Minggu, 30 Oktober 2011

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 12


Karena sesungguhnya, saat kita memutuskan untuk mencintai seseorang, kita harus siap patah hati dalam waktu yang bersamaan.

*

Dan, prahara itu mulai menunjukkan aksinya. Menggoda jalinan kasih yang tercipta. Merenggut kebahagiaan dari pemiliknya. Menghasilkan luka menganga. Mencabik hati yang kini terluka. Maka, yakinlah Tuhan Maha Pengasih. Dia takkan tega, jikalau prahara menyakiti sang cinta.

*

"Aurora?" aku kembali mengulang perkataannya. Tak percaya sedikit pun akan kalimat yang baru saja terlontar dari bibir mungilnya. Dan ternyata, hatiku ketar-ketir mendengarnya. Gelisah.

"Iya. Dia cantik, indah, dan tak pernah aku temui. Layaknya Aurora. Fenomena dimana langit berwarna kemerah-merahan di ufuk utara, seolah-olah matahari akan terbit dari arah tersebut." dia bercerita dengan wajah berseri. "Dan cintaku sudah terbit darinya, dari Aurora." lanjut Rio.

Aku menunduk. Menutupi semua perasaanku saat ini. Saat dengan tega getaran misterius itu meninggalkan hatiku yang baru saja tertoreh tajamnya prahara. Saat hatiku merasa sangat hancur. Bukan lagi berkeping-keping. Namun lebih dari itu. Hancur tak berbentuk. Remuk.

Mataku mulai memanas. Sudah siap mencipta aliran di pipiku. Tidak. Jangan dulu. Jangan menangis di hadapannya seperti saat itu. Maka aku menggigit bibir. Memegang erat kotak pisang goreng. Dan menunduk makin dalam, ketika semua harapan yang mengembang karena tiap potong pisang goreng itu mulai menyusut. Kala sebuah asa sudah ku terbangkan sampai setinggi langit ke tujuh, terhempas jatuh ke dasar samudera. Tertimbun. Hilang. Mati. Mengenaskan. Saat hatiku yakin bahwa inilah yang namanya cinta dan pada saat yang bersamaan, hatiku harus menelan pil kekecewaan. Saat dia mengatakan dengan mantap, bahwa Auroralah cintanya.

Aku menghela nafas berat. Merasakan wangi khasnya yaitu bedak bayi yang biasanya selalu memenuhi tiap sudut rongga pernafasanku kala aku berada di dekatnya, kini tiba-tiba enyah. Menyusul getaran misterius itu yang sudah terlebih dahulu meninggalkan hatiku dengan torehan luka menganga.

"Fy." Rio menepuk pundakku pelan, membuatku mengerjap dan mengangkat kepalaku lalu menatapnya yang kini sedang duduk, masih dengan wajah berserinya.

"Kamu, bertemu dengan Aurora dimana?" tanyaku dengan suara bergetar.

"Di taman. Kemarin saat aku pulang, aku bertemu dengannya." Rio mendesah lalu melanjutkan rentetan cerita tentang Aurora-nya. "Dia sedang bermain seksopon. Pipinya yang tembem, lucu. Kembang kempis saat meniupnya. Dan aku suka itu!"

Bodoh. Aku merutuki kebodohanku sendiri dalah hati. Pertanyaanku barusan hanya akan memancing Rio untuk terus menerus berceloteh tentang cintanya. Dan benar kan, betapa bersemangatnya dia saat melakukan hal tersebut. Membubuhkan perih yang teramat menyakitkan pada luka hatiku yang menganga karena Auroranya.

"Dan kamu tahu, setiap pulang sekolah aku akan ke taman. Aku yakin dia akan kembali ke taman untuk bermain seksopon. Dan aku akan melihat pipinya yang lucu! Hehe..." ujarnya sambil terkekeh dan mencubiti pipinya sendiri.

Dia terlihat berbeda. Bercerita dengan sangat bahagia. Aku tak pernah melihatnya sebahagia itu. Bahkan lebih dari bahagianya dia saat berhasil memenangkan pertandingan basket.

Aku kembali memegang kuat kotak pisang goreng. Menahan amarah. Saat tanpa peduli terhadap perasaanku, Rio terus saja bercerita tentang keindahan Auroranya. Aku tahu, pemuda ini memang kurang peka. Tapi, untuk kali ini, tak bisakah dia mengetahui betapa teririsnya hatiku. Aku memperlihatkan itu. Lihatlah mataku yang memerah dan berkaca-kaca membendung tangis. Wajahku yang mengguratkan kekecewaan. Deru nafasku yang tak karuan. Keringat dingin yang melumuri seluruh tubuhku. Semuanya kentara. Teramat kentara.

Maka aku menyerah. Menunduk makin dalam. Dan menangis. Sampai akhirnya, air mataku jatuh membasahi kotak pisang goreng. Menyedihkan.

*

Meski kini aku sudah duduk manis di kelas dan mengerjakan tugas matematika dari Bu Winda, karena kebetulan beliau sedang berhalangan masuk kelas. Meski Rio sudah berada di kelasnya sendiri dan tidak bercerita tentang Auroranya. Tapi, segala macam keindahan Aurora yang digambarkan oleh Rio terus saja berdenging di dalam gendang telingaku.

Aurora. Fenomena pancaran cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer dari sebuah planet akibat adanya interaksi antara medan magnetik yang dimiliki planet tersebut dengan partikel bermuatan yang dipancarkan matahari. Begitulah Aurora menurut ilmu pengetahuan. Aku akui, Aurora memang sangatlah indah. Tapi, apakah Aurora yang ditemui Rio di taman seindah Aurora yang terjadi di kutub utara? Entahlah. Tapi, menurut penjelasan Rio, Auroranya sangat indah. Cantik. Pipinya tembem. Lucu. Ah, sempurna.

Tunggu. Rio bertemu gadis itu di taman? Bukankah gadis yang ku temui di taman adalah Gadis Senyum Manis? Lagi pula, Gadis Senyum manis juga memiliki pipi yang tembem seperti yang Rio ceritakan. Tapi, Gadis senyum manis tidak bermain seksopon. Ah, mungkin saja Gadis senyum manis menyimpan seksoponnya. Tapi, memangnya Gadis Senyum Manis itu satu-satunya gadis di taman? Tidak, kan? Lalu, kenapa ciri-cirinya sangat mirip dengan Gadis Senyum Manis? Mungkinkah Aurora itu Gadis Senyum Manis? Tidak tahu. Dua hipotesis muncul dalam benakku. Pertama, Aurora adalah Gadis Senyum Manis. Kedua, Aurora berbeda dengan Gadis Senyum Manis.

Aku mendesah. Menggaruk pipi kiriku. Lalu membenamkan wajah di atas meja.

Keke yang mendengar desahanku, juga ikut mendesah. Dia menyimpan pensilnya. Melipat kedua tangannya di atas meja. Mendaratkan kepala di atas lipatan tangannya. Lalu menoleh ke arahku. "Kenapa Fy?" tanya Keke lembut.

Aku mendesah lagi. Mengangkat wajahku. Menoleh pada Keke. Dan tersenyum masam.

"Kamu bisa cerita sama aku." ujar Keke.

"Aku ga kenapa-napa!" ujarku yang tak mau membuat Keke khawatir. Sebagaimana janjiku pada Rio untuk tidak membuat siapa pun khawatir. Ya, meski Rio sudah menghancurkan cinta yang telah Tuhan cipta untukku jaga dengan prahara yang dia bawa, tapi sampai kapan pun janjiku akan selalu ku tepati.

Keke hanya tersenyum.

"Keke" ucap seorang pemuda yang kini sudah berdiri di depan kami.

"Apa?" Keke mendongak.

"Pulang sekolah, ekskul musik kumpul ya!" kata Gabriel -pemuda itu-.

Keke mengerenyit, mengangkat kedua alis tipisnya. "Bukannya, kemarin kita kumpul ya?" tanya Keke.

"Kita mau bicarain soal penggantian ketua dan pengurus ekskul musik. Bentar lagi kan, kita pensiun!" jelas Gabriel.

"Ya udah deh!" ujar Keke lalu mengulum bibir. Sepertinya, dia enggan untuk menuruti perintah Gabriel. Tapi, mengingat Gabriel adalah ketua ekskul musik, jadi mau tak mau, Keke harus menurutinya.

"Oke! Jangan lupa ya!" kata Gabriel lalu kembali lagi ke mejanya.

Sekilas, dia menoleh ke arahku. Memberikan senyuman lebar khas miliknya. Lalu kemudian duduk bersama Debo -teman sebangkunya-. Pemuda itu memang ramah.

Aku menoleh lagi ke arah Keke. Memperhatikannya yang kini sedang melanjutkan tugas matematikanya. Dan kemudian, fikiranku kembali berkutat dengan segala hipotesisku tentang Aurora.

Ah Aurora. Gadis yang telah menerbitkan cinta di hatinya Rio, sekaligus menggoreskan sayatan luka di hatiku, membuatku pusing saja. Huh. Aku kembali mendesah.

*

Aku tak ingin terus menduga-duga. Meyakinkan hati, hanya dengan hipotesis-hipotesis yang kebenarannya belum terbukti. Maka, sepulang sekolah, aku pergi ke taman untuk mencari tahu siapakah Aurora.

Aku berdiri di balik pohon jati. Tanganku menggenggam erat bandul pelangi kecil kalungku. Kalung pemberian Rio, sebelum Aurora datang merusak segalanya. Hanya dengan menggenggam bandul pelangilah, aku berharap hatiku ini akan kuat dan bertahan. Takkan putus asa lantas menyerah, walau torehan luka menganga semakin besar. Menyakitkan.

Dan satu fakta yang mendukung hipotesisku yang pertama telah ku dapatkan. Saat aku melihat Gadis Senyum Manis yang kini memakai baju terusan berwarna biru muda dan rambut yang selalu diikat menjadi dua, sedang berlari sambil membawa balon bersama Ray, pemuda gondrong yang selalu menemani Sang Gadis.

"Raaayy! Jangan cepet-cepet larinya! Kan aku capek!" rengek Gadis Senyum Manis dengan suara yang manja.

Aku menunduk. Menangis sambil terus menggenggam erat bandul pelangi. Hatiku semakin mencelos. Lukaku semakin perih. Meski suara renyah Ray juga mengiringi rengekan sang Gadis, tapi hanya rengekan Sang Gadislah yang bersahutan masuk ke telingaku. Mengacaukan seluruh fungsi otakku. Menusuk tepat di luka hatiku. Menghantam secuil asa agar tertimbun makin dalam. Membunuh cinta yang susah payah ku pertahankan.

"Hahaha, kau bodoh Ray!" gelak tawa sang Gadis menggema dalam telingaku.

Aku menutup kedua telingaku. Menggeleng-gelengkan kepala. Dan terus menangis.

Hatiku semakin sakit mendengar suara manja gadis senyum manis. Maka, setelah aku menyeka air mata, aku berlari. Pergi meninggalkan taman dengan satu kesimpulan. Kesimpulan yang teramat menyakitkan. Kesimpulan bahwa Aurora adalah Gadis Senyum Manis.

*

Ketika seluruh penghuni bumi bersekutu untuk tidak mendengarkan pengaduan kita, yakinlah, Tuhan akan selalu ada. Dia senantiasa mau menjadi tempat kita untuk mengadu.

*

Sejak kepulanganku dari taman, sejak aku dapat menarik kesimpulan bahwa Gadis Senyum Manislah Aurora, aku terus saja menangis. Bahkan, saat sembahyang maghrib sepuluh menit yang lalu, aku terus menitikan air mata.

Seharusnya, setelah dia memberikan bunga matahari yang sekarang diam manis di dalam vas di atas meja kecil itu adalah awal dari cinta yang terus ku pelihara. Namun sebaliknya. Justru hal itulah yang mengundang prahara yang tak dikehendaki kehadirannya mengacaukan segalanya. Membunuh telak Sang Cinta.

Aku baru tahu, betapa patah hati itu sangat menyakitkan. Lebih menyakitkan dari ribuan peluru menghujam jantungku.

Dan, aku hanya terus diam. Duduk sambil memandangi langit kelam. Tanpa bintang. Tanpa bulan.

Lalu tanpa ku duga, seorang wanita paruh baya menghampiriku. Ikut duduk di sampingku. Membelai lembut kepalaku. Lalu tersenyum.

"Ify ga apa-apa!" kataku.

"Kalau kamu ga mau cerita sama mama, berceritalah pada Tuhan!" ucap mama dengan sangat bijaksana.

Bercerita pada Tuhan? Aku mengerutkan kening.

"Ify sudah sholat maghrib?" tanya mama.

Aku mengangguk pelan.

"Tapi, Ify masih resah." Mama sedikit berfikir. "Mungkin, sholat Ify hanya sekedar sholat. Seharusnya, Ify berserah diri pada-Nya saat sholat!"

Aku menunduk. Malu pada mama, juga pada Tuhan. Ah, benarkah sholatku hanya sekedar sholat? Kalau benar, maafkan aku Tuhan.

"Lekaslah mengadu pada-Nya!" ujar mama lalu bergegas meninggalkanku sendirian.

Mama, selalu hadir dengan segala petuahnya yang bijaksana. Tak peduli aku sering tak menggubris kasihnya. Terimakasih mama.

Aku mendongak. Melihat ke arah langit. Lalu memejamkan mata.

Dalam keheningan malam, kini aku mengadu padamu Tuhan. Mengadu bahwa cinta yang kau anugerahkan padaku adalah hal terindah. Mengadu tentang prahara yang kejam menyingkirkan sang cinta.

Maka, hanya satu yang ku pinta. Tetaplah kuatkan aku untuk mengusir prahara, agar cinta tetap berjalan semestinya.

Memang yang dikatakan mama benar. Mengadu pada Tuhan membuat segalanya menjadi lebih baik. Luka yang menganga di hatiku sedikit membaik. Tak sesakit sebelumnya. Jiwaku juga sudah agak tenang dalam menghadapi prahara yang tega menyakiti cintaku.

Aku membuka mata. Lalu tersenyum lega saat kini langit menumpahkan berkah Maha Kuasa. Hujan. Ah, kau memang selalu datang disaat yang tepat. Saat aku begitu membutuhkanmu untuk membasuh luka hatiku. Dan sekarang kau datang. Aku sangat berterimakasih pada Tuhan. Karena kedatanganmu atas perintah-Nya, kan?

Maka, aku berharap tiap rinai hujan yang menerpa bumi saat ini, adalah kekuatan untuk tetap bertahan dengan hati yang terluka dari tiap terjangan prahara.

*

Hujan, jagalah cinta.
musnahkan prahara.

*

bersambung.

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 11


Cobaan yang kita hadapi, adalah bukti cinta Tuhan pada kita sebagai umat-Nya.

*

Sebuah prahara menyelinap tanpa terduga. Prahara yang tanpa sadar disuguhkan oleh sisi lain dari kehidupan. Tak terbaca gerak-geriknya. Belum tersentuh wujudnya. Dan sesungguhnya, cepat atau lambat akan mengusik sang cinta. Semoga Tuhan, mencegah sang prahara untuk berkuasa.

*

Pemuda itu melipat dua tangannya di depan dada. Menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak. Dia menghitung deretan bunga-bunga besar berwarna kuning yang berjejer di hadapannya. Mencium baunya satu persatu. Menggaruk-garuk kepala bagian belakang. Kebingungan.

