Sabtu, 02 Februari 2013

Lebih Dari Plester part 16A


Gabriel merasa dirinya kembali menjadi anak-anak. Ia merasa dilemparkan kepada masa kecilnya di mana ia gemar sekali bermain kucing-kucingan. Dulu, ia biasa bermain dengan Rizky dan Daud. Mengelabuhi dua sahabat ciliknya itu dengan sangat sempurna. Bersembunyi di tempat yang sangat tertutup. Rizky dan Daud yang kebagian jaga tidak pernah berhasil menemukan Gabriel. Gabriel kucing yang handal.

Sekarang, ia kembali bermain kucing-kucingan. Bukan dengan Rizky atau Daud yang sudah jelas-jelas pindah ke luar kota sejak mereka masuk ke sekolah menengah pertama. Kini, ia bermain dengan Ify, Rio, Oik dan semua orang yang berpotensi membahayakan posisinya. Kali

Lebih Dari Plester part 15



Gadis itu menggeliat. Memalingkan wajah untuk menghindari seberkas sinar yang tajam menusuk matanya. Setelah beberapa detik beradaptasi, gadis itu perlahan membuka matanya. Lalu merasa perlu menyisir setiap sudut kamarnya. Dan ketika matanya tertumbuk pada pintu yang menghubungkan kamarnya dengan balkon yang menjeblak terbuka, gadis itu tersenyum. Melihat seorang pemuda yang berdiri dekat pagar pembatas. Entah sedang melakukan apa.

Sivia-gadis itu menendang selimut yang semalaman menghangatkan tubuhnya. Berjingkat dari ranjangnya. Dengan sisa-sisa tenaga, berjalan tersaruk menghampiri sang pemuda. Cakka tentu saja.

"Good morning!" tukas Sivia ketika

Lebih Dari Plester part 14B


Hari ini untuk kesekian kalinya, lagi-lagi Cakka gagal mengalahkan ketakutannya. Nyali yang telah ia kembangkan seketika menyusut kala ia menjejak pintu masuk sebuah TPU terbesar di kotanya. Rasa bersalah itu merongrong tembok keberaniannya.

Namun ia masih tetap berusaha. Menyeret kakinya yang entah mengapa terasa begitu berat. Menelusuri satu persatu gundukan tanah yang telah ditutupi rumput. Memindai nama-nama yang terukir di permukaan batu nisan yang menempel pada masing-masing gundukan. Ia hanya mencari satu nama. Nama seorang gadis yang pernah berkuasa di altar suci hatinya satu tahun silam. Yang kini

Kamis, 15 November 2012

Lebih Dari Plester part 14A



Oik menyesal telah menanyakan sebab dari ketidakhebohan Ify tadi. Lihat sekarang! Gadis itu bahkan jauh lebih heboh dari biasanya. Gabriel begini, heboh. Gabriel begitu, heboh. Oik sih tidak masalah selama tidak mengganggunya. Ini sih namanya bukan mengganggu lagi. Tapi sudah membahayakan.

Kalau saja tidak ada pemuda yang refleks menahan tubuhnya, pastilah Oik sudah jatuh terjengkang. Bergabung bersama kuman dan bakteri yang menempel pada alas kaki setiap orang yang berjejalan di sana. Untung saja. Dua kali tersenggol, dua kali pula diselamatkan oleh pemuda yang sama. Oik sempat tertegun sejenak ketika melihat wajah pemuda itu. Baru pertama dilihatnya

Jumat, 05 Oktober 2012

Sihir Hujan


Sihir Hujan
Oleh : Sapardi Djoko Damono
Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan
-- swaranya bisa dibeda-bedakan;
kau akan mendengarnya meski sudah kaututup pintu dan jendela.
Meskipun sudah kau matikan lampu.

Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan
- - menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh
waktu menangkap wahyu yang harus kaurahasiakan.

Aku Ingin


Aku Ingin
oleh : Sapardi Djoko Damono
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Jumat, 28 September 2012

Lebih Dari Plester part 13B



Rio menginjak pedal rem kuat-kuat. Menghentikan laju mobil mahalnya di depan sebuah bangunan rumah bernuansa klasik. Itu rumah Ify. Sebelumnya, ia baru saja mengantarkan Oik pulang. Gadis itu pingsan lagi. Sekarang, ia menyambangi rumah Ify. Menjenguk gadis itu. Semoga sakitnya tidak terlalu parah. Hanya berkisar demam atau flu saja.

