Sabtu, 12 November 2011

Selapang Sang Rembulan part 4


Cinta itu indah.
Dan kejujuran yang mengindahkan.

*

Sivia tengah berjalan beriringan dengan Shilla menuju kantin untuk menyusul sahabatnya yang sudah terlebih dulu ke sana. Di setiap langkah yang Sivia buat, ia terus saja merutuki tentang sikap Bu Winda yang selalu saja menyuruhnya membawakan setumpuk buku tugas anak-anak ke ruangannya. Bu Winda tak tahu saja, buku-buku itu berat. Lagi pula, jarak dari kelasnya ke ruangan Bu Winda itu jauh. Sivia lelah. Maka dari itu dia mengulum bibirnya seraya menghentakkan kakinya kesal.

"Emang, murid di kelas cuma gue ya? Tiap nyuruh apa-apa, selalu sama gue. Kan ada Zahra yang jenius itu. Atau Ify yang ketua kelas. Gue cuma rakyat jelata di kelas. Tapi kenapa gue terus yang disuruh sama Bu Winda? Eh ga ding, bukan cuma Bu Winda. Semua guru malahan. Ya Tuhan, fans gue banyak bener!"

Sedangkan Shilla hanya berdecak. Lantas tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sudah terbiasa mendengar rutukan Sivia mengenai perlakuan para guru terhadapnya. Tapi toh, Sivia tetap bersikap manis dan menyenangkan di hadapan mereka. Nah, itulah yang tidak diketahui Sivia. Sikapnya itulah yang membuat guru-guru menyukainya. Tak heran mereka sering menyuruh Sivia macam-macam. Dan air muka Shilla seketika berubah. Tiba-tiba terlintas di benaknya niat untuk mengatakan suatu hal, mengenai hatinya.

Lalu ocehan Sivia terhenti saat Shilla dengan ragu menggumamkan namanya. Sivia heran. Ia mengerutkan kening. Kenapa Shilla berani memotong ocehannya? Bukankah biasanya dia melengos saja. Kenapa dengan Shilla? Lantas Sivia menoleh. Memicingkan matanya mendapati Shilla yang memasang wajah penuh kegelisahan.

"Kenapa?"

Shilla meraih tangan Sivia. Menariknya untuk duduk di bangku yang terbuat dari beton di depan ruangan yang tengah mereka lalui. Setelah keduanya duduk, Sivia masih memicingkan matanya, lalu ditambah kedua alisnya saling bertaut. Shilla hanya menunduk dalam.

Sivia semakin tak mengerti saja dengan sikap Shilla. Tadi dia baik-baik saja. Lalu kenapa pula sekarang ia jadi seperti itu? Sivia mendesah sambil terus menunggu penjelasan dari sahabatnya.

Kesetiaan Sivia untuk menunggu berbuah. Shilla menarik nafas. Menghembusnya perlahan. Kemudian berujar, "Ga ada yang larang gue buat jujur, kan?"

Sivia menggeleng pelan sambil tersenyum jengah. Aduh, Shilla itu aneh. Mana ada seseorang hendak berkata jujur dilarang. Memang siapa yang mau melarangnya? Polisi? Sivia berdecak.

Maka Shilla melontarkan pertanyaan yang kedua, yang justru membuat Sivia semakin tak mengerti. "Gue ga salah kan kalau cinta sama seseorang?"

Pertanyaan Shilla semakin aneh. Jelas saja mencintai seseorang bukanlah suatu kesalahan. Toh rasa cinta itu ditanamkan oleh Tuhan dalam hati manusia. Mana mungkin itu adalah hal yang salah.

Dan akhirnya Shilla mengeluarkan kalimat berikutnya. Kalimat pencerah dari keanehan yang diciptakan olehnya. Sekaligus kalimat yang membuat Sivia terkejut.

"Gue cinta sama Rio." Shilla mengucapnya seraya menunduk.

Dan Sivia hanya bisa terbelalak. Mulutnya terbuka. Tak percaya sedikit pun pada kalimat kejujuran yang sahabatnya buat.

Sebenarnya, Sivia adalah tipe gadis yang mudah percaya pada ucapan sahabatnya. Terlebih pada Shilla. Namun, mengingat kedekatan antara Shilla dan Cakka, hal itu serasa aneh dan sulit dipercaya. Sivia kira, Cakka-lah pemuda yang dicintai oleh Shilla. Dan kini, kalimat kejujuran yang terucap dari mulut manis gadis bersuara lembut itu mematahkan perkiraan Sivia. Ternyata, Rio-lah pemuda yang berhasil mencuri hati Shilla.

"Vi..." Shilla mendongak. Meletakkan dua tangannya pada bahu Sivia. Menatapnya penuh harap. Lantas ia mengguncang bahu sahabatnya. Lalu berkata "Lo kan sahabat Rio, bantuin gue deketin dia dong!" dengan nada memelas.

"Emm..." Sivia menggigit bibir. Menimbang dan berfikir. Ia mau saja langsung mengangguk mengiyakan permintaan Shilla. Tapi, entah mengapa, dia merasa ada yang salah dari ini semua. Dari perasaan Shilla. Sivia mengerjap. Kenapa dia berfikir seperti itu? Bukankah tak ada yang salah dengan perasaan bernama cinta? Itu kan yang selama ini ia tahu. Jadi, rasa cinta Shilla untuk Rio pun bukan sebuah kesalahan.

"Gimana?" tanya Shilla penuh harap. Ya, ia berharap bahwa Sivia akan membantunya. Meskipun Sivia menyebalkan, tapi kalau soal jodoh-menjodohkan, Sivia jagonya. Maka Shilla sangat mengharapkan anggukan Sivia.

Sivia itu bukanlah gadis yang tega melihat sahabatnya sendiri memelas. Maka meski ada sesuatu yang mengganjal di hatinya, ia mengangguk lantas tersenyum.

"Huaaaa... makasih ya Siviaaaa!" Shilla melonjak. Menghambur memeluk Sivia. Dia senang. Sivia memang sahabatnya yang paling baik.

Dan tanpa Shilla tahu, Sivia masih terus memutar otak. Mencari dimana letak kesalahan itu terjadi. Dan matanya pun terpejam. Dalam hati berkata "Gue harap, gue yang salah!"

*

Gadis berkulit kuning langsat itu tengah menyusuri koridor sekolah sendirian. Lantas ia menghentikan langkah kaki mungilnya saat kini ia sudah berada tepat di depan sebuah ruangan bercat biru muda. Ia menoleh ke kiri dan kanan, seperti memastikan. Lalu tangan kanannya ia gerakkan untuk memegang kenop pintu. Menghela nafas. Dan akhirnya memutar kenop pintu tersebut. Membuat kini ia bisa masuk ke ruangan yang menyeruakkan aroma obat-obatan. Ruangan favoritnya. Ruang UKS.

Kepalanya terlebih dulu menyembul dari balik pintu. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang. Tak ada siapa-siapa. Maka ia mulai membuat langkah pertamanya memasuki ruangan tersebut. Mendesah sepelan mungkin. Lalu mulai mendekati sebuah tirai yang berwarna senada dengan cat ruangan tersebut.

Gadis itu mengulurkan tangannya. Meraih tirai dengan ragu. Berniat untuk membukanya. Namun sebelum itu, ia menoleh ke belakang. Masih sama. Tak ada siapa-siapa. Dan akhirnya setelah menghela nafas, ia benar-benar membuka tirai tersebut. Sehingga kini, kedua mata indahnya dapat menangkap siluet pemuda yang tengah duduk memunggunginya di atas ranjang. Pemuda yang mempunyai tempat istimewa di hatinya. Pemuda-nya.

Pemuda itu sepertinya menyadari bahwa seseorang kini telah ikut bersamanya menjadi pengisi ruang. Dan kini, desauan angin menyapa tengkuknya. Membuat ia yakin, orang itu telah berada tepat di belakangnya. Ia kemudian menghirup udara di sekitarnya. Merasakan bahwa udara yang masuk memenuhi rongga pernafasannya terkontaminasi oleh aroma khas yang sangat ia sukai. Aroma melon memabukkan yang selalu saja membuat kerja akal sehatnya terganggu. Aroma Gadisnya. Lantas ia pun menyunggingkan senyuman manisnya. Mendesah lega dan berujar pelan, "Gue yakin lo bakalan ke sini."

Dan gadis manis itu pun tersenyum. Lega mendengar suara lembut bak bisikan malaikat yang keluar dari bibir mungil pemudanya. Kemudian, masih dengan senyumannya, ia melangkah menghampiri sang pemuda. Berjinjit lalu ikut duduk di samping pemuda itu.

"Hati gue yang bawa gue ke sini." ujar gadis itu seraya mendaratkan kepalanya pada bahu kokoh sang pemuda.

Sementara sang pemuda kini meraih salah satu tangan gadis-nya. Membiarkan jemari mereka saling bertaut untuk beberapa saat. Menggenggamnya erat. Merasakan betapa lembut telapak tangan gadis-nya selalu mampu memaksanya masuk menuju dunia penuh mimpi. Dunia indah dengan jutaan bunga-bunga beragam warna. Dunia yang diciptakan gadis-nya. Dan pemuda itu selalu berharap ia takkan pernah tersisihkan dari dunia itu. Dan harapan terbesarnya adalah, dunia itu hanya tercipta untuknya.

Dan ternyata, kejujuran memang selalu menjadi hal terindah dari seluruh keindahan di muka bumi ini. Maka dengan tulus, pemuda itu menciptakan kejujurannya. "Gue cinta sama lo, Fy!"

Maka yakinlah, meski hanya mereka berdua yang menghuni ruangan tersebut, sesungguhnya jutaan penghuni langit tengah mengintipnya. Menyaksikan betapa dua insan itu tengah menggenggam sebuah anugerah Tuhan, yang bahkan sering terabaikan oleh mahluk Tuhan yang lain. Dan sesungguhnya, para penghuni langit itu tengah membangun keterpanaan yang begitu hebat akan kejujuran sang pemuda.

Lalu memangnya, penghuni langit saja yang terpana? Gadis itu bahkan lebih dari itu. Hatinya sungguh bergetar. Berloncatan meminta untuk keluar dari tubuhnya. Lalu ia pun membalas genggaman tangan pemudanya dengan lebih erat. Memejamkan mata. Kembali tersenyum.

Dan gadis itu tak mau terus menerus terkungkung oleh jerat kemunafikan. Maka kini ia berontak. Menggeliat keluar dari jeratan itu, lantas ia pun membuat sebuah kejujuran. Walau kini, ia hanya mengucapnya dalam hati. Tapi paling tidak, setelah hatinya, bibirnya pun akan ikut mengucapkan kejujuran itu suatu saat nanti.

"Gue juga cinta sama lo, Yo!"

Maka gadis itu tak perlu takut, karena walau suara hatinya tak terdengar oleh telinga sang pemuda, pemuda itu yakin bahwa gadisnya juga merasakan hal yang sama. Karena kini, genggaman tangan itu bukan hanya sekedar menariknya masuk ke dunia itu, tapi juga mengajaknya untuk menari di antara jutaan bunga-bunga berwarna-warni. Dan seluruh pasang mata yang tak pernah lelah mengintai mereka tengah berseru-seru mengeluarkan kalimat sanjungan. Dan sampai nanti, merekalah yang akan menjadi saksi bahwa cinta dan kejujuran adalah sesuatu yang indah dan mengindahkan.

*

Siang ini lebih terik dari biasanya. Bola kuning yang telah berada di puncak kepala itu mengeluarkan sinarnya dengan sangat superior. Membuat wajah cantik gadis yang tengah berdiri di depan gerbang sekolah itu berbingkai keringat. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala sehingga rambutnya yang dikuncir dua menari menggemaskan. Ia berdecak. Heran kenapa si kuning itu tidak merasa kasihan dengannya. Gadis itu kan kepanasan.

Maka Sivia -gadis itu- membuka resleting ransel birunya. Memasukkan tangannya untuk mengambil sesuatu. Lalu sejurus kemudian ia mengeluarkan sebuah handuk kecil berwarna putih. Ini dia yang Sivia butuhkan. Maka ia pun mendaratkan handuk tersebut untuk menghapus buliran-buliran peluh yang bergelayut lucu di wajahnya.

Tanpa ia tahu, pemuda tengil dengan vespanya yang cukup nyentrik itu sudah diam manis di hadapannya. Bertopang dagu memandangi tiap gerak Sivia. Terlebih kini Sivia tengah menghapus keringat di lehernya dengan dagu terangkat. Dia terlihat sangat cantik. Dan sang pemuda hanya bisa terpesona akan kecantikan alami gadis pujaannya.

Sivia akhirnya berhenti melakukan prosedur membersihkan keringat, saat ia mendapati Gabriel tengah menatapnya. Tatapan itu. Tatapan menyebalkan. Maka Sivia mengulum bibir dan mendengus kesal.

"Hai tukang becak!" kata Gabriel sambil melambaikan tangannya.

Aduh, Gabriel menyebalkan. Dia seperti ingin mengulang kejadian memalukan di kelas tadi. Memancing Sivia untuk bersikap ceroboh lagi. Lalu Sivia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain meneguk ludah. Dan Gabriel bersorak merayakan kemenangan hatinya. Tidak. Sivia tak akan bersikap seperti itu lagi.

"Pakai handuk itu, kaya tukang becak tahu! Eh ga deh, mirip becaknya! Untung aja cantik! Ahaha!" ujar Gabriel seraya tersenyum menggoda. Lantas ia menjawil pipi Sivia dengan nakal. Membuat pipi Sivia kini merona. Sivia tersipu.

Sivia bergidik geli. Dasar Gabriel centil. Sivia mengulum bibir. Kesal, tapi ekspresi mukanya justru terkesan lucu. Membuat Gabriel tak tahan untuk tidak menjawil pipi Sivia yang lain. Dan kini Sivia menutup seluruh wajahnya. Tak mau semburat merah itu terlihat oleh Gabriel. Bisa kacau kalau sampai hal itu terjadi. "Gabriel odong-odong nyebeliiiin!" Sivia merengek, menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dan Gabriel tak bisa menahan tawanya. Perutnya sakit melihat tingkah gadis-nya. Tapi, melihat keadaan Sivia yang sudah sangat 'menyedihkan', Gabriel menghentikan seremoni mengerjai Sivia. Ia berhenti tertawa lalu mengatur nafasnya.

"Pulang yuk! Bang Sion ga akan jemput lo!" ujar Gabriel.

Sivia menggelengkan kepala cepat. Menolak mentah-mentah tawaran Gabriel. Masih terus menutupi wajahnya.

"Kalau ga pulang, pipinya gue colek lagi ah!" ujar Gabriel terkekeh.

Lantas Sivia mengerjap. Pipinya? Tidak. Ia bisa pingsan lama-lama. Maka ia mengintip dari sela jari-jarinya. Menelan ludah mendapati Gabriel tengah memamerkan senyum 'nakal'nya. Dan, pada akhirnya dengan sangat terpaksa, Sivia meloncat naik ke atas vespa menyebalkan Gabriel. Mempertaruhkan tembok kemunafikannya, demi keselamatan pipinya.

Dan entah siapa yang menyuruhnya, entah dapat dorongan dari mana, Sivia melingkarkan kedua tangannya untuk memeluk tubuh Gabriel. Ia melakukannya tanpa sadar. Perlakuan nakal Gabriel memang mengacaukan akal sehatnya. Tapi Gabriel tak peduli. Ia nyaman dengan posisi tersebut. Hangat. Ia bisa merasakan betapa lingkar tangan Sivia seperti mengisyaratkan bahwa gadis itu tak ingin kehilangannya. Dan ia juga bisa mendengar detak jantung Sivia yang bersahutan mengetuk hatinya. Lantas ia tersenyum. Dan sebelum ia melajukan vespanya, ia bergumam pelan. "Kita cocok ya, odong-odong sama becak!"

