Minggu, 30 Oktober 2011

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 8A


BASKET.
*

Dia, terlihat mondar-mandir bagai setrika diantara teman-temanya. Wajahnya teramat kalut, membuat peluh bercucuran di mukanya. Dia mengacak rambutnya kesal. Menendang kerikil kecil, dan menghentak bumi. Hei, kenapa pangeran matahari?

Aku bergegas menghampirinya, takut dia tidak bisa berkonsentrasi bermain basket, apalagi ini pertandingan yang penting, bukan hanya untukku, tapi juga untuk sekolah kami.

"Rio" aku menepuk pundaknya pelan.

Dia yang sedang menunduk, langsung mendongak dan menatapku tajam, menerkam dua manik mataku. Ow ow, nampaknya dia marah.

Aku menggigit bibir bagian bawah, menggaruk pipi yang sama sekali tak gatal. Dan begitu terkejutnya aku saat dia melonjak memelukku. Pelukanya teramat erat, membuaku kesusahan untuk bernafas.

"A..ku..ga bi..sa...nafas" kataku kepayahan.

Dia akhirnya melepaskan pelukanya, menggaruk kepala bagian belakang lalu terkekeh. "maaf"

Aku hanya tersenyum.

"Abis, kamu. kirain ga bakalan kesini. Aku ga tau deh, kalau kamu ga kesini, pasti permainan aku kacau banget." Rio mendesah "untung kamu datang!" Rio meletakkan kedua tanganya dipundaku. Memfokuskan kedua danau penyulut semangat itu pada kedua mataku. Menyengat tepat di manik mataku. Mematikan.

Aku menelusuri lekat-lekat danau itu, dan nafasku hampir tercekat saat desauan nafasnya terasa hangat sampai di wajahku, menciptakan getaran misterius itu kembali menyambar tubuhku, entah untuk yang ke berapa kali.

"Doain aku ya pelangi!" katanya tanpa memindahkan fokus matanya yang menjerat mataku kuat untuk tidak berkedip.

Aku hanya mengangguk dengan nafas tertahan, karena saat ini getaran menyebalkan itu sudah menyumbat rongga pernafasanku dan berhasil membuatku menahan nafas untuk beberapa waktu.

"Yo, cepetan! Pertandingannya udah mau mulai nih!" teriak seseorang dari tengah lapangan.

Aku mengerjap, dan tersadar dari buaian mempesona dua danau milik pangeran matahari.

Rio melepaskan tangannya dari pundaku dan menoleh ke arah sumber suara, "iya Yel!" teriak Rio lalu menoleh lagi ke arahku, "aku main dulu ya!" dia menepuk puncak kepalaku lalu mengacak-acak rambutku dan akhirnya berlari ke tengah lapangan, menghampiri teman-temannya yang sudah bersiap.

Akhirnya, aku bisa juga bernafas lega setelah beberapa saat tercekat. Ya Tuhan, tadi itu seperti saat menaiki wahana histeria. Harus menahan nafas dan merasakan euphoria yang begitu dahsyat membuncah di hatiku. Dan euphoria itu langsung memudar saat dia menjauh. Apa mungkin penyebab euphoria itu adalah....dia?
*

Pertandingan pun dimulai, antara SMPN 1 -sekolahku- dan SMPN 3 dengan dipimpin oleh Pak Joe.

Rio, dengan kaos merah dan sepatu putih yang dia kenakan tampak begitu tampan, ditambah permainannya yang sangat indah, begitu gesit bergerak diantara yang lainnya. Dan seharusnya kalian tahu, sedari tadi yang aku perhatikan bukanlah kemana bola itu bergulir, tapi segala gerakanyalah yang aku lihat. Dia berlari, mengoper bola pada Gabriel, Debo, atau dua rekannya yang lain, merebut bola dari rivalnya yang mengenakan kaos biru, berlari lagi, melompat, lalu melempar bola, dan pada akhirnya point pun di raihnya. Segalanya sangat sempurna.

Bruuk. Aww. Rio tersungkur. Tertabrak rivalnya yang berambut gondrong. Terlihat dia meringis kesakitan, memegangi lututnya yang terluka lalu meniupinya. Ya Tuhan, Rio kenapa? Jangan sakiti dia! Tunggu, ada apa dengan hatiku? Kenapa aku secemas ini?

Aku bernafas lega saat melihat pangeran matahari itu kembali bangkit, meraih bola, lalu melakukan lemparan. Dan yap, point untuk tim sekolah kami.

Begitu pun seterusnya. Rio beserta ke empat temanya meraih point. Meski harus bersusah payah karena nyatanya tim lawan tak ingin pulang dengan membawa kekalahan.

Empat kuarter berlalu. Dan priitt...priitt... Pak Joe meniup peluit panjang tanda pertandingan yang sangat menegangkan itu telah usai. Rio dan ke empat temannya melompat, bersorak, bahagia. Begitu juga seluruh siswa yang menyaksikan pertandingan barusan. Sementara ke lima pemain lain yang juga berada di lapangan tersebut terlihat sedih. Mereka menunduk kecewa menerima kekalahan yang cukup menyakitkan. Tapi pada akhirnya ini hanya sebuah pertandingan. Harus ada yang menang dan kalah, kan? Dan itu memang sudah mutlak. Meraka pun saling berjabat tangan, menunjukan sportifitas.

Rio mulai mendekat ke arahku dengan senyum yang merekah di bibirnya. Dia berhenti tepat di hadapanku. Memegang pundaku. Dan sejurus kemudian memeluk tubuhku. Dan tepat saat dia menyambarku, jantungku mulai bertalu. Getaran misterius itu muncul lagi, bahkan lebih keras dan tak terkendali.

Rio akhirnya melepas pelukan itu, memudahkanku untuk mengendalikan getaran misterius itu. Dan aw, kenapa aku merasa gugup saat kilat hebat menyambar tepat bola mataku. Kilat yang seakan memompa jantungku untuk menciptakan getaran yang lebih menggila.

"Aku menang Fy!" ujarnya.

Aku mengerjap, menarik nafas lalu berkata, "Selamat ya Yo!"

Rio mengangguk semangat lalu mengambil botol air mineral yang tergeletak di sampigku, membuka tutupnya, lalu meneguk isinya kemudian duduk di sampingku. Rio mengambil handuk yang juga tergeletak disampingku bersama air mineral tadi, mengelap peluh-peluh yang membasahi sekujur tubuhnya.

"Setelah ini, apa?" tanyaku sambil memainkan ujung rok.

"Basket putri" jawabnya lalu kembali menyimpan handuk di dekat botol air mineral tadi.

Aku menggigit bibir, bertanya dengan ragu, "Agni ikut?"

Dia menoleh ke arahku, menatapku, lalu kembali menoleh ke depan. "Ya iyalah, Agni kan atlit basket putri andalan sekolah kita" Rio menghela nafas. "Kenapa emang?" tanyanya lagi.

Aku menggeleng, menyadari bahwa itu adalah pertanyaan yang bodoh, dan kenapa pula bibirku melontarkannya? Seharusnya aku tahu, Agni memang pantas dan seharusnya masuk tim inti basket putri sekolahku.

"Yo, sini!" teriak seseorang dari sebuah kerumunan.

Rio menoleh ke arah kerumunan itu, menatapku lalu bangkit dari duduknya. "Aku kesana dulu ya!" izinnya lalu berlari menuju sumber suara tadi.
*

Sepuluh menit berlalu. Dia kembali menghampiriku dengan wajah yang begitu kalut. Nampaknya ada yang tidak beres.

"Kenapa?" tanyaku sembari bangkit.

"Irva sakit, dia ga bisa main." katanya sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.

"Ganti aja sama pemain cadangan" ujarku sekenanya.

"Nah, itu dia masalahnya, kita ga punya pemain cadangan." Dia mulai mondar-mandir membuatku ikut cemas.

Aku mengerutkan kening, menggigit bibir sambil menggaruk pipi. Ups. Kenapa aku jadi seperti ini?

"Ahaaa!" katanya tiba-tiba, membuatku kaget dan harus mengelus dada.

"Apa?"

"Kamu aja yang gantiin Irva." celetuknya membuatku terlonjak dan geleng-geleng kepala.