Yang belum Rio tahu, semuanya hanya berujung pada makna semoga. Tidak lebih satu inci pun.

“Oh, jadi ini Rio kece ya? Ify sering cerita tentang kamu. Katanya, kamu raja telat ya?”

Senin, 27 Agustus 2012

Lebih Dari Plester part 13A


Kalau begini jadinya, aku tidak ingin diberitahu akan seperti apa aku nanti. Tuhan, lindungi aku dari keadaan tahu ini!

***

Ify melihat refleksi seorang gadis dalam cermin. Nampak sempurna dengan balutan seragam sekolahnya. Lengkap dengan bletzer biru kotak-kotak berenda. Rambutnya dibiarkan terurai. Kalung perak menjuntai menghiasi lehernya. Apa yang kurang?

Coba perhatikan dari ujung sepatu

Minggu, 26 Agustus 2012

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 24



Satu hari menuju kepindahan Keke. Semua semakin aneh saja. Keke yang belum mau menceritakan penyebab mengapa ia berubah menarik dirinya dari dunia luar. Hanya sekolah, setelah itu tak ada lagi. Keke menolak Gabriel yang memintanya untuk kembali aktif dalam kegiatan ekskul musik. Sebaliknya, ia juga tak membiarkan dunia luar menjamah harinya. Aku, Gabriel dan Agni yang hampir setiap hari mengunjungi rumahnya tak pernah ia temui. Meminta sang mama atau pembantunya untuk mengusir lembut kami. Ia tak ingin diganggu. Ia hanya ingin sendiri saat ini.

Begitu pun saat tadi siang ketika ia pulang sekolah.

Jumat, 17 Agustus 2012

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 23



Keke baru saja menjejakkan kaki di rumah. Gadis manis itu langsung dikejutkan oleh suara isakan yang terhantar udara dari salah satu ruangan dengan pintu yang setengah terbuka. Ia mendesah. Ini bukan kali pertama. Telah banyak isakan yang tercipta di rumah mewah itu. dan salah seorang yang rutin menciptakan isakan menyedihkan itu adalah orang yang sama dengan orang yang kini tengah menangis sendirian di dalam ruangan bercahaya remang. Keke masuk dan menghampiri pemilik tangis teriris itu. Wanita hebat yang telah membantunya untuk hadir dan menikmati bagaimana mengagumkannya hidup. Keke duduk di samping wanita sendu itu. Mengatakan “Mama” pelan.

            Wanita yang dipanggil oleh Keke dengan

Lebih Dari Plester part 12


Mulai berhitung. Satu. Dua. Tiga. Hingga tak berhingga.

Satu, untuk sepenggal masa lalu. Dua, untuk penggalan yang lainnya. Tiga, masih tetap sama. Tak berhingga, masa lalu itu sempurna terbaca. Akibatnya sudah dapat terkira. Tak berhingga, untuk pemahaman dari apa itu masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang.

***

Ify melipat kedua tangannya di depan dada. Celingak-celinguk mencari Rio yang tiba-tiba saja menghilang. Tadi, Ify kalah cepat oleh Rio ketika

Jumat, 03 Agustus 2012

Lebih Dari Plester part 11



Keduanya mulai beraksi. Terjun ke jalanan dengan menggunakan baju yang sama. Medan utama mereka adalah area lampu merah dengan target para pengguna jalan raya yang tentu saja tengah berhenti. Mereka memberikan masing-masing satu plester dinosaurus dan selembar brosur kepada setiap pengguna jalan. Brosur ajakan untuk saling mengasihi antar sesama. Saling berbagi. Alangkah indahnya kalau semua penghuni bumi dapat melakoninya. Dengan ketulusan hati dan kebijakan diri.

Ify bersemangat melakukannya. Menghampiri pesepeda motor. Memberikan plester dan brosur. Memberikan senyuman termanisnya. Beralih pada yang lain. Mengetuk jendela mobil. Sang empunya mobil membukanya secara perlahan. Langsung disuguhi plester dinosaurus. Berterimakasih. Lantas berpindah pada mangsa-mangsa lainnya. Begitu terus sampai satu jam ke depan. Tanpa lelah ia membagikan plester-plester menggemaskan itu. Melupakan sejenak keterbatasan yang bersemayam dalam tubuh mungil nan ringkihnya. Ify hanya ingin berbagi kebahagiaan siang ini.