Aku, yang sedari tadi duduk di bawah kerindangan pohon jati, dan di atas kokohnya akar jati mengerutkan kening memperhatikan tingkahnya. Heran juga, kenapa lelaki yang selalu mengundang jeritan histeris wanita seantero sekolah saat berlaga di lapangan basket itu gemar sekali melakukan hal aneh seperti itu. Menghitungi jumlah bunga matahari yang berbaris rapi di tepi kolam. Untuk apa? Apa dia mau menjualnya pada peternak hamster, karena dia tahu biji bunga matahari adalah makanan kesukaan para hamster. Bukan hanya itu, dia juga menciumi bunga matahari tersebut. Memangnya bunga matahari punya aroma seperti apa? Aku yakin, mawar, melati, dan kenanga punya aroma yang lebih baik, daripada bunga matahari. Aku mendesah.

Setelah menghitung dan menciumi aroma bunga matahari satu persatu, Rio merogoh tasnya. Mengambil sebuah cutter, dan akhirnya menggunakan cutter tersebut untuk memotong tangkai bunga matahari yang berada di paling ujung.

Rio lalu menghampiriku dengan wajah berseri. Tangan kanannya menggenggam setangkai bunga matahari yang baru saja ia petik. Bunga tersebut berukuran sebesar piring makan, warnanya kuning cerah, dan selembar daun menempel di tangkainya. Ah, lucu sekali bunga itu.

Sambil menghela nafas, Rio duduk di sampingku. "Ify." ucapnya.

"Iya.." jawabku singkat sambil terus memandangi katak yang berloncatan di atas daun teratai yang mengapung di kolam kecil di hadapan kami berada.

"Kalau aku bisa, aku ingin beri kamu matahari itu." ujarnya sambil menunjuk bola kuning yang masih terlihat superior, meski senja mulai menyapa.

"Tapi..." aku menunduk, menunggu kelanjutan perkataanya sambil menikmati tiap inci getaran yang mulai berancang-ancang menjalari seluruh pembuluh darahku.

"Aku ga bisa" dia menunduk, kecewa. "Jadi, aku beri kamu bunga matahari ini." Rio mengangsurkan bunga matahari tersebut.

Dengan getaran misterius yang semakin menggila, buncahan perasaan asing dalam jiwa, dan juga euphoria yang tak terbendung lagi, aku meraih sang bunga. "Makasih!" ucapku.

Aku mengelus lembut mahkota-mahkota sang bunga, mencium aromanya dan memejamkan mata. Ah, aku menyukai aroma bunga ini. Tidak harum sebenarnya, tapi aku menyukainya karena pengaruh dari sosok yang memberikan bunga tersebut.

"Menurut kamu, cantikan matahari atau bunga ini?" tanya Rio.

"Emm..." aku berfikir sejenak bahwa kedua benda luar biasa ciptaan Sang Esa itu, sama cantiknya.

"Ya cantikan kamu lah!" ujarnya terkekeh lalu menepuk puncak kepalaku.

Hei. Kenapa dia melakukannya? Hal itu hanya akan membuat getaran misterius itu semakin meningkatkan frekuensinya. Dan dengan kentara, semburat merah akan terlukis di tiap lekuk pipiku.

Tidakkah pemuda ini merasakan hal yang sama sepertiku? Apakah dia juga melakukan hal yang sama sepertiku saat kita melewati tiap detik waktu yang telah tertinggal? Oh, kamu, dia, kalian dan seluruh dunia harus tahu, bahwa di setiap detik yang ku lalui bersamanya, aku harus susah payah menjinakkan getaran sialan itu agar tidak terus menerus menghambat fungsi otakku. Aku selalu hampir saja mati karena menahan nafas saat aroma khas tubuhnya yaitu wangi bedak bayi, ikut masuk ke dalam organ pernafasanku bersama oksigen. Bahkan, aku rasa 99% udara yang ku hirup, telah terkontaminasi wangi bedak bayinya. Aku selalu menjaga perasaan asing bernama 'cinta' agar selalu hidup dan berkembang dalam hatiku. Aku selalu menikmati kegilaan euphoria yang tercipta saa diriku bersamanya. Dan satu lagi, kali ini aku merasa tubuhku mengejang saat tangannya masih terus menapaki ubun-ubunku.

Rio menggerakkan tangannya ke pelipis kiriku, lalu mendorongnya agar kepalaku dapat bersandar pada bahu kokohnya. Hei, tidakkah terbalik? Bukankah seharusnya dia yang bersandar di bahuku? Tapi, cinta memang kadang adalah sesuatu yang aneh, dapat membalikkan sebuah keadaan. Tapi, aku bahagia melakukannya. Karena dia yang menginginkannya.

Nyaman. Ternyata bersandar di bahunya sangat amat nyaman. Aku bisa beradaptasi dengan keadaan ini. Aku dapat lebih tenang saat menangkis tiap hentakan getaran misterius itu, yang aku rasa akan selalu abadi kehadirannya, kala aku bersamanya. Aku sudah mampu meresapi aroma bedak bayinya yang memenuhi tiap sudut rongga pernafasanku dengan lebih seksama. Badanku pun telah berhenti mengejang, kala desauan nafasnya menyapa hangat kepalaku. Aku memejamkan mata.

"Aku sayang kamu pelangi!" ujarnya.

Hatiku bersorak gembira saat ini. Getaran misterius itu pun melonjak tertawa. Menertawakan ekspresi wajahku yang salah tingkah.

"Aku juga!" ucapku sangat pelan, tak dapat tertangkap oleh gendang telinga pemuda yang terus membelai lembut kepalaku. Bahkan, ucapanku tadi lebih pelan dari hembusan angin senja. Tentu saja, aku mengucapnya dalam hati. Tulus. Jujur. Penuh harap.

Cinta. Cinta. Cinta. Diucapnya ribuan kali pun, kata itu akan tetap sama. Indah. Ah, pantas saja para penyair sering menggunakan cinta sebagai tema dari ribuan bait puisi yang ditulisnya. Karena ternyata, cinta menorehkan rona bahagia pada jiwa yang sedang dihinggapinya.

Cukup lama aku bersandar di bahunya. Sambil menikmati betapa indahnya cinta. Sampai akhirnya, ponsel Rio berdering, membuatku -terpaksa- mengangkat kepalaku yang sedari tadi nyaman terkulai di bahunya.

Rio merogoh saku celananya. Mengambil ponsel. Lalu membaca pesan singkat yang baru saja ia terima.

"Mama nyuruh pulang. Kamu ga pa-pa kan?" tanya Rio dengan air muka yang mengguratkan kekhawatiran.

"Iya" jawabku sambil memberikan senyum terbaik yang aku punya.

Rio berdiri. Menoleh ke arahku. Dan akhirnya mengulurkan tangan kanannya padaku.

Dan masih dengan diiringi sang getaran misterius itu, aku meraih tangannya, lalu bangkit dari duduk.

"Kenapa?" tanyaku mengerutkan kening, melihat ekspresi kekhawatiran yang masih kentara tergambar pada air mukanya.

"Jangan pernah buat orang khawatir lagi!" Rio mewanti-wanti.

Aku kembali tersenyum, mencoba meyakinkannya bahwa aku akan baik-baik saja. Aku tak akan dan tak ingin membuat orang lain khawatir. Janjiku dalam hati.

Dan setelah dia cukup yakin, dia berbalik lalu bergegas pulang.

Siluetnya kini sudah menghilang dari pandanganku, meninggalkanku sendiri yang masih berdiri terpaku di bawah pohon jati. Aku mendesah.

Senja kali ini sangat cerah. Tak ada awan hitam setitik pun yang menodai hamparan langit senja. Matahari di ufuk barat pun memancarkan sinar dengan sangat bersemangat. Dan aku sungguh tidak menyukai keadaan seperti ini. Karena dalam keadaan cerah, hujan tak mungkin datang. Aku mendesah lagi.

Meskipun hatiku diliputi rasa cinta, tapi kau seharusnya tahu, cintaku tak akan sempurna tanpa kehadiranmu hujan.

Aku tahu, saat ini kau sedang mengintaiku dari atas sana. Kau sedang sembunyi di balik semburat kekuningan yang perlahan menghampiri langit. Kau hanya menunggu waktu saja untuk bermain bersamaku lagi, kan? Dan aku harus mengelus dada, karena sore ini bukan waktunya.

Aku menarik nafas, lalu menghembusnya perlahan, dan memutuskan untuk pulang.

Aku berjalan perlahan di atas hamparan hijau rumput taman. Sore ini, nampak sedikit ramai dari sebelumnya. Banyak pasangan pemuda-pemudi yang sedang asyik bercengkrama. Ibu-ibu muda yang mengajak balitanya berjalan-jalan pun tak sedikit jumlahnya. Ada juga yang membawa hewan peliharaannya seperti kucing dan anjing untuk menikmati indahnya sore di taman ini.

Langkahku terhenti, saat melihat enam orang bocah laki-laki yang sedang menendang-nendang bola plastik berwarna biru. Tingkah mereka sangat menggemaskan.

Dan begitu terkejutnya aku, saat aku berbalik seorang gadis menabrakku, membuatku jatuh tersungkur di atas rumput.

"Aww!" aku meringis kesakitan dan mengusap-usap kedua telapak tangan untuk menghilangkan tanah yang menempel.

"Aduuh! Maaf ya!" ujar gadis tadi, yang ternyata memiliki suara yang lembut.

Aku mulai berdiri, dan aku hanya bisa ternganga saat mengetahui siapa yang menabrakku tadi. Gadis itu memakai sepatu hitam dengan tali berwarna merah muda, kaos berwarna putih dengan aksen kepala kucing berpita yang sering ada di film kartun di bagian dadanya, dan rok mini berbahan jeans berwarna biru tua. Gadis itu mengikat rambut tebalnya menjadi dua. Dan yang terpenting adalah, gadis itu membuat lengkungan di bibirnya. Ya, dia tersenyum. Senyuman yang dulu. Manis. Menggoda. Memabukkan. Dan tepat sekali, gadis itu adalah 'Gadis Senyum Manis'.

"Maaf ya!" ujarnya lagi.

Aku mengangguk pelan. Masih terhipnotis oleh senyumnya.

"Ih, nyebelin! Masa aku di tinggalin!" aku mengerjap saat mendengar suara renyah seorang pemuda berambut gondrong yang baru saja menghampiri Gadis Senyum Manis. Pemuda itu, Ray.

"Abisan kamu, malah main sama kupu-kupu. Akunya dicuekkin!" gadis itu mengulum bibir.

"Maaf deh maaf! Jangan marah!" Ray menjawil dagu tumpul milik Gadis senyum manis.

"Aaaa... Raaayy!" Gadis Senyum Manis itu merengek, terganggu dengan sikap Ray yang cukup 'nakal'. Tapi, beberapa detik kemudian semburat merah mewarnai pipinya. Dan akhirnya tersipu malu.

Lucu. Mungkin begitulah raut wajahku saat Rio melakukan hal yang tak terduga padaku, seperti Ray melakukannya pada Gadis senyum manis. Aku terkekeh.

"Eh, maaf ya sekali lagi!" ujar Gadis Senyum Manis.

"Iya, ga pa-pa!"

Gadis itu melirik jam tangannya, dan menepuk jidatnya sendiri. "Udah jam lima, kita harus pulang Ray!" pekik sang gadis.

"Ya udah, yuk!" Ray menarik tangan Gadis Senyum Manis untuk pergi.

"Aku pulang ya!" ujar Sang gadis, lalu bergegas bersama Ray yang terus menarik tangannya.

Aku berdecak. Menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah mereka. Sungguh serasi mereka berdua. Ray yang memiliki wajah menyenangkan dan Gadis Senyum Manis yang memiliki senyum mempesona.

Aku mendesah, lalu bergegas pulang.

*

Bunga matahari itu nampak cantik berada di vas bunga yang terbuat dari kaca. Bi Surti sengaja mengisi vas tersebut dengan air, katanya agar bunga tersebut dapat tetap segar.

Aku meletakan vas bunga tersebut di atas meja kecil di dekat jendela kamarku, agar aku dapat sekaligus menikmati keindahan bunga matahari dan sinar matahari yang nampak dari jendela.

"Aku akan jaga kamu!" ucapku pelan.

Terdengar suara derap kaki bersahutan mendekati kamarku. Dan suara tersebut berhenti di balik pintu jati di belakangku.

Tok...tok...tok... Suara ketukan yang terdengar jelas di telingaku.

Aku berjalan mendekati pintu kamar, memegang kenop pintu lalu membukanya.

Blaasss. Hatiku mencelos saat mendapati siapa yang berada di balik pintu. Dua siluet yang masih memakai jas putih kebanggaanya berdiri memamerkan senyum teduh miliknya.

"Ify." ucap seorang lelaki yang berkaca mata.

Aku menatapi lelaki tersebut. Lalu beralih menatapi wanita di sebelahnya yang masih terus tersenyum.

Aku tersenyum masam. Dan sejurus kemudian menutup kembali pintu jati kamarku. Ah, kenapa aku tak ingin melihat wajah mereka? Bukankah selama delapan hari ke belakang, merekalah yang ku tunggu?

Sejujurnya, aku ingin menghambur ke pelukan mereka. Menumpahkan rindu yang tercipta untuk mereka. Dan mencoba menata hati yang sempat mereka hancurkan.

Namun, aku takut. Aku takut berharap. Aku takut mereka mengulang kembali perlakuannya yang sangat tidak mengenakkan. Dan harapanku kembali menguap.

Tertunduk tak berdaya. Aku menekuk kedua lutut. Menggigiti bibir. Dan mulai menangis.

"Fy!" ucap mama sambil terus mengetuk pintu yang sekarang menjadi sandaran tangisku.

"Buka pintunya Fy! Kita khawatir!" ujar mama lagi.

Khawatir? Aku tidak salah dengar, kan? Aku kan sudah berjanji pada Rio untuk tidak membuat orang lain khawatir. Maka, dengan memberanikan diri, aku berkata "Ify ga apa-apa. Jangan khawatirin Ify!"

"Tapi sayang..." mama berkata lagi dan aku cepat memotongnya.

"Ify ga akan kenapa-napa!" ucapku dengan suara parau.

Aku memejamkan mata. Menajamkan pendengaranku. Dan derap kaki itu kembali terdengar. Makin lama suara derap tersebut mengecil, dan akhirnya lenyap termakan angin.

Aku mencoba menghela nafas. Menyeka air mata yang sedari tadi merembesi pipiku. Kembali memejamkan mata. "Maafin Ify!"

*

Well, hidup pada hakikatnya adalah perjalanan untuk melewati tiap prahara yang disediakan Tuhan. Sampai mana kita mampu bertahan. Dan apakah kita mampu menaklukan tiap prahara sampai kematian menjelang.

Dan, di pojok perustakaan, ditemani sekotak pisang goreng, diiringi dendang rintikan hujan, dia datang membawa sebuah prahara yang -tanpa sadar- telah lama mengintip cerita ini, cerita tentang Hujan, Kita dan mimpi.

Dia terlihat gusar. Sedari tadi dia terus saja mondar-mandir di depanku. Mengacak-acak rambutnya yang agak basah dan berdecak. Gelisah.