*
bersambung
*

Selapang Sang Rembulan part 3


Lima menit lagi bel masuk berbunyi. Namun suasana di kelas XI IPA 1 masih saja ribut. Sivia-lah biangnya. Gadis cerewet itu tengah heboh bercerita mengenai permainan ular tangganya semalam melawan kakak sepupunya, Bang Sion. Pricila dan Febby mengangguk sok mengerti. Padahal, tak sedikit pun cerita dari Sivia yang mereka pahami. Sivia bercerita terlalu cepat. Seperti ibu-ibu yang memarahi suaminya karena ketahuan selingkuh dengan janda kembang. Tapi Sivia tak peduli. Mengerti atau tidak, asal ia didengarkan, itu cukup. Maka Sivia bersemangat bercerita.

"Eh, Bang Sion sampai kapan tinggal di rumah lo?" tanya Febby selang setelah Sivia bercerita bahwa dirinya menang telak, 5-0. Prestasi yang membanggakan, mengingat biasanya dialah yang selalu jadi bulan-bulanan kepiawaian Abangnya dalam arena ular tangga.

"Sampai gue bosen main ular tangga sama dia, dan sampai dia bosen main ular tangga sama gue." jawab Sivia santai.

Mendengar Sivia menjawab dengan wajah polos -tapi menyebalkan-, Febby mengerenyit. Tak mengerti dengan jawaban Sivia. Lantas ia menoleh pada Pricilla. Lalu dengan dagu terangkat menatapnya dengan tatapan Sivia-ngomong-apa-sih-. Yang ditatap menjawabnya dengan mengangkat bahu. Pricilla juga tidak mengerti. Tanya saja Tuhan, kenapa Dia menciptakan gadis yang polosnya berlebihan.

Febby pun mendesah. Menoleh lagi pada Sivia dan berkata "Gue serius Siviaaaaa!" dengan gemas. Ingin sekali ia menjawil lalu meremas pipi tembem sahabatnya yang sungguh menyebalkan.

"Gue juga serius Febbyyyyyy!" kata Sivia tak kalah gemasnya. Febby ini, masa tidak percaya bahwa Sivia itu benar-benar serius. Lihat. Sivia sampai mengangkat jari telunjuk dan tengahnya. Sumpah. Kurang apa lagi coba? Aduh, Febby itu kadang-kadang oon. Sivia mengerjapkan mata beberapa kali.

Febby mendengus kesal. Dari sisi mana coba jawaban Sivia itu bisa dibilang serius? Maka Febby memutar bola matanya lalu bergumam pelan, "Seriusnya aja kaya gini, gimana bercandanya?" Dan akhirnya menenggelamkan wajah di atas meja. Memilih untuk tidak meladeni Sivia. Makan hati tahu.

Sivia mengerutkan kening. Heran. Bisa-bisanya Febby hengkang dari dunia sejuta ceritanya dan lebih memilih menyibukkan diri dalam dunianya. Dunia tindihan ransel. Febby tidak seru. Berbeda dengan Pricilla yang kini malah menarik tangannya sambil memintanya melanjutkan kronologis bagaimana dia bisa menjadi jawara dalam kancah permainan ular tangga semalam. Tuh kan, Pricilla memang seru. Lantas Sivia makin heboh dan semangat bercerita, walau pendengarnya hanya tersisa Pricilla seorang.

Salah. Bukan hanya Pricilla yang jadi pendengarnya. Tapi pemuda yang tengah duduk sambil melipat kedua tangannya itu juga jadi pendengarnya. Bukan hanya itu. Tapi pemuda 'tengil' itu juga memperhatikan tiap gerak-gerik Sivia. Berdecak dan menggelengkan kepala melihat mulut Sivia yang tak henti berbicara. Terkekeh lucu mendengar cerita konyol Sivia. Ah ya, akhir-akhir ini pemuda itu memang gemar sekali melakukan semua itu. Kadang dia jadi malu sendiri, kalau mengingat betapa dulu ia tak sedikit pun menyukai gadis cerewet-nya. Bahkan terkesan terganggu oleh keberadaannya. Tapi entah mengapa hatinya berubah dan justru malah menganggap kecerewetannya adalah sesuatu yang menarik. Gabriel berucap jujur dalam hati. Dan setelahnya, bibirnya dan seluruh raganya akan membuat kejujuran juga.

Merasa diperhatikan, Sivia menghentikan celotehannya. Ia memicingkan mata, menyisir seluruh penjuru kelas. Dan dia tersentak lantas membelalakkan kedua matanya saat mendapati bahwa Gabriel-lah pelakunya. Gabriel sedang apa? Melihatnya seperti itu. Memangnya Sivia itu badut ancol? Sebenarnya Sivia merasa senang juga diperhatikan oleh Gabriel. Tapi tak usah lekat-lekat seperti itu. Nanti Sivia malu. Pipinya sensitif tahu. Tunggu. Kenapa Sivia harus malu? Bukankah ia tak pernah merasa malu kalau ia diperhatikan lelaki lain? Mungkin Sivia juga mulai menyukai pemuda itu. Tidak. Sivia membuat penyangkalan dalam hati. Maka Sivia mengerjap lalu menggelengkan kepala.

Dan untuk menghilangkan rasa malunya, ia mempelototi Gabriel segarang mungkin, tapi terkesan lucu. Dan yang dipelototi tak sedikit pun merasa takut. Dia malah tersenyum. Melambaikan tangan dan berkata "Hai!"

Sivia menelan ludah melihat tingkah Gabriel. Seharusnya dia itu takut. Bukan malah menggodanya seperti itu. Nanti Sivia semakin malu. Maka Sivia menggelengkan kepala cepat.

"Heh!" hardik Sivia seraya bangkit berdiri dari kursinya. Dan dengan berkacak pinggang dia mengeluarkan kalimat yang akan menggelitik si pemilik busur untuk segera melesakkan anak panah. "Genit banget sih lo! Terus, maksudnya apa coba liatin gue kaya gitu? Suka?"

Terkejut seketika Gabriel mendengarnya. Gadis itu benar-benar menantangnya untuk segera menancapkan panahnya. Maka ia berdiri dan tersenyum miring.

Dan anak panah itu resmi melesak menuju sasaran tembak saat Gabriel menjawab tantangan gadis cerewet-nya dengan ucapannya.

"Siapa bilang gue suka sama lo? Gue itu cinta sama lo!" ujar Gabriel lantang penuh kejujuran. Disertai ketulusan.


Telak. Panah itu kini meninggalkan busurnya atas perintah pemiliknya dan menancap tepat pada sasaran, yaitu hati gadis yang kini hanya bungkam tak percaya. Sivia seakan dilemparkan geranat. Mengejutkan. Dan ia kini tak bisa berucap sepatah kata pun, walau bibirnya bergerak-gerak berusaha keras berkata.

Hatinya kini buncah oleh perasaan asing yang telah cukup lama menyentuh hatinya. Dan nyatanya, tanpa sang pemilik hati sadari, perasaan itu kian mengembang tak terkendali. Bahkan mulai menguasai jiwanya. Menghambat aliran darah pada pembuluhnya. Membuat akal sehatnya tak dapat ia gunakan dengan baik. Dan kesemuanya itulah yang membuat mulutnya bergerak tanpa suara.

Maka seluruh penghuni kelas pun ikut terdiam. Terpana takjub pada kejujuran pemuda tampan itu. Dan mereka menyaksikan drama mengenai kejujuran hati itu dengan seksama. Menanti kelanjutannya dengan hati bergetar dan jutaan tanda tanya mengenai apa yang nanti akan diungkapkan oleh gadis berlesung pipi itu. Kejujurankah? Atau... penyangkalan dari sebuah kejujuran, kemunafikan.

Sementara Gabriel menatap gadis yang berdiri sekitar dua meter darinya dengan penuh kesungguhan. Meyakinkan gadis cerewet-nya agar segera keluar dari balik tembok kemunafikannya. Agar ia tak ragu menjaga anak panah yang sudah tertancap di hatinya. Dan lantas menghambur padanya dengan kejujuran.

Percayalah. Dan kalimat itu terus ia rapalkan dalam hati. Kalimat bukti bahwa dirinya tak pernah main-main mengenai hatinya. Dan dia juga berharap, gadis itu takkan terus bersembunyi dalam tamengnya.

Sepolos apa pun Sivia, dia tahu benar mana kesungguhan dan mana bualan. Dan sayangnya, Sivia menangkap jelas kesungguhan itu. Cahaya yang menyala di bola mata coklat milik pemuda itulah buktinya. Lalu Sivia seakan bisa mendengar rapalan kalimat itu. Hati kecilnya mendengarnya.

'Percayalah'

'Percayalah'

'Percayalah'

Dan sejuta kalimat yang sama bergantian mengetuk hatinya. Terngiang dalam fikirannya. Maka Sivia membalas tatapan itu. 'Jangan! Jangan menatapku seperti itu!' Dan lagi lagi, penyangkalan terjadi.

Dan setelah penyangkalan 'kecil' itu terjadi, Sivia mendapat amunisi baru untuk menciptakan jutaan penyangkalan baru. Membangun tembok kemunafikannya makin kokoh berdiri. Sivia mengerjap lantas berkata, "Gue... gue..."

Sial. Sivia mengumpat dalam hati. Mulutnya kaku. Kalimatnya tercekat di rongga tenggorokkan.

Para penonton sudah mulai gemas menantikan apa yang berikutnya terjadi. Maka mereka serempak mengeluarkan kalimat-kalimat penyemangat yang terkesan menggoda.

"Cieeee, Si Tengil sama Si Cerewet nih! Yuhuuu!" dimulai dari Cakka yang mengeluarkan godaannya sambil mengedip-ngedipkan mata.

"Wes wes wes, Sivia sama Gabriel so sweet banget! Mauuuuu!" selanjutnya Pricilla yang tak mau melewatkan untuk menggoda sahabatnya.

Lalu diikuti seluruh penghuni kelas -kecuali dua gadis- yang bersahutan mengeluarkan 'dukungan' untuk dua pelakon drama itu.

Pemuda yang menjadi salah satu pelakon itu pun tetap dengan sikapnya. Tersenyum. Menatap tajam. Meyakinkan.

Sementara lawan mainnya mulai dilanda rasa gugup. Dan kegugupan itu tak bisa ditutupi oleh Sivia. Terlihat dari pipinya yang menorehkan semburat merah menggemaskan.

Sivia menggelengkankan kepala seraya menutup telinganya. Ia tak mau mendengarkan semua godaan yang dilontarkan oleh teman-temannya. Ia tak mau pipinya semakin memerah. Ia tak mau tembok kemunafikkan yang sudah susah payah ia bangun runtuh. Praktisnya, ia tak mau mengungkapkan kejujuran.

"Lo semua nyebelin!" cibir Sivia lalu sejurus kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas kursi, lalu akhirnya menutupi wajahnya yang merona dengan kedua telapak tangan.

Maka membahanalah gelak tawa di seluruh penjuru kelas. Lucu melihat tingkah Sivia yang tersipu.

Sementara semuanya tertawa mendapat hiburan yang menyegarkan yang disuguhkan oleh Gabriel dan Sivia, ada dua gadis yang tidak ikut dalam euforia kehebohan hiburan tadi. Mereka berdua gelisah. Gelisah karena pemuda yang sama yang sampai saat ini masih juga belum memasuki kelas.

Shilla, salah satu dari dua gadis tersebut tak bisa duduk tenang. Ia melirik ke meja baris ke-dua yang berada di ujung ruangan. Tempat itu masih kosong. Penghuninya belum juga datang. Lalu Shilla melirik pintu kelas. Begitu seterusnya. Ia melakukannya bergantian. Shilla takut pemuda itu terlambat. Dan Shilla juga takut kalau kemungkinan terburuk terjadi, yaitu dia takkan datang di hari kedua semester genap ini.

Shilla mendesah kemudian bergumam pelan, "Masa dia ga sekolah lagi sih!"

Gumaman yang -menurut Shilla- pelan itu, nyatanya masih tetap saja bisa menyapa dan masuk ke lubang telinga teman sebangkunya, Febby yang masih asyik tertawa. Dan Febby pun akhirnya menghentikan tawanya. Ia melirik Shilla. Mengerutkan kening menangkap ekspresi kekhawatiran yang sangat kentara pada wajah cantik Shilla.

"Dia siapa?" tanya Febby menyelidik.

"Hah..." Shilla terkesiap. Terburu-buru menggelengkan kepalanya. Tersenyum jengah. Dan berusaha tidak menunjukkan kegelisahannya.

Sesungguhnya, Shilla ingin sekali berbagi cerita mengenai hatinya yang bergetar saat memikirkan pemuda itu. Tentang hatinya yang selalu berdebam-debum kala berada di dekat pemuda itu. Tapi, Shilla fikir belum saatnya. Nanti-nanti saja. Walau kita tak pernah tahu, nanti-nanti itu justru akan membuat segalanya menjadi rumit, lebih rumit dari rumus trigonometri. Shilla sama seperti Sivia, tidak mau jujur. Namun setidaknya, Shilla lebih baik, dia tidak membuat penyangkalan-penyangkalan tak berguna dalam hatinya.

Febby hanya mengangguk. Lalu sejurus kemudian kembali melanjutkan tawanya yang terpotong oleh gumaman Shilla.

Dan gadis lainnya yang juga dilanda kegelisahan yang sangat hebat -melebihi Shilla-, adalah Ify. Gadis yang duduk di samping Sivia itu terus saja mengetukkan jari-jarinya ke atas meja. Menggigiti bibirnya. Menatap penuh harap ke arah pintu kelas.

Kekhawatiran Ify terus mengembang, kala jarum kecil di dalam jam tangannya terus berdetak. Tak mempedulikan siapa pun yang kalah oleh ketukan iramanya. Maka Ify tak bisa menghilangkan rasa gelisah yang terus merayapi hatinya.

Hei, tak bisakah Ify bersikap biasa saja? Toh Pricilla tadi mengatakan bahwa pemuda itu sudah berada di lingkungan sekolah. Tidak. Kalau menyangkut pemuda-nya, Ify tak bisa bersikap biasa. Rasa pedulinya terhadap pemuda itu sungguh besar.

Maka Ify mendesah. Merogoh tasnya. Mengambil ponselnya. Menuliskan segurat pesan yang akan ia kirimkan pada pemuda-nya.

"Gue nungguin lo!"

Segurat pesan yang hanya terdiri dari satu kalimat -pendek pula- itu sangat ampuh untuk meredakan kegelisahannya. Karena, dua puluh detik setelah pesan itu ia kirimkan, menyembullah seorang pemuda tampan dari balik pintu, pemuda yang kehadirannya sangat diharapkan oleh Ify -juga gadis dibelakangnya-. Ify tersenyum lega.

Suasana pun seketika berubah. Kegaduhan yang terjadi tiba-tiba lenyap saat terdengar sebuah suara lembut yang khas berdeham. Maka seluruh pasang mata tertuju ke arah sumber suara -termasuk Sivia yang melepaskan telapak tangan dari wajahnya-. Semuanya membelalak tak percaya. Pemuda tampan itu datang.

"Ehem..." sekali lagi pemuda yang berdiri gagah di ambang pintu itu berdeham.

Semuanya terkesiap dan serempak mengucap satu nama, "RIO!"

Pemuda bernama Rio itu pun tersenyum. Senyuman manis yang mampu membuat hati setiap gadis meleleh. Terlebih kini dua sahabatnya menghambur memeluknya, membuat senyuman itu terlukis lebih lama menghiasi bingkai wajah tampannya.

"Akhirnya lo sekolah juga!" ujar Cakka sambil mengacak rambut Rio.

"Bego! Lo bikin kita kangen tahu!" Gabriel memukul bahu Rio pelan.

Mereka saling berpelukan. Mengikis kerinduan yang tercipta di hati masing-masing ketiga pemuda tampan itu.

Sivia mendengus. Kesal dengan adegan berpelukkan yang dipertunjukkan oleh Rio, Gabriel dan Cakka. Sivia sebenarnya senang Rio akhirnya masuk sekolah lagi. Apalagi Rio adalah sahabatnya sejak duduk di bangku TK dan dia sudah menganggap Rio adalah kakaknya. Dia hanya kesal pada salah satu pemuda itu. Maka ia pun mencibir, "Sok romantis! Pelukannya itu loh!"

Mendengar cibiran Sivia, mereka bertiga mengurai pelukannya. Menatap tajam pada gadis yang dengan polos memainkan kunciran rambutnya.

