Minggu, 30 Oktober 2011

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 15


"Menangislah! Hujan selalu punya cara untuk menghapus tangismu."

*

Apa yang kini dapat dilakukan dengan hati yang hancur lebih dari berkeping-keping? Dengan jutaan luka menganga yang kini bukan hanya berdarah, namun bernanah? Menata ulang kepingan-kepingan itu. Mengobati jutaan luka menganga itu. Bersabar dengan segala penderitaan itu. Bertahan dari segala sepak terjang sang prahara. Sangat mustahil. Maka, yang dapat dilakukan kini hanya satu, meyakini bahwa Tuhan Maha Baik. Dia akan menyembuhkan kesakitan itu. Bahkan kalau kita ikhlas, Tuhan akan memberikan kasih-Nya yang lebih dari kasih-kasih yang lain.

*

Jangan menyerah pada prahara. Karena itu berarti sama saja dengan membiarkannya berbahagia di atas kesakitanku. Menyuruhnya menari di atas kehancuranku. Membuatnya merasa menjadi pemenang dalam kancah pertempuran ini. Lalu memangnya, aku sekuat itu? Perlu kalian ketahui, aku sudah sering merasakan berbagai perih dari prahara yang diberikan oleh Tuhan. Dan aku masih bisa bertahan lalu bangkit lantas kembali melanjutkan hidup. Tapi prahara kali ini menyadarkanku, bahwa aku tak sekuat itu. Aku terhempas terlampau dalam. Terpelanting jauh mengenaskan. Sehingga seluruh tulangku patah. Menyebabkan aku tak mampu bertahan. Bahkan, untuk sekedar bangkit dan berdiri pun aku tak sanggup. Lalu sekarang apa yang bisa ku lakukan? Mendesah pasrah. Menunduk putus asa. Menyerah pada prahara.

Dan saat aku benar-benar merasa menjadi seorang pecundang. Saat aku hendak memproklamirkan kekalahanku atas sang prahara. Hujan datang mencegahku melakukan semuanya. Hujan membawa bala bantuan. Ya, dia. Pemuda berhati malaikat. Pemilik senyum lebar nan menenangkan. Empunya tatapan elang yang meneduhkan. Dia yang tanpa sadar selalu hadir dalam tiap lembar jalan hidupku. Dia yang selalu siap menopangku saat aku terjatuh. Dia yang sampai detik ini masih ikhlas membiarkan dadanya tergenang oleh rembesan air mataku. Dia yang -mungkin- sampai nanti akan selalu ada di kala aku membutuhkan seseorang untuk menguatkanku. Dia. Gabriel. Sang Pangeran hujan.

*

"Menangislah! Hujan selalu punya cara untuk menghapus tangismu."

Setelah seuntai kalimat terlontar dari bibirnya yang manis. Telingaku berdesir takjub. Kalimat yang sesungguhnya sangat sederhana. Namun, karena kesederhanaan itulah, kalimat tersebut menjelma menjadi kalimat yang luar biasa. Menggetarkan hati seluruh penghuni bumi. Meruntuhkan niatku untuk menyerah begitu saja dari sang prahara. Meluluhkan kekeras kepalaan sang pembuat jalan cerita agar tidak terus menerus menyiksa sang pemeran utama. Membangun keterpanaan yang begitu hebat. Dahsyat. Karena dalam tiap jengkal tutur kalimat tersebut, ketulusan hati ikut mengiringi.

Maka aku tak segan terus menerus menangis dalam dekapannya. Karena dalam lingkar tangan kokohnya, aku merasakan sebuah rasa asing yang perlahan menyembuhkan, menyelinap masuk di antara jutaan luka menganga. Aku mendengar detak jantungnya yang mengetuk jiwaku dengan begitu tulus. Dan deru nafasnya yang terasa hangat menyapa puncak kepalaku, membuatku merasa tenang dan yakin bahwa masih tersisa harapan. Meski harapan untuk sekedar bertahan.

Kemudian aku mendongak. Dan hatiku merasa lega, mendapati senyuman lebar itu masih menghiasi wajah tampannya. Maka aku mendesah pelan. Sayang. Desahanku tak cukup pelan untuk menyapa indra pendengarannya. Maka dia pun menunduk. Membuat wajah kami berhadapan dengan jarak yang hanya beberapa centi. Dan aku hanya bisa membisu, saat tatapan elangnya menerka tepat kedua manik mataku. Di sana. Di bola mata elangnya yang berwarna coklat, aku menemukan sebuah cahaya yang memancar begitu indah. Aku terpana. Karena nyatanya, dalam tiap kilau cahaya itu, aku kembali menemukan sebuah ketulusan. Ketulusan Gabriel.

"Kalau belum tenang, teruskan saja!" ujarnya lembut sambil menyingkirkan jumputan poni yang basah dan membuat bingkai pada wajahku ke pinggir.

Seperti kalimatnya yang pertama, kalimatnya kali ini pun membuat hatiku berdesir. Gabriel adalah pemuda yang sangat berbeda.

Aku mengerjap. Melingkarkan dua tanganku untuk merengkuh tubuhnya. Kembali menenggelamkan wajah pada dada lapangnya. Memejamkan mata. Dan menangis lagi.

Sesungguhnya, menangis bukan menunjukkan kalau orang itu lemah atau cengeng. Namun menangis adalah cara untuk mencapai ketenangan hati. Dan itulah yang ku lakukan sekarang. Karena sejujurnya, dengan menangis dalam dekapan pemuda berhati malaikat ini, aku menemukan sebuah ketenangan. Apalagi kini, dia mempererat pelukan hangatnya. Mengelus lembut punggungku. Membuat aku kuat dan semakin yakin bahwa aku akan bertahan, bahkan terbang lantas mengembalikan semuanya seperti semula.

Setelah beberapa lama aku menangis dalam dekapan tulusnya, aku merasakan kini hujan lambat laun mulai undur diri, hanya menyisakan rintikan kecil menggemaskan. Maka aku pun bertanya, "Mereka udah pergi?"

"Dari tadi."

Lantas aku mengurai tanganku. Diikuti Gabriel yang juga membiarkan aku keluar dari dekapannya. Dia kembali tersenyum.

"Maaf!" ujarku sambil menghapus sisa air mata yang bercampur dengan air hujan. Namun Gabriel menahannya dengan tangan kiri. Menggerakkan tangan yang sebelah kanan. Menggantikan tugas hujan untuk menghapus air mataku.

Setelahnya, dia menurunkan kembali tangannya. Mengusap tetesan hujan yang bergelayut lucu pada wajah tampannya.

"Kamu baik, seperti hujan!" aku bergetar mengucapnya. Sungguh. Demi apa pun. Itulah kalimat yang paling tulus, yang tercipta dari hati yang paling dalam. Hati yang kini lukanya telah bersih dari nanah. Dan rasa asing yang diselipkan Gabriel melalui kebaikannyalah yang membersihkannya.

Seperti biasa. Dia hanya tersenyum. Senyum dari seorang pemuda berhati malaikat. Senyum yang menambahkan kekuatan di hatiku untuk kembali merangkai mimpi. Merajut harap.

Gabriel mengulurkan telapak tangannya yang terbuka. Menantiku untuk segera meraihnya. Seperti sang pangeran mengajak seorang putri untuk berdansa.

Aku mengerenyit tak mengerti. Apa? Dia benar-benar tidak mengajakku berdansa di tengah lapangan basket, kan?

Gabriel menghela nafas. "Guru-guru ada rapat. Kita pulang lebih cepat. Ayo pergi! Kita main hujan-hujanannya di tempat lain." ujarnya sambil tersenyum menyeringai.

Dan, setelah hantaman menyakitkan dari prahara beberapa saat yang lalu, untuk yang pertama kalinya aku dapat tersenyum. Senyum tulus untuk dan karena pemuda berjiwa tulus. Lantas aku meraih tangannya. Lalu sejurus kemudian, Gabriel menggenggam tanganku. Membawaku menuju dunianya. Dunia yang sederhana namun penuh ketulusan.

*

Sederhana itu dekat sekali dengan ketulusan.
Dan ketulusan itu kunci utama untuk membuka pintu hati.

~Darwis Tere-Liye~

*

Aku membenahi posisi dudukku. Berpegangan pada jaket hitamnya. Lalu mengangguk setelah Gabriel bertanya, "Udah siap?" Sejurus kemudian, dia mengayuh sepedanya. Melaju di antara gerimis yang masih asyik menari.

Ah, aku masih tak percaya dapat melakukan ini. Pergi meninggalkan tempat yang menyebalkan sekaligus menyakitkan tadi. Aku fikir, setelah kehancuran hatiku, selepas tertimbunnya cintaku, aku akan mematung di sana. Jatuh tersungkur. Lalu pada akhirnya mati mengenaskan. Tapi sekarang, pemuda berhati malaikat di depanku mematahkan segalanya. Dia yang ikhlas untuk menjadi yang terakhir -sebelum Tuhan- untuk menjadi tempat pengaduanku. Dia yang sukarela mengelus pundakku, untuk menciptakan jutaan amunisi semangat baru, agar aku kuat. Supaya aku yakin, bahwa harapan takkan pernah habis. Selalu tersisa walau hanya setitik. Selalu tersedia meski tak sebesar harapan yang semestinya. Dia yang tulus mendekapku agar aku percaya, bahwa aku akan mampu bertahan dalam segala keadaan. Sekalipun menyakitkan.

"Aku sengaja bawa sepeda. Biar aku bisa hujan-hujanan. Hehe... Kalau dijemput kan, ga bisa main sama hujan." celoteh Gabriel sambil terus mengayuh sepedanya.

Aku tersenyum mendengarnya. Gabriel sama sepertiku. Menyukai hujan. Aku mendesah.

"Kamu suka hujan, kan?" tanya Gabriel.

Apa? Darimana dia tahu bahwa aku menyukai hujan? Aku mengerutkan kening. Heran.

Gabriel mendesah. Berhenti mengayuh. Mengerem sepedanya hingga berhenti. Menoleh ke arahku. Menatapiku tajam. Lalu bertanya, "Kamu lupa siapa aku?"

Lupa? Aku ingat. Aku kan tidak sedang amnesia. Aku ingat. Dia Gabriel. Teman sekelasku. Ketua ekskul musik. Atlit basket. Aku ingat. Tak ada yang aku lupakan. Aku terus mengerenyit.

Gabriel mendesah. Mendekatkan wajahnya padaku. Menatapku beberapa detik. Lalu mengedipkan mata kirinya sambil tersenyum. Ya, aku ingat. Kedipan 'nakal' itu. Kedipan yang kini mengingatkan pada kenangan masa kecilku yang sempat terabaikan.

Aku mengerjap. Mengangguk. Lalu berkata, "Siapa bilang aku lupa? Aku ingat kok! Kamu Gabriel. Emm..." Aku menggigit bibir lantas melanjutkan ucapanku, "Sepupunya Agni yang paling centil!"

"Tapi ganteng! Wlee..." ujar Gabriel sambil menjulurkan lidahnya. Menampakkan ekspresi yang sangat lucu.

Aku mendengus. Menggerakkan tangan untuk meraih perut Gabriel. Lalu akhirnya mencubitnya gemas.

"Aww..." dia meringis kesakitan sambil memegangi perutnya yang kena cubit. Mukanya lucu sekali.

Aku terkekeh sendiri. Lantas dia mengulum bibir. Lalu kembali mengayuh sepedanya. Meneruskan perjalanan.

"Aku kangen sama kamu Fy! Kangen masa kecil kita." celoteh Gabriel seakan membuka kembali memori masa kecilku. Hmm... maksudku masa kecil kami.

Ya. Aku ingat semuanya. Betapa masa kecil kami begitu menyenangkan. Meski dulu kami tidak bersekolah di sekolah yang sama, tapi karena Gabriel sepupu Agni, dan Agni adalah sahabatku, maka tak jarang Agni mengajak Gabriel untuk bermain bersama. Dan insiden basket tempo dulu itu yang membuat hubunganku dengan Agni menjadi kurang baik, sehingga hubunganku dengan Gabriel pun merenggang. Dan akhirnya menjauh.

"Dulu kan kita sering hujan-hujanan bareng. Seru tauuu! Ahaha..." kata Gabriel seraya terkekeh.

"Iya. Kita berempat selalu bersama-sama. Aku, kamu, Agni, dan Ke..." aku berhenti berkata saat menyadari siapa nama berikutnya yang akan mengisi kalimatku yang terpotong. Nama itu. Nama yang kembali menebarkan perih di atas luka yang sempat -sedikit- membaik. Membuat hatiku semakin mencelos. Memupus kembali harapan-harapan yang sempat tercipta. Aku menggigit bibir. Menunduk. Mendesah berat.

"Dan hujan." kata Gabriel cepat mengetahui aku mulai di dera keresahan. Ah, Gabriel memang peka. Selalu mengerti perasaanku. Dia berbeda. Dia tak seperti pemuda yang mungkin sekarang sedang bersenang-senang bersama penerbit cintanya. Sudahlah. Apa lagi yang bisa diharapkan dari pemuda tidak peka itu? Kenapa pula aku harus repot memikirkannya? Aku berdecak.

"Kamu masih ingat rumah pohon yang ada di belakang rumahku?" tanya Gabriel.

Aku terkesiap. Mengerenyit. Lalu baru ingat mengenai rumah pohon yang Gabriel tanyakan. "Iya. Masih ada, kan? Aku mau ke sana!"

"Tentu." ujar Gabriel dengan senang hati.

Gabriel tidak pernah berubah. Dari dulu dia selalu seperti itu. Selalu melakukan apa saja dengan ikhlas dan senang hati. Dan satu lagi, dia menyenangkan, seperti hujan.

*

Mataku membelalak. Melihat rumah pohon yang masih tetap seperti dulu. Tak ada perubahan mencolok. Hanya satu mungkin, rumah pohon ini terlihat lebih rapi. Tentu saja. Dulu kan, kami sering bermain disini dan membuat tempat ini seperti kapal pecah. Lantas sekarang, siapa yang akan menciptakan suasana tersebut.

"Cuma aku yang sampai sekarang masih tetap main di sini. Agni udah ga mau. Katanya, ini tempat anak kecil. Ah, andai aja kamu sama Agni ga pernah bermasalah. Pasti tempat ini, akan seramai dan seberantakan dulu. Sayang banget!" Gabriel berdecak.

Aku menunduk. Menggigit bibir. Merasa sangat bersalah. Kalau saja aku tidak bertindak bodoh, dan dapat menghindar dari insiden basket itu, semuanya tak akan seperti ini. Sudahlah. Toh, semuanya sudah kembali lagi. Aku dan Agni kini juga sudah bersahabat baik lagi.

Kemudian, aku tertarik untuk menanyakan suatu hal. "Kenapa? Kenapa kamu tak mengajakku ke tempat ini dari dulu? Kita udah hampir 3 tahun sekolah di sekolah yang sama."

Gabriel mendesah. Menepuk pundakku pelan. Kemudian tersenyum. "Kamu tidak seterbuka dulu. Aku menunggu waktu yang tepat."

Aku menghela nafas. Baru sadar, ternyata banyak sekali dampak dari perubahan sikapku. Aku kembali mendesah.

"Kamu ingat ini?" Gabriel menunjukkan sebuah pistol mainan yang terbuat dari bambu.

Aku mendongak. Tersenyum melihat pistol mainan yang menggemaskan itu. Lalu secepatnya, aku raih pistol mainan itu dari tangan Gabriel.

"Ayo cari burung! Kita tembak dia!" ujarku antusias lantas mengerjapkan mata beberapa kali.

Gabriel tersenyum. Menggeleng-gelengkan kepala. Mendaratkan telapak tangannya pada puncak kepalaku. Lalu mengacaknya gemas. Dan sejurus kemudian, dia meraih tanganku yang tengah mengarahkan pistol bambu ke sasaran tembak dari belakang. Membuatku terkurung dalam lingkar tangan kokohnya untuk yang kedua kali.