Aku menggaruk pipi kananku, lalu memberanikan diri menanyakan padanya, apa yang membuat dirinya begitu gundah. "Kenapa?"

Dia menoleh ke arahku. Menatapku tajam. Lalu melangkah menghampiriku.

Dia meletakkan dua tangannya di bahuku. Menohok dua pelihatku. Mengundang getaran misterius itu untuk menjalari tiap jengkal pembuluh darahku.

"Pelangi" ucapnya.

"Iya"

"Aku suka..." dia meralat perkatannya. "Ga, aku sayang... bukan, lebih dari sayang. Cinta. Ya, aku cinta. Aku cinta sama..." dia menggantungkan kata katanya.

Aku mengerutkan kening. Menunggu kelanjutan ucapannya. Dan ternyata, diam-diam aku berharap bahwa namakulah yang akan menjadi pelengkap dari ucapannya yang belum usai.

"Aku cinta sama...." Rio menggigiti bibirnya, dan akhirnya menyelesaikan ucapannya. "Sama... Aurora"

*
bersambung.
*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 10


Sebelumnya tak ada yang mampu mengajakku untuk bertahan di kala sedih.
Sebelumnya ku ikat hatiku hanya untuk aku seorang.
Sekarang kau di sini, hilang rasanya semua bimbang, tangis, kesepian.

~Sherina Munaf~

*

Hari ini, tepat seminggu setelah insiden menyedihkan di restoran Padang itu terjadi. Saat seorang gadis jelek ditelantarkan oleh dua orang yang seharusnya memperlakukannya dengan baik. Dan itu hanya berhenti pada kata seharusnya. Takkan ada yang berubah. Mengenaskan.

Maaf. Dari seminggu yang lalu sampai detik ini pun aku belum mendengar kata itu dari mereka. Jangankan mendengar, sekedar menghirup aroma khasnya dan melihat sosoknya pun aku belum pernah. Mereka terlalu sibuk. Sehingga hidupnya pun harus mereka habiskan di rumah sakit, bersama ribuan orang yang bernama 'pasien. Meninggalkan aku yang harus selalu menguatkan diriku sendiri. Naas.

Sejujurnya, aku tak berharap besar. Ya, hanya harapan kecil yang secepatnya akan pupus terhembus angin. Hilang tertelan badai. Dan pada akhirnya, nasib harapan kecilku ini akan sama dengan harapan-harapanku sebelumnya. Terbunuh. Mati. Tragis.

Justru, harapan besar aku ciptakan untuk seorang jauh di sana. Seorang pangeran Matahari yang memberi sebongkah kebahagiaan untukku. Tak percaya? Lihat apa yang tergantung manis di leherku! Kalung cantik berbandul pelangi kecil. Benda menggemaskan ini adalah visualisasi dari kebahagiaan yang dia beri.

Aku masih di sini. Berdiri sendiri di balkon kamarku sambil memejamkan mata dan menggenggam erat bandul pelangi kalungku. Aku tak sekedar berdiri. Aku sebenarnya sedang menunggumu, hujan. Sudah tiga hari kau tak datang. Aku merindukanmu beserta seluruh pasukanmu. Aku rindu saat rintikanmu jatuh tepat di puncak kepalaku. Aku rindu saat kita saling berkejar-kejaran. Aku rindu saat tiap rinaimu mengiringi kebersamaanku dengannya. Aku rindu saat kau sedia menghapus bulir-bulir air mataku. Aku rindu saat kau mau menemaniku menjaganya yang sedang terlelap. Aku rindu semua itu.

Aku rasa, kau marah padaku. Karena kau fikir setelah aku dekat dengannya, aku akan melupakanmu. Tapi sungguh, aku takkan pernah bisa melupakanmu. Bukankah kamu yang telah berjasa mempertemukanku dengannya di sore kala itu? Bukankah kamu juga yang selalu membuatnya terlelap di bahuku? Jadi, mana mungkin aku melupakanmu.

Baiklah. Mungkin hari ini kau enggan menemuiku. Tapi, aku akan terus menunggumu.

*

Persahabatan merupakan bagian dari hidup kita. Binalah persahabatan. Kita akan merasakan betapa kayanya hidup kita. Berbagi kesedihan pada sahabat, mengurangi kesedihan. Berbagi kebahagiaan pada sahabat, memperkokoh kebahagiaan. Orang bijak bilang bahwa sahabat adalah satu jiwa dalam tubuh yang berbeda. Barangkali, itulah mengapa bersahabat meringankan beban kita, karena di dalam persahabatan tidak ada perhitungan. Di sana kita belajar menghindari hal-hal yang tidak kita setujui, dan senantiasa mencari hal-hal yang kita sepakati. Itu juga mengapa persahabatan adalah kekuatan. Sebagaimana kata pepatah, hidup tanpa teman, mati pun sendirian.

~Jendela Motivasi~

*

Melanjutkan tiap deretan kata penuh makna. Menggerakkan sebuah pena di atas kertas putih tak bernoda. Menorehkan tinta hitam tanpa ragu. Mungkin, rangkaian kata-kata sederhana ini akan membuat hidupku lebih baik. Aku yakin. Karena itu mimpiku.

Aku menoleh ke samping kiriku. Ah, masih kosong. Penghuninya belum datang. Kemana sebenarnya dia? Bel masuk sebentar lagi kan berbunyi. Aku mendesah.

Aku kembali menggoreskan penaku, menciptakan deretan kata lagi untuk memenuhi tiap lembar buku catatanku.

Dan tak lama kemudian aku mengerjap lalu spontan menutup buku catatanku, saat seseorang dengan tiba-tiba mengguncang bahuku. "Alyssa Saufika Umariiiii!" pekiknya.

Aku mengerutkan kening. Heran juga, kenapa gadis berambut ikal di hadapanku ini senang sekali mengagetkanku dengan pekikannya yang selalu muncul tanpa terduga. Aku hanya bisa tersenyum jengah.

Keke -gadis di hadapanku- mengangkat tangannya dari bahuku. Melepaskan ransel biru miliknya dan meletakannya di atas meja. Lalu sejurus kemudian duduk di kursinya.

"Aduh!" Keke menepuk keningnya sendiri, seakan melupakan sesuatu. Dia nampak gusar dan gelisah. Dia menggigiti telunjuknya. Menggeleng-gelengkan kepala. Mengetuk-ngetuk meja. Kenapa dia?

"Aku nyesel banget tahu!" ujarnya lagi.

Aku memegangi tangannya, menggenggam erat lima jari tangan kanannya dan mencoba menenangkannya. "Kenapa Ke?" tanyaku lembut.

"Ahhh, aku ga liat kamu main basket!" erangnya lalu mengulum bibir.

Ya ampun Keke! Aku kira ada sesuatu yang besar, ternyata hanya itu. "Hehe..." aku terkekeh.

"Padahal kangen tahu, liat kamu main basket!" Keke berdecak. "Papa sih, nyuruh aku pulang!"

"Ga pa-pa lah Ke!" ujarku lalu menjawil pipi tembem miliknya.

"Eh, kata Agni kalian udah baikan ya?" tanya Keke antusias.

Aku tersenyum. Ah, mengingat peristiwa dua hari yang lalu itu, aku merasa bahagia. Aku hanya mengangguk pelan.

"Yeeee...!" Keke bersorak lalu memelukku. "Aku seneeeng banget!"

"Apalagi aku." ujarku dengan mata berbinar.

Ya Tuhan, Engkau harus tahu, bahwa dengan kembali eratnya ikatan persahabatan antara aku, Keke, dan Agni adalah sebuah kebahagiaan yang tak terperikan. Dan Kau juga harus tahu, ternyata aku sangat amat membutuhkan sahabat di sampingku. Bukan benda-benda mati yang selama ini aku anggap sahabat. Tapi sahabat yang sesungguhnya. Sahabat yang mengangkatku dari segara keterpurukan. Sahabat yang menopangku saat ku rapuh. Sahabat yang kau beri untukku.

*

Gadis cantik itu sedang memainkan jari-jarinya di atas tust-tust piano. Rambut hitamnya yang ikal ikut bergoyang, mengikuti gerak tubuhnya. Sesekali dia menyingkirkan poninya yang kelihatannya cukup mengganggu ke pinggir. Lalu mulutnya ikut bergerak, melantunkan sebuah lagu yang sangat indah.

Setelah sepenggal lagu dia kumandangkan, dia beralih ke alat musik yang berada di sudut kiri ruangan, sebuah drum. Dia mengambil stik yang diberikan oleh temannya yang baru menabuh drum. Lalu dengan anggun, dia mulai memukul-mukul drum itu, menghasilkan suara yang menggemaskan.

Gadis itu memang masih belajar bermain drum. Jadi, ia masih ragu-ragu memainkannya. Ah, tapi lihatlah! Sekarang dia mengambil sebuah gitar, lalu dengan fasih memetiknya. Dia tidak takut jari-jari cantiknya rusak karena memetik gitar. Karena dia menyukainya.

Gadis cantik itu adalah Gabriel Angeline Thalita Pangemanan. Keke. Teman sebangkuku. Sahabat karibku. Keke memang gadis yang sangat berbakat dalam bidang musik. Hampir semua alat musik dia bisa memainkannya -termasuk drum yang baru dua minggu ia pelajari-. Dan alat musik yang sangat ia kuasai adalah piano dan gitar.

Suara Keke sangat mengganggu. Suaranya selalu membuat telingaku sakit. Tapi, saat dia bernyanyi, suara mengganggunya berbubah menjadi sebuah simfoni indah dari surga. Ya, dia pandai bernyanyi.

Ceria. Keke adalah gadis berumur 15 tahun yang sangat ceria. Dia selalu tersenyum dan tertawa setiap hari. Selama aku mengenalnya, hanya sekali aku melihatnya menangis, saat dulu Agni memarahiku. Setelah itu, aku tak pernah melihat cairan bening yang bernama 'air mata' itu jatuh dari pelupuk mata bulatnya. Dan sungguh, aku tak pernah mau melihat hal itu lagi. Aku tak tega, jika keceriaanya ternoda hanya dengan setetes air mata. Aku tak rela senyumannya luntur hanya karena kebodohanku. Maka, dengan segala cara aku harus tetap mempertahankan dan menjaga keceriaannya.

Keke. Ya Tuhan. Dia sangat sempurna. Rasanya aku dan dia bagai pluto dan matahari, sangat jauh jarak terbentang. Dia sangat cantik. Rambutnya ikal, panjang, hitam dan berponi. Kulitnya berwarna sawo matang. Matanya bulat, tajam dan indah. Lengkungan senyumnya juga manis -tapi tak melebihi senyum milik Gadis Senyum Manis-. Pipinya tembem menggemaskan. Dan itu sangat berbeda jauh denganku, Si Itik Buruk Rupa.

Hanya cantik? Tidak. Dia juga pintar. Dia selalu mendapat peringkat pertama di kelas. Membuatku harus ikhlas dengan peringkat ke-dua yang rasanya akan abadi kalau aku selalu sekelas dengannya. Dia juga sering menyabet medali emas dalam olimpiade sains. Ah, jenius sekali, bukan?

Tapi, semua kelebihan yang Keke miliki, tidak membuatnya jiwanya angkuh dan besar kepala. Justru, Keke sangatlah baik. Dia rendah hati dan berteman dengan siapa saja. Dia seorang gadis yang suka menolong. Maka pantaslah kalau dia disukai oleh banyak orang.

"Ifyyyy!" aku terkesiap, saat seseorang memanggilku, membuyarkan kekagumanku pada sosok gadis yang berada di dalam ruangan musik di depanku ini. Dan orang yang memanggilku adalah dia. Rio.

*

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

~Sapardi Djoko Damono~

*

Aku meletakkan kotak bekalku di atas meja. Menggigit bibir. Menggaruk pipi kananku. Mengayunkan kedua kakiku secara bergantian. Dan menunduk.

Lelaki di depanku mengetukkan jarinya ke meja. Mendesah dan berkata. "Aku menunggumu!"

Tuhan. Aku jahat telah membuatnya menunggu. "Maaf!" ujarku sambil memainkan ujung dasiku.

"Kamu buat aku khawatir!" ujarnya lagi.

Sial. Kenapa getaran misterius itu muncul lagi? Kenapa dia selalu datang saat aku bersamanya? Aku mendesah sepelan mungkin. Aku tak mau dia mendengarnya. Karena kalau hal itu terjadi, maka dia akan mengetahui getaran yang membuncah di seluruh tubuhku.

"Aku..." Rio meraih tangan kananku. Menggenggam erat dengan kedua tanganya, lalu melanjutkan ucapannya. "Kangen sama kamu!"

Ups. Pipiku memanas. Aku yakin, sebentar lagi, semburat merah akan mewarnai pipiku. Aku menunduk, menyembunyikannya dari Rio. Ah, aku malu.

"Aku juga kangen sama pisang goreng kamu!" Rio melepaskan genggamanya lalu mengambil kotak bekal yang duduk manis di antara kami. "Ini, buat aku, kan?"

Aku tersenyum dan mengangguk pelan.

"Makasih pelangi!" ujarnya lalu membuka tutup kotak bekal. Mengambil sepotong pisang goreng. Dan akhirnya, melahapnya habis.

Aku terus menatapinya. Memperhatikan tiap lekuk pahatan sempurna wajahnya. Menjelajahi dua danau penyulut semangat miliknya. Melihat rahangnya yang bergerak-gerak saat mengunyah tiap potong pisang goreng. Menelusuri setiap keindahan yang tertoreh sempurna pada siluetnya.

Aku tak pernah merasa direpotkan saat dia memintaku untuk membawakannya pisang goreng. Aku tak pernah merasa lelah saat menantinya menghabiskan pisang goreng yang ku bawa. Aku tak pernah merasa bosan saat memperhatikan minyak dari pisang goreng yang melumuri bibir mungilnya. Sebaliknya, aku ikhlas dan bahagia melakukannya.

Mungkin, cinta yang membuatku ikhlas dan bahagia melakukannya. Apa? Cinta. Ya, aku fikir aku mencintainya. Tapi cinta, bukan hanya sekedar fikir. Cinta adalah sebuah rasa yang dianugerahkan oleh Sang Pencipta untuk kita. Dan sudah seharusnya kita menjaga sang Cinta.

Aku belum berani mengakui sepenuhnya, bahwa getaran misterius yang selalu membuncah kala aku berada di dekatnya adalah pertanda cinta.

Namun, kalau ternyata itu cinta, aku akan menjaganya. Aku akan mencintainya dengan caraku sendiri, cara yang sederhana. Yaitu ikhlas dengan semua kekurangannya dan bahagia dengan segala kelebihannya.

Hujan, tolong sampaikan pada Tuhan,
abadikanlah rasa ini.

*

bersambung.

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 9


Mungkinkah ini pertanda,
aku jatuh cinta,
cintaku yang pertama.

~Mikha Tambayong~
*

Bagai anak kecil yang dibelikan sebuah balon besar. Bagai seorang penyerang yang mampu membuat gol di gawang lawan. Bagai Cinderella yang berdansa dengan sang pangeran. Tersenyum dan bahagia. Itu aku saat ini. Sahabat karibku kembali, setelah tiga tahun dia mencoba lari.

"Selamat ya Fy!" ucap Rio dengan mata berbinar.