Awalnya Gabriel setengah hati melakukannya. Buang-buang waktu dan tenaganya saja. Begitu pikir Gabriel. Ia malas-malas membagikan plester. Senyum miring pula yang ia suguhkan. Tanpa keikhlasan. Tapi melihat Ify yang begitu bersemangat melakukan gerakan seribu plester dinosaurus yang menurutnya aneh itu, hati Gabriel

Jumat, 20 Juli 2012

Segenggam Harapan



Lelah. Rasanya dia ingin berhenti saja dari perjalanan meraih mimpi. Semangat yang dulu membara kini sirna tak bersisa. Terkikis kecewa yang sering melanda.

Putus asa. Tak ada lagi setitik cahaya yang selama ini menuntun langkah payahnya menuju tujuan besarnya. Semuanya pupus. Kegelapan. Dan hilang semua harapan. Tak tahu arah. Merasa mimpi-mimpi itu takkan bisa terjamah.

Mati saja. Dia rasa itu akan lebih baik. Setelah mati, ia akan hidup bersama mimpi-mimpinya yang telah terlebih dahulu terbunuh. Bersama di keabadian. Walau resikonya dia akan tetap terabaikan.

Namun di senja itu, di taman belakang sebuah gedung sekolah yang begitu megah, ia hanya ingin menangis. Rasa sesak yang melesaknya

Rabu, 11 Juli 2012

Selapang Sang Rembulan part9


Gabriel melemparkan sebuah helm untuk segera dipakai oleh Sivia. Gadis itu mengulum bibir. Meskipun ia sudah resmi menjadi gadisnya Gabriel, tetap saja pemuda itu bersikap menyebalkan. Apa tidak ada sikap yang lebih manis yang bisa ia tunjukan pada saat menyerahkan helm berwarna kuning itu? Atau paling tidak, biasa saja. Jangan sampai dilempar seperti itu. Kalau terkena kepala Sivia bagaimana? Bisa benjol nantinya. Lantas membuatnya tidak cantik lagi. Sivia ingin selalu terlihat cantik di hadapan pemudanya. Cantik dengan dua kuncirnya.

Namun bagi Gabriel, apapun keadaan Sivia, gadis berlesung pipi itu selalu terlihat cantik. Bahkan ketika ia masih memakai piama. Belum sempat mandi, membersihkan diri. Ingatkah insiden rujak dulu? Bukankah penampilan Sivia tidak ada cantik-cantiknya? Ah, tapi

Selasa, 19 Juni 2012

Lebih Dari Plester part 10B


Karena walaupun masa lalu adalah hal yang tabu, tak akan ada yang pernah bisa menghapusnya dari sejarah.

***

Bunyi bel yang menjerit bersamaan dengan Bu Winda yang mengakhiri pelajaran untuk hari ini, sontak membuat Ify mencelat. Sedari tadi, bunyi itulah yang dinanti. Ya, karena ketika bel berbunyi, ia akan mulai beraksi.

Ify terburu-buru membereskan buku serta alat tulis lainnya. Memasukannya ke dalam tas. Gadis itu sangat bersemangat.

Jauh berbeda dengan pemuda di sampingnya. Ia sama sekali tak berselera untuk pulang. Ah, tidak. Ia tak akan pulang. Bukankah ia harus memenuhi permintaan gadis cerewet itu? Maka dengan enggan, ia bersiap.

Ekspresi yang tidak menyenangkan dari pemuda itu, membuat Ify sebal. Gadis itu berkacak pinggang. Mempelototi sang pemuda.

"Gabriel!" desis Ify. Pemuda empunya nama mendongak. Menatap malas Ify. Sejurus berikutnya, memutar kedua bola mata.

Ify mendengus. "Gabriel! Semangat dong! Semangat!" Ify

Jumat, 15 Juni 2012

Untuk Juni


Juni...
Ingatkah kau pertemuan pertama kita? Ketika itu aku masih setinggi dagumu. Ah, sampai sekarang pun, tinggi badanku tak berubah. Kamu curang. Menjadi tinggi sendirian.

Tak ada yang berbeda dengan dirimu. Kau sama saja seperti pemuda lainnya. Tidak menarik. Gaya berpakaianmu biasa saja. Celana panjang dan kemeja.