"Tuh ada burung!" kata Gabriel.

Sayang. Bukanlah burung yang ku lihat. Tapi adegan menyakitkan dari dua pelakon jahat di bawah sanalah yang ku lihat. Di taman itu. Mereka kembali mempertunjukan adegan yang -sok- romantis. Berkejaran sambil meniup gelembung. Menjijikan.

Aku melepaskan genggamanku dari pistol bambu. Merasakan betapa luka di hatiku semakin parah dan kembali bernanah. Harapan kecilku menghilang. Cintaku tertimbun sampai ujung kedalaman bumi. Menyesakkan.

Maka aku mengepalkan tangan. Menggigit bibir. Merasakan kini buliran bening kembali menggenangi mataku. Bersiap tumpah. Menciptakan sungai di permukaan pipiku.

"Hujan udah pergi. Sekarang kalau aku menangis, siapa yang akan menghapusnya?" ujarku dengan suara yang sangat bergetar.

"Aku akan menggantikan hujan." bisik Gabriel pelan namun berenergi, disertai ketulusan yang kembali menggetarkan hati.

Dan pada akhirnya, aku berbalik dan langsung menghambur pada pelukan pemuda yang tak pernah berkeberatan dengan keadaanku yang sangat menyedihkan. Dia malah menangkap tubuhku. Kembali membuat lingkar tulus dan menguatkan oleh kedua tangannya. Mendorong kepalaku agar tenggelam di dadanya. Mengelusnya lembut. Dan lantas, apa kini yang bisa ku lakukan selain menangis? Ya, aku menangis lagi. Dan lagi-lagi, pemuda berhati malaikat inilah yang ikhlas menawarkan apa yang dia punya untuk menguatkan dan menenangkanku.

"Aku...lemah. Aku...rapuh. Aku...ga bisa bertahan." ujarku terisak, masih menumpahkan tangis dalam keikhlasannya.

Lalu Gabriel membisikkan sebuah kalimat. Kalimat yang sederhana, namun ketulusannya berjuta kali lipat dari kalimat sebelum-sebelumnya. Kalimat yang bukan hanya menggetarkan penghuni bumi, namun kini seluruh penghuni langit pun ikut takjub akan dahsyatnya kalimat itu.

"Kamu kuat. Dan akan selalu kuat."

*

bersambung.

*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 14


Baru ku sadari,
cintaku bertepuk sebelah tangan.
Kau buat remuk seluruh hatiku.

~Dewa 19~

*

Kini, lewat hujan, Tuhan menunjukkan segalanya. Membuka seluruh rahasia dibalik semua kisah ini. Kisah yang pada intinya hanya ingin membuat si pemeran utama menderita. Karena ternyata, pemeran utama tak selalu punya bagian dimana dia merasakan bahagia. Dan kini, jangan salahkan sang sutradara. Dia tak tahu apa-apa. Dia hanya melaksanakan tugasnya. Karena yang memiliki andil terbesar dalam kisah ini adalah dia. Sang Prahara. Si penguasa jalan cerita.

*

Lalu memangnya, apa yang bisa dilakukan hujan sekarang? Mengguyur bumi untuk mencegah bom waktu itu meledak? Tentu tidak. Bahkan, seluruh penghuni bumi pun takkan pernah bisa mencegah hal itu terjadi. Tak peduli mereka berusaha sampai ke ujung pencapaiannya. Tak peduli sekeras apa pun mereka menentangnya. Karena toh, bom waktu itu akan tetap meledak. Menciptakan luka makin menganga, yang sakitnya jutaan kali lipat dari sebelumnya. Membuat seluruh mimpi terbunuh seketika. Menghabiskan setiap inci harap tanpa sisa. Mengonggok cinta makin dalam. Mati. Mengenaskan.

Dan kini, bagai dosa dari seluruh rakyat bumi harus ku tanggung. Bagai sinar matahari langsung menyengat tubuh lemahku. Bagai seluruh benda langit berjatuhan menghujam perasaanku. Bagai bom rakitan Noerdin M Top meledak tepat pada ulu hatiku. Menyesakkan. Menyakitkan. Menghancurkan. Mematikan.

Dan semua perasaan menyedihkan yang merayapi hatiku terjadi saat kini, di jam istirahat yang biasanya dapat ku lewati bersama pangeran matahari, dengan diiringi orkestra rinai hujan, aku harus mendapatkan sebuah fakta. Fakta pahit yang membuktikan sebuah hipotesis yang bahkan sama sekali tak pernah ku cipta. Fakta yang sesungguhnya menyibak fakta-fakta lain yang terabaikan. Fakta tentang siapakah gadis pintar yang telah menerbitkan cinta pada pemuda yang justru adalah pemilik cintaku. Fakta mengenai gadis jahat yang tega menorehkan luka menganga tepat di hatiku. Fakta Aurora.

*

"Jangan buat orang lain khawatir lagi!" ujar seorang pemuda tampan pada gadis di hadapannya. Raut pemuda itu terlihat sangat cemas. Entah apa yang telah dilakukan oleh sang gadis sampai dia seperti itu. Dan raut cemas itu tentu saja menunjukkan bahwa dia sangatlah peduli dan menyayangi sang gadis.

Maka setelah ia melihat gadis-nya yang mengangguk mantap, ia pun berani meninggalkannya sendirian. Lantas bergegas menuruti kemauan mamanya untuk segera pulang.

Dia berlari. Rambutnya menggemaskan menari terhembus desau angin senja. Ransel hitamnya pun ikut melompat mengikuti gerakan cepat pemiliknya. Dalam hatinya kini satu: segera pulang atau kalau tidak, mama akan memarahinya sepanjang malam.

Dan ancaman kemarahan sang mama kini tak cukup kuat untuk mencegah pemuda bermata indah itu untuk berhenti, saat indra penglihatannya menangkap siluet cantik yang tengah duduk di bangku taman dengan jarak 10 meter dari ia kini berada. Seorang gadis cantik dengan rambut ikal hitam yang dikuncir dua. Gadis yang masih mengenakan seragam SMP-nya, namun kemejanya ia tutupi dengan blezer merah mudanya. Gadis berpipi tembem menggemaskan. Gadis yang ternyata lebih mengesankan dari gadis yang ia temui sebelumnya, karena gadis ini mampu membuat hatinya terpesona.

Kemudian, seakan angin senja membekukan waktu, pemuda itu pun tak berkedip saat menatapi tiap gerak sang Gadis. Apalagi kini, gadis itu meraih sebuah seksopon lalu memainkannya. Mengeluarkan alunan indah bak tercipta dari surga. Melantunkan untaian nada yang membuat semua orang terbuai jatuh cinta. Dan inilah faktor terpenting dari terbitnya sebuah rasa di hati si pemuda. Pipi sang gadis. Kembang kempis. Manis. Mempesona.

Untung saja teror mama yang digencarkan lewat guratan pesan singkat yang ponselnya terima menyadarkan keterpesonaannya. Kalau tidak, dia bisa mematung sepanjang waktu disana sambil memandangi sang Gadis. Maka dengan amat sangat terpaksa ia pergi dan harus melewatkan gadis itu menyelesaikan kegiatan mengembang kempiskan pipinya. Tapi satu yang pasti, gadis itu adalah Aurora. Sang penerbit cinta. Dan itulah fakta pertama yang terabaikan. Namun sesungguhnya jembatan penghubung menuju keberadaan prahara.

*

Kedua gadis belia itu tengah membicarakan sebuah hal penting. Gadis yang berkuncir dua menjadi sang pembicara, dan gadis berambut pendek di sampingnya menjadi pendengar setia.

"Sumpah ya Ag, aku udah beneran jatuh cinta sama Rio!" ujarnya dengan wajah berseri.

"Hah? Kok bisa? Bukannya dulu kamu biasa aja sama dia? Sejak kapan?" tanya beruntun dilontarkan oleh gadis pendengar.

"Ahaha, aku juga ga tahu. Tapi kemarin, saat aku lihat dia keluar dari perpustakaan, dia sedang memakan sepotong pisang goreng. Bibir mungilnya belepotan kena minyak. Keren tauuuu!"

"Hah? Keren karena pisang goreng?"

Lalu gadis empunya cerita mengangguk cepat. Matanya berbinar dan mengerjap-ngerjap menggemaskan. Dua kuncirannya ikut bergoyang bahagia.

Dan inilah fakta kedua. Fakta yang tak pernah tersentuh. Bahkan tak berusaha untuk ku sentuh. Fakta yang sesungguhnya -tanpa sadar- disuguhkan olehku sendiri. Oleh sepotong pisang goreng kebanggaanku. Oleh lelehan minyak di sudut bibir mungilnya yang selalu membuatku ingin terus menatapinya lekat-lekat. Itu semua karena aku. Jadi kini, aku menjadi penjahat untuk diriku sendiri.

*

Semua siswa-siswi telah berhamburan keluar selepas mengikuti rapat mengenai pergantian ketua serta pengurus ekskul musik. Sudah sore sekali. Maka semuanya pun terburu-buru pulang ke rumahnya masing-masing. Dan hanya meninggalkan seorang gadis berkuncir dua dan pemuda yang tengah menunggu jemputannya di depan gerbang sekolah.

"Mau pulang bareng aku?" tawar si pemuda saat jemputannya datang.

"Ga usah deh Yel, aku mau ke taman dulu!" tolaknya dengan sopan. Lalu melangkahkan kaki menuju tempat tujuannya tadi.

Sesampainya di taman, seperti biasa ia duduk di bangku taman. Memainkan seksoponnya. Dan lima detik kemudian, dua bocah laki-laki imut menghampirinya.

"Hai Kakak tembem!" sapa kedua bocah tersebut.

"Hai juga! Wah, jagoan-jagoan kakak semangat banget!" kata gadis itu sambil mengusap kepala kedua jagoan-nya.

"Harus dong kak! Kan Ozy mau ketemu sama kakak tembem yang cantik!" ujar bocah lelaki yang mengenakan kaos merah.

"Ih, Ozy genit! Masa godain kakak tembem! Kakak tembem kan pacarnya Deva." ujar bocah lelaki lainnya yang memakai kaos kuning bergambar Spongebob sambil bergelayut manja pada tangan mulus 'Kakak Tembem'.

"Enak aja, kakak tembem itu pacarnya Ozy tauuu!" ujar Ozy tak mau kalah dan menggamit tangan yang lain milik Kaka Tembem.

"Pacarnya Deva!" Deva menarik tangan Kakak Tembem untuk lebih merapatkan diri dengannya.

"Pokoknya pacar Ozy!" Ozy mengikuti Deva, menarik tangan kakak Tembem.

"Deva."

"Ozy."

"Deva."

"Ozy."

Sementara si Kakak tembem mengerenyit. Mendapati kini dirinya harus tertarik ke kiri dan kanan. Menjadi rebutan dua bocah imut itu. Lalu akhirnya menghentikan perselisihan kecil yang terjadi.

"Kakak pacarnya Ozy sama Deva dong!" ujarnya sambil merangkul penuh kasih sayang dua bocah yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.

"Hahaha..." mereka pun tertawa menyeringai.

Dan tanpa disadari oleh mereka, seorang pemuda yang sama seperti yang kemarin tengah mengintainya sedari tadi. Pemuda itu terkekeh sendiri. Lucu melihat tingkah gadis yang telah ia jadikan sebagai Auroranya. Senang mendengar ucapannya yang terkesan manja nan menggemaskan. Tergelitik menangkap tawanya yang sangat renyah dan menyenangkan. Membuat sang pemuda semakin terpesona pada Aurora. Menghipnotisnya agar melupakan gadis lain yang berada entah dimana yang selalu berharap lebih padanya.

Dan inilah fakta selanjutnya. Fakta yang sama sekali tak pernah teraba. Fakta tentang begitu berkuasanya pesona Aurora dalam arena pertempuran cinta ini. Menekuk telak pemujanya. Menyingkirkan pesaingnya.

*

Lalu fakta berikutnya yang ku dapat dari Sivia dan Ray adalah bahwa Aurora bersekolah di sekolah yang sama denganku. Kalau begitu, tentulah aku pernah -bahkan mungkin sering- bertemunya di sekolah. Tapi siapa Aurora? Entah. Aku sama sekali tak mengetahuinya. Rio saja yang begitu tergila-gila padanya tidak tahu. Apalagi aku.

Lalu setelah kemarin sore, aku seakan dibutakan untuk membuat hipotesis-hipotesis baru. Aku tak dapat mencerna seluruh petunjuk yang ku dapatkan. Gadis tembem. Berkuncir dua. Pintar bermain seksopon. Satu sekolah denganku. Lihat. Begitu banyak petunjuk-petunjuk itu, tapi tak satu pun dari semua petunjuk itu menghasilkan hipotesis. Semua petunjuk itu seakan tak memiliki keterkaitan. Berdiri sendiri tanpa adanya sebuah hubungan. Dan hal ini sangat menyulitkan untukku.

Semalaman aku berfikir keras. Namun hasilnya nol besar. Tak ada yang ku dapat. Lalu aku pun menyerah. Menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur. Menenggelamkan wajah di bawah bantal. Lalu memejamkan mata.

Tapi tiga detik kemudian aku membuka mata. Melempar bantal. Bangun. Dan melirik sebuah benda yang tengah diam manis di atas meja kecil di samping tempat tidur. Sebuah pigura yang menghiasi tiga siluet di dalam secarik foto. Tiga gadis yang -diantaranya adalah aku- tengah bergaya di taman belakang rumah. Dan mataku tertuju pada satu gadis yang berfose paling menonjol. Dia mengerucutkan bibirnya. Memegangi ujung dari kedua kunciran rambutnya. Dan dagunya yang sedikit terangkat. Aku mengerenyit. Diakah Aurora?

Tidak. Kenapa aku sampai berani menuduhnya? Dia baik. Dia takkan tega merebut pangeran matahari dariku. Dia bukan penjahat. Dia tak mungkin tersangka dari torehan luka menganga di hatiku ini. Dia sahabatku. Aku menyayanginya. Mana mungkin aku telah melakukan hal jahat dengan menudingnya sebagai pelaku utama dari terciptanya prahara. Ya Tuhan, maafkan aku.

Maka kemudian, aku mengusir hipotesis yang sangat konyol itu dari benakku. Tanpa tahu, bahwa sesungguhnya hipotesis itu lebih kuat dari hipotesisku sebelum-sebelumnya.

*

Dan, pada akhirnya, Tuhan bukan hanya memaafkan kesalahanku. Tapi dia menunjukkan kasihnya dengan cara-Nya sendiri. Cara yang -sesungguhnya- teramat menyakitkan.

Kini, bagai tersundut panasnya bola api, aku merasakan sakit yang begitu luar biasa. Saat aku sampai pada fakta terakhir dan sekaligus fakta utama yang akan menguraikan segalanya.

Sekitar 12 meter di depanku, tepat di tengah lapangan basket, di bawah tiap rintikan hujan, drama itu terjadi. Drama yang dilakukan oleh dua pelaku penting dalam kisah ini. Dengan arahan sutradara dan tuntutan sang pembuat jalan cerita. Drama akhir dari rentetan drama kehidupan yang tak pernah menyisakan jatah kebahagiaan untuk si pemeran utama.

Lalu, drama pun bermulai dari seorang pemuda tampan yang berlari menerobos hujan. Menyongsong gadis tujuan yang juga tengah berlari kecil ke arahnya. Seperti adegan romantis, di film-film India yang sering Mang Ujang tonton.

Rio -pemuda itu- menahan sang gadis dengan kedua tangannya yang ia rentangkan. Lalu sejurus kemudian menjulurkan tangannya untuk memeluk gadis di hadapannya, sambil antusias berkata, "Aurora!"

Nyatanya, gadis itu pun tak menolak tubuhnya didekap oleh Rio. Dengan mengerutkan kening, dia malah tersenyum. Bahagia.