Belum sempat aku berucap, Rio memeluku. Pelukannya kembali memanggil getaran misterius itu hadir untuk mengacaukan fikiranku. Desauan nafasnya terasa hangat menyentuh belakang telingaku, membuat tubuhku merinding. Dan jantungku berloncatan kegirangan, membuat sang getaran kembali menambah frekuensinya. Bahkan seismograf pun tak mampu mengukur besarnya getaran misterius itu.

"Ehm... makasih yo!" ujarku dengan susah payah.

Dia melepas pelukanya, membuat aku bisa bernafas -sedikit- lega, untuk menenangkan jantungku dan menjinakkan getaran liar itu.

"Yuk!" ajaknya dengan tarikan tangan tiba-tiba yang selalu dia berikan, membiarkan jemari kami saling bertaut untuk beberapa waktu.

Baru saja tiga langkah kami berjalan, seseorang menghentikanya dengan suara yang renyah. "Hei!"

Kami membalikan badan, nampak seorang dengan memakai kaos basket biru tengah berlari memburu kami.

Saat ini, dia sudah berdiri di depan kami. Dia anak tadi. Yang tak sengaja menabrak Rio saat bermain basket. Dia nampak sedang mengatur nafasnya, lalu menyingkirkan deretan rambut gondrongnya yang hampir menutupi mata ke pinggir. Dia menatap Rio, lalu menatapku, dan akhirnya menatap Rio lagi. "Kamu Rio ya?" tanya anak lelaki yang berwajah menyenangkan itu dengan suara khasnya yang renyah.

"Iya, kamu anak SMP 3 ya?" tanya Rio

"Aku Ray." Ray mengulurkan tanganya yang disambut baik oleh tangan kanan Rio, sementara tangan kirinya, masih menggenggam erat tangan kananku, tak sebentar pun ia lepaskan.

"Maaf ya, tadi ga sengaja nabrak kamu!" ujar Ray dengan sangat polos. "Aku cuma mau ngucapin selamat buat sekolah kamu!" kata Ray lagi.

"Terimakasih ya!" kata Rio dengan senyum yang menawan.

"Rayyy! Cepetan! Anak-anak udah mau pulang!" teriak seorang gadis dari kejauhan. Gadis itu? Pemilik senyum manis yang melelehkan. Senyum yang membuat aku terhipnotis tadi, sampai aku tak bisa berkutik di hadapannya.

"Iya bawel!" jawab Ray dengan nada -sedikit- kesal. "Aku pulang ya, semoga kita bisa ketemu lagi!" Ray menepuk pundak Rio, lalu sejurus kemudian berlari menuju sumber suara.

Sang gadis senyum manis yang ia hampiri nampaknya sedang menggerutu, memarahi Ray yang terlihat mengulum bibir. Haha, lucu sekali Ray dan gadis senyum manis itu. Bagai sepasang. Kekasih.

"Hei" Rio menepuk pelan lenganku. Seketika aku mengerjap dan terkesiap, membuyarkan keterpesonaanku pada senyum manis sang gadis yang kini sudah memasuki bis. Pulang.

"Mau ikut aku ke suatu tempat?" tanya Rio

"Kemana?"

"Udah, ikut aja! Yuk!" dia kembali menarik tanganku untuk ikut ke tempat yang ia tuju.
*

Dipuja oleh seluruh penyair.
Diagungkan oleh seluruh mahluk.
Karena kekuatannya yang mahadahsyat.
Cinta.

*

Awan masih terlihat menggumpal. Matahari sudah mulah bergerak ke arah barat. Burung-burung sore juga sudah mulai berkicau. Sebuah kolam kecil dengan beberapa tonjolan batu di tengah-tengah. Dan pohon jati raksasa yang sudah berumur sangat tua. Hamparan rumput hijau dan deretan bunga matahari cantik di tepi kolam. Tempat ini, tempat tujuan Rio. Tempat kami berada sekarang.

Kami berdua duduk di atas akar besar pohon jati, berteduh di bawah rindangnya pohon perrkasa ini, menghirup udara sore yang menyehatkan rongga pernafasan. Menyegarkan.

Disini tenang, jauh dari keramaian dan bisingnya knalpot kendaraan. Hanya terlihat beberapa pasangan orangtua dan anak, juga muda-mudi yang sedang berjalan-jalan menikmati sore ini.

"Kamu suka tempat ini?" tanya Rio.

"Suka. Indah banget!" jawabku dengan pandangan ke arah deretan bunga matahari itu, dimana kupu-kupu sedang asyik hinggap di atasnya.

"Dulu, aku sering banget ke sini sama mama papa" celotehnya

"Sekarang?"

"Sekarang..." dia sedikit berfikir. "Aku kesini sama kamu"

Aku terkejut. Dan lantas perkataanya kembali mengundang getaran misterius itu datang lagi. Mengacaukan fikiranku lagi. Aku menoleh ke arahnya. Bahkan, dari samping pun, kesempurnaanya selalu terlihat. Tak ada cela sedikit pun.

Rio menoleh, menatapi mataku yang tertangkap sedang menatapinya. Aku mengerjap, menggaruk pipi yang aku yakin sekarang sudah berwarna merah. Aduh, kenapa aku malu?

"Hehe.." Rio terkekeh. "Mukamu lucu!" ujarnya.

Mati aku. Sepertinya dia melihat semburat merah di pipi tirusku. Aduh, konyol sekali aku. Ya ampun, pipiku ini tak bisa diajak kompromi. Malah sekarang, jantung, hati dan getaran sialan itu bersekongkol untuk menabuh genderang makin keras. Mereka membentuk kelompok pencipta kebisingan seperti kelompok marching band, dan getaran misterius itu yang jadi mayoretnya. Ya ampun, kalau terdengar pangeran matahari bagaimana? Bisa tambah merah pipiku.

"Aku salut sama permainan basketmu. Keren!" pujinya.

"Ma...makasih! Tapi biasa aja ah!" sanggahku.

"Kamu, selalu aja ngerendah."

Aku menghela nafas, lalu menghembusnya. Seiring dengan hembusan nafasku, aku berharap getaran itu enyah, hatiku berhenti bertalu, dan jantungku berhenti meloncat.

"Tapi, kayaknya setiap kamu berhadapan sama cewe yang rambutnya panjang di ikat, yang tadi manggil Ray, kamu ga lakuin apa-apa. Pas terakhir aja kamu bisa rebut bolanya dari dia" katanya sambil melempar kerikil kecil ke kolam.

"Soalnya... dia cantik. Senyumnya manis." jawabku.

"Oh ya?"

"iya, senyumnya sangat manis. Aku belum pernah melihat senyum semanis itu. Bahkan, senyum itu mampu buat aku terpesona." ujarku sambil kembali membayangkan lengkungan senyum sang gadis.

"Manisan juga senyum kamu!" celetuknya lagi yang sangat ampuh membangunkan getaran misterius itu yang sesaat sempat terlelap.

Kacau. Kalau getaran itu datang, maka jantungku akan kembali berloncatan, hatiku akan ikut bertalu, dan akhirnya menorehkan semburat merah di pipiku.

Benar saja kan. Sekarang aku merasa pipiku panas. Dan itu tandanya pipiku sudah positif merah. Dan aku yakin, warnanya lebih merah dari apel beracun yang di makan oleh putri salju.

Rio, pangeran matahari, kamu padandai sekali mengundang getaran itu. Hanya sekejap, dengan beberapa kata, satu kalimat, maka dengan segera getaran itu tiba.

Apa? Rio yang mengundang getaran itu? Apakah benar semua itu? Aku buta, aku tak tahu apa ini. Aku bodoh, aku tak dapat menyibak tabir misterius di balik getaran yang selalu muncul tanpa terduga.

Senang. Selain mengacaukan, tapi aku tak bisa memungkiri, aku selalu menikmati euphoria tiap getaran yang menjalar tanpa kendali. Dan tanpa sadar, aku juga berharap getaran itu tetap hadir di kala detik-detik terlewat bersamanya. Bersama sang pangeran Matahari.
*

Tuhan menciptakannya untukku.
Membiarkan waktuku terlewat bersamanya.
Mengubah semua kemalanganku.
Karena Tuhan maha sempurna, maka Dia juga menciptakannya dengan sempurna.
*

"Aku punya sesuatu deh buat kamu!" Rio kembali membuyarkan lamunanku.

Dia merogoh tas ranselnya, lalu mengeluarkan sebuah kalung cantik dengan bandul lengkungan pelangi kecil menggemaskan. Menambah cantiknya kalung itu.

"Aku udah lama punya kalung ini, tapi aku bingung mau kasih ini ke siapa." Rio menghela nafas. "Dan kayaknya, kamu deh yang pantes milikin kalung ini."

Aku membuka tanganku, lalu Rio meletakkan kalung di telapak tanganku. "Ada pelanginya, cocok buat kamu pelangi." ujarnya.

"Bagus banget! Boleh aku pakai?" tanyaku.

"Jangan!" Rio mengambil kembali kalung itu, membuatku heran dan sedikit kecewa.

"Biar aku aja yang pakein!" ujarnya lalu melepaskan kaitan kalungnya dan memakaikannya padaku.

Saat ini, kedua tangan kokoh Rio mengurungku dari belakang, membuatku harus menahan nafas. Aku mengangkat kuciran rambutku, lalu Rio mengaitkan lagi sang kalung.

Menggetarkan. Nafasnya berhembus ke tengkukku, membuat tubuhku kembali merinding dan petaran liar itu kembali menjadi-jadi. Bahkan sekarang dia mencoba mengambil alih seluruh fungsi organ tubuhku.

"Kamu cantik banget!" pujinya yang selalu berhasil membuatku tersipu.
*

Berbahagialah orang yang pernah merasakannya.
Menyesalah orang yang menyia-nyiakannya.
Dan bodohlah orang yang membencinya.
Karena cinta, terlalu sempurna.

*

Kami kembali melihat ke depan. Kupu-kupu itu tersenyum melihat kami. Burung juga ikut bersorak. Dan sang matahari yang sebentar lagi sembunyi, bahagia melihat kami.

Rio mendaratkan kepalanya di bahuku. Meski tidak sedang berada di bis, tapi kebiasaannya untuk bersandar dibahuku tak berubah. Tanpa sadar pula, aku selalu menanti saat ini. Saat kami begitu dekat. Saat aku bisa merasakan desauan nafas teraturnya. Saat aku mencium aroma khasnya, yaitu aroma minyak telon dan bedak bayi. Saat aku melihat tiap lekuk sempurna wajahnya. Saat aku bertarung dengan buncahan getaran itu. Saat aku merasa bahagia.

"Mataharinya udah mau pergi." ujarnya

Memang. Sekarang hanya tinggal 3/4 dari bulatan bola kuning itu yang masih nampak. Menyeruakkan semburat merah kekuningan di langit.

"Tapi, aku ga akan pernah pergi dari kamu!" ujarnya lagi.

Mimpi. Aku seperti berada di dunia mimpi. Kebahagiaan ini, aku tak pernah rasa sebelumnya.

Cinta. Orang mungkin sering merasakannya. Tapi aku baru pertama kali. Mungkinkah apa yang aku rasakan sama seperti yang orang-orang itu rasakan? Entah. Tapi yang jelas, aku hanya berharap rasa ini tak kan hilang seketika. Tak kan terhapus masa. Tak kan tergerus keadaan. Karena, dengan segala ketidaksempurnaanku, aku akan menjaga rasa ini agar tetap berada di hati. Dan aku berharap, aku benar-benar bisa menguraikannya, meski aku tak tahu, kapan tiba saat itu.

Hujan, keremangan ini mencipta bimbang.
Ketidakpastian ini membuatku ragu.
Tapi aku akan menjaganya.
*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 8B


Hanya yang mau mengambil resiko terbesar yang akan menjadi pemenang.
mempertaruhkan semua, termasuk hatinya.
yakinlah, Tuhan Maha kuasa! Dia takkan rela melihat hamba-Nya terluka.
*

Saat mereka menghinaku, kau genggam tanganku. Kau bisikan tulusnya cinta kepadaku

Glenn Fredly
*

"kenapa? Kamu bisa main basket kan?" tanya Rio membuyarkan memori yang baru saja berputar tanpa ku sadar dalam otakku.

"Aku..." terbata-bata "bodoh, yo!"

Rio mengerutkan kening, "maksud kamu?"

"Aku bodoh, aku ga bisa main basket." ucapku lirih, kali ini dengan kepala tertunduk.

"Pelangi." Rio memegang bahu kananku, lalu dengan telunjuknya dia menyentuh ujung dagu runcingku dan mengangkatnya agar kepalaku tidak menunduk lagi. Lalu dengan kedua danau penyulut semangatnya, dia menohok dua pelihatku. "Kamu bisa main basket. Aku, percaya sama kamu!" tuturnya yakin.

Aku menggeleng. Menyangkal tatapan tajamnya. Menyanggah ucapannya. "Ga bisa."

"Ify pelangi bisa lakukan apa saja. Don't give up pelangi!"

Ups. Dan kali ini aku memang tak bisa menghindarkan pelihatku dari tohokan danaunya yang tajam. Menjerat. Mematikan. Memabukan.

"Ayo!" dia menyambar lenganku, menyeretku ke kerumunan tadi.

Ah Rio. Apa tak kentara penolakanku tadi? Kurang jelaskah ketidaksudianku untuk menerima tawaranya? Anak ini memang tak peka ya. Ck, aku berdecak.

Semua yang ada di kerumunan memperhatikanku, dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. Hei, kenapa? Ada yang aneh denganku? Baiklah, tak usah dijawab.

Aku mengedarkan pandanganku, nampaknya mereka baik-baik. Kecuali... ow ow, matanya menatap tajam ke arahku, dan sepertinya sudah bersiap untuk menusuk telak kedua mataku. Ya Tuhan, bisakah aku pergi dari keadaan yang tidak menyenangkan ini? Aku serasa, ingin mati saja.

"Ini Ify Alyssa. Dia bakalan gantiin Irva." ujar Rio pada semua yang ada disini.

Aku menggigit bibir, memperhatikan dengan seksama bagaimana ekspresi wajah mereka. Tiga orang anak perempuan yang memakai baju basket nampak tersenyum, menyambut baik keberadaanku. Dan karena itu, aku jadi ikut tersenyum. Tapi, dalam sekejap, senyum yang baru saja terlukis di wajahku luntur, saat mataku menangkap ekspresi tidak bersahabat dari gadis berambut pendek yang sedari tadi menatapku tajam. Dia, Agni Tri Nubuwati. Gadis yang mungkin -dan sepertinya- menyimpan dendam padaku. Dendam akan peristiwa 3 tahun silam itu.

"Kamu yakin yo?" tanya Agni dengan nada meremehkan.

"Aku yakin. Iya kan Fy?" Rio menyenggol tubuhku, membuatku sedikit terkesiap.

"Eh... ah... iya... mungkin.." kataku dengan hembusan nafas putus asa.

"Dia" Agni menunjuk tepat kearah mukaku. "Ga bisa main basket. Sama. Sekali." katanya telak mencambuk hatiku. Membuatku ngeri dan memutuskan menghindari dua bola panasnya dengan menunduk.

"Agni... bener... Aku ga bisa... main basket yo!" suaraku bergetar, menahan tangis yang hampir pecah.

"Aku yakin ko, Ify bisa main basket. Cobalah Ag, kasih kesempatan buat Ify!" Rio berusaha membelaku.

"Ga." jawab Agni ketus.

