening. Ia memegangi kepalanya. Efek dari terlalu kerasnya ia mengingat-ngingat tentang masa lalunya yang berhubungan dengan dinosaurus.

Dan ketika gadis itu hampir tak sadarkan diri, seorang pemuda datang. Mendekap gadis itu dari belakang.

"Kamu baik-baik aja Sivia?" bisik pemuda itu, tepat pada gadis yang dipanggilnya Sivia.

Sivia meraih tangan sang pemuda yang melingkari lehernya. Menarik sang pemuda agar berpindah ke hadapannya. "Aku baik-baik aja kok! Makasih ya Cakka!" ujar Sivia. Meyakinkan.

Jumat, 18 Mei 2012

Tanya


Sampai sekarang, aku tak pernah mengerti mengapa aku diciptakan menjadi gadis yang aneh. Dengan bintik-bintik jerawat pada pipi, membuatku terlihat seperti monster.

Tahukah kalian, aku sering bertanya pada bulan, mengapa ia bersinar di tengah kegelapan? Padahal, apa yang ia punya? Ia tak punya apa-apa.

Lalu, ketika pagi menjelang, aku bertanya pada rumput ilalang, mengapa ia tetap bersenang-senang walau ia selalu terabaikan?

Kala senja menjemput, aku kembali bertanya, kini pada katak-katak di tengah rawa. Mengapa ia tetap bernyanyi walau suaranya selalu hilang tersaput angin?

Dan ketika malam menyambut, aku masih di sini. Aku tak lagi bertanya. Untuk apa? Sekarang, aku yang akan membuat mereka bertanya, mengapa aku tumbuh menjadi gadis yang sederhana.

Pemuda Hitam


Pemuda Hitam


Aku benci hitam
Hitam yang kelam, gelap, dan keras.
Aku lebih suka jingga
Jingga yang selalu jadi pelengkap senja.
Aku lebih suka merah
Merah yang ceria, merah yang menyenangkan.
Aku lebih suka hijau
Dia teduh.
Lalu memangnya, aku bisa apa?
Saat kau datang dan memberiku satu-satunya warna yang kau punya,
Hitam…
Tak bisakah kau menghadiahkanku warna yang lain?
Abu-abu mungkin.
Seperti mendung sebelum hujan.
Atau biru?
Seperti langit selepas hujan.
Aku hanya ingin kau berhenti menghitamkan dirimu sendiri.
Wahai pemuda hitam!

Lebih Dari Plester part 7


"Operasinya berhasil!" ujar seorang lelaki paruh baya yang baru saja keluar dari sebuah ruangan.

"Benarkah Dok?" ujar lelaki yang lain tak percaya.

"Ya, semangatnya memang patut diacungi jempol. Itu adalah salah satu faktor ia bisa bertahan hingga sampai saat ini. Pak Alvin beruntung memilikinya." kata lelaki yang pertama yang adalah seorang dokter.

Lelaki yang dipanggil Pak Alvin itu tersenyum. Mengusap dadanya lega. "Ya, saya memang beruntung. Terimakasih dok! Oh iya, saya boleh bertemu dengan anak saya?" tanya Pak Alvin.

"Tentu saja. Tapi saya harap Pak Alvin tidak terkejut kalau sampai dia lupa sesuatu tentang dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Operasi pengangkatan tumor di otaknya membuat sedikit banyak ingatan dalam memorinya hilang." jelas sang dokter.

Pak Alvin mengangguk. Tak apa. Bukan hal buruk baginya. Yang terpenting adalah kesehatan anaknya. Bahwa gadis kecilnya telah berhasil menaklukan satu lagi penyakit dari dua penyakit yang bersemayam dalam tubuh ringkihnya. Dua penyakit itu yang memaksa gadis itu meninggalkan semuanya. Kota dan seluruh kenangan di dalamnya. Termasuk pemuda cerobohnya.

Kini, dari bibir Pak Alvin tak berhenti terlontar ucapan terimakasih untuk sang dokter yang telah tiga tahun menemani perjuangan gadis kecilnya. Dalam hatinya lantunan syukur tak henti ia panjat untung sang pemilik hidup.

Pak Alvin bergegas memasuki ruangan. Hendak menemui putrinya. Berharap bahwa kenangan pahitlah yang hilang. Hanya menyisakan kenangan indah yang telah dipahatnya selama hampir 17 tahun ia menjejak bumi.

***

Gabriel melemparkan jaket yang baru saja ia lepas dari tubuhnya ke sembarang tempat. Langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Hendak melepas lelahnya selepas mengantar Ify pulang.