Hei, apa-apaan Rio ini? menyuruhku untuk bermain basket, bukankah tiga tahun terakhir ini aku sudah tidak bermain basket. Aku trauma bermain basket, kejadian waktu itu...
*

3 tahun yang lalu.

Sore itu begitu terik. Matahari sungguh superior memancarkan sinarnya. Begitu bersemangatnya sang mentari, sama seperti bersemangatnya Agni untuk mencaci maki seorang itik buruk rupa.

"Kamu bodoh! Kalau aja tadi kamu oper bola itu ke aku dan ga egois untuk ngelempar bola itu sendiri, sekolah kita ga bakal kalah!" teriaknya di tepi lapangan, disaksikan banyak pasang mata.

Gadis buruk rupa itu hanya tertunduk. Menatapi beton yang dia injak. Merutuki kebodohannya dalam hati.

"Dasar bodoh! Kamu, ga bisa main basket!" suaranya makin menggelegar membuat gendang telinga yang mendengar pecah.

Dan, gadis itu mulai berkaca-kaca, hingga akhirnya sebuah tetesan bening mengalir di pipinya lalu bergelayut di ujung dagu runcingnya. Dan sebelum butiran itu mengenai tanah, tetesan alam mendahuluinya. Seakan mengiringi tangisan gadis yang -katanya- bodoh itu. Bahkan matahari yang awalnya begitu berkobar, tak tega melihat gadis itu menangis, hingga membiarkan hujan menemani tangisnya
*

bersambung

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 7


Hal kecil yang membawa perubahan yang signifikan, membuat semuanya terasa lebih indah.

PISANG GORENG
*

Aku mendesah berat, menghempaskan gas yang menyesakkan dada, berharap gas itu enyah. Namun nyatanya gas beracun itu tak mau pergi, lebih senang memadati ruang dadaku. Aku memejamkan mataku, berharap mimpi indah tadi masih terus berlanjut. Sayang, mimpi itu sudah tertimbun sangat dalam. Maka mulailah aku memberanikan diri melihat pagi ini. Apa masih sama seperti kemarin? Tidak. Kemarin lebih baik. Pagi ini sama muramnya seperti pagi sebelum kemarin.

Aku kembali ke rutinitas biasa, mandi, berpakaian, lalu mematut diri sebentar di depan cermin. Setelahnya, keluar dari kamar, lalu menuruni anak tangga dan meluangkan waktu untuk menengok ruang makan.

Aku hanya mengintip saja. Dan nampak wanita paruh baya yang sedang menyiapkan roti dan selai untuk hanya jadu pajangan di atas meja, karena sesungguhnya roti-roti itu tak pernah aku ata orang lain-mama dan papa- sentuh.

Aku mengedikan kepala, miris melihatnya, lalu melangkah pergi.

"Non" terdengar suara Bi Surti memanggilku, membuat langkah kecilku terhenti.

Aku menunduk. Ah, hari ini aku tak bersemangat.

"Ini non" Bi Surti mengangsurkan sebuah kotak bekal berbentuk kepala kucing. Ya Tuhan, menggemaskan sekali.

Aku mengerutkan kening. Tak mengerti. apa aku di suruh membawa bekal ke sekolah macam anak TK? Entah.

"Sejak kemarin, non kan belum makan, ini bi Surti buatin pisang goreng. Kesukaan non, kan?" ujar wanita sabar itu.

"Ga usah deh bi!" Ujarku sekenanya.

"Ayolah non, bibi ga mau non sakit" Bi surti memasang wajah memelas.

Kalian tahu? Aku paling tidak bisa melihat orang lain memelas. Maka dengan setengah hati, aku menerima kotak bekal itu. "Makasih ya Bi!"
*Aku masih memegangi kotak bekalku. Tak berniat sedikit pun untuk melahap isinya, meski aku tahu di dalam kotak lucu ini, ada makanan kesukaanku. Sambil melihat ke depan, atlet-atlet basket sekolahku sedang berlatih. Ya, karena sebentar lagi mereka akan menghadapi pertandingan persahabatan dengan SMP lain. Terselip di antara mereka seorang tampan. Entah kenapa, sedari tadi aku memfokuskan mataku ke arahnya. Memperhatikan setiap gerak-geriknya dan meresapi keindahannya.

Tanpa sadar, siluet yang ku perhatikan menghampiriku, dan akhirnya duduk di sampingku.

Rio mendesah lalu menepuk pundakku. "Tumben" katanya dengan nafas yang masih terengah-engah.

"Mencoba sesuatu yang baru" ujarku.

"Lalu?" tanyanya lagi sambil mengusap peluh yang bergelayut di ujung dagunya.

"Cukup menyenangkan""Itu apa?" Rio menunjuk kotak bekal yang ku pegang.

Aku menoleh ke arahnya lalu mengasongkan kotak bekal berisi pisang goreng. Dia hanya mengerutkan kening.

"Pisang goreng, buat kamu" kataku ringan.

"Buat aku?" Rio meraih kotak bekalku. "Makasih ya!" Dengan jemarinya dia membuka tutup kotak bekal, menyimpannya di bangku yang kami duduki. Meneliti isinya. Meraihnya. Lalu akhirnya melahapnya.

"Sebentar lagi pertandingan persahabatan, makanya kami rajin latihan." celotehnya sambil terus menggigiti tiap potongan pisang goreng.

Aku hanya tergugu, entah mau mengatakan apa-apa. Bibirku selalu tiba-tiba membeku jikalau berada di sampinya. Hatiku ikut bertalu. Dan getaran misterius itu kembali menjalar ke sekujur tubuhku. Tapi yang jelas, perasaan senang selalu menyergapku saat bersamanya.

"tumben ga di perpus?" dia bertanya sambil terus melakukan prosedur menghancurkan pisang goreng.

"Kalo aku diem terus di perpus, siapa yang bakalan ngehabisin pisang goreng itu? Buku-buku?" Aku menoleh ke arahnya. Dia, rakus juga. Tapi auranya justru makin terpancar saat dia melahap tiap centi pisang goreng. Tentu saja. Dia memang selalu sempurna.

Akhirnya semua pisang goreng pun berhasil dia habiskan, tak tersisa walau hanya secuil. Dia memasukkan jarinya ke mulut lalu mencomotnya satu persatu. Seperti anak kecil. Lucu sekali.

"Makasih ya, pisang gorengnya enak banget! Main basket bikin aku laper!" ujarnya polos sambil memegangi perutnya yang terlihat sedikit buncit. Mungkin karena efek memakan pisang goreng itu.

Aku menyunggingkan senyum, melihat begitu polosnya tingkah laku sang pangeran matahari. Tingkah yang tak pernah dia tunjukan pada orang selain aku.

Dia berbalik, berlari menuju lapangan basket dan bergabung kembali dengan teman-temannya. Berlatih lagi penuh tenaga. Dia selalu saja seperti itu. Bersemangat.

"Alysaaa..." teriak seseorang dari kejauhan. Suara cemprengnya memekikan telinga. Suara yang sudah sangat ku hafal. Bagaimana tidak, setiap hari aku mendengarnya berceloteh ria di sampingku. Dia Keke, Gabriel Angeline Thalita Pangemanan, teman sebangkuku.

"Aduh, ternyata kamu disini toh!" katanya sambil menstabilkan pernafasannya.

"kenapa Ke?" tanyaku keheranan, melihat tingkah aneh sahabat karibku ini.

"Aku cariin kamu ke perpus, tenyata kamu di sini. Bu Angel, pulang sekolah nanti kamu di suruh nemuin dia" cerocosnya.

"Mau apa?" tanyaku yang hanya di jawab dengan gelengan kepala dan bahu terangkat.

Mau apa sebenarnya pembina teaterku yang satu itu? Tidak tahulah.
*


"Saya, ga bisa melakukan seutuhnys bu." ujarku dengan mata tertunduk. Tak berani menatap mata lawan bicaraku. Karena aku tahu, tatapanya pasti runcing, bak tusuk sate.

"Kenapa?" Bu Angel-lawan bicaraku-menghela nafas. "Ibu tidak habis fikir, kenapa kamu selalu menolak untuk sepenuhnya ikut dalam rencana-rencana besar yang saya buat, bahkan rencana yang kelewat besar seperti ini."

