Sabtu, 02 Mei 2015

Terlalu Cepat Tiga Puluh Hari


Juni. Kamu manusia paling mengejutkan abad ini. Semua yang kamu lakukan selalu mengejutkan. Terlalu mengejutkan.

Dulu kamu pergi begitu saja. Melewatkan acara pamitan. Tanpa sepatah salam perpisahan. Membuatku kalang kabut bertanya, ke mana kamu sebenarnya? Mengapa kamu pergi? Mengapa tidak kau izinkan aku melambaikan tangan mengantat kepergianmu?

Jumat, 24 April 2015

---


Kau adalah hitam dalam putih yang selalu ingin kulukiskan.
Kau tinta pewarna untuk hidupku yang terlalu polos.
Aku, ingin jadi kanvasmu.

Kau adalah lelucon paling menyenangkan yang pernah kutemukan.
Kau bergurau dengan siapa saja. Wanita itu, lelaki itu, bahkan Tuhan kau ajak bercanda sedemikian rupa.
Andai, akulah yang pertama menemukanmu. Takkan kubiarkan seisi dunia tahu akanmu.

Kau adalah hidup yang kujalani.
Kau berlari, berhenti, berputar, menikmati.
Aku, menikmati kehidupanmu.

Esok, mungkin kamu bukan lagi kamu
Tapi aku, akan tetap mengagumi kamu sebagaimana adanya dirimu.

Kamis, 09 April 2015

Filosofi Kopi


Gue terbiasa untuk menghadiahi diri sendiri ketika berhasil melakukan sesuatu. Kemarin, gue abis ujian SOCA yang pemberitahuannya sangat amat mendadak, H-2. Dan di dua hari sebelum SOCA itu gue malah pergi ke Bandung untuk ketemu idola gue. Bayarannya, gue harus melakukan hal yang sangat amat gue benci: begadang.

Tapi akhirnya gue bisa lulus ujian SOCA. Sebagai hadiah atas waktu tidur gue yang terenggut oleh begadang, gue sama temen gue memutuskan untuk nonton Filosofi Kopi. Butuh perjuangan untuk nonton film ini, karena Salma –temen gue- termasuk orang yang ga terlalu suka nonton film Indonesia. Gue harus membujuk dia habis-habisan hingga pada akhirnya dia mau nemenin gue nonton.

Sabtu, 07 Maret 2015

Haters


Gue percaya, setiap orang di dunia ini, sebaik apa pun dia, pasti punya seseorang yang ga suka sama dia. Atau bahasa kerennya sih hater(s).

Definisi haters menurut gue adalah orang yang membenci diri kita, setiap apa yang kita lakukan, dan semua yang kita hasilkan. Entah itu karena dia emang benar-benar ga suka sebab sesuatu yang kita lakukan adalah hal buruk, atau memang dia ga suka aja. Bisa juga karena dia iri dan berharap dia bisa melakukan hal yang kita lakukan.

Jumat, 06 Maret 2015

Penonton Caper


Gue suka banget nonton. Nonton film di bioskop, atau dapat ngopi dari temen. Kadang juga beli dvd bajakan._. Gue juga suka nonton pertunjukan. Musik, teater atau stand up comedy.  Entah sudàh berapa banyak pundi-pundi rupiah yang harus gue tukarkan untuk sebuah kepuasan batin dari hobi gue nonton.

Senin, 16 Februari 2015

Kapan Kawin?


Tanggal 14 Februari lalu, ketika banyak manusia bumi merayakan valentine dan sebagian lagi mendebatkannya, gue, Onas dan Salma jalan ke Bandung. Tujuannya sih buat beli alat praktikum. Tapi setelah tujuan tercapai, gue dan dua temen gue yang semuanya memiliki kemampuan independen untuk membahagiakan diri (re:jomblo) memutuskan untuk pergi ke Bandung Indah Plaza (BIP). Sesampainya di sana, kita bingung mau ngapain. Sampai akhirnya kita memutuskan untuk nonton.

Sabtu, 24 Januari 2015

Garing


Mungkin udah sekitar tiga tahun lebih gue suka dan mengikuti dunia perstand up comedyan di Indonesia. Awal tahu seni lawak ini tuh waktu SMA, gue ditunjukin video stand upnya Raditya Dika sama temen gue. Tapi karena waktu itu kondisi kelas kurang kondusif, jadi gue ga bisa nangkap maksud pidato -ya, dulu bilangnya pidato- Raditya Dika apa. Di rumah, gue langsung search di youtube deh. Dah oh iya iya, lucu.