Terimakasih Juni


Terimakasih Juni...
Untuk kesediaanmu menjadi bagian penting di hidupku. Nanti, akan ku ceritakan tentangmu pada seluruh rakyat bumi.

Terimakasih Juni...
Untuk ketulusan hatimu meminjamkan waktu berhargamu padaku. Untuk memenuhi inginku.

Terimakasih Juni...
Untuk tidak menjadikanku gadis yang lemah. Kau selalu berkata, bahwa aku gadis paling kuat sejagad raya.

Terimakasih Juni...
Untuk keikhlasanmu mengais satu persatu rasaku padamu. Hingga kau kemas menjadi satu.

Terimakasih Juni...
Untuk pilihanmu yang telah membiarkanku mencicipi lembutnya telapak tanganmu. Tangan yang juga selalu bertadah menampung setiap tetes air mataku.

Terimakasih Juni...
Untuk hari-hari menyenan

Cukup Bahagia


Dia adalah Gabriel. Pemuda penyendiri yang aneh. Yang justru membuatku selalu saja ingin memandangi siluetnya. Ya, untuk saat ini cukup itu saja. Tidak kurang. Tidak lebih.

Hampir setiap jam istirahat aku mendapati Gabriel berada di sana. Duduk menekuk lutut di depan ruang kelasnya. Sendirian. Kadang, ia membaca. Kadang, ia juga mendengarkan musik. Musik rock favoritnya. Namun, yang sering ia lakukan adalah tidak ada. Hanya melamun. Menatap kosong ke depan.

Ketika yang dilakukan Gabriel hanya itu-itu saja, maka aku pun sama. Memandanginya dari depan ruang kelasku yang kebetulan berdampingan dengan ruang kelasnya. Menatap lekat-lekat bagaimana air muka wajahnya. Namun, tak pernah ku dapati ekspresi lain di sana. Datar saja. Hanya ketampanan yang kentara. Diam-diam, aku mengaguminya.

Hampir beberapa pekan aku selalu mencuri pandang ke arahnya. Sembari memupuk tetesan rasa kagum yang menghujami setiap dinding hatiku. Dan selama itu pula,

Jumat, 01 Juni 2012

Lebih Dari Plester part 10A


"Gabrieeeel!" Ify berteriak sekeras mungkin. Suara cemprengnya memekikan setiap telinga yang mendengarnya. Gadis itu kemudian berlari. Seraya memegangi kacamata berplester dinosaurusnya. Buku jumbo ada dalam dekapannya.

Pemuda yang dipanggil Ify segera berbalik. Menanti Ify yang berlari menyongsongnya. Rambut Ify berkibar seiring hentakan kakinya.

"Hehe..." Ify nyengir. Menunjukan deretan giginya yang sebenarnya agak berantakan. Gabriel memandanginya bingung. Bergidik geli melihat ekspresi Ify ketika menghilangkan nafas terengah-engahnya.

"Apa? Mau nebeng pulang? Jangan!" ujar Gabriel ketus.

"Ish! Bukan! Aku mau minta sesuatu. Hehe..." kata Ify. Diakhiri dengan cengiran yang lebih menggemaskan.

Gabriel memutar kedua bola

Coretan Pisang Goreng: Belek Dan Balak


Hai! Udah lama ga bikin beginian (?). Sibuk sama puisi dan dinosaurus. *eh Sibuk juga jualan kue. Alhamdulillah, Jingga Bakery makin sukses. Tadi aja jualan laku semua. Ya, ini kan pekerjaan yang halal dan terbaiklah! .-.


Saya sekarang mau cerita tentang teman-teman saya. Iya, saya punya teman. Keren, kan? #halah


Di sekolah, saya dekat sama Ana, Wulan, Mbak, dan Merlin. Dengan mereka saya merasa hidup. Bukan berarti kalau ga ada mereka saya mati. Tapi mereka klop banget sama saya. Gilanya saya ada yang nemenin. Capek saya gila sendirian. *eh Iya. Mereka berani gila.


Dengan mereka pulalah saya mencoba banyak profesi. Ya, kami multitalent *eh Kami pernah bikin sekolah. Padahal kami -kecuali Wulan- di sekolah OTB. *toeng Terus, dulu lagi musim Chery Belle. Kami bikin