Dan masih terus membisu di tepi lapangan basket, aku menyaksikan segalanya. Segalanya yang bahkan lebih menyakitkan dari hujaman seluruh samurai di dunia. Dan sakit itu harus di rasakan oleh hati yang masih memiliki luka menganga. Lalu, apa jadinya hatiku sekarang? Hancur tercabik-cabik. Patah menjadi jutaan keping. Lalu, apa aku masih bertahan dengan keadaan ini? Aku hanya gadis jelek, bodoh, dan lemah. Hujan, aku menangis lagi. Aku sudah tak bisa membendungnya. Tanggul air mataku hancur. Maka, hujan pun kian menderas.

Sementara disana, mereka masih asyik melanjutkan dramanya, tak peduli dengan guyuran hujan yang kian membesar.

Rio melepaskan dekapannya. Mengguncang tubuh gadis yang masih terus mengerenyit tak mengerti.

"Kamu Aurora. Auroraku. Aurora penerbit cinta." ujar Rio dengan mata berbinar walau tetesan hujan bergelayut lucu di ujung bulu matanya.

"Aku Keke, bukan Aurora."

Ya, dialah Aurora. Hipotesis konyolku terbukti. Hatiku semakin mencelos. Lalu jutaan keping itu pun mencipta luka yang lebih lebar menganga pada masing-masing permukaanya. Aku merasakan betapa kenyataan ini sangat menghantamku telak. Bukan hanya kenyataan bahwa Rio jatuh cinta pada Aurora dan kini dia -hampir- mendapatkannya. Tapi kenyataan yang lebih menampar jutaan pengharapanku. Kenyataan bahwa Aurora adalah Keke. Sahabat baikku.

"Jadi nama kamu Keke? Nama yang lucu, kaya pipi kamu!"

Keke belum mengurai kerutan di keningnya. Apalagi hujan yang menimpa rambut dan wajahnya, membuat sketsa kebingungan yang sangat kentara tertera di sana.

"Aurora..." Rio meraih kedua tangan Keke. Menggenggamnya erat penuh kesungguhan. Menatapnya tajam diiringi binar ketulusan. Berujar dengan sangat mantap. "Aku jatuh cinta sama pipi kamu yang kembang kempis. Aku jatuh cinta sama rengekkan kamu yang manja. Aku jatuh cinta sama tawa kamu yang renyah. Aku jatuh cinta sama kamu, Keke. Auroraku."

Dan dari tiap kata yang dituturkan olehnya, itu adalah serpihan luka yang kini langsung ia bubuhkan pada jutaan luka menganga pada kepingan hatiku. Sakit. Sakit sekali. Perih. Sangat perih. Hujan pun tak mampu membasuh luka itu, walau kini guyurannya kian menderas.

Aku menggigit bibir. Meraih bandul pelangiku. Lantas menggenggamnya erat. Meluapkan emosi yang sudah membuncah hingga ke ubun-ubun kepala. Menatap penuh kebencian pada dua lakon yang masih terus melanjutkan dramanya.

"Aku...aku..." Keke terbata-bata berbicara. Entah. Aku tak tahu apa yang akan ia ucapkan. Semoga takkan kembali menorehkan sakit yang tak terperikan. Ya, karena kalau sampai hal itu terjadi. Entah apa yang nanti akan terjadi. Mungkin aku akan mati. Atau lebih buruk lagi.

"Aku juga jatuh cinta sama lelehan minyak yang melumuri bibir mungilmu. Aku juga jatuh cinta sama kamu, Rio!" ujar Keke pada akhirnya, jauh dari harap yang ku panjatkan.

Dan kemungkinan yang lebih buruk dari kematian pun terjadi. Yaitu kematian dari cinta yang telah lama ku pertahankan. Kini, aku menyerah atas segalanya. Penderitaan telah cukup kejam menghantam diriku. Dan kini, ucapan Keke semakin menamparku dan menyadarkanku, bahwa aku masih tetap seorang itik buruk rupa. Dan selamanya akan tetap seperti itu.

Maka aku tak kuasa lagi melihat mereka yang kini mempertontonkan adegan berpelukan. Pelukan penuh cinta. Lalu aku pun berbalik. Mendapati seorang pemuda dengan senyum lebar khas miliknya sedang berdiri di bawah hujan. Menantiku untuk segera menghambur ke pelukannya. Sayang, kakiku terlalu kaku. Tak bisa melangkah sama sekali. Lalu akhirnya, dia yang datang menghampiriku. Menawarkan dadanya untuk menjadi sandaran tangisku yang seakan terus berlomba dengan tangisan alam untuk menjadi yang paling deras. Lalu aku tersungkur di dadanya. Mengikuti kemauan hujan. Dan pemuda berhati malaikat itu mendekapku erat. Hangat.

Kini, di bawah hujan, dua pelukan tercipta. Pelukan penuh cinta. Pelukan menyedihkan.

Dan sang pemuda yang kini masih terus ikhlas membiarkan dadanya kuyup oleh air mataku, berucap penuh ketulusan. "Menangislah! Hujan selalu punya cara untuk menghapus tangismu."

*
bersambung
*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 13


Tak ada cinta yang menyakitkan. Semua cinta mengandung keindahan. Dan apabila kita merasa sakit, itu adalah sepenuhnya perbuatan prahara yang tak pernah sudi melihat cinta berbahagia.

*

Segalanya berubah hanya dalam sekejap mata. Perubahan yang terjadi akibat tiap aksi yang digencarkan oleh Aurora. Pelan namun pasti. Ya, mungkin itulah taktiknya. Taktik yang dilakukan oleh gadis cantik nun jauh di sana. Taktik yang hampir menyerupai taktik seekor cicak memburu mangsanya. Mengintip terlebih dahulu. Meraba-raba dengan sangat hati-hati. Merayap perlahan. Lalu dalam hitungan sepersekian sekon, menjerat mangsanya. Telak. Mematikan.

Dan ternyata, taktik itu sangat ampuh. Terbukti saat ini, hanya dengan aksi perdananya, dia mampu mengesampingkan peranan cinta dalam kancah kisah yang tersusun oleh tiap jengkal harap. Lalu setelahnya, mengusir kejam cinta. Dan akhirnya, sampai pada tujuan utamanya, yaitu menimbun dalam-dalam sang cinta, setelah sebelumnya ia cabik dengan semena-mena.

Lalu, aku menyalahi sang cicak. Kenapa pula dia menciptakan taktik semacam itu? Kalau taktik itu tak pernah ada di muka bumi ini, maka prahara takkan melakukan hal jahat dengan cara yang tak terduga seperti ini. Aku takkan pernah merasa begitu tertohok karena perbuatan sang prahara yang sangat tiba-tiba, menyadarkanku dari buai pesona indah cinta. Dan organ vital bernama hati milikku, tak harus merasakan betapa menyakitkannya hujaman perih yang ditebarkan prahara.

Dan sekarang, memang apa yang bisa ku perbuat? Memusnahkan seluruh cicak yang ada di muka bumi ini? Jelas tidak. Lalu, apa aku harus menghapus prahara yang disuguhkan oleh Aurora? Itu tak mungkin. Semuanya sudah terlambat. Sebagaimana terlambatnya aku, untuk mengamankan hatiku, melindungi cintaku.

Maka akhirnya, yang dapat aku lakukan hanyalah bertahan dengan segala luka perih yang menganga lebar pada seluruh permukaan hatiku. Mencoba sekuat tenaga, menjunjung tinggi cinta, tanpa pernah membiarkannya harus tertimbun makin dalam. Menyusun keping harap yang sempat hancur berserak.

*

Pemuda tampan itu memang pintar. Sayang, hatinya tak pernah pintar dalam menangkap bagaimana perasaan orang yang berada di sekitarnya. Pemuda itu memang pemuda yang sangat tidak peka, walau sinyal kesedihanku terpancar amat kentara.

"Kemarin dia bermain seksopon lagi. Pipinya kembang kempis lagi deh! Uuuh! Lucu!" cerita Rio dengan raut muka bahagia dan mata yang berbinar.

Sementara hatiku kembali mencelos. Seakan luka menganga yang semalam sempat -sedikit- terobati oleh kehadiran hujan, terobek lagi. Dan aku menggenggam erat bandul pelangiku. Menguatkan diri.

"Dia cantik! Poninya lucu!" ujar Rio lagi.

Terus saja dia memuji dan memuja Auroranya. Atau, boleh saja sekarang aku bilang Gadis Senyum Manis-nya. Aku yakin, meski belum seratus persen hal itu benar. Ya, kemarin kan aku mendapatkan buktinya. Bukti bahwa Aurora adalah Gadis Senyum Manis. Aku menunduk sambil terus menggenggam bandul pelangi.

"Dia juga tertawa. Tawanya sangat renyah!"

Renyah? Seperti keripik singkong mungkin. Aku merutuk dalam hati sambil terus mengeratkan genggamanku pada bandul pelangi. Mencipta kekuatan, agar tak ambruk di hadapannya.

"Dia juga merengek! Haha, menggemaskan!"

Aku makin menunduk. Seakan ribuan kilo beban harus ditanggung oleh diriku. Memejamkan mata. Menggenggam bandul pelangi makin erat. Mengepalkan tangan yang satunya lagi. Dan menggigit bibir. Menahan amarah yang kian membuncah.

"Aku suka saat dia berlari. Rambutnya yang diikat dua jadi ikut bergoyang. Haha, pokoknya dia...."

Aku menggelengkan kepala, saat kini tiap katanya berdenging menusuk-nusuk gendang telingaku. Membuatku tak bisa bertahan dalam tekanan amarah yang terus menghimpitku. Dan tanpa aku sadari, aku mendongak lalu dengan lantang berkata "Berhenti!" membungkam jutaan kata indah yang dilontarkan Rio untuk menggambarkan Aurora -Gadis Senyum Manis- nya.

Rio mengerutkan kening. Menautkan kedua alisnya. Heran. "Ify?"

Seperti baru saja tersadar dari sebuah kebodohan, aku mengerjap. Merutuki sikapku yang dengan jahat membentak Pangeran Matahari. Hei. Memangnya kenapa? Salah? Bukankah dia juga tak pernah mempedulikan perasaanku? Lalu, kenapa sekarang aku harus mempedulikannya?

Aku bangkit dari kursi. Menatapnya tajam dan berkata "maaf, aku ke kelas dulu!" dan setelahnya aku bergegas meninggalkanya yang masih terdiam, sedikit tak percaya atas apa yang baru saja ku lakukan.

Dan tidak peka memang sudah menjadi bakatnya. Setelah tujuh langkah aku membiarkanya sendiri di pojok perpustakaan, dia bukannya merenungi diri mengenai apa penyebab sehingga aku berani membentaknya, dia malah menggelengkan kepala, mengangkat bahu tak acuh. Lalu sejurus kemudian menyandarkan tubuhnya pada kepala kursi, tersenyum sendiri, membayangkan keindahan gadis pujaannya.

Aku berdecak. Lalu dengan gumpalan amarahku pada pemuda itu beserta gadis lucunya, aku benar-benar melengos pergi. Tanpa sadar, rentetan air mata berbondong-bondong merembesi pipiku. Melewati tiap lekuk pipiku. Lalu berhenti dan bergelayut di ujung dagu runcingku. Maka sebelum air mataku menyentuh bumi, segera ku hapus air mata itu, lalu ku bendung bening yang belum sempat ku teteskan.

Karena tertutupi oleh tanganku saat menghapus air mata, aku tak dapat melihat apa dan siapa yang berada di depanku. Lalu aku pun akhirnya menabrak seseorang.

Aku meringis sambil memicingkan mata, melihat siapakah yang tidak sengaja ku tabrak. Meskipun mataku hanya dapat melihat samar, karena nyatanya air mataku masih menggenang, aku dapat mengetahui orang tersebut. Seorang lelaki yang selalu memamerkan senyum lebar khas miliknya, namun kali ini terlihat -sedikit- berbeda dengan kacamatanya.

"Alyssa." ucap Gabriel.

"Aku..." menghela nafas. "Ga kenapa-napa!"

Kalian dengar apa yang ku katakan? Aku tak kenapa-napa. Seperti, janjiku pada Rio, untuk tidak membuat siapa pun khawatir. Ah, kenapa aku masih saja memegang kukuh janji itu. Toh, janji Rio untuk tak akan pernah pergi dariku saja tidak ia tepati. Dia malah meniru matahari, yang kala malam menyapa, pergi meninggalkan hari. Dia mungkin tak pernah ingat akan janjinya itu. Aku mendesah.

"Tapi kok kamu nangis?" tanya Gabriel sambil meraih tanganku yang sedari tadi menempel pada pipiku.

Menangis. Bahkan, aku tak bisa membuktikan ucapanku sendiri. Aku tidak kenapa-napa. Lalu air mata ini? Tangis ini? Luka hati ini? Cinta tertimbun ini? Semuanya hanya kemunafikan. Bagus. Aku kembali menjadi gadis munafik seperti pemeran di sinetron itu kan? Tepuk tangan untuk aktris yang sangat frofesional ini.

"Aku cuma kelilipan."

Bagus. Alasan yang sangat bagus. Gabriel saja sampai mengerutkan kening. Dia pasti berfikir, tak mungkin kelilipan menyebabkan bertetes-tetes air mataku jatuh. Kecuali kelilipan biji salak.

"Aku ga apa-apa!" ujarku pada akhirnya dan bergegas pergi ke kelas. Tak peduli dengan tanda tanya yang tercipta pada benak Gabriel.

*

Aku mendesah lalu menghempaskan tubuhku di tempat dudukku. Keke yang awalnya sedang mengobrol bersama Aren, langsung menoleh ke arahku. Menatap jengah diriku yang kembali menenggelamkan kepala di atas meja.

Aku kembali merutuk dalam hati. Mencibir sikap Rio yang tak pernah peka. Menghina perlakuan Aurora padaku yang -secara tak langsung- menyakiti hatiku. Bukan Aurora. Tapi Gadis Senyum Manis. Dan aku pun menyalahi sang gadis. Kenapa dulu aku sempat mengagumi dan terbuai akan lengkung senyumnya? Kalau pada akhirnya, ini hanya cara licknya untuk merebut Rio dariku. Taktik sang cicak dia lakukan dengan sempurna.

Kini, tak tersisa sedikit pun kekagumanku pada senyum gadis itu. Bahkan sekarang aku teramat membenci senyuman itu, senyuman penjahat. Bukan hanya itu, aku juga benci segalanya tentang sang Gadis. Terutama pipinya yang kembang kempis yang mampu memacu getaran cinta untuk menjalari seluruh pembuluh Rio. Aku benci Gadis Senyum Manis.

"Aku kan udah bilang, kamu bisa cerita sama aku." Keke angkat bicara.

Aku tak menggubris ucapan Keke. Aku masih terus bergelung tentang kejahatan Gadis Senyum Manis. Dan entah karena apa, -mungkin karena aku yang terlalu mengagumi senyuman sang gadis dan tak tega untuk membenci senyuman yang kelewat indah-, maka sebuah desauan angin menyapa relung hatiku. Angin itu menyelipkan sebuah pesan tersirat berisikan penolakan atas dugaanku yang terlebih dahulu. Menyalahi hipotesisku bahwa Aurora adalah gadis senyum manis. Lalu, apa satu fakta yang kemarin ku dapatkan itu belum cukup? Tentu tidak. Butuh jutaan fakta lagi untuk membuktikan kebenarannya. Tapi setidaknya satu fakta itu mendukung 99 % hipotesisku. Tunggu. Aku lupa yang 1 % persen lagi. Sesungguhnya, sekecil apa pun kemungkinan itu, atas kehendak Tuhan semuanya bisa terjadi. Termasuk kemungkinan bahwa Aurora bukanlah Gadis Senyum Manis.

Menolehlah aku pada Keke yang setia menantiku untuk bercerita padanya. Keke selalu punya jawaban dari tiap pertanyaanku. Maka aku pun bertanya padanya.

"Menduga-duga itu salah ya Ke?" tanyaku.

Keke mengerenyit lalu menghela nafas. "Ga salah. Cuma ga baik aja!"