"Saya...tidak layak bu!" aku masih tertunduk. Sama sekali belum berani menatap Bu Angel.

"Alysaa.."

Aku masih teru menunduk, menatapi ujung-ujung rok biruku. Bahkan kali ini makin dalam.

"Alyssa.." Suara Bu Angel mengeras. Dan itu tandanya mau tak mau aku harus berhenti menunduk dan kemudian menatapnya.

Aku mendongak. Dan tepat saat mata bulatnya menyambar telak kedua bola mataku. Benar saja, matanya amat tajam, lebih tajam dari paruh elang. Mematikan.

"Kamu, lebih dari layak Alyssa. Setiap kalimat yang kamu buat itu terlalu rapi dan indah. Bagaimana bisa kamu menganggap bahwa kamu tidak layak?" Bu Angel menggelengkan kepala. "Percaya sama ibu, kamu mampu Alyssa"

"Tidak tahu lah bu, izinkan saya untuk berfikir, untuk memutuskan apa yang akan saya lakukan, melakukan seutuhnya atau tidak sama sekali." kataku dengan hembusan nafas putus asa.

"saya berharap, pilihan pertama yang akan kamu ambil" Bu Angel menepuk pundaku, seakan ingin menjejaliku dengan semangat. Percuma saja, karena toh aku pasti akan menolaknya. Aku merasa putus asa.
*

Segalanya tentangnya adalah hal terindah.
Semua ucapannya adalah pelecut semangat.
Tiap inci lebar senyumnya adalah kebahagiaan.
Dan kehadirannya, membawa perubahan.

*

Aku berjalan dengan gontai sendirian. Pikiranku menerawang. Bingung. Apa yang harus aku lakukan. Mengikuti kata-kata Bu Angel, atau tetap pada pendirianku. Tapi sepertinya, aku akan tetap pada pendirianku. Takkan tergoyahkan oleh badai yang tiap saat bisa menerjang.

"Hai!" sapa seseorang dengan tepukan di pundakku.

Aku menoleh. dia lagi. Tak pernah bosan aku bertemu dengannya. Dan aku berterimakasih kepada Tuhan, telah membuat aku di temukan olehnya di halte di tengah-tengah hujan.

"Oh ya, tadi aku lupa, aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucapnya ceria seperyi biasanya, lalu berjalan beriringan denganku.

"ngomong apa?" tanyaku.

"pisang gorengnya enak, besok bawa lagi ya. Boleh, kan?" pintanya.

"Tentu, kalau kamu mau, tiap hari aku bawain deh!" kataku. Oh Tuhan, kau begitu baik. Ini pertanda setiap hari akau akan bertemu dengannya dan menghabiskan waktu istirahat dengannya di temani tiap potongan pisang goreng.

"Thanks ya!" Dia menepuk puncak kepalaku, membuat getaran misterius itu datang lalu menjalar ke seluruh tubuhku.

"Hari ini kamu dijemput?" tanyanya.

"Ga, kalaupun dijemput, aku ga bakalan mau pulang." aku menggigit bibir bagian bawah.

"Kalau gitu, aku bisa tidur lagi di bahumu dong! Yuk!" dia menarik tanganku tiba-tiba menuju bis yang baru datang. Ini tarikan tangannya yang ke...entahlah, sudah sangat sering. Dan aku bahagia.

Sampailah kami di dalam bis, lalu kini duduk di paling belakang, karena baris ke-3, tempat favorit kami-tepatnya aku-sudah ada yang menempati. Tapi, dimanapun itu, aku selalu senang jika bersamanya.

Dua menit setelah bis melaju, kepalanya mendarat di bahuku. Dan saat itu pula, getaran yang menjalar di rubuhku semakin mebuncah. Apa ini Tuhan? Bahkan getaran ini lebih besar dari gempa di Aceh tahu 2004 dulu. Ah aku tak tahu apa ini. Semuanya remang. Dan aku belum bisa menguraikan apa sebenarnya penyebab getaran misterius itu.
*

Kehadirannya adalah kesempurnaan.
Dia adalah zat kimia yang mampu merubah kekecewaan menjadi kebahagiaan.
Karena dia di ciptakan untuk menjadi sang pangeran.


*

Pagi ini cerah. Ya, setidaknya itu yang ku rasakan. Meski mendung menyelubung langit, tapi bagiku cerah saja. tumben kau datang sepagi ini, rajin benar.

"Pagi bi!" sapaku pada Bi Surti yang sedang menyiapkan sarapan.

"Loh loh loh, kenapa ini? Non Ify kok kelihatannya seneng banget!" Ujar Bi Surti sambil menuangkan air panas ke dalam gelas berisi susu.

"Emang bi! Bi, pisang gorengnya enak, bikinin lagi ya!" kataku kemudian mangambil segelas susu yang baru saja di seduholeh Bi Surti.

"Siap non!" Bi Surti mengacungkan jempol. Menyanggupi.
*

Menunggu. Adalah hal yang teramat membosankan bagi semua orang. Kecuali aku. Aku selalu menikmati saat-saat menantinya di pojok perpustakaan. Dengan memegangi kotak bekal berisi pisang goreng, aku merasa bahagia. Aku yakin, dia akan selalu datang untuk menemuiku, lalu melahap habis pisang gorengku.
*

Ketiadaanya membuatku gelisah.
Keterlambatannya membuatku cemas.
Tapi hanya dengan sebuah senyuman manisnya, kegelisahan dan kecemasan itu sirna.

*

Duduk takzim di kursi pojok perpustakaan menjadi rutinitas yang selalu aku lakukan. Begitu juga hari ini. Sambil sesekali melirik gelisah ke jam tangan yang ku kenakan. Berharap dia segera datang untuk mengambil pisang goreng yang selalu aku bawa untuknya. Aku yakin, meski sudah lewat lima belas menit, dia akan datang.

"Maaf ya, tadi porsi latihannya di tambah, besok kan pertandingannya," katanya mengusap keringat yang bercampur dengan tetesan hujan.

Aku menyodorkan kotak bekal. Dia membuka, meraih isinya, lalu melahapnya. Seperti biasa.

"Besok, kamu nonton aku ya!" katanya sambil mengunyah potongan pisang goreng.

"gimana besok aja deh!" kataku ringan sambil membuka halamn ensiklopedia yang akan ku baca.

"Yah, ko gitu sih, ayolah! kamu kan selalu ngasih aku energi lewat pisang goreng ini tiap selesai latihan, masa di pertandingan nanti kamu ga nonton. Ayolah! Buat nyemangatin aku!" dia memelas sambil mengangkat kedua alisnya.

"iya deh!" kataku sambil terkekeh.

Hujan, dia gambar senyuman
dia lukis keindahan
*

bersambung.

Selasa, 04 Oktober 2011

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 6B


Ku ingin marah melampiaskan
tapi ku hanyalah sendiri disini
ingin ku tunjukan pada siapa saja yang ada bahwa hatiku, kecewa.

~Bunga Citra Lestari~
*

"Terus Ify?" tanyaku sarkatis.

Papa dan Mama saling berpandangan, seakan mereka berfikir 'pasien lebih penting dari kamu Fy'.

"Kamu lanjutin makan, papa ntar telpon Mang Ujang buat jemput kamu, oke sayang? Yuk ma!" Papa menarik tangan mama, lalu dengan terburu-buru meninggalkanku dengan semua kekecewaan yang kembali ku raih.

Aku terpaku sendiri, melihat mereka seakan tak mempedulikan aku yang kenyataannnya adalah anak mereka. Lalu apa makna dari perkataan mama tadi malam? 'Besok, kami milikmu'. Alah, omong kosong semuanya.

Makanan di hadapanku kini terlihat hidup dan mencibirku. Oke, aku ga nafsu makan kalian.

Aku bergegas keluar, aku telusuri sudut tempat parkir. Tak ada jaguar yang tadi mengantarku ke sini. Dia pergi, membawa kebahagiaanku dengan sangat cepat.