Cakka mendelik pada Gabriel. Mengedikkan kepala. Memberi isyarat agar Gabriel segera membereskan gadis cerewetnya. Gabriel tersenyum miring. Mengangkat jempol lantas menghampiri Sivia. Sementara Rio hanya bisa mengerutkan kening. Dia tak tahu apa-apa. Tidak sekolah sehari saja membuatnya ketinggalan sesuatu yang penting yang terjadi antara Gabriel dan Sivia. Ia menyesali diri.

Dan Sivia mulai merasa ketakutan. Ah, Gabriel pasti akan mengerjainya seperti kemarin. Aduh, Sivia pasti malu lagi. Bagaimana ini!

Setelah Gabriel menginjakkan kakinya tetap di depan meja Sivia, ia menggebrak meja. Membuat Sivia menelan ludah dan rasa takutnya bertambah.

Gabriel mendekatkan wajahnya pada wajah Sivia. Tersenyum lantas berkata, "kenapa? Cemburu?" Lalu Gabriel menjawil pipi merah Sivia.

Dan perasaan asing itu sungguh sangat menyebalkan. Dia mencegah Sivia untuk menghindar dari jawilan nakal Gabriel. Sivia hanya bisa menelan ludah.

"Sini, biar lo gue peluk!" bisik Gabriel sambil mengedipkan salah satu matanya.

Dan sekarang, Sivia berhasil melawan perasaan asing itu. Ia mendorong wajah Gabriel yang teramat dekat dengannya. Lalu akhirnya, "Mamaaaaa!" ia berteriak lalu menenggelamkan wajahnya di atas meja sambil meracau.

"Gabriel jelek, nyebelin, centil, bau, kaya odong-odong!"

Gabriel terkekeh lantas mengacungkan jempol pada Cakka. Semuanya kembali tertawa.

"Udah Yel, kasihan!" kata Cakka lalu melangkah menuju tempat duduknya. Gabriel pun mengikuti Cakka.

Rio menggelengkan kepala. Dan sebelum ia menyusul dua sahabatnya, ia melirik gadisnya. Memastikan bahwa gadis itu benar-benar mengharapkan kedatangannya. Dan Rio tersenyum, saat menangkap gadisnya tengah tersenyum padanya. Tanpa tahu, gadis di belakang gadisnya juga tersenyum, membalas senyuman sang pemuda yang sebenarnya bukanlah untuknya.

*
bersambung
*

Selapang Sang Rembulan part 2


Rembulan bercahaya, karena meneruskan sinar yang dipancarkan oleh matahari.

*

Cakka sedang memesan dua mangkok bakso dan dua gelas es jeruk. Sementara Shilla, gadis cantik yang ia bawa -setengah- paksa tengah duduk sambil mengerenyit tak mengerti. Memangnya rapat ekskul dance dilaksanakan di kantin? Mana bisa. Gadis itu berdecak.

Lalu Cakka, ditemani seorang pelayan kantin menghampiri Shilla dengan membawa pesanannya.

"Makasih ya!" ujar Cakka selepas sang pelayan meletakkan pesanannya di meja. Pelayan itu mengangguk. Lalu bergegas pergi.

Cakka kemudian duduk di sebrang Shilla. Tersenyum manis. Lalu berujar setelah melihat kerutan kebingungan pada kening gadis yang -entah mengapa- selalu membuatnya berbunga, "Gue cuma mau mereka berduaan aja kok!"

Dan Shilla pun mengerti. Dia mengurai kerutan keningnya. Terkekeh lucu. Lantas meraih sendok untuk melahap baksonya. Dan Cakka pun juga ikut melakukannya.

Lalu, sambil menyantap makanannya, Shilla mulai membuka pembicaraan. Hatinya tergelitik menanyakan suatu hal. Penting sekali untuknya. Karena ini, mengenai hatinya. "Dia ga sekolah?"

Cakka mendelik. Mengerutkan kening tak mengerti. Dia? Siapa? Sahabatnya yang duduk sendirian di belakangnya? Ah, kenapa gadis cantik ini menanyakannya? Peduli apa dia padanya? Bukankah selama ini, dia tak acuh saja. Bahkan, sekedar menyapanya saja dia tak pernah. Lalu, apa maksud dari pertanyaannya? Entah.

"Kenapa? Kangen?"

Dan pertanyaan Cakka baru saja langsung menghantamnya. Telak. Sehingga Shilla terkejut lantas tersedak. Lalu secepatnya mengambil es jeruk dan langsung meminumnya.

Setelah Shilla cukup tenang, karena nyatanya hatinya ketar-ketir setengah mati saat mendengar pertanyaan Cakka, dia mencoba menjawabnya. "Gue... Gue..." Sial. Shilla gugup sekali. Sampai dia hanya bisa terbata-bata bicara.

"Udah, ga pa-pa!" kata Cakka tersenyum. Walau hatinya, kini diliputi perasaan asing yang rasanya cukup menyakitkan, mengetahui bahwa Shilla ternyata mempedulikan dia. Dia yang Cakka yakini akan menjadi batu sandungan yang bisa membuat semua rencana memenangkan hati gadis di hadapannya gagal.

*

Sementara di tempat lain, Sivia tengah merutuk. Mengomel sendiri sambil melangkahkan kaki. Ah, apa-apaan tadi? Gabriel itu menyebalkan. Masa dia mengerjainya seperti itu. Sivia kan jadi malu. Tunggu. Kenapa pula dia harus malu? Dia kan tak mempunyai rasa apa-apa pada Gabriel. Lalu, kenapa bisa pipi mulusnya merona? Ah, entah. Sivia jadi pusing sendiri. Sekarang, hanya makananlah yang dapat menghilangkan pusingnya. Maka bergegaslah ia menuju kantin.

Langkah Sivia terhenti saat melihat di salah satu meja terdapat Cakka dan Shilla. Oh, jadi ini yang namanya ekskul dance. Berduaan makan bakso. Sivia berdecak. Mengulum bibir. Berkacak pinggang lalu menghampiri mereka.

"Enak bener yang rapat sambil makan bakso!" cibir Sivia sambil duduk di samping Shilla, lalu merangkul gadis yang nampaknya ikut bersekongkol dengan Gabriel dan Cakka untuk mengerjainya.

Shilla dan Cakka berhenti mengunyah. Mereka diam. Saling bertatapan beberapa detik. Lalu menoleh ke arah Sivia. Dan akhirnya tertawa melihat wajah Sivia yang terlihat sebal.

Sivia mendengus kesal. Mengambil mangkok berisi bakso milik Shilla tanpa permisi. Lalu memakannya.

"Kesel sih kesel, tapi ga usah ngambil makanan orang dong!" cibir Shilla sambil mendelik lucu pada sahabatnya.

"Berisik! Lo mau lo yang gue makan?" ancam Sivia yang terus melaksanakan prosedur menjarah bakso milik Shilla. Yang diancam malah semakin tertawa terbahak-bahak.

"Lo berdua nyebelin tahu! Kaya Gabriel beserta vesvanya!" ujar Sivia.

Dan pemuda yang Sivia sebut kini datang. Duduk di samping Cakka dan berhadapan tepat dengan Sivia.

Sivia hanya meneguk ludah, mendapati Gabriel menatapnya tajam sambil memamerkan senyuman mautnya. Dan entah kenapa, dia merasa dia mulai menyukai keduanya. Sivia mengerjap. Mengusir rasa aneh yang baru saja menyentuh hatinya.

"Kalian berdua cocok juga kalau pacaran!" celetuk Cakka sambil tersenyum dan menaik turunkan kedua alisnya.

Mendengar itu, Sivia langsung berhenti mengunyah. Menautkan dua alisnya. Memicingkan mata lalu bergidik geli.

"Wah, bener tuh kata Cakka. Kita pacaran aja yuk Vi!" ujar Gabriel santai sambil tersenyum menggoda.

"Apa?" Sivia menggeleng-gelengkan kepala. Gila sekali Gabriel. Dia tahu itu adalah caranya untuk merebut hatinya. Tapi, apa tidak ada cara lain yang lebih romantis? Tunggu. Apa ternyata diam-diam Sivia juga mengharapkan lebih dari apa yang Gabriel lakukan. Entah. Tapi Sivia berusaha menyangkalnya.

"Yuk pacaran yuk!" ujar Gabriel makin antusias. Matanya mengerjap nakal.

"Lo gila Yel!" kata Sivia sambil mendengus dan kembali mengunyah makanannya yang masih tertahan di dalam mulutnya. Dia berusaha bersikap 'biasa' saja. Tak ingin terlihat bahwa hatinya merasa gugup yang luar biasa, saat tiap kata yang dituturkan Gabriel ternyata memiliki sejuta makna tak teraba mulai merayapi hati kecilnya.

Dan ini adalah awal dari semuanya. Awal dari pembuktian betapa hati mereka lapang seperti sang rembulan.

*

Gadis cantik berdagu runcing itu melangkah masuk menuju sebuah rumah yang bisa dikatakan mewah. Sambil menggigit bibir, dia melangkah ragu. Mencari seseorang yang mendiami rumah mewah tersebut. Setelah ia tahu bahwa di ruang tamu, dia tak berhasil menemukan siapa yang dicarinya, gadis itu memutuskan untuk kembali melangkah menuju suatu tempat yang ia yakini akan ada seseorang yang selalu saja membuatnya khawatir.

Dan kini, di kamar yang terdapat di lantai dua, gadis itu bisa menemukannya. Seorang pemuda tampan bergigi gingsul. Pemuda yang sejak lama mengisi relung jiwanya. Pemuda yang kali ini terlihat sangat berantakan. Dia memakai kaos oblong dan celana pendek kumal. Wajahnya kusut. Rambutnya berantakan. Dan matanya merah berkantung.

Ify -gadis itu- mendesah. Menutup pintu kamar perlahan. Mendekati pemuda itu yang tengah berdiri termangu sambil menyentuh kaca jendela.

Ify berhenti tepat di sampingnya. Menatap penuh kepedulian terhadap pemuda yang tak jarang membuat ia bingung sendiri akan tingkahnya. Ify mendapati sesuatu yang aneh di mata pemuda-nya. Meskipun sebenarnya, dua pelihat sang pemuda menatap kosong, tapi tepat di bola coklatnya, ada cahaya yang menyala. Cahaya kekecewaan. "Hari pertama, udah ga masuk!" cibir Ify pelan.

"Gue ga peduli!" ujar pemuda itu tanpa minat, walau sesungguhnya, ia ingin sekali bercerita tentang seluruh beban hidupnya pada gadis yang kehadirannya selalu membuatnya lebih tenang.

Ify tersentak. Dia menyentuh pipi sang pemuda dengan kedua tangannya. Menatapnya lekat-lekat. Berujar penuh kesungguhan. "Gue peduli!"

Pemuda itu menunduk. Bergetar mendengar kalimat yang dilontarkan oleh gadisnya. Kalimat yang sangat sederhana. Namun terselip ketulusan di dalamnya.

Ify melepaskan tangannya. Membuka resleting tasnya. Mengeluarkan dua buah buku catatan. Lalu meletakannya di atas meja kecil di sudut ruangan.

"Ini catatan fisika sama matematika. Salin ya! Besok lo harus sekolah! Kita semua nungguin lo!" ujar Ify lantas melangkah menuju pintu.

"Termasuk lo?" suara bariton itu akhirnya mengeluarkan tanya yang membuat hati Ify lega. Lantas Ify pun menoleh. Tersenyum manis. Mengedipkan mata sekali sambil mengangguk. Dan pemuda di ujung sana, juga ikut menyunggingkan senyum. Senyum yang telah lama hilang dari wajah tampan sang Pemuda. Senyum yang selalu menahan Ify untuk tetap mempedulikan segala tentangnya.

*

Malam ini indah. Bulan sempurna berbentuk bulat. Ditemani bintang-gemintang yang berkedip-kedip menggemaskan. Sivia sangat suka malam seperti ini. Maka ia pun menyaksikan keindahan seluruh ciptaan Tuhan itu di bukit kecil di belakang rumahnya.

Ia duduk bersila sendiri beralaskan hamparan rumput hijau. Menggosok-gosok telapak tangannya. Lantas melakukan kebiasaannya. Bercerita pada bulan. Sivia fikir, bulan baik. Dia akan selalu setia dan tak pernah bosan mendengar jutaan ceritanya. Dia juga yakin, bulan tidak cerewet. Dia akan mampu menjaga seluruh ceritanya agar tak ada satu pun penghuni di dunia ini yang mengetahuinya.

Maka, sambil menatapi lekat-lekat tiap pancaran sinar sang rembulan, dia bercerita semuanya. Semua isi hatinya. Tentang perasaan asing yang tiba-tiba menyalip hatinya. Tentang perasaan yang selalu saja membuncah dan menjalari tiap centi pembuluh darahnya. Bulan mendengarnya. Mendengar sebuah kejujuran dari seorang gadis cantik ini. Kejujuran yang akan menjadi jembatan untuk menyebrangi tiap rintangan kemunafikan. Dan semoga kejujuran itu, juga tak hanya ia ungkapkan pada bulan. Tapi juga pada pemuda yang telah menyusupkan perasaan itu tepat pada hati kecilnya.

Dan, tanpa disadari, pemuda itu kini tengah duduk berselonjor kaki di samping Sivia entah dari kapan. Dia ikut memandangi sang rembulan. Berharap bahwa bulan akan membocorkan semua yang ia ketahui tentang apa yang diceritakan oleh Sivia.

Kemudian, seakan hembusan angin yang melewati tengkuknya membisikkan segalanya. Segala yang diketahui oleh bulan. Lalu dia pun tersenyum. Menoleh ke arah Sivia. Bahkan, dari samping pun dia tetap terpesona akan kesempurnaan Sivia. Tak ia dapati setitik pun cela di sana.

Gabriel menghela nafas. Melirik bulan sebentar. Lalu berbisik tepat di telinga kanan Sivia. "Bumi dan bulan, tak bisa dipisahkan."

Sivia terkesiap. Menyadari bahwa di bukit kecil ini, dia tak sendiri. Dia ditemani pemuda yang selalu mendukung perasaan asing itu agar terus menguasai hatinya. Pemuda yang menjadi topik utama ceritanya malam ini pada bulan. Gabriel.

Setelah memejamkan mata sesaat, ia menoleh ke arah datangnya suara. Dan dia terkejut, saat wajah Gabriel hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya. Dua pelihat mereka saling beradu. Mereka sama-sama merasakan nafasnya tercekat. Terlebih Sivia yang memang tak pernah menang saat beradu tatapan dengan Gabriel. Dan begitu juga Gabriel. Dia seakan luluh kala menatapi tiap bening yang disuguhkan oleh mata indah gadis pujaannya.

Sivia mengerjap. Memindahkan fokus tatapannya dari mata elang Gabriel. Lalu dengan suara bergetar berkata, "Tapi bumi, tak membutuhkan bulan!"

Pada akhirnya, Sivia pun pergi bersama seluruh kebohongannya. Dia belum berani berkata jujur pada Gabriel. Saat ini, dia hanya jujur pada bulan. Bulan yang kini masih lekat ditatapi penuh harap oleh pemuda yang ia tinggalkan sendirian. Bulan yang setiap saat akan menghalangi Sivia untuk terus menyangkal dan mengusir perasaan asing itu agar tidak terus-menerus merayapi tiap sudut hatinya.

*

"Nih! Gue ketemu dia di depan!" Pricilla memberikan dua buku catatan bersampul coklat pada Ify.

Ify tersenyum. Menghela nafas lega. Akhirnya dia menuruti permintaannya kemarin.

"Lo kemarin ke rumahnya?" tanya Pricilla lalu mulai melangkah bersama Ify menuju kelasnya.

"Dia ga bakalan sekolah kalau gue ga kaya gitu!" ujar Ify ringan sambil memasukkan buku catatannya ke dalam tas.

"Dia emang selalu butuh lo!" Pricilla mendesah. "Karena dia, selalu dan terlalu mencintai lo."