"Terus?"

"Memastikan lebih baik!" ujar Keke sambil tersenyum.

Keke benar. Memastikan lebih baik. Pada akhirnya aku pun memutuskan, sepulang sekolah nanti, aku akan pergi ke taman, menemui sang gadis, meminta sebuah kepastian.

*

Pemuda gondrong dengan wajah menyenangkan itu nampak mengolesi lelehan krim coklat pada pipi mulus gadis di sebelahnya. Sementara gadis itu nampak sebal dan mengulum bibirnya. Lalu membalas mengoleskan krim vanilla pada wajah pemuda 'nakal' itu. Namun, dia sempat menghindar. Dan krim itu pun tertoreh pada rambut gondrongnya.

"Hahaha..." mereka tertawa bersama.

Mereka berdua sangatlah dekat. Dimana pun berada, mereka selalu bersama. Aku tak pernah melihat gadis itu sendirian atau sebaliknya, pemuda itu yang ku dapati sedang sendiri. Mereka selalu bersama setiap saat. Hanya berdua. Tak ada seksopon di antara mereka. Ya, aku semakin yakin saja Gadis itu bukanlah Aurora. Semoga saja.

Aku mulai melangkah perlahan menghampiri mereka. Agak ragu sebenarnya. Namun ucapan Keke terngiang dan menghapus keraguanku. "Memastikan lebih baik."

Aku menggigit bibir. Bingung sendiri saat aku sudah berada tepat di depan mereka.

"Eh..." seruku tertahan.

Mereka berdua menghentikan adegan colek-mencolek krim. Menatapku heran, lalu saling berpandangan.

"Temennya Rio ya?" tanya Ray -pemuda itu-.

Aku mengangguk pelan.

"Ada apa? Duduk sini!" kata sang Gadis sambil menepuk pelan rumput di sebelahnya.

"Aku..." kataku terbata-bata sambil mendudukkan diriku di sebelah gadis itu.

"Oh ya, kenalan dulu! Aku Sivia, ini sahabat aku Ray." kata gadis itu. Akhirnya, setelah sekian lama aku mengagumi keindahan senyum miliknya, aku bisa mengetahui namanya. Sivia. Nama yang cantik. Sama seperti senyumnya.

"Aku ify."

"Kamu mau apa?" tanya Sivia.

"Aku mau tanya sama kamu. Kamu..." aku mendesah.

Sivia dan Ray menatapiku tajam. Mereka menunggu pertanyaan apa yang akan ku berikan.

"Kamu... bisa main seksopon?"

Sivia dan Ray saling bertatapan dengan kedua alis yang bertautan. Dan tiga detik kemudian, tawa Ray pecah. Dia memegangi perutnya yang sakit karena tertawa terlalu bersemangat.

Aku dan juga Sivia mengerenyit melihat Ray yang tertawa terpingkal-pingkal. Aneh sekali tingkah Ray. Memangnya ada yang lucu dari pertanyaanku? Aku rasa tidak.

"Ish! Kamu kenapa sih Ray?" tanya Sivia.

"hahahahaha..." Ray terus tertawa. Makin keras.

"Ada yang lucu ya Ray?" tanyaku.

"Ada. Hahahaha.."

"Apa?" tanyaku dan Sivia bersamaan.

"Pertanyaan kamu lucu Fy! Haha..." Ray mencoba mengontrol tawanya. Dia menarik nafas lalu mulai menjelaskan apa penyebab tawanya yang begitu terpingkal-pingkal. "Sivia itu ga bisa main satu pun alat musik. Jangankan seksopon, kecrekan aja fals. Hahaha..."

Sivia mengulum bibir. Menatap tajam Ray dengan tatapan: Dasar-tukang-buka-aib-orang. Yang ditatap malah terus saja melanjutkan 'ceremony' tertawa dengan wajah tanpa raut bersalah.

Sivia berdecak. Lalu tangan kanannya ia ulurkan ke depan, meraih perut Ray. Setelah berhasil, dia menghadiahi cubitan kesal untuk pemuda yang langsung berhenti tertawa dan meringis kesakitan sambil mengusap-usap perutnya. "Sakiiitt!"

"Abisan nyebelin banget sih!" Sivia melipat kedua tangannya di depan dada, lalu memalingkan muka.

Aku jadi terkekeh sendiri melihat mereka. Sepertinya mereka lebih dari sepasang sahabat. Pacar mungkin.

Aku mengerjap. Teringat tujuan awalku menanyakan ini pada Sivia, untuk memastikan apakah dia Aurora. Namun sepertinya, hipotesisku itu akan mementah seiring Sivia yang mulai berujar.

"Seperti yang Ray katakan. Aku ga bisa main seksopon. Emang kenapa?"

Sesungguhnya, aku lega mengetahui bahwa Sivia tidak bisa bermain seksopon yang beraqti pula bukan dia Auroranya. Dan aku bersyukur, karena aku tak harus membenci senyuman manisnya. Aku takkan mampu melakukannya.

Tapi, dengan penyangkalan terhadap hipotesisku ini, berarti aku harus kembali memutar otak mencari tahu siapa sebenarnya Aurora.

"Ngomong-ngomong soal seksopon, inget ga Vi sama gadis tembem yang kemaren main seksopon di taman ini?" ujar Ray tiba-tiba.

Hatiku seakan tergelitik saat dengan gamblang Ray mengatakan gadis tembem yang bermain seksopon. Pastilah gadis yang Ray maksud adalah Aurora.

"Oh gadis itu, aku ingat!" ujar Sivia antusias.

Aku menunggu lanjutan percakapan antara Sivia dan Ray. Potongan informasi yang akan menciptakan hipotesis yang tak mungkin mementah lagi.

"Dia cantik ya, apalagi dia masih memakai seragam sekolahnya." ucap Ray lalu menoleh ke arahku.

Aku jengah ditatapi Ray seperti itu, tatapan menyelidik. Dan kini Sivia malah ikut menatapiku. Aku meneguk ludah. Kenapa dua mahluk Tuhan ini aneh sih?

Mereka saling bertatapan, lalu sejurus kemudian mereka memekik bersamaan. "SERAGAM ITU!"

"seragam gadis itu sama kaya seragam kamu!" ujar Ray sambil mengguncang lenganku.

"Berarti, gadis itu satu sekolah sama kamu!" kata Sivia sambil mengguncang lenganku yang lainnya.

*
bersambung
*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 12


Karena sesungguhnya, saat kita memutuskan untuk mencintai seseorang, kita harus siap patah hati dalam waktu yang bersamaan.

*

Dan, prahara itu mulai menunjukkan aksinya. Menggoda jalinan kasih yang tercipta. Merenggut kebahagiaan dari pemiliknya. Menghasilkan luka menganga. Mencabik hati yang kini terluka. Maka, yakinlah Tuhan Maha Pengasih. Dia takkan tega, jikalau prahara menyakiti sang cinta.

*

"Aurora?" aku kembali mengulang perkataannya. Tak percaya sedikit pun akan kalimat yang baru saja terlontar dari bibir mungilnya. Dan ternyata, hatiku ketar-ketir mendengarnya. Gelisah.

"Iya. Dia cantik, indah, dan tak pernah aku temui. Layaknya Aurora. Fenomena dimana langit berwarna kemerah-merahan di ufuk utara, seolah-olah matahari akan terbit dari arah tersebut." dia bercerita dengan wajah berseri. "Dan cintaku sudah terbit darinya, dari Aurora." lanjut Rio.

Aku menunduk. Menutupi semua perasaanku saat ini. Saat dengan tega getaran misterius itu meninggalkan hatiku yang baru saja tertoreh tajamnya prahara. Saat hatiku merasa sangat hancur. Bukan lagi berkeping-keping. Namun lebih dari itu. Hancur tak berbentuk. Remuk.

Mataku mulai memanas. Sudah siap mencipta aliran di pipiku. Tidak. Jangan dulu. Jangan menangis di hadapannya seperti saat itu. Maka aku menggigit bibir. Memegang erat kotak pisang goreng. Dan menunduk makin dalam, ketika semua harapan yang mengembang karena tiap potong pisang goreng itu mulai menyusut. Kala sebuah asa sudah ku terbangkan sampai setinggi langit ke tujuh, terhempas jatuh ke dasar samudera. Tertimbun. Hilang. Mati. Mengenaskan. Saat hatiku yakin bahwa inilah yang namanya cinta dan pada saat yang bersamaan, hatiku harus menelan pil kekecewaan. Saat dia mengatakan dengan mantap, bahwa Auroralah cintanya.

Aku menghela nafas berat. Merasakan wangi khasnya yaitu bedak bayi yang biasanya selalu memenuhi tiap sudut rongga pernafasanku kala aku berada di dekatnya, kini tiba-tiba enyah. Menyusul getaran misterius itu yang sudah terlebih dahulu meninggalkan hatiku dengan torehan luka menganga.

"Fy." Rio menepuk pundakku pelan, membuatku mengerjap dan mengangkat kepalaku lalu menatapnya yang kini sedang duduk, masih dengan wajah berserinya.

"Kamu, bertemu dengan Aurora dimana?" tanyaku dengan suara bergetar.

"Di taman. Kemarin saat aku pulang, aku bertemu dengannya." Rio mendesah lalu melanjutkan rentetan cerita tentang Aurora-nya. "Dia sedang bermain seksopon. Pipinya yang tembem, lucu. Kembang kempis saat meniupnya. Dan aku suka itu!"

Bodoh. Aku merutuki kebodohanku sendiri dalah hati. Pertanyaanku barusan hanya akan memancing Rio untuk terus menerus berceloteh tentang cintanya. Dan benar kan, betapa bersemangatnya dia saat melakukan hal tersebut. Membubuhkan perih yang teramat menyakitkan pada luka hatiku yang menganga karena Auroranya.

"Dan kamu tahu, setiap pulang sekolah aku akan ke taman. Aku yakin dia akan kembali ke taman untuk bermain seksopon. Dan aku akan melihat pipinya yang lucu! Hehe..." ujarnya sambil terkekeh dan mencubiti pipinya sendiri.

Dia terlihat berbeda. Bercerita dengan sangat bahagia. Aku tak pernah melihatnya sebahagia itu. Bahkan lebih dari bahagianya dia saat berhasil memenangkan pertandingan basket.

Aku kembali memegang kuat kotak pisang goreng. Menahan amarah. Saat tanpa peduli terhadap perasaanku, Rio terus saja bercerita tentang keindahan Auroranya. Aku tahu, pemuda ini memang kurang peka. Tapi, untuk kali ini, tak bisakah dia mengetahui betapa teririsnya hatiku. Aku memperlihatkan itu. Lihatlah mataku yang memerah dan berkaca-kaca membendung tangis. Wajahku yang mengguratkan kekecewaan. Deru nafasku yang tak karuan. Keringat dingin yang melumuri seluruh tubuhku. Semuanya kentara. Teramat kentara.

Maka aku menyerah. Menunduk makin dalam. Dan menangis. Sampai akhirnya, air mataku jatuh membasahi kotak pisang goreng. Menyedihkan.

*

Meski kini aku sudah duduk manis di kelas dan mengerjakan tugas matematika dari Bu Winda, karena kebetulan beliau sedang berhalangan masuk kelas. Meski Rio sudah berada di kelasnya sendiri dan tidak bercerita tentang Auroranya. Tapi, segala macam keindahan Aurora yang digambarkan oleh Rio terus saja berdenging di dalam gendang telingaku.

Aurora. Fenomena pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan matahari. Begitulah Aurora menurut ilmu pengetahuan. Aku akui, Aurora memang sangatlah indah. Tapi, apakah Aurora yang ditemui Rio di taman seindah Aurora yang terjadi di kutub utara? Entahlah. Tapi, menurut penjelasan Rio, Auroranya sangat indah. Cantik. Pipinya tembem. Lucu. Ah, sempurna.

Tunggu. Rio bertemu gadis itu di taman? Bukankah gadis yang ku temui di taman adalah Gadis Senyum Manis? Lagi pula, Gadis Senyum manis juga memiliki pipi yang tembem seperti yang Rio ceritakan. Tapi, Gadis senyum manis tidak bermain seksopon. Ah, mungkin saja Gadis senyum manis menyimpan seksoponnya. Tapi, memangnya Gadis Senyum Manis itu satu-satunya gadis di taman? Tidak, kan? Lalu, kenapa ciri-cirinya sangat mirip dengan Gadis Senyum Manis? Mungkinkah Aurora itu Gadis Senyum Manis? Tidak tahu. Dua hipotesis muncul dalam benakku. Pertama, Aurora adalah Gadis Senyum Manis. Kedua, Aurora berbeda dengan Gadis Senyum Manis.

Aku mendesah. Menggaruk pipi kiriku. Lalu membenamkan wajah di atas meja.

Keke yang mendengar desahanku, juga ikut mendesah. Dia menyimpan pensilnya. Melipat kedua tangannya di atas meja. Mendaratkan kepala di atas lipatan tangannya. Lalu menoleh ke arahku. "Kenapa Fy?" tanya Keke lembut.

Aku mendesah lagi. Mengangkat wajahku. Menoleh pada Keke. Dan tersenyum masam.

"Kamu bisa cerita sama aku." ujar Keke.

"Aku ga kenapa-napa!" ujarku yang tak mau membuat Keke khawatir. Sebagaimana janjiku pada Rio untuk tidak membuat siapa pun khawatir. Ya, meski Rio sudah menghancurkan cinta yang telah Tuhan cipta untukku jaga dengan prahara yang dia bawa, tapi sampai kapan pun janjiku akan selalu ku tepati.

Keke hanya tersenyum.

"Keke" ucap seorang pemuda yang kini sudah berdiri di depan kami.

"Apa?" Keke mendongak.

"Pulang sekolah, ekskul musik kumpul ya!" kata Gabriel -pemuda itu-.

Keke mengerenyit, mengangkat kedua alis tipisnya. "Bukannya, kemarin kita kumpul ya?" tanya Keke.

"Kita mau bicarain soal penggantian ketua dan pengurus ekskul musik. Bentar lagi kan, kita pensiun!" jelas Gabriel.

"Ya udah deh!" ujar Keke lalu mengulum bibir. Sepertinya, dia enggan untuk menuruti perintah Gabriel. Tapi, mengingat Gabriel adalah ketua ekskul musik, jadi mau tak mau, Keke harus menurutinya.

"Oke! Jangan lupa ya!" kata Gabriel lalu kembali lagi ke mejanya.

Sekilas, dia menoleh ke arahku. Memberikan senyuman lebar khas miliknya. Lalu kemudian duduk bersama Debo -teman sebangkunya-. Pemuda itu memang ramah.

Aku menoleh lagi ke arah Keke. Memperhatikannya yang kini sedang melanjutkan tugas matematikanya. Dan kemudian, fikiranku kembali berkutat dengan segala hipotesisku tentang Aurora.

Ah Aurora. Gadis yang telah menerbitkan cinta di hatinya Rio, sekaligus menggoreskan sayatan luka di hatiku, membuatku pusing saja. Huh. Aku kembali mendesah.

*

Aku tak ingin terus menduga-duga. Meyakinkan hati, hanya dengan hipotesis-hipotesis yang kebenarannya belum terbukti. Maka, sepulang sekolah, aku pergi ke taman untuk mencari tahu siapakah Aurora.

Aku berdiri di balik pohon jati. Tanganku menggenggam erat bandul pelangi kecil kalungku. Kalung pemberian Rio, sebelum Aurora datang merusak segalanya. Hanya dengan menggenggam bandul pelangilah, aku berharap hatiku ini akan kuat dan bertahan. Takkan putus asa lantas menyerah, walau torehan luka menganga semakin besar. Menyakitkan.

Dan satu fakta yang mendukung hipotesisku yang pertama telah ku dapatkan. Saat aku melihat Gadis Senyum Manis yang kini memakai baju terusan berwarna biru muda dan rambut yang selalu diikat menjadi dua, sedang berlari sambil membawa balon bersama Ray, pemuda gondrong yang selalu menemani Sang Gadis.