Dengan berat aku berjalan, tak tentu tujuan. Mataku menatap kosong ke depan. Pikiranku melayang dan hatiku luluh lantak. Ya, aku kecewa. Aku kira kebahagiaan ini akan bertahan lebih lama di diriku, ternyata bahagia itu tak betah hinggap terlalu lama padaku. Tapi kenapa tuhan? Apa dalam diriku terdapat sebuah monster jahat berbadan besar dan menakutkan sehingga bahagia itu enggan lama-lama tinggal. Atau bahagia itu benci pada itik buruk rupa sepertiku? Tapi sekarang aku kan pelangi. Ah, pelangi ataupun itik buruk rupa sama saja bagiku. Aku tetap tak dapatkan bahagia.

Bahagia. Hal termewah dan termahal bagiku di dunia ini yang tak pernah bisa ku beli. Beli? Kalau bahagia dapat dibeli, berapa harganya? Satu juta? seratus juta? Satu milyar? satu triliyun? Berapa? Ayo sebutkan! Dan tidak. Tidak. Tidak. Bahagia itu tak dapat dibeli dengan rupiah. Lalu dengan apa? Pengorbanan. Hey, sudah banyak yang ku korbankan. Dan sudah lama aku menunggu bahagia itu menghampiriku. Kapan tuhan?

Oke. Tidak ada gunanya memaksa. Biarlah mengalir seperi aliran air di sungai.
*

Akhirnya aku sampai di sebuah halte. Bukan. Bukan halte yang dekat sekolah. Ini halte yang berbeda, tapi di mana pun haltenya, aku tetap menyukainya. Aku tidak berniat untuk berteduh dari teriknya siang ini, aku hanya duduk di emperan halte. Ya, macam gelandangan.

Aku kembali merenung, menekuri hidupku yang amat malang ini. Kenapa malang selalu mengekoriku? Mataku mulai berkaca-kaca dan sebentar lagi bersiap pecah lalu menumpahkan tangis. Dan benar kan? Si bening itu mulai terjun bebas dari mataku. Ya, aku rasa menangis dapat membuatku lebih baik. Meski kenyataannnya tidak sama sekali.

Aku memelototi beton yang ku injak. Yang tadinya terang, sekarang mulai meredup. Apa ini? Aku menengadahkan kepalaku, melihat langit yang tadinya biru, kini menjadi hamparan awan kelabu, dan nampaknya kau mau datang. Kenapa? Bukankah hari ini kamu tak ada jadwal untuk menyerbu bumi? Dasar kau!

Setetes, dua tetes, lalu diikuti rombongan tetes yang lain. Kau mulai datang menimpaku. Kenapa kau ikut menangis hujan? Apa ini cibiranmu pada kelemahanku? Iya?

"Jangan menangis terlalu lama Ify!" kata seseorang yang kini sudah berdiri gagah di sampingku. "Pelangiku" lanjut Rio. Ya, dialah orang itu.

"Kenapa? Toh hujan setiap turuh selalu menangis?" pembelaanku.

"Ada dua hal yang membuat hujan menangis" ujarnya lalu menghela nafas "Satu, hujan menangis karena dia mau memberikan rintikanya untuk kehidupan."

Aku memotong pembicaraannya "Aku tahu satu lagi, dia pasti sedih kan? Sama sepertiku." Air mataku kini turun makin deras bersama hujan yang selalu mengiringiku.

"kamu salah, hujan tak pernah sedih. Alasan lain kenapa dia turun adalah dia ingin dan harus mengkamuflase tangisan mahluk-mahluk di bumi. Dan itulah alasan dia turun sekarang."

Bicara apa mahluk satu ini? Apa benar yang ia katakan hujan? Kau mau mengkamuflase tangisku saat ini?

"Dan kamu tahu Fy, saat ini dia gagal melaksanakan tugasnya. Tangismu terlalu deras sehingga hujan tak mampu menyamarkanya." ujarnya lagi.

Kata-katanya sungguh aneh. Ngelantur ya ini orang? Tapi, ada benarnya juga sih, kali ini aku menangis sangat optimal. Tapi apakah sederas itu, hingga hujan tak mampu mengkamuflase tangisku?

"jangan menangis lagi, jangan buat hujan susah payah melakukan itu. Biarlah hujan turun hanya untuk memberikan titik-titik kehidupan tanpa ada embel-embel yang lainya!" ujarnya lagi.

Aku menoleh ke arahnya, sosoknya begitu dewasa saat ini, melebihi umurnya yang masih 15 tahun.

Dia mengulurkan tangannya padaku. Tanpa berfikir, aku meraih tangannya. Dia mengangkatku bangkit dari keterpurukkan. Dia bagai katrol yang mengangkat seember air dari dasar sumur.

Dia menarikku masuk ke bis yang baru saja tiba. Aku hanya terus mengekorinya, hingga akhirnya kami duduk di baris ketiga, seperti saat itu. Bedanya kali ini dia memisahkanku dengan jendela.

Bis pun melaju bersamaan dengan genggaman tangan kami yang makin mengerat. Dia salurkan semangatnya padaku lewat genggaman tangan halusnya.

"Biarlah tetap begini!" ujarnya sambil menggerakan genggamannya kemudian mempererat "aku ngantuk, aku tidur ya!" katanya lalu mendaratkan kepalanya pada bahuku -lagi-.

Hangat. Hangat sekali. Memang matahari yang selalu memberikan kehangatan untuk seluruh insani. Aku tak tahu apa yang ku rasakan, tapi energi yang dia salurkan mulai menjalar ke seluruh tubuhku lewat pembuluh darah. Dan kini hampir mencapai tempat dimana darah di pompa. Ya, jantung. Jantungku mulai berdetak, lebih cepat, semakin cepat, bahkan lebih cepat dari ketukan sepatu kuda. Apa yang ku rasakan?

Tuk. tuk. tuk. Bukan. Itu bukan suara jantunku. Suara jantungku kan teredam. Hanya aku, Tuhan, dan si jantung itulah yang mampu mendengarnya. Yang barusan itu suara tetesan hujan yang mengetuk kaca jendela. Keliahatannya kau marah karena ada dia di antara kita. Aku menggapai jendela dengan hati-hati agar tak membangunkannya yang tengah terlelap. Tenang hujan, bagiku kau tetap yang terbaik. Jangan berisik ya! Pangeran matahari sedang mendengkur.

Hujan, dia tegarkan
dia kuatkan
dia hapuskan
*


"Aku pulang" Kataku lemah sambil menyusuri satu persatu anak tangga.

"Non, kok ga pulang sama Mang Ujang? Tadi dia jemput non." Ujar bi Surti.

Aduh, bibiku yang satu ini, cerewet deh. Sudahlah. Tak perlu urusi semua ini. Aku tak mempedulikan celotehan wanita paruh baya itu. Aku melengos pergi.
*

Ku raih kenop pintu kamar lalu membukanya, membuka jalan masuk menuju dunia kesendirianku. Aku melangkah lalu berniat mendaratkan badanku di pulau kapuk. Tunggu, ruangan itu menggodaku. Ruangan yang terdapat di kamarku di samping kamar mandi. Ruangan yang dulu selalu ramai dengan rengekan, canda, tawa, dan semuanya. Ruangan yang bisa dibilang 'ruangan bermain'.

Dengan gontai aku masuk ke ruangan ini. Bersih, rapi, mungkin bi Surti selalu membersihkan ruangan ini. Ya ampun, sudah berapa lama aku tak memasuki ruangan ini? Aku kira lama sekali.

Di sudut ruangan terdapat rak yang berisi banyak sekali boneka doraemon. Ya, aku suka sekali doraemon.

Di pinggir rak tersebut terdapat sebuah meja yang penuh sekali dengan foto-fotoku dan salah satu diantara banyak foto itu terselip sebuah foto, dengan pigura kayu berwarna coklat, menghiasi gambar diri dalam foto itu. Foto seorang anak perempuan menghadapi lilin angka 12 dan di apit oleh kedua orang tuanya. Anak itu tersenyum. Memperlihatkan gigi gingsulnya. Kebahagiaan sangat terpancar dari wajah imut anak itu. Dan tepat sekali, itu aku. Dua tahun yang lalu. Hey, kenapa aku tumbuh jadi itik buruk rupa? Lihat aku, dulu aku cantik dan bahagia. Tapi kenapa aku jadi begini? Apa aku dikutuk oleh penyihir seperti di dongeng-dongeng? Tidak. Ini bukan dongeng. Ini hidupku.