Ify berhenti melangkah. Dia tertegun mendengar ucapan Pricila. Seperti itukah pemuda-nya? Dia selalu membutuhkannya. Ify merasa tertohok karenanya. Dia tahu, dia sering tak berada di sisinya saat pemuda-nya teramat kacau dan butuh kehadirannya untuk sekedar membuatnya tenang. Dan hatinya mencelos saat Pricilla mengatakan bahwa pemuda-nya selalu mencintainya. Ify serasa ditampar. Dia sadar, dia bahkan sama sekali tak pernah menganggap adanya cinta di antara mereka. Ify menganggap seluruh kepedulian dan perhatian yang di berikan olehnya hanya sekedar sebuah kewajibannya sebagai seorang sahabat. Tanpa ia tahu, bahwa di setiap helaan nafas pemuda-nya terselip seuntai harapan. Harapan yang ia sandarkan padanya. Ify merasa sangat bersalah. Dia orang yang jahat.

Pricilla ikut berhenti. Menyadari Ify sudah tertinggal beberapa langkah darinya. Ia menoleh. Mendapati sahabat baiknya sedang mematung. Dia mendesah lalu menghampiri Ify. Meraih tangannya. Mengangkat dagu runcingnya, lantas berkata "Berubahlah! Maka lo adalah perempuan paling beruntung di dunia ini."

Ify mendengar baik-baik nasihat Pricilla. Dia mengangguk mantap. Dia akan berubah. Dia akan berusaha untuk menjadi perempuan beruntung itu, dengan hadir dalam tiap detik keterpurukan pemudanya, dengan selalu membalas perasaan cinta tulus pemudanya. Itu janjinya dalam hati.

*
Bersambung
*

Selapang Sang Rembulan part 1


Selapang Sang Rembulan part 1


*

Marilah sejenak berkaca pada Sang Rembulan. Buka mata kalian. Lihat dan telusuri tiap lekuk cahayanya. Resapi dalam hati. Apa yang dapat kalian ambil darinya? Belum tahu? Tak usah bersedih kawan. Karena gadis dan pemuda itu, dengan segala kekurangan dan kelebihannya masing-masing, akan menunjukkan pada kita semua, mengenai Sang Rembulan. Karena, hati mereka selapang Sang Rembulan.

*

Gadis manis itu sedang berjalan dengan sangat ceria. Selepas turun dari mobil hitam yang mengantarkannya barusan, dia melangkah dengan pasti menuju gerbang sekolahnya. Senyuman lebar terpampang jelas pada wajahnya. Senyuman bahagia. Tentu saja. Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah setelah dua minggu ia melewati liburan akhir semester ganjil.

Gaya gadis itu bisa dibilang culun dan ketinggalan zaman. Lihat saja dua kunciran rambut yang bergoyang-goyang mengikuti irama langkah kakinya. Juga poninya yang menari ke sana kemari. Mungkin, hanya dia satu-satunya gadis yang berani berpenampilan seperti itu ke sekolahnya. Ya, dia berbeda. Apalagi gaya berpakaiannya. Rok hitam kotak-kotaknya selalu ia pasang pas -bahkan di atas- pinggang. Blezer hitamnya pun selalu ia kenakan dengan baik. Empat kancingnya selalu terpasang rapi. Hanya menyisakan bagian atas dasinya yang bermotif garis-garis yang terlihat. Dan dengan menggendong ransel berwarna birunya, dia berjalan dengan penuh kepercayaan diri.

Dia memang tak pernah terganggu dengan penampilannya. Tapi sayang, teman-temannya yang sudah seperti 'pakar fashion' selalu saja mengomentari gadis itu. Kadang, dia bersikap acuh. Tak mau ambil pusing dengan komentar teman-temannya yang -cukup- menyakitkan. Tapi toh, tak jarang pula dia merasa terganggu. Lalu malah menyalahkan teman-temannya yang terlalu cerewet seperti tukang kredit. Dan pada akhirnya, dia kembali bersikap acuh. Tak peduli.

Kakinya kini sudah melewati gerbang. Ia -masih dengan senyumannya- melambaikan tangan pada dua satpam yang tengah menyesap teh manis hangat di depan pos satpam. Dan dua lelaki berumur itu pun ikut melambaikan tangan sambil terus melakukan prosedur menyesap teh. Dan setelah itu, dia melanjutkan langkahnya menuju ruangan kelasnya yang berada di lantai dua.

*

Pemuda berkulit gelap itu berdecak. Menendang ban vesvanya yang entah kenapa tiba-tiba bocor. Sial. Dia bisa terlambat di hari pertamanya masuk sekolah. Dia mengacak rambutnya sebal. Lalu merutuki vesvanya sendiri.

"Elo nyebelin tau!" ejeknya sambil menuntun vesvanya ke bengkel tambal ban terdekat. Ow..ow.. ternyata tak ada yang namanya terdekat. Terlalu lama waktu yang dihabiskan untuk menempuh jarak bengkel terdekat tersebut. Sial. Dia terus merutuk dalam hati.

Keringat sebesar kacang hijau sudah membasahi wajahnya dan kini bergelayut menggemaskan di ujung dagunya. Dia pun mengusap peluhnya dengan blezer lalu berdecak lagi.

Cukup. Berjalan menuju bengkel saja menghabiskan 15 menit waktu berharganya. Dan sekarang, sang montir bilang bahwa ada 4 lokasi pada ban vesvanya yang bocor. Berapa lama lagi waktu yang harus ia habiskan dengan percuma?

Maka, pemuda itu pun beranjak dari tempatnya menuju ke pinggir jalan. Menengok ke arah kiri dan kanan. Mencari seseorang yang bisa ia jadikan tebengan.

Gabriel -pemuda itu- memicingkan mata. Melihat dari kejauhan seorang pemuda yang mengenakan seragam yang sama dengannya, tengah mengendarai motor ninja merahnya. Meski wajahnya tertutup helm berwarna senada dengan ninjanya, Gabriel sangat tahu siapa pemuda tersebut. Cakka. Teman sekelas sekaligus sebangkunya.

"Cakka!" teriak Gabriel.

Sejurus kemudian, Cakka mengerem ninjanya. Lantas menoleh dan melambaikan tangannya.

Dengan senyum lega, Gabriel berlari menghampiri Cakka. Lantas melompat naik di belakang Cakka.

Cakka menggelengkan kepala. Menancap gas. Lalu melanjutkan perjalanannya.

"Gila! Nyebelin banget! Itu vesva ngajak berantem. Masa tiba-tiba bannya bocor! Empat sekaligus lagi! Beneran nyebelin deh!" Gabriel terus merutuki vesvanya. Sementara pemuda yang berada di depannya terkekeh geli mendengar celotehan sahabatnya.

*

Sementara gadis manis tadi yang memiliki nama indah, yaitu Sivia Azizah, sedang asyik berceloteh mengenai liburannya. Menghabiskan waktu bersama kakak sepupunya yang sudah menyelesaikan kuliahnya di luar negri. Mengenai kucingnya yang melahirkan, namun bukannya mengurusi bayinya, si kucing malah pacaran lagi. Mengenai Pak Maman, tukang kebunnya yang selalu ia kerjai bersama kakak sepupunya. Dan mengenai jutaan ceritanya, yang kadang sangat tidak penting untuk diceritakan. Tapi, Sivia cerewet. Dia hanya berhenti bicara, saat guru menerangkan dan tentu pada saat dia terlelap dalam buaian mimpi.

Keempat temannya hanya melongo. Mengerenyit heran. Lalu menelan ludah.

"Udah?" tanya Ify.

Sivia mengedarkan pandangannya. Mendapati ekspresi tertekan pada seluruh wajah teman-temannya. Dan pada saat ia melirik Shilla, dia menangkap isyarat bahwa Shilla sudah pusing dengan cerocosannya. Terlihat dari kening Shilla yang menghasilkan empat kerutan.

Maka Sivia pun menghela nafas, lalu berkata lagi "Sebenernya belum. Tapi..."

Ucapan Sivia terhenti saat seorang pemuda dengan pakaian acak-acakan masuk kelas sambil merutuk.

"Udah deh, udah deh, udah deh! Nyerocos mulu kaya nenek gue lo Vi!" ujar Gabriel.

Sivia menoleh lalu mencibir kedatangan Gabriel. Kenapa dia? Baru datang sudah uring-uringan. Sivia mengerutkan kening lalu melirik Cakka yang berjalan di belakang Gabriel. Dan Cakka hanya menjawab pertanyaan tersirat Sivia dengan bahu terangkat.

Gadis itu akhirnya ingat, apa yang selalu membuat Gabriel seperti itu tiap pagi. Apalagi kalau bukan vesvanya.

"Cieee... yang vesvanya ngadat!" Sivia mencibir sambil terkekeh.

Gabriel menghentikan langkahnya. Menoleh tajam pada gadis ter-cerewet seantero SMA-nya. Lantas menghampirinya.

"Elo..." desis Gabriel. "Nyebelin tahu, kaya vesva gue!"

Lalu Sivia pun tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perutnya. Lucu juga melihat ekspresi Gabriel. Dan akhirnya, seluruh penghuni kelas pun ikut menertawakan Gabriel.

Menyebalkan. Gabriel mengulum bibir. Berdecak. Menghampiri mejanya. Lalu menghempaskan tubuh di kursinya. Diikuti Cakka yang juga ikut tertawa.

"Kena mulu lo sama si cerewet itu!" ujar Cakka yang kini duduk di sampingnya.

"Dan nanti, dia yang bakalan kena sama gue!" kata Gabriel sambil mendelik ke arah Cakka dan memamerkan senyum menawan andalannya.

Cakka yang sangat hafal tabiat Gabriel langsung menelan ludah. Bertanya tak percaya. "Elo serius?"

"Gue ga pernah main-main soal beginian!" ujar Gabriel ringan sambil membuka tasnya lalu mengeluarkan buku fisikanya.

"Gila!" Cakka menggelengkan kepala. "Pinter banget itu nenek lampir!"

"Gue lebih pintar kali!" kata Gabriel lagi.

Cakka hanya tersenyum dan menepuk pundak Gabriel. "Sukses ya Brader!"

*

Setelah bel istirahat berbunyi. Sivia langsung melejit. Ini dia waktu yang ia tunggu-tunggu. Dimana ia bisa memuaskan perutnya yang sudah berdebam-debum minta diisi.

"Mari makaaan!" pekik Sivia.

Semua teman-temannya yang sudah bisa beradaptasi dengan kecerewetan Sivia bersikap tak acuh. Dan gadis berkacamata yang duduk di pojok depan kelas belum bisa menerima hal itu. Dia merutuk dalam hati. Lalu melengos pergi.

"Gue ga bisa nemenin lo Vi, gue mau telponan sama Hilmi." ujar Pricilla.

"Cieelah, romantisnya!" cibir Ify.

"Ya maklum aja dong! Gue sama Hilmi kan jarang ketemu!"

Keempat sahabatnya pun mengangguk. Mengerti akan hubungan Pricilla dengan Hilmi yang berlangsung dengan hubungan jarak jauh, karena Hilmi harus sekolah di luar kota. Tapi, sejauh ini, hubungan mereka baik-baik saja. Hanya masalah kecil yang kadang mengusik hubungan mereka. Tapi toh, mereka sama-sama dewasa, dan bisa menyelesaikan masalah tersebut. Berbeda dengan sahabatnya, yang bertingkah bagai anak kecil, yang tak pernah mau jujur akan perasaannya. Perasaan yang masih samar, namun akan cepat terungkap.

"Gue juga ga bisa ke kantin, mau main basket!" kata Feby sambil bergegas membawa baju basketnya.

"Gue juga, ada rapat OSIS." kata Ify.

Sivia mengulum bibir. Ketiga sahabatnya menyebalkan. Lalu dia pun melirik Shilla. Ah, dia yakin Shilla bisa menemaninya mengisi perut di kantin.

"Tenang Siviaku, aku akan selalu ada buat kamu!" ujar Shilla sambil mengangkat kedua alisnya.

"Siapa bilang? Ekskul dance butuh lo tau!" kata Cakka yang langsung menarik tangan Shilla untuk pergi dan meninggalkan Sivia yang melongo. Kebingungan.

"Jadi?" tanya Sivia lebih ke dirinya sendiri, karena keempat temannya sudah berada entah di mana.

"Elo sama gue!" ujar Gabriel santai setelah mengunci pintu kelas dan menyisakan mereka berdua di sana.

Sivia menoleh ke sumber suara. Lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. Apa-apaan ini? Tak ada siapa pun disini. Sivia meneguk ludah.

Gabriel tersenyum penuh arti. Lantas menghampiri Sivia yang masih duduk di kursinya dengan raut ketakutan yang tertera jelas pada wajahnya.

"Elo mau ngapain?" tanya Sivia.

Gabriel terus melangkahkan kaki menuju tempatnya. Tuhan, Gabriel pasti mau balas dendam.

Gabriel kini sudah berada tepat di hadapannya. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah gadis manis yang ketakutan setengah mati. Mengadu dua pelihat mematikannya tepat pada manik mata sang gadis. Dan gadis itu pun merasa nafasnya tercekat. Karena, kini jarak wajah pemuda itu hanya tinggal beberapa centi lagi dari wajahnya yang mulai menorehkan semburat merah.

Gabriel terus mendekat. Tersenyum mempesona tanpa memindahkan tatapan mematikannya.

Lalu seakan terhipnotis, Sivia hanya diam sambil terus menahan nafas. Ia memejamkan mata. Menanti pasrah apa pun yang akan di lakukan Gabriel padanya.

Gabriel mendekatkan bibirnya pada gadis yang diam-diam merasakan buncahan rasa asing dalam hatinya. Ia tersenyum lagi. Lantas berkata "Elo, cantik kalo lagi ketakutan!"

Dan kalimat itu menggelitik hati Sivia. Ia membelalakkan mata. "Mamaaaaa..." Sivia berteriak sambil mendorong penuh tenaga tubuh kokoh Gabriel. Berlari menuju pintu. Membukanya. Lalu keluar entah kemana. Dan tentunya terus berteriak.

Maka Gabriel pun tersenyum puas melihat pencapaiannya barusan. "Kena kan lo!"

*
bersambung
*

Minggu, 30 Oktober 2011

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 18B


Perang dingin. Saling tak bertegur sapa. Mungkin itulah yang terjadi pada kami. Aku tak pernah bermaksud melakukan segalanya. Kesalahanku dalam mengambil sikap kini berdampak buruk -setidaknya untukku-. Aku membuat kehangatan yang sempat ku genggam enyah seketika. Membentang jarak tak kasat mata namun sangat terasa. Membangun sekat penghalang di antaranya. Memisahkan kami. Aku dan dia. Dia yang masih menjadi salah satu alasanku untuk bertahan. Dia pemilik setitik rasa yang masih bersemayam di bagian istimewa hatiku. Dia yang entah sampai kapan akan menjadi pangeranku. Pangeran Matahariku.

Sementara sang rival tak ambil pusing dibuatnya. Dia mengambil tantangan yang ditawarkan. Sama sekali tak merasa gentar. Bahkan apa yang dilakukannya jauh lebih menyakitkan. Dia menebarkan aura penolakkan yang sangat amat kentara. Suasana hangat yang biasanya selalu ia cipta, kini berubah menjadi hawa dingin yang menusuk tulang. Mencekam.

Dan semuanya terjadi saat ini. Saat kami berdua duduk berhadapan. Hanya terhalang meja putih panjang. Namun aku merasakan jurang pemisah yang terjal tengah melintang. Kami hanya diam. Tak mengeluarkan suara sekecil apa pun. Seakan kalau ada sedikit pun suara, maka hawa dingin itu akan meledak seketika. Menghancurkan siapa pun yang termasuk di dalamnya. Semakin memperbesar jurang pemisahnya. Sangat sensitif.

Maka kini diam adalah sikap yang ku ambil. Ya, karena hanya diam yang dapat ku lakukan. Sambil sesekali mendesah tak kentara. Sampai tak ada siapa pun yang mendengarnya. Sementara kepalaku, terus menunduk. Tenggelam menatapi ujung-ujung rokku. Menggigit bibir. Berteriak dalam hati. Mengatakan bahwa disini, di organ vital bernama hati ini, tersimpan setumpuk rindu. Rindu yang ingin segera ku serahkan padanya. Pada si empunya.