"Raaayy! Jangan cepet-cepet larinya! Kan aku capek!" rengek Gadis Senyum Manis dengan suara yang manja.

Aku menunduk. Menangis sambil terus menggenggam erat bandul pelangi. Hatiku semakin mencelos. Lukaku semakin perih. Meski suara renyah Ray juga mengiringi rengekan sang Gadis, tapi hanya rengekan Sang Gadislah yang bersahutan masuk ke telingaku. Mengacaukan seluruh fungsi otakku. Menusuk tepat di luka hatiku. Menghantam secuil asa agar tertimbun makin dalam. Membunuh cinta yang susah payah ku pertahankan.

"Hahaha, kau bodoh Ray!" gelak tawa sang Gadis menggema dalam telingaku.

Aku menutup kedua telingaku. Menggeleng-gelengkan kepala. Dan terus menangis.

Hatiku semakin sakit mendengar suara manja gadis senyum manis. Maka, setelah aku menyeka air mata, aku berlari. Pergi meninggalkan taman dengan satu kesimpulan. Kesimpulan yang teramat menyakitkan. Kesimpulan bahwa Aurora adalah Gadis Senyum Manis.

*

Ketika seluruh penghuni bumi bersekutu untuk tidak mendengarkan pengaduan kita, yakinlah, Tuhan akan selalu ada. Dia senantiasa mau menjadi tempat kita untuk mengadu.

*

Sejak kepulanganku dari taman, sejak aku dapat menarik kesimpulan bahwa Gadis Senyum Manislah Aurora, aku terus saja menangis. Bahkan, saat sembahyang maghrib sepuluh menit yang lalu, aku terus menitikan air mata.

Seharusnya, setelah dia memberikan bunga matahari yang sekarang diam manis di dalam vas di atas meja kecil itu adalah awal dari cinta yang terus ku pelihara. Namun sebaliknya. Justru hal itulah yang mengundang prahara yang tak dikehendaki kehadirannya mengacaukan segalanya. Membunuh telak Sang Cinta.

Aku baru tahu, betapa patah hati itu sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan dari ribuan peluru menghujam jantungku.

Dan, aku hanya terus diam. Duduk sambil memandangi langit kelam. Tanpa bintang. Tanpa bulan.

Lalu tanpa ku duga, seorang wanita paruh baya menghampiriku. Ikut duduk di sampingku. Membelai lembut kepalaku. Lalu tersenyum.

"Ify ga apa-apa!" kataku.

"Kalau kamu ga mau cerita sama mama, berceritalah pada Tuhan!" ucap mama dengan sangat bijaksana.

Bercerita pada Tuhan? Aku mengerutkan kening.

"Ify sudah sholat maghrib?" tanya mama.

Aku mengangguk pelan.

"Tapi, Ify masih resah." Mama sedikit berfikir. "Mungkin, sholat Ify hanya sekedar sholat. Seharusnya, Ify berserah diri pada-Nya saat sholat!"

Aku menunduk. Malu pada mama, juga pada Tuhan. Ah, benarkah sholatku hanya sekedar sholat? Kalau benar, maafkan aku Tuhan.

"Lekaslah mengadu pada-Nya!" ujar mama lalu bergegas meninggalkanku sendirian.

Mama, selalu hadir dengan segala petuahnya yang bijaksana. Tak peduli aku sering tak menggubris kasihnya. Terimakasih mama.

Aku mendongak. Melihat ke arah langit. Lalu memejamkan mata.

Dalam keheningan malam, kini aku mengadu padamu Tuhan. Mengadu bahwa cinta yang kau anugerahkan padaku adalah hal terindah. Mengadu tentang prahara yang kejam menyingkirkan sang cinta.

Maka, hanya satu yang ku pinta. Tetaplah kuatkan aku untuk mengusir prahara, agar cinta tetap berjalan semestinya.

Memang yang dikatakan mama benar. Mengadu pada Tuhan membuat segalanya menjadi lebih baik. Luka yang menganga di hatiku sedikit membaik. Tak sesakit sebelumnya. Jiwaku juga sudah agak tenang dalam menghadapi prahara yang tega menyakiti cintaku.

Aku membuka mata. Lalu tersenyum lega saat kini langit menumpahkan berkah Maha Kuasa. Hujan. Ah, kau memang selalu datang disaat yang tepat. Saat aku begitu membutuhkanmu untuk membasuh luka hatiku. Dan sekarang kau datang. Aku sangat berterimakasih pada Tuhan. Karena kedatanganmu atas perintah-Nya, kan?

Maka, aku berharap tiap rinai hujan yang menerpa bumi saat ini, adalah kekuatan untuk tetap bertahan dengan hati yang terluka dari tiap terjangan prahara.

*

Hujan, jagalah cinta.
musnahkan prahara.

*

bersambung.

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 11


Cobaan yang kita hadapi, adalah bukti cinta Tuhan pada kita sebagai umat-Nya.

*

Sebuah prahara menyelinap tanpa terduga. Prahara yang tanpa sadar disuguhkan oleh sisi lain dari kehidupan. Tak terbaca gerak-geriknya. Belum tersentuh wujudnya. Dan sesungguhnya, cepat atau lambat akan mengusik sang cinta. Semoga Tuhan, mencegah sang prahara untuk berkuasa.

*

Pemuda itu melipat dua tangannya di depan dada. Menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak. Dia menghitung deretan bunga-bunga besar berwarna kuning yang berjejer di hadapannya. Mencium baunya satu persatu. Menggaruk-garuk kepala bagian belakang. Kebingungan.

Aku, yang sedari tadi duduk di bawah kerindangan pohon jati, dan di atas kokohnya akar jati mengerutkan kening memperhatikan tingkahnya. Heran juga, kenapa lelaki yang selalu mengundang jeritan histeris wanita seantero sekolah saat berlaga di lapangan basket itu gemar sekali melakukan hal aneh seperti itu. Menghitungi jumlah bunga matahari yang berbaris rapi di tepi kolam. Untuk apa? Apa dia mau menjualnya pada peternak hamster, karena dia tahu biji bunga matahari adalah makanan kesukaan para hamster. Bukan hanya itu, dia juga menciumi bunga matahari tersebut. Memangnya bunga matahari punya aroma seperti apa? Aku yakin, mawar, melati, dan kenanga punya aroma yang lebih baik, daripada bunga matahari. Aku mendesah.

Setelah menghitung dan menciumi aroma bunga matahari satu persatu, Rio merogoh tasnya. Mengambil sebuah cutter, dan akhirnya menggunakan cutter tersebut untuk memotong tangkai bunga matahari yang berada di paling ujung.

Rio lalu menghampiriku dengan wajah berseri. Tangan kanannya menggenggam setangkai bunga matahari yang baru saja ia petik. Bunga tersebut berukuran sebesar piring makan, warnanya kuning cerah, dan selembar daun menempel di tangkainya. Ah, lucu sekali bunga itu.

Sambil menghela nafas, Rio duduk di sampingku. "Ify." ucapnya.

"Iya.." jawabku singkat sambil terus memandangi katak yang berloncatan di atas daun teratai yang mengapung di kolam kecil di hadapan kami berada.

"Kalau aku bisa, aku ingin beri kamu matahari itu." ujarnya sambil menunjuk bola kuning yang masih terlihat superior, meski senja mulai menyapa.

"Tapi..." aku menunduk, menunggu kelanjutan perkataanya sambil menikmati tiap inci getaran yang mulai berancang-ancang menjalari seluruh pembuluh darahku.

"Aku ga bisa" dia menunduk, kecewa. "Jadi, aku beri kamu bunga matahari ini." Rio mengangsurkan bunga matahari tersebut.

Dengan getaran misterius yang semakin menggila, buncahan perasaan asing dalam jiwa, dan juga euphoria yang tak terbendung lagi, aku meraih sang bunga. "Makasih!" ucapku.

Aku mengelus lembut mahkota-mahkota sang bunga, mencium aromanya dan memejamkan mata. Ah, aku menyukai aroma bunga ini. Tidak harum sebenarnya, tapi aku menyukainya karena pengaruh dari sosok yang memberikan bunga tersebut.

"Menurut kamu, cantikan matahari atau bunga ini?" tanya Rio.

"Emm..." aku berfikir sejenak bahwa kedua benda luar biasa ciptaan Sang Esa itu, sama cantiknya.

"Ya cantikan kamu lah!" ujarnya terkekeh lalu menepuk puncak kepalaku.

Hei. Kenapa dia melakukannya? Hal itu hanya akan membuat getaran misterius itu semakin meningkatkan frekuensinya. Dan dengan kentara, semburat merah akan terlukis di tiap lekuk pipiku.

Tidakkah pemuda ini merasakan hal yang sama sepertiku? Apakah dia juga melakukan hal yang sama sepertiku saat kita melewati tiap detik waktu yang telah tertinggal? Oh, kamu, dia, kalian dan seluruh dunia harus tahu, bahwa di setiap detik yang ku lalui bersamanya, aku harus susah payah menjinakkan getaran sialan itu agar tidak terus menerus menghambat fungsi otakku. Aku selalu hampir saja mati karena menahan nafas saat aroma khas tubuhnya yaitu wangi bedak bayi, ikut masuk ke dalam organ pernafasanku bersama oksigen. Bahkan, aku rasa 99% udara yang ku hirup, telah terkontaminasi wangi bedak bayinya. Aku selalu menjaga perasaan asing bernama 'cinta' agar selalu hidup dan berkembang dalam hatiku. Aku selalu menikmati kegilaan euphoria yang tercipta saa diriku bersamanya. Dan satu lagi, kali ini aku merasa tubuhku mengejang saat tangannya masih terus menapaki ubun-ubunku.

Rio menggerakkan tangannya ke pelipis kiriku, lalu mendorongnya agar kepalaku dapat bersandar pada bahu kokohnya. Hei, tidakkah terbalik? Bukankah seharusnya dia yang bersandar di bahuku? Tapi, cinta memang kadang adalah sesuatu yang aneh, dapat membalikkan sebuah keadaan. Tapi, aku bahagia melakukannya. Karena dia yang menginginkannya.

Nyaman. Ternyata bersandar di bahunya sangat amat nyaman. Aku bisa beradaptasi dengan keadaan ini. Aku dapat lebih tenang saat menangkis tiap hentakan getaran misterius itu, yang aku rasa akan selalu abadi kehadirannya, kala aku bersamanya. Aku sudah mampu meresapi aroma bedak bayinya yang memenuhi tiap sudut rongga pernafasanku dengan lebih seksama. Badanku pun telah berhenti mengejang, kala desauan nafasnya menyapa hangat kepalaku. Aku memejamkan mata.

"Aku sayang kamu pelangi!" ujarnya.

Hatiku bersorak gembira saat ini. Getaran misterius itu pun melonjak tertawa. Menertawakan ekspresi wajahku yang salah tingkah.

"Aku juga!" ucapku sangat pelan, tak dapat tertangkap oleh gendang telinga pemuda yang terus membelai lembut kepalaku. Bahkan, ucapanku tadi lebih pelan dari hembusan angin senja. Tentu saja, aku mengucapnya dalam hati. Tulus. Jujur. Penuh harap.

Cinta. Cinta. Cinta. Diucapnya ribuan kali pun, kata itu akan tetap sama. Indah. Ah, pantas saja para penyair sering menggunakan cinta sebagai tema dari ribuan bait puisi yang ditulisnya. Karena ternyata, cinta menorehkan rona bahagia pada jiwa yang sedang dihinggapinya.

Cukup lama aku bersandar di bahunya. Sambil menikmati betapa indahnya cinta. Sampai akhirnya, ponsel Rio berdering, membuatku -terpaksa- mengangkat kepalaku yang sedari tadi nyaman terkulai di bahunya.

Rio merogoh saku celananya. Mengambil ponsel. Lalu membaca pesan singkat yang baru saja ia terima.

"Mama nyuruh pulang. Kamu ga pa-pa kan?" tanya Rio dengan air muka yang mengguratkan kekhawatiran.

"Iya" jawabku sambil memberikan senyum terbaik yang aku punya.

Rio berdiri. Menoleh ke arahku. Dan akhirnya mengulurkan tangan kanannya padaku.

Dan masih dengan diiringi sang getaran misterius itu, aku meraih tangannya, lalu bangkit dari duduk.

"Kenapa?" tanyaku mengerutkan kening, melihat ekspresi kekhawatiran yang masih kentara tergambar pada air mukanya.

"Jangan pernah buat orang khawatir lagi!" Rio mewanti-wanti.

Aku kembali tersenyum, mencoba meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja. Aku tak akan dan tak ingin membuat orang lain khawatir. Janjiku dalam hati.

Dan setelah dia cukup yakin, dia berbalik lalu bergegas pulang.

Siluetnya kini sudah menghilang dari pandanganku, meninggalkanku sendiri yang masih berdiri terpaku di bawah pohon jati. Aku mendesah.

Senja kali ini sangat cerah. Tak ada awan hitam setitik pun yang menodai hamparan langit senja. Matahari di ufuk barat pun memancarkan sinar dengan sangat bersemangat. Dan aku sungguh tidak menyukai keadaan seperti ini. Karena dalam keadaan cerah, hujan tak mungkin datang. Aku mendesah lagi.

Meskipun hatiku diliputi rasa cinta, tapi kau seharusnya tahu, cintaku tak akan sempurna tanpa kehadiranmu hujan.

Aku tahu, saat ini kau sedang mengintaiku dari atas sana. Kau sedang sembunyi di balik semburat kekuningan yang perlahan menghampiri langit. Kau hanya menunggu waktu saja untuk bermain bersamaku lagi, kan? Dan aku harus mengelus dada, karena sore ini bukan waktunya.

Aku menarik nafas, lalu menghembusnya perlahan, dan memutuskan untuk pulang.

Aku berjalan perlahan di atas hamparan hijau rumput taman. Sore ini, nampak sedikit ramai dari sebelumnya. Banyak pasangan pemuda-pemudi yang sedang asyik bercengkrama. Ibu-ibu muda yang mengajak balitanya berjalan-jalan pun tak sedikit jumlahnya. Ada juga yang membawa hewan peliharaannya seperti kucing dan anjing untuk menikmati indahnya sore di taman ini.

Langkahku terhenti, saat melihat enam orang bocah laki-laki yang sedang menendang-nendang bola plastik berwarna biru. Tingkah mereka sangat menggemaskan.

Dan begitu terkejutnya aku, saat aku berbalik seorang gadis menabrakku, membuatku jatuh tersungkur di atas rumput.

"Aww!" aku meringis kesakitan dan mengusap-usap kedua telapak tangan untuk menghilangkan tanah yang menempel.

"Aduuh! Maaf ya!" ujar gadis tadi, yang ternyata memiliki suara yang lembut.

Aku mulai berdiri, dan aku hanya bisa ternganga saat mengetahui siapa yang menabrakku tadi. Gadis itu memakai sepatu hitam dengan tali berwarna merah muda, kaos berwarna putih dengan aksen kepala kucing berpita yang sering ada di film kartun di bagian dadanya, dan rok mini berbahan jeans berwarna biru tua. Gadis itu mengikat rambut tebalnya menjadi dua. Dan yang terpenting adalah, gadis itu membuat lengkungan di bibirnya. Ya, dia tersenyum. Senyuman yang dulu. Manis. Menggoda. Memabukkan. Dan tepat sekali, gadis itu adalah 'Gadis Senyum Manis'.

"Maaf ya!" ujarnya lagi.

Aku mengangguk pelan. Masih terhipnotis oleh senyumnya.

"Ih, nyebelin! Masa aku di tinggalin!" aku mengerjap saat mendengar suara renyah seorang pemuda berambut gondrong yang baru saja menghampiri Gadis Senyum Manis. Pemuda itu, Ray.

"Abisan kamu, malah main sama kupu-kupu. Akunya dicuekkin!" gadis itu mengulum bibir.