"Ayolah Ag! Tim kita butuh seorang pemain lagi. Biarin Ify main!" ujar seorang gadis yang sedari tadi menyambut ramah keberadaanku.

"Tapi, kenapa harus dia sih?" Agni kekeh pada pendirianya. Dari dulu, dia memang tak pernah berubah. Tetap keras kepala.

"Ga ada lagi yang bisa main basket selain dia Ag!" ujar gadis itu lagi. Apa? Dia percaya padaku? Pada gadis bodoh yang belum ia kenal sama sekali?

"Udahlah Ag, jangan egois!" kata Rio.

"Terserahlah.." pertahanan Agni runtuh.

Gadis ramah tadi menghampiriku. Mengangkat daguku yang sedari tadi tertunduk, lalu tersenyum sangat tulus. Senyum percaya. "Ganti baju dulu yuk!" ajaknya.

Aku mengangguk lalu mengekorinya menuju ruang ganti.
*

"Gimana? Bajunya pas?" tanya gadis itu sambil memperhatikanku yang baru keluar dari ruang ganti.

"Agak longgar sih!" kataku sambil merapikan baju basket yang ku kenakan.

"Hehe, itu baju Irva" gadis itu mengulurkan tanganya, "aku Sofia."

Aku menjabat tanganya, tersenyum lalu berkata "Aku Ify Alyssa."

Entah kenapa, melihat gadis ramah ini, aku merasa senang. Mungkin karena dia orang ke-dua yang percaya pada gadis bodoh sepertiku, atau mungkin hal yang lain? Tak tahu. Tapi, gadis ini memang sangat baik dan bersahabat. Dibalik penampilannya yang agak tomboy seperti Agni, dia menyimpan kelembutan. Kelembutan hati yang mampu menggugah kepercayaan diriku. Dan agaknya hal itu mampu menghapus goresan traumaku akan basket.
*


Kami berkumpul. Aku, Agni, Sofia, Dea, Aren, Rio, dan Pak Duta -pelatih tim basket-. Pak Duta memberikan arahan mengenai strategi di dalam permainan basket. Dengan sangat berwibawa, beliau menjelaskan taktik yang akan dipakai. Bagai seorang jenderal yang mengarahkan prajuritnya untuk berlaga di medan perang. "Menyerang, adalah pertahanan yang paling baik", kira-kira seperti itulah strategi tim basket putri sekolah kami.

"Kamu" Pak Duta menunjukku. "jaga lini belakang, hadang setiap lawan yang datang, rebut bolanya, dan lempar ke pemain lain."

Aku mengangguk menyanggupi. Sepertinya tugas yang tidak terlalu berat.

"Aku ga yakin dia bisa." ujar Agni sambil memutar bola mantanya, membuat aku tertunduk dan kepercayaan diri yang sempat melambung kembali terhempas. Mengenaskan.

"Lakukan semua dengan semangat!" kata Pak Duta dengan bersemangat, agar membuat anak asuhnya juga ikut bersemangat. Tapi tidak denganku. Bukan karena aku bukan anak asuhnya, tapi karena aku memang sudah kehilangan kembali rasa percaya diri.

Agni, dan dua orang lainnya memasuki lapangan, sedangkan Pak Duta pergi entah kemana, menyisakan aku yang masih terus menunduk di antara dua sosok yang begitu luar biasa.

"Kamu bisa Fy!" Sofia kembali menyemangatiku dengan tuturnya yang lembut, membuatku aku sedikit berani melesakkan tiap centi kepercayaan diri.

"Hei, pelangi pasti bisa!" Rio menepuk pundakku, melecut semangat pada diriku agar dengan segera kepercayan diriku melambung lagi.

Sofia meraih tanganku lalu menariknya memasuki lapangan. Arena unjuk kemampuanku. Arena pembuktian pada semuanya yang hanya bisa meremehkanku selama ini. Atau sebaliknya. Justru lapangan ini adalah arena unjuk kebodohanku. Menunjukan dengan kentara betapa bodohnya gadis jelek sepertiku. Dan mereka takkan pernah merasa menyesal telah meremehkanku.

Pak Joe kembali dipercaya menjadi wasit. Beliau melempar bola lalu meniup peluit, tanda pertandingan dimulai. Agni, Sofia, dan pemain yang lain melompat, memperebutkab bola yang dilempar oleh pak Joe tadi. Sedangkan aku hanya termangu melihat mereka. Kakiku kaku, dan sulit untuk melompat. Ah, sudah sangat lama aku tidak bermain basket.

Agni mendapatkan bolanya, lalu dengan sangat lincah dia mendrible bola sampai area pertahanan lawan, mengecoh lawan dengan memutar badan, lalu melompat dan menshooting bola. Point pertama untuk tim kami.

Seorang dari tim lawan yang berambut pendek mengambil bola, lalu melemparnya pada sang rekan yang sudah berlari. Sang gdis yang menerima bola langsung mendrible bola dengan sangat lincah, melewati Dea dan Aren. Dan sekarang aku berhadapan langsung dengannya. Ow..ow... Dea dan Aren saja yang jago basket bisa ia lewati dengan mudah, apalagi aku. Matilah aku.

Gadis berambut panjang hitam itu masih menepuk-nepuk bola, menatapku tajam dan tersenyum. Senyum? Ya, dia tersenyum, manis sekali. Membuatku terbuai dan lengah, hingga dengan mudah dia melewatiku lalu menshoot bola. Point kami sama.

Agni, Dea, aren dan Sofia menghampiriku yang masih terpaku. Agni dengan matanya yang tajam menatapku. Dan sambil mengeluarkan jurus andalannya yaitu memutar bola mata, dia berkata "Udah aku bilang kan, dia GA BISA!" Agni menekan dua kata terakhir lalu berlari lagi ke depan di susul Dea dan Aren.

"Masih banyak waktu kok!" Sofia menyemangatiku lagi. Ah, gadis ini belum tahu saja, bahwa setelah kesalahan yang baru saja ku buat adalah awal dari kesalahan-kesalahan lain yang lebih besar.

"Ambil bolanya, lempar ke aku!" ujarnya dengan nada bersahabat yang jauh sekali dari nada memerintah.

Aku segera mengambil bola, lalu melemparnya pada Sofia seperti perintahnya tadi. Setelah Sofia menerima bolanya, dia berlari melewati semua pemain lawan, sampai akhirnya dia berhadapan dengan gadis pemilik senyum manis tadi. Uh, bisakah Sofia melewati gadis itu? Sedikit keraguan mulai terbersit di benakku. Tapi hanya dengan satu gerakam, sofia melewati gadis senyum manis, mematahkan keraguan dalam diriku. Sofia berlari lagi, melakukan lay up shoot. Point lagi untuk tim kami.
*

Seterusnya. Permainan berjalan menyenangkan dan menegangka tentu saja. Saling menyerang dan mengumpulkan point. Saat Agni, Sofia, Dea atau pun aren menciptakan point, semuanya bersorak, termasuk aku. Ya, walaupun aku hanya bersorak di dalam hati. Sehingga yang dapat mendengarnya hanya aku, hatiku dan tuhan pasti.

Saat Si Senyum manis berhasil memasukkan bola ke ring tim kami, semua mencaci kebodohanku. Kecuali Sofia yang dengan lembut mau memaafkan setiap kesalahan yang ku buat, dan Rio yang selalu menyalurkan energi positifnya dari tepi lapangan.

Aku, sama sekali tak mempunyai kesempatan untuk memasukkan bola. Bukan. Bukan karena itu. Tapi karena aku memang sama sekali tak bisa memasukkan bola. Maka, setiap aku berhasil mendapatkan bola, aku lebih memilih mengopernya pada Sofia atau yang lainnya.
*

Dua menit terakhir, di kuarter terakhir. Point sementara 51-50 untuk keunggulan satu point tim kami. Bagi kami -lebih tepatnya aku_- dua menit itu serasa dua abad. Bagaimana tidak. Aku harus bisa mempertahankan keunggulan satu poin ini. Kalau sampai aku gagal, maka tim kami akan kalah. dan aku adalah tersangka dalam peristiwa kekalahan tim kami.

Maka dengan sekuat tenaga, aku menghalau setiap serangan yang datang. Aren dan Sofia membantuku di belakang, sedangkan Agni dan Dea menunggu di depan.

Satu menit terakhir. Gadis senyum manis itu kembali mendapat bola. Dia berlari, melewati Aren lalu berhadapan dengan Sofia. Aku yakin, Sofia bisa merebut bola. Ups. sofia lengah. Dan gadis senyum manis itu berhasil memanfaatkannya. dia melewati Sofia, lalu kini berhadapan denganku.

Oh Tuhan, tolong matikan aku saat ini juga. agar nanti kalau timku kalah, aku tak bisa mendengarkan cemoohan dan dakwaan mereka. Dia kembali tersenyum. Memabukkan. Membuatku terpana akan kesempurnaan lengkung bibirnya. Bulan sabit pun kalah indahnya.

"Pelangi...rebut bolanya!" suara menggelegar dari sang matahari membuat aku tersadar, menghapus keterlenaanku pada senyum beracun milik sang gadis.

Hei gadis, berhenti tersenyum. Jangan membuat aku masuk kedalam dunia memabukkan yang di buat senyum manismu itu. Dengan berani aku mulai mendekati sang gadis senyum manis. Melihat kelemahannya lalu dengan kecepatan persekian detik aku merebut bolanya.

Dan kawan, aku berhasil merebut bolanya. Aku bisa mengalahkan pesona senyum manis beracun milik gadis itu. Aku melempar bolanya jauh ke depan, memburu Agni yang sedang berlari. Dengan sebuah lompatan keci, agni meraih bola lalu melakukan dribble sebentar lalu melempar bola ke ring. Sang bola masih menari di atas ring. Ya Tuhan, tolong masukkan bolanya. Pintaku dalam hati.

Dan Tuhan memang Maha Mendengar. Bola itu bergulir masuk ke dalam ring, meciptakan dua poin penting untuk tim kami.

Pritt...Pak Joe meniup peluit panjang tanda pertandingan usai, dengan kemenangan tim kami. 53-50. Kami melonjak bahagia, terutama aku. tahukah kalian saat ini aku merasa sangat bahagia. Hei, masih ingatkah pernyataanku dulu, bahwa kebahagiaan dapat di raih dengan pengorbanan? Ya, sekarang aku meraih kebahagiaanku melalui pengorbanan yang sangat berat. Dan sekarang tersenyum sangat lebar. Dan akhirnya tertawa sangat lepas.

Mereka semua memburuku. Agni, dea, sofia, Aren, Rio, Pak duta dan semua siswa yang menyaksikan pertandingan barusan. Mereka tersenyum, memelukku, menjabat tanganku, mengucapkan selamat padaku. Semuanya. Termasuk Agni.

"Maaf ya Fy!" Agni menunduk, lalu Aren mengelus bahunya. "Permainan kamu bagus. Kamu berhasil rebut bolanya. Dan tim kita menang." Agni mengangkat wajah lalu memegang kedua bahuku. "Karena kamu" lanjutnya lagi dan sejurus kemudian memeluk tubuh mungilku.

Rindu. Ya, aku merindukan pelukan ini. Pelukan dari seorang sahabat. Ya, Agni sahabatku. Dulu, tiga tahun silam sebelum peristiwa basket itu terjadi, aku, Agni dan Keke adalah sahabat karib. Kami selalu menghabiskan waktu bersama. Dan sungguh, aku teramat merindukan saat-saat dulu kami selalu bersama.

"Aku kangen sama kamu Fy!" katanya masih memelukku.

"Apalagi aku Ag, kangen....banget!" ujarku.

Saaat ini Tuhan, Kau kembal menunjukkan betapa hebatnya engkau. hanya dalam hitungan menit saja Kau mampu meluluhkan kerasnya hati Agni. sedangkan aku, tiga tahun bukan waktu yang singkat, dan selama itu pulalah aku tak pernah berhasil meruntuhkan ego hatinya Agni.

Agni melepas pelukannya. "Kita sahabatan lagi, kan?" tanya Agni mengacungkan kelingkingnya.

"Tentu!" aku mengaitkan kelingkingku pada kelingkingnya. Dan dengan di saksikan banyak pasang mata, kami mengeratkan kembali ikatan persahabatan kami yang sempat jauh berjarak. Aku berjanji, ikatan ini tak akan putus lagi. Karena akan ku jaga, sampai kapan pun juga.

Hujan, kepercayaan merubah segalanya
kebahagiaan kecil telah ku ambil
*

bersambung

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 8A


BASKET.
*

Dia, terlihat mondar-mandir bagai setrika diantara teman-temanya. Wajahnya teramat kalut, membuat peluh bercucuran di mukanya. Dia mengacak rambutnya kesal. Menendang kerikil kecil, dan menghentak bumi. Hei, kenapa pangeran matahari?

Aku bergegas menghampirinya, takut dia tidak bisa berkonsentrasi bermain basket, apalagi ini pertandingan yang penting, bukan hanya untukku, tapi juga untuk sekolah kami.

"Rio" aku menepuk pundaknya pelan.

Dia yang sedang menunduk, langsung mendongak dan menatapku tajam, menerkam dua manik mataku. Ow ow, nampaknya dia marah.

Aku menggigit bibir bagian bawah, menggaruk pipi yang sama sekali tak gatal. Dan begitu terkejutnya aku saat dia melonjak memelukku. Pelukanya teramat erat, membuaku kesusahan untuk bernafas.

"A..ku..ga bi..sa...nafas" kataku kepayahan.

Dia akhirnya melepaskan pelukanya, menggaruk kepala bagian belakang lalu terkekeh. "maaf"

Aku hanya tersenyum.

"Abis, kamu. kirain ga bakalan kesini. Aku ga tau deh, kalau kamu ga kesini, pasti permainan aku kacau banget." Rio mendesah "untung kamu datang!" Rio meletakkan kedua tanganya dipundaku. Memfokuskan kedua danau penyulut semangat itu pada kedua mataku. Menyengat tepat di manik mataku. Mematikan.

Aku menelusuri lekat-lekat danau itu, dan nafasku hampir tercekat saat desauan nafasnya terasa hangat sampai di wajahku, menciptakan getaran misterius itu kembali menyambar tubuhku, entah untuk yang ke berapa kali.

"Doain aku ya pelangi!" katanya tanpa memindahkan fokus matanya yang menjerat mataku kuat untuk tidak berkedip.

Aku hanya mengangguk dengan nafas tertahan, karena saat ini getaran menyebalkan itu sudah menyumbat rongga pernafasanku dan berhasil membuatku menahan nafas untuk beberapa waktu.

"Yo, cepetan! Pertandingannya udah mau mulai nih!" teriak seseorang dari tengah lapangan.

Aku mengerjap, dan tersadar dari buaian mempesona dua danau milik pangeran matahari.

Rio melepaskan tangannya dari pundaku dan menoleh ke arah sumber suara, "iya Yel!" teriak Rio lalu menoleh lagi ke arahku, "aku main dulu ya!" dia menepuk puncak kepalaku lalu mengacak-acak rambutku dan akhirnya berlari ke tengah lapangan, menghampiri teman-temannya yang sudah bersiap.