Rio. Dia tak melakukan apa-apa. Berhenti melahap pisang gorengnya. Menatap dengan tatapan menerawang. Dan aku menemukan ekspresi yang baru kali ini ia pasang di wajah tampannya. Ekspresi datar namun tegas. Menciutkan nyali siapa saja yang memandangnya. Termasuk aku, yang merasakan sesak yang mendalam, kala aura penolakan itu semakin mengental. Dia benar-benar berubah. Dan tanpa sadar, akulah yang berperan besar dalam perubahan itu.

Oh Tuhan, kenapa kau harus menjebakku dalam situasi ini? Berdua dengannya memang sebuah harapanku. Tapi kalau suasana sedingin Antartika yang harus ku rasakan, sungguh jauh dari harapku. Yang ada, hanyalah menyesakkan hatiku. Maka monster yang tadi sejenak terlelap, kembali terjaga. Memukul-mukul dadaku. Menambah pilu yang harus ku rasakan. Ia berteriak. Memerintahkanku untuk mencairkan suasana. Memaksa lidahku untuk mencipta seuntai kalimat. Kalimat ajaib yang akan merubah segalanya. Hei, monster itu salah. Aku bukanlah Gabriel yang selalu mempunyai jutaan kalimat ajaib yang menakjubkan. Aku bukan dia. Ah ya, kemanakah dirinya? Mengapa membeli minuman saja ia lama sekali? Apa ia sengaja membiarkanku berjuang sendirian? Tak tahukah ia, aku lemah tanpa bisikkan tulusnya. Aku rapuh tanpa lengkung senyuman mempesonanya. Aku kehilangan kekuatan tanpa genggaman hangat tangannya. Aku membutuhkan segala yang ada pada dirinya. Tanpa ku sadari, ada bagian yang lain dari hatiku yang mencelos saat kesederhanaannya tak lagi mendampingiku. Aku butuh dia saat ini. Aku butuh Gabriel.

Dan pada akhirnya, suara baritone lembut Riolah yang memecahkan keheningan yang sejak lama mencekamku. Dia mengucapkan sebuah kalimat. Kalimat yang benar-benar ajaib. Karena setelah mendengarnya, aku langsung mendongakkan kepala. Menggigit bibir semakin kuat. Menahan sakit akibat jutaan keping hatiku yang kembali didera pedih. Menyakitkan.

"Aku cinta Keke!" ujarnya. Terdengar seperti sebuah penegasan akan statusnya saat ini. Menekankan agar aku tak perlu dan tak berhak lagi atasnya. Termasuk tak berhak menyimpan rasa cinta yang memenuhi tempat istimewa di hatiku. Menyuruh untuk memusnahkannya sesegera mungkin.

"Dan aku ga mau siapa pun nyakitin dia. Termasuk kamu. Pelangi yang aku sayang."

Aku terkesiap mendengar kalimat terakhir yang menjadi kalimat penghujung ucapannya. Pelangi yang aku sayang. Aku pelangi. Pelangi-nya. Pelangi yang ia sayang. Dia masih ingat itu? Aku fikir, pesona Aurora telah melenyapkan hal itu dari otaknya. Tidak. Bahkan dia masih menyimpan sayang itu di sana. Di bagian kecil hatinya yang takkan bisa terjamah oleh siapa pun. Tak terkecuali Auroranya.

Aku membuka mulutku. Berusaha untuk mengeluarkan sejuta pembelaanku. Aku tak bermaksud melakukannya. Segalanya terjadi tanpa campur tangan logikaku. Semuanya hanya sebatas emosi saja. Ya, mana mungkin aku tega menyakiti Keke, sahabat manisku. Kalau pun ia, aku pasti akan menyesalinya dan mengutuk diriku sendiri seperti saat ini. Tapi semua kata-kataku seakan tercekat di rongga tenggorokkan. Tak mampu terlontar seperti yang ku inginkan. Sang monster tengah menahannya.

Rio mendesah. Menohok mataku yang berair. Lantas berkata, "Kamu bukan pelangi yang aku sayang. Pelangiku baik. Dia sayang sama sahabatnya. Selalu mau membuat sahabatnya tersenyum. Bukan malah membuatnya menangis semalaman."

Keke? Menangis semalaman? Ternyata benar. Kantung mata yang ku lihat tadi pagi adalah dampak dari tangisannya. Mata bulatnya yang indah itu berkantung. Mengharuskannya memakai sebuah kacamata untuk menutupinya. Meski memang, dia masih terlihat cantik dengan kacamata. Ya, apa pun yang ia kenakan, tak mengikis sedikit pun kecantikannya. Karena Keke memiliki hati yang jauh lebih cantik dari parasnya.

"Ma... maaf..." ujarku terbata-bata. Setetes air mata, terjun melewati pipiku. Kemudian bergelayut sejenak di ujung dagu runcingku. Sampai akhirnya mendarat di meja putih panjang di hadapanku. Aku menghela nafas. Mulai berbicara kembali. "Maaf mengecewakanmu! Maaf telah membuatmu menyesal memberikan panggilan Pelangi untukku. Maaf karena... karena aku tak pantas kamu sayangi."

"Aku yakin kamu bisa berubah. Berubah menjadi pelangi yang dulu. Yang aku sayang." Rio meraih jemari tanganku. Menggenggamnya lembut. Ini genggaman yang dulu selalu hadir di setiap ia mendaratkan kepalanya di bahuku hanya untuk menghilangkan kantuknya. Ini genggaman yang ku rindukan. Maka lewat getaran itu aku membuang setumpuk rinduku padanya. Habis tak bersisa. Tak ku sadari, rasa cinta ikut terbuang bersamanya.

"Aku sayang kamu pelangi!" ujarnya. Semakin mempererat genggamannya. Yang entah kenapa, rasanya sedikit berbeda. Tak sehangat dan menenangkan seperti dulu.

Aku menarik ujung-ujung bibirku. Mencipta seulas senyum. Senyum yang menandakan bahwa aku akan berubah menjadi pelangi yang ia sayangi seperti apa yang ia mau. Senyum yang menunjukkan bahwa kini aku kuat dan mampu bertahan. Meski tanpanya dan tanpa cinta yang telah lama tinggal di hatiku yang menghilang seiring dengan tautan jemari kami yang terurai.

"Kamu masih pakai kalung pelangi dariku?" tanyanya dengan ekspresi ingin tahu.

"Tentu."

"Kamu pakai kalung itu terus ya!" Rio memelas.

Aku mengangguk. Meski cinta itu sudah pergi entah kemana, tapi paling tidak sesuatu yang ia berikan masih tetap menggantung di leherku. Penegasan bahwa aku ini pelangi. Tetap menjadi pelangi. Tak tergoyahkan oleh segala macam prahara.

Maka kini segalanya telah usai. Kesakitanku memang belum sepenuhnya enyah. Jutaan luka itu masih menganga dan menampilkan keadaan yang menyedihkan. Tapi aku percaya, secepatnya akan ada cinta yang menyentuh relung hatiku. Lantas dengen ketulusannya akan menyembuhkan luka itu. Menyusun tiap keping hatiku sampai utuh kembali. Lalu menyempurnakannya dengan kesederhanaan sikapnya. Dan entah mengapa, aku berharap bahwa pemuda berhati malaikat itulah yang akan menjadi pemilik cinta itu.

Aku terkesiap saat mendengar suara yang sangat familiar di telingaku. Maka aku mendongak. Tersenyum mendapatinya baru saja tiba bersama seorang wanita yang kira-kira berusia 20 tahunan. Wanita itu membawa sebuah nampan dengan empat gelas berisi teh manis dingin di atasnya. "Taruh di situ aja Mbak Lilis." ujarnya dengan ramah.

Mbak Lilis mengangguk. Memindahkan keempat gelas teh manis itu ke atas meja. Sejurus kemudian membungkukkan badan seraya mengucapkan "Permisi". Kemudian segera bergegas.

Gabriel mengucapkan terimakasih. Menatapku seraya tersenyum. Aku mendesah. Lega dia telah kembali.

"Keke kemana?" tanya Gabriel.

"Ke toilet. Tapi kok lama ya? Aku susul dia dulu ya!" kata Rio lantas bergegas meninggalkan aku dan Gabriel berdua.

Keheningan kembali tercipta. Aku merasakan sesuatu yang berbeda. Perasaan canggung mulai merayapi hatiku. Kecanggungan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Tentulah. Karena Gabriel memang selalu pandai menghangatkan suasana. Namun kali ini, dia hanya terdiam. Mengunci rapat mulutnya untuk tak berbicara. Namun kedua bola matanya tak henti menohok manik mataku. Mengajakku untuk masuk ke dalam dunianya. Lantas bersama-sama menjelajahi sebuah rasa. Rasa cinta yang kini telah kembali Tuhan titipkan pada hatiku. Dan kali ini cinta itu berisikan jutaan mimpi yang dalam tiap jengkalnya berisikan pemuda berhati malaikat itu.

"Gimana?" tanya Gabriel.

Aku mengerjap. Apa tadi katanya? Oh Tuhan, ada apa dengan diriku? Mengapa tiba-tiba aku merasa gugup? Padahal aku sudah sering mendapat tatapan teduhnya. Lalu sekarang, mengapa semuanya nampak sangat berbeda? Lebih menawan. Mempesona.

Gabriel mengulang pertanyaanya. "Gimana?" lantas menambahkan kata yang memperjelas pertanyaan tersebut. "Gimana sama kamu dan hati kamu?"

Aku tersenyum. "Aku baik-baik aja. Aku kan kuat. Dan akan selalu kuat." ujarku.

Gabriel pun ikut tersenyum. Senyuman lebar khas miliknya. Lantas ia menggerakkan tangannya untuk mengacak rambutku. Lalu menepuknya perlahan.

Dan saat itu pula, sang monster tengah tertawa. Seraya menggodaku jahil. Maka aku merasakan pipiku memanas. Sepertinya semburat merah tengah mewarnai pipiku. Ah, aku tersipu. Aku malu.

"Kamu aneh." ujarnya sambil memicingkan matanya. Tangannya masih menyentuh puncak kepalaku. Sementara tangan yang lainnya ia gunakan untuk menyentuh ujung daguku. Mengangkatnya perlahan. Lalu mengamati setiap lekuk wajahku.

Tercekat. Aku menahan nafasku. Saat wajah Gabriel semakin saja mendekat dengan wajahku. Ya Tuhan, nafas hangatnya menyapu lembut wajahku. Melihat wajah pahatan sempurna miliknya, ternyata mampu membuat tubuhku kaku. Sang getaran misterius kembali hadir. Mengacaukan kerja otakku. Semakin menambah semburat merah pada pipiku.

Dan saat jarak antara wajah kami hanya tinggal beberapa centi, Gabriel terkekeh lantas menjawil hidungku. "Kamu lucu ya!" katanya seraya mengedipkan matanya nakal lantas kembali ke posisinya yang semula. Sejurus kemudian meraih segelas teh manis yang ada di meja lalu meminumnya.

Maka aku mendesah lega. Memegangi hidungku yang baru saja terkena jawilannya. Tersenyum saat kembali mendapati siluetnya yang selalu nampak sederhana. Lantas menunduk untuk mencoba menetralisir laju darahku yang tadi mengalir tak normal. Seraya terus menyusun kepingan hatiku untuk menyediakan tempat yang lebih lapang untuk menyimpan cinta yang baru diciptakan Tuhan. Cinta yang jauh lebih sederhana untuk pemuda berhati malaikat yang sederhana pula.

Dan, pada akhirnya, aku kembali mencipta jutaan harap. Harap agar cintaku tak kan bernasib semengenaskan cintaku yang pertama. Harap agar sang prahara tak kan hadir kembali untuk merusak kebahagiaan yang kelak nanti akan ku dapatkan darinya. Dan kini, aku kembali berani untuk bermimpi. Tentu saja. Karena kisah ini tercipta dari mimpi. Maka sudah sepatutnya pulalah mimpi-mimpi itu selalu mengiringi tiap inci kisah klasik ini. Tentang Hujan, Kita dan Mimpi.

*

Hujan, kini seluruh mimpiku, setiap harapku,
ada dan tercipta untuknya, Pangeran Hujanku.

*

bersambung

*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 18A


Sesungguhnya ku berpura-pura relakan kau pilih cinta yang kau mau.

~Tangga~

*

Hidup itu pilihan. Kita dibebaskan untuk memilih apa yang menurut kita baik. Tapi Tuhan jauh lebih tahu apa yang terbaik. Maka jangan salahkan takdir Tuhan. Karena, pada saat kita mencapai titik dimana kita ikhlas akan takdir yang digariskan Tuhan. Maka takdir itu pun adalah pembuktian cinta kasih Tuhan kepada mahluk-Nya.

*

Apa yang salah dari ini semua? Dari kisah sederhana yang menjelma menjadi kisah sepelik ini. Kisah yang akan tetap baik-baik saja jikalau prahara tak pernah datang dan mengacaukan segalanya. Dan seharusnya, aku tak perlu mencari apa dan siapa yang salah. Sungguh, tak ada yang salah dari ini semua. Semua peristiwa yang terjadi adalah salah satu dari bagian-bagian krusial yang menyusun tiap jejak langkah kisahku ini. Maka sekarang, aku dituntut menjadi dewasa. Ya, tiap detik yang terlewat memang adalah jalan pendewasaan.

Aku merenung. Menyelami lebih dalam makna dari kalimat ajaib yang diucapkan Gabriel tadi sore mengenai takdir. Ya, takdir yang mempertemukanku dengan Rio. Menumbuhkan cinta seiring gelak tawa yang tercipta kala bersamanya. Membuat cinta semakin membuncah tak dapat terbantah. Takdir yang juga mempertemukan Rio dengan gadis penerbit cintanya. Membuatnya merasa bahwa tak ada yang lebih penting di dunia ini selain gadisnya. Tak peduli bahwa akan ada hati lain yang terluka. Dan segalanya memang karena takdir. Lalu aku ditakdirkan untuk menjadi yang paling tersiksa. Karena gadis penerbit cinta di hati Rio adalah Keke, sahabat manisku yang paling tulus. Sedangkan mereka berdua tak pernah tahu itu. Mereka tak tahu kalau dalam hatiku ada sebuah perasaan asing bernama cinta yang sangat luar biasa. Mereka tak tahu bahwa cinta yang ku punya tercipta untuk dan karenanya. Karena pemuda tampan yang ku temui di sore berhujan silam. Pemuda yang selalu mendaratkan kepalanya di bahuku saat tiap rinai hujan menari di balik kaca jendela bis yang kami naiki. Pemuda yang selalu terlihat keren saat rahangnya bergerak untuk mengunyah tiap potong pisang goreng. Pemuda yang justru memilih cinta yang lain daripada seonggok cinta sederhana yang ku tawarkan. Pemuda yang kini telah berbahagia dengan dunia Auroranya.

Maka tak ada yang salah. Ini takdir. Takdir yang telah diputuskan Tuhan jauh sebelum kisah ini tercipta. Maka apakah aku akan menyalahkan takdir? Tidak. Hanya orang picik saja yang melakukannya. Dan aku sama sekali tak sudi termasuk ke dalamnya. Lalu sekarang aku merasa menjadi penjahat terkejam. Teringat akan sikapku pada Keke tadi dan beberapa hari sebelumnya. Membentaknya. Menolak pisang goreng buatannya. Mendakwa bahwa tersangka dari jutaan luka menganga di hati ini adalah perbuatannya. Menghukum atas dosa yang sama sekali tak dilakukannya, dengan menjauhinya. Mengabaikan permintaan tulusnya yang berisikan kalau dia hanya ingin menjadi sahabat kecilku. Menyalahi nada bicaranya yang manja dan tawanya yang renyah. Merutuki pipi kembang kempisnya yang telah membuat Rio terpesona. Dan kini, aku bahkan lebih jahat dari para koruptor.

Maka kini, yang ku lakukan hanyalah menangis di balkon kamar. Menyesali segalanya. Segala yang ku lakukan yang telah membuat hati Keke tertohok. Sebenarnya, setan apa yang membisikku niat busuk itu? Sungguh, ini bukan mauku. Tentu saja. Perbuatanku telah menodai janji suciku. Janji untuk tidak pernah membuat air mata Keke jatuh berlinang lagi, walau barang setetes. Janji untuk terus mengabadikan lengkung senyum manis yang tergambar pada bingkai wajahnya. Dan tadi sore, aku mengingkarinya. Sungguh. Aku menyesal. Teramat menyesal.