"Maaf deh maaf! Jangan marah!" Ray menjawil dagu tumpul milik Gadis senyum manis.

"Aaaa... Raaayy!" Gadis Senyum Manis itu merengek, terganggu dengan sikap Ray yang cukup 'nakal'. Tapi, beberapa detik kemudian semburat merah mewarnai pipinya. Dan akhirnya tersipu malu.

Lucu. Mungkin begitulah raut wajahku saat Rio melakukan hal yang tak terduga padaku, seperti Ray melakukannya pada Gadis senyum manis. Aku terkekeh.

"Eh, maaf ya sekali lagi!" ujar Gadis Senyum Manis.

"Iya, ga pa-pa!"

Gadis itu melirik jam tangannya, dan menepuk jidatnya sendiri. "Udah jam lima, kita harus pulang Ray!" pekik sang gadis.

"Ya udah, yuk!" Ray menarik tangan Gadis Senyum Manis untuk pergi.

"Aku pulang ya!" ujar Sang gadis, lalu bergegas bersama Ray yang terus menarik tangannya.

Aku berdecak. Menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka. Sungguh serasi mereka berdua. Ray yang memiliki wajah menyenangkan dan Gadis Senyum Manis yang memiliki senyum mempesona.

Aku mendesah, lalu bergegas pulang.

*

Bunga matahari itu nampak cantik berada di vas bunga yang terbuat dari kaca. Bi Surti sengaja mengisi vas tersebut dengan air, katanya agar bunga tersebut dapat tetap segar.

Aku meletakan vas bunga tersebut di atas meja kecil di dekat jendela kamarku, agar aku dapat sekaligus menikmati keindahan bunga matahari dan sinar matahari yang nampak dari jendela.

"Aku akan jaga kamu!" ucapku pelan.

Terdengar suara derap kaki bersahutan mendekati kamarku. Dan suara tersebut berhenti di balik pintu jati di belakangku.

Tok...tok...tok... Suara ketukan yang terdengar jelas di telingaku.

Aku berjalan mendekati pintu kamar, memegang kenop pintu lalu membukanya.

Blaasss. Hatiku mencelos saat mendapati siapa yang berada di balik pintu. Dua siluet yang masih memakai jas putih kebanggaanya berdiri memamerkan senyum teduh miliknya.

"Ify." ucap seorang lelaki yang berkaca mata.

Aku menatapi lelaki tersebut. Lalu beralih menatapi wanita di sebelahnya yang masih terus tersenyum.

Aku tersenyum masam. Dan sejurus kemudian menutup kembali pintu jati kamarku. Ah, kenapa aku tak ingin melihat wajah mereka? Bukankah selama delapan hari ke belakang, merekalah yang ku tunggu?

Sejujurnya, aku ingin menghambur ke pelukan mereka. Menumpahkan rindu yang tercipta untuk mereka. Dan mencoba menata hati yang sempat mereka hancurkan.

Namun, aku takut. Aku takut berharap. Aku takut mereka mengulang kembali perlakuannya yang sangat tidak mengenakkan. Dan harapanku kembali menguap.

Tertunduk tak berdaya. Aku menekuk kedua lutut. Menggigiti bibir. Dan mulai menangis.

"Fy!" ucap mama sambil terus mengetuk pintu yang sekarang menjadi sandaran tangisku.

"Buka pintunya Fy! Kita khawatir!" ujar mama lagi.

Khawatir? Aku tidak salah dengar, kan? Aku kan sudah berjanji pada Rio untuk tidak membuat orang lain khawatir. Maka, dengan memberanikan diri, aku berkata "Ify ga apa-apa. Jangan khawatirin Ify!"

"Tapi sayang..." mama berkata lagi dan aku cepat memotongnya.

"Ify ga akan kenapa-napa!" ucapku dengan suara parau.

Aku memejamkan mata. Menajamkan pendengaranku. Dan derap kaki itu kembali terdengar. Makin lama suara derap tersebut mengecil, dan akhirnya lenyap termakan angin.

Aku mencoba menghela nafas. Menyeka air mata yang sedari tadi merembesi pipiku. Kembali memejamkan mata. "Maafin Ify!"

*

Well, hidup pada hakikatnya adalah perjalanan untuk melewati tiap prahara yang disediakan Tuhan. Sampai mana kita mampu bertahan. Dan apakah kita mampu menaklukan tiap prahara sampai kematian menjelang.

Dan, di pojok perustakaan, ditemani sekotak pisang goreng, diiringi dendang rintikan hujan, dia datang membawa sebuah prahara yang -tanpa sadar- telah lama mengintip cerita ini, cerita tentang Hujan, Kita dan mimpi.

Dia terlihat gusar. Sedari tadi dia terus saja mondar-mandir di depanku. Mengacak-acak rambutnya yang agak basah dan berdecak. Gelisah.

Aku menggaruk pipi kananku, lalu memberanikan diri menanyakan padanya, apa yang membuat dirinya begitu gundah. "Kenapa?"

Dia menoleh ke arahku. Menatapku tajam. Lalu melangkah menghampiriku.

Dia meletakkan dua tangannya di bahuku. Menohok dua pelihatku. Mengundang getaran misterius itu untuk menjalari tiap jengkal pembuluh darahku.

"Pelangi" ucapnya.

"Iya"

"Aku suka..." dia meralat perkatannya. "Ga, aku sayang... bukan, lebih dari sayang. Cinta. Ya, aku cinta. Aku cinta sama..." dia menggantungkan kata katanya.

Aku mengerutkan kening. Menunggu kelanjutan ucapannya. Dan ternyata, diam-diam aku berharap bahwa namakulah yang akan menjadi pelengkap dari ucapannya yang belum usai.

"Aku cinta sama...." Rio menggigiti bibirnya, dan akhirnya menyelesaikan ucapannya. "Sama... Aurora"

*
bersambung.
*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 10


Sebelumnya tak ada yang mampu mengajakku untuk bertahan di kala sedih.
Sebelumnya ku ikat hatiku hanya untuk aku seorang.
Sekarang kau di sini, hilang rasanya semua bimbang, tangis, kesepian.

~Sherina Munaf~

*

Hari ini, tepat seminggu setelah insiden menyedihkan di restoran Padang itu terjadi. Saat seorang gadis jelek ditelantarkan oleh dua orang yang seharusnya memperlakukannya dengan baik. Dan itu hanya berhenti pada kata seharusnya. Takkan ada yang berubah. Mengenaskan.

Maaf. Dari seminggu yang lalu sampai detik ini pun aku belum mendengar kata itu dari mereka. Jangankan mendengar, sekedar menghirup aroma khasnya dan melihat sosoknya pun aku belum pernah. Mereka terlalu sibuk. Sehingga hidupnya pun harus mereka habiskan di rumah sakit, bersama ribuan orang yang bernama 'pasien. Meninggalkan aku yang harus selalu menguatkan diriku sendiri. Naas.

Sejujurnya, aku tak berharap besar. Ya, hanya harapan kecil yang secepatnya akan pupus terhembus angin. Hilang tertelan badai. Dan pada akhirnya, nasib harapan kecilku ini akan sama dengan harapan-harapanku sebelumnya. Terbunuh. Mati. Tragis.

Justru, harapan besar aku ciptakan untuk seorang jauh di sana. Seorang pangeran Matahari yang memberi sebongkah kebahagiaan untukku. Tak percaya? Lihat apa yang tergantung manis di leherku! Kalung cantik berbandul pelangi kecil. Benda menggemaskan ini adalah visualisasi dari kebahagiaan yang dia beri.

Aku masih di sini. Berdiri sendiri di balkon kamarku sambil memejamkan mata dan menggenggam erat bandul pelangi kalungku. Aku tak sekedar berdiri. Aku sebenarnya sedang menunggumu, hujan. Sudah tiga hari kau tak datang. Aku merindukanmu beserta seluruh pasukanmu. Aku rindu saat rintikanmu jatuh tepat di puncak kepalaku. Aku rindu saat kita saling berkejar-kejaran. Aku rindu saat tiap rinaimu mengiringi kebersamaanku dengannya. Aku rindu saat kau sedia menghapus bulir-bulir air mataku. Aku rindu saat kau mau menemaniku menjaganya yang sedang terlelap. Aku rindu semua itu.

Aku rasa, kau marah padaku. Karena kau fikir setelah aku dekat dengannya, aku akan melupakanmu. Tapi sungguh, aku takkan pernah bisa melupakanmu. Bukankah kamu yang telah berjasa mempertemukanku dengannya di sore kala itu? Bukankah kamu juga yang selalu membuatnya terlelap di bahuku? Jadi, mana mungkin aku melupakanmu.

Baiklah. Mungkin hari ini kau enggan menemuiku. Tapi, aku akan terus menunggumu.

*

Persahabatan merupakan bagian dari hidup kita. Binalah persahabatan. Kita akan merasakan betapa kayanya hidup kita. Berbagi kesedihan pada sahabat, mengurangi kesedihan. Berbagi kebahagiaan pada sahabat, memperkokoh kebahagiaan. Orang bijak bilang bahwa sahabat adalah satu jiwa dalam tubuh yang berbeda. Barangkali, itulah mengapa bersahabat meringankan beban kita, karena di dalam persahabatan tidak ada perhitungan. Di sana kita belajar menghindari hal-hal yang tidak kita setujui, dan senantiasa mencari hal-hal yang kita sepakati. Itu juga mengapa persahabatan adalah kekuatan. Sebagaimana kata pepatah, hidup tanpa teman, mati pun sendirian.

~Jendela Motivasi~

*

Melanjutkan tiap deretan kata penuh makna. Menggerakkan sebuah pena di atas kertas putih tak bernoda. Menorehkan tinta hitam tanpa ragu. Mungkin, rangkaian kata-kata sederhana ini akan membuat hidupku lebih baik. Aku yakin. Karena itu mimpiku.

Aku menoleh ke samping kiriku. Ah, masih kosong. Penghuninya belum datang. Kemana sebenarnya dia? Bel masuk sebentar lagi kan berbunyi. Aku mendesah.

Aku kembali menggoreskan penaku, menciptakan deretan kata lagi untuk memenuhi tiap lembar buku catatanku.

Dan tak lama kemudian aku mengerjap lalu spontan menutup buku catatanku, saat seseorang dengan tiba-tiba mengguncang bahuku. "Alyssa Saufika Umariiiii!" pekiknya.

Aku mengerutkan kening. Heran juga, kenapa gadis berambut ikal di hadapanku ini senang sekali mengagetkanku dengan pekikannya yang selalu muncul tanpa terduga. Aku hanya bisa tersenyum jengah.

Keke -gadis di hadapanku- mengangkat tangannya dari bahuku. Melepaskan ransel biru miliknya dan meletakannya di atas meja. Lalu sejurus kemudian duduk di kursinya.

"Aduh!" Keke menepuk keningnya sendiri, seakan melupakan sesuatu. Dia nampak gusar dan gelisah. Dia menggigiti telunjuknya. Menggeleng-gelengkan kepala. Mengetuk-ngetuk meja. Kenapa dia?

"Aku nyesel banget tahu!" ujarnya lagi.

Aku memegangi tangannya, menggenggam erat lima jari tangan kanannya dan mencoba menenangkannya. "Kenapa Ke?" tanyaku lembut.

"Ahhh, aku ga liat kamu main basket!" erangnya lalu mengulum bibir.

Ya ampun Keke! Aku kira ada sesuatu yang besar, ternyata hanya itu. "Hehe..." aku terkekeh.

"Padahal kangen tahu, liat kamu main basket!" Keke berdecak. "Papa sih, nyuruh aku pulang!"

"Ga pa-pa lah Ke!" ujarku lalu menjawil pipi tembem miliknya.

"Eh, kata Agni kalian udah baikan ya?" tanya Keke antusias.

Aku tersenyum. Ah, mengingat peristiwa dua hari yang lalu itu, aku merasa bahagia. Aku hanya mengangguk pelan.

"Yeeee...!" Keke bersorak lalu memelukku. "Aku seneeeng banget!"

"Apalagi aku." ujarku dengan mata berbinar.

Ya Tuhan, Engkau harus tahu, bahwa dengan kembali eratnya ikatan persahabatan antara aku, Keke, dan Agni adalah sebuah kebahagiaan yang tak terperikan. Dan Kau juga harus tahu, ternyata aku sangat amat membutuhkan sahabat di sampingku. Bukan benda-benda mati yang selama ini aku anggap sahabat. Tapi sahabat yang sesungguhnya. Sahabat yang mengangkatku dari segara keterpurukan. Sahabat yang menopangku saat ku rapuh. Sahabat yang kau beri untukku.

*

Gadis cantik itu sedang memainkan jari-jarinya di atas tust-tust piano. Rambut hitamnya yang ikal ikut bergoyang, mengikuti gerak tubuhnya. Sesekali dia menyingkirkan poninya yang kelihatannya cukup mengganggu ke pinggir. Lalu mulutnya ikut bergerak, melantunkan sebuah lagu yang sangat indah.

Setelah sepenggal lagu dia kumandangkan, dia beralih ke alat musik yang berada di sudut kiri ruangan, sebuah drum. Dia mengambil stik yang diberikan oleh temannya yang baru menabuh drum. Lalu dengan anggun, dia mulai memukul-mukul drum itu, menghasilkan suara yang menggemaskan.

Gadis itu memang masih belajar bermain drum. Jadi, ia masih ragu-ragu memainkannya. Ah, tapi lihatlah! Sekarang dia mengambil sebuah gitar, lalu dengan fasih memetiknya. Dia tidak takut jari-jari cantiknya rusak karena memetik gitar. Karena dia menyukainya.

Gadis cantik itu adalah Gabriel Angeline Thalita Pangemanan. Keke. Teman sebangkuku. Sahabat karibku. Keke memang gadis yang sangat berbakat dalam bidang musik. Hampir semua alat musik dia bisa memainkannya -termasuk drum yang baru dua minggu ia pelajari-. Dan alat musik yang sangat ia kuasai adalah piano dan gitar.

Suara Keke sangat mengganggu. Suaranya selalu membuat telingaku sakit. Tapi, saat dia bernyanyi, suara mengganggunya berbubah menjadi sebuah simfoni indah dari surga. Ya, dia pandai bernyanyi.

Ceria. Keke adalah gadis berumur 15 tahun yang sangat ceria. Dia selalu tersenyum dan tertawa setiap hari. Selama aku mengenalnya, hanya sekali aku melihatnya menangis, saat dulu Agni memarahiku. Setelah itu, aku tak pernah melihat cairan bening yang bernama 'air mata' itu jatuh dari pelupuk mata bulatnya. Dan sungguh, aku tak pernah mau melihat hal itu lagi. Aku tak tega, jika keceriaanya ternoda hanya dengan setetes air mata. Aku tak rela senyumannya luntur hanya karena kebodohanku. Maka, dengan segala cara aku harus tetap mempertahankan dan menjaga keceriaannya.

Keke. Ya Tuhan. Dia sangat sempurna. Rasanya aku dan dia bagai pluto dan matahari, sangat jauh jarak terbentang. Dia sangat cantik. Rambutnya ikal, panjang, hitam dan berponi. Kulitnya berwarna sawo matang. Matanya bulat, tajam dan indah. Lengkungan senyumnya juga manis -tapi tak melebihi senyum milik Gadis Senyum Manis-. Pipinya tembem menggemaskan. Dan itu sangat berbeda jauh denganku, Si Itik Buruk Rupa.

Hanya cantik? Tidak. Dia juga pintar. Dia selalu mendapat peringkat pertama di kelas. Membuatku harus ikhlas dengan peringkat ke-dua yang rasanya akan abadi kalau aku selalu sekelas dengannya. Dia juga sering menyabet medali emas dalam olimpiade sains. Ah, jenius sekali, bukan?

Tapi, semua kelebihan yang Keke miliki, tidak membuatnya jiwanya angkuh dan besar kepala. Justru, Keke sangatlah baik. Dia rendah hati dan berteman dengan siapa saja. Dia seorang gadis yang suka menolong. Maka pantaslah kalau dia disukai oleh banyak orang.