Aku tangkupkan pigura itu. Tak tega aku melihatnya tersenyum disana. Seperti mencibirku saja.

Huh, apa-apaan aku ini, kenapa aku masuk ke ruangan jelek ini? Aku bergidik, lalu meninggalkan ruangan ini, ruangan yang menyimpan banyak kenangan, kenangan yang perlahan melapuk, terkikis, lalu teronggok mati.
*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 6A


Potongan mimpi, yang teronggok mati.
*

Menekuri catatanku yang tinggal beberapa lembar lagi. Gila! Sudah sebanyak apakah aku menulis? Sampai-sampai aku tak sadar buku catatanku hampir habis. Ya, aku memang tak pernah mereview ulang tulisanku, bahkan aku lupa apa saja yang pernah aku tulis. Haha, pikun kamu Fy. Apa sebaiknya ku alihkan saja tulisanku pada laptop ini? Lagian sudah kuno juga harus menulis di catatan seperti ini. Tidak. Aku lebih senang menulis dengan tinta daripada harus menekan-nekan keyboard. Bagiku, menulis adalah hal yang paling sederhana, lebih sederhana dari berbicara, jadi aku akan menulis dengan cara yang sederhana pula.

"Fy..." Suara lembut itu datang, ke kamarku? Ya Tuhan, mimpikah aku? Kalau mimpi, cubit aku biar bangun. Aww, aku mencubit pipiku. Sakit. kalau sakit berarti ini bukan mimpi.

Aku menoleh ke sumber suara. Benar saja. Berdiri disana seorang bidadari cantik, tatapannya sangat meneduhkan. Perlahan dia menghampiriku dan duduk di dekatku.

"Besok, mama sama papa mau ngajak kamu makan, boleh?" tanya mama.

Tunggu dulu, mimpi aneh apalagi ini. Seorang bidadari cantik yang sibuk mengobati orang-orang mengajakku makan? Ah, ini bukan mimpi kan? Sebenarnya ini mimpi kecilku. Meskipun kecil jangan anggap enteng ya, kamu tahu, mimpi ini tak pernah tewujud dan sekarang sebuah titik terang menghampiri mimpi kecilku ini.

"Mama ga ada operasi kan?" tanyaku sinis, padahal ingin sekali aku langsung mengangguk mengiyakan dan dengan manis berkata 'iya mama', tapi tidak ya, gengsiku terlalu tinggi. Yah, bukan apa-apa sih, aku hanya ingin mengetes saja keseriusannya soal ini. Aku tak ingin ini hanya rayuannya saja agar aku menjadi anak yang manis untuknya.

"Besok, kami milikmu." katanya selalu dengan senyum yang mempesona.

"Gimana besok aja deh ma!" kataku sok acuh, padahal... Ah, dasar munafik! Biarlah, aku hanya menirunya dari sinetron. Bukankah kisahku bak sinetron, kan?

"Ya sudah, tidur gih!" mama melenggang menuju pintu kamar. "Selamat malem ya sayang!" lalu pergi keluar dari kamar.

'Mama, jangan pergi dulu, tinggalah dulu disini' kataku -dalam hati tentunya-. Ya, aku ingin mama lebih lama di kamarku, ngapain dulu kek, basa-basi juga ga apa-apa, nanyain gimana sekolahku, teman-temanku, atau apalah yang sering di lakukan ibu-ibu yang lainnya. Huh, sebenarnya aku ingin sekali bercerita padamu ma, ceritaku sudah sebanyak ikan di lautan. Lalu aku berceloteh ria denganmu, lalu... stop! Berhenti jadi pemimpi yang selalu mempunyai mimpi aneh.

Hah, aku menghempaskan tubuhku ke atas ranjang, mulai menutup mata sambil perlahan mengintip ke alam mimpi, dan akhirnya terlelap dalam nikmat illahi.
*

Pagi buta aku sudah bangun, menyongsong dunia nyata yang aku harap akan lebih baik dari mimpiki tadi malam. Aku menggeliat, mengumpulkan nyawa yang berserakan. Setelah itu, bergegas ke dekat jendela, membuka tirai dan terlihatlah...loh, kok bola kuning itu masih terlihat malu-malu menampakkan batang hidungnya. Ya ampun begitu paginya aku tejaga.

Aku melenggang menuju balkon kamarku yang tepat menghadap ke ufuk tmur, tempat awal mulanya si Kuning itu muncul. Aku melihat ke sekelilingku,belum ada kehidupan nampaknya. Burung-burung pun masih mendengkur di sarangnya, menjaga sang telur agar tak ada yang mencurinya. Entah kenapa, aku yang biasanya 'kebo' dan membuat bi Surti serak karena kesusahan membangunkanku. Pagib ini, tanpa suara cemprengnya pun aku bisa bangun, mungkin karena dampak ajakan mama tadi malam. Oh iya, hari ini kan aku mau makan di luar.

Aku masuk kembali ke kamar, meninggalkan balkon dan matahari yang kini sudah muncul sempurna. Lalu melangkah menuju lemari besar dari jati tempatku menyimpan pakaian-pakaianku. Aku membuka pintu lemari dan terlihatlah tumpukan pakaian dan gantngan dress yang anggun nan cantik. Hari ini aku pakai baju apa ya?

Aku mencoba satu persatu pakaian itu sambil berlenggak-lenggok di depan kaca. Tuhan, kok jadi ribet gini ya? Ribetnya lebih dari ada seorang pangeran tampan yang ngajakin makan. Huh, biasanya juga ga begini. Hei, biasa apanya? Kapan coba terakhir kali mereka ngajak aku makan di luar? Sudah lama sekali, dua tahun ada lah.
*

Hampir satu jam aku mengubrak-abrik isi lemari, belum mandi, tapi sudah basah kuyup dengan keringat. Dan akhirnya, mataku tertuju pada sebuah dress yang tergantung di sudut kiri lemari. Ini dia.

Aku pergi ke kamar mandi yang ada di kamarku. Membasuh tubuh ini, meluluhkan beban berat yang bergelayut di raga. Guyuran air ini menyelipkan sebuah asa, asa kecil agar hari ini berjalan baik dan asa yang lebih besar adalah seterusnya seperti itu, berjalan lancar bak mentari melintasi pagi hingga sore.

Setelah membersihkan diri, ku kenakan baju pilihanku tadi, baju yang sebenarnya tak pernah ku kenakan, bahkan aku tak tahu aku punya baju seindah itu.

Cantik. Itulah yang ku rasa. Setidaknya dress putih selutut dengan renda di ujung-ujung dress dan pita kecil yang tercantel di pinggangku mampu menutupi keburuk rupaanku. Sepatu merah jambu dengan aksen boneka beruang kecil menghiasi kaki mungilku dan ditambah kunciran berwarna merah jambu -juga- mengikat jumputan rambut hitam ikalku.

Aku menghela nafas, lalu menuju ruang tamu.

"Yuk sayang!" ajak mama.

Kami beranjak keluar dan mendapati jaguar hitam milik papa diam manis disana.

Mama masuk ke mobil, lalu duduk di depan bersama papa yang menyetir mobil, sementara aku duduk di belakang.

"Sudah siap peri kecil? Tanya papa menoleh ke belakang. Sudah lama aku tak mendengar panggilan itu. 'peri kecil', meski aku bukan lagi anak kecil.

"Tentu" tersenyum merekah.

Papa mulai menyetir mobil, memecah jalanan menuju suatu tempat. Aku senang sekali, sudah lama aku tak melakukan hal yang biasa keluarga lain lakukan.

Aku menatap ke arah langit lewat jendela. Cerah sekali. Bantal empuk berterbangan di sana. Si kuning itu tampak tersenyum. Mungkin dia juga ikut bahagia sepertiku. Syukurlah. Mudah-mudahan sampai nanti terus begini. Iya kan kuning?

Akhirnya papa berhenti di depan sebuah restoran Padang. Restoran milik Uda Lintar, teman papa. Dulu hampir setiap weekend kami selalu menyempatkan diri makan masakan Padang di Restoran Uda Lintar.

"Udah lama ya pa, ma, ga makan disini, kangen aku sama rendangnya Uda Lintar" ujarku sambil keluar dari mobil yang diikuti mama dan papa.