Ify? Gabriel tersenyum. Entah mengapa hatinya tergelitik saat mengingat nama gadis polos sok tahu itu. Pemuda itu memejamkan mata. Berharap di tidurnya nanti, sang gadis akan datang menghadiahkannya mimpi terindah.

Beberapa detik saja matanya tertutup, Gabriel langsung membelalakan mata. Ekor matanya tertumbuk pada rak yang ada di samping meja belajar. Tadi ia mendapati Ify tengah mengamati koleksi boneka dinosaurusnya. Gabriel tersenyum penuh arti. Tanpa bisa ditebak, ia mencelat dari kasur. Mengambil salah satu boneka. Berlari keluar kamar.

Gabriel sudah sampai di sana. Tempat di mana orang tuanya sedang asyik bercengkrama. Gabriel menghampiri mereka.

"Loh, Gabriel? Kirain udah tidur. Ada apa Nak?" tanya Mama.

"Tolong bungkusin ini ya Ma!" Gabriel memberikan sebuah boneka dinosaurus yang dibalut kaos berwarna merah muda.

Mama menatap boneka itu bingung. Lalu menatap Papa. Yang ditatap menggeleng samar. Lantas beralih menatap Gabriel. "Untuk apa?"

"I-Ify." ujar Gabriel agak segan.

Mama akhirnya mengerti. Mengurai kerutan di keningnya. Baiklah. Dengan senang hati. Tentu saja ini adalah hal yang baik. Ya, gadis polos itu memang hebat. Sebelumnya, mana pernah putranya itu memberikan salah satu dari boneka kesayangannya kepada orang lain. Jangankan memberi, untuk mengizinkan seseorang menyentuhnya saja ia enggan. Dan sekarang, Ify perlahan mengembalikan keramahan putranya. Mama mengangguk.

"Makasih ya Ma. Aku tidur dulu. Malam Ma, Pa!" Gabriel melengos pergi. Melanjutkan prosedur tidurnya yang belum sempat dijajaki.

***

Jalanan kota masih lumayan lengang. Tak ada sesak kendaraan yang biasa menghantarnya ke sekolah. Gabriel memang sengaja berangkat sedini mungkin. Agar ketika ia tiba di sekolah nanti, ia menjadi orang kedua yang datang ke sekolah setelah Pak Indra, satpam sekolahnya. Juga agar rencananya tak diketahui siapa-siapa.

Benar. Sekolahnya memang masih sepi. Hanya Pak Indra yang didapatinya di pos satpam yang tengah menyesap secangkir kopi. Gabriel bergegas menuju kelasnya.

Ketika ia sudah mencapai kelas, tergesa ia menghampiri mejanya. Mengeluarkan sebuah kotak cantik berhiaskan pita merah menyala. Kotak itu ditemukannya di atas meja belajarnya pagi tadi kala pertama ia membuka mata. Kotak itu pula yang membuatnya semangat mengarungi tiap detik untuk hari ini.

Gabriel menyimpannya di atas meja. Celingak-celinguk ke sekitarnya. Memastikan bahwa tidak ada satu pasang mata pun yang menyaksikan semua yang dilakukannya. Gayanya sudah seperti secret admirer di film yang pernah ditontonnya. Ternyata memang, diam-diam Gabriel mengagumi kepolosan gadis itu.

Setelah itu, Gabriel memutuskan pergi. Matahari yang mulai meninggi, mengindikasikan bahwa teman-temannya akan segera datang. Kalau ia tetap di sana, mereka pasti akan mencurigainya.

Kini, Gabriel memilih menyendiri di taman belakang sekolah. Mengamati lalu lalang kendaraan di sepanjang jalan. Sambil merenungi apa yang telah diperbuatnya.

Tiba-tiba ia merasa telah melupakan sesuatu. Namun rasa itu ditepisnya kuat-kuat. Biarkan. Biarkan penantian semu itu hanya mengurung hatinya. Karena lamat-lamat, jiwa dan raganya telah berhasil meloloskan diri.

***

Ify membekap mulutnya ketika ia terhenyak mendapati sebuah kotak cantik di atas mejanya. Awalnya, ia mengira bahwa kotak itu bukan ditujukan padanya. Namun ia membaca sebuah kertas memo di atas kotak yang mengatakan bahwa kotak itu diperuntukan kepadanya. Ify mengetukan telunjuknya pada cuping hidungnya. Hari ini bukan ulang tahunnya.