"Ifyyyy!" aku terkesiap, saat seseorang memanggilku, membuyarkan kekagumanku pada sosok gadis yang berada di dalam ruangan musik di depanku ini. Dan orang yang memanggilku adalah dia. Rio.

*

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

~Sapardi Djoko Damono~

*

Aku meletakkan kotak bekalku di atas meja. Menggigit bibir. Menggaruk pipi kananku. Mengayunkan kedua kakiku secara bergantian. Dan menunduk.

Lelaki di depanku mengetukkan jarinya ke meja. Mendesah dan berkata. "Aku menunggumu!"

Tuhan. Aku jahat telah membuatnya menunggu. "Maaf!" ujarku sambil memainkan ujung dasiku.

"Kamu buat aku khawatir!" ujarnya lagi.

Sial. Kenapa getaran misterius itu muncul lagi? Kenapa dia selalu datang saat aku bersamanya? Aku mendesah sepelan mungkin. Aku tak mau dia mendengarnya. Karena kalau hal itu terjadi, maka dia akan mengetahui getaran yang membuncah di seluruh tubuhku.

"Aku..." Rio meraih tangan kananku. Menggenggam erat dengan kedua tanganya, lalu melanjutkan ucapannya. "Kangen sama kamu!"

Ups. Pipiku memanas. Aku yakin, sebentar lagi, semburat merah akan mewarnai pipiku. Aku menunduk, menyembunyikannya dari Rio. Ah, aku malu.

"Aku juga kangen sama pisang goreng kamu!" Rio melepaskan genggamanya lalu mengambil kotak bekal yang duduk manis di antara kami. "Ini, buat aku, kan?"

Aku tersenyum dan mengangguk pelan.

"Makasih pelangi!" ujarnya lalu membuka tutup kotak bekal. Mengambil sepotong pisang goreng. Dan akhirnya, melahapnya habis.

Aku terus menatapinya. Memperhatikan tiap lekuk pahatan sempurna wajahnya. Menjelajahi dua danau penyulut semangat miliknya. Melihat rahangnya yang bergerak-gerak saat mengunyah tiap potong pisang goreng. Menelusuri setiap keindahan yang tertoreh sempurna pada siluetnya.

Aku tak pernah merasa direpotkan saat dia memintaku untuk membawakannya pisang goreng. Aku tak pernah merasa lelah saat menantinya menghabiskan pisang goreng yang ku bawa. Aku tak pernah merasa bosan saat memperhatikan minyak dari pisang goreng yang melumuri bibir mungilnya. Sebaliknya, aku ikhlas dan bahagia melakukannya.

Mungkin, cinta yang membuatku ikhlas dan bahagia melakukannya. Apa? Cinta. Ya, aku fikir aku mencintainya. Tapi cinta, bukan hanya sekedar fikir. Cinta adalah sebuah rasa yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta untuk kita. Dan sudah seharusnya kita menjaga sang Cinta.

Aku belum berani mengakui sepenuhnya, bahwa getaran misterius yang selalu membuncah kala aku berada di dekatnya adalah pertanda cinta.

Namun, kalau ternyata itu cinta, aku akan menjaganya. Aku akan mencintainya dengan caraku sendiri, cara yang sederhana. Yaitu ikhlas dengan semua kekurangannya dan bahagia dengan segala kelebihannya.

Hujan, tolong sampaikan pada Tuhan,
abadikanlah rasa ini.

*

bersambung.

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 9


Mungkinkah ini pertanda,
aku jatuh cinta,
cintaku yang pertama.

~Mikha Tambayong~
*

Bagai anak kecil yang dibelikan sebuah balon besar. Bagai seorang penyerang yang mampu membuat gol di gawang lawan. Bagai Cinderella yang berdansa dengan sang pangeran. Tersenyum dan bahagia. Itu aku saat ini. Sahabat karibku kembali, setelah tiga tahun dia mencoba lari.

"Selamat ya Fy!" ucap Rio dengan mata berbinar.

Belum sempat aku berucap, Rio memeluku. Pelukannya kembali memanggil getaran misterius itu hadir untuk mengacaukan fikiranku. Desauan nafasnya terasa hangat menyentuh belakang telingaku, membuat tubuhku merinding. Dan jantungku berloncatan kegirangan, membuat sang getaran kembali menambah frekuensinya. Bahkan seismograf pun tak mampu mengukur besarnya getaran misterius itu.

"Ehm... makasih yo!" ujarku dengan susah payah.

Dia melepas pelukanya, membuat aku bisa bernafas -sedikit- lega, untuk menenangkan jantungku dan menjinakkan getaran liar itu.

"Yuk!" ajaknya dengan tarikan tangan tiba-tiba yang selalu dia berikan, membiarkan jemari kami saling bertaut untuk beberapa waktu.

Baru saja tiga langkah kami berjalan, seseorang menghentikanya dengan suara yang renyah. "Hei!"

Kami membalikan badan, nampak seorang dengan memakai kaos basket biru tengah berlari memburu kami.

Saat ini, dia sudah berdiri di depan kami. Dia anak tadi. Yang tak sengaja menabrak Rio saat bermain basket. Dia nampak sedang mengatur nafasnya, lalu menyingkirkan deretan rambut gondrongnya yang hampir menutupi mata ke pinggir. Dia menatap Rio, lalu menatapku, dan akhirnya menatap Rio lagi. "Kamu Rio ya?" tanya anak lelaki yang berwajah menyenangkan itu dengan suara khasnya yang renyah.

"Iya, kamu anak SMP 3 ya?" tanya Rio

"Aku Ray." Ray mengulurkan tanganya yang disambut baik oleh tangan kanan Rio, sementara tangan kirinya, masih menggenggam erat tangan kananku, tak sebentar pun ia lepaskan.

"Maaf ya, tadi ga sengaja nabrak kamu!" ujar Ray dengan sangat polos. "Aku cuma mau ngucapin selamat buat sekolah kamu!" kata Ray lagi.

"Terimakasih ya!" kata Rio dengan senyum yang menawan.

"Rayyy! Cepetan! Anak-anak udah mau pulang!" teriak seorang gadis dari kejauhan. Gadis itu? Pemilik senyum manis yang melelehkan. Senyum yang membuat aku terhipnotis tadi, sampai aku tak bisa berkutik di hadapannya.

"Iya bawel!" jawab Ray dengan nada -sedikit- kesal. "Aku pulang ya, semoga kita bisa ketemu lagi!" Ray menepuk pundak Rio, lalu sejurus kemudian berlari menuju sumber suara.

Sang gadis senyum manis yang ia hampiri nampaknya sedang menggerutu, memarahi Ray yang terlihat mengulum bibir. Haha, lucu sekali Ray dan gadis senyum manis itu. Bagai sepasang. Kekasih.

"Hei" Rio menepuk pelan lenganku. Seketika aku mengerjap dan terkesiap, membuyarkan keterpesonaanku pada senyum manis sang gadis yang kini sudah memasuki bis. Pulang.

"Mau ikut aku ke suatu tempat?" tanya Rio

"Kemana?"

"Udah, ikut aja! Yuk!" dia kembali menarik tanganku untuk ikut ke tempat yang ia tuju.
*

Dipuja oleh seluruh penyair.
Diagungkan oleh seluruh mahluk.
Karena kekuatannya yang mahadahsyat.
Cinta.

*

Awan masih terlihat menggumpal. Matahari sudah mulah bergerak ke arah barat. Burung-burung sore juga sudah mulai berkicau. Sebuah kolam kecil dengan beberapa tonjolan batu di tengah-tengah. Dan pohon jati raksasa yang sudah berumur sangat tua. Hamparan rumput hijau dan deretan bunga matahari cantik di tepi kolam. Tempat ini, tempat tujuan Rio. Tempat kami berada sekarang.

Kami berdua duduk di atas akar besar pohon jati, berteduh di bawah rindangnya pohon perrkasa ini, menghirup udara sore yang menyehatkan rongga pernafasan. Menyegarkan.

Disini tenang, jauh dari keramaian dan bisingnya knalpot kendaraan. Hanya terlihat beberapa pasangan orangtua dan anak, juga muda-mudi yang sedang berjalan-jalan menikmati sore ini.

"Kamu suka tempat ini?" tanya Rio.

"Suka. Indah banget!" jawabku dengan pandangan ke arah deretan bunga matahari itu, dimana kupu-kupu sedang asyik hinggap di atasnya.

"Dulu, aku sering banget ke sini sama mama papa" celotehnya

"Sekarang?"

"Sekarang..." dia sedikit berfikir. "Aku kesini sama kamu"

Aku terkejut. Dan lantas perkataanya kembali mengundang getaran misterius itu datang lagi. Mengacaukan fikiranku lagi. Aku menoleh ke arahnya. Bahkan, dari samping pun, kesempurnaanya selalu terlihat. Tak ada cela sedikit pun.

Rio menoleh, menatapi mataku yang tertangkap sedang menatapinya. Aku mengerjap, menggaruk pipi yang aku yakin sekarang sudah berwarna merah. Aduh, kenapa aku malu?

"Hehe.." Rio terkekeh. "Mukamu lucu!" ujarnya.

Mati aku. Sepertinya dia melihat semburat merah di pipi tirusku. Aduh, konyol sekali aku. Ya ampun, pipiku ini tak bisa diajak kompromi. Malah sekarang, jantung, hati dan getaran sialan itu bersekongkol untuk menabuh genderang makin keras. Mereka membentuk kelompok pencipta kebisingan seperti kelompok marching band, dan getaran misterius itu yang jadi mayoretnya. Ya ampun, kalau terdengar pangeran matahari bagaimana? Bisa tambah merah pipiku.

"Aku salut sama permainan basketmu. Keren!" pujinya.

"Ma...makasih! Tapi biasa aja ah!" sanggahku.

"Kamu, selalu aja ngerendah."

Aku menghela nafas, lalu menghembusnya. Seiring dengan hembusan nafasku, aku berharap getaran itu enyah, hatiku berhenti bertalu, dan jantungku berhenti meloncat.

"Tapi, kayaknya setiap kamu berhadapan sama cewe yang rambutnya panjang di ikat, yang tadi manggil Ray, kamu ga lakuin apa-apa. Pas terakhir aja kamu bisa rebut bolanya dari dia" katanya sambil melempar kerikil kecil ke kolam.

"Soalnya... dia cantik. Senyumnya manis." jawabku.

"Oh ya?"

"iya, senyumnya sangat manis. Aku belum pernah melihat senyum semanis itu. Bahkan, senyum itu mampu buat aku terpesona." ujarku sambil kembali membayangkan lengkungan senyum sang gadis.

"Manisan juga senyum kamu!" celetuknya lagi yang sangat ampuh membangunkan getaran misterius itu yang sesaat sempat terlelap.

Kacau. Kalau getaran itu datang, maka jantungku akan kembali berloncatan, hatiku akan ikut bertalu, dan akhirnya menorehkan semburat merah di pipiku.

Benar saja kan. Sekarang aku merasa pipiku panas. Dan itu tandanya pipiku sudah positif merah. Dan aku yakin, warnanya lebih merah dari apel beracun yang di makan oleh putri salju.

Rio, pangeran matahari, kamu padandai sekali mengundang getaran itu. Hanya sekejap, dengan beberapa kata, satu kalimat, maka dengan segera getaran itu tiba.

Apa? Rio yang mengundang getaran itu? Apakah benar semua itu? Aku buta, aku tak tahu apa ini. Aku bodoh, aku tak dapat menyibak tabir misterius di balik getaran yang selalu muncul tanpa terduga.

Senang. Selain mengacaukan, tapi aku tak bisa memungkiri, aku selalu menikmati euphoria tiap getaran yang menjalar tanpa kendali. Dan tanpa sadar, aku juga berharap getaran itu tetap hadir di kala detik-detik terlewat bersamanya. Bersama sang pangeran Matahari.
*

Tuhan menciptakannya untukku.
Membiarkan waktuku terlewat bersamanya.
Mengubah semua kemalanganku.
Karena Tuhan maha sempurna, maka Dia juga menciptakannya dengan sempurna.
*

"Aku punya sesuatu deh buat kamu!" Rio kembali membuyarkan lamunanku.

Dia merogoh tas ranselnya, lalu mengeluarkan sebuah kalung cantik dengan bandul lengkungan pelangi kecil menggemaskan. Menambah cantiknya kalung itu.

"Aku udah lama punya kalung ini, tapi aku bingung mau kasih ini ke siapa." Rio menghela nafas. "Dan kayaknya, kamu deh yang pantes milikin kalung ini."

Aku membuka tanganku, lalu Rio meletakkan kalung di telapak tanganku. "Ada pelanginya, cocok buat kamu pelangi." ujarnya.

"Bagus banget! Boleh aku pakai?" tanyaku.

"Jangan!" Rio mengambil kembali kalung itu, membuatku heran dan sedikit kecewa.

"Biar aku aja yang pakein!" ujarnya lalu melepaskan kaitan kalungnya dan memakaikannya padaku.

Saat ini, kedua tangan kokoh Rio mengurungku dari belakang, membuatku harus menahan nafas. Aku mengangkat kuciran rambutku, lalu Rio mengaitkan lagi sang kalung.

Menggetarkan. Nafasnya berhembus ke tengkukku, membuat tubuhku kembali merinding dan petaran liar itu kembali menjadi-jadi. Bahkan sekarang dia mencoba mengambil alih seluruh fungsi organ tubuhku.

"Kamu cantik banget!" pujinya yang selalu berhasil membuatku tersipu.
*

Berbahagialah orang yang pernah merasakannya.
Menyesalah orang yang menyia-nyiakannya.
Dan bodohlah orang yang membencinya.
Karena cinta, terlalu sempurna.

*

Kami kembali melihat ke depan. Kupu-kupu itu tersenyum melihat kami. Burung juga ikut bersorak. Dan sang matahari yang sebentar lagi sembunyi, bahagia melihat kami.

Rio mendaratkan kepalanya di bahuku. Meski tidak sedang berada di bis, tapi kebiasaannya untuk bersandar dibahuku tak berubah. Tanpa sadar pula, aku selalu menanti saat ini. Saat kami begitu dekat. Saat aku bisa merasakan desauan nafas teraturnya. Saat aku mencium aroma khasnya, yaitu aroma minyak telon dan bedak bayi. Saat aku melihat tiap lekuk sempurna wajahnya. Saat aku bertarung dengan buncahan getaran itu. Saat aku merasa bahagia.

"Mataharinya udah mau pergi." ujarnya

Memang. Sekarang hanya tinggal 3/4 dari bulatan bola kuning itu yang masih nampak. Menyeruakkan semburat merah kekuningan di langit.

"Tapi, aku ga akan pernah pergi dari kamu!" ujarnya lagi.

Mimpi. Aku seperti berada di dunia mimpi. Kebahagiaan ini, aku tak pernah rasa sebelumnya.

Cinta. Orang mungkin sering merasakannya. Tapi aku baru pertama kali. Mungkinkah apa yang aku rasakan sama seperti yang orang-orang itu rasakan? Entah. Tapi yang jelas, aku hanya berharap rasa ini tak kan hilang seketika. Tak kan terhapus masa. Tak kan tergerus keadaan. Karena, dengan segala ketidaksempurnaanku, aku akan menjaga rasa ini agar tetap berada di hati. Dan aku berharap, aku benar-benar bisa menguraikannya, meski aku tak tahu, kapan tiba saat itu.

Hujan, keremangan ini mencipta bimbang.
Ketidakpastian ini membuatku ragu.
Tapi aku akan menjaganya.
*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 8B


Hanya yang mau mengambil resiko terbesar yang akan menjadi pemenang.
mempertaruhkan semua, termasuk hatinya.
yakinlah, Tuhan Maha kuasa! Dia takkan rela melihat hamba-Nya terluka.
*

Saat mereka menghinaku, kau genggam tanganku. Kau bisikan tulusnya cinta kepadaku

Glenn Fredly
*

"kenapa? Kamu bisa main basket kan?" tanya Rio membuyarkan memori yang baru saja berputar tanpa ku sadar dalam otakku.