Kami segera masuk dan suasana yang tenang dan sederhana menyambut kami. Kami bergegas menuju saung yang terletak di paling ujung, tempat yang palin nyaman untuk menikmati lezatnya makanan khas Padang. Kami duduk di atas tikar yang terbuat dari pandan dan mengelilingi meja persegi yang terbuat dari jati. Suasana ini memang layaknya di pedesaan. Aku sangat suka.

Tak lama Uda Lintar, pemilik restoran menghampiri kami, lalu bersalaman dengan sohibnya, yaitu papa dan mama.

"Ify, sudah lama sekali kau tak kesini. Sudah besar kau ya!" Kata Uda lintar padaku.

"hehe..iya!" ucapku terkekeh.

"Seperti biasa, kan?" tanya lelaki berkulit hitam itu.

"ya," kata papa.

Aku melirik ke arah mereka. Sungguh ya, sampai detik ini aku masih belum percaya, hal ini terjadi lagi. Ya, memang hal kecil yang sulit sekali di percaya.

Tak lama kemudian Uda Lintar datang dengan membawa langsung sepuluh piring di tangannya, biasa kan? Itulah hal unik dan kepiawaian orang-orang Padang. Ga ribet kali ya? Ckckck

Uda Lintar meletakkan makanan yang menggugah selera itu. Ada nasi padang, rendang, dan ayam balado, ditambah sambal dan teh manis. Maknyoss deh! Apalagi suasana restoran yang bernuansa pedesaan, menambah kenikmatan saat menikmati hidangan-hidangan ini.

Baru saja dua suap aku menyantap nasi Padang dengan rendang yang super pedas ini, ponsel papa berdering. Papa mengangkatnya. "halo...iya...apa?...ya udah, saya segera kesana...iya..." ujar papa.

"Ma, kita harus cepat-cepat ke rumah sakit, ada pasien yang sedang dalam keadaan gawat" Kata papa dengan ekspresi yang sangat cemas.

Mendengar hal itu, mama juga ikutv cemas, dan aku tak kalah cemasnya. Bukan, aku sama sekali tak mencemaskan keadaan pasien, aku hanya cemas karena takut kehilangan kebahagiaanku. Masa secuil kebahagiaan yang baru sekejap ku kecap harus direnggut oleh orang yang bernama 'pasien' itu.

"Ya udah yuk!" kata mama seakan tak menyadari keberadaanku.
*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 5


Mimpi-mimpiku

Membosankan sekali, harus duduk dan memperhatikan mereka mempraktekan hal yang konyol. Berakting. Ah, dasar penipu. Sebenarnya aku tak suka melakukan hal ini, tapi sesering apa pun aku mencaci hal ini, aku tetap saja mengkutinya. Ah, munafiknya aku! Selama 2 tahun 2 bulan aku mengikuti kegiatan bodoh ini. Ah, sudahlah, tinggal beberapa bulan lagi kok, dan setelahnya aku tak mau berhubungan lagi dengan kegiatan ini. Ekskul teater.

"Hei men, ayo semangat!" teriakan itu membuyarkan ejekanku. Ah, suara indahnya.

Untung saja letak dudukku dekat jendela, jadi aku dapat curi-curi pandang ke lapangan tempatnya berlatihan. Bermain basket dengan sangat ceria. Permainannya lincah. Dia berlari, menggiring bola, lalu meloncat dan melempar bolanya ke ring. Sesekali dia tertawa dan tak jarang dia berteriak menyuarakan kekesalannya saat dia gagal memasukkan bola.

Menatapnya sedari tadi membuatku tak menyadari waktu. Akhirnya ekskul pun berakhir. Yes, hari berat ini sudah ku lalui.
*

Aku melangkah menuju halte, mudahmudahan saja hari ini aku tak di jemput. Ku lihat ke arah atas, mendung mulai menaungi, tandanya sore ini kau mau datang lagi. Perlahan kau pun mulai turun, lalu mulai mengerahkan semua pasukanmu untuk menyerbuku. Baiklah, mari kita bermain.

"Ayo pelangi, hujannya udah mulai turun!" Dia mengambil tanganku dan menariku untuk ikut berlari besamanya.

Aku terpaksa mengikutinya walau aku tahu, langkahku kalah epat dengannya. Hingga akhirnya, sampailah kami di halte.

"ya ampun, kamu ini, ko paling hobby sama hujan-hujanan sih?" katanya sambil mengibaskan rambutnya yang basah karena hujan.

Aku hanya tersenyum lalu duduk berdampingan dengannya. Aku sudah tak merasa canggung lagi berada di dekatnya.

"Tumben pulang sore?" Tanyanya.

"Aku ada ekskul, teater" Jawabku.

"Sejak kapan kamu ikut teater?"

"sejak awal aku masuk sekolah ini." Aku mengeluarkan botol air mineral lalu meminumnya.

"Loh, aku tak pernah melihatmu di setiap pertunjukkan teatr sekolah kita." Ujar Rio sambil mengambil botol air mineral yang ku pegang lalu ikut meminumnya.

"Aku memang tak pernah menjadi pemain dalam semua pertunjukkan sekolah kita, tugasku hanyalah di belakang panggung senagai si pembuat naskah skenario."

"Jadi, semua pertunjukkan itu, skenarionya kamu yang buat?" tanyanya

"ya, begitulah" ucapku seadanya.

"Waw!" Rio berdecak lalu mengguncang bahuku "luar biasa! setiap aku menonton pertunjukkan teater sekolah kita, aku selalu kagum dengan kata-kata indah yang di ucapkan para pemain teater itu. Aku pernah berfikir, pasti yang buat skenario itu penulis yang baik. Dan ternyata itu kamu. Aku yakin, kamu akan menjadi penulis yang baik dan terkenal" celotehnya panjang lebar.

Tentu saja, mendengar tutur katanya aku merasa terharu. Bagaimana tidak, di setiap katanya terkandung sebuah harapan dan semangat. Dan dia memberikan itu semua padaku. Aku menerimanya dengan senang, tpi apakah mungkin kata-katanya akan terjadi? Entahlah, sulit sekali. Harapan itu terlalu besar, melebihi bumi ini mungkin, dan itu tak sebanding dengan semangat yang ku punya. Aku tahu dia juga memberikanku semangat, tapi semangatku, semangatmu dan semangatnya kalau di akumulasikan hanya sebesar bola bekel saja. Sedangkan bola bekel jauh lebih kecil dari bumi ini. Ya iyalah, anak kecil juga tahu akan hal itu. Dan mestinya aku sadar harapan itu takaan pernah dapat ku raih.

"Percaya sama aku, kamu bakalan jadi penulis terkenal." Katanya dengan wsangat yakin.

Sudahlah, jangan terus-terusan mencekokiku dengan harapan-harapan itu, aku tak mampu.

"Semangat Ify pelangi! jangan putus asa!" dia mengepalkan tangannya.

Ya, aku harus semangat! masa aku kalah, ya, pelangi kan kuat. Terimakasih matahari. Semangat ini akan ku pupuki hingga sampai semangat itu lebih besar dari bumi ini dan akhirnya aku akan mewujudkan mimpi besarku ini.

"Aku semangat!" Ucapku sambil tersenyum.

"Nah, gitu dong!" dia menepuk pundakku, menancapkan harapan itu padaku semakin dalam "Bisnya udah datang, yuk!" dia menarik tanganku.

Aku pun bangkit lalu melangkahkan kakiku. Dan langkah ketigaku terhenti saat sebuah mobil hitam yang sangat familiar menghampiriku.

"Ayo!" Ajaknya lagi.

"Aku di jemput"Rio melirik pada mobil hitam itu, lalu melepas tanganku "pulang saja, aku berani. hehe" katanya sambil terkekeh.

Dengan berat, aku lalu masuk ke mobil dan duduk di depan disamping mang Ujang.

"Dadah Ify pelangi" teriaknya sambil melambaikan tangan.

Aku hanya tersenyum lalu membalas lambaiannya lewat jendela mobil. Kini dia mulai menaiki bis itu, bis yang biasanya selalu mengantarku, tapi tidak untuk hari ini. Kini, bis itu membawa pangeran, pangeran tampan yang mengandung keindahan.