Kamis, 22 Januari 2015

Diantar Pulang Polisi


Dua bulan berlalu dan sampai sekarang gue sendiri masih ga ngerti kenapa hal itu terjadi sama gue-,,-

Jadi gini, dua bulan yang lalu The Finest Tree (Cakka dan Elang) ke Bandung. Senang banget tuh kan. Gue langsung cari tahu hari apa dan mereka ke mana aja. Ternyata mereka ke Bandung selasa dan rabu.

Rabu, 21 Januari 2015

Selamat Ulang Tahun


Saya menyerah. Saya sudah tidak bisa menahan ini lebih lama lagi. Malam ini kamu telah menang. Meskipun saya tahu, sesungguhnya kamu telah memenangkan semuanya sejak dua tahun yang lalu. Sampai sekarang, kamu tidak pernah terkalahkan oleh siapa pun.

Senin, 19 Januari 2015

Bahagia


Waktu itu gue lagi di paud tempat gue ngajar. Gue sama temen-temen iseng bikin video. Judul videonya itu: Tips biar kita bahagia.

Minggu, 26 Oktober 2014

Maha Membolak-balikkan




Hari ini saya tahu betapa Tuhan maha segala-galanya, termasuk maha membolak-balikan perasaan seseorang. Tadi pagi saya bangun dengan bahagia. Pukul delapan, bahagia itu masih ada. Saya masih bisa tertawa bersama teman-teman dan adik-adik murid saya. Bermain perahu di danau kampus.

Siangnya, bahagia itu masih terasa. Meskipun entah mengapa hati kecil saya menyuruh saya untuk pulang. Dan memang dua minggu terakhir, saya selalu ingin pulang. Tapi siang itu saya melawan hati saya untuk tetap tinggal.

Selasa, 14 Oktober 2014

Tempat Sampah


Kata teman-teman, saya makannya banyak. Hampir setiap saya makan, di mana pun, di warteg, warung emperan restoran mahal atau pun di cafe (jarang sih sebenernya ke cafe. Norak soalnya sinta :() makanannya selalu habis. Ga jarang, makanan temen yang ga habis, saya yang habisin. Dulu, sempet di juluki tempat sampah. Ya gitu. Apa-apa masuk ke mulut Sinta -,,-

Bukan karena rakus saya menghabiskan makanan-makanan itu. Bukan karena perut saya terbuat dari karet, makanya susah kenyang. Bukan. Tapi saya ga tega kalau ada makanan yang ga termakan dan berakhir di tong sampah. Suka sedih. Serius. :(

Senin, 22 September 2014

Untuk Kamu, Dari Aku




Untuk kamu, seseorang yang hanya bisa leluasa kueja dalam doa.

Halo, Kak! Ingin rasanya sapaan singkat itu kuucapkan tiap kali kita bertemu. Tapi lidahku selalu kelu. Bibirku selalu beku.

Halo, Kak! Akhirnya aku bisa menyapamu. Malam ini. Dari jauh. Meski aku tahu takkan pernah sampai, tapi paling tidak, jemariku berani menuliskannya.

Sabtu, 20 September 2014

Sejatiku Kamu 2




Papa adalah orang paling murah tawa. Lucu sedikit tertawa. Lucunya banyak apalagi. Misal ada yang melawak dan tidak lucu sama sekali pun, ia pasti akan tertawa. Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Begitu kata Papa. Setelah aku sudah cukup besar, barulah aku tahu bahwa kalimat itu ia contek dari grup lawak favoritnya: Warkop DKI. 

Papa sangat menyukai seni komedi. Bahkan kalau bisa, dia pasti sudah jadi pelawak saat ini. Sepanggung dengan Srimulat dan bermain film bersama warkop DKI. Sayangnya Papa hanya diciptakan sebagai penonton. Ya, dia adalah penonton setia apa pun yang berbau komedi. Film-film Warkop DKI, serial TV Mr Bean hingga pertunjukan ketoprak Srimulat. 

Kamis, 11 September 2014

Sejatiku Kamu part 1


Aku tidak tahu caranya mencintai. Tapi untuk mencintaimu aku tak perlu belajar lagi. Karena dengan dicintaimulah aku mencintaimu.