Dan kalian boleh membenciku atas semua yang telah ku lakukan. Kalian berhak. Tuhan pun juga sepertinya harus memberikan hukuman yang berat atas pengingkaran janjiku. Aku berhak menerimanya. Seluruh penghuni bumi boleh mengutukku. Tapi satu. Jangan melarangku untuk memperbaiki hubunganku dengan Keke. Jangan memintaku untuk pergi dari kehidupan Keke, karena kalian fikir aku akan melukainya lagi. Biarkan aku menebus segalanya. Menggantikan tangisannya dengan tawa renyah seperti dulu. Meski resikonya hatikulah yang akan jadi korban. Tapi paling tidak, bukan hati Keke yang terluka. Karena hatiku pun akan merasakan luka yang sama seperti luka yang dirasakan Keke. Maka inilah yang terbaik. Membiarkan Keke bahagia bersama Rio. Tanpa yakin, apakah aku juga akan ikut bahagia. Atau bahkan sebaliknya. Semakin terluka. Akhirnya mati saja.

*

Gadis itu tengah duduk sendirian sambil menekuri buku catatannya. Sesekali ia menjumputkan rambutnya yang terurai ke belakang telinga. Ia duduk sendirian. Rasanya aneh. Bukankah biasanya, setiap pagi dia selalu ditemani pemudanya yang gemar menjawil pipinya. Tapi pagi ini, pemuda itu sama sekali tak nampak. Dan aku mendesah lega. Karena hatiku tak akan mendapatkan hadiah luka sepagi ini. Aku melangkah menghampirinya.

"K-Keke." ucapku pelan, tak lebih nyaring dari desauan angin. Sehingga Keke tak bisa mendengarnya, lantas terus menekuri bukunya. Ini karena aku agak ragu mengucap namanya. Aku takut dia akan langsung menolakku. Aku takut dia tak mau berteman dengan gadis jahat sepertiku lagi. Tuhan, hilangkan ketakutanku. Pintaku dalam hati.

Maka pintaku pun terkabul saat kalimat ajaib pemuda berhati malaikat yang berada di antah berantah itu terngiang di benakku. "Dia tetap sahabatmu. Tak ada yang berubah." Ah ya, dia benar. Apa pun yang ku perbuat, seburuk apa pun itu, Keke akan tetap menjadi sahabatku. Bukankah itu yang Keke mau? Menjadi sahabatku. Harapan yang sederhana nan mulia, bukan? Dan aku yakin, hati Keke seluas samudera. Dia akan tetap menerima permintaan maaf yang akan ku lontarkan. Dia akan menerimaku lagi untuk menjadi sahabatnya. Aku sangat yakin itu. Maka aku menghela nafas lalu mulai membuka mulut untuk mengucapkan sesuatu.

Dan sebelum satu kata pun berhasil ku ucapkan, tiba-tiba Keke mendongak. Dan hatiku seketika mencelos saat mendapati kantung mata yang cukup besar di bawah kelopak mata indah Keke. Tuhan, Keke pasti menangis. Maka dari itu, matanya berkantung. Aku meneguk ludah. Menatapnya nanar. Yang ditatap malah tersenyum. Balas menatapku dengan ekspresi tak terduga. Dan akhirnya menyambutku dengan sangat ramah. Ketakutanku musnah semua.

"Ifyyyy!" pekiknya. Aku menarik ujung-ujung bibirku. Membuat seulas senyum untuk sahabatku.

"Aku mau..."

Belum selesai ucapanku, Keke tiba-tiba memotongnya. "Kamu duduk sama aku lagi ya! Duduk sama Debo ga seru tauuuu!" Keke berkata dengan nada khasnya yang manja. Matanya mengerjap-ngerjap seraya menganggukan kepala cepat. Wajahnya nampak polos dan menggemaskan.

Lihat. Keke masih bersikap ramah dan menyenangkan padaku. Seakan aku tak pernah melakukan kesalahan. Seakan antara kami tak pernah ada apa-apa. Sungguh, penyesalanku semakin membesar.

Maka aku langsung mengangguk yakin. Tak sedikit pun ragu dan berniat menolak permintaannya yang sangat sederhana itu. Lantas aku pun duduk di tempatku dulu. Tempat yang sempat ku tinggalkan lebih dari sepekan. Sejurus kemudian meletakan tas di atas meja.

"Makasih ya Ifyku sayaaang!" ujar Keke seraya tertawa menyeringai.

Ah. Ternyata melihat Keke tertawa lebih menyenangkan dari apa pun. Ya, tawa Keke memang renyah dan lucu. Aku suka itu. Dan wajar saja kalau Rio menyukai tawa Keke yang seperti itu. Sudahlah, aku belum mau membahas mengenai pemuda itu. Yang harus aku lakukan kini, meluruskan segalanya. Membenahi rajutan persahabatan yang sebelumnya kusut dan terbengkalai.

"Maafin aku ya Ke!" kataku seraya menundukkan kepala. Tak berani menatap wajah Keke. Apalagi dengan kantung matanya yang selalu saja membuat hatiku mencelos.

Keke menempelkan telunjuknya pada ujung daguku. Mengangkatnya lalu menatapku tajam. "Maaf untuk apa?" tanya Keke.

Apa? Dia masih bertanya? Apa Keke lupa apa yang telah aku lakukan kemarin? Aku membuatnya menangis. Dia masih bertanya? Aku sungguh tak habis fikir. Lantas aku mendesah.

"Keke yang salah. Ify ngelakuin itu karena Keke yang salah. Ify ga suka ya Keke pacaran sama Rio?"

Sekarang, apa yang harus aku lakukan? Mengangguk dan menceritakan bahwa aku sama sekali tidak menyukai hubungan Keke dengan Rio? Tapi apakah aku akan tega? Tentu saja tidak. Melihat sikapnya yang tak pernah berubah sedikit pun padaku, apalagi dia malah menyalahkan dirinya sendiri atas sikapku, aku takkan sanggup melakukannya. Maka kini, aku menggeleng. Memutuskan untuk berpura-pura bahagia dengan hubungan mereka. Tak peduli rasa sakit yang pasti akan ku dapat nanti.

Keke tersenyum dan mendesah lega. Kemudian kembali berujar. "Syukurlah kalau kamu suka. Abisan, Rio kan cinta pertama aku. Eh tapi, kalau kamu beneran ga suka, aku ga apa kok putus sama Rio. Asal kamunya seneng dan tetap jadi sahabat aku."

Maka sungguh, cakrawala keegoisanku luluh lantak seketika mendengar ucapan penuh ketulusan yang terlontar dari bibir manisnya. Ah mulia sekali hatinya. Hanya ingin aku merasa senang dan tetap jadi sahabatnya. Oh Tuhan, terbuat dari apa hatinya? Putih. Tak ada prasangka buruk di dalamnya. Lalu aku semakin saja merasa bersalah. Bagaimana bisa aku menorehkan luka di hati mulianya itu? Sedangkan di dalamnya hanya ada kebaikan dan ketulusan. Maka aku meloncat menghambur ke pelukannya. Merengkuh tubuh Keke. Menghadiahinya setumpuk maaf atas kesalahanku. Membersihkan hatiku dari niat untuk membiarkannya merasakan sakit yang pernah menguasai hatiku lantas membuangnya jauh. Memejamkan mata seraya berharap takkan ada lagi yang mengganggu jalinan persahabatanku ini. Apa pun itu. Sekalipun hatiku yang tersakiti lalu akhirnya teronggok mati.

Dan sepertinya, ini memang yang terbaik dari segalanya. Aku yakin aku kuat menjalaninya. Ya, kekuatan ajaib selalu disediakan Tuhan melalui senyum lebar dari pemuda berhati malaikat yang baru saja lewat. Gabriel. Dia tersenyum dan mengangguk. Meyakinkan bahwa apa yang ku lakukan adalah benar. Maka kini aku percaya dengan kalimat ajaibnya. Aku kuat dan akan selalu kuat.

*

Aku mengaku bisa. Walau hati tak bisa. Tapi Tuhan tahu aku bisa. Maka aku pun bisa.

*

Aku menceritakan segalanya pada Gabriel. Tentang penyesalanku. Sikap ramah Keke yang memukul hatiku telak. Keputusan terbaik yang ku ambil. Dan cinta yang diam-diam masih terus ku pertahankan. Cinta yang mungkin tak akan terbalaskan. Gabriel mengacungi jempol atas segalanya. Tak terkecuali kepingan cinta yang masih tersisa. Ia betul-betul memahami hatiku. Memahami bahwa cinta yang ku punya bukan cinta biasa dan terlalu tangguh untuk digoyahkan oleh apa pun. Termasuk prahara yang kejam mendera. Maka ia terus mendukungku. Senyum lebarnya menciptakan kekuatan untukku. Kalimat-kalimat ajaibnya menuntun langkahku. Dan tanpa sadar, ketulusan hatinya membuka celah istimewa di hatiku.

"Kamu hebat Ify!" ujar Gabriel seraya menepuk puncak kepalaku.

Aku tersenyum. Tersanjung atas pujiannya. Lalu menimpalnya dengan pujian juga. "Kamu ajaib Gabriel!"

"Ahahaha!" kami pun akhirnya tertawa. Tak peduli orang-orang yang ada disekitar kami. Inilah salah satu keajaiban Gabriel. Dia selalu mampu membuatku melupakan sejenak kesakitanku. Lalu yang keluar adalah gelak tawa, senyum menyeringai, candaan yang hangat, dan tentunya keyakinan yang menguatkan.

Kemudian tawaku seketika lenyap. Tersapu oleh angin yang menuntun tatapanku menuju siluet tampan di ujung kantin sana. Dia tak sendiri. Di sampingnya berdiri seorang gadis yang nampak berbeda dengan kacamatanya. Mataku pun akhirnya tertuju pada tangan mereka yang saling bertautan. Maka aku hanya bisa terdiam. Merasakan getaran hebat yang telah lama terlelap kembali hadir. Lantas getaran tersebut seakan mengaum. Mengamuk dan memaksa untuk keluar dari ragaku saat sepasang kekasih itu berjalan menghampiri tempat aku dan Gabriel berada.

Getaran itu pun seakan berubah menjadi monster menyeramkan dengan tubuh besar dan kuku panjang nan tajam saat kini mereka berdua telah berdiri di hadapanku. Lantas sang monster tajam mencakar hatiku saat aku menatap sang pemuda, dan yang ditatap enggan membalasanya, malah tega memalingkan muka. Hatiku mencelos kembali. Ditambah perih bekas cakaran sang monster.

"Kita boleh duduk di sini ga?" tanya Keke.

Sang pemuda yang kini terlihat angkuh itu pun menoleh pada Keke. Mengerenyit dan mengisyaratkan bahwa dia enggan berada di sini. Secara langsung dia menolak kehadiranku. Pemuda yang dulu begitu membuat hatiku buncah oleh perasaan bahagia kini telah berubah secepat kilat.

Keke tersenyum. Mengedikan kepala. Meminta pemudanya untuk duduk dan bergabung bersama kami. Kemudian sang pemuda menuruti permintaan Keke -walau dengan raut wajah keterpaksaan-. Dan ternyata, Keke memang memiliki kekuatan magis. Dan dengan magisnya, ia mengikat sang pemuda untuk terus menerus terpesona padanya. Bahkan bersedia melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya.

Aku menoleh ke arah Gabriel. Untung saja pemuda berhati malaikat ini ada di sampingku. Kalau tidak, aku yakin monster di tubuhku akan keluar dan memakan hidup-hidup dua mahluk di depanku. Tapi senyum lebarnya, anggukan kepalanya, kedipan matanya, menahan monster itu. Membelainya lantas sang monster pun terlelap. Aku mendesah lega. Kembali menghadapkan kepala pada dua siluet yang kini telah duduk manis di depanku. Terhalang meja putih panjang yang berada di antara kami.

"Keke bawa pisang goreng lho! Bukan buatan Keke sih, tapi ga pa-pa kan? Makan yuk!" ujar Keke seraya meletakan kotak berwarna biru di atas meja. Kemudian membuka tutupnya.

"Ga pa-pa deh! Meski bukan buatan kamu, aku yakin pasti enak. Kan Auroraku yang bawa!" ujar Rio. Dia meraih pipi Keke, lantas mencubitnya gemas.

"Rio centiiil! Kan malu tauuu!" Keke memegangi pipinya. Menoleh ke arah Rio. Lantas mengulum bibir.

Maka Rio terkekeh lucu. Sejurus kemudian mengambil sepotong pisang goreng dari kotak yang ada di atas meja. Mendekatkannya pada bibir Keke yang tengah mengerucut. Hendak menyuapi Keke.

Keke mendelik ke arah Rio. Tersenyum lantas menerka pisang goreng yang tepat berada di depan mulutnya. Seketika Rio terkekeh. Lalu memasukkan sisa potongan pisang ke dalam mulutnya. Mereka tertawa menyeringai bersama. Adegan yang sangat amat sempurna. Sempurna keromantisannya. Sempurna membuat hatiku mencelos, nafasku tercekat di rongga tenggorokkan.

Dan menjalani ini semua ternyata sangat sulit dan menyakitkan untukku. Melihat mereka menikmati pisang goreng saja, jutaan luka di hatiku semakin menganga. Apalagi harus membiarkan mereka bahagia. Apa jadinya nanti? Maka aku meraih tangan Gabriel. Menggemgamnya erat. Mencoba meminta pertolongan. Dan Gabriel adalah pemuda yang sangat peka terhadap apa yang ku rasakan. Dia menggenggam balik tanganku. Lebih erat dari apa yang ku berikan. Menyalurkan tiap inci kekuatan lewat kehangatan jemarinya. Menyusupkan keyakinan bahwa aku bisa melewati masa-masa tersulitku ini.

"Makan dong pisang gorengnya!" pinta Keke dengan sisipan nada memelas.

Gabriel menggerakan genggamannya. Seakan mendukungku untuk memenuhi pinta Keke. Dan aku bagai seorang zombi. Aku mengangguk kaku. Lalu meraih satu potong pisang goreng. Lantas melahapnya.

Dan ternyata, pisang goreng memang benar-benar berguna saat ini untukku. Karena tiap kunyahannya menciptakan secercah ketenangan yang perlahan membasuh lembut lukaku. Ah, pisang goreng selalu menjadi sesuatu yang sederhana dengan kelebihan yang berbeda. Maka aku menikmati pisang goreng dengan tangan yang masih merasakan kelembutan genggaman Gabriel. Sementara tanpa sadar, fokusku tetap tertuju pada salah satu dari siluet yang masih asyik bercengkrama. Pemuda yang masih mempesona dengan rahang yang bergerak ke atas ke bawah. Pemuda yang aromanya menjadi zat adiksi bagi udara yang ada di sekitarku. Pemuda yang tatapan teduhnya menjadi alasan untuk hatiku tetap menyimpan segores harapan. Harapan yang selalu luput dari perhatian.

Lalu aku terkesiap saat tiba-tiba Gabriel melepaskan tautan tangannya. Ia bangkit dari duduknya lalu berkata, "Kayaknya kita butuh minum deh! Aku beli minum dulu ya!"

Aku menoleh ke arah Gabriel. Mengerenyit dan menatapnya dengan tatapan kamu-mau-biarin-aku-pingsan. Yang ditatap malah terseyum dan menepuk pundakku. Sejurus kemudian pergi meninggalkanku. Memaksaku untuk bertahan tanpa kehangatan jemarinya. Tanpa senyuman lebarnya. Tanpa keajaibannya. Walau hanya beberapa waktu saja, tapi aku tak yakin bisa.

Dan ini semua memang terjadi karena takdir. Lalu takdir pulalah yang mengatur ini semua. Keke bangkit dari duduknya. Meminta izin pada Rio untuk bergegas ke toilet. Lantas setelah Rio mengangguk, ia pergi ke tempat tujuannya. Dan kini aku terjebak bersama Rio. Pencipta monster besar dalam hatiku.

Maka kini aku hanya bisa mendesah pasrah. Menanti jalannya takdir yang cepat akan bergulir. Membuktikan pada semua, apakah aku benar-benar bisa melewati ini semua. Atau lagi-lagi aku harus jatuh dan menyadari bahwa aku memang gadis bodoh lemah yang selalu kala dalam berbagai kancah.