Hujan, dia tanamkan harapan
dia berikan semangat.
*

Sabtu, 09 Juli 2011

Aku dan hujan Bulan juni (sebuah kisah yang terabaikan)


Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni. 
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu. 

Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni. 
Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan itu. 

Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni. 
Dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu. 

~Sapardi Djoko Damono~ 

* 

Kala waktu enggan menanti, aku akan tetap ada di sini. 
Kala masa tak dapat lagi teraba, aku takkan beranjak ke mana-mana. 
Kala cinta tak kasatmata, aku akan mencoba menguraikannya. 
Kala kisah ini harus berakhir, hanya kenangan yang dapat ku ukir. 

* 

Hari ini, hari perdana di bulan juli. Hari eksekusi antara hidup dan mati. 

Ah. Berat rasanya meninggalkan bulan juni. Bagiku, juni bukan hanya sekedar bulan. Tapi lebih dari itu. Aku sangat mencintai bulan juni. Mencintai segalanya tentang bulan juni. Hujan bulan juni. Mentari bulan juni. Purnama bulan juni. Gerhana bulan juni. Gugus bintang bulan juni. Pelangi bulan juni. Langit bulan juni. Dan tentunya kamu, Pangeran Bulan Juni. 

Pangeran Bulan Juni. Ya, aku fikir julukan itu layak disematkan padamu. Bagaimana tidak? Kau lahir di bulan juni. Kau masuk sekolah ini di bulan juni. Kau berhasil membawa tim sepakbola sekolah ini di bulan juni. Catatan gemilangmu selalu tertoreh di bulan juni. Dan di bulan juni pula, kisah itu bermulai. Sebuah kisah yang tak pernah tersentuh. Bukan kisah tentangku atau tentangmu. Tapi kisah tentang kita. Aku, kamu dan hujan bulan juni. 

* 

Hujan selalu melaksanakan tugasnya dengan baik. Tugas untuk menyelipkan sebuah asa di dalam jiwa. Asa berisikan mimpi-mimpi yang selalu siap teronggok mati kapan saja dan mimpi-mimpi yang kuat dan takkan menyerah walau badai menerjang. 

Dan kali ini, hujan bukan hanya melakukan hal itu. Lewat tiap rinai hujan yang beriringan menyerbu bumi, dia menyalurkan tiap inci harapan. Harapan akan kisah yang -mungkin- tak berharga ini akan selalu bertahan. 

* 

Hujan deras mengguyur kotaku sore ini. Angin pun turut menyertainya. Menghasilkan dingin yang menusuk tulang. Membuatku harus melipat kedua tangan dan memeluk badan. Untung saja petir tak ikut berparade menyerbu bumi bersama hujan dan angin. Kalau sampai hal itu terjadi, aku takkan berani berdiri di sini, di sebuah halte tua yang tak jauh dari sekolahku. 

Aku menggosok-gosokan kedua telapak tangan, mencoba membuat sedikit kehangatan agar mengurangi dingin yang dihadirkan sang hujan. 

Ck. Aku berdecak. Kesal sendiri. Sudah hampir satu jam aku berdiri di sini, menunggu ayah yang berjanji akan menjemputku sore ini. Tapi, kenapa sampai sesore ini beliau belum juga datang? 

Aku mengulurkan tangan ke depan, menengadahkan telapak tangan, agar rintakan hujan dapat leluasa mendarat di atasnya. Aku mendesah lalu berkata "Hujan, ayolah berhenti! Ayah terlambat menjemputku pasti karena terhalang olehmu. Ayolah pulang! Aku takut!" dengan nada memelas. 

"Ckck..." seseorang berdecak. "Dasar manja!" cibir orang itu. 

Aku mengerutkan kening. Siapa orang yang tidak sopan yang berani berkata seperti itu? Aku menoleh dan mendapati seorang pemuda yang memakai kaos bola tengah duduk di kursi panjang halte. Pemuda itu sangat amat ku kenal. Ya, tentu saja. Sudah dua tahun aku harus sekelas dengannya. Pemuda yang memiliki tubuh tinggi. Kulit yang agak gelap. Mata yang tajam dengan tatapan yang mematikan. Senyuman yang terkesan meremehkan. Rambut acak-acakan. Cara berpakaian yang seperti preman. Gaya bicaranya yang sangat angkuh. Kebiasaannya yang selalu pergi saat jam pelajaran. Dan semua keburukan yang dia perbuat. Aku sangat mengetahuinya. Dia, Mario Stevano. 

Aku bergegas menghampirinya. Berkacak pinggang dan menatapnya tajam. "Heh!" 

Dia tak menghiraukan kehadiranku. Dia malah memutar-mutar bola sepak yang di pegangnya. 

Aku mengulum bibir. "Heh!" kataku lagi sambil mendorong bahunya. 

"Hehe,.." dia terkekeh. "Dasar anak manja!" ujarnya sambil memutar kedua bola matanya. Menyebalkan. 

"Lo..." 

"Ifyyyy! Ayo pulang!" teriak ayah dari dalam mobil. Beliau baru saja tiba. 

Ayah datang di saat yang kurang tepat. Membuat sejuta cacian yang sudah siap terlontar dari mulutku harus tertahan. Aku meneguk ludah. 

Aku berdecak lalu melengos masuk ke dalam mobil. Menyuruh ayah agar segera menancap gas. Aku muak berlama-lama di sini. Apalagi ada pemuda yang sampai saat ini masih terus memutar-mutar bola sepaknya. Kurang kerjaan. Aku berdecak lagi. 

Akhirnya kami pergi. Melaju menerobos hujan. Bergegas menantang angin. Meninggalkan dia. Dia yang tanpa aku sadar adalah bagian terpenting dari kisah yang disusun oleh tiap jengkal harapan. 

* 

Rasa masih terlihat samar. 
Cinta sama sekali belum teraba. 
Berdoalah, agar semua baik-baik saja. 

* 

Aku tak menyadari, bahwa tiap rinai hujan yang mengiringiku sore itu dan desauan angin yang berhembus mendukung sang hujan adalah awal dari kisah ini. Tak teraba raga. Tak terlihat mata. 

* 

Aku adalah seorang gadis yang lebih senang menyendiri. Menghabiskan waktu istirahat hanya dengan duduk berselonjor kaki di tepi kolam kecil, di dekat lapangan sepakbola sekolah. 

Tangan kananku sedang menimang-nimang sebuah gelang cantik dengan manik-manik beraneka warna. Gelang pemberian dari ayah. Dan saat sebuah bola sepak tepat menghujam tanganku, membuat aku terkejut, dan sang gelang melompat masuk ke dalam kolam. Tenggelam. 

Aku ternganga. Tak bisa mengatakan apa pun. Bahkan aku merasa lemas. Aku melipat kedua kaki lalu memeluk lutut. Menggigit bibir. Menahan agar tangisku tidak pecah. Ah, aku memang gadis yang mudah menangis. Dan kali ini pun, aku menangis. 

Terdengar suara derap kaki saling bersahutan, mendekat. Aku merasakan seseorang kini sudah berada di hadapanku. Dan saat aku mendongak, dia sedang berjongkok di hadapanku. Dia merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah sapu tangan berwarna putih. Lalu mengusapkannya pada pipiku. Menghapus deretan kristal bening yang beriringan merembesi pipi tirusku. "Gue yang nendang bolanya." ujarnya. 

"Gelang gue..." kataku dengan suara bergetar. 

Dia menyimpan sapu tangannya di tanganku. Melepas sepatu bola beserta kaos kakinya. Dan tanpa terduga, dia melompat masuk ke dalam kolam. 

Dia menyingkirkan rambutnya ke pinggir. Lalu setelahnya menenggelamkan kepala dan tangan kanannya ke dalam kolam untuk menemukan gelangku. 

Dua menit kemudian, dia mengangkat wajahnya yang basah kuyup. Tersenyum sinis. Lalu keluar dari kolam. 

Dia berhenti melangkah. Melempar gelang yang bercampur dengan lumpur. Dan sang gelang jatuh tepat di ujung kakiku. "Jangan nangis! Hujan ga pernah suka liat lo nangis!" ujarnya. 