Papa selalu bilang bahwa Tuhan Mahacinta. Dan memang benar. Oleh karenanyalah aku bisa mengenal cinta sedahsyat Papa. Cinta yang tegas, kekal, melapangkan.

 Pa, aku cinta Papa!

Selasa, 02 September 2014

Dua


Ini bukan tentang pasangan capres nomor dua yang gue dukung. Ini tentang apa yang terjadi selama semester dua kemaren. Banyak sukanya, dukanya pun ga sedikit. Campur aduk. Harus gue akuin, ga mudah menjalani apa yang bukan passion kita. Tapi gue udah terlanjur nyemplung. Jalani aja.

Semester dua kemaren udah lumayan bisa beradaptasi. Meskipun ga jarang

Selasa, 27 Mei 2014

Mahahumoris


Hari ini, kebahagiaan diturunkan begitu banyak. Meskipun tak sedikit yang kecewa. Tapi hidup harus berlanjut. Semoga bahagiamu bertahan lama, kekecewaanmu lekas berganti tawa.

Hari ini, satu takdir Tuhan diberitahukan. Sebuah gambaran akan di bawa ke mana hidup kita nanti. Setahun yang lalu aku merasakannya. Bagaimana satu hal yang sangat merubah hidupku, sekaligus membunuh banyak mimpiku.

Pengumuman SNMPTN. Tahukah bahwa sebelum hari H, aku berharap bahwa aku tidak akan lulus. Aku malu dengan pilihanku. Bukan karena terlalu muluk (meskipun memang muluk), tapi karena pilihanku tidak sesuai dengan apa yang selalu aku impikan. Aku malu, terlebih pada diriku sendiri.

Dulu, setiap ditanya ingin jadi apa aku nanti, aku selalu tegas menjawab "Aku ingin jadi dokter hewan!". Tapi bahkan aku tidak mengusahakan hal itu dengan menjadikannya pilihan pertama.

Makanya, setiap ditanya apa yang aku pilih untuk SNMPTN, aku tidak pernah menjawab. Aku bilang, kalau lolos, kalian akan tahu. Kalau tidak, ya kalian tidak akan pernah tahu. Pernah sekali aku memberitahu pilihanku, orang itu tertawa meremehkan. Sinta sinta, sadar diri kamu siapa.

Lalu tiba pada hari pengumuman. Pukul 4 sore waktu itu. Aku kesulitan mengakses internet. Aku minta temanku mengecek hasilnya. Sialnya, saat itu aku berharap aku diloloskan. Aku tahu itu tidak mungkin. Tapi sangat tidak mungkin aku lulus melalui tes tulis. Aku tidak sepintar teman-temanku.

Beberapa menit kemudian, temanku bilang bahwa aku lolos. Aku diterima. Aku tertegun sejenak. Bingung harus melakukan apa. Dan juga tidak percaya. Temanku mencoba meyakinkan dengan mengirimkan capture-an. Baru aku percaya saat itu. Refleks langsung memeluk nenek yang berada di sampingku. Dan aku menangis. Bahagia sekaligus sakit hati.

Teman-teman memberikan semangat. Lewat telepon, sms, twitter, dan facebook. Mereka akhirnya tahu akan pilihanku.

Aku tidak mungkin menyia-nyiakan apa yang banyak orang susah payah usahakan. Dan aku menerimanya. Menjalaninya. Meskipun resikonya, mimpi yang selalu kugadang-gadangkan akhirnya pupus.

Tapi toh aku tidak boleh egois. Orangtuaku hanya punya aku untuk dijadikan harapan. Mereka bahagia, pun denganku. Terimakasih Tuhan, kau membuatku menjadi anak yang setidaknya pernah membuat kedua orangtuaku menangis bahagia.

Setahun berlalu. Hari ini aku sudah mempunyai 75 adik tingkat baru. Adik kelas SMAku dikabarkan ada yang mengikuti jejakku. Senang rasanya. Ditambah teman satu komunitas fans juga lolos.

Aku juga senang, di timeline twitter dan facebook banyak yang mengucap syukur atas nikmat yang diterimanya hari ini. Selamat ya!

Untuk yang belum berhasil, selamat juga! Karena kalian akan puny perjuangan yang lebih menantang, lebih seru. Percayalah, euforia memasuki jenjang perguruan tingginya akan lebih greget.