Akhirnya, aku bisa juga bernafas lega setelah beberapa saat tercekat. Ya Tuhan, tadi itu seperti saat menaiki wahana histeria. Harus menahan nafas dan merasakan euphoria yang begitu dahsyat membuncah di hatiku. Dan euphoria itu langsung memudar saat dia menjauh. Apa mungkin penyebab euphoria itu adalah....dia?
*

Pertandingan pun dimulai, antara SMPN 1 -sekolahku- dan SMPN 3 dengan dipimpin oleh Pak Joe.

Rio, dengan kaos merah dan sepatu putih yang dia kenakan tampak begitu tampan, ditambah permainannya yang sangat indah, begitu gesit bergerak diantara yang lainnya. Dan seharusnya kalian tahu, sedari tadi yang aku perhatikan bukanlah kemana bola itu bergulir, tapi segala gerakanyalah yang aku lihat. Dia berlari, mengoper bola pada Gabriel, Debo, atau dua rekannya yang lain, merebut bola dari rivalnya yang mengenakan kaos biru, berlari lagi, melompat, lalu melempar bola, dan pada akhirnya point pun di raihnya. Segalanya sangat sempurna.

Bruuk. Aww. Rio tersungkur. Tertabrak rivalnya yang berambut gondrong. Terlihat dia meringis kesakitan, memegangi lututnya yang terluka lalu meniupinya. Ya Tuhan, Rio kenapa? Jangan sakiti dia! Tunggu, ada apa dengan hatiku? Kenapa aku secemas ini?

Aku bernafas lega saat melihat pangeran matahari itu kembali bangkit, meraih bola, lalu melakukan lemparan. Dan yap, point untuk tim sekolah kami.

Begitu pun seterusnya. Rio beserta ke empat temanya meraih point. Meski harus bersusah payah karena nyatanya tim lawan tak ingin pulang dengan membawa kekalahan.

Empat kuarter berlalu. Dan priitt...priitt... Pak Joe meniup peluit panjang tanda pertandingan yang sangat menegangkan itu telah usai. Rio dan ke empat temannya melompat, bersorak, bahagia. Begitu juga seluruh siswa yang menyaksikan pertandingan barusan. Sementara ke lima pemain lain yang juga berada di lapangan tersebut terlihat sedih. Mereka menunduk kecewa menerima kekalahan yang cukup menyakitkan. Tapi pada akhirnya ini hanya sebuah pertandingan. Harus ada yang menang dan kalah, kan? Dan itu memang sudah mutlak. Meraka pun saling berjabat tangan, menunjukan sportifitas.

Rio mulai mendekat ke arahku dengan senyum yang merekah di bibirnya. Dia berhenti tepat di hadapanku. Memegang pundaku. Dan sejurus kemudian memeluk tubuhku. Dan tepat saat dia menyambarku, jantungku mulai bertalu. Getaran misterius itu muncul lagi, bahkan lebih keras dan tak terkendali.

Rio akhirnya melepas pelukan itu, memudahkanku untuk mengendalikan getaran misterius itu. Dan aw, kenapa aku merasa gugup saat kilat hebat menyambar tepat bola mataku. Kilat yang seakan memompa jantungku untuk menciptakan getaran yang lebih menggila.

"Aku menang Fy!" ujarnya.

Aku mengerjap, menarik nafas lalu berkata, "Selamat ya Yo!"

Rio mengangguk semangat lalu mengambil botol air mineral yang tergeletak di sampigku, membuka tutupnya, lalu meneguk isinya kemudian duduk di sampingku. Rio mengambil handuk yang juga tergeletak disampingku bersama air mineral tadi, mengelap peluh-peluh yang membasahi sekujur tubuhnya.

"Setelah ini, apa?" tanyaku sambil memainkan ujung rok.

"Basket putri" jawabnya lalu kembali menyimpan handuk di dekat botol air mineral tadi.

Aku menggigit bibir, bertanya dengan ragu, "Agni ikut?"

Dia menoleh ke arahku, menatapku, lalu kembali menoleh ke depan. "Ya iyalah, Agni kan atlit basket putri andalan sekolah kita" Rio menghela nafas. "Kenapa emang?" tanyanya lagi.

Aku menggeleng, menyadari bahwa itu adalah pertanyaan yang bodoh, dan kenapa pula bibirku melontarkannya? Seharusnya aku tahu, Agni memang pantas dan seharusnya masuk tim inti basket putri sekolahku.

"Yo, sini!" teriak seseorang dari sebuah kerumunan.

Rio menoleh ke arah kerumunan itu, menatapku lalu bangkit dari duduknya. "Aku kesana dulu ya!" izinnya lalu berlari menuju sumber suara tadi.
*

Sepuluh menit berlalu. Dia kembali menghampiriku dengan wajah yang begitu kalut. Nampaknya ada yang tidak beres.

"Kenapa?" tanyaku sembari bangkit.

"Irva sakit, dia ga bisa main." katanya sambil mengatur nafasnya yang terengah-engah.

"Ganti aja sama pemain cadangan" ujarku sekenanya.

"Nah, itu dia masalahnya, kita ga punya pemain cadangan." Dia mulai mondar-mandir membuatku ikut cemas.

Aku mengerutkan kening, menggigit bibir sambil menggaruk pipi. Ups. Kenapa aku jadi seperti ini?

"Ahaaa!" katanya tiba-tiba, membuatku kaget dan harus mengelus dada.

"Apa?"

"Kamu aja yang gantiin Irva." celetuknya membuatku terlonjak dan geleng-geleng kepala.

Hei, apa-apaan Rio ini? menyuruhku untuk bermain basket, bukankah tiga tahun terakhir ini aku sudah tidak bermain basket. Aku trauma bermain basket, kejadian waktu itu...
*

3 tahun yang lalu.

Sore itu begitu terik. Matahari sungguh superior memancarkan sinarnya. Begitu bersemangatnya sang mentari, sama seperti bersemangatnya Agni untuk mencaci maki seorang itik buruk rupa.

"Kamu bodoh! Kalau aja tadi kamu oper bola itu ke aku dan ga egois untuk ngelempar bola itu sendiri, sekolah kita ga bakal kalah!" teriaknya di tepi lapangan, disaksikan banyak pasang mata.

Gadis buruk rupa itu hanya tertunduk. Menatapi beton yang dia injak. Merutuki kebodohannya dalam hati.

"Dasar bodoh! Kamu, ga bisa main basket!" suaranya makin menggelegar membuat gendang telinga yang mendengar pecah.

Dan, gadis itu mulai berkaca-kaca, hingga akhirnya sebuah tetesan bening mengalir di pipinya lalu bergelayut di ujung dagu runcingnya. Dan sebelum butiran itu mengenai tanah, tetesan alam mendahuluinya. Seakan mengiringi tangisan gadis yang -katanya- bodoh itu. Bahkan matahari yang awalnya begitu berkobar, tak tega melihat gadis itu menangis, hingga membiarkan hujan menemani tangisnya
*

bersambung

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 7


Hal kecil yang membawa perubahan yang signifikan, membuat semuanya terasa lebih indah.

PISANG GORENG
*

Aku mendesah berat, menghempaskan gas yang menyesakkan dada, berharap gas itu enyah. Namun nyatanya gas beracun itu tak mau pergi, lebih senang memadati ruang dadaku. Aku memejamkan mataku, berharap mimpi indah tadi masih terus berlanjut. Sayang, mimpi itu sudah tertimbun sangat dalam. Maka mulailah aku memberanikan diri melihat pagi ini. Apa masih sama seperti kemarin? Tidak. Kemarin lebih baik. Pagi ini sama muramnya seperti pagi sebelum kemarin.

Aku kembali ke rutinitas biasa, mandi, berpakaian, lalu mematut diri sebentar di depan cermin. Setelahnya, keluar dari kamar, lalu menuruni anak tangga dan meluangkan waktu untuk menengok ruang makan.

Aku hanya mengintip saja. Dan nampak wanita paruh baya yang sedang menyiapkan roti dan selai untuk hanya jadu pajangan di atas meja, karena sesungguhnya roti-roti itu tak pernah aku ata orang lain-mama dan papa- sentuh.

Aku mengedikan kepala, miris melihatnya, lalu melangkah pergi.

"Non" terdengar suara Bi Surti memanggilku, membuat langkah kecilku terhenti.

Aku menunduk. Ah, hari ini aku tak bersemangat.

"Ini non" Bi Surti mengangsurkan sebuah kotak bekal berbentuk kepala kucing. Ya Tuhan, menggemaskan sekali.

Aku mengerutkan kening. Tak mengerti. apa aku di suruh membawa bekal ke sekolah macam anak TK? Entah.

"Sejak kemarin, non kan belum makan, ini bi Surti buatin pisang goreng. Kesukaan non, kan?" ujar wanita sabar itu.

"Ga usah deh bi!" Ujarku sekenanya.

"Ayolah non, bibi ga mau non sakit" Bi surti memasang wajah memelas.

Kalian tahu? Aku paling tidak bisa melihat orang lain memelas. Maka dengan setengah hati, aku menerima kotak bekal itu. "Makasih ya Bi!"
*Aku masih memegangi kotak bekalku. Tak berniat sedikit pun untuk melahap isinya, meski aku tahu di dalam kotak lucu ini, ada makanan kesukaanku. Sambil melihat ke depan, atlet-atlet basket sekolahku sedang berlatih. Ya, karena sebentar lagi mereka akan menghadapi pertandingan persahabatan dengan SMP lain. Terselip di antara mereka seorang tampan. Entah kenapa, sedari tadi aku memfokuskan mataku ke arahnya. Memperhatikan setiap gerak-geriknya dan meresapi keindahannya.

Tanpa sadar, siluet yang ku perhatikan menghampiriku, dan akhirnya duduk di sampingku.

Rio mendesah lalu menepuk pundakku. "Tumben" katanya dengan nafas yang masih terengah-engah.

"Mencoba sesuatu yang baru" ujarku.

"Lalu?" tanyanya lagi sambil mengusap peluh yang bergelayut di ujung dagunya.

"Cukup menyenangkan""Itu apa?" Rio menunjuk kotak bekal yang ku pegang.

Aku menoleh ke arahnya lalu mengasongkan kotak bekal berisi pisang goreng. Dia hanya mengerutkan kening.

"Pisang goreng, buat kamu" kataku ringan.

"Buat aku?" Rio meraih kotak bekalku. "Makasih ya!" Dengan jemarinya dia membuka tutup kotak bekal, menyimpannya di bangku yang kami duduki. Meneliti isinya. Meraihnya. Lalu akhirnya melahapnya.

"Sebentar lagi pertandingan persahabatan, makanya kami rajin latihan." celotehnya sambil terus menggigiti tiap potongan pisang goreng.

Aku hanya tergugu, entah mau mengatakan apa-apa. Bibirku selalu tiba-tiba membeku jikalau berada di sampinya. Hatiku ikut bertalu. Dan getaran misterius itu kembali menjalar ke sekujur tubuhku. Tapi yang jelas, perasaan senang selalu menyergapku saat bersamanya.

"tumben ga di perpus?" dia bertanya sambil terus melakukan prosedur menghancurkan pisang goreng.

"Kalo aku diem terus di perpus, siapa yang bakalan ngehabisin pisang goreng itu? Buku-buku?" Aku menoleh ke arahnya. Dia, rakus juga. Tapi auranya justru makin terpancar saat dia melahap tiap centi pisang goreng. Tentu saja. Dia memang selalu sempurna.

Akhirnya semua pisang goreng pun berhasil dia habiskan, tak tersisa walau hanya secuil. Dia memasukkan jarinya ke mulut lalu mencomotnya satu persatu. Seperti anak kecil. Lucu sekali.

"Makasih ya, pisang gorengnya enak banget! Main basket bikin aku laper!" ujarnya polos sambil memegangi perutnya yang terlihat sedikit buncit. Mungkin karena efek memakan pisang goreng itu.

Aku menyunggingkan senyum, melihat begitu polosnya tingkah laku sang pangeran matahari. Tingkah yang tak pernah dia tunjukan pada orang selain aku.

Dia berbalik, berlari menuju lapangan basket dan bergabung kembali dengan teman-temannya. Berlatih lagi penuh tenaga. Dia selalu saja seperti itu. Bersemangat.

"Alysaaa..." teriak seseorang dari kejauhan. Suara cemprengnya memekikan telinga. Suara yang sudah sangat ku hafal. Bagaimana tidak, setiap hari aku mendengarnya berceloteh ria di sampingku. Dia Keke, Gabriel Angeline Thalita Pangemanan, teman sebangkuku.

"Aduh, ternyata kamu disini toh!" katanya sambil menstabilkan pernafasannya.

"kenapa Ke?" tanyaku keheranan, melihat tingkah aneh sahabat karibku ini.

"Aku cariin kamu ke perpus, tenyata kamu di sini. Bu Angel, pulang sekolah nanti kamu di suruh nemuin dia" cerocosnya.

"Mau apa?" tanyaku yang hanya di jawab dengan gelengan kepala dan bahu terangkat.

Mau apa sebenarnya pembina teaterku yang satu itu? Tidak tahulah.
*


"Saya, ga bisa melakukan seutuhnys bu." ujarku dengan mata tertunduk. Tak berani menatap mata lawan bicaraku. Karena aku tahu, tatapanya pasti runcing, bak tusuk sate.

"Kenapa?" Bu Angel-lawan bicaraku-menghela nafas. "Ibu tidak habis fikir, kenapa kamu selalu menolak untuk sepenuhnya ikut dalam rencana-rencana besar yang saya buat, bahkan rencana yang kelewat besar seperti ini."

"Saya...tidak layak bu!" aku masih tertunduk. Sama sekali belum berani menatap Bu Angel.

"Alysaa.."

Aku masih teru menunduk, menatapi ujung-ujung rok biruku. Bahkan kali ini makin dalam.

"Alyssa.." Suara Bu Angel mengeras. Dan itu tandanya mau tak mau aku harus berhenti menunduk dan kemudian menatapnya.

Aku mendongak. Dan tepat saat mata bulatnya menyambar telak kedua bola mataku. Benar saja, matanya amat tajam, lebih tajam dari paruh elang. Mematikan.

"Kamu, lebih dari layak Alyssa. Setiap kalimat yang kamu buat itu terlalu rapi dan indah. Bagaimana bisa kamu menganggap bahwa kamu tidak layak?" Bu Angel menggelengkan kepala. "Percaya sama ibu, kamu mampu Alyssa"

"Tidak tahu lah bu, izinkan saya untuk berfikir, untuk memutuskan apa yang akan saya lakukan, melakukan seutuhnya atau tidak sama sekali." kataku dengan hembusan nafas putus asa.

"saya berharap, pilihan pertama yang akan kamu ambil" Bu Angel menepuk pundaku, seakan ingin menjejaliku dengan semangat. Percuma saja, karena toh aku pasti akan menolaknya. Aku merasa putus asa.
*

Segalanya tentangnya adalah hal terindah.
Semua ucapannya adalah pelecut semangat.
Tiap inci lebar senyumnya adalah kebahagiaan.
Dan kehadirannya, membawa perubahan.

*

Aku berjalan dengan gontai sendirian. Pikiranku menerawang. Bingung. Apa yang harus aku lakukan. Mengikuti kata-kata Bu Angel, atau tetap pada pendirianku. Tapi sepertinya, aku akan tetap pada pendirianku. Takkan tergoyahkan oleh badai yang tiap saat bisa menerjang.

"Hai!" sapa seseorang dengan tepukan di pundakku.