Dan akhirnya dia pergi sambil menenteng sepatu bolanya. Meninggalkanku yang sedang tertunduk dan menggenggam erat gelangku. 

"Makasih!" ucapku pelan. 

* 

Cahaya itu datang. 
Mengungkap kebenaran. 
Menyibak kenyataan. 
Yakinlah, semua akan baik-baik saja. 

* 

Jangan pernah menyalahkan hujan karena telah mengawali kisah ini. Berterimakasihlah pada hujan yang telah membantu kita melanjutkan kisah klasik ini. Dan kau harus tahu, aku menikmati tiap sudut dari kisah ini. 

* 

Sore lagi. Hujan lagi. Terjebak lagi. Aku kembali mengulang peristiwa di awal juni yang lalu. Bahkan kali ini, aku masih berada di depan pos satpam. Menyebalkan. 

Aku tak mau berlama-lama di tempat ini. Karena pos satpam ini ternyata lebih menyeramkan dari halte tua itu. Aku memutuskan untuk menerobos hujan. 

Dan langkah pertama yang baru ku ambil terhenti, saat sebuah tangan kokoh menyergap tanganku. 

Aku menoleh. Dia lagi. 

"Bodoh! Lo bisa sakit kalau hujan-hujanan!" ujarnya ketus. 

Aku mengulum bibir. Kenapa pemuda menjengkelkan ini sangat gemar mencibirku sih? Aku berdecak. 

"Pakai jaket gue!" dia melempar jaket putihnya. 

Aku segera menuruti perintahnya. Dan setelah itu berlari menerobos hujan. 

Baru saja lima langkah, aku berhenti. Aku tergoda untuk menengok ke belakang, melihat keadaannya. 

Saat aku berniat untuk menoleh, tiba-tiba tangan kokoh itu kembali meraih tanganku. Dan kali ini menariknya, membuatku harus mengekorinya. 

* 

"Lo emang cewek bodoh! Bukannya lari, malah berhenti!" ujarnya sambil mengibaskan rambutnya yang basah kuyup oleh hujan. 

Dia duduk di sampingku. Menggosok-gosokan kedua telapak tangan lalu meniupnya. Dia gemetar. Kedinginan. 

Aku menunduk. Menggigit bibir dan menangis lagi. Bukan karena aku kedinginan atau ucapan ketusnya. Tapi aku sedih melihatnya harus basah kuyup untuk yang kedua kalinya karena aku. Ya, aku mempedulikannya. 

"Maaf..." ujarku terisak. 

"Jangan nangis! Gue kan udah bilang, kalau hujan ga suka liat lo nangis." katanya. 

Aku masih terus menangis. 

"Udah dong!" dia mengulurkan tangannya. Merangkul tubuhku dan akhirnya membiarkanku menumpahkan tangis dalam dekapannya. 

Sambil terus menangis, tanpa sadar aku pun menikmati detik ini. Saat dada kokohnya menjadi sandaran tangisku. Saat kedua tangannya melingkari tubuhku. Saat dengan leluasa aku mendengar debar jantungnya yang bertalu. Saat aku merasakan hangat tubuhnya. Saat aku mencium aroma khas tubuhnya yang bercampur aroma hujan. Saat aku merasakan tiap tetesan air hujan yang bergelayut di ujung rambutnya jatuh tepat di puncak kepalaku. Saat sebuah getaran hebat menyergapku. Dan saat tanpa sadar pula, aku merasa untuk pertama kalinya, aku menyukai keberadaanya. 

* 

Jangan biarkan aku menyesali ini semua. 
Tolong yakinkan aku akan perasaan ini. 
Dan tetaplah berdoa, semuanya baik-baik saja. 

* 

Pangeran Bulan juni. Aku sangat menyukaimu. Menyukai tiap detik yang terlewat bersamamu. Entah itu saat langit cerah atau alam menangis. Entah itu saat aku tertawa bahagia atau aku jatuh terpuruk. Semoga Tuhan tak menyuruh hujan untuk mengakhiri kisah ini. 

* 

Aku tak bisa mencegah hujan untuk turun dan menolak kedatangan eksekusi itu. 

Dan, di sore berhujan, di penghujung bulan juni, dia datang menemuiku di halte tua ini, dengan wajah yang teramat kalut. 

Dia duduk di samping kananku. Menggigit bibir. Mendesah berat. Lalu tertunduk. Gelisah. 

"Gue..." ucapnya terbata-bata. "Gue mau pergi, gue mau pindah ke Inggris, nanti malam." 

Aku berusaha menutupi perasaanku saat ini. Saat ucapannya tadi menohokku, memukulku, telak. Hatiku mencelos. Dan jujur, aku tak ingin berpisah dengannya. 

"Emang, gue peduli?" ujarku sebiasa mungkin. Walau sebenarnya aku merasakan sakit yang sangat luar biasa. 

"Gue tau, lo ga mungkin peduli sama gue. Tapi, lo harus tau, kalau gue selalu peduli sama lo. Gue sayang sama lo dari dulu. Dari awal kita ketemu. Dari juni dua tahun yang lalu. Sampai nanti, sampai juni-juni yang akan terlewati." ujarnya. 

Aku memang tak pernah pandai berbohong. Apalagi membohongi perasaanku sendiri. Perasaan bahwa aku juga menyayanginya. Maka aku pun kembali menangis. Menyedihkan. 

Dia kembali melakukan hal itu. Dia merangkulku dan membiarkan aku menangis dalam dekapannya. Dan sekarang, aku melingkarkan tanganku untuk membalas pelukannya, erat sekali, tak ingin dia pergi. 

Dia mengelus lembut kepalaku. Membuatku memejamkan mata untuk meresapi tiap usapannya. "Jangan...! Jangan pergi! Jangan biarin gue nangis tanpa lo!" kataku. 

Dia berhenti mengusap kepalaku. Lalu dengan mata terpejam mengecup ubun-ubunku. Membuatku semakin berat untuk melepasnya. Membuatku harus mengakui, bahwa aku sangat membutuhkannya. Membutuhkan tangan kokohnya untuk mencegahku melakukan hal bodoh. Membutuhkan dada kokohnya untuk menjadi sandaran tangisku. Membutuhkan aroma khasnya untuk menenangkanku. Praktisnya, aku membutuhkan segalanya tentangnya. 

Dia berhenti mengecup ubun-ubunku. Melepas pelukannya. Bangkit dari duduknya. Dan berkata "Gue pergi. Jangan nangis, hujan ga pernah suka liat lo nangis." 

Dan setelah perkataanya dia berlari. Menerobos hujan. Sampai akhirnya sosoknya pun hilang beserta semua rentetan kisah ini yang tertelan hujan. 

* 

Meski hati tak mampu menyatu. 
Meski kisah ini harus musnah. 
Meski cinta berjalan tidak semestinya. 
Yakinlah, semua akan tetap baik-baik saja. 

* 

Waktu harus terus melaju. Masa harus tetap berjalan. Aku tak punya mesin pembeku waktu, untuk mengkristalkan tiap detik yang kita lalui bersama. Dan seharusnya aku bangkit. Meninggalkan juni yang ku cintai. Berlari memburu juli yang sudah menanti. Bergegas menyongsong juli yang -aku harap- berarti. 

Selamat tinggal Pangeran Bulan Juni. Kau harus tahu, di setiap lantunan doaku, namamu selalu ku ucap. Ya, aku berdoa, semoga kita dapat bertemu lagi. Semoga kita dapat menikmati tiap rinai hujan yang selalu mengiringi kebersamaan kita. Semoga kita dapat bercerita tentang keluh kesah kita pada sang rembulan. Semoga kita dapat mengukur panjang lengkung sang pelangi. Aku berdoa untuk semua itu. 

Dan, aku hanya berharap kisah ini takkan terlupa begitu saja. Dan semoga kenangan yang tersisa akan terus bertahan. Takkan lapuk oleh waktu, terkikis oleh masa, terbunuh oleh zaman. Kenangan tentang kisah ini. Antara aku, kamu, dan Hujan Bulan Juni. 

* 
the end. 

Sebuah kisah yang terabaikan di atas, sesungguhnya tercipta untuk dan karenamu, Sang Hujan Bulan Juni. 

Bandung Barat. Jumat, 1 juli 2011. 
*