Ify mengerjap. Entah mengapa, bisa-bisanya ia berpikir bahwa yang ada di dalam kotak itu adalah bom. Tapi, di sekolahnya tidak ada teroris. Anaknya Amrozi juga tidak bersekolah di sana. Lalu mengapa bisa ada bom di atas mejanya.

Ify terkesiap ketika sebuah tangan lembut menyentuh bahunya. Ify melirik pemilik tangan itu. Oik.

"Itu apa?" Oik menunjuk kotak itu.

"Bom." ujar Ify setengah berbisik.

Oik mengerenyit. Mana mungkin ada bom. Gadis berambut sebahu itu meraih kotak itu, setelah berhasil terlepas dari cegahan Ify. Oik meyakinkan Ify bahwa tak ada bom atau benda berbahaya lainnya di dalam kotak.

Oik membuka kotak itu. Matanya yang kecil membelalak ketika melihat isi kotak itu. Ia menggeleng tak percaya.

Dan gadis polos itu langsung mengambil kotak itu dari tangan Oik. Gesit ia meraih isi kotak itu. Boneka dinosaurus yang sangat menggemaskan. Ify tersenyum. Memeluk erat sang boneka.

Oik masih belum benar-benar percaya. Ia tahu siapa yang memberikan boneka itu pada Ify. Pasti. Siapa lagi kalau bukan pemuda ceroboh itu. Ya, apa yang dilakukan pemuda itu memang adalah sebuah kecerobohan. Tak tahukah ia, bahwa hati Ify mungkin saja tersentuh karenanya?

"Ya ampun Oik! Ini boneka yang aku lihat kemarin di kamar Gabriel. Iya. Pasti ini dari dia." ujar Ify. Gadis itu masih memeluk dinosaurusnya.

Oik tersenyum miring. Setengah ia mati ia memaksakan diri. Kabar ini harus segera diberitahukan pada sahabatnya.

Wajah Ify nampak berseri-seri. Setelah memeluknya, ia menciumi sang boneka.

***

Rio menyandarkan tubuhnya yang berlumur peluh pada tiang gawang. Setelah berkali-kali ia menendang bola dengan segenap tenaga. Ditambah emosi yang sedari tadi entah mengapa membuncahi logikanya.

Rio sadar, tidak seharusnya seperti ini. Ia tidak berhak.

Apa? Apanya yang tidak berhak? Cemburu maksudnya? Rio terkekeh. Mana mungkin Rio cemburu saat Ify mendapatkan hadiah boneka dari Gabriel.

Tapi kalau bukan cemburu, apa namanya? Kalau hatinya seakan terbakar saat Ify terus menerus bercerita tentang Gabriel. Apalagi sekarang, Gabriel perlahan melunak pada Ify.

Rio kini sendiri. Menikmati nafasnya yang terengah-engah.

Lalu tak berapa lama, gadis yang membuatnya kacau itu datang. Membawakan sebotol air mineral untuk Rio. Gadis itu duduk di samping Rio.

"Kapan-kapan, aku boleh kan main bola sama kamu?" tanya Ify. Membukakan botol air mineral untuk Rio. Menyerahkannya pada pemuda itu.

Rio melirik Ify. Gadis yang dilirik itu mengerjapkan mata.

Rio meraih botol air mineral. Menenggak isinya. Lalu mengusap habis buliran keringat yang bergelayut pada wajah tampannya.

"Makasih ya!" ujar Rio.

Memang seharusnya, ia tidak seperti itu. Toh, kedekatan Ify dan Gabriel yang mulai terjalin, tak membuat gadis itu menjauh darinya. Ia masih bisa mendapatkan perhatian Ify dengan caranya sendiri. Itu sudah cukup baginya.

***

Ify mencubiti boneka dinosaurus yang sudah menjadi miliknya. Sesekali ia terkikik, mengingat wajah Gabriel yang lucu ketika ia memastikan bahwa memang Gabriel yang memberikan boneka itu. Dan ia juga teringat, saat ia membisikan kata terimakasih tepat pada telinga Gabriel. Membuat wajah pemuda itu berubah memerah.

Sekali lagi Ify memeluk bonekanya.

Ketika Ify mengurai pelukannya, ia menemukan sebuah kalung cantik berwarna perak. Ify memperhatikan kalung itu dengan seksama. Dan ia juga mendapati sebuah nama dengan huruf yang dibuat bersambung terukir pada bandulnya. Ify memicingkan mata. Mencoba membacanya.

"S-Si... Si... Sivia?" Ify menatap langit-langit kamarnya.

***

Bersambung