Aku menoleh. dia lagi. Tak pernah bosan aku bertemu dengannya. Dan aku berterimakasih kepada Tuhan, telah membuat aku di temukan olehnya di halte di tengah-tengah hujan.

"Oh ya, tadi aku lupa, aku mau ngomong sesuatu sama kamu" ucapnya ceria seperyi biasanya, lalu berjalan beriringan denganku.

"ngomong apa?" tanyaku.

"pisang gorengnya enak, besok bawa lagi ya. Boleh, kan?" pintanya.

"Tentu, kalau kamu mau, tiap hari aku bawain deh!" kataku. Oh Tuhan, kau begitu baik. Ini pertanda setiap hari akau akan bertemu dengannya dan menghabiskan waktu istirahat dengannya di temani tiap potongan pisang goreng.

"Thanks ya!" Dia menepuk puncak kepalaku, membuat getaran misterius itu datang lalu menjalar ke seluruh tubuhku.

"Hari ini kamu dijemput?" tanyanya.

"Ga, kalaupun dijemput, aku ga bakalan mau pulang." aku menggigit bibir bagian bawah.

"Kalau gitu, aku bisa tidur lagi di bahumu dong! Yuk!" dia menarik tanganku tiba-tiba menuju bis yang baru datang. Ini tarikan tangannya yang ke...entahlah, sudah sangat sering. Dan aku bahagia.

Sampailah kami di dalam bis, lalu kini duduk di paling belakang, karena baris ke-3, tempat favorit kami-tepatnya aku-sudah ada yang menempati. Tapi, dimanapun itu, aku selalu senang jika bersamanya.

Dua menit setelah bis melaju, kepalanya mendarat di bahuku. Dan saat itu pula, getaran yang menjalar di rubuhku semakin mebuncah. Apa ini Tuhan? Bahkan getaran ini lebih besar dari gempa di Aceh tahu 2004 dulu. Ah aku tak tahu apa ini. Semuanya remang. Dan aku belum bisa menguraikan apa sebenarnya penyebab getaran misterius itu.
*

Kehadirannya adalah kesempurnaan.
Dia adalah zat kimia yang mampu merubah kekecewaan menjadi kebahagiaan.
Karena dia di ciptakan untuk menjadi sang pangeran.


*

Pagi ini cerah. Ya, setidaknya itu yang ku rasakan. Meski mendung menyelubung langit, tapi bagiku cerah saja. tumben kau datang sepagi ini, rajin benar.

"Pagi bi!" sapaku pada Bi Surti yang sedang menyiapkan sarapan.

"Loh loh loh, kenapa ini? Non Ify kok kelihatannya seneng banget!" Ujar Bi Surti sambil menuangkan air panas ke dalam gelas berisi susu.

"Emang bi! Bi, pisang gorengnya enak, bikinin lagi ya!" kataku kemudian mangambil segelas susu yang baru saja di seduholeh Bi Surti.

"Siap non!" Bi Surti mengacungkan jempol. Menyanggupi.
*

Menunggu. Adalah hal yang teramat membosankan bagi semua orang. Kecuali aku. Aku selalu menikmati saat-saat menantinya di pojok perpustakaan. Dengan memegangi kotak bekal berisi pisang goreng, aku merasa bahagia. Aku yakin, dia akan selalu datang untuk menemuiku, lalu melahap habis pisang gorengku.
*

Ketiadaanya membuatku gelisah.
Keterlambatannya membuatku cemas.
Tapi hanya dengan sebuah senyuman manisnya, kegelisahan dan kecemasan itu sirna.

*

Duduk takzim di kursi pojok perpustakaan menjadi rutinitas yang selalu aku lakukan. Begitu juga hari ini. Sambil sesekali melirik gelisah ke jam tangan yang ku kenakan. Berharap dia segera datang untuk mengambil pisang goreng yang selalu aku bawa untuknya. Aku yakin, meski sudah lewat lima belas menit, dia akan datang.

"Maaf ya, tadi porsi latihannya di tambah, besok kan pertandingannya," katanya mengusap keringat yang bercampur dengan tetesan hujan.

Aku menyodorkan kotak bekal. Dia membuka, meraih isinya, lalu melahapnya. Seperti biasa.

"Besok, kamu nonton aku ya!" katanya sambil mengunyah potongan pisang goreng.

"gimana besok aja deh!" kataku ringan sambil membuka halamn ensiklopedia yang akan ku baca.

"Yah, ko gitu sih, ayolah! kamu kan selalu ngasih aku energi lewat pisang goreng ini tiap selesai latihan, masa di pertandingan nanti kamu ga nonton. Ayolah! Buat nyemangatin aku!" dia memelas sambil mengangkat kedua alisnya.

"iya deh!" kataku sambil terkekeh.

Hujan, dia gambar senyuman
dia lukis keindahan
*

bersambung.

Selasa, 04 Oktober 2011

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 6B


Ku ingin marah melampiaskan
tapi ku hanyalah sendiri disini
ingin ku tunjukan pada siapa saja yang ada bahwa hatiku, kecewa.

~Bunga Citra Lestari~
*

"Terus Ify?" tanyaku sarkatis.

Papa dan Mama saling berpandangan, seakan mereka berfikir 'pasien lebih penting dari kamu Fy'.

"Kamu lanjutin makan, papa ntar telpon Mang Ujang buat jemput kamu, oke sayang? Yuk ma!" Papa menarik tangan mama, lalu dengan terburu-buru meninggalkanku dengan semua kekecewaan yang kembali ku raih.

Aku terpaku sendiri, melihat mereka seakan tak mempedulikan aku yang kenyataannnya adalah anak mereka. Lalu apa makna dari perkataan mama tadi malam? 'Besok, kami milikmu'. Alah, omong kosong semuanya.

Makanan di hadapanku kini terlihat hidup dan mencibirku. Oke, aku ga nafsu makan kalian.

Aku bergegas keluar, aku telusuri sudut tempat parkir. Tak ada jaguar yang tadi mengantarku ke sini. Dia pergi, membawa kebahagiaanku dengan sangat cepat.

Dengan berat aku berjalan, tak tentu tujuan. Mataku menatap kosong ke depan. Pikiranku melayang dan hatiku luluh lantak. Ya, aku kecewa. Aku kira kebahagiaan ini akan bertahan lebih lama di diriku, ternyata bahagia itu tak betah hinggap terlalu lama padaku. Tapi kenapa tuhan? Apa dalam diriku terdapat sebuah monster jahat berbadan besar dan menakutkan sehingga bahagia itu enggan lama-lama tinggal. Atau bahagia itu benci pada itik buruk rupa sepertiku? Tapi sekarang aku kan pelangi. Ah, pelangi ataupun itik buruk rupa sama saja bagiku. Aku tetap tak dapatkan bahagia.

Bahagia. Hal termewah dan termahal bagiku di dunia ini yang tak pernah bisa ku beli. Beli? Kalau bahagia dapat dibeli, berapa harganya? Satu juta? seratus juta? Satu milyar? satu triliyun? Berapa? Ayo sebutkan! Dan tidak. Tidak. Tidak. Bahagia itu tak dapat dibeli dengan rupiah. Lalu dengan apa? Pengorbanan. Hey, sudah banyak yang ku korbankan. Dan sudah lama aku menunggu bahagia itu menghampiriku. Kapan tuhan?

Oke. Tidak ada gunanya memaksa. Biarlah mengalir seperi aliran air di sungai.
*

Akhirnya aku sampai di sebuah halte. Bukan. Bukan halte yang dekat sekolah. Ini halte yang berbeda, tapi di mana pun haltenya, aku tetap menyukainya. Aku tidak berniat untuk berteduh dari teriknya siang ini, aku hanya duduk di emperan halte. Ya, macam gelandangan.

Aku kembali merenung, menekuri hidupku yang amat malang ini. Kenapa malang selalu mengekoriku? Mataku mulai berkaca-kaca dan sebentar lagi bersiap pecah lalu menumpahkan tangis. Dan benar kan? Si bening itu mulai terjun bebas dari mataku. Ya, aku rasa menangis dapat membuatku lebih baik. Meski kenyataannnya tidak sama sekali.

Aku memelototi beton yang ku injak. Yang tadinya terang, sekarang mulai meredup. Apa ini? Aku menengadahkan kepalaku, melihat langit yang tadinya biru, kini menjadi hamparan awan kelabu, dan nampaknya kau mau datang. Kenapa? Bukankah hari ini kamu tak ada jadwal untuk menyerbu bumi? Dasar kau!

Setetes, dua tetes, lalu diikuti rombongan tetes yang lain. Kau mulai datang menimpaku. Kenapa kau ikut menangis hujan? Apa ini cibiranmu pada kelemahanku? Iya?

"Jangan menangis terlalu lama Ify!" kata seseorang yang kini sudah berdiri gagah di sampingku. "Pelangiku" lanjut Rio. Ya, dialah orang itu.

"Kenapa? Toh hujan setiap turuh selalu menangis?" pembelaanku.

"Ada dua hal yang membuat hujan menangis" ujarnya lalu menghela nafas "Satu, hujan menangis karena dia mau memberikan rintikanya untuk kehidupan."

Aku memotong pembicaraannya "Aku tahu satu lagi, dia pasti sedih kan? Sama sepertiku." Air mataku kini turun makin deras bersama hujan yang selalu mengiringiku.

"kamu salah, hujan tak pernah sedih. Alasan lain kenapa dia turun adalah dia ingin dan harus mengkamuflase tangisan mahluk-mahluk di bumi. Dan itulah alasan dia turun sekarang."

Bicara apa mahluk satu ini? Apa benar yang ia katakan hujan? Kau mau mengkamuflase tangisku saat ini?

"Dan kamu tahu Fy, saat ini dia gagal melaksanakan tugasnya. Tangismu terlalu deras sehingga hujan tak mampu menyamarkanya." ujarnya lagi.

Kata-katanya sungguh aneh. Ngelantur ya ini orang? Tapi, ada benarnya juga sih, kali ini aku menangis sangat optimal. Tapi apakah sederas itu, hingga hujan tak mampu mengkamuflase tangisku?

"jangan menangis lagi, jangan buat hujan susah payah melakukan itu. Biarlah hujan turun hanya untuk memberikan titik-titik kehidupan tanpa ada embel-embel yang lainya!" ujarnya lagi.

Aku menoleh ke arahnya, sosoknya begitu dewasa saat ini, melebihi umurnya yang masih 15 tahun.

Dia mengulurkan tangannya padaku. Tanpa berfikir, aku meraih tangannya. Dia mengangkatku bangkit dari keterpurukkan. Dia bagai katrol yang mengangkat seember air dari dasar sumur.

Dia menarikku masuk ke bis yang baru saja tiba. Aku hanya terus mengekorinya, hingga akhirnya kami duduk di baris ketiga, seperti saat itu. Bedanya kali ini dia memisahkanku dengan jendela.

Bis pun melaju bersamaan dengan genggaman tangan kami yang makin mengerat. Dia salurkan semangatnya padaku lewat genggaman tangan halusnya.

"Biarlah tetap begini!" ujarnya sambil menggerakan genggamannya kemudian mempererat "aku ngantuk, aku tidur ya!" katanya lalu mendaratkan kepalanya pada bahuku -lagi-.

Hangat. Hangat sekali. Memang matahari yang selalu memberikan kehangatan untuk seluruh insani. Aku tak tahu apa yang ku rasakan, tapi energi yang dia salurkan mulai menjalar ke seluruh tubuhku lewat pembuluh darah. Dan kini hampir mencapai tempat dimana darah di pompa. Ya, jantung. Jantungku mulai berdetak, lebih cepat, semakin cepat, bahkan lebih cepat dari ketukan sepatu kuda. Apa yang ku rasakan?

Tuk. tuk. tuk. Bukan. Itu bukan suara jantunku. Suara jantungku kan teredam. Hanya aku, Tuhan, dan si jantung itulah yang mampu mendengarnya. Yang barusan itu suara tetesan hujan yang mengetuk kaca jendela. Keliahatannya kau marah karena ada dia di antara kita. Aku menggapai jendela dengan hati-hati agar tak membangunkannya yang tengah terlelap. Tenang hujan, bagiku kau tetap yang terbaik. Jangan berisik ya! Pangeran matahari sedang mendengkur.

Hujan, dia tegarkan
dia kuatkan
dia hapuskan
*


"Aku pulang" Kataku lemah sambil menyusuri satu persatu anak tangga.

"Non, kok ga pulang sama Mang Ujang? Tadi dia jemput non." Ujar bi Surti.

Aduh, bibiku yang satu ini, cerewet deh. Sudahlah. Tak perlu urusi semua ini. Aku tak mempedulikan celotehan wanita paruh baya itu. Aku melengos pergi.
*

Ku raih kenop pintu kamar lalu membukanya, membuka jalan masuk menuju dunia kesendirianku. Aku melangkah lalu berniat mendaratkan badanku di pulau kapuk. Tunggu, ruangan itu menggodaku. Ruangan yang terdapat di kamarku di samping kamar mandi. Ruangan yang dulu selalu ramai dengan rengekan, canda, tawa, dan semuanya. Ruangan yang bisa dibilang 'ruangan bermain'.

Dengan gontai aku masuk ke ruangan ini. Bersih, rapi, mungkin bi Surti selalu membersihkan ruangan ini. Ya ampun, sudah berapa lama aku tak memasuki ruangan ini? Aku kira lama sekali.

Di sudut ruangan terdapat rak yang berisi banyak sekali boneka doraemon. Ya, aku suka sekali doraemon.

Di pinggir rak tersebut terdapat sebuah meja yang penuh sekali dengan foto-fotoku dan salah satu diantara banyak foto itu terselip sebuah foto, dengan pigura kayu berwarna coklat, menghiasi gambar diri dalam foto itu. Foto seorang anak perempuan menghadapi lilin angka 12 dan di apit oleh kedua orang tuanya. Anak itu tersenyum. Memperlihatkan gigi gingsulnya. Kebahagiaan sangat terpancar dari wajah imut anak itu. Dan tepat sekali, itu aku. Dua tahun yang lalu. Hey, kenapa aku tumbuh jadi itik buruk rupa? Lihat aku, dulu aku cantik dan bahagia. Tapi kenapa aku jadi begini? Apa aku dikutuk oleh penyihir seperti di dongeng-dongeng? Tidak. Ini bukan dongeng. Ini hidupku.

Aku tangkupkan pigura itu. Tak tega aku melihatnya tersenyum disana. Seperti mencibirku saja.

Huh, apa-apaan aku ini, kenapa aku masuk ke ruangan jelek ini? Aku bergidik, lalu meninggalkan ruangan ini, ruangan yang menyimpan banyak kenangan, kenangan yang perlahan melapuk, terkikis, lalu teronggok mati.
*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 6A


Potongan mimpi, yang teronggok mati.
*

Menekuri catatanku yang tinggal beberapa lembar lagi. Gila! Sudah sebanyak apakah aku menulis? Sampai-sampai aku tak sadar buku catatanku hampir habis. Ya, aku memang tak pernah mereview ulang tulisanku, bahkan aku lupa apa saja yang pernah aku tulis. Haha, pikun kamu Fy. Apa sebaiknya ku alihkan saja tulisanku pada laptop ini? Lagian sudah kuno juga harus menulis di catatan seperti ini. Tidak. Aku lebih senang menulis dengan tinta daripada harus menekan-nekan keyboard. Bagiku, menulis adalah hal yang paling sederhana, lebih sederhana dari berbicara, jadi aku akan menulis dengan cara yang sederhana pula.