*
bersambung.
*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 17


Dan ternyata cinta yang menguatkan aku.

~Padi~

*

Sesungguhnya, pada saat kita menganggap bahwa prahara adalah jalan yang ditunjukkan Tuhan menuju kebahagiaan. Saat kita merasa yakin bahwa kita memiliki kekuatan untuk melalui prahara yang kejam menerjang. Pada saat itulah kita tahu, Tuhan sangat amat menyayangi hamba-Nya.

*

Tak pernah sedikit pun terbersit dalam benak, bahwa segalanya menjadi serumit ini. Lebih rumit dari rentetan rumus trigonometri. Karena ternyata, masalah yang ku hadapi bukan hanya sekedar masalah cinta yang ku punya untuk pemuda tampan beraroma bedak bayi itu yang terabaikan. Karena pemuda impianku telah menemukan Gadis penerbit cintanya sendiri. Tapi lebih peliknya lagi, aku harus mendapatkan fakta menyakitkan bahwa Gadis tersebut adalah Keke, sahabat kentalku. Maka kini aku terpaksa harus merasakan betapa memusingkannya dilema.

Dilema. Dihadapkan pada situasi dimana kita harus memilih. Lantas apa yang harus aku pilih? Mengikhlaskan pemuda impianku untuk kebahagiaan mereka berdua dan resikonya, aku harus mengubur dalam-dalam cintaku. Bahkan mungkin, mengenyahkannya dari hatiku. Atau tetap mempertahankan cinta dalam hati yang telah berbentuk abstrak ini. Lalu terus berjuang untuk merebut kembali hati Sang Pemuda. Pada akhirnya, Kekelah yang akan terluka. Pilihan yang sangat sulit. Aku tak bisa memilih salah satunya.

Keke, gadis yang -mendekati- sempurna itu sangatlah hebat. Tanpa terduga, dia menyelinap masuk melalui celah terselubung ke dalam kisah ini. Kisah sederhana yang disusun oleh tiap rinai hujan yang selalu hadir dalam tiap detik peristiwa yang terjadi. Kisah klasik yang dibangun oleh angan-angan mengenai mimpi di masa depan. Kisah yang pada awalnya hanya berlakon tentang Hujan, Pelangi, Matahari dan mimpi-mimpi. Namun kini, Keke juga ikut ambil bagian di dalamnya. Dia menjelma menjadi Aurora. Sang penerbit cinta bagi hati Pangeran Matahari.

Dia tak butuh waktu yang lama untuk merubah segalanya. Hanya dalam sekejap, dia mampu menghapus kebahagiaan yang tercipta lantas memindahkan kebahagiaan itu untuk dirinya sendiri. Hanya dengan pipi kembang kempisnya, dia mampu menciptakan medan magnet yang tarikannya jauh lebih kuat. Dengan segala yang ia punya, ia menawarkan betapa cinta yang ia punya lebih menyenangkan dari cinta lainnya.

Apakah Keke yang harus disalahkan atas semua ini? Tapi Keke juga tak tahu menahu soal perasaanku. Yang Keke tahu, dia juga mencintai pemuda yang sama seperti yang ku cintai. Dia tak pernah melihat Pelangi memberikan salah satu dari warnanya pada Matahari. Maka ia pun mengambil kesempatan untuk menerbitkan cinta pada hati Matahari. Lantas ia satukan dengan cintanya.

Atau, Matahari yang salah? Matahari yang tak pernah peka terhadap Sang Pelangi. Dia tak pernah menyadari, bahwa ketujuh warna Pelangi tercipta untuk dan karenanya. Pelangi takkan pernah ada kalau matahari tak ada. Tapi dia punya dunia sendiri. Dunia yang jauh lebih indah dari dunia lengkung warna-warni Pelangi. Dunia penerbit cinta Sang Aurora.

Atau bahkan akulah yang salah? Aku yang terlalu berharap agar dia membalas cintaku. Aku yang tak pernah bisa mengendalikan perasaanku padanya. Aku yang mengundang Aurora untuk ikut masuk dalam kisah ini. Tapi memangnya, apa aku bisa untuk berhenti berharap? Bukankah berharap adalah sebuah keharusan. Walau hanya sekedar berharap dalam lelap. Lalu aku bisa menyangkal perasaan cinta yang Tuhan selipkan di hatiku? Aku tak bisa. Jangan salahkan aku!

Maka ini bukanlah soal siapa yang salah. Ini soal tiga hati. Dan hatikulah yang paling tersakiti.

Dan akhirnya kesakitan hatiku inilah yang meyakinkanku bahwa aku akan mengambil sebuah pilihan. Aku akan mempertahankan cintaku. Menata ulang kepingan-kepingan hatiku. Merebut cinta Rio. Dan membiarkan Keke merasakan apa yang ku rasakan kini.

Mungkin, keputusan yang ku ambil terkesan jahat. Tapi, bukankah Keke jauh lebih jahat? Sang sutradara juga. Si pembuat jalan cerita apalagi. Kalau mereka semua diperbolehkan untuk berbuat jahat, kenapa aku tidak?

Aku tak pernah bermain-main dengan apa yang telah ku pilih. Aku membuktikan semuanya, saat selepas bel istirahat berbunyi Keke menghampiri meja baruku.

"Ifyyy!" Keke memekik. Pekikan yang sama seperti dulu. Pekikan bersahabat. Pekikan yang setiap harinya selalu setia menyapa telingaku.

Keke meraih tanganku. Lantas dengan antusias berucap, "Ikut aku yuk! Aku mau ngenalin seseorang sama kamu. Tapi, kayanya kamu udah kenal deh! Eh tapi, kamu belum tahu kan hubungan dia sama aku? Yuk yuk!" dia mengangguk-anggukan kepalanya. Rambutnya yang dikuncir dua ikut bergoyang. Dia mengerjapkan mata. Berharap aku akan menerima ajakkannya.

Aku masih diam tak bergeming. Menatapi bulatan matanya yang cukup besar. Tatapannya sangat tulus. Dia kemudian tersenyum. Dan senyuman itu selalu menyenangkan hatiku. Lantas sekarang, masihkah senyuman itu berkhasiat yang sama? Tidak. Nyatanya, aku muak dengan senyuman itu. Aku benci sikap Keke yang ramah. Aku mengepalkan tanganku yang tak dipegang Keke.

"Ayo Fy! Dia pasti udah nungguin!" ujar Keke seraya menggoyang-goyangkan tanganku. Alisnya saling bertaut. Menatapku dengan tatapan memohon. Dia memelas. Sial. Aku tak pernah bisa melihat siapa pun memelas, apalagi Keke.

Hatiku terus berkecamuk. Sungguh, aku tak tega melihat Keke memelas, menungguku untuk mengiyakan permintaannya. Tapi, Keke memintaku untuk ikut bersamanya dan menemui Rio. Lantas memproklamirkan bahwa Rio adalah pemudanya. Aku takkan sanggup melihat itu. Tapi kalau aku menolaknya, dia pasti akan sangat kecewa. Bukankah aku telah berjanji tak akan pernah membuatnya kecewa? Tapi, setelah dia menghancurkan seluruh mimpiku, apakah aku masih tetap memegang janjiku?

Tidak. Sudah terlalu lama aku pasrah dari segala apa pun yang menyakiti hatiku. Maka sekarang, aku harus mengumpulkan kekuatan dan keberanian untuk menolak mentah-mentah permintaan Keke.

Aku melepaskan tanganku dari genggamannya dengan kasar. Menatapnya tajam tanpa belas kasihan. Menghela nafas lalu berkata "Ga mau!" dengan ketus. Aku memalingkan muka.

Keke terkesiap mendapatkan perlakuan yang tidak bersahabat dariku. Lalu senyumnya seketika hilang. Matanya menatap nanar. "Kenapa? Kamu marah ya?" Keke bertanya dengan suara bergetar.

Aku menggigit bibir. Kepalanku semakin menguat. Menggeleng perlahan. Sikap terjahat yang ku berikan untuk sahabatku yang manis. Aku merasa bersalah. Tapi, ini pilihanku. Membuat Keke juga merasakan sakit seperti apa yang ku rasakan. Walau aku tersiksa melakukan semuanya.

"Aku..." ucapanku tertahan saat melihat betapa berkaca-kaca kedua mata bulat Keke. Dia mau menangis. Aku tak rela ini terjadi. Keke harus tetap tersenyum. Tapi... lagi-lagi aku terjebak dalam pilihanku. Maka aku mengerjap, lalu melanjutkan ucapanku. "Aku ga mau, karena aku ga mau liat kamu. Aku ga suka sama kamu!"

Sungguh, kebohongan besar baru saja terlontar. Ah ya, mana mungkin aku tak menyukai Keke? Dia sahabatku, meski kini dia berubah menjadi penjahat. Dan aku harus mempertebal tembok egoku hanya untuk melanjutkan misi pengejaran mimpi.

Maka Keke hanya bisa melongo. Lalu sejurus kemudian, sebuah kristal bening mengalir melalui pipi tembemnya, diikuti kristal lain yang jumlahnya sudah tak terhitung. Keke menangis untuk yang kedua kalinya. Dan semuanya disebabkan olehku. Aku berusaha menutupi perasaan memilukan di hatiku saat tiap buliran air matanya seakan menusuk-nusuk ulu hatiku. Aku penjahat terkejam.

"Aku... aku..." Keke terbata-bata bicara. "Aku gagal jadi sahabat buat kamu!" Dan setelah pengakuan termenyedihkan dari Keke, ia melengos pergi. Meninggalkan aku yang masih terpaku. Merutuk dalam hati mengenai kejahatan yang ku lakukan.

Maka akhirnya, aku menghempaskan tubuhku ke atas kursi. Memukul meja sekeras mungkin. Lalu menangis. Menangis untuk membalas perbuatan kejamku pada Keke. Menangis dan berharap tangisanku akan menghapus luka yang baru saja ku toreh tepat di hati sahabat terbaikku. Keke tak boleh menangis lagi.

"Dia tak akan berubah. Dia tetap sahabatmu! Sahabat terbaikmu!" ujar Gabriel sambil menyusupkan jumputan rambutku ke belakang telinga.

Aku menoleh ke arahnya. Dengan mata yang basah, aku menatapnya heran. Sahabat terbaikku? Apa orang yang telah menciptakan jutaan luka menganga di hatiku pantas dikatakan sahabat sejati? Dan yang ditatap hanya tersenyum. Mengangguk pelan. Lalu mengusap sisa-sisa air mata yang masih menggenangi pipiku.

*

Cintamu menguatkan cintaku padanya.

*

Gabriel membuktikan ucapannya. Ucapan bahwa Keke akan tetap jadi sahabat terbaikku.

Sore setelah seminggu insiden kejahatan yang ku lakukan pada Keke, sepulang sekolah, aku bersama Gabriel pergi ke taman. Meski sebelumnya aku enggan untuk pergi -mengingat taman adalah tempat Rio bertemu Keke-, namun Gabriel memastikan bahwa aku akan baik-baik saja. Maka aku bersedia.

Dan aku dikejutkan oleh sebuah teriakan seseorang yang menghentikan langkah kami berdua.

"Ifyyy! Gabriel!"

Suara manja itu mengucap nama kami berdua. Lantas kami pun menoleh ke arah sumber suara. Aku terperanjat mendapati seorang gadis manis tengah duduk beralaskan rumput taman bersama pemuda yang sedang asyik menggigiti sepotong pisang goreng. Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangannya. Meminta kami bergabung bersamanya.

Aku hendak melarikan diri, tapi tangan kokoh Gabriel sigap menahannya. Maka aku pun tertahan.

"Kamu kuat dan akan selalu kuat!" ujar Gabriel lantas menarik tanganku.

Nyatanya, kalimat itu memang memiliki kekuatan magis. Karena setelah mendengarnya, aku memang tak bisa menolak tarikan tangan Gabriel yang membawaku menghampiri mereka.

"Hai Ke! Hai Yo!" sapa Gabriel lalu duduk di samping Rio.

Sementara aku, tanpa sadar juga ikut duduk bersama mereka. Mataku terfokus pada pemuda yang masih sibuk mencomoti pisang gorengnya. Dia tak menyadari keberadaanku. Bahkan mungkin, kini ia tak peduli padaku. Dan sungguh, se-menyakitkannya sikapnya padaku, aku masih tetap menyukai bibir mungilnya yang berlumuran minyak. Aku masih terbuai untuk tetap memperhatikan rahangnya yang bergerak saat mengunyah pisang goreng. Dan pada saat aku menghirup udara, aroma bedak bayinya masih tetap berkhasiat untuk mengundang getaran misterius yang telah terlelap kembali terbangun. Tentu saja, cinta untuknya, masih ku jaga.

"Ini!" Keke menyimpan sekotak pisang goreng pada kedua telapak tanganku.

Aku terkesiap. Berhenti menatapi Rio yang nyatanya tak menggubris sedikit pun kehadiranku. Lalu mendelik tajam pada Keke.

"Aku tahu kamu suka banget sama pisang goreng, makanya aku belajar buat pisang goreng sama mama. Khusus buat kamu, sahabat ter-istimewa yang aku punya." Keke mendesah. Mengambil tanganku untuk ia genggam. "Fy..." Keke menatapku tajam. "Aku ga tahu apa yang buat kamu marah sama aku. Tapi, aku cuma mau bilang, kalau aku mau jadi sahabat kamu. Sahabat kecil untuk gadis hebat seperti kamu. Aku mau jadi sahabat kamu Ify!"

Rasanya, aku ingin menusukkan pisau belati pada perutku sendiri. Supaya aku dapat membayar atas perbuatan buruk yang telah ku lakukan pada Keke. Aku ingin menghambur memeluk Keke. Meminta maaf karena kebodohanku. Aku ingin kembali bersama Keke.

Dan pada saat aku hendak mengeluarkan jutaan penyesalanku, aku kembali di hantui perasaan perih yang telah Keke bubuhkan di hatiku. Aku kembali diingatkan, bahwa apa yang Keke lakukan padaku jauh lebih kejam dari apa yang ku lakukan padanya. Maka yang ku ucapkan, sesungguhnya hanyalah luapan emosi. Bukan ketulusan dari dalam hati.

"Kamu ga pantas jadi sahabat aku. Kamu PENJAHAT!"

Dan semua yang mendengar ucapanku yang kasar tersentak. Termasuk Rio yang langsung menatapku dengan tatapan membunuh.

"JANGAN BENTAK KEKE!" dan itulah bentakkan kedua yang ku dapatkan dari Rio setelah insiden di perpustakaan silam.

Entah mendapat keberanian dari mana, aku pun kembali membalasnya.

"KENAPA? KARENA KEKE AURORA KAMU? AURORA YANG UDAH BUAT KAMU LUPA SAMA AKU, SAMA PELANGI KAMU! AKU BENCI KALIAN BERDUA!" lantas aku segera berlari meninggalkan Keke yang terisak. Membiarkan Rio menelan ludah. Sementara Gabriel mengejarku.

Akhirnya, setelah berapa saat Gabriel mengejarku, dia berhasil meraih tanganku. Menghentikan langkahku. Lantas ia membalikan tubuhku agar menghadapnya.

"Kenapa kamu bersikap seperti itu sama Keke?" tanya Gabriel

"Dia penjahat Yel!" ujarku. Tanpa sadar, kembali menangis.

"Kamu lupa sesuatu. Kamu lupa siapa orang yang selalu ada bagaimana pun keadaan kamu? Saat Agni membencimu, siapa yang selalu ada untuk melapangkan hatimu? Saat aku menghilang dari kehidupanmu, siapa yang selalu setia menemanimu? Dia Keke. Sahabat kamu!"

"Tapi kenapa harus Keke?" tanyaku retoris.

"Semuanya karena takdir yang telah disusun jauh sebelum kita ada di dunia ini."

Lalu aku tertohok. Ya, takdir. Aku tak bisa melawan takdir. Siapa pun takkan bisa melawannya. Maka kini, yang dapat ku lakukan adalah menyalahi Gabriel.

"Lalu, apa maksud kamu bawa aku ke sana? Kamu mau buat aku mati?"