Dan untuk semuanya, semangat selalu! Ingat, Tuhan mahahumoris. Apa pun yang diberikannya, tertawa sajalah. Itulah mengapa aku seringkali menertawakan diriku sendiri. Karena Tuhan juga sering mengajakku bercanda.

Selasa, 20 Mei 2014

Selamat!


Hari ini banyak dari kita yang sedang berbahagia, mendapatkan hadiah atas kerja kerasnya selama tiga tahun. Selamat!

Satu tahun yang lalu, aku merasakan kebahagiaan itu. Rasanya ya bahagia. Iya, bahagia.

Semalaman tidak bisa tidur. Cemas. Katanya, malam itu malam yang menegangkan. Kalau ada orang yang bertamu ke rumah malam itu, berarti kamu tidak lulus. Semalaman aku berdoa, tidak ada yang mengetuk pintu rumah.

Selasa, 06 Mei 2014

Istimewa


Aku percaya bahwa semua anak terlahir istimewa.

Namanya Ina. Sekilas, tidak ada yang berbeda dengan dia. Anak perempuan yang hanya berbeda dua tahun di bawahku itu tumbuh seperti anak lainnya. Dengan rambut keriting yang kurang terawat dan badan yang bongsor. Ya, biasa saja bukan?

Kali pertama aku bertemu dengannya adalah ketika aku bergabung di sebuah sekolah pengabdian kampusku, aku jadi pengajar di sana. Saat itulah aku bertemu dengan Ina. Dengan senyum lebar dan wajah yang ceria dia menyambut kami (para pengajar baru).

Tapi hari itu aku belum mengenalnya begitu dalam. Belum tahu bahwa dia begitu istimewa. Hari itu berlalu begitu saja. Dengan kepulangan kami yang diantarkan olehnya.

"Ina mau ke mana?" tanya salah seorang pengajar.

"Aku mau antar kakak-kakak." ujarnya tetap dengan senyum lebar,

"Jauh loh, Na!"

"Ga pa-pa. Hehe." tuturnya singkat seraya terus berjalan mengiringi kepulangan kami.

Keesokan harinya, aku kembali ke sekolah itu. Bertemu dengan Ina lagi. Dia menyalami kami satu per satu. Beberapa dia ingat namanya. Lalu tiba giliran dia mencium tanganku.

"Coba nama aku siapa?"

Dia tertegun seraya tersipu malu. Aduhh lupa! Begitu siratnya.

"Aku Sinta. Apa?"

"Ka Chinta!" ujarnya begitu semangat. Meskipun dia keliru memanggil namaku, tapi aku tak peduli. Sinta, Cinta, Chinta atau apalah itu. Yang jelas, setelah hari itu aku menemukan keistimewaan itu.

***

Ina punya panggilan khusus untuk pengajar yang dekat dengannya. Bunda dan Ayah. Tapi untukku berbeda.

Kala itu aku baru saja tiba di sekolah. Dia langsung berteriak "Omaaaaaa!" seraya melambaikan tangan.

Aku terkesiap. Loh kok Oma? Apakah aku setua itu? -_-

Semua yang ada di sana menertawakan panggilan Ina padaku.

"Ina kok Oma sih?"

"Ga pa-pa. Oma kan cantik." jawabnya. Dia tahu saja aku suka dibilang cantik._.

Ya, sejak hari itu di selalu memanggilku Oma.

***

Ina punya banyak cerita. Aku suka mendengarkannya. Meskipun kadang kurang mengerti. Tapi masa bodoh. Aku suka ketika dia bercerita.

Salah satu cerita yang kuingat adalah dia bilang kalau cita-citanya adalah menjadi psikolog. Iya, Ina. Oma doakan semoga cita-citamu terwujud.

***

Ina adalah anak paling rajin datang ke sekolah. Dia selalu jadi penghuni pertama. Pernah suatu kali ketika hujan lebat, dan aku baru sampai di sekolah, Ina ditemani teman pengajar sedang duduk di teras sekolah. Bercerita.

Hari itu pun dihabiskan oleh kami untuk mendengarkan semua cerita Ina yang lucu. Tentang dia yang pernah terkunci di kamar mandi, atau tentang dia yang paling suka datang ke kost para pengajar.