"Fy..." Suara lembut itu datang, ke kamarku? Ya Tuhan, mimpikah aku? Kalau mimpi, cubit aku biar bangun. Aww, aku mencubit pipiku. Sakit. kalau sakit berarti ini bukan mimpi.

Aku menoleh ke sumber suara. Benar saja. Berdiri disana seorang bidadari cantik, tatapannya sangat meneduhkan. Perlahan dia menghampiriku dan duduk di dekatku.

"Besok, mama sama papa mau ngajak kamu makan, boleh?" tanya mama.

Tunggu dulu, mimpi aneh apalagi ini. Seorang bidadari cantik yang sibuk mengobati orang-orang mengajakku makan? Ah, ini bukan mimpi kan? Sebenarnya ini mimpi kecilku. Meskipun kecil jangan anggap enteng ya, kamu tahu, mimpi ini tak pernah tewujud dan sekarang sebuah titik terang menghampiri mimpi kecilku ini.

"Mama ga ada operasi kan?" tanyaku sinis, padahal ingin sekali aku langsung mengangguk mengiyakan dan dengan manis berkata 'iya mama', tapi tidak ya, gengsiku terlalu tinggi. Yah, bukan apa-apa sih, aku hanya ingin mengetes saja keseriusannya soal ini. Aku tak ingin ini hanya rayuannya saja agar aku menjadi anak yang manis untuknya.

"Besok, kami milikmu." katanya selalu dengan senyum yang mempesona.

"Gimana besok aja deh ma!" kataku sok acuh, padahal... Ah, dasar munafik! Biarlah, aku hanya menirunya dari sinetron. Bukankah kisahku bak sinetron, kan?

"Ya sudah, tidur gih!" mama melenggang menuju pintu kamar. "Selamat malem ya sayang!" lalu pergi keluar dari kamar.

'Mama, jangan pergi dulu, tinggalah dulu disini' kataku -dalam hati tentunya-. Ya, aku ingin mama lebih lama di kamarku, ngapain dulu kek, basa-basi juga ga apa-apa, nanyain gimana sekolahku, teman-temanku, atau apalah yang sering di lakukan ibu-ibu yang lainnya. Huh, sebenarnya aku ingin sekali bercerita padamu ma, ceritaku sudah sebanyak ikan di lautan. Lalu aku berceloteh ria denganmu, lalu... stop! Berhenti jadi pemimpi yang selalu mempunyai mimpi aneh.

Hah, aku menghempaskan tubuhku ke atas ranjang, mulai menutup mata sambil perlahan mengintip ke alam mimpi, dan akhirnya terlelap dalam nikmat illahi.
*

Pagi buta aku sudah bangun, menyongsong dunia nyata yang aku harap akan lebih baik dari mimpiki tadi malam. Aku menggeliat, mengumpulkan nyawa yang berserakan. Setelah itu, bergegas ke dekat jendela, membuka tirai dan terlihatlah...loh, kok bola kuning itu masih terlihat malu-malu menampakkan batang hidungnya. Ya ampun begitu paginya aku tejaga.

Aku melenggang menuju balkon kamarku yang tepat menghadap ke ufuk tmur, tempat awal mulanya si Kuning itu muncul. Aku melihat ke sekelilingku,belum ada kehidupan nampaknya. Burung-burung pun masih mendengkur di sarangnya, menjaga sang telur agar tak ada yang mencurinya. Entah kenapa, aku yang biasanya 'kebo' dan membuat bi Surti serak karena kesusahan membangunkanku. Pagib ini, tanpa suara cemprengnya pun aku bisa bangun, mungkin karena dampak ajakan mama tadi malam. Oh iya, hari ini kan aku mau makan di luar.

Aku masuk kembali ke kamar, meninggalkan balkon dan matahari yang kini sudah muncul sempurna. Lalu melangkah menuju lemari besar dari jati tempatku menyimpan pakaian-pakaianku. Aku membuka pintu lemari dan terlihatlah tumpukan pakaian dan gantngan dress yang anggun nan cantik. Hari ini aku pakai baju apa ya?

Aku mencoba satu persatu pakaian itu sambil berlenggak-lenggok di depan kaca. Tuhan, kok jadi ribet gini ya? Ribetnya lebih dari ada seorang pangeran tampan yang ngajakin makan. Huh, biasanya juga ga begini. Hei, biasa apanya? Kapan coba terakhir kali mereka ngajak aku makan di luar? Sudah lama sekali, dua tahun ada lah.
*

Hampir satu jam aku mengubrak-abrik isi lemari, belum mandi, tapi sudah basah kuyup dengan keringat. Dan akhirnya, mataku tertuju pada sebuah dress yang tergantung di sudut kiri lemari. Ini dia.

Aku pergi ke kamar mandi yang ada di kamarku. Membasuh tubuh ini, meluluhkan beban berat yang bergelayut di raga. Guyuran air ini menyelipkan sebuah asa, asa kecil agar hari ini berjalan baik dan asa yang lebih besar adalah seterusnya seperti itu, berjalan lancar bak mentari melintasi pagi hingga sore.

Setelah membersihkan diri, ku kenakan baju pilihanku tadi, baju yang sebenarnya tak pernah ku kenakan, bahkan aku tak tahu aku punya baju seindah itu.

Cantik. Itulah yang ku rasa. Setidaknya dress putih selutut dengan renda di ujung-ujung dress dan pita kecil yang tercantel di pinggangku mampu menutupi keburuk rupaanku. Sepatu merah jambu dengan aksen boneka beruang kecil menghiasi kaki mungilku dan ditambah kunciran berwarna merah jambu -juga- mengikat jumputan rambut hitam ikalku.

Aku menghela nafas, lalu menuju ruang tamu.

"Yuk sayang!" ajak mama.

Kami beranjak keluar dan mendapati jaguar hitam milik papa diam manis disana.

Mama masuk ke mobil, lalu duduk di depan bersama papa yang menyetir mobil, sementara aku duduk di belakang.

"Sudah siap peri kecil? Tanya papa menoleh ke belakang. Sudah lama aku tak mendengar panggilan itu. 'peri kecil', meski aku bukan lagi anak kecil.

"Tentu" tersenyum merekah.

Papa mulai menyetir mobil, memecah jalanan menuju suatu tempat. Aku senang sekali, sudah lama aku tak melakukan hal yang biasa keluarga lain lakukan.

Aku menatap ke arah langit lewat jendela. Cerah sekali. Bantal empuk berterbangan di sana. Si kuning itu tampak tersenyum. Mungkin dia juga ikut bahagia sepertiku. Syukurlah. Mudah-mudahan sampai nanti terus begini. Iya kan kuning?

Akhirnya papa berhenti di depan sebuah restoran Padang. Restoran milik Uda Lintar, teman papa. Dulu hampir setiap weekend kami selalu menyempatkan diri makan masakan Padang di Restoran Uda Lintar.

"Udah lama ya pa, ma, ga makan disini, kangen aku sama rendangnya Uda Lintar" ujarku sambil keluar dari mobil yang diikuti mama dan papa.

Kami segera masuk dan suasana yang tenang dan sederhana menyambut kami. Kami bergegas menuju saung yang terletak di paling ujung, tempat yang palin nyaman untuk menikmati lezatnya makanan khas Padang. Kami duduk di atas tikar yang terbuat dari pandan dan mengelilingi meja persegi yang terbuat dari jati. Suasana ini memang layaknya di pedesaan. Aku sangat suka.

Tak lama Uda Lintar, pemilik restoran menghampiri kami, lalu bersalaman dengan sohibnya, yaitu papa dan mama.

"Ify, sudah lama sekali kau tak kesini. Sudah besar kau ya!" Kata Uda lintar padaku.

"hehe..iya!" ucapku terkekeh.

"Seperti biasa, kan?" tanya lelaki berkulit hitam itu.

"ya," kata papa.

Aku melirik ke arah mereka. Sungguh ya, sampai detik ini aku masih belum percaya, hal ini terjadi lagi. Ya, memang hal kecil yang sulit sekali di percaya.

Tak lama kemudian Uda Lintar datang dengan membawa langsung sepuluh piring di tangannya, biasa kan? Itulah hal unik dan kepiawaian orang-orang Padang. Ga ribet kali ya? Ckckck

Uda Lintar meletakkan makanan yang menggugah selera itu. Ada nasi padang, rendang, dan ayam balado, ditambah sambal dan teh manis. Maknyoss deh! Apalagi suasana restoran yang bernuansa pedesaan, menambah kenikmatan saat menikmati hidangan-hidangan ini.

Baru saja dua suap aku menyantap nasi Padang dengan rendang yang super pedas ini, ponsel papa berdering. Papa mengangkatnya. "halo...iya...apa?...ya udah, saya segera kesana...iya..." ujar papa.

"Ma, kita harus cepat-cepat ke rumah sakit, ada pasien yang sedang dalam keadaan gawat" Kata papa dengan ekspresi yang sangat cemas.

Mendengar hal itu, mama juga ikutv cemas, dan aku tak kalah cemasnya. Bukan, aku sama sekali tak mencemaskan keadaan pasien, aku hanya cemas karena takut kehilangan kebahagiaanku. Masa secuil kebahagiaan yang baru sekejap ku kecap harus direnggut oleh orang yang bernama 'pasien' itu.

"Ya udah yuk!" kata mama seakan tak menyadari keberadaanku.
*

HUJAN, Kita Dan Mimpi part 5


Mimpi-mimpiku

Membosankan sekali, harus duduk dan memperhatikan mereka mempraktekan hal yang konyol. Berakting. Ah, dasar penipu. Sebenarnya aku tak suka melakukan hal ini, tapi sesering apa pun aku mencaci hal ini, aku tetap saja mengkutinya. Ah, munafiknya aku! Selama 2 tahun 2 bulan aku mengikuti kegiatan bodoh ini. Ah, sudahlah, tinggal beberapa bulan lagi kok, dan setelahnya aku tak mau berhubungan lagi dengan kegiatan ini. Ekskul teater.

"Hei men, ayo semangat!" teriakan itu membuyarkan ejekanku. Ah, suara indahnya.

Untung saja letak dudukku dekat jendela, jadi aku dapat curi-curi pandang ke lapangan tempatnya berlatihan. Bermain basket dengan sangat ceria. Permainannya lincah. Dia berlari, menggiring bola, lalu meloncat dan melempar bolanya ke ring. Sesekali dia tertawa dan tak jarang dia berteriak menyuarakan kekesalannya saat dia gagal memasukkan bola.

Menatapnya sedari tadi membuatku tak menyadari waktu. Akhirnya ekskul pun berakhir. Yes, hari berat ini sudah ku lalui.
*

Aku melangkah menuju halte, mudahmudahan saja hari ini aku tak di jemput. Ku lihat ke arah atas, mendung mulai menaungi, tandanya sore ini kau mau datang lagi. Perlahan kau pun mulai turun, lalu mulai mengerahkan semua pasukanmu untuk menyerbuku. Baiklah, mari kita bermain.

"Ayo pelangi, hujannya udah mulai turun!" Dia mengambil tanganku dan menariku untuk ikut berlari besamanya.

Aku terpaksa mengikutinya walau aku tahu, langkahku kalah epat dengannya. Hingga akhirnya, sampailah kami di halte.

"ya ampun, kamu ini, ko paling hobby sama hujan-hujanan sih?" katanya sambil mengibaskan rambutnya yang basah karena hujan.

Aku hanya tersenyum lalu duduk berdampingan dengannya. Aku sudah tak merasa canggung lagi berada di dekatnya.

"Tumben pulang sore?" Tanyanya.

"Aku ada ekskul, teater" Jawabku.

"Sejak kapan kamu ikut teater?"

"sejak awal aku masuk sekolah ini." Aku mengeluarkan botol air mineral lalu meminumnya.

"Loh, aku tak pernah melihatmu di setiap pertunjukkan teatr sekolah kita." Ujar Rio sambil mengambil botol air mineral yang ku pegang lalu ikut meminumnya.

"Aku memang tak pernah menjadi pemain dalam semua pertunjukkan sekolah kita, tugasku hanyalah di belakang panggung senagai si pembuat naskah skenario."

"Jadi, semua pertunjukkan itu, skenarionya kamu yang buat?" tanyanya

"ya, begitulah" ucapku seadanya.

"Waw!" Rio berdecak lalu mengguncang bahuku "luar biasa! setiap aku menonton pertunjukkan teater sekolah kita, aku selalu kagum dengan kata-kata indah yang di ucapkan para pemain teater itu. Aku pernah berfikir, pasti yang buat skenario itu penulis yang baik. Dan ternyata itu kamu. Aku yakin, kamu akan menjadi penulis yang baik dan terkenal" celotehnya panjang lebar.

Tentu saja, mendengar tutur katanya aku merasa terharu. Bagaimana tidak, di setiap katanya terkandung sebuah harapan dan semangat. Dan dia memberikan itu semua padaku. Aku menerimanya dengan senang, tpi apakah mungkin kata-katanya akan terjadi? Entahlah, sulit sekali. Harapan itu terlalu besar, melebihi bumi ini mungkin, dan itu tak sebanding dengan semangat yang ku punya. Aku tahu dia juga memberikanku semangat, tapi semangatku, semangatmu dan semangatnya kalau di akumulasikan hanya sebesar bola bekel saja. Sedangkan bola bekel jauh lebih kecil dari bumi ini. Ya iyalah, anak kecil juga tahu akan hal itu. Dan mestinya aku sadar harapan itu takaan pernah dapat ku raih.

"Percaya sama aku, kamu bakalan jadi penulis terkenal." Katanya dengan wsangat yakin.

Sudahlah, jangan terus-terusan mencekokiku dengan harapan-harapan itu, aku tak mampu.

"Semangat Ify pelangi! jangan putus asa!" dia mengepalkan tangannya.

Ya, aku harus semangat! masa aku kalah, ya, pelangi kan kuat. Terimakasih matahari. Semangat ini akan ku pupuki hingga sampai semangat itu lebih besar dari bumi ini dan akhirnya aku akan mewujudkan mimpi besarku ini.

"Aku semangat!" Ucapku sambil tersenyum.

"Nah, gitu dong!" dia menepuk pundakku, menancapkan harapan itu padaku semakin dalam "Bisnya udah datang, yuk!" dia menarik tanganku.

Aku pun bangkit lalu melangkahkan kakiku. Dan langkah ketigaku terhenti saat sebuah mobil hitam yang sangat familiar menghampiriku.

"Ayo!" Ajaknya lagi.

"Aku di jemput"Rio melirik pada mobil hitam itu, lalu melepas tanganku "pulang saja, aku berani. hehe" katanya sambil terkekeh.

Dengan berat, aku lalu masuk ke mobil dan duduk di depan disamping mang Ujang.

"Dadah Ify pelangi" teriaknya sambil melambaikan tangan.

Aku hanya tersenyum lalu membalas lambaiannya lewat jendela mobil. Kini dia mulai menaiki bis itu, bis yang biasanya selalu mengantarku, tapi tidak untuk hari ini. Kini, bis itu membawa pangeran, pangeran tampan yang mengandung keindahan.

Hujan, dia tanamkan harapan
dia berikan semangat.
*