"Dan sekarang, kamu ga mati, kan?"

Aku menggelengkan kepala. Tak habis fikir dengan pemuda ini? Apa dia tak mengerti, bahwa keadaanku sudah benar-benar menyedihkan? Aku mendesah lantas berkata pelan, "Cinta aku udah mati."

Maka Gabriel menyentuh dagu runcingku. Memberikan tatapan elangnya. Lantas berujar yang kembali membuat hati bergetar.

"Cinta kamu hanya tersakiti. Dan kamu tak usah khawatir. Karena cintaku yang akan menyembuhkannya."

Pada akhirnya, aku kembali terpana pada segala yang ada pada pemuda berhati malaikat di hadapanku ini. Lantas aku kembali menghambur dalam pelukannya. Dan tanpa segan, dia pun kembali meminjamkan hangat tubuhnya untuk menguatkan aku.

Dan Gabriel memang bukanlah pemuda yang biasa. Karena disela kesederhanaannya, dia menunjukkan betapa aku jauh lebih kuat dari apa yang ku bayangkan. Kebijakkannyalah yang telah meyakinkan hatiku agar aku tetap mempertahankan cinta yang telah diambang kematian. Ketulusannya dalam menuntunku secara perlahan untuk melewati kejamnya prahara, menumbuhkan keyakinan bahwa prahara bukanlah hal yang mengerikan. Tapi prahara adalah jalan terbaik yang diberikan Tuhan untuk mencapai zona kebahagiaan. Maka aku sangat bersyukur karena Tuhan menunjukkan kasih-Nya lewat pemuda tampan berhati malaikat ini. Pemuda yang memberikan cinta tulusnya untuk menguatkanku agar tetap mencintai pemuda impianku dengan sederhana. Bukankah keinginanku hanya satu hal itu saja? Mencintai dengan sederhana. Dan meski dia tak menjadi milikku, aku masih tetap bisa mencintainya. Cinta yang sederhana.

Dan sambil membelai rambut ikalku, dia berbisik. "Kamu kuat tanpa harus jadi penjahat."

*

bersambung

*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 16


Saat kita merasa lelah untuk terus melanjutkan perjalanan mengejar mimpi. Saat tubuh kita merasa lemah tak berdaya untuk tetap bertahan atas segala macam gempuran prahara. Saat kita yakin bahwa kekuatan yang kita miliki telah terkuras habis tanpa sisa. Maka tenanglah, sesungguhnya tanpa kita sadari kekuatan yang jutaan kali lipat lebih hebat selalu tersedia. Kekuatan yang disuguhkan oleh Sang Pemilik Alam bagi hamba-nya yang ikhlas. Kekuatan cinta.

*

"Kamu kuat dan akan selalu kuat."

Siapa yang menyangka bahwa seutas kalimat biasa tersebut ternyata menyimpan kekuatan magis yang sangat luar biasa? Adakah yang mengira bahwa ternyata kalimat yang hanya terdiri dari enam kata sederhana itu mampu menggetarkan seluruh penghuni langit dan bumi? Maka pantaslah, jikalau pemuda yang menuturkan kalimat 'ajaib' itu pun begitu dielu-elukan oleh tiap jiwa penghuni bumi. Dan para warga langit berdecak kagum. Lalu kemudian mereka serempak bersorak mengucap satu nama. Nama seorang pemuda berhati malaikat yang sederhana. Pemuda yang sampai saat ini masih terus menyelipkan ketulusan dalam tiap hela nafasnya yang hangat. Pemuda yang selalu memamerkan senyum dengan lengkung yang mempesona. Dialah Gabriel.

Lalu memangnya, hatiku saja yang bergetar? Tentu bukan hanya itu. Aku bahkan begitu takjub padanya. Tanpa sadar, aku membangun tembok keterpanaan dalam hati. Terpana padanya. Pada senyum mempesonanya. Pada tutur ajaibnya. Pada kesederhanaan sikapnya. Dan pada ketulusan hatinya yang sesungguhnya perlahan menyembuhkan torehan luka menganga di hatiku. Lambat-laun menyusun jutaan kepingan hatiku hingga kini tidak terlalu menyedihkan dari sebelumnya. Dan yang terpenting adalah ketulusannya mengandung kekuatan. Kekuatan yang ia salurkan melalui tiap belaian lembut tangannya. Kekuatan bernama cinta.

Cinta memang selalu menguatkan. Maka cinta yang Gabriel sisipkan bersama ketulusannya jugalah yang menguatkanku. Dia mengulurkan tangannya untuk menarikku bangkit. Dia menuntunku untuk berjalan lantas melanjutkan petualangan memenangkan cinta. Dan kekuatan cinta itu lamat-lamat menggali lagi tumpukkan perih yang menimbun cintaku. Cinta untuk pemuda lain di sana.

Masih dalam rengkuhannya, aku menghela nafas. Rasa lega kini menggelayuti hatiku, kala harum maskulin alaminya yang bercampur dengan aroma khas hujan ikut masuk memenuhi kuota udara pada tiap sudut rongga pernafasanku. Maka aku membuka mata sebentar dan sejurus kemudian memejamkannya kembali. Merasakan betapa kekuatan itu telah mampu menciptakan mimpi yang baru. Mengembangkan sebongkah asa yang tersisa. Mengeluarkan rasa cintaku dari dasar kesakitan.

Selanjutnya, aku mendesah tak kentara. Membuka mata. Mengurai tanganku. Keluar dari dekapan penuh cinta Gabriel. Dan saat bola mataku hendak menatap kedua mata elangnya, terlebih dulu kilat yang terpancar dari dua manik matanya menyambar mataku. Aku terperanjat. Mendapati ombak yang berkejaran pada bulatan coklat indah miliknya. Ombak yang seakan menghentakku untuk tetap bertahan dalam keadaan yang sangat menyiksa ini. Maka aku kembali dirundung ragu. Mampukah aku untuk bertahan? Kuatkah aku untuk melanjutkan tiap episode drama kehidupan yang kadang selalu menghabiskan jatah kebahagiaan untukku? Sanggupkah aku tetap menjaga cinta yang keadaannya lebih mengenaskan dari jutaan rakyat indonesia yang mengalami kekeringan? Aku tak yakin itu. Aku mendesah putus asa. Mataku nanar menatapinya.

"Kamu kuat Ify!" ujarnya mantap diiringi senyuman lebar khasnya.

Benar. Aku kuat kini. Tapi nanti? Aku menggelengkan kepala seraya menggigit bibir.

"Lalu bagaimana nanti?" tanyaku retoris disertai kegelisahan yang amat kentara.

Gabriel tersenyum menyeringai. Dia meletakkan kedua tangannya pada bahuku. Menatapku tajam dan tegas. Melesakkan tiap jengkal kekuatan lewat tuturnya.

"Tak ada yang berubah. Kamu akan tetap jadi Ify. Ify yang kuat dan akan selalu kuat!"

Entah bagaimana caranya, tiba-tiba kini rasa takut kehilangan menyelubungi hatiku. Kini aku kuat karena ada cinta dan ketulusan Gabriel yang menguatkanku. Selanjutnya? Akankah Gabriel terus menyuplai kekuatan cintanya untukku? Maka aku pun bertanya, "Lalu kamu?"

"Aku pun akan sama seperti kamu. Aku tetap jadi Gabriel. Sang Hujan untuk pelangi cantik seperti kamu!"

Kalimat-kalimat yang Gabriel ucapkan memang adalah kalimat-kalimat yang 'ajaib'. Dan keajaibannya itulah yang menyingkirkan rasa ragu dan takut yang merayapi hatiku. Digantikan kekuatan untuk bertahan dan keyakinan mewujudkan harapan. Pada akhirnya aku pun tersenyum. Bersemangat meloncat memeluk tubuhnya. Erat. Tanpa sekat. Berharap pelukanku akan mengikatnya untuk tetap berada di sampingku. Karena aku membutuhkan kesederhanaan, ketulusan dan kekuatan cinta Gabriel.

*

Keke tengah mengulum bibirnya. Kedua tangannya yang terlipat di depan dada menunjukkan bahwa ia tengah merasa sebal. Bagaimana tidak? Pemuda tampan di sebelahnya sedari tadi memainkan rambut ikalnya yang dikuncir dua. Lalu mencubit gemas pipi tembemnya. Kedua kegiatan 'nakal' itu ia lakukan bergantian. Begitu seterusnya. Sampai akhirnya Keke mendengus dan menggeleng-gelengkan kepala. Menyebabkan rambutnya menyisir wajah pemuda-nya. Membuat pemuda itu geli dan terkekeh sendiri.

"Rio nyebelin tauuuu!" Keke merengek dengan suara khasnya yang manja.

Sementara Rio menyeringai. Ini yang dia sukai. Rengekan gadis-nya yang manja. Dan rengekan itulah yang membuatnya bisa jatuh cinta pada gadis manis di sebelahnya. Lalu dengan nakal, menjawil pipi Keke. Habis, Keke lucu sih. Rio jadi tidak bisa menahan tangannya untuk tidak menjawil pipinya yang kini merona dibuatnya. Rio tertawa melihatnya.

"Riooooo!" Keke kembali merengek. Sekarang, makin manja. Membuat cinta di hati pemuda yang masih terus tertawa itu semakin bertambah.

"Ih merah! Malu ya? Ahaha!" goda Rio sambil menunjuk-nunjuk area pipi Keke yang terlukis semburat merah. Menggemaskan.

"Hah?" Keke terburu-buru menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rio itu bisa-bisanya membuat pipinya merona. Padahal sebelumnya tak pernah ada yang bisa membuatnya seperti itu. Tersipu malu. Tentu saja. Ini kali pertamanya merasakan yang namanya jatuh cinta. Riolah pemuda pertama yang membuatnya seperti menari di atas kerajaan awan, bersama ribuan kupu-kupu cantik yang berkejaran memburunya. Lelehan minyak di sudut bibir mungil Riolah yang mampu membuatnya merasakan euphoria yang sangat dahsyat. Rio itu cinta pertamanya.

Dan Rio pun sama. Pipi kembang kempis Kekelah yang melesakkan angan-angannya ke angkasa. Rengekkan manja Kekelah yang selalu mampu membuatnya tersenyum dan meluluhkan egonya. Hanya tawa renyah Kekelah yang bisa menggelitik hatinya. Keke itu cinta pertamanya.

Maka tawa Rio makin lepas melihat tingkah Keke. Gadisnya memang beda dari gadis lain yang sebelumnya ia temui. Keke begitu ceria. Dia pintar menghidupkan suasana. Maka Rio tak menyesal cintanya diterbitkan oleh Keke.

Rio mengacak poni Keke yang sangat lucu. Lantas menggenggam pergelangan tangan Keke. Memaksa telapak tangannya agar terlepas dari wajahnya, sehingga Rio dapat dengan leluasa melihat ekspresi wajah Keke yang -pasti- sangat lucu. Terlebih dihiasi oleh warna merah. Pasti akan sangat cantik di mata Rio.

Tapi Keke tak mau wajahnya yang aneh terlihat. Maka sekuat tenaga ia menahan tangannya untuk tetap menutup seluruh wajahnya. Ia menggeleng saat tarikan Rio yang semakin kencang. Rio juga tak ingin menyerah. Kapan lagi ia dapat melihat wajah Keke yang malu-malu. Jadi ia pun mendekatkan wajahnya pada wajah Keke yan tertutup. Menarik tangan Keke dengan lebih keras.

Dan Dewi Fortuna sedang tak berpihak padaku. Aku datang di saat yang sangat tidak tepat. Memaksaku untuk melihat adegan yang sangat mesra itu. Adegan dari drama sialan yang lagi-lagi membuat hatiku mencelos. Menghancurkan hatiku yang sebelumnya telah susah payah ku tata. Menyusutkan harap yang sempat meluap. Dan adegan 'menjijikan' itu telah menghujam luka -yang aku tak tahu kapan sembuhnya- dengan tanpa perasaan. Lukaku semakin menyakitkan.

Cinta yang masih ku jaga hanya untuk pemuda yang menjadi salah satu pemeran dalam adegan itu pun kembali teronggok. Kini hanya tinggal menunggu kematian, ketika gadisnya tetap berkeras kepala untuk tidak menjauhkan telapak tangan dari wajahnya membuat sang pemuda menyerah, lantas mendorong kepala gadisnya untuk masuk dalam dekapan hangatnya. Dekapan penuh cinta untuk gadis penerbit cintanya yang pertama.

Aku tak akan sanggup melihat kelanjutan dari adegan memilukan hati itu. Maka dari itu aku mundur dua langkah. Berjalan ke samping kanan. Membalikkan badan dan menyandarkan tubuh pada tembok di belakangku.

Aku tak dapat berpura-pura kuat. Saat ini, kekuatanku tak ada. Maka aku membuat kekuatan sendiri dengan menggenggam bandul pelangi kalungku. Bodoh. Ternyata hal itu membuatku semakin rapuh. Aku melupakan sesuatu. Kalung itu adalah pemberian dari pemuda penoreh luka. Maka aku membiarkan setetes bening bergulir melewati pipiku. Diikuti tetesan lain yang jumlahnya tak dapat lagi terhitung.

Perasaan perih pun membubuhi hatiku, kala rengekkan manja Keke diselingi tawa lepas Rio terdengar menusuk-nusuk gendang telingaku. Aku begitu mengenaskan.

Aku tak menyadari bahwa aku telah menghabiskan banyak waktu hanya untuk berdiri di balik tembok sambil menangis. Dan aku juga tak menyadari bahwa tangan seseorang kini menggenggam tanganku lantas menariknya masuk ke kelas.

Saat aku membuka mata, ternyata tangan pemuda berhati malaikatlah yang tengah menuntunku. Kembali menguatkan aku. Maka aku pun menghapus sisa air mataku dan sejurus kemudian berjalan mengekorinya. Tanpa memikirkan apa yang nanti akan ku lakukan. Aku tak khawatir. Ada Gabriel. Pangeran hujan.

Ternyata, Gabriel membawaku mendekati meja Keke sekaligus mejaku juga. Aku tak tahu, sanggupkah aku berada di dekatnya? Penghancur seluruh harapku.

"Ke, Alyssa duduk sama aku ya! Dia mau ngerasain suasana baru. Kamu duduk sama Debo dulu." ujar Gabriel.

Keke mengerutkan kening. Mungkin dia heran mengapa tiba-tiba aku mau duduk dengan Gabriel. Tapi aku juga tidak tahu rencana Gabriel. Yang jelas, dia memang pemuda yang selalu mengerti aku. Dia tahu bahwa aku akan merasa tersiksa kalau aku berada di dekat Keke.

Keke menatapku tajam. Aku hanya bisa menunduk. Tak kuasa melihat tatapan bersahabat yang terpancar dari matanya yang indah. Tatapan itu pasti akan meluluhkanku dan akan membuatku menyerah. Maka aku menghindarinya.

"Oh, ya udah! Jagain Ify Alyssaku tersayang ya!" Keke mewanti-wanti dengan gaya bicaranya yang khas. Ceria dan ramah.

Gabriel mengangguk mantap lalu menarik tangangku yang masih bertaut dengan tangannya. Melangkah menuju tempat duduknya dan tempat dudukku yang baru. Aku sempat melirik ke arah Keke. Dan dia selalu seperti itu. Tersenyum. Sanggupkah aku membencinya? Mampukah aku menghindarinya? Tegakah aku menjadikannya penjahat? Dia sahabatku. Satu-satunya sahabat yang tak pernah pergi meninggalkanku kapan pun itu, entah saat aku terpuruk atau saat aku bersinar. Tapi, apalah artinya sahabat kalau dia ternyata pelaku dari tersakitinya hatiku. Itu yang namanya sahabat? Bukankah itu adalah penjahat?

Maka setelah aku berhenti tepat di depan meja di ujung ruangan, aku kembali mengeluarkan pertanyaan retoris. "Kenapa Keke bersikap seperti itu?"

Gabriel tersenyum dan menoleh ke arahku. Aku yakin, dia pasti akan menjawab pertanyaanku dengan bijak.

Benar. Setelah mendesah, ia pun menjawabnya. "Dia sahabatmu. Tak akan ada yang berubah."

*

bersambung

*