"Aku..." terbata-bata "bodoh, yo!"

Rio mengerutkan kening, "maksud kamu?"

"Aku bodoh, aku ga bisa main basket." ucapku lirih, kali ini dengan kepala tertunduk.

"Pelangi." Rio memegang bahu kananku, lalu dengan telunjuknya dia menyentuh ujung dagu runcingku dan mengangkatnya agar kepalaku tidak menunduk lagi. Lalu dengan kedua danau penyulut semangatnya, dia menohok dua pelihatku. "Kamu bisa main basket. Aku, percaya sama kamu!" tuturnya yakin.

Aku menggeleng. Menyangkal tatapan tajamnya. Menyanggah ucapannya. "Ga bisa."

"Ify pelangi bisa lakukan apa saja. Don't give up pelangi!"

Ups. Dan kali ini aku memang tak bisa menghindarkan pelihatku dari tohokan danaunya yang tajam. Menjerat. Mematikan. Memabukan.

"Ayo!" dia menyambar lenganku, menyeretku ke kerumunan tadi.

Ah Rio. Apa tak kentara penolakanku tadi? Kurang jelaskah ketidaksudianku untuk menerima tawaranya? Anak ini memang tak peka ya. Ck, aku berdecak.

Semua yang ada di kerumunan memperhatikanku, dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Hei, kenapa? Ada yang aneh denganku? Baiklah, tak usah dijawab.

Aku mengedarkan pandanganku, nampaknya mereka baik-baik. Kecuali... ow ow, matanya menatap tajam ke arahku, dan sepertinya sudah bersiap untuk menusuk telak kedua mataku. Ya Tuhan, bisakah aku pergi dari keadaan yang tidak menyenangkan ini? Aku serasa, ingin mati saja.

"Ini Ify Alyssa. Dia bakalan gantiin Irva." ujar Rio pada semua yang ada disini.

Aku menggigit bibir, memperhatikan dengan seksama bagaimana ekspresi wajah mereka. Tiga orang anak perempuan yang memakai baju basket nampak tersenyum, menyambut baik keberadaanku. Dan karena itu, aku jadi ikut tersenyum. Tapi, dalam sekejap, senyum yang baru saja terlukis di wajahku luntur, saat mataku menangkap ekspresi tidak bersahabat dari gadis berambut pendek yang sedari tadi menatapku tajam. Dia, Agni Tri Nubuwati. Gadis yang mungkin -dan sepertinya- menyimpan dendam padaku. Dendam akan peristiwa 3 tahun silam itu.

"Kamu yakin yo?" tanya Agni dengan nada meremehkan.

"Aku yakin. Iya kan Fy?" Rio menyenggol tubuhku, membuatku sedikit terkesiap.

"Eh... ah... iya... mungkin.." kataku dengan hembusan nafas putus asa.

"Dia" Agni menunjuk tepat kearah mukaku. "Ga bisa main basket. Sama. Sekali." katanya telak mencambuk hatiku. Membuatku ngeri dan memutuskan menghindari dua bola panasnya dengan menunduk.

"Agni... bener... Aku ga bisa... main basket yo!" suaraku bergetar, menahan tangis yang hampir pecah.

"Aku yakin ko, Ify bisa main basket. Cobalah Ag, kasih kesempatan buat Ify!" Rio berusaha membelaku.

"Ga." jawab Agni ketus.

"Ayolah Ag! Tim kita butuh seorang pemain lagi. Biarin Ify main!" ujar seorang gadis yang sedari tadi menyambut ramah keberadaanku.

"Tapi, kenapa harus dia sih?" Agni kekeh pada pendirianya. Dari dulu, dia memang tak pernah berubah. Tetap keras kepala.

"Ga ada lagi yang bisa main basket selain dia Ag!" ujar gadis itu lagi. Apa? Dia percaya padaku? Pada gadis bodoh yang belum ia kenal sama sekali?

"Udahlah Ag, jangan egois!" kata Rio.

"Terserahlah.." pertahanan Agni runtuh.

Gadis ramah tadi menghampiriku. Mengangkat daguku yang sedari tadi tertunduk, lalu tersenyum sangat tulus. Senyum percaya. "Ganti baju dulu yuk!" ajaknya.

Aku mengangguk lalu mengekorinya menuju ruang ganti.
*

"Gimana? Bajunya pas?" tanya gadis itu sambil memperhatikanku yang baru keluar dari ruang ganti.

"Agak longgar sih!" kataku sambil merapikan baju basket yang ku kenakan.

"Hehe, itu baju Irva" gadis itu mengulurkan tanganya, "aku Sofia."

Aku menjabat tanganya, tersenyum lalu berkata "Aku Ify Alyssa."

Entah kenapa, melihat gadis ramah ini, aku merasa senang. Mungkin karena dia orang ke-dua yang percaya pada gadis bodoh sepertiku, atau mungkin hal yang lain? Tak tahu. Tapi, gadis ini memang sangat baik dan bersahabat. Dibalik penampilannya yang agak tomboy seperti Agni, dia menyimpan kelembutan. Kelembutan hati yang mampu menggugah kepercayaan diriku. Dan agaknya hal itu mampu menghapus goresan traumaku akan basket.
*


Kami berkumpul. Aku, Agni, Sofia, Dea, Aren, Rio, dan Pak Duta -pelatih tim basket-. Pak Duta memberikan arahan mengenai strategi di dalam permainan basket. Dengan sangat berwibawa, beliau menjelaskan taktik yang akan dipakai. Bagai seorang jenderal yang mengarahkan prajuritnya untuk berlaga di medan perang. "Menyerang, adalah pertahanan yang paling baik", kira-kira seperti itulah strategi tim basket putri sekolah kami.

"Kamu" Pak Duta menunjukku. "jaga lini belakang, hadang setiap lawan yang datang, rebut bolanya, dan lempar ke pemain lain."

Aku mengangguk menyanggupi. Sepertinya tugas yang tidak terlalu berat.

"Aku ga yakin dia bisa." ujar Agni sambil memutar bola mantanya, membuat aku tertunduk dan kepercayaan diri yang sempat melambung kembali terhempas. Mengenaskan.

"Lakukan semua dengan semangat!" kata Pak Duta dengan bersemangat, agar membuat anak asuhnya juga ikut bersemangat. Tapi tidak denganku. Bukan karena aku bukan anak asuhnya, tapi karena aku memang sudah kehilangan kembali rasa percaya diri.

Agni, dan dua orang lainnya memasuki lapangan, sedangkan Pak Duta pergi entah kemana, menyisakan aku yang masih terus menunduk di antara dua sosok yang begitu luar biasa.

"Kamu bisa Fy!" Sofia kembali menyemangatiku dengan tuturnya yang lembut, membuatku aku sedikit berani melesakkan tiap centi kepercayaan diri.

"Hei, pelangi pasti bisa!" Rio menepuk pundakku, melecut semangat pada diriku agar dengan segera kepercayan diriku melambung lagi.

Sofia meraih tanganku lalu menariknya memasuki lapangan. Arena unjuk kemampuanku. Arena pembuktian pada semuanya yang hanya bisa meremehkanku selama ini. Atau sebaliknya. Justru lapangan ini adalah arena unjuk kebodohanku. Menunjukan dengan kentara betapa bodohnya gadis jelek sepertiku. Dan mereka takkan pernah merasa menyesal telah meremehkanku.

Pak Joe kembali dipercaya menjadi wasit. Beliau melempar bola lalu meniup peluit, tanda pertandingan dimulai. Agni, Sofia, dan pemain yang lain melompat, memperebutkab bola yang dilempar oleh pak Joe tadi. Sedangkan aku hanya termangu melihat mereka. Kakiku kaku, dan sulit untuk melompat. Ah, sudah sangat lama aku tidak bermain basket.

Agni mendapatkan bolanya, lalu dengan sangat lincah dia mendrible bola sampai area pertahanan lawan, mengecoh lawan dengan memutar badan, lalu melompat dan menshooting bola. Point pertama untuk tim kami.

Seorang dari tim lawan yang berambut pendek mengambil bola, lalu melemparnya pada sang rekan yang sudah berlari. Sang gdis yang menerima bola langsung mendrible bola dengan sangat lincah, melewati Dea dan Aren. Dan sekarang aku berhadapan langsung dengannya. Ow..ow... Dea dan Aren saja yang jago basket bisa ia lewati dengan mudah, apalagi aku. Matilah aku.

Gadis berambut panjang hitam itu masih menepuk-nepuk bola, menatapku tajam dan tersenyum. Senyum? Ya, dia tersenyum, manis sekali. Membuatku terbuai dan lengah, hingga dengan mudah dia melewatiku lalu menshoot bola. Point kami sama.

Agni, Dea, aren dan Sofia menghampiriku yang masih terpaku. Agni dengan matanya yang tajam menatapku. Dan sambil mengeluarkan jurus andalannya yaitu memutar bola mata, dia berkata "Udah aku bilang kan, dia GA BISA!" Agni menekan dua kata terakhir lalu berlari lagi ke depan di susul Dea dan Aren.

"Masih banyak waktu kok!" Sofia menyemangatiku lagi. Ah, gadis ini belum tahu saja, bahwa setelah kesalahan yang baru saja ku buat adalah awal dari kesalahan-kesalahan lain yang lebih besar.

"Ambil bolanya, lempar ke aku!" ujarnya dengan nada bersahabat yang jauh sekali dari nada memerintah.

Aku segera mengambil bola, lalu melemparnya pada Sofia seperti perintahnya tadi. Setelah Sofia menerima bolanya, dia berlari melewati semua pemain lawan, sampai akhirnya dia berhadapan dengan gadis pemilik senyum manis tadi. Uh, bisakah Sofia melewati gadis itu? Sedikit keraguan mulai terbersit di benakku. Tapi hanya dengan satu gerakam, sofia melewati gadis senyum manis, mematahkan keraguan dalam diriku. Sofia berlari lagi, melakukan lay up shoot. Point lagi untuk tim kami.
*

Seterusnya. Permainan berjalan menyenangkan dan menegangka tentu saja. Saling menyerang dan mengumpulkan point. Saat Agni, Sofia, Dea atau pun aren menciptakan point, semuanya bersorak, termasuk aku. Ya, walaupun aku hanya bersorak di dalam hati. Sehingga yang dapat mendengarnya hanya aku, hatiku dan tuhan pasti.

Saat Si Senyum manis berhasil memasukkan bola ke ring tim kami, semua mencaci kebodohanku. Kecuali Sofia yang dengan lembut mau memaafkan setiap kesalahan yang ku buat, dan Rio yang selalu menyalurkan energi positifnya dari tepi lapangan.

Aku, sama sekali tak mempunyai kesempatan untuk memasukkan bola. Bukan. Bukan karena itu. Tapi karena aku memang sama sekali tak bisa memasukkan bola. Maka, setiap aku berhasil mendapatkan bola, aku lebih memilih mengopernya pada Sofia atau yang lainnya.
*

Dua menit terakhir, di kuarter terakhir. Point sementara 51-50 untuk keunggulan satu point tim kami. Bagi kami -lebih tepatnya aku_- dua menit itu serasa dua abad. Bagaimana tidak. Aku harus bisa mempertahankan keunggulan satu poin ini. Kalau sampai aku gagal, maka tim kami akan kalah. dan aku adalah tersangka dalam peristiwa kekalahan tim kami.

Maka dengan sekuat tenaga, aku menghalau setiap serangan yang datang. Aren dan Sofia membantuku di belakang, sedangkan Agni dan Dea menunggu di depan.

Satu menit terakhir. Gadis senyum manis itu kembali mendapat bola. Dia berlari, melewati Aren lalu berhadapan dengan Sofia. Aku yakin, Sofia bisa merebut bola. Ups. sofia lengah. Dan gadis senyum manis itu berhasil memanfaatkannya. dia melewati Sofia, lalu kini berhadapan denganku.

Oh Tuhan, tolong matikan aku saat ini juga. agar nanti kalau timku kalah, aku tak bisa mendengarkan cemoohan dan dakwaan mereka. Dia kembali tersenyum. Memabukkan. Membuatku terpana akan kesempurnaan lengkung bibirnya. Bulan sabit pun kalah indahnya.

"Pelangi...rebut bolanya!" suara menggelegar dari sang matahari membuat aku tersadar, menghapus keterlenaanku pada senyum beracun milik sang gadis.

Hei gadis, berhenti tersenyum. Jangan membuat aku masuk kedalam dunia memabukkan yang di buat senyum manismu itu. Dengan berani aku mulai mendekati sang gadis senyum manis. Melihat kelemahannya lalu dengan kecepatan persekian detik aku merebut bolanya.

Dan kawan, aku berhasil merebut bolanya. Aku bisa mengalahkan pesona senyum manis beracun milik gadis itu. Aku melempar bolanya jauh ke depan, memburu Agni yang sedang berlari. Dengan sebuah lompatan keci, agni meraih bola lalu melakukan dribble sebentar lalu melempar bola ke ring. Sang bola masih menari di atas ring. Ya Tuhan, tolong masukkan bolanya. Pintaku dalam hati.

Dan Tuhan memang Maha Mendengar. Bola itu bergulir masuk ke dalam ring, meciptakan dua poin penting untuk tim kami.

Pritt...Pak Joe meniup peluit panjang tanda pertandingan usai, dengan kemenangan tim kami. 53-50. Kami melonjak bahagia, terutama aku. tahukah kalian saat ini aku merasa sangat bahagia. Hei, masih ingatkah pernyataanku dulu, bahwa kebahagiaan dapat di raih dengan pengorbanan? Ya, sekarang aku meraih kebahagiaanku melalui pengorbanan yang sangat berat. Dan sekarang tersenyum sangat lebar. Dan akhirnya tertawa sangat lepas.

Mereka semua memburuku. Agni, dea, sofia, Aren, Rio, Pak duta dan semua siswa yang menyaksikan pertandingan barusan. Mereka tersenyum, memelukku, menjabat tanganku, mengucapkan selamat padaku. Semuanya. Termasuk Agni.

"Maaf ya Fy!" Agni menunduk, lalu Aren mengelus bahunya. "Permainan kamu bagus. Kamu berhasil rebut bolanya. Dan tim kita menang." Agni mengangkat wajah lalu memegang kedua bahuku. "Karena kamu" lanjutnya lagi dan sejurus kemudian memeluk tubuh mungilku.

Rindu. Ya, aku merindukan pelukan ini. Pelukan dari seorang sahabat. Ya, Agni sahabatku. Dulu, tiga tahun silam sebelum peristiwa basket itu terjadi, aku, Agni dan Keke adalah sahabat karib. Kami selalu menghabiskan waktu bersama. Dan sungguh, aku teramat merindukan saat-saat dulu kami selalu bersama.

"Aku kangen sama kamu Fy!" katanya masih memelukku.

"Apalagi aku Ag, kangen....banget!" ujarku.

Saaat ini Tuhan, Kau kembal menunjukkan betapa hebatnya engkau. hanya dalam hitungan menit saja Kau mampu meluluhkan kerasnya hati Agni. sedangkan aku, tiga tahun bukan waktu yang singkat, dan selama itu pulalah aku tak pernah berhasil meruntuhkan ego hatinya Agni.

Agni melepas pelukannya. "Kita sahabatan lagi, kan?" tanya Agni mengacungkan kelingkingnya.

"Tentu!" aku mengaitkan kelingkingku pada kelingkingnya. Dan dengan di saksikan banyak pasang mata, kami mengeratkan kembali ikatan persahabatan kami yang sempat jauh berjarak. Aku berjanji, ikatan ini tak akan putus lagi. Karena akan ku jaga, sampai kapan pun juga.

Hujan, kepercayaan merubah segalanya
kebahagiaan kecil telah ku ambil
*

bersambung