Oh iya, hobi Ina itu datang ke kost. Entah sudah berapa pengajar yang kostnya disambangi oleh Ina. Karena aku tinggal di rumah saudara dan jauh dari sekolah, jadilah Ina tidak pernah mengunjungiku. Tapi pernah dia mengatakan "Oma, aku mau nginep di rumah Tante." Aku hanya tersenyum. Tentu Ina.

***

Salah satu dari sekian banyak kelucuan Ina adalah ponselnya. Dia memiliki ponsel yang ukurannya kecil namun berat. Dan canggihnya, ponsel itu berkamera. Kadang, Ina memotret kami.

Suatu waktu, aku melihat Ina menempelkan ponselnya di telinga kemudian menggoyangkan tubuhnya. Aku bertanya sedang apakah dia. Dia tersenyum lalu menyerahkan ponselnya padaku. Ponsel yang tengah memutar sebuah lagu. Cabe-cabean. Aku terhenyak. Ina tertawa terbahak-bahak lantas terus bergoyang.

"Kenapa cabe-cabean? Kenapa ga sayur-sayuran?" tany seseorang.

"Iya. Kenapa ga sayur-sayuran, buah-buahan, nasi-nasian, lauk-laukkan. Itu kan lebih sehat." ujarku.

Ina tertawa. Masih terus bergoyang.

Karena itulah, aku memperkenalkan Ina pada lagu yang lebih layak untuk didengarnya.

Eh tapi, sekarang kalau mendengar lagu Cabe-cabean jadi ingat Ina. -_-

***

Ina pandai berakting. Dia bisa menangis sekaligus tertawa. Istimewa,, ya?

Ina sering menangis untuk mencari perhatian para pengajar. Ya, Ina suka diperhatikan. Ketika dia menangis, pengajar akan memperlakukannya sebagai adik kecil. Tapi aku tidak. Ketika dia menangis, aku akan menggodanya. Terus menggoda sampai tawanya meledak. Aku tidak memperlakukannya sebagai adik. Tapi aku memposisikannya sebagai teman. Ya, Ina adalah temanku.

Tapi pernah dia menangis dan susah sekali berhenti. Berbagai cara telah dilakukan. Tapi dia tetap menangis.

"Ina kenapa?" tanyaku lembut.

"Oma, Bunda Linda ke mana sih? Aku kangen. Huaaaaa." tangisnya semakin kencang.

"Bunda Linda sakit, Ina! Makanya Ina doain Bunda biar cepat sembuh, terus ke sini lagi. Ya?"

"Aku pengen Bunda Lindaaaaa!"

Aku tertegun. Merasa tertohok. Dia bisa sebegitu sayang terhadap bundanya. Akankah dia juga begitu pada Omanya? Merindukan kehadirannya ketika dia tidak hadir?

Aku menatapi Ina yang masih sesenggukan menangis.

***

Katanya, aku harus mengajari Ina. Nyatanya, aku belajar banyak darinya. Tentang hidup. Sesederhana kalimat "Oma kan cantik." Seringan tawa lepasnya. Seindah keceriannya. Setulus rasa sayangnya.

Aku semakin percaya, bahwa semua anak terlahir istimewa.

Selasa, 15 April 2014

Keluarga Baru


Saya punya keluarga baru. Namanya Taman Ilmu.

Taman Ilmu itu:

-Membuat saya menjadi saya
-Membuat saya menemukan kesederhanaan, kebersamaan, dan kebahagiaan
-Menjadikan saya lebih hidup
-Memperkenalkan saya pada apa itu pengabdian
-Membuat saya betah di Jatinangor, dan berat sekali untuk pulang kampung. Padahal, dulu maunya pulang terus
-Membuat jumat, sabtu, dan minggu saya tidak membosankan
-Membuat saya rela jalan kaki pulang dan pergi
-Membuat saya ikhlas pulang sore bahkan hingga larut malam
-Mempertemukan saya pada banyak sekali orang hebat. Kak Syakir, Kak Syarif, Kak Frida, dan rekan sejawat lainnya (?)
-Mempertemukan saya pada anak-anak luar biasa
-Memberikan pengalaman berharga ketika diklatsar ke Ciwidey. Bertemu masyarakat di sana. Mendapatkan pelajaran yang tidak bisa dibayar dengan apa pun juga
-Mewujudkan salah satu mimpi saya yang dulu sempat teronggok. Menjadi pengajar. Guru

Terimakasih Taman Ilmu! Kami siap, kami pintar, kami bisa!